SADAKO

Cerita Sebelumnya :

Dia merangkak keluar dan mencoba untuk menggapaimu. mereka bilang jika dia berhasil menggapaimu, maka dia akan menarikmu masuk ke dalam sumur dan kau tak akan bisa keluar lagi selamanya.

Disclaimer :

Naruto, tetap milik Kak Mashashi. kalau SADAKO ... etto kayaknya punyanya Paman Koji Suzuki ya? trus yang milik Akemi apanya ya?

Story :

Kazehaya Akemi

(hikz cuman kebagian ceritanya aja yang milik Akemi, lainnya bukan.)

Genre :

Banyak Horror, Lumayan Supranatural, Sedikit Romance

Rate :

M (Buat jaga - jaga)

WARNINGG !

Cerita terinspirasi dari kisahnya Sadako Yamamura by Paman Koji Suzuki, dan Sadako Sasaki, korban bom di jepang pada masa lalu, serta dari banyak kisah Horror yang ngasih saya inspirasi buat nulis. Kayaknya termasuk film Ouija. Warning lainnya? Allways Typos, ide pasaran, bahasa amburadul, OC, OOC, Alurnya gak karuan (kadang cepet, kadang lambat).

Happy Reading. . . . .

Chapter 1. PERSIAPAN

"To-toloong ... Toloooong!."

suara teriakan itu menggema diiringi suara derap langkah yang semakin cepat. Peluh mulai membanjiri lekukan wajah menuh ekspresi ketakutan, menandakan bahwa ia sudah lelah untuk terus berlari.

" To-tolo... kyaaaa."

BRUKK ! Suara berdebum keras akhirnya terdengar. Dia terjatuh, dengan secepat yang dia bisa, dia berusaha untuk bangkit. Namun semua sudah terlambat.

"Kyaaaa!"

Suara teriakan itu mengakhiri semuanya. Malam yang awalnya sunyi pun kembali sunyi. menyisakan suara gemrisik dedaunan pohon yang ditiup oleh angin dengan bulan purnama yang tengah bersinar terang sebagai saksi peristiwa yang baru saja terjadi.

.

-S.D.K-

.

Hari yang cerah, menampilkan sebuah sosok dengan helaian berwarna soft pink tengah duduk di salah satu bangku yang berada di sudut ruang kelas. Sakura. Nama gadis itu, yang sedari tadi duduk memandang keluar jendela dengan menyangga dagunya. Pandangannya kosong. Dia melamun.

tak sadar jika ada seseorang yang berjalan dengan anggun menuju ke arahnya. Ino. Gadis dengan surai pirang itu terus berjalan menuju tempat Sakura yang sedang duduk menyendiri dengan senyuman manisnya.

"Ra ..!" Gadis bersurai pirang itu mulai memanggil sahabat pinknya ketika sudah sampai didepannya.

" ..." Namun tak ada jawaban.

"Sakura !" Panggilnya lagi.

"..." Tetap tak ada jawaban dan itu membuat gadis pirang itu mulai kesal. Perempatan siku pun segera muncul di sudut keningnya.

"JIDATT !" Keluar sudah emosi Ino pada Sakura yang sedari tadi di panggil namun tak sekalipun menjawab.

"A-apasih Pig !" Sakura yang notabene nya memang tak mendengar jika Ino memanggilnya sedari tadi pun, terkejut dan gelagapan ketika melihat raut kesal sahabat pirangnya.

" Astaga Sakura,, kau tadi darimana saja hah? aku panggil - panggil tak ada jawaban. kau melamun lagi?" Sungut Ino pada Sakura.

" Eheheheh kau memanggil ku ya? kenapa aku tidak dengar ya?" jawab sakura enteng sambil nyengir 3 jari dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sukses membuat Ino semakin kesal.

" Kau ini... Huft." Ino akhirnya hanya bisa menghela nafas atas kebiasaan sakura yang akhir - akhir ini menjadi lebih sering dilakukan. Melamun.

" Ada apa lagi? Mimpi itu lagi?" sakura yang awalnya menampakkan nyengir tiga jarinya, berubah drastis menjadi murung. Ino yang mengetahui perubahan ekspresi gadis bersurai soft pink itupun mengerti.

