Jauh di kerajaan entah berantah. Kerajaan yang indah, dikekelingi hutan serta kemakmuran, hiduplah seorang ratu yang sangat cantik dan mempesona. Sang Ratu hidup disebuah istana paling mewah di kerajaan tersebut, dengan seluruh pengawal dan pelayannya. Sang ratu mempunyai kecantikan yang mampu meluluhkan hati seluruh manusia di dunia ini. Dengan rambut hitam lebat panjang, bibir kecil merah muda yang menggoda, kulit sehalus sutra, dengan lekuk tubuh yang sangat indah dan mata amethyst yang menawan, sang ratu dapat membuat seluruh rakyat bertekuk lutut atas kecantikannya. Namun, mawar sekalipun berduri. Sayang sekali sikap sang ratu tidak sesuai dengan paras cantiknya. Ia sangat serakah, egois, jahat dan licik. Kerajaan berubah setelah sang ratu berhasil meracuni raja dan membuat raja menutup mata untuk selama lamanya. Seketika, sang ratu mengambil alih kerajaan. Tidak ada kebahagiaan, tidak ada kemakmuran, rakyat sangat menderita dan pekerjakan secara paksa, semuanya berubah menjadi kelam.
Mengapa tidak ada yang menentang? Karena sang ratu bukanlah hanya jahat dan licik, ia juga sangat kuat, ia mempunyai kekuatan sihir. Ia adalah penyihir terkuat di kerajaan, penyihir tercantik. Sang ratu hidup penuh dengan gelimpangan kemewahan dengan penderitaan rakyat sebagai gantinya. Namun ia tak peduli, ia terlalu menikmati kehidupannya saat ini.
Sang Ratu juga tergila gila dengan kecantikan, kecantikan adalah dirinya. Ia membeli seluruh cermin di kerjaan, meletakkannya di setiap sudut ruang istana. Dengan berbagai macam ukuran, agar ia selalu bisa melihat kecantikannya dimanapun ia berada. Kecantikan adalah kekuatannya, cermin adalah benda kesukaannya. Sebuah cermin ajaib yang bisa berbicara, cermin yang tidak hanya dapat berbicara, tapi juga menampilkan masa depan. Yang selalu ia jadikan patokan atas segala langkah yang ia ambil dalam hidupnya.
Tuk Tuk tuk
Kuku kuku panjang milik sang ratu berbenturan dengan singgahsana emas bertabur berlian. Dengan tegak ia duduk, menatap pintu yang berada di depannya, menanti terbukanya pintu tersebut dan munculnya barang yang sedari tadi ia tunggu. Semua penjaga yang berada dalam ruangan tersebut menahan nafas, berdoa di dalam hati mereka agar barang yang ditunggu Ratu akan secepatnya datang.
Mata amethyst ratu mulai menatap tajam dan dingin pintu tersebut, alisnya mulai berkerut, menandakan ketidaksabaran yang sangat terlihat melalui paras cantiknya. Para penjaga mulai panik, keringat dingin mulai mengalir, namun tidak ada yang bisa mereka perbuat. Doa sudah terlafalkan di dalam hati mereka, sampai akhirnya suara pintu yang terbuka membuat mereka menghela nafas lega.
KRIET!
Bersamaan dengan terbuka pintu ruangan tersebut, Ratu mulai beranjak dari singgahsananya, berdiri dengan tidak sabar untuk menghampiri sesuatu yang ia tunggu tunggu.
Para pengawal mulai masuk dan meletekan barang yang mereka bawa ke dalam ruangan ratu.
"Letakan dengan hati hati!" Titah sang Ratu bergema. Membuat gerakan para pengawal semakin meperlahan gerakan mereka. Dengan perlahan, pengawal yang membawa bagian kaki cermin tersebut mulai menyentuhkan kaki itu dengan lantai istana. Pengawal lain mengikuti gerakan dengan menegakan cermin tersebut.
Akhirnya, barang yang dibawa oleh para pengawal berhasil diletakan, tepat di depan sang ratu. Saat para pengawal menyingkir, terlihatlah sebuah cermin seukuran manusia, dengan perak yang membingkai setiap sisinya, ukiran rumit dan berlian biru yang berada tepat di bagian tengah atas bingkai serta memancarkan energi asing cukup untuk meyakinkan sang ratu bahwa cermin ini memanglah asli. Sang Ratu menyeringai senang.
