Cklek.

Tiba-tiba pintu kamar mandi didepannya terbuka dan menampilkan seorang namja yang err— sexy. Badan yang tinggi dan tegap, kulit tan-nya yang eksotis, abs yang tercetak sempurna dibagian perut, air yang menetes dari rambut basahnya, dan ditambah namja itu hanya memakai bathrobe berwarna putih yang sedikit mengekspos bagian perut hingga dada sangat cocok dipakai olehnya. Namun bukan hal-hal nista itu yang membuat Wonwoo terkejut, melainkan karena sosok namja yang ada didepannya ini...

"M-Mingyu?"


OH MY GOD!

Chapter 2

Flashback.

Bugh duagh plak

"Arrgghh... Ku mohon hentikan, hiks.. Ini sakit sekali. hikss... hiksss..." Rintih seorang bocah berkulit pucat.

"Serahkan dulu mainanmu itu! Kalau tidak, aku akan merebutnya dari tanganmu! Atau kau mau aku pukul terus menerus hingga tubuhmu tak berdaya, hah?" Geram bocah lainnya yang kini masih setia memukul bocah pucat tadi.

"Shirreo! Aku tidak mau! Ini adalah mainan pemberian halmeoni yang paling aku sayangi... Arrghh." Jawab bocah pucat itu sambil mengerang kesakitan akibat beberapa pukulan yang melayang diperutnya.

"Dasar keras kepala! Akan kupukul kau sam—"

"Hentikan!" Teriak seorang bocah berkulit tan yang kini berhasil mencegah kepalan tangan yang sudah bersiap melayang —lagi— diperut bocah pucat tadi.

"Apa kau tidak malu berkelahi dengan orang yang lebih kecil darimu? Apa kau tidak ada kerjaan lagi selain membuat orang lain menangis? Atau... apakah ini hobimu yang suka merampas mainan orang lain? Cih, ternyata badan saja yang besar, tapi sepertinya ukuran otakmu justru berbanding balik dengan tubuhmu." Tambah si bocah berkulit tan.

"Wae? Memangnya kau siapa, hah? Berani-beraninya kau ikut campur! Dasar kurang ajar!"

Brakk dugh buagh

Dan terjadilah perkelahian antara bocah perampas tersebut dengan bocah berkulit tan. Sedangkan, si bocah pucat hanya bisa melihatnya sambil meringis menahan sakit di area perutnya. Tetapi, perlu kalian ketahui bahwa didalam matanya terpancar akan rasa kagum yang teramat sangat kepada bocah berkulit tan.

Duagh!

Satu pukulan terakhir yang cukup keras dari bocah berkulit tan berhasil mendarat dengan mulus diwajah bocah perampas.

"Sepertinya sudah cukup. Aku tidak mau tanganku yang indah dan halus ini menjadi ternodai akibat terus memukulimu." Ucap bocah berkulit tan dengan santainya.

"Aish! Kau... Dasar sialan!" Tampak sangat jelas bahwa si bocah perampas sangat kesakitan akibat wajahnya yang babak belur. Ia pun segera berlari meninggalkan si bocah tan dan bocah pucat.

"Hey, kau tidak apa-apa?" Tanya bocah berkulit tan.

Sang bocah pucat masih belum tersadar dari rasa keterkagumannya. Jujur, ia belum pernah melihat orang sehebat itu sebelumnya. Gaya berkelahinya, cara berbicaranya, dan juga wajah tampan milik bocah berkulit tan tersebut telah berhasil menghipnotis dirinya.

"Hey?" Ia meninggikan nada suaranya karena merasa tidak ada respon dari bocah didepannya.

"Y-ya?"

"Kau tak apa?"

GREP

Sontak saja, bocah pucat tersebut langsung memeluk bocah yang bertubuh lebih tinggi dan berkulit kontras darinya.

"Hiks.. Hiks... Wonwoo takut... Wonwoo takut kalau bocah tadi mengambil mainan Wonwoo." Ucap Wonwoo —bocah berkulit pucat— sembari terisak didekapan bocah berkulit tan.

"Sssttt, tenanglah. Semuanya sudah aman sekarang, toh bocah itu juga sudah pergi. Lagipula, jika bocah itu berani mengganggumu lagi, aku tidak akan segan-segan mengeluarkan jurus pukulan mautku." Bocah berkulit tan itu menenangkan Wonwoo dengan mengusap-usap lembut surai hitamnya.

"Aku sangat berterima kasih padamu, aku tidak tahu apa yang terjadi jika tadi kau tidak datang." Wonwoo semakin mengeratkan pelukannya.

"Kau tahu? Kau tadi terlihat sangat hebat saat berkelahi. Apa kau seorang atlet Taekwondo? Ah... Pasti kau sudah menyandang sabuk hitam ya?" Puji Wonwoo kepada bocah berkulit tan.

