PLAY WITH ME

Cast : Kai, Sehun, Minho, Etc

Genre : Fantasy, Romance

Werewolf, Human.

Ini ff yang sama yang aku buat untuk project bikin cerita dengan tema fantasy di grup.

Untuk ff Bukan Istri Pengganti, banyak yang ga tau kalo aku update dua chapter ya chapter 13 dan 14, soalnya review di chapter 14 dikit. ^_^

Dan aku mohon dengan segala kerendahan hati, tolong berkomentar dengan bahasa yang lebih sopan ya. Terima kasih.

No Edit.

KaiHun Lovea

.

.

.

.

.

.

Sehun tidak pernah merasa selelah ini, padahal ia hanya duduk-duduk santai di ruang aula sambil menunggu ketua klub selesai berdiskusi dengan beberapa orang temannya di pojok ruangan. Sebenarnya bukannya fisiknya yang lelah tapi batinnya. Bagaimana tidak, matanya harus selalu disuguhi pemandangan Minho yang merangkul seorang yeoja berparas cantik dengan mesra. Oke, catat sekali lagi, dengan mesra. Minho bahkan tak segan-segan untuk mencium pipi yeoja itu, mengabaikan rasa sakit hati Sehun yang merasa dikhianati, bagaimana tidak, Minho pernah bilang padanya kalau ia tak mau berciuman sampai umurnya tujuh belas tahun, tapi kenyataannya berbeda dengan apa yang Minho ucapkan dulu.

"Sehunie..."

Sehun mendongak dan tersenyum ketika melihat Minho menghampirinya, namun senyum itu kembali memudar saat melihat tangan Minho yang memeluk pinggang ramping yeoja itu dengan erat. Satu tamparan keras lagi bagi dirinya untuk menyadarkannya pada kenyataan bahwa Minho menyukai seorang yeoja, dia straight dan bukan gay.

Tatapan Minho tampak berseri-seri saat ia tiba di hadapan Sehun. "Lihat, inilah kejutan yang ingin aku katakan padamu."

Sehun memandang yeoja itu dan Minho bergantian, "Apa maksudmu?"

Minho tersenyum lebar, "Kenalkan dia calon kakak iparmu." Usia Minho memang lebih tua beberapa bulan dari Sehun karena itu ia selalu menganggap dirinya kakak bagi Sehun.

"Minho hentikan," yeoja itu tersenyum malu-malu pada Sehun. "Namaku Seulgi."

"Sehun." keduanya berjabat tangan sebentar dan saat itulah Sehun baru menyadari kalau secara fisik ia kalah dari yeoja ini, tentu saja ia kan laki-laki.

Baekhyun yang menyadari perubahan raut wajah Sehun, menarik lengan namja manis itu pelan dan berbisik di telinganya. "Tenang saja, bokong berlemakmu tetap yang terbaik di dunia."

"Yak," Sehun menjitak kening Baekhyun dengan gemas, membuat namja yang lebih mungil darinya itu menggerutu pelan.

"Apa yang kalian bisikkan?" Minho menatap keduanya dengan tatapan curiga.

"Tak ada, aku hanya bilang kalau Seulgi cantik dan Sehun jelek." Baekhyun melirik pada Sehun dan menyeringai.

"Kau salah Baekhyun, Sehun sangat manis," Seulgi tersenyum pada Sehun.

Dan Sehun tak heran kenapa Seulgi bisa mengenal Baekhyun, mengingat keduanya berada di klub yang sama.

"Baiklah semuanya, mohon perhatiannya."

Ke empat orang itu menoleh ke depan aula dan menemukan Kim Jongin berdiri dengan gayanya yang begitu santai di sana.

"Apa dia selalu mengenakan sendal jepit saat di sekolah," Sehun tak bisa mengerti kenapa Jongin tidak mendapat teguran dari guru dengan tampilannya yang seperti itu.

