"Kau yakin tidak ingin kuantar sampai ke dalam?"
Haechan menggelengkan kepala, ia tersenyum tipis pada Mark yang menatapnya khawatir. "Tidak usah hyung. Lebih baik hyung segera pulang, kurasa sebentar lagi akan turun hujan." ucapnya.
Mark mengangguk maklum. Ia melepaskan seatbelt Haechan yang masih terpasang, namun anak laki-laki itu berhenti sejenak. "Haechan –ah….." panggilnya. Mark menggaruk pipinya canggung, sedikit menggigit bibir lalu berucap "Apa kau sudah punya jawaban soal pertanyaanku kemarin?"
Seketika muka Haechan memerah sampai ke telinga. Ia jadi mengingat kejadian kemarin dimana Mark memintanya untuk menjadi kekasih laki-laki itu. Haechan bingung mau menjawab bagaimana. Ini cinta pertamanya, ia tidak punya pengalaman dalam hal seperti ini.
Baiklah
Masa hanya seperti itu? Kening Haechan mengerut, merangkai kata lain yang lebih pantas.
Oke sekarang kita pacaran ya
Aduh masa begitu sih.
Iya aku juga mau menjadi kekasihmu, prince
Hoek! Haechan ingin muntah menyadari betapa konyol dirinya. Ini salah Mark yang menyebutnya princess kemarin.
Haechan jadi kesal sendiri. Tinggal menjawab 'iya' apa susahnya. Ia kan juga mempunyai perasaan yang sama seperti Mark. Ia menyesal tidak pernah mengikuti saran Jaemin yang menyuruhnya untuk mengikuti kencan buta. Sekarang ia baru sadar betapa kuper dirinya.
Berbeda dengan Haechan, Mark yang sedari tadi mengamati perubahan raut anak itu menyesal telah bertanya. Bisa saja Haechan memang belum siap untuk menjalin hubungan dengannya dan berpikir bagaimana cara menolaknya secara halus.
"Ah.. K –kalau kau memang belum siap menjawabnya tidak masalah kok" ucap Mark. Ia salah tingkah saat Haechan menatapnya dengan raut yang tidak terbaca. Jantung Mark seperti Marathon rasanya saat dipandangi netra bening itu.
"Ya sudah, masuklah ke dalam dan segera i– "
CUP
Hening–
Suara air conditioner terdengar nyaring. Baik Mark maupun Haechan tidak ada yang bersuara. Mark sampai menahan nafas, ia meraba pipinya yang baru saja ditempeli secara kilat oleh bibir Haechan.
Lembut… Kenyal… Astaga ya Lord…..
Mark tersenyum sangat lebar, tulang pipinya naik beberapa centi. Segalanya berubah menjadi hati merah muda di matanya.
"Jadi kita resmi sekarang?" cicitnya. Ia menatap Haechan yang menunduk. Rona merah terlihat jelas di pipi putihnya. Manis, batin Mark. Tidak sadar bahwa pipinya sendiri juga sudah berubah warna sama seperti Haechan.
Haechan yang sejak tadi merutuki diri sendiri mendongak, ia mengangguk samar. Melihat senyum di wajah Mark membuatnya melakukan hal yang sama. Ia takut tadi kalau Mark tiba-tiba ilfil akibat kecupan yang baru saja ia lakukan.
Haechan sendiri tidak tahu bahwa ia punya sifat seagressif ini. Kalau Jaemin tahu, pasti sahabatnya itu sudah mengoloknya habis-habisan.
"Terimakasih atas jawabanmu. Selamat istirahat, sayang"
BLUSH
Haechan tergesa membuka pintu mobil, tidak kuat jika harus berlama-lama dengan laki-laki itu. Segala yang keluar dari bibir Mark membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
"Hati-hati ya Mark hyung" ucapnya lalu berlari menuju rumah. Haechan tidak menoleh lagi, ia yakin wajahnya sudah semerah tomat.
Setelah yakin Haechan masuk ke dalam rumah. Mark membanting dahinya di atas setir. Bibirnya tertarik ke atas, ia tersenyum sendiri persis seperti orang idiot.
"Sial! Haechan manis sekali…"
.
.
PAST PRESENT FUTURE
.
.