"Haha, kau berlebihan sekali. Aku bukan pemegang sabuk hitam, bahkan aku bukan seorang atlet Taekwondo. Sepertinya bakat berkelahi sudah ada pada diriku sejak lahir." Penjelasan dari bocah berkulit tan itu membuat Wonwoo terkekeh kecil. Bocah berkulit tan itu pun ikut tersenyum ketika menyadari bahwa isakan Wonwoo sudah mulai mereda.

"Sekali lagi aku berterima kasih padamu, eung...?"

"Kim Mingyu. Kau bisa memanggilku Mingyu." Jawab Mingyu —bocah berkulit tan— yang seolah mengerti akan tatapan bingung Wonwoo.

"Apa perutmu masih sakit?" Dapat terlihat kekhawatiran yang menghiasi wajah tampan Mingyu.

"Perut Wonwoo sakit sekali, hiks..."

"Sepertinya kau kesulitan berjalan. Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang, Wonwoo." Mingyu mengangkat lengan kanan Wonwoo dan dengan segera ia topangkan pada bahunya. Tangan yang satunya ia gunakan untuk membawakan mainan milik Wonwoo.

Hening. Hanya suasana hening yang menemani perjalanan mereka.

"Eum... Kau berasal darimana, Wonwoo? Kenapa aku tidak pernah melihatmu sebelumnya?" Mingyu memberanikan diri untuk membuka percakapan, ya meskipun agak sedikit canggung sih.

"Sebenarnya aku berasal dari Changwon, tapi aku dan keluargaku baru pindah ke Seoul kemarin." Jelas Wonwoo.

"Ah, kau dari Changwon? Pantas saja aku tidak pernah melihatmu sebelumnya kekeke." Kekeh Mingyu.

Suasana diantara mereka kini sudah mencair. Sudah tidak ada lagi keheningan, melainkan suara tawa dari Mingyu karena cerita-cerita lucu pengalaman Wonwoo saat berada di Changwon. Terkadang, Mingyu juga tersenyum melihat tingkah Wonwoo yang imut dan menggemaskan.

"Kau bisa berhenti mengantarkanku disini, Mingyu-ya." Wonwoo menarik tangannya dari bahu Mingyu.

"Kau tinggal disini?"

"Ya, memangnya rumahmu ada disebelah mana?" Wonwoo balik menanyai Mingyu.

"Woah, itu artinya kita bertetangga, Wonwoo! Rumahku hanya berjarak sekitar 500 meter saja dari rumahmu." Raut wajah Mingyu terlihat senang kala mengetahui ternyata Wonwoo adalah tetangganya.

Wonwoo ikut tersenyum lebar dan ia juga sudah melupakan rasa sakit diperutnya tadi. Wonwoo senang bukan main. Itu artinya mereka akan sering bertemu, kan?

"Kalau begitu, sampai jumpa lagi besok. Bye Mingyu!"

"Bye! Beristirahatlah yang cukup, dan jangan lupa untuk mengobati lukamu!" Mingyu melambaikan tangannya seraya berlari meninggalkan Wonwoo.

"Tentu!" Wonwoo tersenyum memandangi punggung Mingyu yang kini sudah mulai menjauh.

-ooo-

Teng teng teng

Terdengar suara bel yang mengalun cukup keras di Seoul Elementary School yang menandakan bahwa sekarang sudah saatnya siswa-siswa sekolah dasar tersebut memasuki ruang kelas masing-masing.

Mingyu yang kini mendudukkan bokongnya dibangku paling pojok, tengah asyik membaca buku komik naruto favoritnya. Ya, ini memang sudah menjadi hobinya sejak dulu yang suka membaca komik.

"Yak, Kim Mingyu! Apa kau tidak lihat Park Seonsaengnim sudah memasuki kelas, eoh? Dan apa ini... Kau membeli komik baru lagi? Oh, yang benar saja, kau bahkan tidak membelikan komik titipanku." Kesal bocah bermata sipit bernama Kwon Soonyoung.

"Ck, kau cerewet sekali Soonyoung. Iya-iya, nanti kalau sempat akan aku belikan." Jawab Mingyu malas tanpa menatap Soonyoung. Ia masih setia membaca komik favoritnya.

"Anak-anak, pagi ini kita kedatangan murid baru. Kemarilah nak, perkenalkan dirimu didepan teman-temanmu." Perintah Park Seonsaengnim kepada anak baru.

"Annyeonghaseyo. Namaku adalah Jeon Wonwoo, kalian bisa memanggilku Wonwoo. Umurku 12 tahun. Aku berasal dari Changwon, tetapi aku dan keluargaku baru saja pindah ke Seoul dua hari yang lalu. Aku harap kalian mau berteman baik denganku."