" Sudahlah Sakura, itu hanya bunga tidur, kau tak perlu terlalu memikirkannya." ujar Ino sembari menepuk pelan bahu Sakura, sahabat Pinknya.

" Tapi Ino, mana ada bunga tidur yang selalu hadir setiap hari? dengan gambaran, porsi, dan jam yang sama?" Sakura akhirnya menghela nafas.

" Aku sangat terganggu Ino, mimpi ini slalu datang tiap malam, dan selalu membuatku terbangun tepat jam 2 dini hari. tidakkah itu aneh? aku memiliki perasaan yang buruk tentang ini." ujar sakura sambil menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.

" Aku takut Ino." tambahnya lagi.

Ino yang mendengar curhatan sahabat pinknya itu pun mau tidak mau ikut berfikir bahwa itu aneh. apalagi dia tau bahwa sakura adalah salah satu anak istimewa yang memiliki indra ke enam. itu merupakan pertanda. namun disisi lain Ino sedikit pun tak pernah percaya pada hal - hal seperti itu. mengingat jika mimpi yang sama memang bisa datang beberapa kali dalam tidur mu jika kau terus-terusan memikirkannya. itu merupakan hal yang lumrah.

Ino yang sedari tadi berdiri di depan bangku Sakura akhirnya duduk dan menggenggam tangan Sakura yang bebas.

" Tenang saja Sakura, aku yakin tak akan ada yang terjadi, jika kau terus memikirkannya, maka mimpi itu akan lebih sering lagi datang padamu. Jadi jangan pernah kau fikirkan lagi tentang mimpi itu, oke?" Ino menatap Sakura dengan senyuman terbaiknya, dan mau tidak mau Sakura pun ikut tersenyum melihat Ino.

" Ya, Terimakasih Ino." Ujarnya mengangguk, sambil membalas genggaman tangan Ino.

" Ne Sakura, apa kau pernah mendengar Rumor yang beredar di sekolah kita ini?" Tanya Ino antusias.

" Rumor apa?" tanya Sakura Acuh tak acuh sambil mengembalikan tatapannya keluar jendela untuk melihat pemandangan di luar kelas.

" Rumor jika dibelakang gedung sekolah kita, terdapat sebuah sumur tua."

DEGG !

secepat kilat, Sakura mengalihkan pandangannya kepada ino, tiba - tiba jantung Sakura berdetak dengan cepatnya, seolah ada suatu hal yang mengganggu pikirannya.

" Sumur?" Tanya sakura mulai tertarik dengan percakapan mereka.

" Iya, Rumor mengatakan jika, sering kali orang-orang mendengar ada suara seseorang menangis di dekat sumur itu jika malam tiba. Ada juga yang mengatakan jika setiap bulan purnama muncul, akan ada sosok yang keluar dari sumur itu."

Hening.

Sakura yang mendengar penuturan Ino, hanya bisa terdiam dengan memasang ekspresi tegang. Entah kenapa dia merasa rumor yang tengah ia dengar sekarang ini ada hubungannya dengan mimpi - mimpi yang datang padanya setiap malam. kilasan - kilasan mimpi yang dialami Sakura dengan segera berputar kembali di otaknya. Seketika itu, bulu kuduk Sakura meremang, ia merinding. Ino yang yang melihat adanya perubahan pada ekpresi dan sikap Sakura pun menjadi kawatir.

" Kenapa Sakura? Kau takut?" Tanya Ino akhirnya.

" Errr aku merasa ada yang tidak beres Ino." Jawab Sakura ragu sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan jari telunjuknya.

" Ahh itu mungkin hanya perasaanmu saja Sakura, tenang lah itu hanya rumor. Belum tentu itu merupakan kenyataan." Ino menepuk pelan bahu Sakura.

" Hmm ya." Jawab sakura lirih sembari menggulirkan matanya ke samping.

" Oh ya, nanti malam aku dan beberapa teman kita ingin membuktikan kebenaran rumor itu, dan aku ingin mengajakmu, Sakura." Ino mengutarakan maksudnya dengan antusias kepada Sakura. Namun, berbanding terbalik dengan sikap Ino yang antusias, alih-alih bersikap sama, Sakura malah syok mendengarkan ide gila sang sahabat.