"Ia hanya mengenakannya saat sedang santai atau di klub," jawab Baekhyun.

"Oh..." Sehun mengangguk dan ia melihat ke arah Minho yang melangkahkan kakinya untuk menghampiri Jongin dan kemudian berdiri disampingnya dengan Seulgi yang juga merapatkan tubuhnya pada Minho. Dalam hati Sehun mencibir, kenapa yeoja itu terus menempel pada Minhonya seperti lem. Tapi alih-alih mengatakan itu, ia malah bertanya pada Baekhyun tentang Minho yang berdiri di samping Jongin.

"Kau tidak tau?" Baekhyun balik bertanya.

"Tentang apa?"

"Minho kan wakil ketua klub."

Sehun meringis, ia sama sekali tidak mengetahui hal itu. Sepertinya ada banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Minho. "Dan Seulgi?"

"Dia..." Baekhyun tampak ragu sejenak. "Mungkin hanya ingin berada di samping kekasihnya." Akhirnya kata itulah yang Baekhyun ucapkan. Ia tak mungkin mengatakan kalau Seulgi adalah anggota pack dari sekolah tetangga yang Alpha pack itu sudah dikalahkan oleh oleh Alpha pack sekolah mereka. Dan sebagai tanda perdamaian, pack itu menyerahkan Seulgi yang merupakan adik dari Alpha itu kepada pack mereka, tapi Baekhyun tak pernah menyangka kalau justru Seulgi akan mendapatkan matenya di sekolah ini.

"Ah... aku mengerti..." Sehun tertunduk lesu, harapannya untuk mendapatkan Minho sebagai kekasihnya sepertinya hanyalah sebatas impian saja.

"Kita akan melakukan perkemahan lagi akhir pekan ini."

Sehun mendongakkan kepalanya dan menatap tak percaya pada ketua klub. Akhir pekan? Yang benar saja, ia bahkan baru hari ini resmi menjadi anggota dan ia berharap kalau ia tak akan terpilih untuk ikut serta dalam perkemahan ini.

"Semua anggota akan ikut, tanpa terkecuali."

Sehun menatap tak percaya pada Jongin, apa dia mendengar isi hatinya?

"Kita akan membagi anggota klub menjadi dua kelompok, kelompokku dan juga kelompok Minho, dan Minho kau mendapat kehormatan pertama untuk memilih anggota kelompokmu."

Separuh hati Sehun sangat berharap kalau Minho akan memilih dirinya, namun ia harus menelan rasa kecewanya karena bukan dirinya yang di pilih Minho, tapi Seulgi.

"Karena Minho sudah menentukan pilihannya, maka aku juga akan memilih anggota pertamaku, dan aku memilih..."

Entah apakah itu hanya perasaan Sehun saja atau bukan tapi ia merasa kalau Jongin sedang menatap ke arahnya dan menyeringai. "Oh Sehun."

"Mwo..." Sehun membuka mulutnya, Jongin baru saja memilihnya. "Oh tidak, Baekkie, aku tidak mau sekelompok dengan ketua playboy itu."

Baekhyun meringis karena Sehun mencubit pinggangnya. "Sudah terima saja, kau akan selamat darinya kalau kau bisa menyembunyikan bokong berlemakmu itu."

Secara otomatis kedua tangan Sehun mengarah ke belakang dan menaruh kedua telapak tangannya pada bokongnya. "Yak, bagaimana aku menyembunyikannya."

Baekhyun terkikik geli, "Hei, Sehun aku hanya bercanda, lagi pula Jongin kan stra..." Baekhyun langsung terdiam saat menyadari Jongin sudah berdiri di hadapannya. "Cepat sekali," gumam Baekhyun lirih yang ia yakin sekali kalau Jongin mendengarnya karena namja itu meliriknya sejenak sebelum kembali fokus pada Sehun.

"Apa yang kau ributkan Oh Sehun?"

