.
.
.
三冬
santou
[01]
.
.
.
"Menemui seseorang, Oyaji?"
Yamato memungut mantel Hiroaki yang terjatuh sementara yang bersangkutan bersandar di pintu balkon yang dibiarkan sedikit terbuka untuk kemudian merokok. Mantelnya bukan jatuh karena ketidaksengajaan; pria itu memang meletakkannya dengan tidak benar, sehingga Yamato lah yang harus mengembalikan ke gantungan dekat pintu. Ayahnya bukan orang yang disiplin dan Yamato, mencoba bersikap sebagai anak yang tahu diuntung, harus senantiasa siap untuk mengoreksi tiap kecerobohan yang dibuatnya. Perkara mantel ini sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan.
Yang membuat ia mengernyit adalah wangi parfum yang menguar dari mantel itu.
"Wanita?"
Ishida Hiroaki hanya mengembuskan napas—asap putih membumbung sebelum menghilang dengan cepat ditelan angin. Namun ingatlah anak laki-laki itu menghabiskan seumur hidupnya di bawah satu atap dengan sang ayah. Ia tahu mana diam yang mengiakan dan mana yang tidak.
"Begitu."
"Ini baru pertemuan kedua. Entah jika akan ada yang selanjutnya."
Dirinya paham apabila Hiroaki memilih untuk bungkam. Hal lain yang ia sadari setelah bertahun-tahun tinggal bersama adalah peribahasa buah tidak jatuh jauh dari pohonnya itu benar adanya. Yamato dan Hiroaki berbagi kepribadian yang sungguh mirip. Cenderung ignoran, penyendiri, sulit memercayai orang lain, dan payah soal berbagi perasaan bahkan ketika mereka terikat dalam hubungan darah.
(Dan ketika Yamato menemukan seseorang yang ia kira bisa menjadi tempatnya mencurahkan segala perasaan, orang itu justru pergi.)
Yamato menghela napas. "Kau tidak perlu bercerita kalau memang tidak ingin." Ayahnya telah menemukan wanita baru yang bisa memberikan gairah di kehidupan paruh bayanya. Sebaiknya ia tidak merusak momen ini dengan fakta bahwa tiga jam yang lalu ia baru saja putus dari kekasihnya.
"Aku mencoba untuk pelan-pelan, Yamato. Nanti kalau saatnya sudah tepat, akan kuberitahu."
"Wakatta yo."
"Besok aku pulang malam lagi." Dan sebelum putranya berpikir bahwa ia akan pergi kencan lagi, Hiroaki buru-buru menambahkan. "Bisa jadi lembur. Ada program yang harus kejar tayang akhir pekan ini, jadi entahlah. Belanja makan malam untuk dirimu sendiri saja."
Yamato merespons dengan gumaman paham sebelum masuk ke kamar. Sungguh apa pun alasannya, Yamato tidak akan menghakimi. Bahkan jika Hiroaki berbohong—bahkan jika pria itu tidak lembur dan malah pergi berkencan lagi keesokan hari, dia tidak peduli.
Mereka berdua sudah dewasa. Mereka bisa mengurus diri sendiri.
.
.
Lamunannya pagi itu dibuyarkan oleh ketukan di pintu yang tak sempat direspons. Adiknya keburu masuk ke kamar tanpa menanti izin, memasang senyum yang membuatnya seperti anak kecil dengan kedua tangan membawa setumpuk barang.
"Lho? Kau tidak memakai seragammu." Taichi mengerjap, kebingungannya berujung dengan mengutarakan sesuatu yang kelewat kentara. Alih-alih seragam sekolah, Hikari memang mengenakan kaus lengan panjang berwarna putih yang terlihat kebesaran karena potongannya yang nyaris mencapai lutut. Ia bahkan masih menggunakan celana tidur merah jambunya, walau rambutnya terlihat sudah dirapikan dan wajahnya tak nampak seperti baru bangun tidur. Sudah cuci muka, kemungkinan besar.
"Aku memang masih absen hari ini," Hikari menjawab ringan. "Masih capek, jadi besok saja. Aku bisa menggunakan hari ini untuk tidur sejenak."
"Tsk. Kau bicara seperti kau baru pulang dari Paris dan terkena jet lag." Dia bicara itu atas dasar pengalaman pribadi.
"Oke, oke. Mungkin mengerjakan beberapa tugas yang kutelantarkan."