"Pergilah kalian semua dari ruangan ini." Perintah sang Ratu sembari mengeluarkan aura yang sangat tidak bersahabat. Mendengar perintah, seluruh pengawal serentak meninggalkan ruangan dengan terburu buru.
BLAM
Meninggalkan sang ratu berdua dengan cermin indah tersebut. Sang ratu berjalan memutari cermin tersebut, sekali lagi meneliti keadaan cermin yang sudah ia tunggu tunggu. Setalah pada akhirnya ia kembali ke tempat dimana awalnya ia berdiri, dengan perlahan sang ratu mengusap batu permata biru yang ada di atas cermin.
Batu tersebut bersinar, menampakan reaksi atas sentuhan ratu. Seringai ratu terlihat makin lebar, dengan cepat sang ratu membuka mulutnya, merafalkan sesuatu yang sangat asing didengar oleh telinga manusia.
"Cadis etama di raijel est frenkenstein"
SREK! SREK!
Bersamaan dengan berakhirnya mantra yang diucapkan sang ratu, cermin tersebut bergerak. Cermin tersebut mulai berubah bentuk, melihat hal tersebut ratu mulai mundur satu langkah dengan seringai yang sangat menyeramkan.
Akhirnya, cermin tersebut berhenti berubah wujud. Sekarang benda itu tidak berwujud cermin lagi, melainkan berwujud malaikat kematian dengan tudung yang menyelimuti seluruh badannya.
"Hamba siap menjawab segala pertanyaan anda yang mulia ratu." Ucap sang malaikat maut.
Seringai ratu semakin lebar, membuat wajahnya yang cantik nampak menakutkan. Ia kembali mengelilingi cermin yang telah berubah wujud tersebut. Sembari ia berjalan, pertanyaan pun akhirnya terlontar dari mulutnya
"Jawablah wahai cermin ajaib, siapakah perempuan paling cantik di dunia ini?"
"Anda Ratu."
Mendengar jawaban tersebut sang ratu sangat puas.
"AHAHAHAHA AKU LAH YANG TERCANTIK AHAHAHA" Tawa sang ratu yang sangat menakutkan pun mulai menggema diseluruh penjuru ruangan.
"Tetapi-" Begitu mendengar kata kata cermin tersebut, ratu menghentikan langkahnya.
" 10 tahun lagi, disaat sang pangeran menginjak umur ke 17. Akan menandingi kecantikan anda yang mulia."
"APA?!"
Suasana menjadi hening, sang cermin berhenti berkata kata.
" APA KAU BILANG TADI?! PANGERAN AKAN MENGALAHKAN KECANTIKANKU?! IA LAKI LAKI"
"Namun ia akan menjadi yang tercantik yang mulia."
"AGH!" Sang Ratu mulai berteriak tidak terima.
"Itu tidak bisa terjadi! Bagaimana dia yang laki laki bi-" Sang ratu menghentikan kata katanya saat ia tiba tiba, melalui jendela ruangan, melihat seseorang yang sedang bermain sendirian pada halaman istana.
Dengan perlahan ratu mulai mendekati jendela tersebut, melihat dengan lebih jelas siapakah yang bermain di halaman istananya. Di sana, ia melihat sang pangeran bermain sendirian dengan tawa yang menghiasi wajahnya.
Dengan tatapan penuh kebencian sang ratu memperhatikan sang pangeran. Namun, dalam beberapa detik seringai terukir di bibirnya.
"Tak akan kubiarkan itu terjadi.."
Senyumnya semakin lebar sebelum ia mengucapkan nama sang pangeran dengan nada penuh kebencian.
"Pangeran Sasuke Uchiha."
Dan begitulah Ratu Hinata mengawali usahanya menyingkirkan Sasuke dari dunia ini untuk selama lamanya.
Disney Princess Sasunaru Version
"Snow White"
By Chocolate Cronut
Yaoi NaruSasu
SYUUT!
Sebuah anak panah meluncur dengan cepat ke arah papan bidik itu diletakkan. Membelah angin yang berhembus dan menancap tepat di tengah saat panah tersebut sampai pada tujuannya.
Pangeran Sasuke menurunkan posisi busur panah yang berada pada kedua tangannya. Ia tersenyum puas, ternyata, walaupun iya tidak berlatih selama satu minggu kemampuannya tidak terlalu menurun. Belum puas, ia memposisikan dirinya kembali, ia ambil dan letakan anak panah pada busur yang ia pegang.
