"Granger, kau datang lebih pagi dari biasanya." Hermione tidak mengindahkan orang yang sepertinya 'menyapa-'nya pagi ini. Dia tidak ingin peduli akan lelaki yang kini sudah mendudukan pantatnya di kursi belakang seperti biasanya. Entah mengapa, Hermione merasa akhir-akhir ini kehidupannya mulai menyebalkan dan ia benci mengakui bahwa dia mulai merasa merindukan London. Menghela napas kasar, Hermione menutup buku yang sedari tadi tidak ada satupun kata yang mampu masuk kedalam otak cerdasnya. Ia bersyukur hari ini hanya ada kelas kalkulus lanjutan sehingga tidak perlu benar-benar memutar otaknya.

Hermione menekuk wajahnya, terkadang semburat merah merambat melalui pipi putih bersihnya. Kejadian pagi tadi di apartmentnya benar-benar di luar akal sehatnya. Bagaimana mungkin ia bisa bangun dalam pelukan seorang pria? Terlebih, pria itu adalah Draco Malfoy! Oh Merlin, Kami-sama, atau dewa-dewa apapun itu! Dia tertidur dalam pelukan seorang musuh bebuyutannya sejak tahun pertama di Hogwarts!

.

.

.

You're Granger By Meris Shintia

[Keterangan : Nama tokoh Jepang mengambil dari nama beserta ciri-ciri karakter dari Anime Jepang. Saat ini baru menggunakan anime Naruto saja.]

DraMione Pairing

Genre : Romance, Drama (Sewaktu-waktu bisa berubah)

Rated : M (Untuk saat ini masih T)

Harry Potter, nama karakter beserta isi cerita sebelum cerita ini adalah milik JK Rowling. Cerita ini hanyalah fanfiksi belaka.

.

.

.

.

Flashback

Entah kenapa hari ini Hermione merasa tidurnya begitu nyenyak dan hangat. Sinar matahari menerobos dalam celah-celah tirai gorden jendela kamarnya. suara cicitan burung seperti alunan lagu yang secara konstan selalu menemani paginya untuk membangunkannya. Tangannya mulai mengangkat dan mengucek-ngucek matanya, perlahan iris cokelat miliknya terbuka. Bibirnya tersenyum aneh, dengusan napas di tengkuknya berhasil membuatnya sadar bahwa semalam dia tidak tidur sendirian ditambah dengan tangan kekar putih pucat melingkar dengan begitu nyaman di pinggulnya—tunggu! TANGAN KEKAR PUTIH PUCAT?! Hermione dengan perasaan was-was menenggadahkan kepalanya kesamping untuk melihat siapa pria berengsek yang berani tidur dengannya? Satu kata yang menggambarkan keadaan Hermione saat ini. SHOCK!

Ya tentu saja jantungnya serasa berhenti berdegup ketika dia menyadari kalau lelaki yang masih merengkuhnya sekarang tidak mengenakan atasan sama sekali. Dia segera bangkit dari tidurnya setelah menyingkirkan tangan yang melilit di pinggangnya. Dengan cepat, dia meraih tongkat miliknya yang berada di nakas samping tempat tidurnya berbarengan dengan kelopak mata sang pria yang kini perlahan terbuka karena sinar matahari yang menerobos melalui celah-celah gorden itu mengusik tidurnya. Sang pria menguap pelan dan membuka netra mata abu-abu miliknya dengan penuh. Yang dilihatnya kini tongkat sihir hitam sepanjang 27 inci mengacung di depan hidungnya.

