Disc. © Tokoh beserta semua yang ada di cerita ini adalah Kepunyaan Tuhan YME, Orangtua, Agensi, serta para penggemar-ssi sekalian. Semua kecuali cerita ini, karena cerita ini murni kepunyaan saya. Sekian, terima cinta Jihoonie :)
Segaris
- KekepUC –
.
.
Cast: Kwon Soonyoung, Lee Jihoon, Lee Seokmin, Kim Mingyu,
Jeon Wonwoo, Hong Jisoo, Choi Seungcheol.
Dan masih banyak lagi.
.
Cameo: Bangtan Boys personel
.
Pair (s): SoonHoon / Hozi slight MeaNie / GyuWon then SeungHan
Dan masih banyak lagi.
.
Length: 4900+ words.
.
Rating: T
.
Genre: friendship-humor-romance
.
Warning (s): typo(s), alur sesat, humor garing, AU! Seventeen FICT!/ YAOI FICT!
.
.
Enjoy!
.
Summary: Andai saja, tadi kedua opsi pertama itu tidak Ia lakukan, sehingga Ia tidak perlu mendapat luka lebam di sudut bibirnya dari seorang siswa bocah orange pendek dan harus berurusan dan guru tata boga merangkap guru konseling itu. /Bad Summary /Second FF! /SoonHoon /Seventeen FICT!
Soonyoung, Mingyu, dan Seokmin tengah berjalan pelan menuruni tangga. Mengingat Soonyoung yang sedikit menangis karena pipi bokongnya yang ditampar oleh Mingyu tadi, membuat Seokmin lagi-lagi harus menyusul kedua temannya yang masih berada di lantai tiga tadi.
"Kau serius Gyu, kita hanya akan makan ramyun di kantin?"
Soonyoung bertanya pada Mingyu yang seratus persen menjawabnya dengan gelengan mantap. Pemuda berkelebihan lemak di pipinya itu pun menghentikan langkah kakinya mendadak, sehingga mengharuskan kedua temannya ikut berhenti, dan memandang Soonyoung heran.
"Wae-yo Kwon?" tanya Seokmin menelengkan kepalanya –entah ingin mencoba bersikap imoet atau refleks yang tiba-tiba.
"Aku tidak ikut, kalian saja yang pergi! Aku akan kembali ke atap dan melanjutkan tidurku dengan atau tanpa- mheym!
"Shuutt…" Mingyu menjepit bibir Hyung hamsternya sehingga membentuk paruh bebek, "Ayolah Hyung, kenapa kau ini tega sekali sih! Kau selaluu… saja membiarkanku bersama kuda ini, ayolah! Ikut saja ya? Ya? Kita nggak akan nakal-nakal lagi kok sama Hyung! Janji deh!" rengek Mingyu.
Soonyoung mengernyit sebelum menarik lepas bibirnya dari jepitan jejari panjang Mingyu, "Tapi Gyu, kelas kami ada pelajaran sejarah! Kau bolos okelah ya, kau masih kelas sepuluh, sedangkan kami?!"
Seokmin menggeleng menyahuti kekhawatiran Soonyoung, "Aniyo Kwon, Junhui tadi bilang padaku, seluruh kelas sebelas dapat free class, karena semua OSIS kelas sebelas, dan para guru harus membantu Ketua OSIS terhormat kita, Lee Yoongi, untuk mempersiapkan festival sekolah kita nanti," ujarnya tenang.
"Iya Hyung, jadi kita bisa ke kantin, mengingat kita bukan budak sekolah seperti para OSIS kesayangan Taeyon-ssaem itu! Jadi kajja-kajja!" ucap Mingyu tersenyum lebar, menyembulkan taring-taring favorit penggemar Mingyu itu.
Soonyoung cemberut dan menunjuk Mingyu, "Janji ya? Kita cuman makan ramyun?" Mingyu tersenyum mendengar Hyung nya akhirnya sedikit merespon baik. Soonyoung pun membalas senyumannya Mingyu, merasa ia akan baik-baik saja.
"Nggak," jawab Seokmin, yang sontak memabuat kedua sahabatnya langsung menoleh pada dirinya yang tengah syahdu mengupil dengan kedua jarinya. Mingyu dan Soonyoung sedikit mengernyit jijik kala Seokmin menampakkan hasil mahakarya jemarinya, yang berbentuk gumpalan kecil berwarna emas kekuningan. Kedua bola mata sahabatnya kembali menyipit jijik kala dengan lentiknya jemari Seokmin menghempaskan butiran gumpalan emas itu jatuh dari jari tengahnya.
Seokmin sedikit menyeringai, "Mingyu tidak bisa berjanji Kwon. Ani, bukan tidak bisa, tapi memang tidak akan pernah berjanji tentang hal semacam itu, tidak akan!" ujar Seokmin sedikit melebarkan seringaiannya yang malah terlihat seperti para paman-paman cabul.
Soonyoung mengernyitkan dahinya bingung, "Kenapa tidak akan? Kan Aku yang diajak, lagian mau ngapain sih?" tanyanya. Seokmin masih saja melebarkan senyum ambigu kebanggaannya sehingga membuat Soonyoung mau tak mau sedikit curiga akan sesuatu, "Lee Seokmin, Aku bersumpah jika kau dan Mingyu tengah merencanakan sesuatu untuk menjahiliku, atau bahkan untuk bokong indahku, kusarankan sebaiknya berhenti saja," ujar Soonyoung sedikit was was.
Seokmin menggeleng pelan, "Gwenchana Kwon, kami tidak akan nakal-nakal pada bokong indahmu itu," ujarnya yang membuat pemuda babi menghela nafas lega. Baru saja ia akan benar-benar lega, tapi Seokmin sudah melanjutkan dan bahkan menggantungkan kalimatnya sehingga membuat Soonyoung kembali berwas-was ria,
"Tapi…."
"Ada hebatnya kalau kita bermain truth or dare!" sambung Mingyu yang disambut dengan anggukan semangat Seokmin.
Soonyoung melotot, mencoba membulatkan matanya yang lagi-lagi malah terlihat seperti ekspresi menahan buang air besar, "Dan berakhir di lapangan sepak bola yang luasnya bahkan hampir menyaingi stadion?! BIG HELL NO LEE!" pekik Soonyoung parno.