SYUUT SYUUT SYUUT SYUUT
Lima, enam, tujuh anak panah silih bergantian melesat. Bersamaan dengan seringai puas sang Uchiha muda. Mata Sasuke berbinar, ia sudah sangat merindukan hal ini sejak satu minggu yang lalu. Ngomong ngomong soal minggu lalu, jika ia mengingat kejadian itu lagi, hatinya menjadi sangat geram. Masih teringat jelas dalam pikirannya ia di kurung di Menara Timur istana karena membantah perintah wanita picik yang dipanggil banyak orang sebagai ratu tersebut.
Siapa yang tidak akan membantah, jika perintah yang diberikan adalah mengepel seluruh lantai istana. Hell no, memangnya Sasuke itu Cinderella apa. Lagipula, sang Ratu telah memiliki puluhan pelayanan yang pasti mau mau saja jika mereka diberikan perintah seperti itu. Tapi ini Sasuke, jelas saja ia tidak mau. Dan akibat dari perintah tidak masuk akal milik sang Ratu, Sasuke terpaksa harus dikurung di Menara Timur selama satu minggu penuh, tanpa melakukan aktivitas apapun. Sasuke sangat geram saat mengingat kejadian itu kembali.
Dengan hembusan nafas kasar, ia menarik tali busur pada tangannya dengan kasar.
SYUUTT
Anak panah terakhir melesat dengan cepat dan menghancurkan papan bidik. Sasuke menatap datar pada papan bidik tersebut. Sudah bosan, Sasuke melempar busur panahnya secara asal asalan. Ia mulai meregangkan kedua pundaknya yang terasa sangat kaku, akibat tidak berlatih selama satu minggu.
Dengan santai ia merebahkan tubuhnya di bawah salah satu pohon yang ada di halaman belakang istana, tempat yang biasa ia gunakan untuk latihan memanah. Semilir angin menerpa wajah elok Sasuke, membuat sang pangeran memejamkan matanya, menikmati suasana yang tidak ia rasakan seminggu ini. Sedetik lagi ia akan terbuai dalam arungan mimpi indah, tiba tiba sebuah suara mengejutkan dirinya. Membuat ia dengan tepaksa membuka kedua matanya.
"Pangeran Sasuke" Suara seorang wanita menyeruak pendengaran Sasuke. Ia menolehkan kepalanya, mencari sumber suara tersebut. Nampak Chiyo, pelayan paling tua di Istana, berdiri di depan dirinya sembari menunduk hormat.
"Hamba diperintahkan oleh Yang Mulia Ratu untuk membawa anda kehadapan beliau pangeran." Sasuke mengeryitkan alisnya begitu mendengar kata kata Chiyo. Sasuke cukup curiga dirinya di panggil lagi kali ini, terakhir ia dipanggil oleh wanita licik tersebut, ia berakhir bosan di Menara Timur istana. Belum sempat membuka mulut untuk bertanya lebih lanjut, Chiyo memberikan keterangan.
"Saya tidak tahu ada apa pangeran, tetapi ini menyangkut perayaan ulang tahun ke 17 Pangeran Sasuke."
Bahkan Sasuke lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Wanita itu memang selalu berhasil membuat suasana hatinya memburuk.
"Hn" Tidak ingin berbasa basi, Sasuke melangkahkan kakinya mengikuti Chiyo untuk masuk ke dalam istana. Baru selangkah ia beranjak, tanpa sengaja ia melihat busur panahnya yang tergeletak di hamparan rumput istana. Ada dorongan hati Sasuke yang mengatakan bahwa ia harus membawa benda itu bersamanya, dengan segera ia mengambil busur panah dan beberapa anak panah bersamanya sebelum melanjutkan langkahnya.
Baru beberapa langkah ia memasuki istana, sudah banyak pelayan wanita dan pria yang berjajar membuat jalan untuk dirinya dan Chiyo. Dengan serentak, mereka semua menundukan kepalanya seraya berkata
"Selamat Ulang Tahun Pangeran Sasuke! Semoga Panjang Umur dan Bahagia!"
Sedikit bersimpati, Sasuke membalas kata kata mereka.
"Hn terimakasih." Dengan lirikan kecil kepada para pelayan yang tengah menunduk.