"Eh, aku..." Sehun tampak gelagapan sejenak, namun kemudian ia mengerjapkan mata dan fokus menatap Jongin yang berdiri tepat di hadapannya. Sinar matahari yang menerobos masuk ke ruang aula lewat jendela yang terbuka terlihat bermai-main dengan rambut coklat kehitaman Jongin yang berantakan menutupi keningnya, dan Sehun baru sadar betapa mempesonanya Jongin ketika dilihat dari jarak begitu dekat seperti ini. "Aku hanya..." Oh, Sial, kenapa Sehun bisa segugup ini. Padahal ia tak pernah segugup ini meskipun berhadapan dengan orang yang dicintainya. Ia melepaskan tangkupan tangannya pada bokongnya sendiri dengan perlahan, takut kalau Jongin melihat itu.

Jongin maju selangkah dan mengulurkan tangan.

Grep

"Omo..." Baekhyun menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Sementara Sehun menatap Jongin dengan mulut terbuka dan mata sipit yang mencoba untuk melotot. Terkejut dengan kekurang ajaran Jongin yang dengan seenaknya menyentuh bokong padatnya.

"Wow..." Jongin meremas bokong Sehun dan menyeringai. "Aku menyukai bokong berlemakmu Oh Sehun."

"Kyaaaaa... dasar mesum..."

Bukk

Bukk

Bukk

Sehun memukuli pundak dan lengan Jongin, namun itu tidak berefek sama sekali pada Jongin, pukulan Sehun terlalu lemah untuknya yang bukan manusia biasa.

"Lepaskan tanganmu, sialan."

"Oke, aku lepaskan." Jongin mengangkat kedua tangannya dan tersenyum.

"Aku tak akan memaafkanmu." Sehun menunjuk ke arah Jongin sebelum kemudian menarik tangan Baekhyun dan membawanya menjauh.

"Kau bilang dia straight, tapi dia berani menyentuh bokongku. Huweee... bokongku sudah tidak perawan lagi."

"Yak, mana aku tahu kalau dia akan tergoda, lagi pula ini salah bokongmu, kenapa dia harus tumbuh dengan banyak tumpukan lemak disitu. Padahal badanmu kan kurus. Aku penasaran apa dadamu juga penuh lemak?"

"Baekkie... aku bukan yeoja..."

Jongin diam-diam tersenyum mendengar percakapan kedua orang itu. Baekhyun mengatakan dia straight? Yang benar saja, dia bahkan sudah tertarik begitu melihat seorang Sehun di hari pertamanya masuk sekolah dan ia tidak menyangka kalau namja kurus itu menyimpan keseksian yang luar biasa, terutama pada bokongnya yang sangat indah. Ah, Jongin jadi penasaran apakah dadanya juga punya tumpukan lemak seperti yeoja?

"Jongin..."

Jongin menghentikan khayalan indahnya, dan menoleh ke samping. Minho dengan wajah kusutnya tampak menatap tak suka padanya. "Ada apa?"

"Jauhi Oh Sehun."

"Huh?"

"Aku bilang jauhi Oh Sehun."

Jongin melipat kedua tangannya di dada. "Apa hakmu memintaku untuk menjauhinya?" suara Jongin berubah datar.

"Dia sahabatku."

"Dia sahabatmu dan bukan kekasihmu jadi aku punya hak untuk mendekatinya."

"Jongin, aku peringatkan sekali lagi padamu, jauhi Sehun, kau tak pantas untuknya."

"Hanya Sehun yang berhak mengatakan pantas atau tidaknya aku baginya, kau hanya seorang sahabat dan kau tak punya hak untuk mengaturnya." Warna mata Jongin berubah saat ia menatap dingin pada Minho. "Lagi pula kenapa kau begitu ingin membuatku menjauhi Sehun. kau takut kalau dia tidak akan melihat ke arahmu lagi?"

Minho terdiam, ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri, kenapa ia merasa tidak rela saat tahu kalau Jongin mengincar Sehun.

