After Tonight

Naruto? Ya, Kishimoto sensei lah sang pemilik resmi XD

Fic ini? Ay!*digebukin masa*

Pairing? KakaSaku.. XD

Dedicated? All Kakasaku Lovers XD

Inspirasi? Teh Sandra yang punya Thurston House

Plakk!*kebanyakan bacot!*

Wkwkwk.. okelah kalo begitu..

Epy reding..

Akhir

Iwa, May 9, 2010

"Asuma!" jeritan Kurenai memecah kebisuan yang sedari tadi membelenggu kelompok misi kali ini. Kakashi, Yamato, dan Shizune menahan segala rasa mereka dalam hati masing-masing. Tak ingin menambah keperihan Kurenai yang menangis di atas tubuh Asuma yang mulai dingin, terbujur kaku di bawah sang bulan.

Kakashi menyenderkan dirinya pada batang pohon di sampingnya. Misi kali ini adalah misi terberat yang pernah dijalaninya. Bukan hanya karena dari segi sulitnya misi, tapi juga dari efek yang ditimbulkannya pada batin Kakashi. Dimana malam ini, ia harus melepas Sakuranya demi janjinya pada almarhum sahabtnya, Asuma. Perkataan terakhir Asuma beberapa jam yang lalu membuat tubuh Kakashi bergetar. Tanpa ia sadari, bibirnya berucap pelan ,"Apa yang harus kulakukan Sakura?"

Flashback

"Berjanjilah Kakashi, berjanjilah untuk menikahi Kurenai," Asuma meminta Kakashi berjanji demi dirinya.

"Tidak! Aku tidak mau, kau tidak akan apa-apa Asuma!" Kurenai menolak permintaan Asuma pada Kakashi.

"Kurenai, lakukanlah. Ini demi anak kita. Aku tidak ingin dia lahir tanpa seorang ayah," Asuma berusaha bersuara meski saat ini suaranya tak lebih dari gumaman.

"Tidak! Kau tidak akan apa-apa. Tidak perlu Kakashi. Kau akan baik-baik saja, Asuma. Kau yang akan menjadi ayah anak ini, anak kita!" Kurenai setengah menjerit melihat Asuma yang semakin melemah.

"Tidak, Kurenai. Aku sudah tidak kuat lagi, racun ini sudah terlalu ganas menyerang tubuhku. Aku.. Aku.. Kakashi, ku mohon, berjanjilah," suara Asuma semakin kecil menegaskan kondisi dirinya yang sedang diambang maut.

"Aku.." Kakashi tak bisa melanjutkan perkataannya. Bagaimana? Bagaimana dengan Sakuranya? Bagaimana dengan sang bidadarinya bila ia harus menikah dengan Kurenai?

"Kakashi.." suara Asuma menyadarkan Kakashi. Kakashi sadar, karena dirinyalah Asuma sampai terluka seperti ini. Kalau saja tadi ia tidak begitu ceroboh saat melawan ninja-ninja pemberontak itu, mungkin Asuma tidak akan terluka separah ini.

"Aku.. Baiklah, aku setuju," Kakashi bergumam lirih dalam hatinya ,'Maafkan aku, Sakura.'

Flashback off

Konoha, May 10, 2010

Berita pernikahan antara Kakashi dan Kurenai begitu cepat beredar di Konoha. Mereka semua tahu itu adalah permintaan terakhir Asuma. Hanya saja, bukankah pernikahan tetaplah sesuatu yang sakral yang patut di rayakan. Semua mulut para kunoichi sibuk bergossip ria, menyatakan hati mereka yang patah akibat pernikahan Kakashi Hatake, shinobi tertampan di Konoha. Satu mulut yang terlewat, tak ingin terlibat dalam pembicaraan tentang pernikahan itu. Satu mulut milik wanita bermata emerald, wanita yang hatinya hancur bagai terkena palu godam saat mendengar berita itu.

Sakura menjatuhkan dirinya di atas kasur tempat tidunya. Disesapnya aroma seprei putihnya, seprei yang pernah menjadi saksi percintaannya dengan Kakashi, mencoba mencari sisa-sisa aroma dari tubuh pria itu yang semakin lama semakin menghilang. Sakura benar-benar merasakan kepedihan hati teramat dalam. Apakah ini yang disebut karma? Karma karena mencoba bermain-main dengan takdir, bermain-main dengan cinta terlarangnya. Salah? Apa ia salah mencintai Kakashi?

