Rated : T

Warning :AU, OOC, Gaje, abal

Disclaimer : Death Note belongs to Tsugumi Ohba – Takeshi Obata

Pair : Mystery, spiritual

Summary : "Sebuah titik putih yang berubah menjadi titik merah. Meninggalkan bekas tak terlupakan tentang kenangan malam itu. Disinilah aku berdiri, mencari dan membalas dendammu yang mungkin tidak kau setujui denganku."

.

(A/N) : Yumiya: "Mungkin Chap ini agak sedikit keluar dari prolog. Tapi masih ada kaitannya."

Miki: "Konfliknya mulai terasa mungkin."

.

This is it "My Tragedy Chapter 1 : "The Silly fact"

.

Delapan tahun sudah ia lewati. Masa kanak-kanaknya yang telah merubah dirinya menjadi remaja Sekolah Menengah Akhir di London International High School. Begitupula musim dingin yang telah berubah menjadi musim panas. Serta watak aslinya yang telah berubah menjadi lebih keras.

Tidak ada lagi salju yang menyakitkan dalam khayalnya. Yang ada hanyalah udara panas dengan naungan kumulus-kumulus cerah.

Helaian pirangnya tersibak ala binaraga ditengah rimbunan murid-murid lain. Baju seragam berlengan pendeknya ia gulung sedikit keatas demi mengusir rasa gerah.

Kaca mata hitam berkelas yang ia gunakan memantulkan cahaya matahari hingga membuat kata 'cling' disana. Bajunya yang tidak pernah rapih sudah menjadi ciri khasnya. Tak ada yang berani menyangkalnya kecuali guru-guru, itupun jika para guru mau berjuang demi memarahinya.

Walau ia terlihat berantakan, stylenya tetap menjadi trendy di sekolah. Tidak ada yang berani mengusiknya ketika jam istirahat seperti sekarang ini. Kecuali satu pemuda berhelai merah kecoklatan penggila game.

"Hoy Matt!" sapanya pada pemuda yang sedaritadi ia cari.

Matt menengokkan kepalanya merasa dirinya dipanggil. Aktivitas merapikan lokernya sempat terhenti ketika ia tahu yang memanggilnya adalah orang yang paling ditakuti murid-murid lainnya.

"Ah, Maaf tidak menghampiri mejamu saat istirahat." Ucapnya dengan tatapan sendu.

"Tch! Mail jeevas! Wajahmu kusut sekali sih? Kau sedang dilanda badai cinta huh?" tidak ia gubris permintaan maaf Matt yang berwajah kusut itu. Orang to the point seperti dia mana mau berbasa-basi.

Pemuda pirang itu membuka kaca matanya menampakkan sepasang orb indah bertema garang.

"Oh, begitukah? Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan. Maaf Mells!" jawabnya sinis.

Mello sedikit terkejut saat orang dihadapannya dengan entengnya mengatakan hal yang bernada menegur. Mello tahu arti teguran adalah untuk memperbaiki diri, tetapi aneh rasanya bila seorang Matt yang selalu terlihat santai mengatakan hal begitu.

Matt tidak mengubris Mello dan malah berjalan lurus ala orang dilema melewati pemuda pirang itu. Tanpa pikir panjang apa yang akan terjadi, ia terus berjalan hingga jarak diantara keduanya mulai berjauhan.

Mello mengulum rasa kesal. Moodnya buruk sekarang.

"HOI MAIL JEEVAS! KAU PIKIR SIAPA YANG KAU TEGUR 'HAH?!"

Matt membalikkan badannya sesaat. Teriakan Mello juga menambah sorotan mata para murid lainnya menatap bergantian kearahnya dan Mello yang terlibat suatu konflik.-yaah walau sepele sih.