"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI, MALFOY?!" Teriakan nyaring terdengar keluar dari mulut perempuan yang semalam mabuk dan memuntahkan isi perutnya dengan tidak elegan pada dirinya yang berniat membantunya, tapi apa yang dilakukan perempuan itu saat ini ketika dia benar-benar sadar dari pengaruh alkohol berat sejenis Vodka? Draco menyingkirkan tongkat yang teracung tepat di depan hidungnya dan mendengus pelan. Dia meraih kemeja putihnya yang semalam dia lepas dan disampirkan di atas sofa beludru milik gadis yang saat ini masih menatapnya garang. Tangannya masih mengacungkan tongkatnya gemetar, "Apa? Mau meng-Hex diriku, Granger?" tanyanya enteng. Dia berjalan menuju wastafel dan membasuh wajah tampannya menyebabkan helai poni yang jatuh di depan jidatnya itu basah berantakan. "Kenapa kau hanya berdiri di situ?" Draco mengambil blazer miliknya dari pengering mesin cuci milik Hermione, sebelum dia melangkah keluar Draco membalikan kepalanya dan menyeringi. Kata-kata terakhir dari penerus kekayaan Malfoy itu berhasil membuat wajah perempuan kebanggaan dan 'Pahlawan Dunia Sihir' itu memerah seperti kepiting rebus karena menahan amarahnya.

"Terkejut karena tertidur dalam pelukanku, Granger?"

.

.

Flashback off

Keributan di luar kelas Kalkulus lanjutan tidak berhasil membuat perasaan Hermione membaik. Dia berulangkali menghembuskan napasnya dan membenturkan kepalanya ke atas meja di depannya. Dia duduk dengan gelisah dan memutuskan dirinya untuk memandangi pemandangan luar dibalik jendela. 15 menit lagi kelas di mulai dan kelas baru terisi beberapa orang. Hermione tidak perduli. Langkah kaki terburu-buru memasuki kelasnya, Hermione menaikan sebelah alisnya ketika melihat Sakura Haruno berdiri di ambang pintu, wajahnya memerah dengan napas yang terengah-engah. Dia tersenyum dan melangkah masuk dengan malu-malu. "Kaa-san(Ibu, dari kata Okaasan) menitipkan ini padaku untukmu, Sasuke." Ucapnya tanpa berani menatap mata hitam yang menurut Hermione memiiki aura yang mengerikan. Hanya dengusan yang keluar dari mulut Sasuke, Hermione memutar bola matanya kesal. Kurang ajar sekali si rambut abnormal ini. Setidaknya ucapkan sesuatu 'kek untuk tunangannya yang mau membawakannya makanan. Rutuknya.

"Selamat pagi, Sakura Granger." Hermione membalasnya dan tersenyum manis pada perempuan pemilik nama yang sama dengannya ini. setelah Sakura Haruno pergi, Hermione membalikan badannya dan menatap sengit lelaki tidak berprasaan di depannya ini. "Setidaknya ucapakanlah kata terima kasih, Uchiha." Sasuke hanya menyeringai dan itu benar-benar membuat Hermione muak.

"Hn." Rasanya, Hermione benar-benar ingin mengeluarkan mantra kutukan hitam padanya sekarang juga. Tongkatnya sepertinya sudah merasa gatal untuk mengeluarkan mantra dan mengutuknya sekarang juga. Hermione menghela napas untuk mengatur kesabarannya. Well, hari ini benar-benar sedang diuji kesabaran. Tidak lama sosok Professor dengan wajah yang selalu tersembunyi di balik masker dengan rambut perak seperti milik Albus Dumbeldore memasuki kelas dengan buku kecil yang selalu berada di dalam tangannya. Matanya yang selalu terlihat malas namun otaknya begitu cerdas. Hermione tidak menyukai Prof. Hatake, menurutnya dia adalah professor yang menyebalkan yang selalu telat memasuki kelas dan keluar kelas saat jam belum berakhir. Benar-benar dosen korupsi waktu!

Tidak lama, kelas berakhir bahkan tidak sampai 90 menit Prof. Hatake hanya memberikan tugas 2 buah soal yang benar-benar sulit. Hermione bersyukur karena hari ini dia hanya memiliki satu mata kuliah.

.

.