"KYAAAAA" Terlihat beberapa pelayan wanita berteriak histeris mendengar balasan Sasuke. Pelayan Pria pun merona hebat dengan mata yang mencuri pandang ke arah bokong Sasuke.
Sasuke setengah hati merasa kurang nyaman namun sangat bangga dengan dirinya sendiri. Sasuke Uchiha, pangeran dengan paras manis yang membuat wanita jatuh hati dan membelokan jalur orientasi pria pria normal. Tubuh langsing, kulit putih seputih salju, hidung mancung, bibir merah tipis menggoda, tatapan mata tajam angkuh, dan rambut hitam legam berkilau di tempa cahaya matahari membuat fisiknya sempurna. Tidak hanya itu, Pangeran Sasuke tidaklah lemah, ia pintar bertarung juga memanah, ia juga pandai dalam berbagai ilmu kedokteran dan ilmu lainnya. Dengan fisik, kemampuan, dan kecerdasannya, Pangeran Sasuke adalah dambaan semua orang. Baru baru ini ia juga mendengar bahwa ia dijuluki Pangeran Salju di kalangan rakyat maupun pelayan istana, mengingat kulitnya yang seputih salju serta sikap dingin yang selalu ia tunjukan kepada semua orang. Sasuke menyeringai sendiri memikirkan hal itu, tidak terlalu buruk baginya.
Dengan langkah tegak ia melangkahkan kakinya, penuh kebanggaan. Tak terasa ia telah berada di depan ruangan sang Ratu. Ia berdiri di depan pintu ukuran tiga meter dengan lapisan emas dan tahta berlian, ingin sekali Sasuke menghujat Ratu Hinata yang sangat bermewah mewahan. Dengan isyarat, Sasuke memerintahkan Chiyo pergi dari tempatnya, dengan tundukan dalam Chiyo segera melangkahkan kakinya menjauhi ruangan sang ratu.
Sedikit ragu, ia tidak langsung membuka pintu ruangan sang ratu. Ia menatap pintu emas berukuran tiga meter itu dan ia dorong sedikit. Celah terlihat pada pintu ruangan sang ratu, menampilkan sedikit pemandangan ruangan Ratu Hinata. Sasuke sedikit terkejut karena pintu itu tidak tertutup dengan rapat. Baru saja ia ingin membuka pintu tersebut dengan kedua tangannya, ia mendengar suara sang Ratu.
"Akhirnya, hari ini hidup Pangeran Sasuke akan berakhir."
Tubuh Sasuke menegang mendengar ucapan Ratu Hinata. Ia mengurungkan niatnya untuk memasuki ruangan tersebut dan mencuri dengar lebih jauh.
"Akhirnya, setelah ini akulah yang menjadi wanita tercantik di dunia. YANG TERCANTIK DI DUNIA. AHAHAHAHA"
Teriakan ratu disertai dengan tawa jahat terdengar diseluruh penjuru ruangan.
"Oh cermin ajaib, siapakah yang tercantik di dunia ini?"
"Pangeran Sasuke, Yang Mulia."
Ratu Hinata geram mendengar jawaban cermin ajaib yang berapa di depannya.
"Beraninya kau menjawab seperti itu hah?!" Hampir saja Ratu Hinata memecahkan cermin itu berkeping keeping. Namun sedetik kemudian, ia tersadar.
"Aaa~ aku lupa bahwa aku belum melenyapkan si Jelek Sasuke. Ah, tenang saja cermin ajaib, setelah malam ini hanya namaku yang akan kau sebut saat aku menanyakan siapakah yang paling cantik di dunia ini, hihihi AHAHAHA"
Ucap Ratu Hinata menggila disertai tawa sinting yang sangat menyeramkan. Sasuke yang mendengar kata kata itu semakin geram dibuatnya, dengan sekali sentak dia membuka pintu ruangan sang ratu.
BRAK!
Ratu Hinata tampak kaget melihat Sasuke yang telah berdiri dengan aura membunuh yang menguar kuat.
"Membunuhku? Membunuhku katamu? AHAHAHA"
Sasuke tertawa dengan tidak kalah sinting di depan pintu ruangan Ratu Hinata. Ia menatap tajam Ratu Hinata, dengaan aura bengis disertai seringai membunuh.