"Kau mau tahu siapa yang aku tegur?" kali ini Matt membalas dengan nada menantang. Mencengangkan semua pasang mata disana juga Mello yang tidak percaya. Sorotan zamrud itu terlihat tajam seperti seorang detektif yang tidak memberi ampun pada tersangka,

"Dialah orang paling ditakuti alias preman London International High School!í"

Detik berikutnya alas sepatu mahal pemuda garang itu berdesak cepat mengejar sosok Matt yang berlari menuruni tangga. Setiap pasang mata menatap ngeri pada Matt yang entah masih berbentuk manusia atau bukan ketika jam masuk berbunyi nanti.

-o-o-o-

-? POV-

Berhasil! Ternyata anak itu benar-benar mengejarku. Delapan tahun sudah tragedi mengenaskan yang menyangkutpautkan dirinya. Membuat sisi lemah dari seorang anak polos begitu mencuat dan membuatku tertawa.

Usianya mungkin sekitar 15 tahun sekarang. Pasti tubuh jenjang ringkih itu sudah sanggup membalas dendamnya padaku. Walau ia tahu orang yang disayanginya meminta ia untuk menjadi anak yang baik, tapi aku rasa ia tidak peduli karena nuraninya sudah teracuni.

Ia bergerak berdasarkan logika dan dendam. Secara tidak sengaja ia telah menghianati kakaknya dengan cara bodoh. Silahkan, aku juga meminta ia mencariku.

Foto anak yang dizoom berkali-kali itu tampak menampakkan rasa sedih dan perih diwajahnya. Semenjak kakaknya pergi, wajah manis dan lugunya berubah menjadi dingin tak berekspresi. Tubuhnya yang dulu terisi juga telah berubah ringkih dengan tinggi sepantarannya.

Jujur aku kasihan melihatnya begini. Tapi itu semua aku wujudkan untuk menjadi 'Kira'. Melampiaskan nafsu membunuh yang telah menjadi candu dalam darahku. Mendengar alunan melodi indah pemilik rasa sayang kepada korban, dan raungan adalah ritme yang paling aku sukai.

Meracuni otak setiap orang dengan tragedi mengenaskan dimasa lalu adalah balok-balok penyusun nada beraturan bagiku. Biasanya setiap orang akan mengakhiri hidupnya mendapati orang yang disayanginya pergi. Atau menjadi gila karena psikologisnya terganggu.

Masa lalunya memang menyimpan beribu kenangan manis bersama dengan korbanku. Lalu hancur berkeping-keping ketika aku memasukinya.

Yang membuatku tertarik adalah cara ia menatapku. Cara bagaimana ia bertahan hidup dan menyandang nama kepala keluarga Lawliet dan juga meneruskan pekerjaan almarhum.

Penyusunan puzzle secara rapih tanpa keluhan dan pembaharuan bab dalam hidupnya ia lewati seperti layaknya anak mormal. Hingga ia kembali menyusun puzzle yang belum sempat diselesaikan dimasa lalu karena sulitnya titik terang ditemukan.

Kini ia telah menemukan sosok berambut merah kecoklatan dengan senyum maniak itu. Tapi aku juga akan memberi keping puzzle dengan rupa serupa untuk mengecoh anak itu memecahkan titik terang.

Satu kesimpulanku, mudah ternyata mencari pengganti 'kira'.

-? POV End-

-o-o-o-

-Matt POV-

Aku kembali berjalan ke lokerku setelah berhasil kabur dari Mello. Dan untungnya Mello juga sedang dimarahi Mr. Teru Pak kepala sekolah karena berlari-lari dikoridor ruang guru yang kebetulan mengganggu aktivitasnya.

Uhm, sebenarnya itu salahku. Mungkin Mr. Teru mendengar aku yang berlari dengan tidak elitnya tetapi malah menangkap sosok mello yang tengah kelelahan sementara aku yang bersembunyi.

Mungkin pemuda garang itu sedang nyolot dengan Mr. Teru dibawah sana. Ahahaha .. murid-murid juga berkumpul memperhatikan adegan marah-marah Mello dan Mr. Teru yang menghadapinya dengan emosi yang sengaja ditahan.