"Granger—" Hermione mengerutkan alisnya, dia belum pernah melihat lelaki ini. Selama ini, dia hanya tahu keluarga Weasley yang memiliki ciri khas dengan rambut berwarna merah. "—Ya?" tanya Hermione penasaran. "Stadfield, Gaara Stadfield." Hermione tidak menanggapi tanggan yang menjulur padanya, hanya menatapnya bingung. Gaara menarik tangannya dengan kikuk. "Begini, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, witch." Gaara tidak bisa menyembunyikan seringainya tatkala melihat bola mata karamel indah milik perempuan di depannya ini membulat. Hermione menghela napasnya dan mengangguk.

Mereka berjalan dengan normal melewati para siswa lainnya. Hermione memeluk buku tebal dalam pelukannya dengan erat, matanya mencuri pandang pada sosok lelaki yang berjalan di depannya. Siapa dia? Stadfiled? Dan bagaimana mungkin dia tahu bahwa dirinya adalah penyihir? otaknya tidak berhenti berpikir. Dia terus mengikuti dalam diam. Namun, matanya bersiborok dengan mata yang tadi pagi pemiliknya itu memeluknya dengan protektiv. Tangannya melambai padanya dan tanpa dapat dikendali, kakinya melangkah pada orang tersebut meninggalkan Stadfiled berjalan sendirian dalam hiruk-pikuk mahasiswa lainnya. Gaara tidak menyadari jika perempuan di belakangnya sudah pergi meninggalkannya berjalan sendirian.

"Malfoy! Apa yang kau lakukan di sini?" Draco menyeringai, Hermione ingin menjedukkan kepalanya. Kenapa hari ini dia melihat begitu banyak orang yang menyeringai? Tapi, Hermione tahu seringaian Draco adalah seringaian jahil seperti dulu. Bukan seringaian kedua lelaki berambut hitam dan merah yang warnanya seperti keluarga Weasley. "Kenapa Granger? Ini wilayah umum dari kampus, kan? Aku sudah seminggu selalu berada di sini." Ucap Draco santai.

"Satu minggu? Apa yang kau lakukan di sini? Apa tujuanmu?" Kata-kata yang diucapkannya terdengar seperti sedang memojokkan anak kucing. Sayangnya Draco Malfoy adalah seekor ular, dia bukan seekor kucing yang akan ketakutan bila digertak seperti ini. Justru Draco malah ingin menjahilinya kembali. "Pertanyaan yang sama, Granger? Baiklah, yang jelas aku kemari bukan untuk mencarimu. Aku bahkan tidak tahu kau kuliah di sini." Hermione menghela napasnya. Dia merasa bersyukur, takutnya Draco memata-matainya untuk melaporkannya pada Harry dan yang lainnya. Tapi,

"Apa tujuanmu?" Hermione merasa lelaki pirang di depannya ini belum menjawab pertanyaannya. "Sudahku bilang—"

"Draco maaf membuatmu menunggu lama tadi—" Seorang perempuan cantik berambut hitam dengan sedikit bergelombang itu menatapnya terkejut. Begitu juga dengan Hermione,

"Greengrass?"

"Granger?" Mereka saling menunjuk satu sama lain. Terlebih lagi, Astoria membawa beberapa buku dan kertas hasil ujiannya dengan nilai B yang berhasil menarik sudut bibir Hermione. Draco tertawa memecah keheningan dan keterkejutan diantara keduanya. "Nah Granger, kau sudah lihat apa tujuanku kemari—" Ucapan Draco terpotong dengan kedatangan seorang pemuda yang awalnya dia kira adalah Weasley menerobos diantara mereka. "—Sakura! Aku terkejut kemana kau pergi." Lelaki itu mengambil alih buku yang dibawa oleh Hermione tanpa memperdulikan kehadiran dua orang lainnya yang memandang mereka bingung. "Ma-maaf Gaara." Jawab Hermione merasa bersalah pada pemuda yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu. "Baiklah, ayo kau menghabiskan waktu." Hermione mengangguk dan berjalan mendahului Gaara meninggalkan Draco dan Astoria yang menatap mereka dengan tatapan berbeda.

