Episode kedua telah terbit jeng-jeng-jeng XD *gak ada yang peduli,lupakan

Selamat menikmati XD, ada kejadian yang tidak terduga bahkan Author sendiri gak berencana buat kaya gini padahal XD *semakin Gaje -.-

Ringkasan akhir episode sebelumnya:

Rena,dengan perasaan yang kalang kabut, mencoba memendamnya dalam-dalam dan bersiap untuk "menunaikan" misinya dengan Aisha digereja bawah tanah...


Amethyst's Curse

By MeganeUke-san

Genre : Romance and Tragedy

Rated : T

Disclaimer :KOG,Elsword related.

Warning : Typo,AU,GAJE.


Jalan menuju gereja bawah tanah, 9.30 PM

Sepanjang jalan menuju gereja bawah tanah, Rena berbincang bincang dengan Aisha.

Mereka tertawa terbahak-bahak dan saling melontarkan cerita konyol mereka.

Lelah tertawa, Aisha membuka gulungan yang diberikan Lento kepadanya.

Gulungan itu berisi denah menuju gereja bawah tanah serta informasi mengenai misi mereka.

Rena ikut melihat gulungan itu dengan seksama dan memasang muka serius melihat informasi-informasi tentang Amethyst.

Aisha, teman baik sekaligus teman satu divisi di Feita bersama Elsword dan Raven, melihat muka serius Rena ini.

Ia mencoba menenangkan hati Rena, agar ia tidak terlalu tegang dalam menghadapi misi saat ini dengan berbincang-bincang ringan tentang Raven...


"Hei Rena?" Aisha mengawali permbicaraannya.

"...E-eh, i-ya Aisha?" Rena memalingkan mukanya dari gulungan itu,dan menatap wajah Aisha.

"Apakah kamu masih membenci Raven?" Pertanyaan Aisha yang terang-terangan ini membuat Rena melupakan kegelisahannya tentang Amethyst.

"..." Rena diam seribu kata, mendengar nama Raven disebut, mata nya kini disulut api dendam.

"Ingat Rena, Raven dan Vallack adalah dua orang yang berbeda, jangan kau lampiaskan rasa marahmu kepadanya.." Aisha meraih rambut Rena dan membelainya.

"Iya Aisha, dua orang itu berbeda, namun mereka masih satu darah, satu keturunan.." Rena menjatuhkan tatapannya kebawah.

"Tapi aku rasa Raven tidak pernah melakukan hal buruk padamu Rena, sebaliknya, ia sangat perhatian padamu.." Aisha melepaskan tangannya dari rambut Rena sembari menggulung kembali gulungan kertas yang tadi ia bentangkan.

"...Yang jelas, aku tidak akan memaafkan Vallack dan siapapun keturunannya, karena aku telah berjanji" Ternyata pernyataan Aisha tadi tidak dapat memadamkan api dendam di mata Rena ini.

"RENA!" Sepertinya Aisha tidak tahan lagi mendengar ucapan Rena, membentaknya dan menatap mata Rena dalam-dalam.

" A-Aisha?" Tentunya, Rena sangat terkejut dengan tindakan Aisha yang tidak biasa ini,menoleh dengan perlahan ke arahnya.

"Masa lalu tak akan bisa diubah, seberapapun usaha yang kau lakukan untuk membencinya, yang telah terjadi tak akan pernah bisa dirubah!" kata Aisha

"..." Rena terdiam mendengan kata-kata dari Aisha yang mengejutkannya ini.

"Dan... kau lihat Raven, Rena? ia tau bahwa dendammu pada Vallack dan padanya tak akan bisa dipadamkan, tetapi selama ini ia selalu berusaha untuk menebus kesalahan Vallack!" Aisha melanjutkan kalimatnya.

"..." Lagi-lagi Rena terdiam mendengar kata-kata dari Aisha, hanya bisa tertunduk ragu.

"...AAAH lupakan, kita sudah sampai di depan pintu gereja bawah tanah, mari kita lupakan masalahmu dan fokus untuk misi kita ini, ya?" Aisha merubah raut wajahnya yang tadi serius, menjadi seperti biasanya, penuh semangat dan ceria, ia tersenyum pada Rena untuk memberinya semangat.

"Baiklah ayo Aisha!" Rena pun segera merubah raut wajahnya, membalas senyum Aisha dan segera menuju pintu depan gereja bawah tanah.


Gereja bawah tanah, 10.00 PM

Mereka berdua saling bertatapan, dan setelah beberapa saat mereka berdua menganggukkan kepala mereka dengan tatapan pasti.

Rena segera membuka pintu depan gereja bawah tanah itu sementara Aisha memasukan gulungan yang diberikan Lento ke dalam tas kecilnya.