Sakura menggelengkan kepalanya. Mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Hatake Kakashi, nama itu selalu berputar-putar di dalam kepalanya. Membuatnya pening, membuatnya ingin berteriak, dan meraung, menangis sejadi-jadinya. 'Inikah balasanmu untukku Kakashi? Balasan dari lamaranmu yang ku tolak selama ini? Sasuke, inikah balasan darimu karena aku kini mencintai Kakashi? Jawab aku! Kalian berdua datang dan pergi seenaknya dalam kehidupanku! Kenapa? Kenapa pada akhirnya kalian selalu meninggalkanku!'

Sakura mencengkram erat rambutnya dengan kedua tangannya. Sakura menangis, menangis, mengadu pada sang senja, mengadu akan segala derita yang dialaminya, derita akibat pernikahan Kakashi. "Ternyata kau memang benar-benar tidak kembali lagi, Kakashi?"

.

.

.

.

Sakura merapatkan mantel berpergiannya. Hatinya sudah tertanam tekad yang kuat. Ya, ia harus merelakan Kakashi. Lagipula ia sendiri yang menolak segala ikatan yang dijanjikan Kakashi. Ia tidak boleh egois dengan terus mengurung Kakashi dalam cintanya. Kakashi pantas mendapatkan wanita yang menjadi miliknya seutuhnya. Tapi setidaknya, ia ingin melewatkan malam terakhirnya dengan Kakashi. Badai di luar tidak menghalangi niatnya untuk menuju satu tempat, flat Kakashi.

Sementara itu, Kakashi tidak hentinya membalik-balikan posisi tidurnya. Badai yang bergemuruh di luar membuatnya tidak tenang. Satu nama berputar-putar di dalam benaknya, Sakura. 'Sakura, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku jelaskan padamu?'. Kakashi belum mengunjungi Sakura sepulang misi kali ini, misi yang membuat Kakashi dilemma. Padahal biasanya, sehabis misi Kakashi selalu mengunjungi Sakura, beralasan untuk mengecheck lukanya bila dirinya terkena semprot Tsunade sama yang tidak suka Kakashi tidak langsung melaporkan hasil misi padanya. Tapi kali ini, belum sekali pun ia mengunjungi Sakura sepulang misi kemarin. Lamunannya terganggu oleh ketukan pintu flatnya. Kakashi melirik jam dinding di kamarnya, 11.00 malam. Kakashi menerka-nerka siapa yang mengunjunginya selarut ini?

Kakashi tidak tahu harus berkata apa saat melihat siapa tamu malam harinya. Seraut rambut merah jambu muncul di balik tudung mantel yang dikenakan wanita itu. Tubuh wanita itu menggigil kedinginan, giginya tampak bergemeletuk akibat badai yang sepertinya baru saja diterjangnya. Walau sebenarnya badai dalam hati wanita ini lebih dahsyat dari badai di luar. Segera saja Kakashi menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Menutup pintu flatnya. Menyesap aroma mawar yang menguar dari tubuh sang wanita, wanita yang dicintainya, Sakura.

"Sakura, apa yang kau lakukan? Kau bisa sakit nekat menerjang badai seperti ini!" Kakashi semakin merapatkan pelukannya. Berharap dapat menghangatkan tubuh wanita ini.

"Ka..ka..shi," Sakura dengan terbata mengucapkan nama Kakashi. Kakashi melepaskan pelukannya dan menatap wajah Sakura.

"Sakura, aku.." Kakashi tidak melanjutkan perkataannya karena Sakura meletakkan jari telunjuknya di bibir Kakashi, memintanya untuk tidak melanjutkan perkataannya.

"Tolong, temani aku hanya untuk malam ini. Karena setelah malam ini, aku harap kita akan kembali pada takdir kita masing-masing. Takdir yang sudah disuratkan untuk kita," Sakura tersenyum tipis sebelum melanjutkan, "Kau.. dan aku," tanpa isyarat lagi, Sakura mengecup lembut bibir Kakashi. Berharap mendapatkan salam perpisahan yang manis.

Kakashi tahu ada yang salah dengan Sakura. Ini bukan seperti Sakura yang biasa, sedikit perasaan takut membayangi Kakashi.

