AM I NOT SUIT TO BE YOUR FRIEND?
Disclaimer :
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Am I not suit to be your friend? © Akabane Kazama
Genre (s) :
Friendships
Pairing :
Kagami X Kuroko
.
DON'T LIKE, DON'T READ, DON'T FLAME
.
.
Aku masih ingat bagaimana rasanya saat sensasi menjijikkan itu menggelitik permukaan kulitku.
.
Benda tajam itu jatuh berdenting kala genggaman sang lelaki bersurai crimson red mengendur bersamaan dengan air muka yang perlahan memucat.
.
.
Bagaimana rasanya saat sesuatu seperti mengocok perutku, membuatku mual dan ingin segera muntah.
.
Tubuh mungil itu tergeletak tak berdaya, bermandikan genangan cairan merah pekat yang volumenya kian menambah selama waktu terus berjalan.
.
.
Bagaimana rasanya saat kaki-kaki itu bergetar, tak kuasa menahan berat tubuh dan siap tumbang kapan saja.
.
"Kau...berani-beraninya kau..." kepala dengan helaian rambut warna scarlet itu mendongak cepat, menampilkan manik kaca beda warna—yang satu senada dengan rambutnya dan yang satunya lagi bersinar cerah bak batu topaz yang dipoles indah. Kilatan-kilatan imajiner kemarahan terlukis jelas disana, mengalahkan petir bersahut-sahutan di tengah derasnya badai yang mengguyur kota Tokyo, "berani-beraninya kau membunuh Tetsuya—"
"—KAGAMI!!!"
.
.
Dan bagaimana rasanya ketika aku menyadari, bahwa semuanya telah berakhir.
.
Kelopak mata itu mengerjap seketika, memaksa cahaya temaram lampu menusuk masuk ke dalam kornea. Peluh bercucuran begitu deras, sampai-sampai membasahi kaos hitam dan permukaan ranjang tempatnya terlelap. Ah, lagi-lagi ia memimpikannya. Mimpi mengerikan dimana menampilkan dirinya sebagai pemeran utama yang berperan dalam membunuh sahabat satu-satunya, sahabat terbaiknya. Dimana dirinya kini dikejar-kejar oleh lelaki dengan manik dwi warna yang menginginkan balas dendam akan kematian sesosok mungil berekspresi datar yang selalu setia menemani paras pucat itu.
Dari sudut pandang visualnya, ia menangkap pisau tajam dengan bercak merah kecoklatan yang tersembunyi di bawah rak buku. Tidak. Ia ralat perkataan sebelumnya. Itu bukan hanya sekadar mimpi. Melainkan sebuah kenyataan.
Kenyataan pahit yang akan terus menghantuinya seumur hidupnya.
Dengan tubuh gemetar dan perasaan campur aduk, ia berendam di dalam air hangat, membasuh keringat lengket yang ia dapatkan saat rekaman flashback itu terulang kembali bagaikan kaset macet. Bahkan saat matahari sudah menampakkan cahaya cerahnya dan Himuro datang menjenguknya, menanyakan keadaannya seraya membawa beberapa bungkus makanan ringan, tak mengalihkan kecemasan yang kian mengakar dalam diri sang lelaki. Ditambah lagi saat berita menampilkan—kembali—kematian seorang anak seumurannya akibat kecerobohan dalam menyeberang jalan pada pukul 5 pagi—detik itu juga, Himuro langsung mematikan televisi dan tertawa hambar, menyodorkan keripik kentang dan majalah basket yang ia comot asal dari bawah meja kaca—semuanya malah menambah kekalutannya saja.
Apa yang harus ia lakukan? Ia tak punya siapapun yang bisa ia andalkan disaat seperti ini. Ayah tercintanya itu kembali kerja di luar kota dan meninggalkannya sendirian di tempat asalnya; ia bahkan tak berpikir panjang saat Himuro menelponnya, mengatakan bahwa saat ini Kagami sudah tinggal di apartemen dengan alasan ingin hidup mandiri. Dan bicara soal Himuro juga, dia orang baik-baik. Kagami tak ingin melibatkannya lebih jauh dengan masalah yang seharusnya ia selesaikan dengan kedua tangan dan kemampuannya sendiri ini.
Ia sudah berpikir untuk menyerahkan diri ke pihak berwajib, setidaknya itu lebih baik daripada harus dihantui mimpi buruk dan ketakutan akan kemarahan lelaki bermata beda warna yang entah kapan munculnya. Tetapi Himuro menolak, menahannya di dalam apartemen tempat lelaki bersurai hitam kelam itu dulu bernaung, beralasan bahwa apa yang terjadi bukan salahnya dan semua itu hanyalah kesalahan kecil belaka.