Hujan deras membuat orang-orang berlarian menuju tempat yang teduh. Beberapa memilih untuk menunggu hujan reda di café-café yang menjual makanan dan minuman hangat. Maklum, sekarang waktunya orang pulang dari bekerja, mereka pasti juga butuh asupan makanan di tengah tubuh yang kelelahan.
Seorang pria menepuk pundaknya yang basah akibat terkena air hujan. Ia sedikit memundurkan tubuh supaya air hujan yang terjatuh dari atap Café tempat ia berdiri tidak membuatnya semakin basah.
Ten menyesal tidak membawa payung, kalau begini ia jadi tidak bisa pergi ke halte yang berada di seberang jalan. Dia ingin menerobos hujan, tapi satu tangannya yang membawa bungkusan makanan akan basah jika ia nekat melakukannya.
"Menunggu hujan reda?"
Suara di sebelahnya membuat pria itu menoleh. Ia membungkuk lalu mengangguk kecil. "Ne, sajangnim." balasnya singkat. Ia kembali melihat halte yang berjarak hanya beberapa langkah saja dari tempatnya. Bibirnya mengerecut kesal saat bis yang akan membawanya pulang terlihat melaju pelan menembus hujan.
"Aish! Sudah kubilang untuk memanggilku Yuta saja kalau kita berada di luar kantor." Balas seseorang bernama Yuta itu. "Ayo kuantar saja, sepertinya hujan tidak akan reda dalam waktu dekat" tambahnya lagi.
Ten buru-buru menggeleng. "Tidak perlu Saja –Yuta ssi… Aku bisa pulang naik bis…"
"Sejak kapan kau memanggilku dengan embel-embel ssi?" Yuta berdecak kesal, ditatapnya pria mungil yang menolak ajakannya barusan. "Ayolah Ten~ kita kan sudah bersahabat sejak lama. Jangan hanya karena kau bekerja di perusahaanku lalu kau harus bersikap seformal itu. Aku geli rasanya….."
Ten memutar bola matanya kesal. Hilang sudah sikap sopannya tadi, ia memandang Yuta yang masih memberinya puppy eyes. "Ck! Katanya kau 'sang namja'… Mana mungkin sang namja merengek seperti bayi begitu" jawabnya sakartis. "Cepat bawa mobilmu kesini….."
Seketika senyum Yuta merekah.
"Siap kapten!"
Ia memberi pose hormat lalu beranjak untuk mengambil mobil yang terparkir tak jauh dari mereka berdua.
Tidak sadar, bahwa ada seseorang yang terluka melihat pemandangan itu. Seseorang yang berdiri mematung dengan tubuh basah kuyup. Tersenyum pedih sebelum sebuah seringai tercetak kecil di bibirnya.
.
.
Derap langkah kaki menggema di lorong rumah sakit yang begitu hening. Tetesan bening sesekali turun membasahi lantai. Setelah berada di depan kamar bernomor 603, langkah kaki itu berhenti. Dibukanya pintu putih dengan pelan.
Tatapan yang tadinya penuh amarah itu melembut saat menatap sosok lemah yang terbaring diatas ranjang rumah sakit. Perlahan, ia melangkahkan kaki mendekati seorang pria yang masih setia memejamkan mata.
"Eomma…." Panggilnya lirih.
Pemilik langkah kaki itu –Jeno mendudukkan diri di kursi yang memang tersedia diamping tempat tidur.
"Bangunlah…."
Diraihnya tangan kurus yang terpasang selang infus dan tampak sedikit membengkak. Tanda bahwa tangan itu sudah lama tidak digerakkan.
"Eomma….." setitik air mata jatuh membasahi pipi anak laki-laki itu.
"Aku rindu Eomma…."
Tidak ada sahutan. Sosok yang terbaring lemah itu masih tidak mau membuka mulutnya. Bahkan untuk membuka mata untuk anaknya saja tidak bisa.
"Aku rindu masakan eomma"
Jeno tidak sanggup membendung isakan yang keluar dari bibirnya. Ia hanya seorang anak laki-laki berumur enam belas yang merindukan kasih sayang sang seorang Ibu.