Terdengar suara tepuk tangan dan sambutan hangat dari siswa kelas 6 kepada anak baru itu. Mingyu yang mendengar nama Wonwoo dengan segera mengalihkan pandangannya dari buku komik yang sedari tadi ia baca. Dan ternyata benar, anak baru itu adalah anak berkulit pucat yang kemarin ia tolong.

"Baiklah Wonwoo-ya, sekarang kau boleh duduk. Berhubung Seungkwan hari ini sedang tidak masuk, kau akan duduk bersama Mingyu. Dan Mingyu, jadilah teman yang baik untuknya." Park seonsaengnim menunjuk bangku kosong yang berada disebelah Mingyu.

"Siap, Park saem!" Jawab Mingyu dengan semangat.

"Hai, Wonwoo! Woah, hari ini adalah hari terbaik dalam hidupku. Kau pindah ke Seoul Elementary School dan satu bangku denganku? What a happy day!" Mingyu kini tersenyum dengan lebar menatap Wonwoo yang duduk disebelahnya.

"Hahaha kau berlebihan sekali, Mingyu-ya."

Blush

Mingyu dapat melihat rona merah yang tercetak samar-samar dipipi Wonwoo. Ugh, dia benar-benar menggemaskan!

-ooo-

Sudah satu bulan Wonwoo dan Mingyu bersahabat. Sudah satu bulan Wonwoo bisa mengetahui jauh lebih banyak hal tentang Mingyu. Dan juga sudah satu bulan Wonwoo memendam rasa kepadanya. Tidak bisa dipungkiri lagi, Wonwoo memang sudah menaruh hati kepada Mingyu sejak pertemuan pertama mereka.

"Mingyu?" Tanya Wonwoo kepada Mingyu setelah es krim pesanan mereka datang. Ya, sekarang mereka berdua sedang berada di tempat favorit mereka, kedai es krim.

"Hmm?" Mingyu masih menatap es krim cokelatnya dengan antusias.

"Sepertinya aku suka dengan seseorang." Wonwoo memutar-mutar ujung sendok es krim miliknya.

"Mwo? Siapa dia, Wonwoo-ya? Apa dia lebih tampan dariku? Lebih tinggi dariku? Apakah dia lebih jago berkelahi dariku? Apa dia bisa menjagamu seperti yang aku lakukan? Katakan padaku kalau nanti dia menyakitimu! Aku dengan senang hati akan memberinya bogeman terbaikku!" Mingyu menghujani Wonwoo dengan berbagai pertanyaan. Sedangkan Wonwoo hanya bisa terkekeh.

"Hey, hey. Kau ini bukan wartawan, Kim. Kenapa kau membombardirku dengan banyak pertanyaan, huh? Dan satu lagi, kalau makan jangan sambil berbicara! Lihatlah ujung bibirmu, kau membuatku gemas saja." Wonwoo menunjuk ujung bibir Mingyu yang belepotan segera menghapus noda tersebut menggunakan tisu.

"Aku kan hanya penasaran saja." Mingyu mem-poutkan bibirnya.

"Baiklah, akan ku jawab pertanyaanmu, Mingyu-ya. Dia adalah seseorang yang lebih tampan, lebih tinggi, lebih jago berkelahi, dan bahkan dia lebih hitam darimu. Entahlah, tapi aku yakin dia pasti akan melindungiku dan menjagaku lebih baik darimu."

"Benarkah itu?" Wajah Mingyu tampak sedih saat Wonwoo menjawab pertanyaannya.

"Tentu saja! Namanya adalah... Kim Mingyu."

Dengan refleks, Wonwoo menunduk untuk menyembunyikan semburat-semburat merah yang menghiasi pipinya.

"..."

Tidak ada jawaban dari Mingyu. Tiba-tiba tubuh Wonwoo melemas. Bagaimana jika Mingyu tidak menyukainya? Dan bagaimana jika setelah ini dia tidak mau berteman dengannya lagi?

"Maafkan aku, Mingyu. Aku tau kau pasti tidak menyukaiku, kan? Maaf karena aku telah blak-blakan menyatakan perasaanku ini. Aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya saja. Kalau kau tidak menyukaiku juga tidak apa-apa. Tapi, kumohon jangan membenciku. Biarkan kita tetap berteman seperti sekarang ini, Mingyu-ya." Mata Wonwoo kini sudah mulai berkaca-kaca.

"Bagaimana kalau aku juga menyukaimu?"

"H-hah, maksudmu?" Wonwoo membelalakkan matanya.

"Aku juga menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu. Aku merasa nyaman dan hangat saat berada didekatmu, Wonwoo. Walaupun kita masih kecil, tapi tidak ada salahnya kan kalau kita mencoba? Aku ingin membuat masa kecilku ini bahagia dengan kau yang terus berada disisiku."

Seketika itu, Wonwoo langsung melompat ke pelukan Mingyu dan menangis bahagia. Ternyata dia juga menyukai Wonwoo!

