Riko merasa Kuroko adalah orang yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang sudah menggelayuti pikirannya sebulan ini. Sedangkan Hyuuga merasa ia berbicara pada orang yang salah ketika bertemu Kagami secara tidak sengaja di Maji Burger. Junpei x Riko.
Disclaimer for Tadatoshi Fujimaki
Character: Hyuuga Junpei, Aida Riko, Kuroko Tetsuya & Kagami Taiga
Timeline: setelah final Winter Cup
~oOo~
Why is It So Hard to Say 'I Love You'?
by Little Hatake
.
.
Halte yang tak jauh dari Maji Burger menjadi tempat pilihannya untuk duduk kembali. Hyuuga masih berpikir bagaimana caranya ia menyatakan perasaannya pada Riko. Bagaimana jika ia ditolak? Bagaimana jika ia diterima? Tapi, bukankah ia hanya mengungkapkan apa yang ia rasakan saja dan bukan meminta Riko menjadi kekasihnya? Terlalu banyak tanda tanya memenuhi pikiran Hyuuga sampai-sampai ia tidak sadar jika seseorang memanggilnya.
"Hyuuga..."
"Hyuuga-kun?"
Hyuuga baru bereaksi ketika orang itu menyentuh bahu kanannya. "Eh, ada ap—Riko?" Ia terkejut ketika mendapati seseorang itu adalah Riko.
"Mengapa kau belum pulang?" Riko ikut duduk di samping Hyuuga.
"Kau sendiri?"
"A-aku..." Riko tampak tergugup mencari jawaban. Tidak mungkin ia menjawab habis curhat dengan Kuroko tentang orang yang di sampingnya. "Aku habis menyusun menu latihan kita untuk sebulan ke depan." Alasan itu yang akhirnya keluar dari bibirnya. Ia tidak berbohong, 'kan?
"Sampai selarut ini? Mengapa kau tidak buat saja di rumah atau jika kau akan pulang malam begini kau menghubungi... Kiyoshi?" Hyuuga mendesiskan kata terakhir dengan nada hampir tak terdengar.
"Teppei? Apa hubungannya ia denganku? Lagi pula, aku sudah biasa pulang malam begini sendirian. Kautahu itu, Hyuuga-kun."
'Riko tidak mempunyai hubungan apapun dengan Kiyoshi?' Hyuuga tidak menduga Riko akan menjawab seperti itu. Terpancar sedikit kelegaan dari kedua matanya. Tapi, masih banyak pertanyaan yang berhubungan dengan pelatih dan center-nya itu. "Tapi, mengapa kemarin-kemarin kau selalu berangkat dan pulang sekolah dengannya?"
"Oh itu... Aku minta bantuannya untuk membawakan perlengkapan basket kita dari toko olahraga di dekat rumahku. Aku membelinya sepulang sekolah lalu menyimpan sementara di rumah dan membawanya ketika berangkat. Cukup banyak juga pesanan kita semester ini. Tidak mungkin 'kan, aku membawanya sendirian?"
"Tapi, mengapa kau tidak memintaku saja?"
"Rumah Teppei lebih dekat denganku. Dan rumah kita berdua berbeda arah, Hyuuga-kun. Mana mungkin aku tega menyuruhmu untuk mengantar-jemputku—eh?" Riko malah merasa malu sendiri mengungkapkan kekhawatirannya. Begitu pun dengan Hyuuga yang mendengar penjelasan Riko.
"Lalu, saat kau mengunjungi rumah Kiyoshi sendirian untuk tugas biologi?"
"Ah itu, mengapa aku tidak mengajakmu karena sebelum latihan aku menyuruh Izuki untuk mengambil jaket pesanan kita bersamamu."
Hyuuga baru ingat jika Izuki pada hari Minggu itu mengajaknya untuk pergi ke toko jahit. Ia terlanjur cemburu dengan Riko yang sedang berada di rumah Kiyoshi dan tidak bertanya lebih lanjut. Mendengar penjelasan Riko, hati Hyuuga mulai lega. Setidaknya ia sudah memastikan jika tidak ada hubungan apapun antara Kiyoshi dengan Riko. Tinggal satu lagi masalahnya: perasaannya.
Riko sebenarnya heran mengapa Hyuuga bertanya seperti itu padanya seolah ia... cemburu. Hei, apakah benar Hyuuga cemburu padanya? Itu berarti, Hyuuga memiliki perasaan yang dengannya? Tapi, bagaimana perasaan Hyuuga terhadap Kaoru? Riko harus memastikan yang satu ini.
"Hmm, Hyuuga-kun..." Riko mendekap tasnya, mencoba meredakan rasa gugupnya.
"Ya?"
Apakah harus sekarang? Riko masih ragu. Tapi, jika tidak sekarang, kapan lagi? "Bagaimana kabar Kaoru?"
Alis Hyuuga terangkat sebelah, tanda tak mengerti. "Kaoru? Ada apa dengannya?"
"Bukankah kalian berdua sering membicarakan sejarah Jepang? Aku perhatikan kau antusias sekali."