"Kau menyukainya? Lalu bagaimana dengan Seulgi? Meski mantan kekasihku banyak, aku tak pernah menduakan seseorang Choi Minho, aku akan pastikan kalau aku sudah memutuskannya sebelum aku menjalin hubungan dengan yang lain. Kau serakah kalau kau menginginkan keduanya, kau harus memilih salah satu atau kau akan kehilangan dua-duanya."

"Aku..."

"Sudah ku duga, kau tak akan bisa memilih." Jongin tersenyum sinis.

"Tentu saja aku akan memilih Seulgi, dia kekasihku."

Jongin menyeringai, Minho sudah terjebak dengan jawabannya sendiri. "Kalau begitu kau tak punya hak lagi untuk melarangku mendekati Sehun."

Minho menggeram, "Aku tahu kau bukan manusia dan aku tidak mau kalau Sehun menjadi korbanmu."

"Sebaiknya kau yakinkan dulu hatimu, sebelum mengatakan itu, apa kau yakin bukan kau yang telah menyakiti hati Sehun? bercerminlah dan lihat pada kenyataan yang ada di depanmu."

"Apa maksudmu?"

Jongin tersenyum tipis, "Pikirkanlah sendiri."

.

.

.

.

.

.

Setelah kejadian dimana Jongin memegang bokongnya, Sehun sebisa mungkin menghindar dari Jongin, ia tak ingin Jongin melakukan hal yang tidak-tidak lagi padanya. Begitupun juga dengan Minho, Sehun merasa ia juga harus menghindarinya, sulit memang mengingat ia yang selalu terbiasa dengan kehadiran Minho kini harus mencoba membiasakan dirinya untuk melakukan semuanya sendirian.

Namun tak selamanya Sehun bisa menghindari keduanya, karena pagi ini, pagi di mana ia dan juga yang lain akan berangkat ke tempat perkemahan. Minho menghadang langkahnya tepat di depan bus yang akan ia tumpangi.

"Sehunie..."

Sehun tak bisa lagi menghindar, jadi ia hanya berdiri diam di tempatnya.

"Kemana saja kau beberapa hari ini? Kenapa sulit sekali di hubungi."

Sehun mengerutkan keningnya, "Kau mengkhawatirkanku?" ada sedikit nada berharap di sana, Sehun tak munafik, ia memang masih belum bisa melepaskan bayangan Minho dari pikirannya.

"Tentu saja, kau kan sahabatku, aku takut kalau kau kenapa-napa, karena tak biasanya kau seperti ini."

Harapan Sehun memudar, ia memperbaiki letak ransel di punggungnya dan mendesah kecewa, Minho masih tetap menganggapnya hanya sebagai sahabat. Sepertinya dirinya memang harus benar-benar move on dari Minho. "Aku tidak kenapa-napa kok."

"Apa kau sengaja menghindar dariku?"

Pertanyaan telak dari Minho, namun bukan Oh Sehun namanya kalau ia tidak bisa berkelit. "Tentu saja tidak, bukannya kau yang sulit dihubungi?" Sehun teringat dengan ucapan bibi Choi yang mengatakan kalau Minho jadi jarang berada di rumah sejak memiliki pacar.

Minho meringis, "Maaf." Ucapnya, entah kenapa Minho merasa ada jarak yang memisahkan dirinya dan Sehun, tak biasanya mereka terjebak dalam suasana canggung seperti ini.

"Kau tak perlu minta maaf," ucap Sehun lirih, "Bukan salahmu kalau kau jatuh cinta."

Deg

Minho tertegun saat melihat wajah murung Sehun, apa ini yang dikatakan Jongin, kalau ia yang telah melukai hati Sehun tanpa ia sadari.

"Sekarang bisakah kau minggir, busmu kan bukan bus ini. Ranselku cukup berat dan aku harus mencari tempat dudukku."