"Saranghae, Kim Mingyu."

"Nado saranghae, Jeon Wonlu."

"Yak! Kau memanggilku apa tadi?!" Ucap Wonwoo seraya mencubit pelan lengan Mingyu.

"Aish, sakit tau. Aku memanggilmu 'Wonlu'. Apa itu salah? Menurutku nama itu sangat menggemaskan dan cocok untukmu." Mingyu menjelaskan dengan wajah polosnya.

"Kekeke yasudah terserah kau sajalah. Kajja, kita makan es krimnya!"

-ooo-

Tidak terasa hubungan Wonwoo dan Mingyu sudah terjalin selama 6 bulan lamanya. Hari-hari mereka penuh akan momen-momen kecil yang manis. Walaupun terbilang masih kecil, tetapi mereka berdua berjanji untuk saling menjaga dan tidak menyakiti satu sama lain.

"Mingyu-ya, kau mau meneruskan sekolah menengah pertamamu dimana?" Tanya Wonwoo pada Mingyu yang sedang asyik membaca komik.

"Hmm... Molla?" Mingyu mengalihkan pandangannya dari buku komik tersebut dan menatap ke arah wajah Wonwoo. Wajahnya terlihat agak ragu saat menjawab pertanyaan Wonwoo.

"Apa maksudmu dengan 'molla'? Apa kau belum memutuskannya sama sekali?"

"Eum, aku masih belum tahu. Kalau kau bagaimana, Wonwoo?"

"Aku akan meneruskannya di Seoul Junior High School, Gyu-ya. Apa kau tidak ingin mendaftar ke sekolah yang sama denganku?"

Mingyu terdiam. Dipikirannya terlintas bayang-bayang, tepatnya saat ia tengah menguping percakapan kedua orang tuanya. Mingyu tau, sebenarnya yang ia lakukan ini sangatlah tidak sopan. Malam itu, Mingyu teramat sangat terkejut saat mendengar appa-nya yang mengatakan bahwa ia akan melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama di New York. Ini yang membuat Mingyu kesal. Appa-nya selalu saja bertindak seenak hati tanpa memikirkan persetujuan darinya terlebih dulu.

"Ah, nanti akan ku pikirkan. Tentu saja aku ingin satu sekolah lagi denganmu, Wonwoo."

Tanpa Wonwoo sadari, Mingyu tersenyum pahit.

-ooo-

Keesokan harinya, tampak wajah Wonwoo yang entahlah, kurang bersemangat mungkin? Ia memandang bangku kosong yang berada disebelahnya. Sudah sejak pagi tadi Wonwoo tidak bersemangat karena kekasih kecilnya itu tidak hadir ke sekolah.

"Hey, Wonwoo-ya. Kau kenapa? Apa kau sakit?" Tanya Jisoo sambil memegang dahi Wonwoo.

"Tidak, aku hanya kurang bersemangat saja hari ini." Balas Wonwoo dengan malas.

"Oh, pasti gara-gara Mingyu tidak masuk sekolah ya? Apa aku benar?" Soonyoung menaik turunkan alisnya, ia pasti mengira bahwa tebakannya benar.

"Huft, ya begitulah." Dan tebakan Soonyoung memang benar.

"Ah kalau begitu, berarti Mingyu yang sakit. Bukan kau, Wonwoo." Tambah Jisoo.

"Molla, aku juga tidak tahu. Biasanya kalau tidak masuk, dia akan menitipkan surat ijinnya kepadaku. Tapi, kok kali ini tidak ya?" Wonwoo mengetuk-ngetukkan tangannya diatas meja. Ia seperti merasakan ada sesuatu yang... aneh?

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita menjenguk dia sepulang sekolah nanti?" Tambah Soonyoung.

"Saranmu kali ini oke juga, Kwon Soonyoung." Ujar bocah berparas bule yang bernama Hansol. Wonwoo menganggukkan kepalanya pertanda ia setuju dengan perkataan Hansol.

"Hehe, bisa saja." Soonyoung tersipu saat mendengar pujian Hansol. Cih, dasar lebay.

"Menurutku, sebaiknya kalian jangan menjenguknya dulu. Bagaimana kalau dia sedang beristirahat? Bukankah kalian justru akan mengganggunya? Kalau Mingyu tidak masuk lebih dari 3 hari, barulah kalian boleh menjenguknya." Jelas Jisoo panjang lebar yang langsung diangguki oleh Wonwoo dan sahabat-sahabatnya.

-ooo-

Ini sudah hari ketiga Mingyu tidak masuk sekolah. Apa ia benar-benar sakit? Sepertinya Wonwoo memang harus pergi kerumahnya sepulang sekolah nanti.