Ku alihkan pandanganku dari kaca lantai dua tempat loker yang menampakan Mello yang kini berwajah merah. –kembali konsentrasi pada lokerku.

Belakangan ini aku selalu mendapat hal-hal aneh yang juga berbau mistis

Pertama, lima hari yang lalu ibuku meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat dinas keluar kota. Dan itu juga mempersepi hidupku. Karena ayahku yang hanya pulang setahun sekali dari Jepang dan hanya memberi aku transver uang.

Aku merahasiakannya dari teman-teman bahkan Mello sahabatku sendiri.

Kedua, saat sebuah surat aneh yang ditulis dengan darah dan sudah mengering dengan tulisan 'I found you the red-brown!' yang tiba-tiba ada didalam lemari pakaianku dengan keadaan rumah yang seperti habis dilanda angin topan.

Ketiga, aku juga mendapat sebuah surat yang terselip dibuku cetak Ekonomiku saat sedang mengerjakan tugas rumah. Ketika aku buka, tulisan didalam surat itu adalah 'Just follow his instruction'

Saat itu buku cetak ekonomiku juga sedang dirumah alias ketinggalan dan menyebabkan aku dihukum oleh Mr. Lester berdiri didepan kelas. Dan saat Mr. Lester menyerahkan tugas rumah, aku langsung mengerjakan tugas itu malam harinya dan surat itu aku temukan pas dengan halaman yang ditugaskan .

Siapa pelakunya? Aku juga tidak tahu ...

Keempat, dihari minggu pagi saat aku ingin memasak daging sapi yang baru aku beli malam harinya, telah berubah warna. Mungkin jelasnya warna daging yang segar itu tampak lebih pucat dan kotor walau terbungkus dengan plastik penyegel dan lengkap dengan label harga yang sama dengan daging pertama. Akhirnya aku tidak jadi memasaknya dan malah membuat roti bakar.

Kelima, saat aku ingin mandi untuk pergi sekolah, aku menemukan tulisan yang terbuat dari pasta gigi dikaca kamar mandiku dengan tulisan 'Your life, is Mine!'

Aku lantas menghapusnya dan menganggap semua ini adalah teror. Aku tidak pernah berhubungan spesial dengan siapapun sebelumnya. Rumahku juga telah aku lengkapi sisi TV, dan setiap malam aku mengeceknya. Namun tidak ada keanehan disetiap rekamannya.

Knop pintu disetiap ruangan juga telah kuberi trik sederhana, jadi jika ada yang masuk ruangan saat sisi TV lengah bisa aku ketahui.

Tapi ini ...

Semuanya bersih.

Dan kini sudah sampai hitungan keenam. Aku mendapat setangkai mawar hitam dengan selipan surat ditangkainya dalam lokerku. Tulisan didalamnya adalah 'I am coming!'

Apa maksud si peneror?

Dan tujuanku tadi memarahi Mello adalah agar anak sangar itu tidak mengetahui semuanya. Semuanya tentang aku dan hal-hal mistis yang belakangan ini terjadi.

Aku mengambil mawar itu sebelum akhirnya membakarnya. Semuanya lenyap. Dan untungnya mungkin semua siswa sedang asyik melihat adegan Mello dibawah sana.

Aku memegang kepalaku yang berdenyut. Menenggak air mineral untuk menghilangkan rasa gugup dan stres.

Rasanya sulit menyembunyikan semua ini. Apalagi ketika aku harus tahu sendirian dirumah dengan teror menakutkan yang mendatangiku. Ingin aku berteriak, tetapi itu hanya akan menambah ketidak wajaranku nantinya didepan Mello.

Sekali lagi aku tidak ingin Mello tahu. Biarlah aku yang menjalani semua ini dengan santai seperti seorang Mail Jeevas.