" A-apa? Apa kau gila?" Sembur Sakura kemudian dengan setengah berteriak. Ia lupa jika sekarang dia berada di ruang kelas. untungnya sekarang suasana kelas masih sepi, dikarenakan masih jam istirahat.

" Gila? apa maksudmu Sakura? Aku masih waras. lihat! orang gila tidak mungkin bisa berdandan secantik aku Sakura." Ino mendengus mendengar ucapan Sakura yang tidak masuk akal. "Dan kecilkan volume suara mu itu Jidad. kau mau pembicaraan kita di dengar orang lain?"

" Err Maaf aku lepas kontrol. Maksudku, apa kau habis terbentur sesuatu? kau mengajakku untuk ... Err Uji nyali? Membuktikan kebenaran rumor itu? Aku tidak mau !"

" Oh ayolah Sakura, untuk bermain aku membutuhkan 6 orang peserta. jika kau tidak ikut, maka aku akan kekurangan personil." Rajuk Ino.

" Apa maksudmu?"

Ino pun segera mengeluarkan sebuah papan pemanggil arwah yang berbentuk persegi tipis berukuran 30cm x 25cm dari dalam tasnya, dan meletakkannya di hadapan Sakura.

" Ini. Aku ingin bermain ini." tunjuknya pada papan yang baru saja ia keluarkan.

Sakura yang melihat papan permainan untuk memanggil Arwah itu pun langsung merasakan bulu kuduknya semakin meremang. seolah dia merasakan suatu aura yang mengerikan di belakangnya dan reflek dia langsung menoleh ke belakang. Namun tidak ada apa-apa. Ia pun segera kembali menoleh ke depan dan fokus pada benda yang baru saja di keluarkan Ino itu.

" Apa kau tau alat apa yang sedang kau pegang itu?" tanya Sakura hati - hati sambil mengedikkan kepalanya pada benda yang tengah di pegang oleh Ino. Oh ayolah ... jangankan memainkannya, memegangnya saja Sakura tak akan mau.

" Ya, papan permainan untuk memanggil Arwah bukan? Sejenis dengan papan Ouija, atau kita juga bisa menyebutnya sebagai papan Ouija." Ino menjawab pertanyaan sahabat pink nya dan menatap kearah Sakura bingung. apakah Sakura tak pernah sekalipun melihat permainan seperti ini sebelumnya? kenapa ia sampai bertanya? batin ino disusul dengan gelengan kepala.

" Jika kau tau apa fungsi dari papan itu, kenapa kau tetap ingin memainkannya? Kau tau apa akibatnya bukan?" tanya Sakura dengan nada sakartik.

" Astaga Sakura! Kau takut dengan permainan seperti ini? Kau percaya dengan hal semacam itu? Apa logikamu kalah dengan hal-hal yang bahkan tak terlihat seperti itu?" mendengar perkataan Ino, sakura menjadi geram.

" Dengar Ino, papan yang kau pegang itu, bukan mainan biasa. Jika kau memainkannya, itu bisa menimbulkan petaka kau tau? Aku heran, bagaimana kau bisa mendapatkannya?"

" Aku mendapatkannya dari seorang teman. Ayolah Sakura, ini hanya mainan. Mumpung malam ini bulan purnama, timing yang pas untuk melakukan uji nyali itu." Ino tidak habis fikir, Sakura yang biasanya berani, tiba – tiba bisa menjadi sepenakut ini.

Hening. tidak ada jawaban dari Sakura. Gadis dengan surai Soft pink itu, hanya melihat kearah Sahabat pirangnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.

Ino yang melihat hal itu hanya bisa memutar bola matanya bosan.

" Tidak akan terjadi apa-apa Sakura, percayalah padaku."

" Tidak, perasaanku tidak enak Ino, aku mempunyai firasat yang buruk tentang hal ini. Apa lagi malam ini adalah malam bulan purnama. Aku takut Ino. Suatu hal yang buruk akan terjadi. Percayalah padaku, jangan lakukan permainan konyol itu." Sakura akhirnya mulai putus asa untuk meyakinkan sahabat pirangnya. ia menutup mukanya menggunakan kedua tangannya dan memejamkan matanya sekilas dan kembali membuka tangannya. Ia tak suka ini, perasaannya benar - benar tak enak. Perasaan seperti ini sangat mengganggunya, perasaan yang sama sebelum hal yang buruk pernah menimpanya, dan dia tidak ingin sahabat pirangnya mengalami hal yang sama.