At Mingyu's Home

Tok tok tok

"Ya? Ada yang bisa saya bantu, nak?" Muncul seorang wanita paruh baya dari balik pintu.

"Annyeong. Saya Jeon Wonwoo, temannya Kim Mingyu. Tapi maaf, ahjumma siapa ya?" Wonwoo mengernyitkan dahinya kala muncul seorang ahjumma berwajah asing yang tak pernah ia temui sebelumnya dirumah mewah milik Mingyu.

"Mingyu? Ah, maksudmu anak dari keluarga Kim? Maaf nak, tapi keluarga Kim sudah pindah ke luar negeri 2 hari yang lalu."

"A-apa? Pindah?" Wonwoo membulatkan matanya seolah tak percaya apa yang dikatakan oleh ahjumma didepannya.

"Ya, apa temanmu itu tidak memberitahumu sebelumnya?"

"Ah, dia memang tidak memberitahuku sebelumnya. Ngomong-ngomong, terimakasih atas informasinya. Maaf telah mengganggumu, ahjumma." Wonwoo membungkuk kepada wanita paruh baya tadi seraya meninggalkannya.

Marah. Sedih. Kecewa. Kesal. Rasanya Wonwoo ingin sekali berteriak sekencang mungkin.

"Aaarrgghh, keterlaluan kau Kim Mingyu!"

Dan perlahan butiran-butiran kristal mengalir membasahi pipi putihnya. Mingyu benar-benar keterlaluan. Kenapa ia tidak memberitahunya sama sekali kalau dia akan pindah? Apa Mingyu sudah lupa dengan janji mereka untuk tidak saling menyakiti satu sama lain?

Flashback end.

-ooo-

"M-mingyu?" Wonwoo teramat sangat terkejut ketika mendapati Mingyu yang keluar dari kamar mandi.

"Jeon Wonwoo? Apa yang kau lakukan disini?"

Walaupun saat ini Wonwoo sedang terkejut, namun disatu sisi ia merasa lega ternyata Mingyu masih mengingat namanya.

"A-apa maksudmu? Ini adalah kamarku. Jangan bilang, kau juga mendapatkan kamar ini?!"

"Hng, begitulah."

Wow, ini gila! Wonwoo satu kamar dengan Mingyu yang notabene adalah —mantan— kekasihnya dulu? Wonwoo merasa dirinya lebih menyedihkan daripada Jihoon yang sekamar dengan Soonyoung. Mau jadi apa jantungnya nanti kalau ia bertemu dengan Mingyu terus? Bisa-bisa kau akan terkena serangan jantung, Jeon Wonwoo yang malang.

Ada secercah perasaan senang didalam hati kecil Wonwoo. Ia senang karena bisa satu kamar dengan seseorang yang masih dicintainya. Itu berarti, ia bisa bersama Mingyu setiap saat, kan?

Tidak ada pembicaraan. Mereka berhadapan namun saling terdiam dan sibuk dengan aktivitas masing-masing. Mingyu yang mengeringkan rambut dengan handuknya dan Wonwoo yang masih sibuk berkutat dengan pikirannya.

Cklek

"Hey Wonwoo!" Terdengar suara seseorang yang memecah keheningan diantara kedua insan yang sedari tadi terdiam itu.

"Oh, ternyata kau, Hansol." Wonwoo melihat Hansol yang muncul dari balik pintu.

"Wow, Kim Mingyu? Kau satu kamar dengan Wonwoo?"

"Hng." Mingyu menjawab pertanyaan Hansol dengan singkat. Ia masih sibuk mengeringkan rambut dengan handuknya.

"Yo, wassup! Bagaimana kabarmu? New York sepertinya telah berhasil membuatmu menjadi semakin tampan, bro!" Hansol berjalan kearah Mingyu lalu memandangi tubuhnya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.

"Haha. Kau juga semakin tampan saja, Hansol-ah. By the way, kau kemanakan kacamata bulat dan behelmu itu?"

"Ck, bukankah dari dulu aku sudah tampan? Ah, aku sudah meloakkannya. Mau jadi apa kalau sekarang aku masih memakai kacamata dan behel? Itu sangat kuno dan sudah tidak trend lagi, man!"

Wonwoo merasa ada yang aneh dengan Mingyu. Kenapa ia terlihat santai saja saat berbicara dengan Hansol? Sedangkan, kenapa Mingyu sangat cuek saat berbicara dengan dirinya?

"Ehem... A-aku mau mandi sebentar."

Hansol dan Mingyu yang terlalu asyik mengobrol, sampai-sampai tidak menghiraukan Wonwoo yang sedari tadi berdiri dibelakang mereka.

"Okay, jangan lama-lama. Habis ini aku dan teman-teman akan ke cafetaria lantai bawah. Kau mau ikut?" Hansol bertanya kepada Wonwoo dan dibalas dengan anggukan kepala darinya.