Taichi menggeleng pelan. Dia tidak percaya bagaimana Hikari bisa menanggapi urusan akademisnya dengan santai, bahkan sampai sanggup membolos demi pergi ke Hongkong untuk beberapa hari. Mereka sama-sama duduk di tahun terakhir—Hikari di SMP dan Taichi di SMA—tetapi Taichi lah yang terlihat seperti sedang menjalani neraka. Mungkin karena ujian masuk SMA tidak seberat pertarungan merebutkan satu bangku di universitas yang prestis. Mungkin juga karena Hikari memiliki otak yang jauh lebih cemerlang dibanding Taichi yang bangganya luar biasa jika dapat nilai enam di ujian ketika ambang batas nilai adalah tujuh.
Meski begitu, ia tidak bisa tidak bertanya. "Kenapa, sih, kau akhirnya memutuskan tidak ikut juku?"
"Mahal. Lebih baik uangnya untuk Oniichan saja. Aku bisa belajar sendiri."
"Oh." Jadi adiknya juga sadar.
Benaknya kembali memutar kejadian beberapa malam yang lalu, tepat setelah Hikari bertolak. Taichi sedang berbaring di kamar, mengulang lempar-tangkap dengan bola sepaknya sambil mencoba untuk tidur, ketika menguping suara ayahnya yang baru saja pulang kerja. Yuuko menyambut suaminya, dan dengan keheningan yang menyelimuti kamar, Taichi bisa mendengar dengan jelas bagaimana Susumu menghela napas lega karena dapat tiba di rumah pada akhirnya. Keretanya padat, dia berkata, dan Yuuko menimpali dengan tawa kecil. Mungkin karena besok tanggal merah.
"Ah, ya." Yuuko kemudian melanjutkan. "Sudah awal bulan. Saatnya bayar juku."
Taichi menangkap bola untuk terakhir kali dan mendekapnya. Dia bisa membayangkan ayahnya tengah membuka kulkas dan mencari sekaleng bir.
"Berapa pastinya?"
"Uhm. Lima puluh ribu…."
Ada keheningan. Susumu pasti sedang berpikir, tetapi Yuuko kembali menyambung. "Bulan depan, ada tambahan dua puluh lima ribu untuk program intensif tiga puluh hari terakhir."
"Sou ka," nada ayahnya kini terdengar pasrah. "Tidak kusangka biaya bimbingan belajar bisa semahal itu."
"Apa boleh buat. Taichi benar-benar membutuhkannya. Tapi aku yakin dia akan berhasil, jadi kita harus mendukungnya sebisa mungkin, ya?"
Pembicaraan mereka berlanjut dengan hal-hal yang lebih teknis—soal bagaimana cara membayar dan kapan persisnya harus dibayar—tetapi Taichi sudah terlanjur merenung. Mencuri dengar konversasi kedua orang tuanya bukan lagi sesuatu yang ganjil usai dia beranjak besar, walau kadang ada beberapa topik yang masih jauh dari jangkauannya. Hikari—satu-satunya manusia yang terlihat bak malaikat di mata Taichi—dan semua anak pun pasti sering melakukannya. Namun, dirinya lah yang menjadi topik utama dalam obrolan barusan, dan menilai cara bicara Susumu yang seperti mengeluh, Taichi tidak bisa berhenti merasa bersalah sejak itu.
"Hei," sahutnya kepada Hikari. "Menurutmu… apakah aku menjadi beban bagi keluarga kita? Kau tahu, dengan biaya juku—"
"Jangan bicara yang tidak-tidak. Kami semua bersedia melakukan ini untukmu, Oniichan. Bukankah itu artinya keluarga? Hal terbaik yang bisa kau lakukan adalah belajar dengan giat, lulus dengan nilai yang bagus, lalu masuk universitas."
Taichi terdiam. Tetap saja….
"Ngomong-ngomong, aku belum memberikanmu oleh-oleh. Ini," Hikari mengoper sebuah kaus yang dilipat—setidaknya sampai Taichi memutuskan untuk membukanya. Warnanya kuning, dengan tulisan Mandarin merah besar-besar yang diterjemahkan dalam abjad Latin di bagian bawahnya. Ada foto orang tersebut di tengahnya, hitam-putih dengan efek posterize, sedang berpose dalam kuda-kuda ala kung fu.
"Bruce Lee." Taichi membaca. "Terima kasih. Ini cukup keren."
"Bagus, kan? Aku juga membelikan satu yang mirip untuk Daisuke."
"Oi, oi. Kenapa dia juga ikut dibelikan kaus?" Berlagak seperti anak kecil yang mengambek, Taichi merengut sebal. "Kukira ini istimewa untukku."