"Ah, iya." Minho bergeser kesamping, membiarkan Sehun berjalan melewatinya. "Sehunie, kita masih teman kan?"

"Tentu saja, kau kan temanku," jawab Sehun lirih. Ia menundukkan kepalanya tak berani lagi menoleh pada Minho.

"Maaf..."

Sehun tertegun sejenak, tapi kemudian ia memilih naik ke atas bus dan tidak menghiraukan Minho lagi. Sekilas ia dapat melihat kalau Minho melangkah menjauh untuk menghampiri kekasihnya. Sehun menghela napas panjang sebelum berjalan perlahan untuk mencari bangku yang masih kosong.

"Sehunie,"

Sehun menoleh ke arah orang yang memanggilnya dan kemudian tersenyum cerah begitu tahu kalau itu adalah Baekhyun. "Baekkie..."

Sehun bergegas menghampiri Baekhyun, "Kau sudah di sini."

Baekhyun nyengir dan menatap Sehun dengan tatapan bersalah, "Maaf tak bisa duduk denganmu Sehunie."

"Eh, kenapa?"

"Aish, si Jongdae itu memaksaku untuk duduk bersamanya, kau tau bukan ia sangat pemaksa."

Sehun merengut, "Lau aku duduk di mana?" tanyanya bingung.

"Bangku paling belakang sepertinya masih kosong. Maaf aku tak bisa menemanimu."

"Tak apa, lagi pula aku juga mungkin hanya akan tidur nantinya selama perjalanan." Sehun menepuk pundak Baekhyun sebelum meneruskan langkahnya menuju bagian belakang bus, setelah menaruh ranselnya, iapun duduk di kursi paling belakang itu, tepat di samping jendela. Diam-diam Sehun menghitung jumlah anggota kelompoknya, lengkap delapan orang ditambah dengan beberapa guru dan beberapa orang panitia pelaksana, minus ketua klubnya yang mungkin akan duduk bersama sopir di depan. Sehun merasa rileks, jadi ia akan duduk sendirian di kursi ini, dan ia bisa tidur dengan nyenyak tanpa adanya gangguan dari siapapun.

Namun sepertinya dugaannya salah karena saat bus itu mau berangkat, Jongin masuk ke dalam bus dan kemudian duduk di sampingnya.

"Ya, kenapa kau duduk disini?" protes Sehun wajahnya cemberut melihat Jongin yang duduk di sampingnya.

Jongin mencondongkan tubuhnya ke arah Sehun dan menatapnya dengan serius. "kau tak lihat semua kursi sudah penuh dan hanya disini yang kosong."

Sehun meletakkan tangannya di dada Jongin dan mendorong tubuh kekar itu untuk menjaud darinya. "Menjauhlah Kim Jongin." Sehun risih karena Jongin yang duduk terlalu dekat dengannya.

"Kau gugup?"

"Tidak." Sehun menyesal menjawab terlalu cepat karena sekarang ia bisa melihat Jongin yang menyeringai padanya. "Jangan menggangguku."

"Aku tak akan mengganggumu kok," balas Jongin santai. Namja itu memilih menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dan mulai memejamkan matanya.

Sehunpun memilih untuk menatap pemandangan di luar jendela. Perjalanan ini mungkin akan memakan waktu cukup lama dan sepertinya akan membosankan bagi Sehun karena adanya Jongin di sampingnya. Ngomong-ngomong tentang namja itu, apa ia sudah tertidur?

Sehun menoleh ke samping dan menemukan Jongin masih setia memejamkan matanya, diam-diam namja manis itu mengamati penampilan Jongin. kali ini Jongin tidak mengenakan sendal jepit lagi, ia mengenakan sepatu converse berwarna putih yang ia padukan dengan celana jins hitam yang robek robek di bagian lutut, sementara tubuh bagian atasnya terbalut dengan kaos berwarna hitam yang memamerkan lengannya yang berotot. Sungguh, Sehun merasa Jongin seperti bukan anak yang berusia enam belas tahun dengan tampilannya yang seperti itu. pandangan Sehun beralih ke wajah Jongin, entah hanya perasaannya saja, tapi Jongin terlihat jauh lebih tampan dari yang terakhir ia lihat, poninya berantakan dan Sehun rasanya ingin sekali memperbaiki rambut yang tak pernah rapi itu.