Hyuuga tertawa mendengar pertanyaan konyol dari Riko. "Kau seperti tidak mengenalku saja, Riko. Aku pasti antusias jika mengenai hal itu."
"Dan tentang handuk itu... Mengapa kau tidak bilang padaku? Aku 'kan sudah mempersiapkan semua kebutuhan tim."
"Aku ingin bilang handukku sudah jelek saat ke gym bersamamu, Riko. Tapi ternyata Kaoru sudah terlanjur memberikannya padaku. Dan kau malah ke gym sendirian meninggalkanku." Hyuuga juga baru tersadar mengapa Riko pergi ke gym dengan langkah tergesa. Apakah ia juga cemburu padanya?
"Jadi, kau begitu semangat bukan karena kau suka dengannya?" Riko masih mencoba meyakinkan dirinya—dan Hyuuga.
Hyuuga tertawa kembali. "Tentu saja tidak. Aku sudah menyukai seseorang, dan aku tidak mau membagi hatiku dengan yang lain."
Keduanya sama-sama terdiam setelah kalimat itu selesai meluncur dari mulut Hyuuga. Atmosfer aneh mulai menyelimuti udara di sekitar mereka. Satu spekulasi muncul di pikiran mereka masing-masing: mereka berdua memiliki perasaan yang sama.
Suara bis yang lewat di halte itu belum dapat memecahkan keheningan di antara mereka berdua. Canggung? Entahlah. Bingung? Mungkin. Sebenarnya, baik Hyuuga dan Riko tidak menyukai situasi ini. Biasanya, mereka selalu memiliki bahan pembicaraan yang menarik jika berdua seperti ini. Karena kali ini mereka tak sengaja membahas zona baru bagi mereka, mereka tidak punya ide sama sekali untuk mencairkan kebekuan ini. Sampai akhirnya, Hyuuga memberanikan diri untuk bersuara lebih dulu.
"Riko, apakah kautahu hal terindah di antara kita? Bukan tentang basket tentunya."
Riko hanya menggeleng tanpa memandang balik Hyuuga.
Hyuuga tersenyum dan membetulkan letak kacamatanya sebelum berbicara lagi. "Hal terindah di antara kita adalah rahasia tentang perasaan. Kautahu mengapa?"
Kini, Riko berani menatap manik abu-abu di balik lensa itu. "Memangnya mengapa?"
Hyuuga tersenyum amat lembut. Tak tersisa karakter kapten basket yang tegas. Hanya ada seorang Hyuuga Junpei dengan sisi kelembutannya. "Karena itulah yang membuat kita bertahan, membiarkan hati kita saling berkejaran."
Semburat merah jambu muncul menghiasi pipi Riko. "Tapi, sepertinya perasaan itu bukan rahasia lagi, Hyuuga-kun..."
"Dan itulah bagian terbaiknya. Kita tak perlu lagi berspekulasi karena jawabannya sudah kita tahu pasti, Riko..."
Mendengar perkataan Hyuuga, Riko malah menunduk. Air wajahnya berubah murung. Ketakutannya kembali muncul. "Hyuuga-kun, kita bersahabat sejak dulu aku takut..."
Hyuuga mengerti kemana arah kalimat Riko. Ia amat paham apa yang dirasakan gadis itu, ia merasakan ketakutan yang sama. Hyuuga memandang jalanan yang mulai menyepi sejenak.
"Riko, aku tak mau peduli apa status hubungan kita. Tapi ada satu hal yang pasti, aku tak mau kehilanganmu..."
Gadis berambut cokelat itu tak percaya Hyuuga akan berkata seperti itu. Ia mencoba mencari kerlip jahil di mata Hyuuga seperti saat Hyuuga menggodanya seperti biasa. Nihil. Hanya ada sinar keseriusan diiringi senyuman yang melengkung di wajah kaptennya itu.
Hyuuga menepuk halus kepala Riko dan hal ini membuat semburat merah di wajah Riko semakin jelas. "Aku sudah tahu kau dari dulu. Kau bukanlah seorang gadis yang menyukai sebuah ikatan. Aku percaya cinta sejati itu membebaskan, bukan memenjarakan."
Riko masih belum dapat berucap sepatah kata pun. Ia terlalu terlarut dalam kata-kata pemuda yang tengah memandangnya dengan sorot mata yang amat teduh.
"Tanpa ada sebuah kata pun kita akan tahu dengan sendirinya jika kita sudah siap berada dalam sebuah ikatan. Dan saat itu tiba, aku yang akan berada di sampingmu."
Telapak tangan yang biasa melempar three point itu belum beranjak dari puncak kepala gadis itu. "Kau sahabat terbaikku dan pelatih andalanku, Riko..."
Akhirnya, Riko dapat membalas senyuman Hyuuga. "Kau juga sahabat terbaikku dan kapten kebanggaanku, Hyuuga-kun..."