"Draco, bisakah kau membawakan buku dan tasku?" Pinta Astoria karena dia merasa kesusahan membawa buku-buku miliknya dengan tas jinjing yang dipakainya. Draco tidak bergeming, masih memandang kepergian Hermione dengan lelaki asing yang tidak pernah diketahuinya. 'Siapa dia? Kenapa bisa dekat dengan Hermionenya?' Draco terus menatap arah kepergian Hermione dengan Gaara.

Draco menggelengkan kepalanya. Apa yang barusan dipikirkannya? Dia bahkan mengklaim perempuan yang kini sudah tidak berambut semak itu miliknya? Merlin! Dia bahkan sudah mengklaimnya sejak dulu!

"—DRACO!" Astoria menghela napas prustasi. Draco tersentak dan melihat tunangannya itu mendegus kesal. "Maaf." Ucap Draco pelan. Draco membukakan pintu untuknya dan membawa tas beserta buku-buku milik bungsu Greengrass itu untuk disimpannya di bagasi belakang mobil sport miliknya. "Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, Draco. Tapi, aku berharap kau tidak memikirkan si Darah-Lumpur itu." Draco memandang Astoria sebentar kemudian mengalihkan pandangannya. "Kau tau, As, kita sudah dilarang untuk membeda-bedakan status darah penyihir." Astoria merasa tertohok dengan ucapan pemuda tampan yang dicintai dan digilainya ini. "DRACO! KAU TIDAK BISA MEMBELA SI GRAGER!" teriak Astoria yang pasti memekakan telinga. Dengan kesal Astoria menarik sabuk pengaman di sampingnya meskipun sebenarnya hal itu tidak perlu mengingat Astoria masih bisa melindungi dirinya dengan sihir miliknya. "Aku tidak membelanya, aku hanya mengingatkanmu saja. Itupun untuk kebaikanmu, As." Jawab Draco simpel untuk menbuat tunangannya tidak curiga.

.

.

Di lain tempat dan di lain mobil, suasana berubah menjadi tegang. Hermione tidak pernah melepaskan pandangan interogasinya pada pemuda di depannya ini. Berulangkali dia berniat mengobrak-abrik isi pikiran Gaara namun ternyata lelaki di depannya itu penyihir seperti dirinya. Dia memiliki perisai occlumency yang kuat. Legilimens Tidak berpengruh padanya.

"Baiklah, sekali lagi aku tanya, apa maumu?" Dia menghela napas, "Hermione Granger, pahlawan perang dunia sihir yang kabur dari kehidupan dunia sihIr karena trauma masalalu. Menyembunyikan identitasnya dan berprilaku seperti manusia muggle pada umumnya. Aku bisa melihat sihir dalam dirimu melemah, Hermione. Oleh sebab itu aku nekat menemuimu. Aku juga penyihir sepertimu hanya saja aku memiliki kelebihan lain. Well, aku tidak memerlukan tongkat sihir dan aku bisa mengendalikan pasir sesuka hatiku." Hermione menaikan sebelah alisnya. "Kau bercanda." Gaara kembali menyeringi, "Durmstrang. Aku dari sekolah sihir Durmstrang. Dark Magic. Aku banyak menguasainya." Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak peduli jika kau adalah penyihir sama sepertiku yang memiliki kelebihan bisa mengendalikan pasir sesuka hatimu atau apalah. Yang jelas apa tujuanmu?" Sentak Hermione tajam. Lelaki di depannya ini bahaya. Ya, dia tahu lelaki ini memiliki aura gelap.