"Menikmati pemandangan yang menarik Oh Sehun?" sudut bibir Jongin tertarik, membentuk sebuah seringai menyebalkan bagi Sehun.

Sehun mendengus, namun ia tidak mengalihkan pandangannya dari Jongin. "Pede sekali, mana ada pemandangan bagus, wajahmu jelek, tidak setampan Minho."

"Benarkah?" Jongin membuka matanya dan Sehun tertegun melihat warna mata Jongin, itu seperti percampuran gradasi ungu dan coklat, sangat indah.

"Jongin, matamu..."

"Kenapa dengan mataku?" Jongin sebenarnya tahu apa maksud Sehun, tapi sedikit berpura-pura tidak apa-apakan? Ia ingin tahu bagaimana reaksi Sehun ketika melihatnya.

"Sangat indah," tanpa sadar Sehun mengatakannya.

Dan itu sukses membuat senyum Jongin bertambah lebar. "kau menyukainya?"

Sehun mengangguk, dan Jongin mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun, "Bagiku, kau juga sangat indah, Oh Sehun."

Perlahan namun pasti Jongin menempelkan bibirnya di bibir Sehun, diam sebentar menanti reaksi namja itu, namun Sehun tetap diam seperti terhipnotis dan Jongin mulai menggerakkan bibirnya untuk melumat bibir atas dan bawah Sehun bergantian dengan gerakan pelan dan lembut.

Tangan Sehun mencengkeram lengan Jongin dengan erat, perlahan ia memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman Jongin.

Tangan kanan Jongin merambat ke pinggang Sehun dan menarik tubuh namja manis itu untuk merapat ke tubuhnya, sementara tangan kirinya bergerak ke bokong Sehun dan meremasnya dengan lembut, seirama dengan lumatan lembutnya di bibir Sehun.

Untuk beberapa saat keduanya berciuman, hingga Jongin dapat merasakan napas Sehun yang mulai tersengal dan ia pun melepaskan ciumannya, mengecup kening Sehun lalu mengamati wajah cantik yang memerah itu.

Perlahan Sehun membuka matanya dan menatap Jongin dengan sendu, "Itu ciuman pertamaku," bisiknya lirih.

"Dan aku sangat senang karena aku yang bisa mengambilnya," balas Jongin. tatapan mereka masih bertemu dan tak sedetikpun Jongin berniat untuk melepaskan tatapannya dari Sehun.

Dengan sedikit kekuatannya, Jongin mengangkat tubuh Sehun dan mendudukkannya di pangkuannya, masih dengan tatapan mereka yang masih saling bertemu. "Aku akan membuat perjalanan ini tak akan membosankan untukmu Oh Sehun, aku janji."

Dan dengan ucapan itu, Jongin kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun dan menciumnya, awalnya Sehun tak membalas ciumannya namun saat tangan Jongin meremas bokongnya secara refleks ia melingkarkan kedua tangannya di leher Jongin dan membalas ciumannya. Tak peduli kalau saat ini mereka masih di dalam bus dan tak hanya mereka yang ada di dalam. Yang Sehun pedulikan hanyalah ia membalas ciuman lembut Jongin dan merasakan remasan tangan Jongin di bokongnya.

"Kau hanya milikku, Oh Sehun, hanya milikku."

.

.

.

.

.

.

TBC

Backsong : Pablo Alboran – El Beso ( The Kiss )

Ga yakin apa suasana romantisnya dapat, tapi mohon reviewnya ya...

Salam manis KaiHun Hardshipper

KaiHun Lovea