-ooo-

Wonwoo dan Hansol kini berjalan menuju cafetaria yang berada di lantai 1. Mereka melihat sahabat-sahabatnya yang ternyata sudah sampai duluan disana.

"Hey, kalian mau pesan apa?" Minghao menanyai Wonwoo dan Hansol yang baru saja datang.

"Aku pesan strawberry milksquash dan cheesecake saja." Wonwoo mengambil kursi dan duduk disebelah Jihoon.

"Oke. Kalau kau Hansol?"

"Aku tidak pesan apa-apa, aku sedang ingin diet."

"Cih, bilang saja kau tidak bawa dompet." Strike! Kau benar sekali, Chan.

"Hehe. Kamu kok tau sih, Chan sayang?" Hansol sedikit malu saat Chan membongkar aibnya.

"Hmm, sudah kuduga. Dasar bule pelit. Kau pasti sedang mengirit uangmu kan?" Soonyoung yang sedari tadi bermesraan dengan Jihoon pun ikut menimpali perkataan Chan.

"Excuse me, Mr. Soonyoung. Bukankah kau juga pelit? Lihat saja buktinya, kau disini cuma pingin numpang wifi saja kan?" Hansol yang tidak terima dikatai pelit oleh Soonyoung, kini balas mengejeknya.

"Memang. Tapi setidaknya aku lebih modal sedikit daripada kau, Hansol. Apa kau tau? Hari ini aku juga mentraktir Jihoon walaupun uangku cuma pas-pasan saja." Soonyoung berkata seolah ia tak mau kalah dari Hansol.

"Kok gitu sih, Soonyoung? Apa jangan-jangan kau tidak ikhlas mentraktirku?!" Jihoon menatap Soonyoung dengan wajah cemberut.

"A-ani, bukan begitu. Aku ikhlas mentraktirmu kok, baby. Jangan cemberut lagi ya." Soonyoung memeluk pinggang Jihoon.

"Hey Wonwoo, kau satu kamar dengan siapa?" Jihoon tidak menggubris perkataan Soonyoung dan lebih memilih untuk menanyai Wonwoo.

"Dengan Kim Mingyu."

"A-APA?" Jawaban Wonwoo tadi membuat sahabat-sahabatnya —kecuali Hansol yang sudah tau— kaget massal.

"Lalu dimana dia? Kenapa dia tidak ikut kesini? Apa kau tadi tidak mengajaknya, Hansol-ah?"Jisoo celingukan mencari sosok yang tengah mereka bicarakan tersebut.

"Aku tadi sudah mengajaknya. Tapi dia menolak dan lebih memilih untuk tinggal dikamar saja. Ah, sekarang Mingyu tambah tampan ya. Apa kalian tau, tadi pas dia memakai bathrobe tubuhnya terlihat hot sekali!" Hansol bercerita layaknya seorang fanboy.

"Aku curiga dengan gosip para yeoja kemarin. Bagaimana kalau orang yang dimaksud dalam gosip itu adalah Mingyu? Bukankah ciri-cirinya sama persis?" Seungkwan berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan.

"Ah, kau benar sekali, Seungkwan-ah." Chan menganggukkan kepalanya.

"Lalu bagaimana perasaanmu, Wonwoo? Apa kau tidak apa-apa satu kamar dengannya?" Jihoon bertanya lagi.

"E-eum, itu..." Entah kenapa nada bicara Wonwoo menjadi agak gugup saat menjawab pertanyaan Jihoon.

"Ck, semuanya kan juga tau kalau Wonwoo masih mencintai Mingyu. Kenapa kau masih bertanya, baby?" Ucap Soonyoung.

"Yak, Soonyoung! Jangan sok tau." Cibir Wonwoo.

"Hahaha. Matamu tidak bisa berbohong, Jeon Wonwoo." Soonyoung menjulurkan lidahnya kearah Wonwoo.

"Kalau aku jadi kau, aku akan bilang ke Mingyu kalau aku masih mempunyai perasaan dengannya. Terus kalau ternyata dia juga masih menyukaiku, ya tinggal jadian aja. Tapi kalau tidak, yasudah aku akan tetap memaksanya agar dia mau kembali menjadi milikku." Seungkwan memberikan saran yang terkesan nekat kepada Wonwoo.

"Tapi sayangnya aku masih waras, Seungkwan-ah. Aku tidak mungkin melakukan hal-hal gila seperti itu." Wonwoo memutar bola matanya saat mendengar saran tak masuk akal dari Seungkwan.

-ooo-

Sementara itu terlihat seorang pemuda tampan bersurai abu-abu yang tengah duduk di tempat meja belajarnya sembari membaca komik kesukaannya, ditambah lagi musik jazz yang mengalun dari headphone ungunya membuat dirinya semakin rileks dan santai.

Drrrttt... Drrrttt..

