Chapter 2

POV: Sakura

"Kurasa gaun itu cocok untukmu," kata Ibuku saat tanganku tak sengaja menyentuh sebuah gaun berwarna putih yang panjangnya tidak sampai lutut.

"Heeh?" Aku mengerjap seraya menjauhkan tanganku dari benda itu. "Aku tidak mungkin memakai gaun sependek ini di pernikahanmu."

Ibuku tersenyum geli. "Bukan untuk pernikahan. Tapi untuk perlombaanmu bulan depan!" koreksinya.

Aku tersenyum tipis. "Saat ini aku tidak terlalu memikirkan perlombaan itu, Kaa-san," kataku, kemudian melihat-lihat gaun lain. Sebuah gaun putih dengan panjang sampai ke mata kaki membuatku tertarik. Terdapat beberapa sulaman dan manik-manik merah jambu yang bertebaran di kain borkatnya. Kurasa, Ibuku akan senang bila aku memakainya.

"Gaun itu bagus juga," komentar Ibuku. Aku tersenyum dalam hati. "Kalau begitu kita beli yang ini saja. Aku yakin, saat kau memakainya nanti, kedua putra Uchiha akan terpukau melihatmu."

Aku memutuskan tidak menanggapi pujiannya yang terakhir. "Ngomong-ngomong, Kaa-san, siapa nama putra-putranya?"

"Uhm," Ibuku berpikir sebentar. "Kalau tidak salah, putra pertama bernama Itachi dan yang kedua bernama Sasuke. Mereka berdua bersekolah di sekolah barumu. Kupikir kau sudah mengenalnya!"

Aku mendelik. Bagaimana aku bisa mengenalnya kalau aku baru masuk kemarin? Dan kenapa pula Ibuku tak memberitahuku hal sepenting ini?

"Kau mau mencoba gaunnya, Sakura?" tanya Ibuku. Ia menyodorkan gaun panjang itu ke tanganku. Aku menerimanya dan membawanya ke kamar ganti.

Naruto ©MasashiKishimoto

My Strange Sister ©VannCafl

Pairing: Sasuke x Sakura

Genre: School, Family, romance.

Rate: M

Anak yang belum bijak dilarang baca. Risiko tanggung sendiri (tau, deh, risikonya apaan).

Hope you like it.

Setibanya di kamar ganti, aku langsung memakai gaun itu kemudian mematut diri di depan cermin. Aku menarik nafas perlahan untuk menenangkan diriku. Entah kenapa, pernyataan bahwa Ibuku menikahi ayahnya Sasuke membuatku shock meski sudah menduganya tadi siang. Setelah cukup tenang, aku merapikan rambutku kemudian keluar ruangan. Tatapanku langsung beradu dengan tatapan mata hitam gelap, yang seharusnya sudah akrab denganku karena tadi siang kami juga bertatapan. Hanya saja, tatapannya kali ini menyorotkan rasa terkejut.

"Uchiha Sasuke," gumamku kaget. "Kenapa kau bisa ada di sini?"

Sekejap kemudian, tatapannya kembali dingin seperti biasa. "Ibumu memang menyuruh kami datang ke sini," jawabnya ringan. Ia menelengkan kepalanya ke arah Ibuku yang sedang tersenyum pada kami berdua. "Senang bertemu denganmu, calon adik."

Aku mengerutkan kening. "Kau belum terlalu mengenalku untuk memutuskan siapa yang jadi adik di antara kita!" kataku.

Dia memutar bola matanya. "Jadi aku harus memaksamu menjadi adikku?" tanyanya dengan nada mengancam.

"Mau kau memaksa atau menyiksaku sekalian, aku tidak akan sudi jadi adikmu," kataku sebal. "Tidak akan pernah."

"Gadis menyebalkan!" gumamnya, kemudian mendekati Ibuku yang sedang bicara dengan seorang pria yang sepertinya adalah ayah Sasuke.

Aku menggeram. Dasar laki-laki sialan! Memangnya dia siapa sampai bisa mengataiku begitu?! Dia juga memaksaku jadi adiknya padahal kami seumuran. Seharusnya aku yang menganggapnya menyebalkan!

Tiba-tiba seorang anak laki-laki yang sepertinya lebih tua beberapa tahun dariku, berjalan ke arahku. "Aku suka gaunmu," pujinya, tanpa memperdulikan ekspresi wajahku yang sudah seperti pembunuh berdarah dingin ini. "Namaku, Uchiha Itachi."