" Sudah berapa kali aku katakan padamu, itu hanya perasaanmu saja Sakura, tidak akan terjadi apa-apa kali ini. seperti sebelum - sebelumnya. kau lihat sendiri kan kalau aku tidak apa - apa?" Ino masih nampak terlihat keukeuh mempertahankan pendapatnya.

" Kali ini berbeda Ino, Kau memakai papan itu, dan aku merasakan firasat yang buruk." Sanggah sakura.

" Arrggghhh ! terserah jika kau tidak mau ikut. Aku akan mencari orang lain yang bersedia ikut." Ino yang merasa kesal dengan sahabat pink nya pun segera beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa sangat kesal terhadap Sakura, Oh ayolah di zaman seperti ini, masih saja ada orang yang percaya pada hal - hal seperti itu, dan sialnya orang itu adalah sahabatnya sendiri. Ino tak habis pikir dengan Sakura. Dia bahkan benar - benar tidak mau mengikuti permintaannya. Padahal biasanya dia selalu meng-iyakan setiap permintaannya. Ahh ada apa sebenarnya dengan anak itu? dalam hati ino bertekat akan membuktikan pada Sahabat pink nya, bahwa apa yang dikatakan sahabat pinknya itu salah. Hal yang buruk tak akan pernah terjadi. tidak akan ada apa - apa. Ya, Ino yakin seperti sebelum - sebelumnya, itu hanya akan menjadi lelucon di bulan purnama.

Tanpa Sakura dan Ino sadari, sedari tadi ada seseorang yang tengah memperhatikan percakapan mereka berdua, dan orang itu sangat tertarik dengan ajakan Ino kepada Sakura, kebetulan Sakura tidak mau ikut, maka dia memutuskan untuk mengikuti permainan yang sepertinya seru itu.

" Hei Ino, Tunggu ! Aku ikuutt!" Teriak seorang pemuda dengan tato segitiga terbalik diwajahnya kepada Ino yang tengah berjalan menuju keluar kelas dan sukses membuat Ino berhenti dan berbalik.

" Kau Kiba kan? kau mendengarkan percakapanku dengan sakura?" Tuding ino kepada pemuda bernama Kiba itu.

" Ahh itu ... aku minta maaf, ehehe aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian berdua." jawab Kiba agak canggung karena ketahuan sedang mencuri dengar percakapan orang lain. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kikuk kepada ino. " Lagi pula, jika aku ikut, masalahmu bisa selesai bukan? Bukannya kau perlu satu orang lagi untuk mengikuti permainan itu?" tambahnya kemudian masih dengan senyuman kikuknya.

Hening. Ino sejenak berfikir untuk mempertimbangkan usul pemuda bernama Kiba itu dan menatap pemuda itu penuh selidik.

" Baiklah." putus Ino akhirnya. " Sebelum itu, ayo ikut aku, kita akan menemui anggota lainnya."

pemuda tersebut lantas manampilkan senyum lima jarinya dan mengangguk mantap. Mereka berdua pun akhirnya pergi keluar kelas menuju tempat dimana anggota lainnya tengah berkumpul.

Sedangkan Sakura hanya memandang kepergian mereka dengan pandangan yang tak dapat diartikan, dan tak lama kemudian berubah menjadi pandangan kosong. Ia kembali berkutat dengan pikirannya sendiri. Dan tanpa dia sadari di sudut ruangan itu sesosok tak kasat mata tengah menyeringai penuh kemenangan kearah Ino dan Kiba.

.

-S.D.K-

.

Jam menunjukkan sudah pukul 16.30 sore, langit yang tadinya cerah berwarna biru, berubah menjadi warna Orange yang perlahan akan menggelap. Sakura tampak berjalan melewati koridor sekolah menuju keruang kelasnya untuk mengambil buku yang tidak sengaja ia tinggalkan di dalam ruang kelas. Tak sengaja ia berpapasan dengan Ino yang juga akan menuju kelasnya untuk mengambil tasnya sebelum pulang. Sakura yang melihat Ino segera memanggil gadis bersurai pirang itu.

"Ino!"

ino yang mendengar namanya di panggil pun menoleh.

" Ada apa?" jawabnya ketus, karena masih merasa agak kesal dengan sikap Sakura tadi siang.