"Tenang saja. Supaya kau merasa istimewa, kubelikan dua oleh-oleh." Hikari mengoper lipatan lain yang berwarna abu-abu gelap. Lagi-lagi kaus, mulanya Taichi menduga. Namun begitu Taichi membentangkannya—menampilkan dengan jelas aksara Cina berwarna putih yang tak ia ketahui artinya—dan memerhatikan ada kerutan karet di bagian atas, barulah ia menyadari kalau itu terlalu pendek untuk sebuah kaus.
"B, bokser?!" Ia bisa merasakan wajahnya memanas. "Apa-apaan—?!"
Hikari tertawa jahil, puas dengan perubahan ekspresi kakaknya yang sesuai ekspektasi. Taichi memerhatikan celana pendek itu dengan syok. Yagami bersaudara memang luar biasa dekat, tetapi mendapatkan pakaian dalam dari adik perempuanmu yang kau anggap sebagai orang suci tetap saja terasa janggal.
"Aku boleh titip untuk Sora-san sekalian?" Kali ini, Hikari menyerahkan lipatan yang lebih tebal, berwarna merah dengan motif bebungaan emas. "Aku tahu belakangan dia suka merancang pakaian sendiri, jadi lebih baik membawakannya bahan. Kuharap potongannya cukup untuk setidaknya membuat rok."
"Baiklah—"
"Hati-hati membawanya. Itu yang paling mahal."
"Sungguh, Hikari? Pertama Daisuke, lalu sekarang Sora. Apakah aku masih berarti untukmu?"
"Percayalah kalau aku memberikanmu sepasang celana bokser, itu berarti aku sangat, sangat, sangat menyayangimu," ujar Hikari. "Nah. Bukankah sudah saatnya kamu berangkat sebelum terlambat, Oniichan?"
.
.
Ia tidak yakin apa yang membuat Koushiro akhirnya menoleh ke belakang; panggilannya barusan atau suara sepeda yang direm sejenak sebelum dikayuh dengan cepat agar bisa menyusul. Kini mereka berdiri bersisian, dan Taichi memutuskan untuk turun dan menuntun sepedanya sementara mereka berjalan bersama menuju sekolah yang sudah terlihat di pelupuk mata.
"Ohayou gozaimasu."
"Kukira kau mengambil absen satu hari lagi seperti Hikari."
Bibirnya mengatup dengan rapat sampai membentuk garis lurus untuk sesaat. "Ti, tidak. Kupikir aku sudah ketinggalan banyak pelajaran."
"Koushiro. Kau hanya absen dua hari." Astaga. Bocah ini selalu ingin menjadi yang paling rajin, kadang Taichi malu hanya dengan berdiri di sampingnya seperti sekarang. "Jumat kemarin, kan, tanggal merah. Kamu mungkin hanya melewatkan icip-icip kue cokelat enak di kelas kateika."
"Entahlah. Jadwal kelasku di hari Senin dan Selasa cukup padat…."
"Dan Mimi pasti sudah mengurus semua itu, kan?"
"Tentu saja!" Terkejut rasanya kurang tepat untuk mendeskripsikan reaksi Koushiro dan Taichi. Jantung mereka seakan mau copot begitu merasakan dua lengan yang memiting masing-masing leher. Tidak perlu memeriksa dua kali untuk mengetahui siapa yang tiba-tiba merangkul mereka dari belakang. Suara seenergik itu sudah pasti milik si gadis Tachikawa—panjang umurnya.
"Mimi. Kau paham, kan, yang barusan itu bisa membuat kami pingsan apabila tidak tewas?"
"Tenang saja, Chi-chan. Aku sudah pernah ikut latihan CPR di kelas olahraga, jadi aku bisa memberikan napas buatan supaya kau tetap hidup, ne, Koucchan?"
Dia tidak tahu mengapa Mimi mencari konfirmasi kepadanya, tetapi wajah Koushiro langsung memerah padam. Dalam sekali sentakan, ia berhasil meloloskan diri dari tangan Mimi, lantas dengan sigap mengambil jarak beberapa langkah menjauh. "Na, napas buatan apa?!" tanyanya dengan panik.
"Aaah, lihat dia. Masih saja malu-malu kalau berada di dekatku—"
"H, HAL SEPERTI ITU bukan sesuatu untuk dibercandakan, tahu?!"