Oh, jadi dia kakaknya Sasuke? Kuharap dia tidak semenyebalkan adiknya. "Namaku Haruno Sakura," balasku. "Dan jika kau juga memaksaku jadi adikmu, aku tak akan mengganti namaku jadi Uchiha Sakura."

Dia tertawa kecil. Entah mengapa, melihat itu membuat suasana hatiku membaik. "Jadi Sasuke memasamu jadi adiknya, ya?" katanya, tersenyum geli. "Tenang saja, Sakura! Aku tak akan memaksamu jadi adikku. Aku tak punya sistem senioritas seperti yang dimiliki Sasuke."

Aku menghela nafas. "Baguslah kalau begitu," ujarku lega. "Jadi aku hanya perlu berurusan dengannya."

"Dia mengancammu, ya?" duganya. Anehnya, sangat tepat. "Kusarankan, jangan ditanggapi serius. Dia memang seperti itu."

"Seperti apa? Sadis, maksudmu?"

Itachi menggeleng cepat. "Bukan!" katanya keras. "Justru dia sangat jauh dari sadis. Dia baik dan penurut. Tergantung bagaimana sifatmu padanya."

Aku merungut. "Tapi seharian ini dia bersikap dingin padaku. Padahal aku tidak melakukan apa-apa!" Entah mengapa aku malah mengadu padanya. Mungkin karena aku mulai mempercayainya. Lagi pula, dia akan jadi kakakku. Tidak ada salahnya, kan?

POV: Sasuke

Aku ingin sekali memberitahu gadis itu bahwa gaun yang ia pakai memiliki potongan yang terlalu rendah hingga membuatku—mungkin juga orang lain yang melihatnya—tidak suka. Karena aku bisa leluasa melihat dadanya yang, meskipun rata seperti papan, membuatku sulit mengalihkan pandanganku darinya. Dan aku semakin tidak suka bila ada orang lain yang melihatnya. Arrgh! Belum-belum, insting ke-kakak-an ku sudah tumbuh, padahal gadis itu belum setuju jadi adikku.

"Kau bertengkar dengan calon saudaramu?" tanya ayahku, tiba-tiba. Padahal tadinya ia sedang fokus bercanda-ria dengan calon istrinya. Tak kusangka ia juga memperhatikanku.

"Hanya kurang akrab," jawabku jujur. Aku selalu jujur pada ayahku. "Dia menolak jadi adikku."

Mata ayahku membulat. "Padahal dia lebih muda darimu," katanya, terkejut.

Aku mendengus. "Dia berkata aku tidak terlalu mengenalnya, padahal dia yang tidak mengenalku. Buktinya dia tidak tahu umurnya nyaris setahun lebih muda dariku."

"Kalau begitu perkenalkan dirimu padanya," saran Haruno-san. "Dan tunjukkan padanya siapa yang paling berhak jadi kakak! Kau tahu, Sakura bukan orang yang mau menurut pada Senpai-nya hanya karena mereka lebih tua."

Aku menjilat bibir. Kalau begitu dia salah karena menyamakan aku dengan Senpai-nya! batinku.

.

.

.

"Gadis itu cantik," gumam Jugo, saat kami berempat sedang makan di kantin—entah siapa yang dia komentari. Sebenarnya, setiap hari sekolah mengirim makanan ke kelas A agar siswanya tidak perlu jauh-jauh ke kantin sekolah yang terletak di lantai 16, tapi sebagai pemberontak sejati, aku malas tetap di kelas dan menunggu makanan. Karena itu saat istirahat berlangsung, aku dan teman-temanku sudah standby di salah satu meja paling sudut yang biasanya nyaman untuk mengobrol dan bebas dari ancaman tersenggol orang lain. Kami memesan banyak makanan dan minuman yang sebenarnya nyaris tak bisa kami habiskan, kemudian meng-upload foto kami ke sosmed-ku. Setelah itu, kami bisa merasakan irinya anak-anak di kelasku karena tidak bisa makan sebanyak kami. Oke, hiraukan kalimat yang terakhir. Aku hanya mencoba bersenang-senang setelah menyelesaikan test mingguan yang melelahkan, bersama teman-temanku.