"Kau yang akan mati pelacur." Dengan sigap, Sasuke menembakan anak panahnya melesat ke arah jantung sang ratu. Namun dengan sihirnya, sang ratu menghancurkan anak panah tersebut sebelum sempat menyentuh tubuhnya. Ratu Hinata menggeram kesal
"Grrr! Kau… AKAN MATI!"
Ratu Hinata menyerang Sasuke dengan sihirnya, dengan singap Sasuke menghindar. Ia berlari di seluruh ruangan, memaksa Hinata menghancurkan seluruh ruangannya sendiri. Tersadar dengan taktik Sasuke, ia lalu mulai tenang. Memanfaatkan hal ini, Sasuke langsung menembakan panahnya tepat pada lampu gantung yang berada tepat di atas Hinata.
BRAK! Lampu itu mulai goyah, namun tidak terjatuh. Sasuke berdecak kesal, tidak sesuai dengan rencananya. Memanfaatkan hal ini, Hinata menyerang Sasuke kembali. Karena keadaannya yang tidak terlalu waspada, kaki sasuke terluka terkena serangan Hinata.
"AGH!"
"AHAHAHA MATI KAU UCHIHA!"
Menyadari posisinya yang tidak menguntungkan, Sasuke berdecih kesal. Sepertinya, kali ini ia yang harus lari. Ia yang terluka, melawan seorang penyihir licik, jika ia terus memaksakan diri, ia akan membunuh dirinya sendiri. Tanpa mempedulikan Hinata, ia sekali lagi mengarahkan anak panahnya ke lampu gantung.
SYUUT BRAK!
Kali ini usaha Sasuke berhasil, dengan cepat lampu itu menimpa badan Hinata. Hinata yang belum sempat menghindar terjebak oleh lampu gantung itu.
"AGH! Brengsek kau Uchiha!"
Melihat kesempatan ini, Sasuke segara melangkahkan kakinya yang terluka keluar ruangan.
"Kita sambung lain kali jalang."
Dengan berakhirnya ucapan Sasuke, ia segera menghilang dari pandangan Hinata.
"SIALAN!"
Dalam hitungan menit, Sasuke berhasil keluar dari pintu depan paras dan kemampuannya, semua penjaga ia lumpuhkan dengan mudah. Begitu ia keluar dari lingkungan Istana, ia langsung berlari menuju hutan. Sasuke terus berlari, namun beberapa saat setelah ia memasuki hutan, ia meringis kesakitan akibat luka yang ada di kakinya. Dengan terpaksa, ia beristirahat sejenak. Ia menghentikan gerakan kakinya dan bersandar pada salah satu pohon. Dengan perlahan ia duduk di bawah pohon tersebut, meluruskan kedua kakinya dan melihat keadaan lukanya.
"tck" Berdecih kesal, keadaan kakinya benar benar tidak baik. Darah tak henti hentinya keluar dari lukanya yang cukup dalam. Dengan cepat, ia merobek lengan bajunya, melilitkan potongan kain tersebut pada lukanya. Mencegah agar darah tidak keluar semakin banyak. Ringisan kecil keluar saat ia membalut luka pada kakinya. Setelah selesai dengan urusan lukanya, ia menyenderkan kapalanya pada batang pohon dan memejamkan mata. Helaan nafas terdengar saat ia selesai membalut lukanya tersebut.
Sasuke tengah berpikir, bagaimana nasibnya untuk beberapa hari kedepan? Dimana ia akan tinggal? Frustasi dengan keadaannya beberapa hari kedepan membuatnya sadar bahwa keadaanya sekarang lebih genting. Ia belum cukup jauh pergi dari lingkungan istana, jika ia tidak bergerak sekarang mungkin ratu itu akan menemukannya kembali. Berpikir rasional, Sasuke harus merencanakan perjalanannya untuk kabur dari kerajaan ini sebelum memikirkan dimana ia akan tinggal besok. Karena jika ia tidak bisa menyusun rencana kabur ini, tidak ada hari esok untuk Sasuke.
Dengan decihan kecil, Sasuke mulai melangkahkan kakinya lagi jauh memasuki hutan. Berharap tidak akan ada yang menemukannya, setidaknya sampai lukanya pulih kembali.
"Aku ingin kau membunuhnya."
Naruto menaikan sebelah alisnya mendengar permintaan klientnya yang satu ini.
"Aku tahu, kau tidak mungkin memanggilku jika tidak untuk membunuh seseorang. Tapi pertanyaanku, siapa?"