"Aku rindu senyum eomma"
Hatinya sakit sekali. Jika Tuhan memberinya sebuah permohonan, ia rela menukar tubuh sehatnya untuk sang Ibu. Biar ia saja yang sakit, jangan laki-laki yang telah melahirkan dan merawatnya sejak kecil itu. Karena melihat ibunya terbaring di rumah sakit seperti ini sama saja membuatnya mati perlahan-lahan.
"Eomma…. Hiks…." Jeno meraung. Ia cium telapak tangan kurus itu berkali-kali. Betapa ia merindukan belaian dari tangan yang selalu mengusap kepalanya penuh sayang "Buka matamu… Kumohon…."
"Jeno sendirian…." Air mata itu mengalir semakin deras layaknya hujan diluar sana "Kenapa eomma tidak segera bangun? Hiks…"
Jeno mendekatkan wajahnya di atas dada Winwin –ibunya. Telinganya mendengar detakan lemah yang berada di dada kiri laki-laki yang sangat disayanginya itu.
"Jantung eomma masih berdetak…." Bisik Jeno. Air matanya membasahi baju rumah sakit yang dikenakan Winwin. "Eomma hanya tidur kan?"
"Kenapa tidur lama sekali? Apa eomma tidak rindu padaku seperti aku rindu eomma?"
Sedewasa apapun dirimu, kalau yang terbaring di atas ranjang ini adalah Ibumu. Kau juga akan merasakan sakitnya. Sekuat apapun kau mencoba untuk tidak menangis, air matamu akan keluar juga.
Jika Jeno tahu Winwin akan sakit seperti ini, mungkin dulu ia akan menjadi anak yang lebih baik lagi. Agar ibunya tidak menyesal memiliki putra seperti dirinya. Winwin tidak pernah membuka matanya lagi sejak dua tahun yang lalu, Jeno belum sempat meminta maaf atas segala kelakuan nakalnya dahulu.
Bagaimana jika Winwin tidak akan pernah membuka matanya selamanya….
Pikiran-pikiran seperti itu membuat Jeno semakin terisak.
"Eomma…. Hiks….. Kumohon bangunlah, eomma…."
Sekelebat ingatan membuat sesak di dadanya semakin kuat. "Appa jahat eomma…." Ucap Jeno di sela sengguknya. "Eomma harus bangun untuk memarahinya…."
Sekuat apapun Jeno menahan amarah dan sakit hatinya pada seseorang yang ia anggap Appa, pemandangan yang baru saja ia saksikan tadi cukup untuk membuatnya meledak.
"E –omma…. Bolehkah aku membenci appa?"
.
.
PAST PRESENT FUTURE
.
.
"Kau sudah tersenyum sejak Ibu mulai memasak sampai sekarang."
Senyum di wajah Haechan menghilang berganti dengan kerucutan lucu. Ia memandang kesal sosok laki-laki yang sedang menyuapkan nasi ke arahnya. Ia membuka mulut menerima suapan dari ibunya itu.
" Awku teihdak… Krauk… Krauk… Trsneyyumm"
Ten menggelengkan kepala melihat tingkah putranya. "Telan dulu makananmu. Kalau kau mati tersedak nanti Ibu sendirian"
Haechan mendelik, jahat sekali ibunya itu. Ia cepat menelan suapan terakhir lalu minum segelas air yang diberikan Ten.
"Aku tidak tersenyum, bu" Jelas Haechan. Ia bersendawa keras sekali, membuahkan pukulan di kepalanya. "Aduh Bu! Jangan memukul kepalaku. Nanti kalau aku tambah bodoh bagaimana?" kesalnya.
"Ck! Kalau kau bersendawa seperti babi begitu, mana ada yang mau menjadi kekasihmu" balas Ten. Ia bangun dari duduknya untuk merapikan meja makan.
"Mark hyung suka padaku kok walaupun aku suka bersendawa di depannya" kilah Haechan tak mau kalah.
"Oh jadi namanya Mark ya?"
BLUSH
Sial!
Haechan terdiam seketika. Rona merah muda kembali menjalari pipinya. Ia menatap garang Ten yang berusaha menahan tawa. Lihat saja, bibir itu berkedut-kedut cepat. Ibunya memang luar binasa!
"AKU BENCI IBU!"
Dan Ten tidak bisa menahan gelak tawanya melihat putranya yang berlari menuju kamar dengan wajah semerah tomat.
