Author's Note: Aslinya fic ini udah kehapus gegara laptop aku rusak dan lupa aku backup data-data di dalamnya. Padahal ini udah 80% lagi selesai waktu itu :""(. Maaf juga telat banget. Sekali lagiiii…

Happy Reading… :)

Malam itu mereka berciuman dari beberapa sesi. Oke, itu malam yang panjang juga pertama bagi Mamori, itu ciuman pertamanya (menurut Hiruma tidak) dan rasanya lain dari novel-novel yang ia baca.

Ciuman. Ciuman bukan sesuatu yang rasanya manis dan lembut. Ciuman itu basah, licin dan selalu berubah. Itu yang ia rasakan saat berpagutan dengan Hiruma kini.

Ciuman diawal memang terasa malu-malu, terkesan hati-hati Hiruma membawanya. Di ciuman selanjunya, mereka sudah saling berani bereksplorasi bibir pasangannya. Ciuman yang lebih dari sekedar hangat dipipi, tapi memenuhi seluruh keraguannya—keraguan mereka. French kiss yang indah dan mampu melemahkan lututnya.

Dan masalah datang saat ciuman kedua itu berakhir dan mereka akan melanjutkannya pada ciuman ketiga. Kakinya yang berjinjit saat itu agak letih walau Hiruma sudah sangat berusaha merendahkan tubuhnya yang tinggi serta mendekap tubuhnya, tapi tetap saja tidak nyaman. Tangannya yang sedari tadi melingkari leher Hiruma dan meremas surai pirang di sana juga merasa aneh, tanganya itu dapat merasakan bagaimana kulit leher kekasihnya seperti jejak api—begitu hangat.

Mamori juga merasa gerah, tangannya butuh bersandar pada sesuatu. Tanpa melepaskan ciuman mereka yang makin intens, tangannya bergerak menuruni leher Hiruma yang masih hangat dan kesalahannya adalah saat menyandarkan tangannya dibahu Hiruma yang membuahkan ringisan yang lalu menghentikan ciuman mereka ini.

"Kenapa?" ucap Mamori cemas.

"Sedikit terkilir saat latihan—

Saat Hiruma ingin melanjutkan sesi ciuman yang tertunda, Mamori menghentikannya dengan pandangan penuh rasa bersalah.

"Apa sakit?"

Pertanyaan bodoh. Tentu sajalah!

Ini semua karena tangannya yang tidak mau diam.

Bukannya menjawab pertanyaan Mamori tadi, Hiruma malah balik menatapnya dengan aneh—ia tidak dapat mendeskripsikannya bagaimana, tapi itu tatapan yang dalam.

"Aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku," kata Hiruma.

Apa ini tentang kesalahpahaman yang ia buat sebelumnya?

Ia diam-diam mengangguk, ia memang kekanakan dan sudah tertinggal jauh di belakang Hiruma soal kedewasaan.

"Bukankah kau belum menjalankan Dare-mu untuk tidur?"

Permainan itu lagi? Ya ampun, ia malas sekali, tapi ia tidak akan menangis seperti tadi. Dan kalau boleh memilih, ia ingin melanjutkan ciuman yang tadi karena sebenarnya ia agak kecewa dengan gangguan yang ia buat sendiri.

Dan setan apa yang merasukinya untuk berpikir seperti itu?!

"Tidurlah. Aku akan kembali," kata Hiruma segera berbalik untuk kembali ke kamar di ujung lorong sana.

Berpikirlah! Bukankah ia ingin tetap Hiruma di sampingnya?

Sebuah permainan?

"Bukankah aku belum mengajukan Dare untukmu?"

Ya, itu.

Hiruma berhenti diambang pintu dan menoleh padanya.

"Dare-mu adalah—

Apa aku berani?

—"Te-temani aku … malam ini?"

.

.

.

The Beautiful Life

Mei Anna's Fanfiction

Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki & Yusuke Murata

All For You's Side Story

AU | Typos| OOC | Miskin Dialog | HiruMamo diumur kurang lebih 22 tahun | Setting Perancis | Aneh | Etc

Happy Reading ^_^

.