Mimi terperanjat. Dia tidak menyangka Koushiro akan meninggikan suaranya gara-gara leluconnya. "Oi, oi. Aku, kan, cuma bercanda. Santai saja, ya ampun," Mimi mencebik. "Kenapa kau jadi sensitif begitu, sih, setelah pulang…. Oh, ya! Mana oleh-oleh untukku?"
"Ah, benar juga." Koushiro meletakkan ranselnya di atas sadel sepeda Taichi, mengeluarkan kantung kertas kecil yang kemudian diserahkan ke Mimi. "Hikari-san bilang warnanya mengingatkannya akan lambangmu."
Dengan semangat, Mimi menggeledah isi kantung dan memekik kegirangan tatkala menarik keluar sebuah gelang berhias untaian giok. "Kiirei!" Tidak tanggung-tanggung, ia langsung mengenakannya di tangan kiri. Matanya tidak lantas berhenti memandang aksesoris itu dengan kagum, tetapi begitu ia menangkap sosok familiar yang tengah berjalan melintasi gerbang sekolah, Mimi langsung melambaikan tangan. "Sora-chaaan! Sini, lihat gelang baruku!"
"Eh?" Takenouchi Sora menghentikan langkah, berbelok menuju tempat parkir sepeda, keheranan karena tiga kawannya bergemul di sana alih-alih masuk kelas. "Ada apa ini?"
"Kau juga dapat oleh-oleh dari Hikari, tenang saja," Taichi mengibaskan tangan. "Nanti kuserahkan di kelas."
"Sora-san, apabila kau tidak keberatan, boleh aku titip oleh-oleh untuk Yamato-san juga?" Koushiro segera menimpali, tetapi sebelum Sora sempat menjawab, Mimi keburu berseloroh sambil berkacak pinggang.
"Merepotkan sekali. Kenapa ada oleh-oleh yang dipegang Hikari-chan dan ada yang kamu pegang?"
"Err… sebab koperku terlalu penuh akan barang-barang elektronik yang kubeli di Wan Chai, jadi kami membagi dua. Yang besar dipegang Hikari, dan yang kecil aku—"
"Tunggu dulu. Maksudmu oleh-oleh untuk Sora-chan lebih besar dari punyaku?"
"Ta, tapi punyamu, kan, giok—"
"Hidoi, Koucchan! Padahal aku yang membuat catatan pelajaran untukmu selama absen!"
"O, oh, Yamato-san!" Koushiro beruntung karena kebetulan ia mendapati Yamato melintas tidak jauh dari sana. Tangannya melambai-lambai dengan cepat, berharap pemuda itu akan menyadari keberadaannya.
Yamato mengerling. "Hm? Koushiro?" Lalu ia menyadari tidak hanya si pemuda Izumi yang ada di sana, tetapi juga Mimi, Taichi, dan— "Gomen ne. Aku duluan, ya. Ada PR yang belum selesai." Suaranya agak dikencangkan berhubung jarak yang memisahkan, lalu dia beranjak tanpa menoleh lagi.
"Ya, Yamato-san, ini cuma sebentar, kok!" Buru-buru Koushiro menyandang tasnya kembali, mencoba mengejar kawannya sambil mencari-cari plektrum gitar yang sudah ia bawakan.
"Koucchan, matte!" Mimi pun turut berlari mengikuti teman sekelasnya.
Sora menautkan kedua tangannya pada strap tasnya, memandangi satu per satu kawannya menghilang dari pandangan. Ada gurat lesu yang sedikit terlukis di sana, tetapi tidak lama kemudian, ia bisa merasakan sesuatu di puncak kepalanya yang membuat poninya turut teracak menutupi pandangan.
"Nani…." Ia mengangkat tangan, meraih sesuatu yang tersampir menutupi kepala. Matanya membelalak menemukan sepotong kain cantik yang terurai, menampilkan ornamen indah khas Tiongkok yang dijahit dengan benang emas. Menoleh ke belakang, pelaku yang mengerudunginya sedang nyengir iseng.
"Aku berubah pikiran. Di sini saja mumpung bisa."
"Benar-benar," Sora mendesis. Wajahnya berubah semakin kesal begitu meraba bahan tersebut untuk kemudian mulai melipatnya. "Ini sutra! Jangan main-main dengan barang berharga begini!"
"Astaga. Kain sesedikit itu memang harganya berapa, sih?"
"Bakaichi!"
"Oh, jadi Hikari tidak berbohong?" Pemuda berambut berantakan itu mengerjap sebelum tertawa. "Maaf, maaf. Santai saja, Sora. Kalau kau marah-marah terus, kau bakal cepat tua—ADUH!"
