My College Life in Tokyo Chapter 2

Happy reading~!


WARNING : POKOKNYA SEMUA NGAWUR! BACANYA GAK USAH PAKE MIKIR! ENJOY SAJA LAH~ :V

Pair : gajelas

Desclaimer : Kishimoto Masashi


Chapter 2

.

.

NARUTO POV

"EEH?!" gue teriak histeris denger perkataan itu iblis.

Perkataannya, bisa bikin penyakit hysteria gue kumat. Apalagi, mukanya itu, lho. Bisa-bisa saat ini juga, menit ini juga, detik ini juga hysteria gue beneran kumat. Aduh, gimana nih? Gue makin gak bisa ngendaliin diri gue! Nggak! Please, jangan kumat disini. Bisa-bisa gue malah loncat dari sini! Dan ini….. lantai 3 cuy!

"Ooy.. denger gak sih?"

PET! Kesadaran gue –untungnya– kembali pulih. Kalo nggak, gimana coba?

"Ah, ma-maafkan aku. Ta-tadi aku agak shock jadi yah… hehe.." alesan gue. Gue sok-sokan garuk-garuk kepala.

Dia Cuma diem. Merhatiin gue seolah gue itu pembantu yang lagi dites. Heh, tentu aja nggak. Tapi, tunggu dulu! Kalo bener gitu gimana?! Secara, dia itu kan iblis!

"A…. eh… tadi itu.. maksudnya apa ya?" ya! Akhirnya gue keluarin juga apa yang ada dipikiran gue dari tadi!

Dia pun ngejawab "Ya begitulah maksudku. Aku ingin tinggal denganmu, disana. Ada masalah?"

Jebret! Mati nih gue.

"Eh… bu-bukan begitu. Tapi, um.. kenapa tiba-tiba aja-"

"Udah, pokoknya, aku mau begitu! Untuk lebih jelasnya, nanti aku akan kesitu! Sekarang, aku ada urusan. Jaa." Dia pun pergi.

Abis seenaknya motong omongan gue, sekarang dia seenaknya pergi gitu?! Rasanya gue pengen ngelempar itu bocil pake bangku –dan gue udah siap nih–Bangku dah ditangan– tapi gue urungin tuh pikiran.

Tapi… kalo dipikir.. senyumnya tadi kok.. –ehem– manis ya? Udah pake senyuman semanis itu, dia juga ber'dadah' ke gue lagi. Pake kedipan mata lagi! Hehe…

Dan kalo dipikir, kalo misalnya dia tinggal sama gue, siapa tau ntar begini..

NARUTO IMAGINING WORLD

"Naruto! Oy, Naruto! Bangun!" Kyuubi bangunin gue yang lagi tidur.

Tapi, karena gue itu titisan kebo, dia kesel dan akhirnya…

"huh, Naruto! Hoy.. bangun!" ..dia naik ke atas gue.

Dia ngedudukin gue, manggil-manggil gue "Naruto..! Naru-" tak lama kemudian gue bangun dan..

Set! Pandangan kita bertemu "-to"

"O-Okamizu?"

"Na-Naruto."

Dia nge-blush. Gue nge-blush. Kita makin deket dan….

NARUTO IMAGINING WORLD END

"Ehe.. he.. hehe…"

Tes! Tiba-tiba aja gue ngerasa ada yang menetes ke tangan gue. Gue pun ngeliat apaan tuh yang netes.

Dafuq! Ini… darah?! Gila! Ternyata gue mimisan!

Buru-buru gue ambil tisu buat ngebersihin ini idung.

Darahnya gak berhenti-berhenti. Gue mikir, senista apa ya, muka gue tadi? Gue gak nyangka, mikirin kayak 'begituan' aja bisa bikin nosebleed kayak begini.

Tunggu dulu! 'begituan'?

JDUG! JDUG!

Gue jedotin kepala gue ketembok terdekat. Tapi, tak lama kemudian kepala gue dapet bonus dari tembok ini berupa tumpukan buku yang jatoh gitu aja dan dengan sukses ngenain ini kepala kesayangan gue. Rak yang ada diatas ini tembok ambruk pemirsa. Dan gue lupa kalo disitu ada rak.