Mereka berdua kini mengerti. Tak usah ada embel-embel 'pacaran' di kamus mereka. Mereka saling mengerti, saling memahami dan saling menyayangi. Karena esensi sebuah persahabatan terkadang lebih dalam dari sahabat itu sendiri, bahkan dari sebuah istilah bernama kekasih. Mereka dapat memberi perhatian dengan tulus tanpa mengharap balasan. Mengalir apa adanya tanpa rekayasa karena aura sudah bersenada.
"Ah, aku lupa satu tambahan lagi untukmu!"
Riko tak mengerti maksud Hyuuga.
"Kau tetap pelatih yang tak kenal ampun dalam membuat menu latihan!"
Riko pura-pura kesal mendengar kata-kata Hyuuga. "Dan kau tetap kapten keras kepala yang suka marah-marah!" balas Riko.
Lalu tawa bahagia dan kelegaan mengikuti langkah sepasang sahabat ini. Hyuuga mengantarkan Riko pulang karena tentu saja ia merasa bertanggung jawab terhadap keselamatan anak gadis dari Aida Kagetora. Ah, tak peduli ia akan diamuk seperti apa oleh Kagetora karena sudah membuat anaknya pulang sangat larut seperti ini. Biarpun ia mati malam ini, ia akan mati dalam keadaan tenang karena perasaannya sudah terungkap dan Riko ternyata memiliki perasaan yang sama. Baiklah, imajinasimu terlalu jauh, Hyuuga.
.
.
Kuroko memerhatikan kapten dan pelatihnya dari balik jendela restoran. "Akhirnya, mereka berdua saling mengungkapkan perasaannya, Kagami-kun."
Kagami juga melihat adegan itu dari tadi. "Mereka memang pasangan yang cocok, Kuro—AAA!" Kagami hampir saja menyemburkan colanya dan terjatuh dari kursinya. Ia baru sadar jika Kuroko duduk di depannya. "Sejak kapan kau ada di sini?!"
"Sejak Hyuuga-senpai keluar dari ini." Kuroko menyeruput vanila shake-nya dengan tenang.
"Geez... Bisa tidak kau muncul dengan cara yang biasa saja, Kuroko?!"
"Bukannya biasanya seperti ini?" Kuroko bertanya balik dengan nada yang—tentu saja—datar.
Kagami menutup wajahnya dengan telapak tangan dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Meski sudah hampir setahun mereka bersama, tetap saja hawa keberadaan Kuroko masih tipis dan sulit disadari kedatangan maupun kepergiannya.
"Kagami-kun." Kuroko menaruh minumannya. "Menurutmu, apakah Kantoku dan Hyuuga-senpai benar-benar bilang 'aku menyukaimu' satu sama lain?"
"Tentu saja, kau lihat sendiri mereka berbicara serius lalu pulang dengan wajah ceria seperti itu." Kagami menghabiskan colanya kali ini.
"Menurutku tidak."
"Eh?"
"Berdasarkan hasil pengamatanku, mereka berdua bukanlah orang yang mudah mengungkapkan perasaan mereka dengan mudah."
"Lalu, mengapa mereka tampak bahagia? Bukankah itu artinya mereka sudah mengetahui perasaan masing-masing."
"Karena cinta selalu bisa menerka, meski tanpa isyarat dan kata-kata, Kagami-kun..."
Pemuda penggila burger itu menopang dagunya, menghela napas. "Mengapa mengucapkan 'aku menyukaimu' sepertinya sulit sekali? Bilang ya, tinggal bilang saja."
"Lebih baik kau buktikan perkataanmu sendiri, Kagami-kun."
"Maksudmu?"
"Jika kau memang menyukai Momoi-san, bilang saja. Apa kau takut ditolak?"
Kagami tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, tidak ada seorang yang pun yang tahu jika ia mulai menaruh hati pada manajer Touou itu. "Kautahu hal itu darimana, Kuroko?! Hei—Kuroko?" Baru saja Kagami mengalihkan pandangannya pada meja untuk menutupi rasa malunya, sedetik kemudian Kuroko sudah menghilang dari hadapannya. Dasar the sixth panthom man.
"Kuroko-temeee! Awas kau besok!"
.
Dan sebuah senyuman lebar menjadi pengantar tidur bagi Aida Riko dan Hyuuga Junpei malam ini.
.
.
(2/2)
FIN
.
~oOo~
rgrds, LH
Ternyata jeda 2 minggu dari yang part 1 dipublish, hehehe...
Naah, saya akan ngasih tau darimana aja kutipan-kutipan saya ambil: ada 1 line dari novel karya Sitta Karina tapi kebanyakan dari komik Grey & Jingga, karya komikus Indonesia asal Bandung, Sweta Kartika. Ada yang udah baca komiknya? Tersedia secara gratis di fbnya atau beli versi cetaknya dan mari kita ber-melting bersama~ Aaa, Dharmaa~ Mari hargai karya anak bangsa!
2 hari lagi lebaran, saya mohon lahir batin wal faidzin yah, minna-san~
MAJU TERUS KOMIK INDONESIA! :D