Meninju ringan lengan sahabatnya, Sora berputar meninggalkan Taichi yang mengusap-usap bekas pukulan si gadis dengan hiperbolis.
.
.
Takaishi Takeru bertamu ke kediaman Yagami sepulang sekolah, membawakan Hikari beberapa tugas dan catatan pelajaran yang ditinggalkan Hikari selama mangkir dari sekolah. Yagami Yuuko kebetulan sedang pergi keluar, sementara Taichi dan Susumu tidak akan kembali setidaknya sampai langit berubah jingga. Maka, hanya ada mereka berdua, duduk berhadapan di meja makan ditengahi dua cangkir teh hangat.
"Aku punya sesuatu untukmu."
"Oh, ya?"
Tersenyum jahil, Hikari lantas meletakkan sesuatu di atas helai rambut Takeru, dan begitu menyadari apa yang bertengger di sana, Takeru tidak bisa untuk tidak tertawa hambar.
"Kau bercanda," adalah reaksinya kemudian. Hikari memberinya sebuah topi khas Mandarin berbentuk seperti mangkuk. Ia sering melihat aksesoris tersebut dikenakan oleh vampir-vampir dalam film kolosal Cina. Seolah bisa membaca pikirannya, Hikari kemudian menempel secarik kertas bertuliskan tinta hitam ke kening Takeru. "Hei, apa—"
"Ssst. Kau tidak seharusnya bicara," Hikari terkekeh, merujuk pada ajian yang ia lekatkan. "Habisnya aku tidak tahu harus membawakanmu apa. Kamu, kan, suka topi, jadi…."
"Ya, topi yang normal," Takeru menggerutu sambil mencopot topi itu dari kepala, tidak lupa dengan kertas yang berayun ringan di dahinya tiap kali ia menarik napas. "Yang seperti ini, kan tidak bisa dipakai sehari-hari."
"Kalau kamu membawakanku sesuatu yang menyenangkan selain tugas sekolah, mungkin aku akan lebih berbaik hati."
"Jadi apa yang harus hamba bawakan untuk anda, Tuan Putri? Sebuket bunga dan sekotak permata hasil karya pengrajin terpandai di dunia?"
Bertahun-tahun sudah mereka berkawan, dan berbalas kelakar adalah salah satu hal yang membuat mereka nyaman dan tidak mudah bosan dengan satu sama lain. Hikari pun tersenyum. Ia mengambil satu barang lain dari persembunyian, kembali meletakkannya di puncak kepala Takeru. Kali ini hadiahnya serius; sebuah topi warna putih dengan ornamen naga dan tulisan Cina.
"Sudah lebih kekinian?"
Takeru terlihat puas. "Lebih baik. Trims."
"Nanti dulu." Hikari menyerahkan sebuah buku bermotif kotak-kotak surat aneka warna—lagi-lagi pemandangan khas Hongkong yang biasa nampak di film-film. Ukurannya kecil, bisa dimasukkan ke dalam saku. "Supaya kau bisa mencatat ide ceritamu di mana pun."
Takeru, sebagaimana kebiasaannya tiap kali mendapat buku baru, memindai tiap halaman dengan begitu cepat, mulai dari halaman belakang. Garis-garis yang berbaris rapi di sana masih kosong, kecuali halaman muka yang membuatnya menunda untuk menutup buku. Ada tulisan tangan khas anak perempuan dalam tiga baris, meski baris pertama dan terakhir hanya terdiri dari satu-dua kanji. Takeru, lalu Hikari. Namun demikian, baris kedua adalah kanji-kanji yang tidak benar-benar bisa ia baca. Kalau pun ia sanggup, yang didapatkannya adalah sebuah kalimat yang tidak koheren.
"Apa ini? Iwai… err—"
"Zuk maa dou gung sing."
Terperangah, Takeru memerhatikan Hikari yang nampak puas karena berhasil mengucap sesuatu dalam bahasa Kanton. "Artinya, semoga sukses." Dalam segala hal—hobi menulisnya yang belakangan mulai digelutinya dengan serius, juga untuk ujian masuk SMA. Mereka sedang butuh banyak sekali keberuntungan.
"Kalau begitu… hmm, xie xie?"
"Itu Mandarin."
"Apa bedanya? Sama-sama bahasa Cina, kan?"
"Apa bedanya Kansai-ben dan Kyoto-ben kalau begitu?"