Kecil darimananya? Ia sudah merenggut dua nyawa lelaki tak bersalah. Parahnya lagi, salah satunya adalah teman terbaiknya. Membunuh hewan saja sudah dicap buruk oleh orang sekitar. Apalagi yang harus disangkal?
"Kau mau kemana, Kagami-kun?" ia bisa merasakan kecemasan dibalik kalimat tanya saat lelaki kekar itu beranjak dari tempat duduknya.
"Mini market." Jawabnya singkat dan sekenanya. Persediaan bahan makanannya mulai menipis. Ia harus segera mengisi ulang sekaligus merilekskan diri dari cengkaraman hawa yang rasanya mencekik urat leher ini.
Namun lagi-lagi Himuro menghalanginya. Ia merentangkan salah satu tangannya, memberi sebuah senyuman tipis meski ada guratan ketakutan di wajah pucat itu dan berkata, "biar aku saja. Ramalan cuaca bilang hari ini akan turun hujan. Aku tak ingin kau sakit." Dan Kagami samar-samar bisa mendengar sebaris kalimat yang seharusnya ia ucapkan, namun coba ia tahan, "apalagi dalam kondisimu yang seperti ini."
Dan semua perhatian yang ia berikan itu, hanya menambah luka di hatinya saja.
Lelaki berstatus single dan berperan sebagai power forward dalam klub basket itu hanya bisa termenung ketika menyadari dirinya tengah berdiri di dalam kegelapan yang tak ia kenal. Meski kaki itu terus melangkah maju, mulut itu terus menyerukan panggilan—berharap ada yang menjawabnya dan menjelaskan keberadaan dirinya sekarang ini, tak ada tanda-tanda sedikitpun ia akan segera keluar dari tempat aneh yang terselimuti ketegangan di tiap langkah ia menapak.
.
Kenapa?
.
Dan gema suara yang tiba-tiba merasuki auditorinya berhasil membuatnya terhenyak kaget. Manik merah yang seolah bercahaya dalam gelap itu berputar kesana-kemari, mencoba mencari asal suara yang—begitu disadari—terasa amat dekat.
.
Kenapa?
.
Dirinya kembali dibuat mematung kaget saat berbalik dan mendapati apa yang ia cari sudah berdiri di hadapannya. Tubuh mungil itu, surai biru itu, wajah tanpa ekspresi itu begitu ia kenal. Kerinduan akan sosok itu membuncah begitu hebat. Ia ingin menyapanya, mengobrol dengannya, bersenda gurau dengannya. Tapi semua itu tak lebih dari keinginan egois belaka ketika kedua mata kosong itu menatap lurus, seolah dapat membaca rahasia terdalam yang ia simpan jauh di lubuk hatinya.
.
Kenapa?
.
Ia bisa merasakan cairan kental di kakinya dan bau amis yang menusuk saraf penciuman. Darah. Genangan air yang banyaknya tak terhingga itu keluar dari luka menganga di perut sang lelaki berkulit pucat, makin bertambah seiring berjalan waktu. Ke pinggangnya, tubuhnya, dadanya, hingga lehernya.
.
Kenapa?
.
Ia menggapai-gapai udara, seolah ingin menangkap apa saja yang bisa ia jadikan pegangan. Nihil. Semuanya percuma. Ketika akhirnya ia tenggelam dalam pekatnya air merah dan menangkap kalimat terakhir sang anak lelaki sebelum benar-benar lenyap.
.
.
Kenapa kau menghianatiku, Kagami-kun?
.
.
"UWAAAAA!"
Untuk kesekian kalinya dari kehidupan membosankan yang ia miliki, lelaki itu kembali terbangun dari tidurnya, lagi-lagi dengan wajah pucat pasi dan keringat yang membasahi. Napasnya tak beraturan, tubuhnya bergetar hebat, jantungnya berpacu cepat mengalahkan detik jam dinding dalam ruangan. Tak terasa, air mata merembes keluar dari sudut bola kaca bercahaya redup itu.
Cukup sudah. Ia tak tahan lagi. Ia tak tahan dengan semua mimpi mengerikan dan teror yang ia terus alami dalam tidur ini. Ia tak tahan dengan perasaan menjijikkan mengocok perut yang kian lama efeknya kian menguat ini. Ia ingin menghilang. Ia ingin menghilang dari dunia ini. Lalu bertemu dengan dirinya di alam sana, meminta maaf akan keegoisannya selama ini dan kembali bersama seperti dahulu.
.
.