Seokmin mendecih, "Ayolah Kwon! Itukan sudah lama! Lagipula kan waktu itu kau juga dapat bagian sedikit kok, Aku, Mingyu, dan Seungkwan yang menyelesaikan semuanya, bahkan dari semua bagianmu, yang kau kerjakan juga sangat sedikit!" bantah Seokmin.
"Ya itukan salahmu sendiri karena Kau dan Mingyu yang menyuruh Xu Minghao yang bertugas memberi makan anjing itu, untuk membawa anjingnya ke lapangan sehingga membuatku harus menderita sakit bokong dan beristirahat seminggu penuh di rumah sakit!" balas Soonyoung mengingat waktu itu, bokongnya pernah di gigit oleh anjing peliharaan sekolahnya.
Seokmin menghela nafas, "Itu sudah lama sekali Kwon! Ayolah! Kau tahu? Kita sudah lama tidak beroperasi! Dimana Boo-Seok-Soon-Gyu kita?" tanya Seokmin dengan aura pemimpinnya.
"Err- kau lupa Hyung? Seungkwan sudah vakum dari tim kita selama satu semester penuh belakangan ini, dia sudah sangat sibuk dengan bisnis dan dua klubnya," sahut Mingyu mengingatkan.
Seokmin pun kembali mengangguk, "Dan jangan lupakan pacar bule kesayangannya itu. Siapa teman sekelasmu itu? Adiknya Seungcheol-hyung? Bonon? Bernon?" tanya Seokmin sedikit mengernyitkan dahinya.
"Yang benar Vernon, Hyung," koreksi Mingyu.
"Ah iya! Benon Venon Vonon atau apalah itu! Kalian lihat?" Seokmin berseru lantang pada kedua temannya, "Bahkan seorang Bhernon yang notabenenya hanya pacar pun bisa merebut dan membuat Uri Boo Seungkwan, mendadak amnesia dan tidak bermain lagi bersama kita, yang notabenenya adalah sahabat masa kecilnya sendiri! Tidakkah itu menyebalkan dan keterlaluan?" tanya Seokmin yang malah disambut dengan kernyitan bingung Mingyu dan Soonyoung, "Iya gak sih?" tanyanya lagi.
Seokmin yang sedari tadi hanya dikacangi oleh sahabat-sahabatnya pun merasa kesal karena hanya ditatap dan dikacang oleh kedua sahabatnya, "Kalian kenapa sih?!" tanya Seokmin sedikit risih dipandangi aneh oleh kedua sahabatnya.
Soonyoung menggeleng dan mengibaskan tangannya menyahuti pertanyaan Seokmin, "Nggak, jadi makan gak nih?" tanya Soonyoung yang langsung ditarik Mingyu untuk segera ke Kedai Ramyun langganan mereka.
.
Mereka sampai di lantai satu, tepatnya di kantin yang super-duper-luar-biasa ramai, mengingat sekarang banyak dari beberapa kelas sebelas yang mengungsi ke kantin. Seokmin mengekor di belakang Soonyoung dan Mingyu mengingat mereka sama-sama lapar dan ingin segera memakan ramyun enak buatan Bibi Baek Jiyoung yang merupakan salah satu penjual ramyun yang enak di sekolah ini.
Merasa antrian yang mereka pijaki masih lama dan kantin yang semakin lama semakin ramai, Seokmin pun sedikit mencondongkan tubuhnya pada kedua telinga temannya, "Soon, Gyu, Aku tidak makan ya, jadi kutunggu kalian di mejanya anak Bangtan di sebelah sana, OKE!" seru Seokmin segera berlari ke arah meja para Bangtan dan ber-tos ria pada Jung Hoseok, Park Jimin dan Kim Taehyung yang merupakan anak Bangtan dan kelas sebelas juga.
Mingyu dan Soonyoung saling berpandangan sebelum tibalah giliran mereka yang memesan ramyun pada Bibi Baek. Bibi Baek tersenyum menyambut mereka berdua dan bertanya padanya –Mingyu aja, Soonyoung nggak- dengan suara manis yang sangat amat jelas terlihat bahwa itu hanya dibuat-buat.
"Aah, Mingyu-ya! Pesan ramyun seperti biasa?" tanyanya yang hanya dibalas anggukan dan Senyuman Mingyu, "Baiklah, hanya satu?" tanyanya lagi. Soonyoung sedikit mengangkat tangannya, "Err- sebenarnya, Bibi, Aku juga memesan satu," ucap Soonyoung menunjuk dirinya.
Bibi Baek hanya memutar mata menatap Soonyoung, "Iya tau, kan tadi Saya cuma nanya Mingyu, kamu nggak usah nyela dulu deh," balas Bibi Baek sedikit kesal pada Soonyoung. Mingyu hanya tertawa menanggapinya.
"Aku pesan dua Bi, hehe," ucap Mingyu sedikit mencairkan suasana. Bibi Baek pun mengalihkan tatapan tajamnya dari Soonyoung dan menatap lembut Mingyu, "Ah benarkah? Ahh, maafkan Bibi sayang… baiklah, tunggu sebentar dan pesanan kalian akan segera siap," ujar Bibi Baek dengan nada lembut yang masih terdengar aneh di telinga Soonyoung. Mingyu pun mengangguk dengan Senyuman lagi, menanggapi Sang Bibi.
"Apa Hyung?" tanya Mingyu, merasa pinggangnya sedikit dicolek-colek oleh yang lebih tua. Soonyoung menunjuk Bibi Baek yang sedang bersenandung pelan sembari menuangkan kuah pada ramyun pesanan mereka dengan dagunya, "Kau bertanya mengapa dan bagaimana bisa ia jutek padamu dan baik padaku?" tebak Mingyu.
Soonyoung mengangguk singkat dengan wajahnya yang lagi-lagi ia tekuk karena badmood. Mingyu hanya terkekeh, "Ia suka padaku Hyung, makanya ia bagitu," Soonyoung melotot dengan Mingyu yang lagi-lagi menganggukkan kepalanya dan dua jari yang membentuk huruf 'V', "Aku bersumpah demi semua underwear yang dijanjikan Seungkwan pada Seokmin-hyung Hyung!" ucap Mingyu dengan raut wajah serius.