"Uchiha, kau berhati-hatilah padanya. Dia 'Pemburu Penyihir.' Kuharap kau selalu menjaga jarak dengannya karena dia sepertinya sudah menjadikanmu target." Hermione membelalakan matanya, apa katanya? Pemburu Penyihir? Apa dia gila? Mana ada hal yang seperti itu!

"Dia kuat! Keluarganya turun temurun melakukan pembantaian terhadap penyihir. Ada rumor yang mengatakan bahwa Uchiha itu kaum Noblesse yang melindungi muggle. Kau tahu, mereka mulai memburu penyihir sejak Pelahap Maut mulai menyerang muggle." Hermione menutup mulutnya tidak percaya. Apa lagi itu noblesse. Kepala Hermione terasa pusing dan dia membutuhkan asupan gizi untuk otak cerdasnya. "Ba-baiklah aku akan mendengarkan ceritamu, tapi nanti, oke? Nanti. yang jelas sekarang aku harus menjauh dari Uchiha dan menjaga diri. Terima kasih Stadfiled." Hermione keluar dengan tergesa-gesa dari dalam mobil Jaguar milik Gaara. Dia menaiki bus yang baru saja berhenti di depan halte kampusnya. Dia memijat pelipisnya.

Merlin. Hari ini benar-benar tidak terduga. Yang pertama dia terbangun dalam pelukan seorang lelaki pemilik tangan pucat kekar yang melingkari pinggagnya yang ternyata adalah Draco Malfoy! Kedua, dia kesal setengah mati pada lelaki es tanpa ekspresi dan harus mengomel di pagi -kurang indah-nya, kemudian dihadang oleh lelaki yang awalnya dia kira salahsatu Weasley tapi ternyata bukan dan dia mengetahui bahwa Hermione yang sudah menyamar habis-habisan penyihir, lalu melihat Draco Malfoy, berdebat sebentar lalu muncul perempuan yang dia cemburui semasa di Hogwarts yang ternyata menjadi alasan dibalik berdirinya Draco Malfoy di halaman kampusnya. Terakhir, pernyataan dari Gaara Stadfield yang mengatakan bahwa klan Uchiha adalah kaum Noblesse yang memburu penyihir sebab mengakibatkan kekacauan pada dunia Muggle ketika perang 5 tahun yang lalu. Dan lagi, sepertinya Uchiha di fakultasnya saat ini sedang memburu dirinya.

Hermione mengerang. Demi Merlin! Apa sebaiknya dia kembali pada teman-temannya di London dan memberitahu mereka bahwa ada kaum Noblesse sang pelindung Muggle yang sedang memburu penyihir? Oh God! Hermione menertawakannya dirinya sendiri. Selama ini dia belum pernah mendengar tentang pemburu penyihir. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Merlin!

.

.

.

Bersambung

Author Note-Bandung, 18 Juli 2016 || 11.00pm

Hallo! Terima kasih untuk review dan dukungan dari semuanya! So excited untuk update fic ini melihat banyak komentar yang mendukung. Aku sudah memutuskan untuk tidak crossover karena alur ceritanya akan berfokus pada Harry Potter dengan pairing DraMione.

Alasan khususnya, aku tidak tahu cara mengubahnya menjadi crossover hehe. Itu 'kan berarti harus dari awal lagi *gigit jari* paling aku akan memberikan keterangan saja kali ya. Dan, bukan hanya karakter dari Naruto saja yang akan aku masukkan untuk tokoh-tokoh orang yang ada di Jepang. Mungkin aku akan mengambil nama-nama lain dari karakter anime lain kayak 'Stadfiled' dari anime Code Geass. Sekian cuap-cuap dari saya. Selamat malam:)

Terima kasih banyak untuk :

ChintyaRosita, faizi, Gigi, Dramione, DM, aquadewi, staecia, Doubleklick, Sakura UchiHaruno, AndienMay, Scorpion140494, ms x, , liuruna, shieru aozora

Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan.

Salam hangat,

Meris Shintia