.
.
Haechan menoleh ke bangku yang berada di sampingnya. Bel masuk tinggal beberapa menit lagi, namun teman sebangkunya tidak juga menampakkan batang hidungnya.
To: Jaemin
Boncel, kau dimana?"
Send
Ia memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku celana. Dengan gelisah ia melihat guru Kim yang terkenal killer berjalan ke arah kelas. Mampus saja Jaemin jika terlambat masuk kelas, ia pasti dihabisi oleh pria tua itu.
From: Jaemin
Aku absen. Jangan rindu padaku ya gembrot.
Perempatan imajiner muncul di pelipis Haechan melihat isi pesan yang dikirimkan oleh sahabat sekaligus teman sebangkunya itu. Ia jadi ingin diet saja kalau begini.
Bel masuk terdengar nyaring, Haechan mengeluarkan buku pelajaran dari tas sekolahnya tidak semangat. Kalau tidak ada Jaemin ia pasti akan kesepian. Beberapa hari ini Jaemin tidak masuk sekolah entah karena apa. Haechan rindu mulut cabe anak itu.
"Selamat pagi Kim seongsanim"
Jantung Haechan seperti tersengat listrik mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. Bola matanya melebar melihat sosok anak laki-laki yang terengah-engah berdiri di depan pintu kelasnya.
"Ada keperluan apa, ketua osis Mark Lee?"
Suara Kim Saem terdengar sangat dingin. Haechan menundukkan kepala, tak berani melihat kekasihnya dihabisi oleh gurunya yang sangat kejam itu.
Beberapa detik terlalui namun tidak ada balasan dari Mark. Namun jantung Haechan seperti berhenti sesaat saat rambutnya diusak lembut. Sekotak susu dan roti lapis tergeletak manis di atas mejanya.
"He he he… Hanya ingin memberikan ini pada kekasihku Kim Saem. Terimakasih atas waktunya. Aku pergi dulu Saem"
Tidak ada yang bisa Haechan lakukan selain menunduk setelah Mark meninggalkan kelas tanpa mengucapkan apapun padanya. Teriakan dan suit-suit dari teman sekelasnya menggila seperi orang gila sungguhan, tidak sadar bahwa mereka masih berada di dalam kelas.
Bahkan Kim Saem yang terkenal kejam ikut memberikan suitan yang tak kalah keras dengan teman sekelasnya. Mampus sudah kalau punya pacar seperti Mark.
Jantung Haechan tidak akan kuat!
.
.
PAST PRESENT FUTURE
.
.
"Kekasihmu romantis sekali, apa dia sudah tahu kalau calon ibu mertuanya adalah jalang?"
Haechan mengepalkan telapak tangan, Jeno tengah menyeringai menghalangi jalannya.
"Minggir!" tukas Haechan. Ia bergerak ke sebelah kiri, namun Jeno melakukan hal yang sama, membuat keduanya saling berhadapan.
Haechan sedikit mendongak karena perbedaan tinggi mereka. Ditatapnya Jeno tajam, namun anak laki-laki itu tersenyum remeh seakan mengejek Haechan bahwa dia tidak takut.
"Kupikir kau tidak tahu apa-apa tentang Ibumu." Bisik Jeno disamping telinga Haechan. "Jalang itu tadi malam baru saja merayu appaku"
BUGH
Sebuah tinju melayang menghantam rahang Jeno. Haechan gemetaran, ia mengatupkan rahangnya kuat-kuat hingga urat lehernya menonjol.
"KAU PIKIR KAU SIAPA BERANI MENGATA-NGATAI IBUKU SEPERTI ITU?"
Kekehan kecil terdengar dari mulut Jeno yang sedikit sobek akibat tinjuan Haechan. Darah segar mengalir di sudut bibirnya namun segera diusap kasar.
BUGH
Haechan terpental ke belakang, punggungnya menabrak tembok kamar mandi. Ia mengerang pelan sambil memegang pipinya yang terasa sangat sakit. Jeno baru saja membalas meninjunya
"AKH…."
Teriakan kesakitan Haechan membuat seringai Jeno semakin lebar. Ia semakin bersemangat menarik surai teman sekelasnya itu.