Nosebleed dah berhenti tapi diganti sama benjol.

Sial.. ada apa sih sama gue? Kok bisa-bisanya gue mikir kayak 'begituan'. Gue kan masih normal! Jangan salah paham! GUE NORMAL! Di bawah tempat tidur gue ada buku 18 tahun ke atas. Tapi, kok bisa-bisanya ya, gue lupa kalo Ookamizu Kyuubi itu kan iblisnya TCU?

"Aargh!" dan untuk kedua kalinya buat hari ini, gue mau ngacak-ngacak muka gue –kalo bisa

TING TONG!

Bel pintu kos-kosan ini bunyi. Gue nengok kesumber suara.

TING TONG! TING TONG!

Makin lama itu bel dipencet makin cepet.

"I-iya! Sebentar! Akan kubukakan!" gue pun berdiri dan jalan kepintu.

TING TONG! TING TONG! TING TONG!

"Iya iya!" Siapa sih? Masa' iya, ibu kos-kosan lagi? Tapi, itu kemungkinan terbesar sih. Secara, gue gak punya temen di kampus yang mau-maunya datang kesini.

Ooh.. sedih ya? Iya emang gue itu menyedihkan.

Gue pun sampe dipintu. Gue pegang itu daun pintu dan gue puter. Ngeliat siapa yang ada dibaliknya. Dan ternyata itu adalah…

"Yo!"

JDAR! Dia. Ookamizu Kyuubi. Beneran dateng kesini. Dan sekarang ada disini. Dihadapan gue. Dengan tangan yang diangkat keatas plus senyum 3 jari itu. Oh, kami-sama.. hentikanlah waktu.

Plak! Plak! Gue menampar diri gue sendiri.

"Oy! Setelah membuatku menunggumu membukakan pintu dengan sangat lama tadi, kau tidak bermaksud untuk membuatku menunggumu menyuruhku masuk, kan?"

Pet! Gue sadar kembali.

"Ah, t-tentu saja tidak. Silahkan masuk!" gue pun mempersilakan itu 'makhluk' masuk.

"Nah, gitu dong!" dia pun masuk dan setelah merapikan sepatunya, dia mulai menyelidiki ini tempat.

"Hehe.. seperti dugaanku. Tempat ini nyaman! Mungkin aku akan kerasan disini!" dia berbalik "Jadi, Naruto, kita sudah- sedang apa kau?" tanyanya begitu ngeliat gue megangin pintu yang kapan pun siap jatoh.

"Ehehe.. yah, kau tau, pintu ini sedikit-" pegangan gue meregang dan dengan sigap gue kencengin lagi "–rusak. Ya, rusak. Haha.." gue ketawa garing.

Sedangkan si Ookamizu Cuma diem. Merhatiin gue dengan tatapan yang entah apa artinya. Gak lama kemudian, dia jalan. Deketin gue.

Glek! Gue nelen ludah. Mau ngapain nih orang?!

"Bisa kau buka sedikit? Aku mau keluar." dan sesuai perintahnya, gua bukain ini pintu. Cuma dikit. Kalo dibuka kelebaran, nanti bisa jatoh pintunya!

Set! Dia pun keluar. Tapi gak pake sepatunya. Jadi, harapan gue dia bakal pergi dari sini, kandas sudah.

"O-okamizu?" tanya gue pas entah kenapa dia bikin pose kayak kuda-kuda gitu.

"Menyingkirlah."

Perasaan gue gak enak "O-OY! KA-KAU MAU APA?!" dia ngabain gue. Kuda-kudanya itu tampak makin mantep dan akhirnya "OY! HE-HENTIKAN HENTIKAN! KAU-"

BRAK!

Dia nendang ini pintu. Pintunya tampak sehat (?) kembali. TAPI, sekarang gantian guenya yang gak sehat. MAKASIH buat 'Ookamizu-ku tersayang' yang udah bikin gue ciuman sama lantai teras. (pokoknya, gue ciuman ama lantai. Posisi pastinya lo lo pada pikir sendiri dah!)