Soonyoung menggeleng takjub, "Gila, selain anjing-anjing sekolah, bahkan tante-tante pedo pun juga terbuai akan pesona bulukmu?" Soonyoung bedecak-decak takjub, "Kiamat sudah dekat astaga," ucap Soonyoung mengakhiri ucapannya dengan suara pelan, saat menyadari bahwa pesanan mereka sudah sampai.
"Pesanan siaaap," lagi-lagi Mingyu tersenyum menanggapi Sang Bibi. Mingyu baru saja hendak mengeluarkan dompetnya, namun segera dicegah oleh Sang Bibi. Mingyu pun menelengkan kepalanya bingung. Sang Bibi hanya mengedipkan sebelah matanya, "Hari ini hari gratis, untuk anak yang manis," ucap Bibi Baek –SOK- manis pada Mingyu yang hanya mengusap canggung tengkuknya.
"Apa benar tidak apa-apa?" tanya Mingyu sedikit tidak enak. Bibi Baek mengangguk dan tersenyum, "Ya, untukmu hari ini Bibi yang traktir," ujarnya. Mingyu pun bersorak senang dan berterimakasih pada Sang Bibi.
Namun, ketika kedua sekawan itu hendak meninggalkan kedai ramyun, Bibi Baek kembali berteriak pada mereka, sehingga membuat mereka berbalik menatap Bibi Baek yang mengancungkan sendok kuahnya yang besar –itu anggep aja sendok sup yang sering dipake sama emak-emak gitu- itu ke arah mereka berdua.
Mingyu menunjuk dirinya. Tapi Bibi Baek hanya menggeleng pelan sebelum menunjuk Hyungnya yang juga ikutan bingung, "Bukan kamu tampan, tapi Si Muka Babi temanmu itu! Dia belum bayar!" seru Bibi Baek kesal.
Mingyu dan Soonyoung saling berpandangan, "Lah kok?"
.
"Jadi kau disuruh bayar dan Mingyu tidak?" tanya Jeon Jungkook yang tadi baru saja datang bersamaan dengan datangnya Mingyu dan Soonyoung yang wajah cemberutnya yang membuatnya semakin mirip dengan babi. Soonyoung hanya tersenyum masam menjawab pertanyaan teman donsaengnya. Yang lain hanya tegelak menanggapi ekspresi cemberut Soonyoung.
"Jangan sabar Hosh, itu berat," ucap Jimin setengah terbahak.
Soonyoung mencebik, "Apa? Biar Dilan saja?" cibir Soonyoung seraya meniup-niup ramyunnya. Jimin tertawa menanggapinya.
Taehyung menggeleng, "Bukan, maksud Jimin, kalau kau sabar, nanti pantatmu tambah lebar. Kalau tambah lebar, nanti Jimin naksir. Kalau Jimin naksir, sekolah ini bakalan kiamat," ucapnya mendramatisir.
"Halah, sok-sokan segala pakai bawa-bawa kiamat," cibir Seokmin seraya mencomot telur dari mangkuk ramyun Mingyu yang duduk di sebelahnya. Sedangkan Sang pemilik ramyun hanya mengelus dadanya, mencoba untuk sedikit sabar dengan Hyung nya. Mengapa sedikit sabar? Karena perkataan Taehyung tadi. Nanti pantatnya lebar, Wonu-hyung mana mau nanti kalau Mingyunya lebar. Masa semenya semok ukenya malah tepos? Terbalik atuh, hehe.
Taehyung mengancungkan kedua jarinya yang membentuk huruf 'V', "Aku serius Seok! Uri Yoonie-hyung bakalan ngamuk kalau tau Jimin, uke kesayangannya ini naksir orang lain yang memiliki bokong semok darinya," ucap Taehyung yang sontak membuat semua orang di meja itu sedikit terbahak.
"Hyung, lebih baik jangan nge-gibah di sini deh, ntar orangnya masuk sini, bisa-bisa kiamat mendadak di kantin," ucap Jungkook yang langsung disambut anggukan setuju oleh Mingyu. "Ntar Yoongi-hyung ngadu ke guru-guru loh, terus anak kelas sebelas belajar deh, nggak makan-makan lagi," tambah Mingyu yang juga disambut anggukan oleh Jungkook.
Hoseok yang sedari tadi sibuk mengunyah-ngunyah ddeoboki keju mozzarella pun menelan makanan favoritnya dan mencebik, "Dan Yoongi juga tidak akan segan-segan mengadu pada Heechul-ssaem, saat tau beberapa kelas sepuluh yang harusnya belajar dengan manis di kelas malah membolos bersama kakak kelasnya yang diberi free class," ucapan dari bad mood Hoseok pun sontak membuat kedua donsaeng kelas sepuluh yang sedari tadi hanya tertawa-tawa ini pun terdiam, dan menampakkan flat face mereka.
Seokmin hanya terkekeh, "Terlalu sering bermain bersama Yoongi-hyung akhir-akhir ini entah mengapa membuatmu semakin terlihat mirip dengannya, Jung," komentar Seokmin yang hanya dibalas dengan endikkan bahu tidak acuh oleh Si Jung.
"Hey hey, kudengar dari Seokmin kalian mau main truth or dare ya?" tanya Jimin mencoba membuka topic baru yang tidak bersangkutan dengan kekasih juteknya.
Soonyoung yang sedari tengah menikmati ramyunnya dengan tenang, sontak sedikit terbatuk-batuk akibat pertanyaan dadakan dari Jimin. Jungkook yang berada di sebelahnya pun dengan berbaik hati memberinya sebotol bubble tea miliknya. Tanpa basa-basi pun, Soonyoung segera menerimanya.
Seokmin hanya memutar mata sebelum kembali menatap Jimin, dan megangguk, "Yep, kalian mau bergabung?" tanya Seokmin padanya. Jimin pun mengangkat sebelah alisnya sebelum bertanya pada Taehyung, Jungkook, dan Hoseok lewat lirikan matanya. Ketiga sahabatnya yang mengerti akan kode dari Jimin pun, mulai memberinya pendapat masing-masing.