Ratu Hinata berbalik menatap Naruto dengan tatapan penuh kebencian.
"Uchiha Sasuke."
Naruto mengeryit, ia pernah mendengar nama itu. Uchiha Sasuke yang disebut sebut sebagai pangeran salju yang memiliki paras luar biasa indah dan sikap sedingin es. Naruto menyeringai kecil, sepertinya perburuannya malam ini akan sangat menarik.
"Malam ini, akan kuberikan jantungnya padamu."
"Itu yang ingin aku dengar. Bawa jantungnya padaku, segera!"
Dengan ucapan RatuHinata, Namikaze Naruto, pembunuh bayaran paling terkenal dari seluruh kerajaan, melangkahkan kakinya untuk berburu mangsanya yang baru.
Sasuke berjalan di tengah hutan dengan terpincang pincang. Sebelah kakinya yang terluka menghambar pergerakannya, ia bergerak lebih lambat dari awal perjalanannya. Tidak hanya itu, staminanya pun mulai habis karena mengalahkan pengawal pengawal kerajaan untuk keluar dari istana. Namun Sasuke masih terus bergerak, ia ingin segera keluar dari hutan ini dan keluar dari kerajaan ini dengan segera. SREK!
Sasuke menyingkirkan cabang cabang pohon yang menghalangi jalannya. Dan yang ia lihat pertama adalah, sebuah sungai kecil dengan air jenih yang terlihat menyegarkan. Cahaya bulan yang menimpa permukaan air sungai semakin membuat air sungai tersebut terlihat semakin menggiurkan. Dengan segera Sasuke segera melangkahkan kakinya menuju ke sungai tersebut. Setelah ia sampai pada bibir sungai, ia mendudukan dirinya pada beberapa batuan dan segera meminum air sungai tersebut. Perasaan lega langsung menyirim dirinya, memberikan sedikit tambahan energi untuk begerak kembali, setidaknya ia tidak dehidrasi karena kelelahan.
Tangannya masih menyentuh air sungai tersebut, entah mengapa air sungai itu benar benar sangat menyegarkan. Ia ingin sekali mandi dengan air sungai tersebut, membasuh dan memberikan energi baru untuk tubuhnya agar bisa melanjutkan perjalanan. Dengan pertimbangan, Sasuke memutuskan untuk membasuh dirinya sebentar. Mengingat ia merasa sudah berjalan cukup jauh dan tubuhnya yang kelelahan luar biasa, mungkin ia bisa beristirahat dan membasuh tubuhnya terlebih dahulu.
Naruto melangkahkan kakinya dengan cepat semakin jauh ke dalam hutan. Menurut informasi, Pangeran Sasuke kabur melalui hutan ini. Tidak mau membuang waktu, Naruto mempercepat langkahnya, semakin cepat ia bertemu dengan korbannya semakin cepat pula ia beristirahat. SREK! Naruto menyingkirkan cabang cabang pohon yang menghalangi jalannnya. Setelah cabang pohon itu tersingkir, Naruto hanya bisa tertegun melihat pemandangan indah di depannya.
Seorang wanita -ralat laki laki dengan kecantikan luar biasa sedang melepaskan celananya dengan sedikit kesusahan. Tubuh bagian atas pria tersebut terekspose dengan jelas, memperlihatkan tubuh langingnya yang semakin indah terpapar oleh cahaya bulan. Dalam keadaan remang remang ini pun penglihatan Naruto masih dapat melihat berapa mulusnya kulit milik pemuda tersebut.
Bibirnya yang memerah dan hidung mancungnya semakin memperindah sosok tersebut. Sempurna, mahluk dihadapannya ini seperti tidak memiliki kecacatan satu pun pada penampilannya. Laki laki ersebut adalah mahluk terindah yang pernah ia lihat.
"Siapa kau?!" Suara indah milik laki laki tersebut telah membawa Naruto kembali pada realita, terlihat sosok tersebut sedang menatapnya dengan pandangan tajam. Dengan perlahan Naruto mulai menunjukan sosoknya kepada sosok indah yang memanggilnya tersebut.
"Aku sudah mencarimu kemana mana." Naruto menyeringai senang, tanpa ia sadari, aura mendominasi sudah menyelimuti seluruh tubuhnya.