"Nah! Dengan begini, untuk sementara ini akan baik-baik saja! Bagaimana, aku he- KAU KENAPA?!" dia deketin gue "HEI! SIAPA YANG MELAKUKAN INI?! BILANG SAJA! AKAN KUHAJAR DIA!" dia kesana-kemari –nyari pelakunya ceritanya

Makasih (lagi) buat kepedulian lo deh. Tapi gue gak butuh itu. Yah, sayangnya gue bakal bermasalah nanti kalo ngomong gitu beneran.

Masih dengan posisi tadi, gue ngangkat tangan "O-Okamizu-san, kau tak perlu repot-repot." Gue pun bangun "Aku tak apa-apa kok. Haha.."

"He? Benarkah tak apa? Syukurlah.." dia hela nafas "Sepertinya pintu tempat ini bermasalah ya?"

Ya! Ya! Itu benar! Lo pasti gak bakal mau tinggal disini jadinya kan?!

"Tenang saja! Hanya masalah kecil! aku pasti kerasan disini kok!"

Jdar! Harapan gue kandas –lagi

"Baiklah, sampai dimana kita tadi? Tenang saja, kalau hanya pintu yang rusak, aku tak akan merasa terganggu kok!" katanya sambil senyum yang… sudahlah tak perlu dibahas. Gue gak kuat.

Tapi, apa bener, hanya itu, O-ka-mi-zu? Khukhu… tunggu saja sampai kau melihat wajah asli tempat ini!

.

.

.

30 menit kemudian…

Heh! Benar kan, apa yang kukatakan tadi? Cepat atau lambat, kau akan tau, Ookamizu! Karena..

Saat membuat teh..

"Sebentar ya, aku buatkan teh dulu." Gue berjalan menuju dapur buat bikin teh sementara si Ookamizu duduk didepan meja sambil baca komik-komik gue yang ada disitu.

"Hn." Jawabnya, singkat, masih sibuk sama itu komik.

Dan gak lama kemudian, pas gue mau nyalain kran "Lho, kok gak nyala?"

"Hn? Kenapa?" dia berpaling dari itu komik dan deketin gue.

"Eh.. sepertinya rusak– lagi. Hehe.."

Dia ngangkat sebelah alisnya "Rusak kau bilang?"

"Ah! Tak usah khawatir! Di teko ini masih ada kok!" gue pun beranjak ke teko yang ada disamping kulkas. Tapi, begitu gue mau ambil airnya..

"Kenapa?" tanya Ookamizu –lagi

"E..hehe.. sepertinya sudah habis. .."

Si Ookamizu lagi-lagi mengangkat alisnya. Natap gue dengan tatapan 'lalu?'.

"Tak apa! Aku bisa minta tetangga kok! Tunggu sebentar, ya!" dan gue pun segera pergi ketempat tetangga-tetangga gue. Ngemis air –kayak biasanya kalo kran rusak–lagi

Dan begitu gue balik…

"Ookamizu-san, maaf membuatmu menunggu la-"

Entah kenapa, gue pengen banget ketawa ngeliat apa yang gue liat ini. Dia..

"Nng! Kenapa susah sekali digeser sih?!" dia lagi berusaha buat ngebuka itu pintu. Pft!

Dan waktu kepanasan..

"Ngomong-ngomong, disini panas. Boleh aku menyalankan AC?" tanyanya.

"Oh, silahkan."

Dan dia pun, ngambil remote AC yang ada ditembok. Tapi, beberapa saat kemudian "Hei! Kenapa tak mau menyala?! Ayolah, cepat menyala!" AC itu gak mau nyala. Pft! Lagi-lagi gue pengen ketawa ngeliatnya.

"Ookamizu-san, serahkan remote itu padaku." Gue gak tahan ngeliat dia yang udah gregetan tingkat max itu. Tapi, bukannya dikasih ke gue, dia malah–

PRAK! –ngancurin itu remote

"Ups! Sorry.." hanya itu yang dia ucapkan pake tampang horror dan ngelepas itu kepingan remote. Gila. Gue makin penasaran seberapa gede kekuatan yang dia punya. Kecil kecil cabe rawit cuy.