"Tidak terimakasih Lee, Aku ada janji dengan Namjoon-hyung dan Yoongi-hyung untuk membereskan panggung," ujar Hoseok masih dengan suapan ddeobokki keju mozarellanya.
"Kalau Aku sedang lelah untuk bermain, Aku menonton saja Hyung," ucap Jungkook memamerkan senyum kelinci andalannya.
Mingyu memutar mata, "Tae-tae hyung? Jimin-hyung?" tanya Mingyu pada kedua sejoli yang masih saling lirik-lirik.
Jimin yang pertama menoleh ke arah Seokmin dengan tatapan datarnya, "Mian Seok, Aku sangat ingin ikut, tapi kupikir, ada baiknya kalau Aku tidak ikut saja," ujarnya.
Seokmin mengangkat sebelah alisnya bingung, "Kau sangat ingin ikut tapi kau tidak ikut? Maksudnya bagaimana sih? Kok Aku gagal paham ya?" tanya Seokmin celingukan.
Mingyu yang berada di sebelah Seokmin hanya menyumpit dagingnya dan menyuapkannya secara paksa ke dalam mulut Hyung kudanya, "Jangan banyak omong dan diam saja, Hyung. Nah, Tae-tae hyung? What about you?" tanya Mingyu sebelum kembali menyuapkan mienya.
"Naega? Ani, Aku ikut Jimin," jawab Taehyung dengan flat smile nya.
Soonyoung menelengkan kepalanya, "Ikut Jimin bagaimana? Memangnya kau mau kemana?" tanya Soonyoung pada Jimin yang mengendikkan bahunya, "Entahlah, memangnya Aku mau kemana Tae?" tanya Jimin balik. Taehyung yang masih dengan flat smile nya, hanya menggelengkan kepalanya dengan polos.
"Taehyung dalam masa idiotnya, mohon dimaklumi terimakasih! Hahahha!" gelak seorang pemuda berwajah serupa seperti Taehyung yang baru saja pergi berlalu.
Taehyung yang dibicarakan pun hanya mengangguk-ngangguk mengiyakan. Seokmin menatap Taehyung dengan tatapan aneh, "Lah, beneran idiot?" Taehyung mengangguk menjawab pertanyaan Seokmin. Yang lain hanya mengangkat sebelah alisnya.
Selang dua menit kemudian, kedua bola mata sipit Taehyung pun membulat. "Sialan kau Byun! Aku membencimu dasar cabe-cabean!" pekikan Taehyung menggelegar menyumpahi makhluk lucknut yang sudah mendesklarasikan dirinya sebagai kembaran Taehyung, alias Byun Baekhyun, si ketua klub tata boga, dan seorang kekasih dari Park Chanyeol, tiang listrik berwajah kelinci yang baik hati.
Soonyoung memutar matanya jengah, sebelum menyeruput habis kuah ramyunnya dan berkata, "Kalau tidak jadi main ya sudah, itu malah lebih baik. Aku sudah selesai makan, dan kupikir sekarang Aku-
-oke, oke, baik, mari bermain bagi yang mau main, dan silakan menonton bagi yang tidak bermain tapi masih ingin disini," potong Seokmin mulai memasang wajah seriusnya,
"Mingyu, kita butuh botol!" ucap Seokmin pada Mingyu. Mingyu pun mulai celingukan mencari sebuah botol yang setidaknya masih sedikit berisi untuk diputar. Namun, apalah daya Mingyu yang hanya bisa bergumam pasrah, saat menyadari bahwa kantin sekarang memang sudah lebih bersih, seramai apapun. Entahlah, Mingyu pun tidak tahu apa yang membuat semua umat di sekolah ini, tiba-tiba saja pada rajin buang sampah di kotak sampah.
Bagaikan pucuk dicita ulam pun mendatang, Mingyu pun segera bangkit dari bangkunya dan berjalan ke arah pemuda emo yang tengah meminum sebotol pokari hingga tiga per empatnya. Baru saja, pemuda itu hendak membuang botol pokari yang tersisa seperempatnya, botolnya pun diambil secara tiba-tiba, dan pipinya dikecup singkat. Mengerjapkan matanya lucu, Mingyu pun tersenyum manis –sampai taring vampirnya keluar- pada Jeon Wonwoo yang menatapnya dengan pandangan horror, "Makasih ya botolnya, Wonu-hyung sayaaang, mwah!" Mingyu pun kembali mengecup pipi sebelah kanannya Wonwoo.
Melihat salah satu dari temannya yang tengah bermesraan jauh di depan pintu masuk kantin, Jimin dan Seokmin pun menghela nafas, Soonyoung lagi-lagi kembali memutar matanya jengah, Jungkook yang pura-pura tidak tahu, Hoseok yang masih saja dengan kegalauan yang haqiqinya, serta Taehyung yang masih saja dengan flat smile nya.
Membuang nafas, "Pacar lagii, pacar lagii," gumam mereka bersamaan.
.
"Te, ooooooooooooooooooooooooooooooooooooo, De!"
Mengingat dari beberapa anak Bangtan yang masih ingin menyaksikan mereka bermain, Park Jimin, salah satu pemuda bantet yang juga satu klub dengan Soonyoung ini pun ditunjuk oleh Seokmin sebagai wasit yang entahlah berguna atau tidak.
Dan itulah, alasan dari mengapa Jimin yang kini memutar botol pokari di tengah-tengah Mingyu-Seokmin-Soonyoung di pinggiran lapangan tenis dekat pohon besar di sekolah.
–kalau susah, gausah dibayangin ya teman. Anggap saja ini di pinggiran lapangan tenis yang di kasih pembatas. Ah sudahlah jangan dibayangkan-.
"Mingyu yang dapat!" tunjuk Jungkook.
Mingyu menggaruk tengkuknya sebelum berpikir sejenak, "Aku pilih-
-cuma seorang pria sejati yang selalu memilih Dare!" potong Seokmin tegas.
Mingyu mengusap sabar dadanya, "Yaudah deh, Aku pilih Dare," ujar Mingyu menyerah.
Seokmin tersenyum lebar, "Cium Wonwoo di depan umum! Fotoin, masukin sosmed!"
Mingyu melotot, "Cium di pipi aja udah ngambek, ya kali lah Hyung!" rengek Mingyu membantah.