" Kau mau tetap pergi nanti malam?" Tanya Sakura ragu, nampak terlihat jelas sorot kawatir di matanya.

" Ya, aku tak akan membatalkan rencanaku Sakura, jangan coba - coba menghalangiku." ino menatap Sakura sengit.

" Kau masih marah padaku? Maafkan aku Ino, aku benar - benar tidak bisa ikut." Sakura menatap Ino dengan sorot mata merasa bersalah, dan kemudian menunduk. Dia meremas tali selempang pada tasnya dengan erat. Ino yang melihat hal itu merasa iba juga kepada sahabat pink nya, tatapan sengit nya berubah menghangat.

" tak apa Sakura, tak perlu kau fikirkan, aku akan baik-baik saja." Ino menepuk pelan pundak sahabat nya. hal itu sukses membuat sakura menoleh ke arah Ino. " Oke, sekarang aku pergi dulu, aku harus bersiap-siap untuk nanti malam, aku tidak mau terlambat. Jaa Ne Sakura." Ino melambaikan tangannya kepada Sakura sebelum dia menghilang di belokan koridor.

Sakura hanya bisa memandang nanar kepada Ino yang sudah menghilang di belokan.

" Semoga kau dan yang lainnya baik - baik saja Ino. dan jika terjadi sesuatu nanti, semoga aku bisa berbuat sesuatu." Sakura pun beranjak dari tempatnya berdiri.

.

-S.D.K-

.

Jam menunjukkan sudah pukul 9 malam tepat, warna langit yang awalnya memiliki gradasi berwarna orange sekarang berubah menjadi hitam pekat. Sepi, hanya menyisakan Bulan yang tengah bersinar dengan terangnya. Angin pun mulai bertiup, menimbulkan suara gemrisik akibat gesekan dedaunan dan ranting – ranting pohon yang bergerak. Bayangan – bayangan dari pepohonan yang berjejer rapi itu pun ikut bergerak seolah melambai untuk berusaha menggapai apapun yang berada di dekatnya.

Konoha High School atau biasa di sebut dengan KHS oleh para siswa – siswanya. Sekolah dengan tiga gedung utama tersebut, kini tengah berdiri dengan megahnya. Satu gedung, berada di tengah dan dua gedung lainnya berada disisi kanan kiri gedung tersebut, saling berhadapan. Di malam hari, semua lampu – lampu telah padam dimatikan, hingga menyisakan kegelapan dimana – mana, menyisakan sinar rembulan yang menimbulkan bayangan – bayangan gedung yang tertimpa sinar tersebut. Di depan gerbang sekolah, berdiri tiga orang siswa yang tampak gelisah menunggu sesuatu. Mereka hanya diam dan sesekali melihat jam yang bertengger di pergelangan tangan maupun di ponsel yang mereka bawa. Tak lama kemudian datanglah dua orang lainnya dengan santai, dan sukses membuat tiga orang yang datang terlebih dahulu menjadi kesal.

" Lama sekali !" Gerutu salah seorang gadis bersurai merah -Karin- kepada kedua pemuda yang baru datang tersebut.

" Sorry Beibh. Tadi kami ada kendala sedikit, tapi semua sudah terkendali." Jawab salah seorang pemuda berambut putih yang ujungnya agak berwarna ungu, Suigetsu. Kekasih Karin dengan cengiran khasnya yang sukses membuat karin berdecak kesal.

" Ah sudah – sudah, kalian ini hanya membuang waktu saja. Bagaimana penyelidikan kalian? Sudah ketemu Sumurnya?" Tanya gadis bersurai pirang panjang -Ino- kepada dua pemuda tersebut.

" Tenang saja Ino, kami sudah menemukannya, lokasinya berada di belakang gedung utama bagian tengah itu." Tunjuk Pemuda yang memiliki tato segitiga terbalik di wajahnya -Kiba- pada salah satu gedung KHS. "Tepatnya di bawah pohon Sasaki yang usianya terlihat seperti sudah ratusan tahun." tambahnya lagi.

" Dan asal kalian tau, tempatnya jauh sekali dari sini. Ckckck merepotkan!" tambah Suigetsu kemudian.