Dan pas ujan…

Tes! Setetes air hujan ngenain kepalanya. "Apa ini?" dia megang kepalanya dan nengok keatas "Itu.."

"Bocor." kata gue dengan senyum yang manis –bagi gue, almarhum & almarhumah ortu gue, sama Jiraiya

Nah, begitulah.. dia udah tau semua kekurangan ini tempat. Dan sekarang, gue lagi nunggu keputusannya.

"Jadi, kau masih mau tinggal disini?" tanya gue.

Dia pun berpikir sejenak. Mukanya udah nunjukin kalo dia susah milih "Baiklah, sudah kuputuskan!" Sementara itu, muka gue udah sumringahnya minta ampun. Tapi, kayaknya bener kata orang 'kalo mimpi itu jangan ketinggian' karena jawaban dia adalah "Sepertinya kita butuh perbaikan kecil." dia noleh ke gue yang membatu seketika.

Grep! Dia megang tangan gue "Ayo, kita bekerja sama untuk menciptakan ruangan yang hebat!" kemudian dia ngelepas pegangannya dan berseru sambil ngacungin tinjunya keatas "ROAD TO RUANGAN YANG HEBAT! OUH!".

Sementara gue, Cuma ngangkat tinju tangan kanan gue keatas dengan lemas + aura kesuraman disekitar gue.

"ouh.."

.

.

1 minggu kemudian dikos-kosan gue..

PLOP! Tebaran kertas warna-warni menjatuhi gue yang baru aja pulang dari kampus.

"Irasshaimase! Selamat datang di 'Ruangan Idaman'!" entah kenapa Ookamizu Kyuubi udah ada diruangan ini dan ngebawa perlengkapan pesta.

"H-he?" gue ngedip-ngedipin mata "Ada apa ini?!"

Dia mundur. Nunjukin suatu pemandang yang tadi dia tutupin. Pemandangan kamar gue. Bukan. Ini bukan kamar gue. Ruangan yang bersih, AC baru –masih ada plastic nempel disitu–, alat pemanas baru, sofa –sebelumnya gak ada–, meja yang bersih –sebelumnya penuh oret-oretan–, tatami+lantai yang bagus banget –sebelumnya penuh tambelan–, lampu yang terang benderang, tempat tidur wow kerennya –sama sih, Cuma kok tampak lebih keren ya? –

Gue liat dapur gue. Gila. Banyak perlengkapan masak baru! Dan yang paling penting, krannya beda! –sebelumnya udah dililit kain penambel–, dan… hei! Kalau diingat-ingat, pintu yang tadi kutarik tak bermasalah sama sekali!

Gue kembali ngeliat ke Ookamizu yang masih ada didepan gue. "I-ini…" gue masih gak percaya. Gue pasti salah masuk ruangan!

Ookamizu tersenyum 3 jari "Hehe.. gimana? Keren kan?"

Gue terdiam sejenak "Nggak. Kayaknya gue salah masuk ruangan deh. Ma-maaf.." gue cepet-cepet berbalik tapi si Ookamizu narik gue.

"Itukah yang kau berikan kepada orang yang sudah merubah ruanganmu yang dulu tak layak disebut tempat tinggal menjadi apartement bintang 5? –walau kecil sih–"

Gue terdiam. Gue ngelirik Ookamizu lagi "Eh? Maksudmu.. kau yang melakukan ini semua?"

"Heh!" dia cuma berkacak pinggang sambil tersenyum bangga.

Sepertinya itu jawaban untuk 'tentu saja'.

Tapi, gue masih gak percaya ini! Gimana bisa? Tadi waktu gue berangkat, ini kamar masih semrawut. Tapi sekarang… ayolah, menyandang kata rapi saja kamar ini sudah tak pantas. 'sempurna' lah kata yang tepat!

"Ba-bagaimana kau melakukannya?! Ini ini.. maksudku ini luar biasa! Kau-"

"Jadi, aku akan tinggal disini?" dia ngulurin tangan kanannya ke gue. Sementara gue Cuma natap itu tangan dan yang punya bergantian.

"Kita akan bagi dua bayarannya tiap bulan." Lanjutnya lagi.