"Katakan pada jalang itu…" desis Jeno. "Jangan pernah mendekati appaku lagi. Atau dia akan melihat anak kesayang– AKH…."
Giliran Jeno yang berteriak kesakitan. Haechan menendang tulang keringnya. Amarah Jeno semakin menguar. Ia baru saja akan menghajar Haechan sebelum sebuah suara menghentikan keduanya.
"KALIAN BERDUA! KE RUANG KONSELING SEKARANG JUGA!"
.
.
"Maafkan putraku, aku akan mendidiknya lebih baik lagi"
Haechan menahan buliran bening yang berkumpul di sudut matanya. Tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. Dadanya sesak melihat Ten membungkuk sembilan puluh derajat pada guru konselinnya dan juga pria berjas hitam yang tak lain adalah Ayah Jeno.
"Aku tahu menjadi seorang single parent sangatlah susah. Tapi kau juga harus memperhatikan perkembangan putramu."
Haechan menggertakkan giginya. "Ibuku sangat memperhatikanku, jangan bicara seolah Saem tahu mengenai beliau." bantahnya tak terima.
Ada raut terkejut di wajah orang-orang yang berada di dalam ruang itu, kecuali Jeno yang masih memasang seringainya. Haechan tidak peduli, kalau menyangkut ibunya, ia tidak akan pernah peduli pada pandangan orang-orang.
"Kau bisa lihat sendiri kan kelakuan putramu Ten –ssi"
Dada Haechan kembang kempis menahan amarah. Ia menatap tajam laki-laki sekaligus guru konselingnya itu. Kenapa semua orang tampak menyudutkan Ibunya.
Ah~~ Haechan ingat sekarang. Ayah Jeno adalah salah satu penyumbang dana terbesar di sekolah ini. Kisah klasik seperti di dalam drama Korea yang sering ia tonton. Kasta terbawah seperti dirinya tidak akan pernah mempunyai arti di sekolah ini.
"TUTUP MULUTMU SAEM…. KAU TID…."
PLAK
Pipi yang baru saja ditinju Jeno sekarang ditampar oleh tangan Ibunya. Haechan terdiam mematung. Ditatapnya Ten tak percaya, mengapa dia yang ditampar, bukankah seharusnya mulut gurunya yang harus mendapatkannya.
"Haechan –ah…" ucap Ten. "Di luar sekolah kau memang harus menghormatiku karena aku adalah Ibumu. Tapi di sekolah, kau harus menghormati gurumu karena merekalah yang mendidikmu"
Pria itu mengalihkan tatapannya dari Haechan. Ia tidak akan pernah bisa melihat binar luka yang ada di dalam netra hitam itu. Apalagi semua itu karena dirinya.
"Sekali lagi aku minta maaf Saem… Yuta ssi dan juga Jeno.. Aku akan memastikan Haechan tidak akan berkelakuan seperti ini lagi. Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku permisi"
Setelah mengatakan itu, Ten melangkahkan kaki keluar dari ruangan konseling. Tanpa membungkuk ataupun mengucapkan salam, Haechan berlari mengejar sang Ibu.
.
.
Ten berjalan beberapa langkah di depan Haechan. Ia tahu sang putra mengikutinya, tapi ia biarkan saja. Hatinya sakit, bohong kalau ia tidak merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan guru putranya itu, namun Ten bisa apa.
Ia memang membesarkan Haechan seorang diri. Ia bekerja dari pagi sampai petang, terkadang Haechan tertidur di ruang tamu ketika menunggunya pulang ketika ia harus lembur. Ia memang jarang memiliki waktu luang yang banyak dengan sang anak. Tapi Ten mengenal putranya, Haechan tidak akan melakukan hal yang tidak baik kalau tidak ada alasan yang mendasari.
Diusapnya telapak tangan yang baru saja ia gunakan untuk menampar Haechan. Seumur-umur, ia tidak pernah memukul anak itu. Hari ini ia menciptakan satu memori buruk untuknya. Air mata mengalir perlahan membasahi kedua pipinya. Ten hanya terlalu takut jika Haechan membencinya.
"Ibu…"
Panggil Haechan. Ia mengabaikan siswa lain yang melihatnya dengan tatapan penuh tanya.