-Matt POV Off-

Tanpa ia sadari seseorang berambut cokelat dengan iris hazelnya memandang licik pada pemuda yang telah menghabiskan satu botol air mineral dengan kaca mata minusnya yang ia kenakan di atas kepala merah kecoklatannya.

"Sorry Son, i will use yourself to my game." Ujar sosok itu dengan nada mendesah.

Lalu ia pergi sambil tersenyum maniak

-o-o-o-

-at Night-

Disebuah bar bahkan boleh dibilang diskotik disudut kota London dia terduduk. Tempat yang selalu disinari oleh kerlap-kerlip lampu serta para penghibur dan juga minuman-minuman berakohol itu adalah tempat penenangnya setelah mendapati stres bagi sebagian orang dan juga dirinya.

Dengan seragam awut-awutannya ia meminum cairan penenang itu. Kedua temannya yang berpenampilan dewasa menyadari kenihilan pada dirinya.

"Hoi Mells, kau terlihat kusut hari ini." Sapa seorang temannya yang berambut hitam jabrik. Wajahnya selalu tersenyum simpul tetapi mulut bawelnya terkadang membuat semua orang menjadi risih.

"Sendirian? Diamana Matt?" seorang wanita dengan pakaian menggoda juga bertanya pada dirinya.

Mello masih tidak menjawab dan memilih menggigit coklat.

"Well, well, well... Mells, apa kau baru kena hukuman disekolah? Dan apakah besok kau punya ujian penting? Dimana si Matt?" Mello menatap datar wajah pria berhelai hitam itu berharap ia tidak berbasa-basi.

"Malahan anak sok alim seperti dia tidak pantas berada disini, biarlah dia berteman dengan tumpukan buku-buku dan Al-Kitab." Lanjut wanita itu sembari menghisap batang penenangnya.

"Ahahaha ... walau begitu dia juga pecandu game seperti Shidoh! Jangan berkata sembarangan Rem!" canda pemuda berambut hitam itu lagi.

Seorang dari mereka kembali berdatang. Pria berambut pirang pucat dengan model harajuku dan jas rapihnya yang telah menjadi ciri khasnya.

"Hoi Guys! Maaf telat!" ujarnya dan segera ambil bagian.

"Inilah satu orang lagi yang tidak pantas bergabung bersama kita." Wanita bermulut pedas itu kembali angkat bicara mengomentari Shidoh yang selalu berpakaian rapih.

"Hahaha .. karena pekerjaanku mengharuskan aku berbeda dari yang dulu." Jawabnya agak canggung.

Shidoh meneliti kejanggalan dari ketiga temannya. Wajah Mello yang kusut dan satu hal lagi.

"Dimana Matt?"

Tanpa sadar Mello menjadi pusat perhatian dari ketiganya. Ia hanya memandang geram saat nama Matt disebut dan dibawa-bawa saat moodnya buruk seperti ini.

"jangan bicarakan dia! aku sedang kesal dengan Matt." Jawabnya yang langsung membuat kesimpulan sedikit kecewa dengan dirinya.

"Musuhan? Kenapa? Dia berani mengerjaimu?" pemuda berambut hitam kembali bertanya.

"Jangan terlalu membebani Mello dengan pikirannya Ryuuk!" sangkal Rem.

"Iya deh, tapi tidak biasanya kau terlihat kusut. Atau Matt meninggalkanmu dan memiliki kekasih lalu melupakanmu?"

"Sudah hentikan Ryuuk! Kosa katamu itu membuat setiap orang ingin membenturkan kepalanya sendiri!"

Shidoh menatap Mello dengan intens. Ditengah keributan Ryuuk dan Rem, ia membuka gadgetnya dan mengetikkan beberapa huruf.

Setelah selesai, ia langsung berdiri dan meletakan gelas yang telah kosong diatas meja.

"Aku duluan! Aku rasa aku harus mengerjakan tugasku yang belum selesai dikantor. Bye guys!" pamitnya.