Konsentrasi Mingyu seketika menjadi buyar saat ia mendengar suara ponsel yang terus-terusan bergetar.

"Aish jinjja, ponsel siapa sih?!"

Mingyu berdiri dari tempat duduknya dan mencari-cari darimana sumber suara tersebut berasal. Saat melewati meja belajar Wonwoo, mata Mingyu tiba-tiba menangkap sebuah ponsel berbentuk persegi panjang dan berwarna gold yang terus bergetar diatas meja. Mingyu yang sudah gemas pun langsung mendekat ke meja belajar Wonwoo untuk berniat mematikan ponsel tersebut. Namun saat ia baru saja memegangnya, ponsel tersebut sudah berhenti bergetar.

"You have 3 missed calls and 4 new messages." Mingyu bergumam saat melihat tulisan yang tertera dilayar ponsel.

Mingyu yang penasaran pun mulai membuka ponsel tersebut yang kebetulan tidak dipassword oleh pemiliknya.

1st message;

From : Eomma -_-

Apa kau sudah sampai dikamarmu, sweetheart?

2nd message;

From : Eomma -_-

Apakah kamar barumu bagus dan nyaman?

3rd message;

From : Eomma -_-

Jangan lupa untuk menata barang-barangmu, Wonwoo sayang. Eomma tidak ingin kamarmu berantakan dan menjadi sarang tikus. Kau juga harus rajin membersihkannya setiap hari.

4th message;

From : Eomma -_-

Ah, bagaimana dengan teman sekamarmu? Apa dia lebih tampan dari aktor Lee Minho?

"Tentu saja aku lebih tampan dari dia." Mingyu berkata dalam hati saat ia membaca pesan terakhir yang dikirimkan oleh bibi Jeon.

Tangan Mingyu terus menari diatas layar ponsel Wonwoo dan ia melihat-lihat daftar kotak masuk yang dipenuhi oleh seseorang dengan nama kontak 'Eomma -_-'.

Mingyu yang terlalu asyik mengotak-atik ponsel Wonwoo sampai-sampai tidak menyadari kehadiran sang empunya ponsel tersebut.

"Mingyu? Apa yang kau lakukan dengan ponselku?" Pertanyaan Wonwoo sukses membuat Mingyu kaget. Tidak, mungkin lebih tepatnya jantungan.

"Aku hanya ingin men-silent ponselmu saja yang terus-terusan bergetar tadi. Kau tau, itu sangat menggangguku." Mingyu mencoba berbicara dengan setenang mungkin, walaupun sebenarnya ia agak gugup dan malu karena telah tertangkap basah oleh Wonwoo.

Drrttt... Drrrttt..

Wonwoo yang mendengar ponselnya kembali bergetar, segera merebut benda persegi itu dari genggaman tangan Mingyu.

"Yeoboseyo. Ada apa, eomma?" Wonwoo mengangkat telepon seraya berjalan menjauhi Mingyu.

Mingyu yang tidak ingin menguping percakapan antara Wonwoo dan eomma-nya itu lebih memilih kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan kegiatan membaca komiknya yang sempat tertunda itu.

"Maaf aku baru saja kembali dari cafetaria eomma, ponselku tertinggal diatas meja belajar tadi. Tentu saja, aku juga sudah menata barang-barangku. Em, itu... Aku sekamar dengan Kim Mingyu."

"M-mwo? Kim Mingyu mantan kekasihmu saat sd dulu kan, honey? Eomma sudah lama sekali tidak bertemu dengannya, apa dia semakin tampan? Sayang sekali kenapa dulu dia harus pindah ke luar negeri dan harus putus denganmu, Wonwoo. Padahal eomma sangat menyukainya."

Mingyu dapat mendengar jelas suara bibi Jeon diseberang sana. Entah ini karena pendengaran Mingyu yang terlalu tajam atau Wonwoo yang men-loudspeaker panggilannya — namum sebenarnya tidak—, padahal sekarang ini jarak Wonwoo lumayan jauh dari Mingyu.

"E-eum iya sedikit sih, dia agak berbeda dari yang dulu. Dia menjadi semakin... tampan."

Mingyu melirik ke arah Wonwoo. Dapat ia lihat pipi namja putih itu bersemu merah walau hanya diterangi dengan cahaya lampu.

"Hoaaahm... Sudah dulu ya Eomma, aku ngantuk. Bye."

"Aish, bilang saja kalau kau malu dan ingin mengalihkan pembicaraan, Jeon Wonwoo. Yasudah, selamat tidur ya sayang. Jangan lupa sampaikan salamku kepada Mingyu tampan hahaha. Jaljjayo~"

PIP

Wonwoo mengakhiri sambungannya dan berjalan menuju kasurnya dengan wajah yang menunduk karena malu.