Di sini, Takeru memutuskan untuk mengganti topik. "Bagaimana Hongkong?"
"Menyenangkan. Sedikit terik, tapi setidaknya aku jadi lebih leluasa untuk berburu foto. Lelaki-lelakinya juga menarik."
Yang barusan membuatnya mendapat sebuah delikan. Hikari agak payah dalam menyembunyikan seringainya selagi mencebik. "Memangnya kamu saja yang punya koleksi penggemar wanita?"
"Apa—"
Ponselnya yang ditaruh di atas meja berbunyi, membuat permukaan meja ikut bergetar. Takeru mengambil gawainya, memeriksa identitas penelepon yant tercantum di layar. Oleh karena pemuda itu mengambil waktu sejenak untuk memerhatikan, Hikari mengambil sebuah asumsi yang lagi-lagi mengembangkan senyum meledek di bibirnya. "Lihat, kan? Pasti salah satu penghuni rumah harem Takaishi-sama."
Kali ini, Takeru tidak mau mengalah. "Hanya seseorang yang paling kusayangi."
Hikari memutar bola mata sebab kala Takeru mengangkat telepon, kata yang kemudian mengikuti 'moshi-moshi' adalah 'aniki'. Karena obrolan harus dihentikan sementara, Hikari pun memilih untuk menyesap tehnya sambil membolak-balik catatan yang diantarkan pemuda di hadapannya. Untuk ukuran anak laki-laki, Takeru memiliki tulisan tangan yang rapi. Ada anggukan dan persetujuan yang disuarakan, lalu setelah mengucapkan sampai jumpa, Takeru melipat ponselnya. "Oniichan memasak terlalu banyak. Sepertinya aku akan makan malam di sana."
"Sabtu besok seperti biasa?"
"Tentu. Minggu lalu kau meninggalkanku. Aku kesepian."
Hikari mendecak. "Terima kasih sudah mampir," sebagai pengingat, Hikari menggeser topi Mandarin yang nampak ditelantarkan agar lebih dekat dengan Takeru. "Aku serius, ngomong-ngomong. Simpan ini."
"Yah. Kurasa aku bisa memberikannya kepada Patamon," ia memasukkan topi tersebut ke dalam tas. "Atau mungkin untuk pesta Halloween Mimi-san tahun depan, aku bisa jadi vampir Cina."
"Kenapa harus menunggu Halloween? Natal terdengar menyenangkan."
Takeru bangkit menyandang tasnya dan tergelak.
"Sinterklas tidak makan xiaolongbao, Hikari-chan."
.
.
.
.
note: 5 April 2019. Checklist: Taikari, Takari (2/28). Iya, saya hitung yang konversasinya intens berdua saja. Kalau yang bareng-bareng, skip dulu. Prolog pun saya putuskan tidak masuk hitungan. Entah nanti kalau berubah pikiran karena idenya mentok. Semoga tidak.
Dan bukan berarti ke depannya tidak akan ada interaksi Takeru-Hikari atau Taichi-Hikari. Seenggaknya, saya nggak ada utang untuk memunculkan mereka.
Lalu… Daisuke? Hmm. Saya belum memutuskan apakah anak 02 akan muncul karena saya mau fokus ke original Digidestined. Untuk sementara, silakan berpuas dulu dengan eksistensi mereka dalam nama. (Dan jangan tanya apakah bakal ada Meiko. Saya nggak suka dia, thankyouverymuch.)
glosarium:
(1) Yamato memang memanggil ayahnya dengan Oyaji (semacam "pak tua") alih-alih Otousan;
(2) Juku atau Yobikou adalah bimbingan belajar;
(3) Kateika adalah kelas home economics;
(4) Tidak semua hanzi Cina memilki padanan dalam kanji Jepang, yang membuat Takeru membaca 祝 dengan Iwai, tetapi tidak bisa mengucap 馬 karena tidak ada padanan Jepangnya;
(5) Hongkong menggunakan bahasa Kanton—seperti 祝馬到功成 untuk good luck—alih-alih Mandarin. Perumpamaannya, Mandarin adalah bahasa Indonesia dan Kanton adalah bahasa daerah. 谢谢 (xie xie) merupakan ucapan terima kasih dalam bahasa Mandarin;
(6) Saya sadar Takeru waktu kecil selalu manggil Yamato dengan Oniichan, tapi di episode terakhir Tri, dia sempat menggunakan aniki. Mungkin Yamato sesekali merasa malu juga, ya, masih dipanggil pakai -chan sama otouto-nya.