Ketiganya menganggukan kepala atas izin yang dibuat Shidoh. Ketika pemuda itu hilang ditelan cahaya-cahaya lampu, sebuah getaran kecil disaku celana Mello tiba-tiba dirasakan. Diraihnya handphone mahal itu dan mendapati beberapa pesan masuk dari akun-akunnya.

Ia berdecak malas mendapat pesan-pesan yang meledeknya karena dimarahi Kepala Sekolah saat siang tadi. Serta berbagai posenya juga diabadikan dengan kamera dan dikirim padanya.

Ditengah ributnya berbagai akunnya itu, ia menemukan sebuah pesan dari Shidoh yang membuat ia tidak menghapus pesan itu seperti pesan lainnya.

Ia membuka pesan itu dan menatap tulisan disana dengan tidak percaya.

"Ada apa?" tanya Ryuuk melihat ekspresi Mello berubah.

"A- .. itu ... tidak apa." Jawabnya ragu.

"Ceritakanlah Mells!"

Mello kembali menatap layar ponselnya. Ia juga mendapat foto Matt sedang bersedih didepan sebuah makam sambil memegang Al-kitab. Lalu berbagai foto Matt yang sedang memegang buku-buku serta bayangan aneh dibelakang pemuda itu.

Ia tidak merasa bersalah pada dirinya sendiri. Tetapi ia menyalahkan Matt yang tidak mau bercerita dengannya. Mungkin inilah yang membuat ia sedikit merasa aneh dengan anak tunggal keluarga Jeevas itu.

"Mells, kau terlihat aneh. Ada apa?" Ryuuk mengguncangkan lengan Mello.

Dengan sigap Rem mengambil handphone dari tangan Mello. Beberapa detik setelah ia membaca pesan singkat dari Shidoh itu dan terkejut setelah membuat kesimpulan.

"Teror." Ucap Mello refleks.

Penasaran Ryuuk pun ikut mengambil ponsel Mello dari tangan Rem dan membacanya.

From : Shidoh

"Turut berduka cita atas perginya seseorang yang berharga bagi teman alim kita. Nona Rachelia Jeevas."

(foto bukti)

(Foto teror)

"Matt dalam bahaya." Ucap ketiganya berbarengan.

-o-o-o-

-Matt POV-

Aku menatap jenuh pada buku cetak Kewarganegaraanku. Sudah ku baca berulang kali tetapi masih saja tidak aku temukan jawaban dari soal-soal yang suda seperti wartawan.

'Kryuuuk ..' Ternyata aku lapar.

Aku berjalan menuruni tangga kamarku menuju dapur. Seperti halnya kemarin, rumahku berantakan seperti kapal pecah. Sudah aku selidiki berkali-kali tetapi tetap saja masih ada 'tikus' dirumah ini.

Bahkan akupun lelah untuk membereskannya. Memegang vacum lalu pel lantai dan sapu lidi serta teflon atau apalah itu pekerjaan perempuan lainnya yang memnbuat aku stres.

Oke, bahkan daging dan pasta yang aku beli kemarin hilang sekarang. Uang sakuku juga hampir menipis. Itu artinya aku harus minta transveran uang lagi.

Sekarang aku percaya bahwa pelakunya bukan hantu atau hal-hal mistis lainnya. Tetapi mahluk hidup seperti diriku.

Dengan malas aku meyambar jaketku dan kunci mobil. Aku rasa makan malam diluar lebih baik daripada memasaknya. Karena sempat aku melihat minyak atau bumbu dapur berjalan-jalan entah kemana.

Aku menduduki kursi kemudi dan bersiap menyalakan mesin tetapi ketika mesin itu menyala ternyata takaran bensinku sudah menunjuk ke huruf 'E'.

"Ayolah! Aku baru mengisinya full! Dasar mahluk aneh, masa bensin juga ia curi?"

Ku lempar kunci mobil itu dari luar dan dengan kesal aku keluar dengan jalan kaki.