Mereka berdua mulai masuk dan menatap sekeliling penuh kewaspadaan, entah monster apa yang akan muncul.

Mereka memasuki pintu besar berwarna coklat yang berada di ruangan pusat gereja.

Raut wajah mereka kini mulai menjadi ketakutan ketika melihat sesosok iblis berbaju merah darah, memakai topi pendeta yang menutupi matanya serta membawa tongkat dengan ornamen kristal biru ditengahnya.

Iblis itu mendekati mereka berdua dengan tongkat berornamen kristal biru sebagai penopang langkahnya.

Iblis itu bersiap siap menyerang mereka, mengangkat tongkatnya dan mulai mengucapkan sebuah mantra.

Begitu pula dengan Rena dan Aisha, mereka berdua bersiap di posisi mereka untuk menyerang,Rena menarik busurnya, sementara Aisha mengucapkan beberapa mantra sihirnya.

Tetapi, tanpa di duga, iblis itu menurunkan tongkatnya dan menghentikan mantra yang ia ucapkan, mendekati Rena sambil membungkukan badannya dihadapan Rena.

Mereka sangat terkejut melihat perilaku iblis ini,dan hanya bisa diam mematung menatap iblis yang mirip pendeta ini.


"Lady Chloe? selamat datang di markasku, apakah ada yang anda inginkan dari kami?" Iblis itu berhenti membungkuk dan berdiri tegap di depan Rena.

"!" Mereka berdua terkejut mendengar ucapan iblis ini, Rena yang berdiri dihadapannya hanya bisa memandang iblis itu tanpa bisa berucap.

"Ada apa lady Chloe? ini aku, Dutor, salah satu dari komandan iblis tertinggi divisi 1 di Feita" Dutor, nama iblis itu, kebingungan melihat Rena yang ia sangka sebagai Chloe seperti tidak mengenalnya.

"Ssst... Rena! ikuti sandiwara ini, dan kita bisa korek informasi tentang iblis di Feita!" Ide licik muncul di kepala Aisha dan segera ia mendekati Rena untuk membisikkan idenya itu.

"I-iya...Dutor, bagaimana kondisi pergerakan pasukan iblis di Feita ini?" Rena yang cepat menanggapi maksud Aisha,berpura pura sebagai "Chloe" yang dikatakan iblis bernama Dutor itu.

"Kita sudah berada di puncak Lady Chloe, dan siap untuk menyerang Feita kapanpun!" Jawab Dutor.

"Taktik apa yang kini kau gunakan untuk menyerang Feita, Dutor?" Rena sekali lagi mencoba mengorek habis informasi dari iblis yang satu ini.

"komandan iblis tertinggi divisi 2 yaitu Proxy, menebarkan racun-racun disekitar taman bawah tanah, karena dengan begitu, pasukan dari Feita tak akan bisa mendekati markas utama kita, karena sebelum mereka dapat mendekatinya, racun di taman bawah tanah akan membunuh mereka semua! ha ha ha" Kata Dutor menjelaskan sambil tertawa mengerikan.

"M-membunuh? apa yang bisa membuatmu begitu yakin, Dutor?" Tanya Rena dengan sedikit ketakutan membayangkan bahaya yang para prajurit Feita akan hadapi.

"Ha ha ha tentu saja Lady Chloe, racun dari dunia iblis tidak akan bisa ditangkal oleh apa pun kecuali dengan kekuatan energi El yang langka, sementara aku yakin bahwa tidak akan ada manusia-manusia itu yang memilikinya karena energi El yang langka itu hanya bisa didapatkan 100 tahun yang lalu!" Dutor kembali menegaskan maksudnya tentang racun di taman bawah tanah.

"Hmm... bagus Dutor,dan bagaimana..." Kata-kata Rena kini tertahan ketika Dutor mulai menyela kalimatnya.

"maaf kelancanganku ini Lady Chloe, tapi dimana ekormu? lencana serta warna kulitmu pun sedikit berbeda.." Dutor mulai curiga bahwa Rena bukanlah Chloe yang ia duga.

"E-ekor? Lencana?" Tentunya Rena menjadi bingung dengan kata-kata Dutor ini.

"M-maaf mengujimu lady Chloe, tetapi aku ingin memastikan ini, Siapakah nama dewa pelindungmu lady Chloe?" Dutor mencoba mengetes Rena dengan sebuah pertanyaan di luar dugaan Rena.

"..Eh? si-siapa? Pohon El kan?" Rena yang gugup kini menjawab asal-asalan pertanyaan Dutor.

"H-HEI! AKU TAHU! KAU BUKAN LADY CHLOE!" Dutor mengangkat tongkatnya dan mulai menyerang mereka berdua.

Bersambung...

masih panjang lagi ceritanya ini-.-

Saya harap kalo para reader mau setia membacanya XD *nodong piso