"Salam balik untuk bibi Jeon." Mingyu berkata saat Wonwoo baru saja merebahkan tubuhnya diatas kasur.

"Hmm? Ah y-ya, a-akan aku sampaikan besok." Wonwoo menjawab dengan nada gugup, semburat merah yang ada dipipinya kini terlihat semakin jelas. Hey, yang dapat salam itu ibumu, bukan kau Wonwoo. Kenapa kamu yang salting?

Wonwoo yang tidak ingin kesaltingannya(?) semakin menjadi-jadi, kini mencoba memejamkan matanya untuk segera tertidur. Hey, lebih baik tidur daripada harus salting terus-terusan karena Mingyu, kan?

"Ternyata bibi Jeon tidak berubah, ia masih saja suka menggoda Wonwoo." Mingyu berkata dalam hati sambil tertawa kecil.

Mingyu jadi teringat dengan pertemuan pertamanya —setelah kembali dari New York— dengan Wonwoo waktu berada di kamar mandi.

Flashback.

Pagi itu saat Mingyu akan keluar dan membuka pintu bilik toiletnya, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara seseorang yang... entahlah, mungkin cukup familiar baginya? Ia sedikit membuka pintunya agar bisa melihat orang tersebut. "Wonwoo?" Mingyu bertanya dalam hati.

Deg!

Perasaan Mingyu kini bercampur antara senang, bingung, dan sedih. Senang karena bisa melihat Wonwoo lagi setelah sekian lama tidak bertemu, bingung karena ia tidak tau harus berbuat apa, dan sedih karena telah mengingkari janjinya dengan Wonwoo dulu.

Entah kenapa Mingyu belum siap bertemu dengan Wonwoo. Sebenarnya ia ingin sekali memeluk namja manis itu karena perasaan rindu yang sudah membuncah, tapi sayangnya ia bukan seseorang yang bisa mengekspresikan perasaannya dengan baik, ditambah lagi ia tidak senekat itu.

"Aku tidak mau Wonwoo melihatku. Dia pasti masih sakit hati atas apa yang aku perbuat dulu." Gumam Mingyu.

Mingyu yang bingung harus berbuat apa, kini mulai berlari keluar dari bilik toiletnya hingga tidak sengaja menabrak Wonwoo.

Braaakkk!

"Aaahh bokongku sakit sekali, sepertinya punggungku juga encok. Ya! Kau harus bertanggung jawab!" Wonwoo meringis kesakitan sambil memegangi bokongnya.

"Mian, aku terburu-buru." Mingyu yang lagi-lagi bingung mau berbuat apa, kini langsung berlari keluar dari kamar mandi tanpa menolong Wonwoo terlebih dahulu. Tidak mungkin kan kalau dia membantu Wonwoo berdiri terlebih dulu? Tentu saja itu akan menimbulkan kesan yang buruk bagi pertemuan pertama mereka di sekolah ini.

Flashback end.

Mingyu melihat ke arah Wonwoo yang tertidur memunggunginya. Tanpa sadar, ia tersenyum kecil. Mingyu ragu, apakah ia masih mencintai Wonwoo atau tidak. Yang jelas, jantungnya masih berdegup kencang saat ia berada didekat namja manis itu. Bukankah itu artinya ia masih mencintai Wonwoo? Kalau Mingyu masih mencintai Wonwoo, kenapa ia menjadi sangat awkward saat berbicara dengannya?

Tbc.


holla~~~ disini udah jelas kan alesan kenapa mingyu kaya orang ga kenal gitu ke wonu. yup, itu karena mingyu selalu ngerasain 'awkward' saat bicara sama wonu. so, dia lebih milih cuek dan bersikap sok kewl daripada harus ngerasain yang namanya 'awkard moment'. secara singkatnya sih bisa dibilang kayak 'tsundere' gitu;3

p.s; buat yang masih bingung sama bentuk kamar mereka, bayangin aja tata letaknya mirip di drama 'to the beautiful you'. intinya kasur mereka itu tingkat, wonwoo kasurnya diatas dan mingyu dibawah. btw, tysm buat yg udah review^^ maafkeun belum bisa bales satu-satu *bow* makasih juga buat yang udah favs sama follows fanfic gaje ini huehe.

oh iya, disini ada nggak sih yang seneng banget ngeliat meanie di junggu fansign kemaren? itu si aming hot banget pas make seragam dokter :(( terus si wonu juga keliatan gagah maks. pas make seragam pilot, yha walopun keliatan kurusnya WKWKWKWK. tapi kok keknya kebalik gitu ya? seharusnya wonu yang jadi dokter, terus mingyu jadi pilotnya :'v eh tapi ya alhamdulillah banget papa pledis udah mengabulkan doa para meanie shipper wks. aku jadi curiga nih, jangan-jangan papa pledis meanie shipper jga?! nga.

lastly, mind to review? ^^