" Jadi, kita mau lewat mana? Masuk lewat gerbang ini?" tanya Ino sambil menunjuk gerbang utama KHS yang berada di belakanya dengan ibu jari miliknya. "Atau memutar lewat pintu samping?" tambahnya lagi.

" Labih baik kita lewat gerbang samping saja, lebih aman dan lebih mudah untuk di panjat." kata Kiba menyuarakan pendapatnya. " Selain itu, kita juga harus menghindari patroli satpam." tambahnya lagi.

" Oke, ayo kita pergi sekarang." Seru karin bersemangat.

" Tunggu dulu." Sai pemuda berambut klimis berwarna hitam yang sedari tadi hanya diam dan mengamati teman – temannya, kini angkat bicara. " Apa kalian tidak merasa telah melupakan sesuatu?" tanya nya pada teman – temannya yang kini tampak berfikir keras menanggapi pertanyaan Sai. Apa yang kurang ya? Batin mereka semua sembari berfikir. Sai yang melihat gelagat teman-teman pun mendengus.

" Kalian melupaka Shion." tuturnya kemudian.

" Ahhh iya, aku sampai lupa." Seru Ino tiba – tipa menepuk dahinya pelan. " Dimana anak itu?" tanya nya kemudian pada yang lainnya. Namun teman – temannya yang lain hanya bisa menggelengkan kepalanya tanda bahwa mereka tidak tau dimana keberadaan personil terakhir mereka. Namun beberapa saat kemudian, jawaban atas pertanyaan yang di ajukan oleh Ino pun datang. Tampak seorang gadis yang juga berambut pirang sama seperti dirinya datang dengan tergesa – gesa setengah berlari kearah mereka sambil memberikan senyuman tak berdosanya.

" Go-gomen, aku terlambat. Hehehe." Ucap gadis bernama Shion tersebut setelah sampai di depan teman-temannya.

" Kenapa terlambat?" Tanya Ino dengan berkacak pinggang.

" Ah tadi aku sempat tersesat di jalan bernama kehidupan." Jawab Shion polos seolah tanpa dosa sambil nyengir tiga jari. Sukses membuat Ino tampak kesal.

" Kau seperti Kakashi Sensei." Tuding Ino kemudian.

" Dan lebih parah dari Sugetsu." Tambah Karin kemudian dengan tatapan horror.

" Hei hei kenapa aku jadi di ikut kan?" protes Suigetsu.

Sai yang melihat tingkah konyol pacar sekaligus teman – temannya, hanya diam dan memutar kedua bola matanya bosan. " Ayo kita segera berangkat, malam sudah semakin larut." Ujarnya kemudian.

Teman – temannya yang setuju dengan pendapat Sai pun mengangguk dan segera beranjak ke pintu samping.

Mereka berjalan perlahan dengan hati – hati, suasana yang gelap membuat jarak pandang mereka tak begitu luas. Berbekal senter dan cahaya yang berasal dari ponsel mereka terus berjalan bersama.

Angin berhembus semakin kencang membuat gesekan diantara pepohonan itu semakin keras dan manimbulkan suara yang dapat membuat bulu kuduk meremang.

Tak lama kemudian, mereka akhirnya sampai di depan pintu samping sekolah.

Ketika salah seorang dari mereka akan memanjat pintu samping tersebut tiba – tiba Shion bersuara.

" Tunggu !"

Semua menoleh padanya.

" Aku belum memberi tahu kalian cara memainkan papan pemanggil arwah itu. Lebih baik aku memberi tau kalian sekarang, disini. Agar disana kita tidak membuang – buang waktu." tambahnya yang didukung anggukan kepala oleh temannya.

" Ino, apa kau membawa papannya?" tanya Shion kemudian.

" Ya."

" Berikan padaku."

Ino pun segera mengambil papan tersebut, dan memberikannya kepada Shion.

Shion yang sudah mendapatkan papan tersebut, lantas meletakkannya di tanah dan menerangi papan tersebut menggunakan senter. Angin tiba – tiba berhembus menerpa mereka. Shion yang mulai merasa bulu kuduknya meremang, segera menjelaskan aturan mainnya. Sepintas dia melihat ada sekelebat bayangan yang melintas di belakang teman – temannya. Namun tak ia hiraukan. Ia berusaha fokus pada apa yang akan diterangkannya.