Kagami berjalan dengan langkah gontai menjejaki trotoar dipenuhi pejalan kaki yang sibuk dengan aktifitas sehari-hari; para pekerja kantor, anak sekolahan, kuli bangunan, penjaja makanan dan lain sebagainya. Semuanya terlihat begitu bahagia, benar-benar berbanding terbalik dengan keadaannya saat ini. Kaki-kaki itu menghentikan langkahnya di depan etalase toko elektronik yang menjajakan televisi-televisi keluaran terbaru dan siaran dorama detektif—ia baca dari majalah milik Himuro yang sengaja dibawa untuk menghilangkan kejenuhan—dikenal oleh khalayak anak muda maupun dewasa. Terutama pemeran utamanya yang dimainkan oleh artis yang saat ini tengah naik daun dan—kalau ia ingat—merupakan teman satu apartemennya, Kise Ryouta.
"Ada misteri yang tersembunyi di ruangan ini. Misteri yang akan memberikan kita petunjuk pada apa yang sebenarnya telah terjadi." atau setidaknya itulah kalimat yang ia tangkap dari detektif muda nan tampan, seraya menampilkan wajah serius mempesona yang akan membuat kaum perempuan berteriak kegirangan dan kaum laki-laki memasang wajah jijik. Ia juga pasti akan melakukan hal itu, jika saja drama muluk itu tak membuatnya menyadari sesuatu.
Apakah semua kesalahan yang ia perbuat akan sirna begitu saja setelah ia mati? Tidak. Banyak yang berkata, mati bukanlah jalan terbaik dalam menyelesaikan masalah. Malah akan berujung ke titik buntu dimana tak ada penyelesaiannya sedikitpun. Tapi ia sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi. Sudah tak bisa mengarungi kejamnya kenyataan akan kehidupan dunia fana yang tak jelas kapan berakhirnya ini. Apa? Apa yang harus ia lakukan?
"Misteri...misteri di dalam ruangan..." Bibir pucat yang terkatup itu perlahan menggumamkan kembali sebagian dari dialog sang detektif. Tak memperdulikan tatapan aneh pejalan kaki yang melintas, mendapati remaja berwajah sangar terlihat begitu antusias—atau begitulah yang nampak di mata mereka—memandang film yang kini sudah memasuki babak akhir itu. Sudah ia putuskan.
.
.
"Sensei, bisa kau tunjukkan buku-buku apa saja yang kau miliki?" Kagami berseru cukup kencang, menakuti Furihata-sensei yang saat ini tengah menikmati secangkir kopi hangat di waktu istirahat makan siang, "kumohon, hanya kaulah satu-satunya yang bisa kuharapkan!"
.
Kalau Himuro tak mengizinkannya menyerahkan diri ke pihak berwajib dan mendapatkan hukuman yang setimpal, kalau Tuhan memaksanya untuk terus hidup dalam kesengsaraan dalam menanggung dosa yang mesti ia bawa kemanapun, kalau ia tak diperbolehkan mati begitu saja dengan meninggalkan semua kesengsaraan akibat perbuatannya, maka ia akan melawannya.
.
.
"Berapa harga semua barang ini?" Kagami menggebrak meja kasir bersama dengan barang belanjaannya; kertas minyak warna-warni, poster pemain basket dan sekotak kartu remi, "ambil saja kembaliannya!"
.
Berbekal dari contoh misteri yang disuguhkan penulis cerita drama, keinginan kuat untuk melepaskan diri dari kungkungan bernama 'ketakutan' ini, ia sudah memutuskan. Untuk memberikan petunjuk atas apa yang ia lakukan. Untuk menyatakan bahwa ialah penjahat yang bersalah tanpa Himuro yang tak akan langsung mengetahui secara langsung pengakuannya. Dan juga...
.
.
"Kau bisa mengubah pengaturan alarm pada handphone ini?" ia menyodorkan handphone merahnya ke hadapan pemilik berkulit hitam yang terkaget-kaget dari keasyikannya membaca majalah 'dewasa' miliknya, "cepatlah, aku tak punya banyak waktu!"
.
Untuk pergi menemui sahabat terbaiknya di dunia kekal nun jauh disana.
"Tak ada perubahan yang berarti. Kurasa kau hanya kelelahan saja." Sang dokter dengan kacamata hitam berbingkai kotak melepaskan stetoskop dari telinganya, menuliskan resep untuk sang pasien dan memberikannya pada lelaki pemilik apartemen yang menampilkan ekspresi tak semangat, "sebaiknya kau tidur saja. Itu akan membuatmu merasa lebih baik. Ja."