Tanpa pikir panjang lagi, gue sambut itu tangan "Heh. Kenapa nggak?" tapi disaat itu juga..

TING TONG! TING TONG! –bel pintu berbunyi

Keringat dingin satu persatu turun dari pelipis gue "Gawat! Itu pasti ibu kos-kosan! haduuh.. mana gue belom punya duit lagi! Gimana ini?!"

TING TONG! TING TONG! TING TONG! TING TONG!

Duh! Dia makin tensi lagi! "Gimana ini? Gimana ini? Apa gue pura-pura belom pulang aja ya? A-" tiba-tiba Ookamizu nepok pundak gue. "Serahkan padaku." Katanya dan berjalan kepintu.

"Tu-tunggu! Kalau dia sampai tau aku dirumah, bisa gawat! Jadi lebih baik-"

TING TONG! TING TONG! TING TONG! TING TONG! TING TONG! TING TONG!

"Aduh, itu nenek lampir kok perasaan.." gue makin gak enak. Rasanya gue pengen bunuh diri. ….. . gak jadi deh. Masih banyak yang belom gue lakuin nih! Jadi, sekarang gimana?

"Udah, lo mundur aja. Biar dia, gue yang urus!" nah lho. Kenapa nih anak juga jadi kayak ngancem gitu?

Ceklek! Pintu pun akhirnya terbuka. Ookamizu maju sementara gue dibelakangnya Cuma bisa nundukin kepala. Tapi gak lama kok. Karena omongan Ookamizu yang berhasil bikin gue ngangkatin itu kepala lagi.

"Ini." Dia ngasih amplop berwarna coklat tepat didepan wajah si Bukos (singkatan 'Ibu Kos-kosan') "Bayaran yang kemarin sekaligus untuk bulan depan. Dan aku, akan tinggal disini."

Itu bukos mau ngomong tapi kalah cepet sama Ookamizu "Semua kerusakan sudah dibenarkan. Menurutku sih, harusnya ini dapat potongan harga. Tapi, karena ada aku juga, jadi kubayar saja deh. Bagaimana?" dan kali ini si iblis itu malah pake ngedipin mata lagi!

Sedangkan si Bukos, kayaknya udah kebingungan mau ngomong apa. Apalagi waktu dikasih kedipan langsung dari Ookamizu. Masa' ya, dia nge-blush! Udah gitu, matanya berubah jadi lope-lope lho, pemirsa! Dia pun pergi dengan keadaan begitu.

Sama kayak si Bukos tadi, gue bingung mau ngomong apa pas Ookamizu berbalik dan nutup itu pintu. Oh, tapi GAK PAKE BLUSH + LOPE-LOPE!

"Haa.. aku capek! Mau istirahat!" Ookamizu menaruh kedua tangannya kebelakang kepalanya. Dia jalan ngelewati gue dan menuju tempat tidur gue. Dan dia… tunggu. Tidur disana?

"A-ano.. Ookamizu-san, kau-"

"Tadi kan gue dah bilang, gue capek. Mau tidur!" dia nenggelemin mukanya dibantal jadi suaranya agak mengecil.

"Ta-tapi itu kan-"

"Tempat tidur lo? Terus kenapa? Gue maunya disini. Oh iya, gue juga laper. Gue mau makanan. Bikinin dong. Terserah apaan aja asalkan makanan + enak."

"Siapa? Gue? Lo nyuruh gue?"

Dia ngangkat kepalanya dan natep gue "Emang siapa lagi? Gue udah ngebenerin ini gubuk + ngebayarin tagihan selama 6 bulan, lho."

"Ya, gue tau. Tapi kan–"

"Gue tadi bilang kan, 'biaya dibagi 2'. Tapi, tadi lo sibuk sama itu bel jadi gak denger penjelasan gue. 'Kalo lo gak bayar setengahnya, lo harus jadi babu gue sampe lo bisa bayar yang harusnya lo bayar atau lo jadi babu gue selama sebulan'. Nah, lo tadi gak bayar sama sekali. Jadi, lo HARUS jadi babu gue gak peduli apa yang terjadi. Jadi, sekarang gue laper. Gue mau makan."