Seokmin mengernyitkan dahinya, "Memangnya Kau pikir, Aku bilang cium dimana hah?" tanya Seokmin. Mingyu membulatkan matanya, "Memangnya Kau bilang cium dimana?" tanya Mingyu balik. Seokmin memutar mata.
Jungkook, Jimin, dan Soonyoung –lupakan Taehyung yang masih dalam masa idiotnya- pun terbahak menyaksikan Mingyu yang pipinya mulai memanas, dan mulai menampakkan senyum malunya, "Kirain Hyung…" ucapnya tertahan.
Jungkook yang tertawa paling keras pun hanya memekik nyaring, "Mingyu mesuumm!" Tawa Jimin dan Soonyoung pun semakin mengeras, menyetujui ucapan Jungkook.
Taehyung, yang sedari tadi hanya mengerjapkan matanya bingung hanya menelengkan kepalanya, "Kalian nertawain apa sih?" tanya Taehyung yang sontak membuat semuanya bungkam. Seokmin yang pertama sadar, ia pun menggeleng dan menunjuk Mingyu, "Kukasih toleransi deh! Darenya nanti kau laksanakan saat pulang sekolah saja!" ucap Seokmin yang membuat Mingyu menghela nafas lega. "Thanks Hyung,"
Seokmin mengangguk –SOK- anggun, "Yaya, Jimin! Putar botolnya!" seru Seokmin yang hanya dibalas 'aye-aye captain' oleh Jimin.
"Kali ini Kuda-hyung yang dapat!" seru Jungkook kali ini menunjuk Seokmin.
Seokmin mengangguk, "Karena Aku yang mengajak, jadi-
-seorang pria sejatilah yang selalu memilih Dare!" potong Mingyu balas dendam. Seokmin hanya memutar mata sembari menengadahkan telapak tangannya di depan Mingyu, "Kau mau apa Hyung? Minta sumbangan?"
"Fotocopy kata-kata, bayar sepuluh won!" ucap Seokmin yang sontak membuat Mingyu manyun.
Jungkook dan Jimin kembali tegelak, "Mampus!"
Soonyoung yang berada di sebelah Mingyu pun menatap Mingyu, sebelum menepuk pelan bahunya, "Yang sabar Gyu, Aku tau, kau itu sebenarnya kuat!" ucapnya menyemangati. Mingyu, yang sedari tadi menundukkan kepalanya pun, mengangkat kepalanya menatap Soonyoung dengan penuh rasa haru, yang entah mengapa, malah membuat Soonyoung merasa ilfeel.
Seokmin kembali merotasikan kedua bola matanya, "Aku pilih truth!"
Mingyu menyorakinya, "Huuuu! Kuda-hyung nggak jantaan!" soraknya yang langsung disetujui oleh yang lain. Seokmin mendelik pada Mingyu.
"Aku jantan tau!"
"Mana? Katanya kalau cowok jantan pilihnya dare! Ini malah truth! Halah! Bullshit Hyung, BULLSH*T!" sorak Mingyu lagi. Jungkook mengencangkan tawanya, "Mantap Gyu! Bullshit!" gelaknya.
Seokmin menggeram, "Aku ini jantan yang menghanyutkan Gyu! Kalau kau tidak percaya Aku itu jantan! Ayo! Sini kubuktikan!" ajak Seokmin mulai berdiri menantang Mingyu.
Mingyu yang tidak mau kalah pun ikut berdiri, "Buktikan dengan apa Hyung? Adu pisang? Sini! Ayo! Aku nggak takut tuh!" Mingyu menantang balik Hyung kudanya.
"Ayo! Dimana?! Toilet?! UKS?! Ayok sini!"
"Kuda! Buluk! Kuda Buluk!" Jimin dan Jungkook masih saja sibuk menyoraki mereka.
Soonyoung yang masih terduduk manis bersama Taehyung dibawah, saling berpandangan sebelum saling memamerkan senyum ambigu anadalan mereka. "Tae, ikut aku ke atap yuk! Daerah disini terlalu tropis! Banyak pisang!" ajak Soonyoung pada Taehyung yang otomatis langsung mengangguk.
Baru saja mereka hendak berdiri, namun mereka pun sudah dihadang oleh Mingyu dan Seokmin. Soonyoung menelengkan kepalanya dan bertanya polos, "Ada apa teman?"
Seokmin menggerakkan tangannya ke bawah, "Duduk Soon!" Dan Soonyoung pun menurutinya.
Jimin yang sudah kembali seperti sedia kala pun menatap mereka bertiga secara bergantian, sebelum mulai memutar botol pokari yang masih setia di bawah,
"Te, ooooooooooooooooooooooooooooooooooooo, De!"
Jungkook pun bersorak, "Hurray! Soonyoung-hyung yang dapat!"
Soonyoung menatap Jungkook dengan tatapan memincing, "Sepertinya kau senang sekali kalau Aku yang dapat Kook," sinis Soonyoung yang hanya dibalas kekehan oleh Si Kelinci. Curiga, Soonyoung pun kembali memincingkan mata sipitnya, "Apa kalian berempat merencanakan sesuatu?" tanya Soonyoung dengan tatapan memincingnya, yang malah membuat matanya semakin tenggelam dalam pipinya yang tembem.
Seokmin menoleh kesal pada Jungkook sebelum menggeleng mantap pada Soonyoung, "Ayo! Mau jadi lelaki jantan atau tidak?" tanya Seokmin. Soonyoung yang masih memincingkan matanya hanya menopang kepalanya sebelum menjawab, "Karena aku masih mengingat keselamatanku, kupikir ada baiknya kalau aku memilih truth!"
Seokmin menggerang, "Ah! Soonyoung nggak jantan ih! Mainannya truth!" Soonyoung membulatkan matanya sebelum menjitak keras kepala Seokmin, "Mirror please? Kau kan tadi juga milih truth!" balas Soonyoung kesal.
Mingyu menggeleng keras, "Jangan truth Hyung! Kalau truth nanti kau bakalan ditanyain sama hal-hal yang nggak penting! Mau?" tanya Mingyu yang malah dibalas anggukan oleh Soonyoung, "Tidak apa-apa, kalau begitu justru Akulah yang tidak apa-apa,"
"Aaahh! Soonyoung tidak asyik ah! Kita nggak friend!" keluh Jimin.