Manik crimson red itu mengekori kepergian dokter, menghampiri 'teman sekelasnya' yang memandang dengan kekhawatiran lebih parah dari biasanya. Kagami pura-pura tak melihat, juga pura-pura tak mendengar percakapan mereka—yang membicarakan tentang perihal penyakitnya dan Himuro yang berusaha menutupi kenyataan—dan berbaring di atas tempat tidur, memejamkan mata.
Tidak. Ia tak berniat untuk tidur. Ia sedang menguatkan keinginannya, menguatka resolusinya, mencoba untuk tak terganggu dengan sorot mata Himuro barusan. Kalau tidak, semuanya akan percuma. Teka-teki yang sudah ia siapkan, petunjuk yang ia tulis pada buku diarinya, juga—
—pisau yang sama dengan yang ia gunakan di hari itu.
Mencoba untuk tak menimbulkan suara yang dapat mengalihkan kedua insan yang masih sibuk berbicara, Kagami melangkah menuju kamar mandinya. Benda tajam itu kini berkilat-kilat memantulkan cahaya menyilaukan lampu, ia pegang dengan tangan kanan sementara tangan kiri menjulur ke depan. Sebuah garis lengkung tipis dan terkesan hampa terulas di wajah berkulit sun-kissed walaupun ia tahu saat ini bahaya mengancam nyawanya ketika pisau mulai mengiris pembuluh nadi arteri.
.
Seperti ini tidak apa-apa kan? Seperti ini juga sudah cukup kan?
.
Tubuhnya limbung ketika cairan merah kental yang sudah sangat ia kenal memancar keluar mengotori baju serta lantai. Dirinya yang terjatuh dengan kepala lebih dulu menghantam pinggir bathub kamar mandi dan tangan yang terluka terendam dalam kolam air, sakit yang bahkan sudah tak terasa lagi itu itu entah kenapa menenangkannya. Meski saat ini dua lelaki yang perlahan mulai mengabur di visual pandangnya itu langsung berlari menghampiri, memasang wajah cemas—samar-samar ia bisa melihat salah satunya menangis dan menyerukan nama kecilnya—ia sama sekali tak terganggu. Seolah beban berat yang selama ia rangkul sirna begitu saja.
.
Harapan terbesarnya hanyalah ingin bertemu dan berbincang lagi dengannya. Hanya itu.
.
.
.
.
"Aku tak bisa berlama-lama di dunia ini. Soalnya aku kan hantu."
.
.
Meskipun waktu telah lama berlalu, meskipun suatu saat mereka akan bertemu dengan masing-masing berada di dunia yang berbeda.
.
.
.
.
"Terima kasih sudah mau menemaniku hingga sejauh ini."
.
.
Dan tiba saatnya mereka akan terpisah kembali, asalkan ia bisa mengucapkan kata maaf dan menebus semua dosa yang telah ia perbuat, semua itu sudah cukup.
.
.
.
.
Senyuman itu terulas kala kesadaran makin menipis, "akhirnya aku bisa bertemu denganmu kembali—"
.
"—Kuroko."
.
.
.
.
Selama ia bisa mengembalikan senyuman yang sedari dulu pantas untuk dimilikinya.
.
.
~END~
(A/N) :
Fiuuh...akhirnya chapter 2 selesai juga.
Setelah saya baca ulang fanfic 'Do you wish to know the truth' *ngapain mbak dibaca ulang?* saya baru sadar kalau masih banyak keanehan yang belum terungkap; seperti alasan pertama kenapa Kagami menyiapkan teka-teki di kamarnya, bagaimana Akashi bisa melacak keberadaan Kagami, juga sikap Mayuzumi setelah ia berubah menjadi hantu. Karena kesal—ga jelas kesal karena apa—jadi saya lanjutin aja deh serialnya :v
Ceritanya lebih pendek dari sebelumnya? Yah...soalnya masa lalu Kagami kan udah dibahas di cerita resminya, jadi ga perlu diperdalam lagi kan?
Eh, kalau dipikir lagi-lagi Kise berguna ya? Kan dia yang memberi ide soal misteri ke Kagami. Oh well...
Kalau udah kepikiran dan ide juga udah bermunculan lagi, rencananya mau saya lanjutin ke chapter 3, dengan Akashi sebagai pemeran utamanya. Dan btw, saya pengen banget nih bikin fanfic Tonari no Seki-kun—setelah dapet ilham (?) dari mimpi—sayang ga ada di fanfiction. Huhu...
Oke deh. Daripada menuhin halaman dengan omongan ga jelas...
Don't forget to review
Best Regards
Akabane Kazama