.

.

Di bantu cahaya matahari yang lebih dahulu terbangun dari pada dirinya, ia menggeliat di bawah bedcover dengan malas bagai ulat, sedang embun di jendela akibat hujan semalam sudah menguap. Surainya auburn-nya menyembul dari balik bedcover dengan perlahan dan terhenti saat mengingat semalam.

Kini semu kemerahan bukan hanya milik pipinya, tapi seluruh tubuhnya yang hanya tertutupi bedcover. Ia tidak berani mengira-ngira karena ia tahu benar semalam bukanlah mimpi, bukan juga kesalahan. Namun, bagaimanapun ia tetap malu. Ia pun sedikit bersyukur penguni satu lagi dari kamarnya—sejak semalam—terdengar sedang sibuk dengan shower dikamar mandinya.

Mungkin usul satu-satunya dari otaknya yang baru konek ini adalah jalan terbaik. Ia akan diam-diam memungut pakaiannya dan pergi kekamar mandi lain di lantai dua. Ia tidak ingin mati konyol karena malu atau digoda Hiruma—Ya ampun, bercinta adalah hal baru baginya!

Apa yang akan terjadi—maksudnya—bagaimana tanggapan Hiruma setelah ini?

Tiba-tiba ia terlonjak dari tidurnya kala mendengar sesuatu mengalunkan John Mayer – Stop This Rain. Tanpa melepas bedcover dari dadanya, ia meraba-raba meja nakas di samping ranjangnya dan ternyata hanya alarm dari ponselnya yang biasa ia setting saat di asrama. Ternyata ada juga panggilan gagal dari beberapa teman kampusnya juga lima email yang belum sempat ia balas. Ia segera membalasnya satu persatu dan terkejut dengan teman yang sudah sangat lama yang muncul lagi dilaman chatting-nya.

Momo.

Siapa yang tidak ingat dia. Seorang teman dunia maya yang sangat baik. Hanya dia satu-satunya teman dunia maya yang perhatian padanya. Kadang kala mereka bertukar pendapat atau ia yang curhat padanya. Jikalau memang diizinkan untuk bertemu, maka Mamori akan sangat berterima kasih dan lebih ingin berteman dekat dengannya.

Dan pagi itu—sebenarnya Momo mengirim email kemarin—Momo bertanya bagaimana kabarnya. Ia segera membalasanya dan menanti dengan sabar.

Drrtt… Drrttt…

Sesuatu bergetar di atas meja nakas dan yang pasti itu bukan miliknya karena ponselnya sedang ia pegang. Ia mendudukan diri dan bersandar pada kepala ranjang lalu meraih sesuatu yang bergetar itu.

Ini milik seorang lagi penguni kamarnya kan?

Dan betapa terkejutnya ia saat melihat namanya ada dilayar ponsel itu.

Kapan ia mengirim pesan—

Kenapa namanya—

Berarti—

SET!

Mamori memandang horror kala Hiruma merenggut ponsel itu dari tangannya.

"Apa yang kau lihat?"

Be-berarti … selama ini dia itu Momo—

"Kau—

Belum sempat memprotes atas kejadian ini, mulutnya sudah dikunci dengan bibir Hiruma. Ciuman kilat itu membuyarkannya, apalagi setelah itu pandangan mereka begitu dekat dan hidung mereka masih bersinggungan. Dari jarak sedekat ini ia dapat melihat kilat nakal dari mata emerald kekasihnya.

"Kalau kau seperti ini … aku tidak tahu harus memakanmu seperti apa."

Darah bergerak naik dengan cepat kewajahnya—

"Mou! Hiruma-kun!"

"KEKEKE" —dan Hiruma segera pergi meninggalkannya yang masih belum berpakaian menuju ruang makan, tidak seperti Hiruma yang sudah sangat rapi.