"Sakura, kau tidak apa-apa?" tanya Kakashi ketika Sakura melepaskan ciumannya.

"Aku, baik-baik saja, Kakashi kun," tanpa terasa setetes air mata jatuh di pipi Sakura. Kakashi menjilat air mata itu, mengecup pipi dan bibir Sakura sebelum akhirnya berbisik lembut di telinga Sakura.

"Maafkan, aku Sakura. Aku tahu, aku salah, aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Hanya aku tidak bisa membohongi diriku. Aku selalu dan akan selalu mencintaimu, hanya kau, hime-ku," Kakashi mengakhiri ucapannya dengan mengecup bibir Sakura.

'Aku tahu, Kakashi kun. Maka dari itu, izinkan aku memilikimu untuk yang terkahir kalinya malam ini' balas Sakura dalam hati.

Tangan Sakura bergerak perlahan di dada Kakashi, keduanya kini tengan bercinta di atas tempat tidur Kakashi. Pakaian keduanya sudah tergeletak entah di mana. Jari-jari Sakura menyusuri dada bidang Kakashi. Kakashi yang berada di atas Sakura masih mencumbui kedua payudara Sakura yang sudah mengencang akibat belaian Kakashi. Sakura sedikit mendesah geli saat lidah Kakashi mulai dirasakannya turun menuju daerah kewanitaannya.

"Nghh.. Kakashi.."

Kakashi semakin berhasrat melanjutkan kegiatannya, mereguk madu Sakura memang kegiatan terindah dalam hidupnya. Lalu dengan sedikit sentuhan akhir, Kakashi berhasil memasukkan miliknya pada lorong milik Sakura. Membuat mereka untuk yang kesekian kalinya bermandi peluh, erangan, dan desahan cinta.

Kakashi ambruk di sebelah Sakura, ketika dirasakannya tubuhnya telah mencapai klimaksnya. Sakura sendiri sudah klimaks untuk yang kedua kalinya. Perlahan Sakura menyusup ke dalam lengan Kakashi. Seperti malam-malam sebelumnya, Kakashi mendekap erat sang bidadarinya sebelum mereka berdua terpejam. Hanya satu yang tak Kakashi ketahui, bahwa malam ini adalah malam terakhir sang bidadarinya. Dimana suatu saat ia tak lagi mendapati sang bidadari itu membuka kedua emerald indahnya.

Sakura berusaha keluar dari dekapan Kakashi secara perlahan, tak ingin membangunkannya. Ia memakai sehelai selimut yang ia bebatkan pada tubuhnya yang kini tanpa sehelai pakaian pun. Ia dekatkan dirinya pada meja rias Kakashi. Tangannya mengambil sebuah pena dan kertas dari ujung meja kerja Kakashi yang berada di sudut kamar itu. Dengan linangan air mata, ia tuliskan surat perpisahan bagi kekasih hatinya. Saat menyadari suratnya sudah mencapai akhir, ia lipat kertas itu menjadi dua bagian. Ia letakkan pena di atasnya. Perlahan ia kembali menyusup ke dalam dekapan Kakashi, air mata masih berlinang di pipinya saat mengucapkan salam perpisahannya, "Selamat tinggal, Kakashi kun," dan ia pun memejamkan matanya untuk yang terakhir kali, berharap ia tak kan lagi bisa membuka keduanya.

Konoha, May 11, 2010

Tanah merah itu masih basah dengan bunga bertaburan di atasnya. Isak tangis masih mengelilingi makam itu. Hampir seluruh warga Konoha hadir memberikan penghormatan terakhirnya pada sosok yang terkubur tenang di balik gundukan tanah merah itu. Dengan jelas terukir namanya di atas nisan pualam putih.

Sakura Uchiha

Lahir: 23 Maret 1985

Wafat : 10 May 2010

Sesosok pria berambut perak masih berjongkok di hadapan makam itu, tak pedulikan air mata yang mengalir dari kedua matanya, menyiratkan kesedihannya. Kesedihannya sepeninggal sang hime, hime-nya tercinta. Makam itu kini mulai sepi karena satu per satu pergi setelah memberikan penghormatan terakhirnya pada Sakura. Kakashi tak bergeming, tak menggubris setiap orang yang sudah mengajaknya untuk pulang, membiarkan Sakura tenang di peristirahatan terakhirnya.