Sasuke tidak bergeming, ia merasakan bahwa tubuh merasakan aura yang sangat berbahaya dari pria yang ada dihadapannya. Dengan perlahan, Sasuke menggeser tubuhnya ke belakang, menghindari pria dengan surai blonde mencurigakan yang semakin memojokannya pada sebuah batu besar. Sasuke terus memundurkan tubuhnya, sampai BRUK!
"Sial!" Sasuke mendesis kesal, buntu, ia terjebak diantara batu besar dan pria blonde berbahaya yang kini menyeringai puas. Sasuke tidak paham, ia kuat dan bukanlah seorang perempuan. Namun entah kenapa, merasakan aura mendominasi milik pria yang ada di depannya membuat seluruh tubuhnya melemas, iris biru langitnya sempat menghipnotisnya sesaat tadi, aroma tubuhnya yang sangat memabukkan dan tubunya yang Sasuke akui sangat proposional, Sasuke bahkan yakin aka nada kotak kotak indah yang menghiasi perut pria yang ada di depannya ini membuat seluruh indra Sasuke terasa behenti bekerja. Dan Sasuke meruntuki pikiran tidak bisa diajak kompromi pada situasi genting seperti ini.
Sekarang, Sasuke benar benar sudah terperangkap diantara lengan kokoh milik pria di depannya dan batuan besar di belakang punggungnya.
"Hm, kau lihai juga kucing kecil. Bisa kabur dari istanamu dengan luka separah ini, kau perlu diapresiasi." Ucap Naruto dengan kerlingan nakal pada kakinya yang terluka dan pahanya yang sedikit terekspose akibat celana Sasuke yang tadi ia turunkan sedikit.
Ingin sekali Sasuke meruntuki sikapnya yang belum menaikan celananya.
"Pergi sebelum kau membuatku benar benar marah brengsek!"
Ancam Sasuke dengan tatapan membunuh, yang sebagai informasi, tidak berpengaruh apa apa terhadap Naruto.
"Ahaha, kau lucu sekali sayang. Aku tidak takut sama sekali dengan tatapanmu itu." Ucap Naruto dengan nada menggoda tepat di sebelah telinga Sasuke, meniup telinga Sasuke sembari mengelus pelan perut Sasuke yang tidak dilapisi apapun.
"Nghh- APA YANG KAU LAKUKAN BRENGSEK!" Sasuke berteriak marah, ia tidak terima sama sekali. Jelas jelas, sekarang ini ia sedang digoda oleh pria brengsek yang tidak dikenal oleh dirinya. Sekali lagi IA SEDANG DIGODA OLEH SEORANG PRIA. Baru saja Sasuke akan menendang kejantanan milik pria yang ada di depannya, puting dada milik Sasuke sudah dicubit kecil oleh pria tersebut dan bibirnya sudah terkunci oleh bibir pria yang ada di depannya.
"Ah! Ngh mmh-"
Sasuke mendesah tertahan dalam ciuman yang diberikan oleh pria tersebut. Tidak menikmatinya, Sasuke berusaha menahan dan melawan segala rangsangan yang diberikan oleh pria tersebut. Namun sia sia, bukannya berhenti, pria itu malah mengelus pelan kejantanan Sasuke. Yang membuat Sasuke semakin mendesah. Dalam hitungan menit, tubuh Sasuke melemah dan memanas. Kondisinya sangat tidak diuntungkan dalam situasi ini, staminanya yang terkuras habis dan luka pada kakinya membuat dirinya tidak bisa melawan pria yang ada di depannya saat ini.
Setelah puas, Naruto melepaskan ciumannya pada Sasuke. Benang saliva terlihat menghubungkan kedua bibir mereka, hal pertama yang dilihat Naruto adalah wajah Sasuke yang memerah, air liur yang mengalir di sudut bibirnya dan tubuhnya yang pasrah tidak melawan.
Seringai Naruto melebar, matanya berbinar senang. Ia bersyukur kepada Ratu Hinata karena telah memerintahkannya untuk membunuh Sasuke, yang pada akhirnya mempertemukan dirinya dengan mahluk indah yang sekarang ada di depannya.
"Tidak usah melawan dan nikmati saja sayang. Mulai malam ini, dan seterusnya kau akan terus menikmati hal ini." Seringai mesum terukir pada wajah Naruto, membuat Sasuke mengeryit horror.
"Ha?! Maksud mu- Ahh! Mhh Nghh AHH! "
Dan setelah itu yang terdengar hanya desahan Sasuke dan berbagai suara pelengkap yang mengiringi permainan panas mereka malam itu.