"Curang!"

oOOo

Dasar pembohong ulung.

Mamori ingin sekali mengatakan itu saat melihat Hiruma yang duduk di sampingnya yang sedang menyetir mobil Ferrari merah karena menyembunyikan perihal ini. Tapi, ia menelan segala keluhannya sendiri untuk suatu waktu yang tepat.

Setelah sarapan tadi, Hiruma menawarkan diri untuk mengantarnya ke kampus. Dan selama perjalanan ini mereka terus diam; Hiruma sibuk menyetir dan ia menatap keluar jendela dengan tangan serta dagu bersandar pada pintu mobil yang jendelanya terbuka. Tetesan air dari gerimis yang tidak niat turun dari langit itu menerpa wajahnya perlahan. Ia suka hujan di kota Paris.

"Tutup kacanya, nanti airnya masuk," kata Hiruma yang masih fokus menyetir dengan tangan kanannya dan sebelah tangannya yang lain bersandar pada sisi pintu disampingnya.

Mamori segera menutupnya lalu menatap Hiruma. Ia tidak akan mengaku kenapa ia menyukainya selain Hiruma tampan dan berandal, ia tidak ingin Hiruma kege´eran. Mereka 'kan sudah cukup lama dekat dulu, tapi karena ia terlalu banyak menimbang-nimbang dan bertanya dalam hati sehingga meragukan perasaannya sendiri dan ia hampir menyakiti perasaan Hiruma.

Ia sadar dari pemikirannya karena terkejut kala sebuah tangan merangsek masuk kesela jemarinya yang sudah dihiasi cincin pasangan. Tangan kanan Hiruma menggenggamnya erat sedang tangan Hiruma yang lain memegang kendali pada stir. Orang itu tidak menatapnya, tapi tersenyum dalam diam mereka yang nyaman.

Rasanya jadi seperti kembali ke masa remaja mereka yang canggung. Andai mereka dari dulu jujur, tapi ia sama sekali tidak menyesal bila akhirnya seperti ini. Kadang hidup butuh rintangan, bila semuanya lancar maka itu bukan hidup. Tidak bedanya dalam hal cinta, disana kita diperkenalkan dengan berbagai rasa.

Ia menatap lurus pada jalan. Tangan mereka masih bergenggaman. Ketika di pertigaan jalan, mereka berbelok kearah kiri, bukannya kearah kanan yang menuju kampusnya.

"Hiruma?"

"Tidak masalah 'kan kalau sehari saja?"

Ia menatap Hiruma seolah bertanya.

"Temani aku hari ini."

Seperti kencan?

oOOo

Perjalanan mereka seakan didukung cuaca yang mulai cerah saat hari menunjukan pukul sepuluh pagi. Mereka tidak punya rencana akan kemana dan hanya menuju tempat wisata terdekat untuk sekedar bersantai atau berpiknik.

Dan rasanya ... jadi ia yang asing dengan tempat-tempat di Paris, soalnya Hiruma-lah yang menariknya ke tempat-tempat yang mereka datangi. Mereka ada di kawasan elit Paris yang bernama Champ Elysee; tempat di mana kaum borju menghabiskan waktunya. Dengan masih bergandeng tangan, mereka berjalan di trotoar yang lebar dan saat matanya melihat sebuah restoran—bukan karena lapar—ia mengagumi desain interior restoran itu dan Hiruma sepertinya salah paham karena menariknya kesana untuk makan siang. Jangan tanya berapa uang yang harus dikeluarkan, apalagi restoran itu—dari yang pernah ia baca di majalah—harus mem-booking dulu sehari sebelum datang tapi mereka mendapatkannya. Aneh sekali.

Setelah makan siang, mereka mendatangi beberapa tempat seperti Arc de Triomphe yang menghadap langsung Champ Elysee. Ia sangat ingin ke Eiffel tapi Hiruma menolak karena tempat itu tidak istimewa lagi, juga ini belum gelap dan Eiffel lebih indah saat malam datang. Lalu mereka sempat berjalan-jalan di taman Jardin du Luxembourg dengan Hiruma—ahkirnya—mau untuk berfoto bersamanya—

"Ayo, Hiruma-kun!"