"Ibu… Hiks….. " ulangnya lagi. Kali ini disertai isakan kecil.
Kesal karena tidak mendapat jawaban dari Ten, Haechan melepas sebelah sepatunya.
BRUK
Lalu melemparkan sepatu itu pada kepala Ten.
Langkah kaki mereka sama-sama berhenti. Setelah menghapus sisa air mata di wajahnya, Ten berbalik.
"BERHENTILAH!"
Ten tersentak. Ia menatap nanar Haechan yang berteriak padanya.
"BERHENTI MENYEMBUNYIKAN SEMUANYA PADAKU!"
"Ibu adalah yang terbaik." Ucap Haechan begitu pelan. Air matanya kembali mengalir membasahi pipi. "Ibu adalah satu-satunya orang yang ku punya di dunia ini."
Tangisan itu terdengar pilu. Ten mati-matian menahan air mata yang ingin tumpah.
"I –Ibu pasti terluka kan karena hal tadi?" tanya Haechan. Linangan air mata membuat wajahnya memerah karena menangis.
Ten melangkah mendekati Haechan, ia tersenyum kecil walau air matanya mulai mengalir.
"Ibu memang sedih." Balas Ten. "Tapi Ibu sedih karena tidak bisa membela Haechan di hadapan orang-orang tadi."
"Bukankah Ibu adalah orang yang payah?"
"Tidak…. Itu tidak benar…." Haechan cepat-cepat menggeleng.
Ten menangkup pipi Haechan penuh kelembutan, hatinya mengernyit perih melihat bekas tamparannya yang meninggalkan warna merah. Belum lagi warna kebiruan yang ia tak tahu darimana asalnya.
"Jeno bilang Ibu adalah jalang… Hiks…." Haechan berhenti sejenak "Padahal Ibu adalah malaikat"
Ten mengangguk, ia biarkan Haechan mengatakan semua yang ingin ia katakan. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang ingin kembali tumpah.
"Lalu kau marah karena dia mengatakan itu?" tanya Ten.
Haechan cepat mengangguk "Aku marah karena dia berani mengata-ngatai Ibu. Padahal dia tidak tahu apapun mengenai Ibu"
Ten tersenyum, dihapusnya air mata yang mengalir di wajah sang putra. "Kalau begitu kau tidak perlu marah. Kau tahu segalanya tentang Ibu kan? Jadi berhenti memikirkan ucapan orang lain yang tidak benar menurutmu" ucapnya.
"Tidak mau!" tolak Haechan. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Ibu." Haechan menundukkan kepala. "Karena aku tidak ingin melihat Ibu terluka." Ucapnya semakin lirih.
Air mata Ten mengalir semakin deras tanpa bisa ia tahan. Melihat ketulusan Haechan membuat hatinya begitu sakit entah karena apa.
"I –ibu tidak terluka…." Kata Ten. "Ibu tidak akan pernah terluka selama Haechan juga tidak terluka."
"Bagi Ibu, kebahagiaan Haechan adalah yang terpenting."
Haechan terisak semakin keras. Ia meraba wajah Ten yang basah oleh air mata. Menyesal karena ia harus bertingkah bodoh dan membuat ibunya kesusahan. Pasti Ten harus meninggalkan pekerjaannya hanya untuk datang ke sekolah.
"Maaf…." Ucap Haechan.
Ten tidak pernah mengeluh apapun padanya, sebaliknya, dirinya selalu merepotkan laki-laki itu. Segala ingatan tentang ibunya berputar cepat, ia sadar tidak ada hal lain yang pernah ia lakukan untuk membuat Ten bahagia.
"Maafkan aku…" isak Haechan.
"Maaf belum bisa menjadi anak yang baik untukmu, Bu"
.
.
.
TBC
So, yang jadi Ibunya Haechan si Ten. hahahaha
Jadi di setiap chapternya nggak akan hanya berpusat pada Haechan.
Anak Dreams nanti akan punya masalah dengan orangtua mereka yang beda2.
.
.
Aku rada sedih waktu bikin partnya Jeno nangisin winwin.
Gimana coba kalau ku ada di posisinya dia.
Tiba2 ketakutan sendiri -_-
.
.
JANGAN LUPA REVIEW YA
.
.
SALAM MARKHYUCK SHIPPER