Mencari kedai terdekat mungkin bisa membinasahkan rasa lapar yang telah menjadi-jadi diperutku.

-Matt POV off-

-? POV-

Aku melihat dia. My puppet red-brown. Berjalan dengan kesal. Baguslah, lebih kesal lagi agar kau semakin mirip dengan pelaku masa lalu itu Nak.

Untuk seorang pembunuh aku tidak peduli jika bocah putih itu benar-benar mengira dirinya sebagai pelaku. Aku akan kecohkan setiap langkahnya menyusun puzzle itu.

Aku memutar knop pintu rumahnya dengan peniti dan berhasil memasuki rumah sederhana itu dengan lancar. Semua sisi TV tidak berlaku atau bahkan trik-triknya yang sangat terbaca bagiku.

Perlahan aku membereskan semua yang telah berantakan dirumah ini dengan cekatan untuk membodohi sisi TV.

Hingga bagian terakhir aku menyiapkan semua makanan diatas meja makannya dan menaruh sebuah bukti kecil.

'Congratulation Mail jeevas! You will meet my last memory and we will play more fun game.'

-? POV off-

-Matt POV-

"Permisi!" ucapku mendatangi sebuah kedai mie disudut jalan pertokoan.

"Selamat datang." Ucap seorang pria tua. Aku pun membalas senyumannya.

Kedai ini ramai dengan berbagai orang dari kalangan bawah dan kalangan atas. Mungkin mie disini terkenal enak. Aku jarang berkunjung ke pertokoan dekat alun-alun. Karena aku selalu pergi ke supermarket untuk membeli makanan dan cenderung memasak makanan sendiri.

Karena merasa tidak kebagian tempat duduk, aku menggeser sebuah bangku dan duduk berdampingan dengan seorang pria berambut coklat. Tunggu ... sepertinya aku kenal orang ini.

"Permisi Tuan! Bisakah saya mencatat pesanan Anda?" sebuah suara remaja mengagetkanku dan juga orang yang ada disampingku ini.

"Aku pesan mie yang paling enak disini saja!" ucapku pada remaja berambut putih itu.

"Aku pesan ramen ukuran sedang." Ucap pria itu.

"Ah! Mail Jeevas!" sapanya padaku. Ternyata benar dia ..

"Mr. Yagami?"

"Ow, senang bertemu denganmu disini. "

"Saya juga demikian."

Dia Light Yagami. Wali kelasku.

Remaja yang mencatat pesanan kami pun terdiam. Ia memperhatikanku dengan sorotan tajam. Bola mata hitamnya seakan tidak memberi ampun padaku.

"Ah, maaf. Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanyaku padanya.

Ia terbelalak dan menggelengkan kepalanya.

"Sorry Sir," ucapnya dan membungkukan badan lalu pergi kemeja belakang untuk mencatat pesanan berikutnya.

"Ada apa Matt?"

Aku mengalihkan pandanganku pada Mr. Yagami.

"Entahlah, tetapi tatapannya aneh." Jawabku jujur.

"Masa sih?"

Aku mengangguk.

"Tapi menurutku dia anak yang polos."

"Aku juga tidak tahu." Jawabku sembari mengendikkan bahu.

-Matt POV off-

Tanpa Matt sadari pria yang tengah duduk disampingnya itu tersenyum setan. Dengan aktingnya yang luar biasa dia memperhatikan pelayan remaja yang tadi mencatat pesanan-pesanan orang.

Anak itu tampak duduk dimeja belakang dan meneguk air mineral. Dibalik wajah datar anak itu, ia tahu apa yang telah ia lakukan dan yang harus ia lakukan selanjutnya.

'Well, Near. You will see and joining My game.'

Ucapnya dalam hati. Kemudian seorang pria kembali memanggil dirinya yang disuguhkan mangkok mie yang harus ia antarkan.