Hiruma nampak agak enggan tapi Hiruma merangkulnya saat gambar mereka diambil.

Dan sekarang berakhir di Notre Dame de Paris.

Ia bersama Hiruma duduk di barisan tengah saat Paduan Suara sedang berlatih di gereja Katredal Notre Dame ini. Jujur, ia belum pernah masuk, biasanya ia hanya akan lewat saja bersama teman-teman kampusnya atau hanya foto-foto di depan gereja bergaya gothic ini. Dan ia sangat suka kubah langit-langit gereja itu, apalagi desain interiornya yang sangat dijaga. Lukisan serta mozaik-mozaik klasik adalah favoritnya. Seni yang khusus dipersembahkan untuk Tuhan.

Diam-diam ia berdoa setelah melirik Hiruma yang seperti serius dengan pertunjukan oleh Panduan Suara yang melantunkan doa-doa dengan lagu. Ia menangkupkan tangannya di depan dada dan berbisik dalam hatinya agar hanya Tuhan yang tahu. Ia lantunkan doanya.

Tuhan, bila Kau mengirimkan orang di sampingku ini adalah nyata maka buatlah dia selamanya di sisiku. Bahkan bila dia adalah iblis-Mu, biarkan dia bersamaku dalam susah dan senang, sehat dan sakit, kaya dan miskin.

Aku mencintainya...

Masa depanku...

"Pacar Sialan? Hei?"

Mamori membuka matanya perlahan dan samar-samar dalam cahaya putih dari matahari yang masuk diantara sela-sela lubang ventilasi serta jendela bermozaik ia melihat Hiruma berjas hitam di altar suci serta suara organ yang melantunkan Wedding March, suara riuh manusia sempat menjadi backsound hari bahagia itu.

"Mamori?"

Tapi itu hanya khayalannya saja. Hiruma ada di sampingnya, bukan di depan sana. Ia mengerjap-ngerjapkan mata lalu menunduk.

"Kau kenapa?"

"..."

"Mamori—

Hiruma terlihat terkejut saat ia mengangkat wajahnya dan menatap Hiruma dalam. Ia membuka mulutnya—

"Menikahlah denganku?"

Dua manusia itu terdiam saat Paduan Suara selesai dari latihannya. Mereka tenggelam dalam sunyinya gereja itu ketika lonceng gereja berdentang, menyanyikan suara indah yang khidmat. Tuhan berkata dalam suara merdu, apa kau mendengarnya?

Mamori hampir kecewa karena Hiruma tidak merespon apapun. Hiruma mungkin syok, tapi ia harusnya mengerti bagaimana Hiruma. Mungkin saja Hiruma ingin berkarir, ingin mencapai cita-cita lain dan ia terlalu gegabah untuk bertanya tentang pernikahan. Komitmen.

Tapi ia tidak dibiarkan terlarut dengan prasangka-prasangkanya. Dirinya di bawa Hiruma ke jalanan menuju altar suci gereja itu. Hiruma menggenggamnya tapi genggaman itu berubah saat tangan Hiruma menyusup di antara sela jarinya. Tiba-tiba bayangan itu muncul lagi dan cincin ditangannya silau terkena cahaya matahari yang masuk seperti tirai-tirai.

Langkah mereka melambat saat sudah di depan altar suci. Hiruma mengeratkan genggamannya dan sampailah mereka di tempat suci itu.

"Kita akan melakukannya dengan benar, Mamori," Hiruma menatapnya sengit dan sedikit kesal walau samar pipi pucat itu bersemu, "Bisakah kau menunggu sampai aku mengatakan itu duluan?"

Maksudnya?