Awalnya, semua terasa menyenangkan dengan makanan, komentar positif di sosmed, serta candaan dari Suigetsu. Tapi saat aku mendengar obrolan dari anak-anak di meja sebelah, mood-ku turun drastis.

"Tahu, nggak? Kemarin, saat aku menemani sepupu-ku ke club, aku melihat Sakura ada di sana!" kata salah satu gadis yang rambutnya pirang dan dikucir dua. "Bajunya terbuka sekali dan dia memesan minuman.. kalian tahu kan minuman yang paling berat di sana?"

"Unbelievable," gumam gadis lainnya yang rambutnya hitam sebahu. "Ini Sakura loh, gadis yang datang ke sekolah dengan Itachi-sama pagi ini! Dia tak mungkin seperti itu, ya, kan?"

Gadis berkucir tadi berdecak. "Kau boleh mengecek-nya sendiri! Dia sering datang ke club Canvas!" katanya keras. "Lagipula, kita memang harus selektif dengan gadis-gadis yang berani mendekati Itachi-sama! Hanya karena dia dekat dengan Itachi-sama bukan berarti dia gadis baik-baik, kan?"

Gadis berambut coklat mengangguk-angguk. "Benar banget," gumamnya. "Bagaimana kalau kita selidiki nanti?"

"Setuju!"

Aku cemberut. Jadi, tanpa sepengetahuanku, Itachi menjemput Sakura dan berangkat bersama ke sekolah? Kalau dia melakukannya dengan dasar suka, berarti dia tak punya rasa kasihan pada Sakura. Habisnya, ada larangan tak tertulis di sekolah. yaitu, selain gadis populer dan berkarisma sekelas artis, dilarang mendekati Uchiha Itachi. Sekali pun kau tetangganya, teman dekatnya, teman SMP-nya, atau apa lah yang terdengar lebih lama. Singkat kata, dengan mengajaknya pergi bareng tanpa menegaskan bahwa status hubungan mereka hanyalah (calon) saudara, Itachi telah membahayakan Sakura.

"Jadi kau mau membantunya?" bisik Jugo.

Aku mengedikkan bahu dan menyeruput teh-ku. "Mungkin aku hanya akan datang ke Canvas dan mengecek apakah ia memang ada di sana atau tidak."

"Wow, haruskah kami ikut?" tanya Suigetsu. Aku melirik wajah Karin dan gadis itu terlihat keberatan.

"Memangnya kalian ada acara penting apa malam minggu begini?" tanyaku. "Kalian tidak bosan ya, main di rumah satu sama lain? Ayo lah! Kita sudah lama tidak ke club!"

Karin mengacak-acak rambutnya yang berwarna merah terang. "Uhm, sekali ini aku menolak," katanya pelan. "Karena aku dan Suigetsu juga sudah lama tidak.. kau tahu lah."

"Apa?" Aku menatapnya, tak percaya. Karin hanya memasang wajah bersalah yang terlihat sok innocent bagiku. Entah kenapa, sejak dulu aku bisa membaca perasaan orang lain yang sebenarnya hanya dengan melihat wajahnya. Jadi, meskipun seseorang sedang tersenyum, bisa saja dia sedang bersedih atau kebingungan.

"Aku juga tak bisa ikut," kata Jugo. "Aku punya janji dengan seorang gadis, yang.. kau tahu.. pokoknya kami sedang pendekatan."

"Oh, ayolah.." bujukku sekali lagi, nyaris merengek. Tapi wajah teman-temanku tidak menunjukkan niat mengikutiku. Aku mendecak. "Arrgh, kalian yang punya pacar benar-benar menjengkelkan."

Karin tergelak. "Kau akan tahu pentingnya keintiman saat kau punya gadis yang kau suka, Sasuke!" katanya sok menggurui.

Aku hanya memutar bola mataku.

Seorang Uchiha Sasuke sepertiku jatuh cinta? Jangan bercanda. Aku hanya mengenal nafsu. Cinta hanya diperuntukkan para pria malang yang menganggap gadisnya tulus mencintainya. Sementara aku, aku yakin sekali orang-orang yang mencintaiku hanya karena fisik dan material yang kupunyai—kecuali keluargaku sendiri. Begitu pula dengan wanita-wanita yang menyukai ayahku. Bagiku, tak ada namanya cinta tulus di dunia ini.

To be continued.

a/n: jumlah kelas di sini sama dengan jumlah alfabet.. ^_^ makasih udah review, ya, minna-san..