-o-o-o-

-Near POV-

Sudah jam sembilan lebih tiga puluh. Setiap pengunjung kedai Mr. Watari sudah pulang dengan perut kenyang. Begitupula .. pria berambut merah-kecoklatan itu.

Tapi dari wajahnya, ia tidak seperti pemuda yang delapan tahun lalu menghabisi keluargaku. Dia hanya pelajar SMA London yang seumuran denganku sepertinya.

Tidak! bukan dia! Tapi mengapa feelingku berkata aku harus mengikuti dia?

"Near, kau terlihat tegang malam ini. Minumlah!" nenek memberikanku teh hangat. Dia adalah istri Mr. Watari. dan ini adalah kedai keluarganya.

Delapan tahun lalu setelah kejadian itu, aku tinggal disini. Bersama keluarga Mr. Watari dan keluarganya yang kebetulan tidak memiliki anak. Juga Mr. Roger didalamnya.

"Sudah selesai untuk hari ini." Ucap Mr. Roger yang juga ikut duduk bersama aku dan istri Mr. Watari.

"Ada apa Near?" kali ini Mr. Watari ikut menanyakan keadaanku.

"Aku menemukannya." Ucapku.

Semua orang disana menatap kearahku dan aku menghadapkan kepalaku pada .

"Mr, bolehkah aku meninggalkan nama keluarga Lawliet sebagai detektif dan melanjutkan sekolah?" pintaku yang langsung mengagetkan semuanya.

"Near?"

"Tidak. aku akan tetap menjadi detektif tetapi aku juga ingin bersekolah." Jelasku sekali lagi.

Mereka bertiga tersenyum kearahku.

"Apa ilmu yang saya ajarkan kurang Near?" tanya Mr. Roger.

"Dan apa tujuanmu berkata 'aku menemukannya'?" lanjut nenek.

Aku menghela napas dan berkata,

"Itu dia. Aku menemukan orang yang membunuh kakakku dan .. tujuanku ingin bersekolah adalah karena feelingku mengatakan aku harus mengikuti anak berambut merah-kecoklatan yang tadi datang dan membeli mie paling enak disini."

Mereka semua bertukar pandangan dan kembali menatapku.

"Kau yakin?" tanya nenek sekali lagi. Aku mengangguk.

"Aku kan detektif." Ucapku menegaskan.

Mereka kembali bertukar pandang hingga ketiganya mengangguk.

"Ya. Near. Akan aku urus semuanya." Jawab Mr. Watari yang membuatku senang.

"Tetapi ada syaratnya," lanjutnya sebelum aku kembali meneguk teh buatan nenek.

"Kau masih harus menyandang nama Keluarga Lawliet dan menjadi detektif."

Aku tersenyum. Lalu aku berjalan menuju bangku yang ada dihadapanku dan memeluknya.

"Ya. pasti. Dan terimakasih ."

"Sama-sama Tuan Muda."

-Near POV off-

-TBC-

(A/N) :

Miki : "Oke, ini dia Chap 1 sudah selesai."

Yumiya : "Mungkin jika ada yang mau coment atau mengkritik bagi pembaca sekalian tolong tuangkan oke?" –s'bgaimakerstory-

"Dan saya juga mau minta maaf k'na prolog masih acak-acakan." –Gk dibaca ulang sih.

Miki : "Dan waktunya kita membalas review ^^"

-46Neko-Kucing Ganteng- Miki: "Terimakasih sudah kembali membaca fict nista kami. Oh ya, Yumiya seneng banget direview sama Neko-San loooh."

Yumiya: "Entah alur ini bakalan mirip atau nggak sama DN aslinya. Terimakasih."

-fangirl- Miki: "Terimakasih sudah mereview, mungkin kamu bisa menyimpulkan siapa pembunuhnya diChap ini. Tapi diChap Next akan kita perjelas lagi."

Yumiki : "Jangan pelit-pelit review bagi kalian yang sudah membaca. Komplen atau saran masih kami terima."