"Iyaa! Soonyoung-hyung jahat!" timpal Jungkook. Soonyoung memeletkan lidahnya, "Terserah!"
Seokmin pun berlutut di hadapan Soonyoung secara tiba-tiba. Soonyoung tentu saja terkejut, "Kau kenapa Lee? Kakimu lemas?" tanya Soonyoung.
"Kwon! Kumohon Kwon! Sekali ini saja! Kau pilih dare! Ini bukan tentangmu tentu saja! Kumohon yah! Yah! Pilih daareee!" rengek Seokmin dengan wajah memelasnya yang entah mengapa malah membuat Soonyoung, dan semua yang ada di sana sedikit mual.
Soonyoung pun mengangguk-ngangguk, "Berdirilah Lee," ucapnya yang sontak membuat Seokmin bersemangat. "Jadi ya? Kau pilih dare ya? Asyiiikk!" Soonyoung melotot, "Ya bukanlah, dasar bodoh! Aku menyuruhmu berdiri itu karena Aku mual melihat mukamu yang sedang memelas di lututku tadi!" ucap Soonyoung jujur, yang sontak membuat Seokmin mendecih kesal.
Taehyung yang sedari tadi hanya bertingkah manis hanya menelengkan kepalanya, "Jadi gimana sih yang benar? Soonyoung pilih truth atau dare?" tanya Taehyung kebingungan.
"Dare! /Truth!"
Seokmin dan Soonyoung kembali adu mulut saat menyadari mereka saling menjawab pertanyaan Taehyung serempak.
Taehyung mendesah lelah. Jungkook yang berada di belakangnya pun hanya menunduk dan memeluk Taehyung dengan penuh sayang, "Biarin ajalah Tae… itu urusan mereka, kamu nggak usah ikut campur, ya?" ujar Jungkook dengan lembut berbisik di telinga Taehyung. Taehyung pun hanya mengangguk menurut apa yang dikatakan Jungkook.
Jimin memutar mata, "Ayolah Kwon! Kau pilih dare atau truth?!" tanya Jimin yang juga tidak sabaran.
"Sudah kubilang Aku pilih tru-
-Soonyoung pilih dare Jim! Daree!" pekik Seokmin lagi.
"YAH! LEE SEOKMIN AKU MEMILIH TRUTH BUKAN DA-
-TRUTH DENGAN BOKONGMU YANG KUJAMINI AKAN ADA BANYAK ORANG YANG MENJAHILI BOKONGMU ATAU DARE DENGAN KAU YANG MENGGARISI BOKONG ORANG LAIN?" teriak Seokmin yang sontak membuat Soonyoung terdiam.
Hening cukup lama pun melanda mereka. Dan Mingyulah yang pertama memecahkan keheningan itu, "Jadi?" tanyanya yang langsung mendapat sorotan dari teman-temannya.
Soonyoung pun mengehela nafas lelah dan mengangguk pasrah, "Terserah ah! Ikut aja! Asalkan jangan bokongku lagi yang jadi korbannya," ujar Soonyoung.
Seokmin dan antek-anteknya –plis lupakan uri Taehyung yang disini jadi polos yaa- pun tersenyum devil sebelum mengajak Soonyoung berunding, menyesuaikan rencana mereka semua dengan Soonyoung.
Mingyu memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, sebelum mengeluarkan sebuah buku notes kecil berwarna cokelat, seraya tersenyum lebar, "Dengan ini, mari kita resmikan operasi Seok-Soon-Gyu yang entah ke berapa kalinya! Wooohoooo!" Mereka pun terbahak.
Taehyung yang sedikit kebingungan pun, menelengkan kepalanya, dan kembali menyeletuk, "Apa ada yang lucu?"
-yang sontak membuat mereka kembali terdiam.
.
Seorang pemuda kecil yang tengah berbincang dengan teman-temannya di salah satu bangku taman, sedikit menoleh pada asal suara jeritan yang semakin lama semakin terdengar heboh dan berisik. Salah satu temannya, Yoon Jenghan, yang merupakan seorang kakak kelasnya juga pun sedikit menaikkan alisnya, kala mendengar jeritan feminim yang tak asing di telinganya itu semakin mendekat.
Boo Seungkwan, pemuda asal Kota Jeju yang bisa dibilang memiliki tubuh yang kelewat montok dengan pemuda seusianya ini menghentikan jeritan melengkingnya saat kakinya sudah selesai membawanya pada ketiga kakak kelas kesayangannya, yang tengah memandang aneh wajahnya.
Membuang nafas secara tiba-tiba, pemuda montok itu pun memegang bahu kecil salah satu kakak kelasnya, sehingga membuat kakak kelasnya itu pun sedikit berjengit, "Hyung! TOLONG AKU HYUNG!" ia kembali memekik.
Lee Jihoon, yang merasa wajahnya baru saja seperti terkena air hujan pun mengelap wajahnya dengan sapu tangan merah yang selalu ia bawa kemana-mana, sebelum menatap tajam Boo Seungkwan yang berjengit kaget saat ia ditatap dengan tatapan tajam Hyung pendeknya. "M- mian Hyung… Aku hanya terlalu…"
"Terlalu kenapa Kwannie-ya?" tanya Jeonghan dengan lembut. Seungkwan, yang masih sedikit bergetar takut pun menunjuk keramaian yang kembali merusuh. Jeonghan memincingkan matanya kala mendapati ketiga pemuda yang tak terlalu asing dimatanya itu, tangah menjahili bokong-bokong orang lain, menggarisinya dengan telunjuk mereka. Jeonghan bingung, "Mereka kenapa sih Kwan?" tanyanya bingung.