" Begini, papan ini bernama papan Ouija, salah satu jenis papan pemanggil arwah."

Shion menunjukkan sebuah papan berbentuk persegi tipis berukuran 30cm x 25cm, papan tersebut berwarna coklat, layaknya papan – papan lain pada umumnya, hanya saja di atas papan tersebut terdapat pola - pola yang bagi teman – temannya terasa aneh jika diperhatikan. Di bagian tengah papan tersebut terdapat pola berbentuk lingkaran yang didalamnya terdapat pola bintang yang memiliki enam ujung lancip dengan garis yang membentuk segi enam di tengah Pola bintang. Di atas pola tersebut, terdapat tulisan huruf dari A – Z dan dibawahnya, ada tulisan angka dari 0 – 9. setelah itu terdapat tulisan 'selamat tinggal'. Di sudut kanan atas papan terdapat gambar bulan dan disudut kiri papan terdapat gambar matahari. Kemudian di bawah gambar bulan terdapat kata yang bertuliskan 'tidak' sedangkan di bawah gambar matahari kata tersebut bertuliskan 'ya', dan diantara kedua kata tersebut, terdapat kata bertuliskan 'rumah'.

" ketika kita bermain nanti, suasananya harus sepi, tak boleh ada yang bersuara. Sebelum kita bermain, kita harus melukis simbol lingkaran yang di tenganya ada gambar bintang dengan enam sudut sama seperti simbol yang di lukis di papan ini." Tunjuk Shion pada papan yang ia terangi tersebut. " Dan papan ini, nantinya akan kita letakkan di tengah dengan 4 lilin yang akan menyala di masing – masing sisinya, sebagai sumber penerangan untuk papan. Sementara itu kita akan duduk mengelilinginya dengan membawa lilin masing – masing yang akan diletakkan di depan kita. Ingat, sebisa mungkin jaga agar lilinnya tidak padam. Satu hal lagi, nanti kita akan menggunakan gelas bening berukuran kecil sebagai media, dan tangan kita semua harus menyentuh gelas tersebut. Jangan sampai lepas, kemudian aku akan memandu kalian untuk mengucapkan mantra pemanggil arwahnya. Mengerti? Apa ada yang kurang jelas?" Shion menatap satu persatu temannya untuk memastikan temannya telah mengerti dengan instruksi yang dia berikan. Dan Shion akhirnya lega ketika melihat teman – temannya akhirnya mengangguk.

" Tunggu dulu, perlengkapan lainnya?"

" Pertanyaan bagus Sai. Semua telah aku persiapkan, jadi tak perlu kawatir." Shion tersenyum dengan bangga. " Nah, jika kalian sudah mengerti, ayo cepat berangkat." intruksi Shion secara otomatis membuat teman – temannya segera beranjak dari tempatnya masing – masing. Satu persatu mereka memanjat pintu gerbang samping itu, dan berjalan menuju lokasi dimana sumur itu berada.

- TBC -

Akhirnya Chapter 1 selesai, -^^- dan up datenya udah kilat, belum sampe tahun baru. ^^

lumayan 3k+ (padahal setengah mati ngerjainnya sampe tengah malem)

nah ... gimana? Horror nya belum terasa ya? Gomen ne, bukannya Akemi gak mau masukin Mbak Sadakonya disini sih, sebenernya Chapter 1 ini panjangnya sampe 5k+ dan disitu Sadakonya udah muncul, karena menurut Akemi chapternya terlalu panjang, jadi Akemi potong. Takut reader bosen baca terlalu panjang.

Target 3K+ malah jadi 5k+ gara-gara keasikan nulis trus idenya lancar jaya. Coba aja pas gak ada ide, jangankan 3k, 1k aja belum tentu, eheheheh.

yaaahhh jadi curhat sendiri,,

mau nyapa readers yang review dulu ...

*kiyoi-chan : Siappp. Ini udah up date ^^/ review lagi yaaa

*laler : Holaaaa ^^/ jangan lupa mampir lagi yaaa.

*ernykim : Siappp ini udah di lanjut. jangan lupa review lagi yaaa ^^/

semakin banyak yang review, semakin cepet up date untuk chap selanjutnya. Special thanks buat yang udah review yaaa... makasih juga buat silent reader.

akhir kata mohon reviewnya lagi yaa

Arigatou ...