Hiruma menghadapkan dirinya ke samping sehingga mereka berhadapan. Terlihat Hiruma mengela napas dan setelahnya wajah itu serius, "Aku bersedia untuk menerima perempuan merepotkan sepertimu. Kau perempuan yang suka dengan Cream Puff yang menjijikan tapi aku menyukai kopi buatanmu. Kau perempuan yang pertama memberiku hadiah ulang tahunku. Kau perempuan yang penuh kecemasan sampai menunda-nunda untuk menebak bagaimana perasaanku yang begitu nyata, dulu. Kau yang hanya mengerti aku selama ini. Aku mencintainya—

Will you marry me?"

.

.

.

.

Lima Tahun Kemudian...

Setelah reonian dengan anggota Deimon, Hiruma mendukung Mamori yang merasa sakit lambungnya ke dalam mobil. Hari sudah cukup malam saat itu.

Hiruma dan Mamori duduk di kursi penumpang karena Hiruma membawa supirnya ikut serta, habis ia buru-buru juga datang ke acara reonian itu.

"Harusnya kau bilang kalau pulang sekarang! Aku jadi kesal!" walaupun perkataan Hiruma agak keras, tapi wajahnya sangat terlihat khawatir, apalagi setelah Mamori bersandar pada pundak Hiruma.

"Habis kau tidak bilang kalau ada reonian, untung saja Sena mengirimiku email," ia memukul pelan dada bidang Hiruma lalu memainkan kancing jas Hiruma karena tiba-tiba itu jadi menarik—hormon bayi.

Hiruma menghela napas, "Tapi kau membuatku harus meninggalkan klienku saat kau kirim pesan. Jangan melakukan itu lagi, oke?!"

Dan ia berdecih lalu mengangkat tubuhnya agar tidak bersandar pada suaminya. Ia ngambek.

"Oh, oke! Maaf deh buat kau repot dan kau jadi meninggalkan klien-mu yang penting itu!"

Hiruma sudah sangat lelah. Harusnya mereka itu rindu-rinduan, bukannya seperti ini. Sudah cukup tinggal berjauhan, masa pas ketemu marah-marahan.

Hiruma menarik kepala Mamori untuk bersandar lagi pada dadanya. Mamori menolak bertatapan dengannya dan merajuk padanya, "Jadi, benarkah kau akan menetap disini?"

"Bayi, kok, yang ingin bersamamu."

"Hem ... jadi kau tidak, Istri Sialan?" Hiruma segera memojokan Mamori ke pintu mobil mereka. Ucapannya yang tadi sangat penuh dengan godaan ditelinga Mamori.

Mamori berdegup dan gemetar diam-diam lalu memerah hingga ia merendahkan tubuhnya kebelakang saat Hiruma mendekat, "Te-tentu!"

"Yakin, heh?"

Dan Hiruma sudah di atas Mamori yang dalam posisi berbaring di kursi penumpang dan sadar kalau masih ada supir yang mengetir dan sempat berdehem pada mereka seolah berkata untuk menahannya untuk di rumah saja.

Tapi cinta mereka tidak bisa ditahan.

Hiruma segera menutup tempat mereka dengan tirai yang khusus diadakan dimobilnya untuk hal seperti ini (ia sudah sangat berplanning ya). Ia kembali pada Mamori, "Sampai mana?"

Dan mereka berciuman mesra lagi dan lagi menuju rumah Hiruma di pusat kota Tokyo. Mungkin ia—mereka akan mengubah istana kecil mereka karena malaikat kecil akan hadir dikehidupan mereka dalam tujuh bulan lagi.

Tuhan, berkati dia. Kami akan mencintainya.

End ◊

Author's Note: Aku ngga begitu tahu apa ada Paduan Suara di Notre Dame. Ngarang aja. Hehe :D Kalo mau ada yang koreksi silahkan. Sumber-sumber tempat juga dari google semua. Diperkenankan, apalagi dikotak review. Hoho...

Terima kasih yang udah review di chap satu. Love you all :*

Terima kasih juga yang udah baca dan review fic ini sampai akhir.

Regards,

◊Mei Anna◊