THE END
Omake
Matahari bersinar dengan hangat, membuat Sasuke terbangun dari tidurnya, dengan perlahan ia membuka kedua matanya, menyesuaikan matanya dengan terangnya sinar matahari yang menempanya. Sasuke akhirnya berhasil membuka kedua matanya, sesaat kemudian Sasuke merasa sangat lelah dan seluruh badannya terasa pegal pegal. Saat ini ia sedang berbaring di atas kasur rapuh yang berada didalam sebuah pondok tidak dikenal dengan tubuh telanjang bulat tanpa sehelai pakaian apapun. Curiga dengan tepat ini, dengan perlahan, Sasuke berusaha beranjak dari posisinya.
"Agh!" Seluruh badannya terasa sakit, terutama bokongnya. Dengan cepat Sasuke mengusap bokongnya.
Sasuke merasakan sesuatu yang keluar melalui bokongnya. Wajah Sasuke memucat, sekarang dia ingat apa yang terjadi kemarin malam.
Berhubungan dengan bokong, yang lebih penting adalah, dimana orang yang bertanggung jawab atas segala keadaan Sasuke yang sangat berantakan, tidur tanpa sehelai pakaianpun walaupun seluruh tubunya ditutupi oleh sebuah jubah yang tidak ia kenali, badan pegal pegal, bercak kemerahan yang memenuhi tubuhnya, dan paling penting ia yang tidak bisa bangun akibat sakit pada bagian bawahnya oleh perbuatan tidak bertanggung jawab oleh orang yang tidak bertanggung jawab pula.
Sasuke sangat geram, jika ia bisa pergi. Ia pasti akan pergi, namun apa daya, tubuhnya benar benar tidak bisa digerakan. Malas berpikir, Sasuke pun kembali membaringkan tubuhnya untuk beristirahat sebelum ia merasakan ada suatu kertas tepat berada di sebelah kiri tubuhnya. Ia menemukan sebuah surat dengan tulisan tangan yang sungguh sulit untuk di baca.
Dengan perlahan, Sasuke membuka surat tersebut
Halo manis
Kau mungkin memiliki berbagai pertanyaan dalam benakmu. Akan kujelaskan nanti setelah aku kembali. Singkat cerita, kita bercinta, kau kelelahan dan kubawa kau ke pondokku. Memang tidak bagus, tapi setidaknya itu akan membuatmu beristirahat lebih nyaman dibanding harus berbaring di atas tanah atau bebatuan.
Kedua, aku adalah pembunuh bayaran yang disewa Ratu untuk membunuhmu. Tapi, kau terlalu berharga untuk dibunuh. Aku sedang pergi ke istana, untuk mengatur semuanya. Bersantailah disini, aku akan kembali lagi.
Salam
Naruto
Ps: Aku tahu kau tidak mengetahui namaku. Pastikan kau mengingatnya untuk diteriaki pada malam malam selanjutnya sayang. Aku tidak ingin seperti tadi malam. Ok?
Membaca surat itu membuat Sasuke, mau tidak mau, bersemua merah. Tawa meledak melalui bibirnya. Perasaannya campur aduk, bahagia, kesal, dan terharu? Ia tidak menyangka bahwa takdir bisa begitu baik membawanya bertemu dengan seseorang yang sangat unik disini. Setidaknya disini bersama dengan pria brengsek yang bernama Naruto itu sepertinya tidak buruk, daripada harus hidup terlunta lunta.
Sasuke memejamkan matanya, ah dia sangat menikmati hidupnya yang baru sekarang. Kedua matanya hampir menutup kembali sampai sebelum ia memiliki sebuah ide saat memilah beberapa tali dan cambuk yang Naruto gantung pada lemarinya.
Sasuke menyeringai dengan penuh arti, mungkin ia akan beri sedikit kejutan untuk Naruto jika ia pulang nanti.
"Ah~ tidak sabar menantinya pulang."
THE END
YOSH! Selesai juga akhirnya T-T mengerjakan fic ditengah kesibukan kelas 3 SMA, ide ide malah mengalir dengan deras.
Oh iya ini adalah fict pertama saya yang mengandung sedikit konten dewasa.
Maaf jika kurang memuaskan, masukan akan sangat bermanfaat untuk saya
Review?