Kakashi meremas secarik kertas yang sedari tadi digenggamnya. Matanya kembali menjatuhkan air mata saat mengingat isi kertas itu. Peninggalan terakhir dari bidadarinya. Bidadarinya, Sakura Uchiha.

"Konoha, 09 May 2010

Untuk Kakashi kun,

Kakashi kun, taukah engkau? Betapa bahagia saat aku pertama kali merasakan jantung ini berdetak di dekatmu. Rasanya ada beribu-ribu bunga yang bermekaran di hatiku.

Kakashi kun, taukah engkau? Betapa bahagia hatiku saat ternyata mengetahui perasaanku berbalas indah darimu.

Kakashi kun, taukah engkau? Kadang aku merasa bersalah pada Sasuke, karena aku sadar aku mencintaimu.

Kakashi kun, taukah engkau? Hatiku behagia saat mendengar ucapan lamaran itu terucap dari bibirmu. Menandakan kau serius menjalin hubungan ini denganku.

Kakashi kun, taukah engkau? Hatiku sedih saat aku tak mampu untuk mengucapkan dua huruf padamu, YA. Aku ingin sekali mengucapkan itu, hatiku menjerit ingin mengucapkan itu. Tapi lagi-lagi aku tak bisa. Aku bersumpah untuk tetap menyandang status Ny. Uchiha sampai aku mati di depan makam Sasuke. Maafkan, aku Kakashi kun. Aku mencintaimu.

Kakashi kun? Taukah kau betapa kepergian misimu kali ini membuat hatiku tak tenang. Mungkin setiap misi memang mengingatkanku pada Sasuke. Aku takut kau tak kembali, seperti Sasuke yang tak pernah kembali lagi. Tapi entah kenapa saat itu, aku malah menakutkan hal yang paling konyol. Aku takut kau menemukan wanitamu. Aku takut kau meninggalkanku, Kakashi kun. Aku takut.

Kakashi kun, tahukah engkau? Aku behagia saat kau menenangkanku. Kau katakan bahwa aku adalah wanita yang kau harapkan menjadi pendampingmu.

Kakashi kun, tahukah engkau? Betapa sakit dan hancur hatiku saat mengetahui kabar pernikahanmu? Ternyata kau memang tak akan kembali.

Kakashi kun, aku tahu aku egois. Aku hanya ingin kau tahu. Aku, Sakura.. Ah ya, bolehkan aku menyandang status ini sebelum waktuku berakhir, Sakura Hatake. Aku, Sakura Hatake mencintaimu, Kakashi Hatake. Setelah malam ini, kita akan kembali ke takdir kita masing-masing. Semoga kau bahagia, Kakashi kun. Sayonara, Kakashi kun.

Dari wanita yang mencintaimu,

Sakura Hatake"

Kakashi memejamkan kedua hatinya, berharap bayangan bidadarinya tak menghilang. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya. "Tunggu aku, Sakuraku. Aku akan segera menyusulmu."

OWARI

Fuih.. Akhirnya selesai sudah fic ini. Hehehe.. XD

Gomen kalo endingnya gaje n maksain. Tapi beginilah akhirnya.*pundung di kolong bale ditemenin Kakashi*Wkwkwkwk..

Ditemani Teh Rossa dengan 'Tak Termilikinya' Jissun dengan 'What Do I do nya' yg terakhir Teh Sandra dengan 'Thurston House nya' yg sukses bikin ay gelinjingan (?), nangis ngoek, mukul2 bantal saking terharu n sedih walau endingnya bahagia sih, tapi tetep aja pengen nangis bombay tiap inget cuplikan novel itu! Apalagi pas cewenya ditinggal nikah ama cowoknya yang jatuh hati ama cewe lain! Arghhh!

Ehmm.. ehm.. maafkan ay yg malah curcol gaje.

Thanks to Dei Hatake, Chiwe-SasuSaku, Awan Hitam, Hikari Uchiha Hatake, Cutecha (gak login yah), Princess Mikaia, Mamehatsuki, Haruchi Nigiyama, Miyagi Doumara, Uzumaki_Kyubi, zangetsuichigo13

Berkat kalian ay semangat nerusin fic ni.^^

Makasih ya!

Luv U all…!

Jaa..