Krik. gue cubit pipi gue. Gak sakit. Abis itu gue ambil tang. AW! Sakit. Jadi,

INI BUKAN MIMPI.

Tapi gue masih gak percaya ini! Ookamizu Kyuubi. Jadi ini wujud aslinya?! Bagaimana dengan cara bicara 'aku-kau' yang tadi?! Mana senyuman manis tadi!? Mana– oh, sudahlah. Yang jelas semua sudah tak ada. Yang ada kenapa malah iblis yang menjelma menjadi manusia?! Dan lebih parahnya lagi, kenapa gue yang kena?! Tunggu. Mungkinkah karena diam-diam dia itu fans gue? –krik– sudahlah. Oh, kami-sama, apa dosan hambamu ini sampai kau menurunkan kepadakuku iblis bukan malaikat?!

"Oy, sampai kapan kau mau membuat tuanmu ini kelaparan? Bahkan seekor anjing pun gak akan ngelakuin itu." Dan sekarang, gue dipandang lebih rendah dari anjing?!

"Ck!" gue berdecak –pelan– "Iya iya.." gue pun berbalik dan menuju dapur tapi si iblis ngehentiin gue.

"Oy, dilarang berdecak! Kalau kerja yang ikhlas!" katanya –masih di tempat tidur

"Siap…" gue makin gak sabar. Pengen rasanya ini bocah gue lempar keluar –Cuma pengen lho–

Gue kembali berjalan tapi dia kembali ngehentiin gue "Oy"

"Hn.." gue Cuma nyahut dengan males dan gak ganti posisi sama sekali.

"Liat ke gue, kalo ngomong!"

Twitch! Kesabaran gue makin menipis. Akhinya gue berbalik dan natap dia "Apa?"

Dan dengan nada biasa serta mata innocent dia bilang "Nama lo… siapa?"

JEGERR!

.

Nama gue, Namikaze Naruto. Umur 18 tahun. Mahasiswa tahun pertama Tokyo City University jurusan informasi & telekomunikasi. Dan mulai hari ini. Gue. Akan mempertaruhkan hidup gue. Tinggal bersama iblis kampus yang ternyata baru aja gue tau kalo sifatnya itu bener-bener nggak banget kalo lo Cuma liat tampangnya. Glek. Kira-kira… kehidupan kampus gue di Tokyo ini bakal kayak gimana ya, selama 4 tahun kedepan? Oh iya, gue punya pesan.

Kalo mimpi itu, jangan tinggi-tinggi. Gak enak sumpah kalo jatoh.

.

.

TBC


A/N : HEYA~~! Gak jelas banget ya? Yah memang ("- -) Author gak inget maksud dari fic ini sebenernya apa. Makanya, Author bilang bacanya gak usah sambil mikir. Let it flow saja lah ya~ ntar jga ketauan /iya klo ketauan, klo nggak?/ xDD. tapi yang lebih penting lagi, Akhirnya ke-update juga ini fic. gak terasa dah berapa bulan coba ditelantarkan -ini aja hampir lupa- yah, masih mending sih daripada fic2 yg di akun lama *yaoming* author masih bingung -bacamalesbaca- itu mau diapain.

-curhat dikit gak apa lah ya- Akhirnya Author selesai UN~! Sekarang tinggal tunggu hasilnya 1 bulan lagi yang dengan kata lain berarti Author harus lumutan dulu di rumah selama sebulan. /nak/ Yah, pokoknya semoga aja hasilnya bagus, aamiin... buat kalian yg lagi senasib sama Author sekarang ini semoga hasilnya bagus semua n masuk SMA tujuan dengan selamat! (Tapi buat kalian yg pake KJ, mati aja lo. /woy)

yasudahlah, akhir kata gue ucapkan dengan THANKS FOR READING! Bila fic ini berkenan dihati para pemirsa sekalian silahkan walau cuma 1 2 huruf akan saya tunggu disini reviewnya.. yah, chapter kmrn memang gak terlalu banyak yg baca -cuma 115. syedih aku T-T- tapi gak apa lah, THANKS FOR COMING AND SEE U~!

.

.