Nightshade [Truth]
Disclaimer: Hidekaz Himaruya (bosen juga ngomongnya #hee)
Warning: genderbend, AU series, ficlet, DLDR
.
.
.
Tiina Vainamoinen merenung di kamarnya dengan perasaan sedih. Baru saja dia menemukan fakta mengenai kekasihnya, Berwald ternyata pernah berpacaran dengan seorang gadis Norwegia yang bernama Halldora Bondevik dengan waktu cukup lama yaitu sekitar tujuh tahun. Hal itu diketahui ketika Tiina sedang berberes dan menemukan satu foto seorang gadis cantik dengan Berwald. Mereka berdua tampak mesra dan bahagia. Sejak saat itu Tiina merasa curiga pada Berwald karena Berwald tidak pernah cerita apapun terhadapnya.
Suatu saat, Tiina memutuskan untuk mendekati Berwald pelan-pelan untuk bertanya sesuatu padanya dengan barang bukti foto yang diselipkan di dalam kantong celananya. Didapatinya Berwald sedang duduk di sofa sambil membaca koran dengan wajah serius.
"Ber—"
Pemuda Swedia yang berbeda sepuluh tahun darinya menatap Tiina dari balik korannya dan mendapati Tiina tidak seceria biasanya dan wajahnya terlihat ingin menangis. "Kau tampak muram?"
Tiina terdiam, tidak tahu apakah dia harus mengatakannya pada Berwald atau tidak, takut-takut jika ia salah bicara. Tertunduk, perlahan mendekati Berwald dan memegang lengan baju Berwald seperti anak kecil yang ingin dimanja oleh orang tuanya.
"A—aku— hanya ingin tahu," kata Tiina pelan dengan wajah merah padam. "Me—mengenai sesuatu hal, jika kamu tidak marah padaku—"
Berwald tertegun melihat kekasihnya yang polos ini dan bangkit berdiri dari tempat duduknya dan Tiina masih memeluk lengannya dengan erat. Apa yang terjadi kepadanya? Biasanya dia selalu ceria setiap saat. Sesuatu menganggunya.
"Ja—"
Mulut Tiina membisu di tempatnya, perlahan-lahan Tiina menegadahkan kepalanya dan berhadapan dengan Berwald. "Boleh aku tanya padamu—"
"Tanyakan saja," jawab Berwald serak. "Ada apa?"
"Dulu Ber pernah pacaran dengan orang lain sebelum aku?" tanya Tiina sedih. "Aku sama sekali tidak tahu akan hal itu."
Berwald tersedak, darimana Tiina tahu soal itu. Dia sama sekali tidak pernah memberitahunya sedikitpun pada Tiina. Toh Tiina adalah kekasihnya sekarang yang paling dicintainya dan selalu disayanginya walau mungkin Tiina sama sekali tidak menyadarinya karena tertutup oleh sifat stoic pria itu. Baginya untuk apa membuang-buang waktu membicarakan sang mantan, itu hanya membuat Tiina terluka dan sakit hati.
Tentu ia tidak menginginkan hal itu terjadi.
Tetapi Tiina sudah tahu semuanya dan menanyakannya. Haruskah ia kabur dari pertanyaan ini?
"Ber—aku mencintaimu—," Tiina berkata dengan nada sendu dan memeluk Berwald dari belakang. "Apa kamu juga—"
Air mata gadis Finlanda itu tumpah di kemeja Berwald. Hatinya terasa sedih mengingat mantan kekasih Berwald yang begitu cantik. Tanpa Tiina sadari ia ingin menjadi seperti Halldora. Pria manapun pasti lebih tertarik kepada Halldora dibandingkan dengan dirinya. Mengingat hal itu saja, hati Tiina bagaikan teriris pisau yang sangat tajam.
"—mencintaiku sama seperti dia?"
Berwald menghela nafas sedalam-dalamnya, ia tidak pernah membandingkan Tiina dengan Halldora. Keduanya memiliki tempat spesial di hatinya pada masa itu. Ia mencintai Tiina apa adanya dan sepenuh hatinya.
Isakan Tiina semakin kencang. "A—aku mengerti jika—"
"Jika apa?" tanya Berwald pelan dan membalikkan tubuhnya untuk memeluk Tiina. "Jika aku mencintamu."
Tiina terkesiap ketika tubuh Berwald memeluknya dengan erat. Wajahnya kini merah padam seperti tomat milik Antonio. "T—tapi dia cantik, lebih cantik dariku—"
"Lalu, itu jadi masalah?"
Tiina menggeleng pelan dan mengeluarkan sebuah foto dari dalam kantongnya sendiri dan memaksakan diri tersenyum. "Ini foto mantanmu kan? Mathias cerita padaku mengenai hal itu—"
Berwald merebut foto itu dari tangan Tiina dan menatapnya sekilas," Aku sudah punya kamu. Buat apa ini—"
Lalu Berwald merobek-robek foto itu menjadi beberapa potongan ke tempat sampah. Mengabaikan Tiina yang menatapnya heran akan hal itu.
"Jag älskar dig trots allt. Inte för attettutseende," kata Berwald sekali lagi pada Tiina dengan wajah serius. 1)
Tiina tergelak melihat ekspresi Berwald yang seperti itu. Wajah stoic-nya kini berekspresi di hadapannya. Ia merasa bahagia mendengar perkataan itu langsung dari mulut Berwald, sesuatu yang jarang dilakukan pria itu terhadapnya. Ia merasa benar-benar dicintai seutuhnya oleh pria itu.
Ya, ia merasa dicintai.
"Kamu mau menerima gadis sepertiku?" tanya Tiina sedikit menguji. "Yang pas-pasan ini."
Berwald tidak ingin menjawab pertanyaan gadis itu. Yang diinginkannya hanyalah mencium gadis Finlandia itu dan memiliki Tiina seutuhnya di dalam pelukan hangat Berwald.
A/N Sebenarnya ini fic saya yang berjudul After January, jujur karena nggak sreg sama salah satu pairingnya jadi saya cut benar-benar. Lebih tepatnya saya jenuh setengah mati sih =_= dan lagi pula saya cuma mau lebih banyakin su x femfin di akun ini sih.
Review is must but no flame please :3
1) Aku mencintaimu dengan sepenuh hati, bukan karena fisik