"Hoshi, Deokyeom, dan Mingyu itu Hyung! Mereka mengincar bokong semok!" pekik Seungkwan lagi. Jeonghan hanya ber- 'oh' pendek. Kembali menggeram, Seungkwan pun berpindah meremas bahu Hyungnya yang memiliki wajah cantik itu, "Iihh! Kok Hyung cuma 'Oh' aja? Bantuin doongg! Mingyu nakal tuh! Masa dia masukin kita kedalam daftar korbannya?" seru Seungkwan
Jeon Wonwoo, yang sedari tadi hanya membaca buku pun sedikit mengangkat kepalanya, kala mendengar salah satu nama yang tak asing di telinganya itu, keluar dari mulut adik kelasnya yang rempong. Seungkwan yang merasa bahwa Hyung teposnya yang satu itu tengah menatapnya bingung pun mengangguk, "Iya Wonu-hyung! Mingyu nakaaaall bangeet! Urusin deh pacarnya! Masa dia masukin Aku, Jeonghan-hyung, sama Jihoon Hyung kedalam daftar korban segarisnya?" adu Seungkwan. Wonwoo hanya memutar matanya sebelum kembali pada bukunya seraya bergumam pelan, "Itu temanmu juga Kwan, Aku lelah kalau harus berurusan dengannya!"
Seungkwan menghela nafas, "Hyung! Ini demi keselamatan bokong-bokong kita! Kau mau bokong kita semua tidak perawan lagi? Tidak, kan?" tanya Seungkwan lagi.
Jeonghan mengerjapkan matanya, "Err- kita ini laki-laki Kwan," ucapnya.
Seungkwan mengusap tengkuknya malu, "Oiya ya, lupa, hehee… Maksudku, perjaka lagi! Kalian mau?" ralatnya. Ia pun menggulirkan iris cokelatnya memandang satu persatu Hyung nya.
Jeonghan yang mengendikkan bahunya tak acuh, "Aku, kalau kalian panik, aku pasti juga ikutan panik. Tapi masalahnya sekarang, Jihoon maupun Wonwoo tidak ada yang panik, jadi, kenapa Aku harus panik?" ia balik bertanya. Seungkwan memutar bola matanya sebelum berpindah menatap Wonwoo yang hanya membalas datar tatapannya.
"Wonu-hyung? Mau bokongnya tetap perjaka atau nggak?"
Wonwoo mendengus, "Aku kan 'tepos'! Lagipula tadi kau bilang hanya kalian bertiga saja, jadi yasudah!" ucapnya sedikit menekankan kata 'tepos'nya. Seungkwan menepuk dahinya, Aduh, dedek lupaa, batinya. Ia pun berpindah menatap satu-satunya Hyung yang belum ia tanya.
Seungkwan menggigit jarinya gemas, "Kau sendiri Hyung? Kau juga tidak mau berjihad denganku?" tanyanya sedikit melambungkan nada berharap.
Jihoon mengerutkan dahinya bingung, "Sepertinya Aku mengenal julukan nama-nama itu, bisa kau sebutkan ulang nama-namanya Kwan?" pinta Jihoon pada adik kelasnya yang sontak berjengit kaget.
Aku lupa, Jihoon-hyung kan salah satu anggota penegak disiplin sekolah! Aduh mau nyebutin nama-nama mereka, tapi mereka kan juga sahabatku! Batin Seungkwan sedikit merutuki mulut embernya.
Irisnya sedikit melirik takut-takut ke arah Jihoon yang masih menatapnya dengan tatapan introgasi, "Boo Seungkwan? Kau mendengarku?" tanyanya yang langsung disambut anggukan oleh Seungkwan, "Jadi bisakah kau mengulang nama-nama itu?" pintanya lagi yang sontak kembali membuat Seungkwan gugup tiga perempat mati.
Masa bodoh dengan persahabatan! Ini demi keperjakaan bokongku supaya masih suci saat Aku menikah dengan Hansollie nanti! Batin Seungkwan lagi, mencoba berpikir positif dengan pikirannya.
Seungkwan baru saja hendak menyebutkan nama sahabat kudanya, namun sebuah pola garis lurus yang dibuat oleh salah satu jari di bokongnya itu pun, malah membuatnya bungkam setengah mati.
Pemuda yang berkelebihan lemak di pipinya itu, dengan indahnya tersenyum senang dan menggarisi bokong-bokong mereka berempat, seraya tertawa keras, "Segariiss!" gelaknya yang juga disusuli oleh kedua temannya.
Mereka tertawa bukan karena misi mereka sudah berakhir atau apa, tapi mereka bertiga tertawa karena ekspresi orang-orang yang mereka garisi bokongnya itu sangat lucu dan bervariasi. Terlebih saat pemuda berjulukan 'Hoshi' ini melihat ekspresi yang Yoon Jeonghan –si kekasih cantik kesayangan Choi Seungcheol, Boo Seungkwan –sahabat yang malah jadi bangsat, Jeon Wonwoo –kekasih kesayanan Kim Mingyu, dan-
BUAGH!
Kwon Soonyoung memegang hasil mahakarya Lee Jihoon yang baru saja terpampang di pelipisnya. Jihoon, dengan nafas yang terengah-engah, wajah memerah, dan tatapan mata yang berkilat tajam itu, menarik kerah Soonyoung dan membawa dahi Soonyoung menempel pada dahinya.
"Dengar ya, Kwon Soonyoung, kau benar-benar dalam masalah besar kali ini!" desisnya tajam, "Ini adalah kesekian kalinya kau membuat masalah, tepat di depan mataku, dan Aku, sungguh tidak akan memaafkanmu untuk kali ini, kau paham?" tanya Jihoon masih dengan desisannya.
Soonyoung menelengkan kepalanya, dan menatap Jihoon bingung. Geram, Jihoon pun kembali membanting dahi Soonyoung sehingga kembali membentur dahinya, "NGERTI NGGAK?" teriaknya tepat di depan wajah babi Soonyoung.
Sedikit takut dengan pemuda bocah orange di depannya ini, Soonyoung pun mengangguk patuh pada Jihoon, dan berjalan tanpa sadar mengikuti Jihoon ke arah ruang bimbingan konseling itu.
.
Hong Jisoo dan Choi Seungcheol, mengangguk paham dengan penjelasan gabungan cerita, yang sejak tadi dipaparkan oleh Kwon Soonyoung dan Yoon Jeonghan, dengan segelas milkshake dan ice cappuccino nya. "Jadi begitu rupanya," Jisoo mengangguk-ngangguk mengerti dalam esapan Americano nya.
Soonyoung mengangguk, "Iya! Dan lagi Hyung! Rata-rata ya, kalau ada orang yang mukul Aku tuh, semuanya pada minta maaf semua, nggak kayak itu si bocah pendek! Udah pendek, sok jagoan lagi! Ewww!" seru Soonyoung memutar matanya lagi.
"Sebaiknya kau berhati-hati sajalah, Soon! Bisa bahaya kalau macan kecil itu dengar," ucap Seungcheol yang langsung disambut anggukan oleh kekasih cantiknya.
"Jihoon kalau marah tidak akan tanggung-tanggung loh Soon, pertama seperti yang dia lakukan padamu itu! Kedua bahkan ketiga, dia bahkan tidak akan segan-segan mengadu pada Kakak dan Ayahnya! Jadi sebaiknya kau harus patuh akan nasihat dan peringatan dia!" ucap Jeonghan lagi.
Soonyoung menggeram, "Memangnya dia semengerikan itu apa? Kakaknya yang mana lagi? Sini-sini! Aku nggak takut kok!" pekik Soonyoung kembali merusuh.
Jisoo menaruh telunjuknya di depan bibirnya, "Sssttt! Yoongi dataangg!" teriaknya tanpa suara. Seungcheol dan Jeonghan tentu saja langsung berhenti bercakap-cakap dan mulai tersenyum pada sosok yang berdiri tepat di belakang Soonyoung, yang masih saja mengomel-ngomel.
"Apa sih? Bocah pendek itu aja bangga! Taruhan deh! Semua yang ada di tubuhnya itu jelas pasti kecil semua! Tapi kecil gitu aja belagu! Mau kakak, atau ayah sekalipun Aku yakin kok! Semuanya itu sama kayak dia! Jadi kenapa Aku harus hati-hati Kak?"
"Udah ngomongnya?"
Soonyoung menggeram, "Ya belumlah! Nganggu orang a-" kalimat Soonyoung pun menggantung kala melihat sosok Ketua OSIS, Lee Yoongi berdiri di belakang kursinya dengan aura yang mencekam. "I-iya s-sunbae saya sudah sele-sai ngomong k-kok!" ucap Soonyoung sedikit terbata-bata.
Yoongi mengangguk, sebelum mengambil smartphone nya dan mengarahkan kamera depannya pada Soonyoung yang masih mengerjapkan matanya bingung, "Kau yakin itu orangnya Ji?" tanya Yoongi pada seseorang yang menelponnya dengan telepon video.
"Iya Hyung! Si muka babi itu yang cari masalah!" seru suara yang sangat tak asing di telinga Soonyoung.
Yoongi pun mengangguk-ngangguk sebelum mematikan smartphone nya, memasukkannya kedalam saku celana, dan menatap Soonyoung dengan padangan tanpa ekspresi, "Kau, Kwon Soonyoung, siswa Korea Internasional School kelas tiga tahun kedua, anggota klub dance, dan salah satu anggota dari geng yang bernama Boo-Seok-Soon-Gyu yang sudah beroperasi sejak SMP? Benar itu Kau?" tanya Yoongi pada Soonyoung.
Soonyoung mengangguk, "Ya Sunbae, apa ada yang bisa kubantu?" tanya Soonyoung ramah.
BUAGH!
"Hanya itu," ucap Yoongi segera membalikkan badannya dan berucap, "Lain kali, kalau ada anggota OSIS atau kesiswaan yang yang menasihatimu, ikutilah perintahnya dan jangan membantah! Dan jangan ulangi kesalahanmu," titah Yoongi sembari pergi berlalu.
Jisoo, Seungcheol, dan Jeonghan yang sedari tadi hanya diam pun memandang Soonyoung yang tengah mengusap-usap pelipis kanannya, "Adudududuh! Sakit banget ya, Soon?" tanya Jeonghan melihat kedua pelipis Soonyoung yang berwarna merah di kiri dan biru di kanan.
Soonyoung menggerang, "Kalau kau hanya ingin menertawaiku berhentilah jadi temanku Hyung!" ucap Soonyoung sarkastik.
Jisoo, Seungcheol dan Jeonghan pun hanya terkikik geli dengan Soonyoung yang masih sibuk mengusap-usap pelipisnya. Keempat sekawan itu pun mulai kembali pada aktivitas menyesap minumannya masing-masing, sebelum menatap kalian dengan pandangan berterimakasih,
"Terimakasih yaa, yang sudah bersedia untuk mendengarkan cerita abalnya Soonyoung," -Jisoo tersenyum hangat.
"Tolong maafin aja deh ya, kalau gabungan dari ceritaku dan ceritanya Soonyoung sedikit aneh, orang ganteng mah bebas!" -Jeonghan mengibaskan rambut panjangnya.
"Bagi kalian yang baik hati, kalau berkenan tolong kasih review berupa saran, dan kritik atas ceritanya Ochi yaa," -Seungcheol kembali pada Ice cappuccino nya.
"Dan jangan lupa buat doain Soonyoung, supaya ini, bisa sembuh dan nggak lebam kayak gini yaa," -Soonyoung yang masih dengan tangannya yang mengusap-usap pelipisnya.
"Thank you guys!"
.
.
.
fin
[Khe's Note]
Annyeong kakak-kakak! Khe kembali lagi membawa lanjutan dari Segaris yang gaje ini. Sebelumnya, maafin Khee yaa buat para readers yang udah nungguin kelanjutan fanfict gaje ini, Karena serriiing banget telat dan lama apdet _ jujur, sebenernya Khe sangat terharu loh, ternyata ada juga yang niat buat baca, nge-favs, nge-review, dan nge-follow fanfict ini! Khe berterimakasih loh ya!
Dan lagi, maafin Khe deh buat chapter yang kayaknya kurang memuaskan ini, Khe tau itu cukup garing, awkward, dan aneh, tapi setidaknya, jika ada salah satu kata atau kalimat atau paragraph atau ulalala yang menganggu readers-ssi sekalian, Khe minta maaf yaa. Dan jangan lupa saran, review, masukan buat Khe, agar Khe selalu kuat untuk berkarya.
Hwaiting for All! And Thank's chinguu-yaa!
Keep RnR yap =D
By the way, anyone need a sequel? XD
-Bengkulu, 31 Maret 2018
