JRENG! JRENG! JEJRENG!

NA-CHAN COME BACK, MINNA~! *dilempar rame-rame karena berisik*

Saya udah update nih chap 2! Rencananya mau update kemaren karena ada yang minta update kilat *nyengir kuda* tapi gomen... Na-chan banyak kerjaan kemaren. Sampai di rumah saya langsung tepar. Jadi Na-chan updatenya hari ini!

Nah, Na-chan pingin berterima kasih buat yang sudah review cerita gaje ini. Na-chan juga berterima kasih buat senpai yang udah ngasih tau Na-chan tentang kesalahan kata di chap 1.

Para readers, itu sebenarnya bukan rendah diri tapi rendah hati.

Saya minta maaf karena saya ngga neliti ulang cerita saya sendiri. Saya menag author teledor.

Makasih juga buat yang udah nge-fave cerita saya *nebar sakura hasil colongan dari pohon sakura Byakuya*

Soul Society, Byakuya's home

Byakuya : Loh? Kok pohon sakuranya gundul?

Back to fanfic

Ini saya ngebut bikinnya. Mungkin aja ada typo jadi maklumi, ya. Disini juga udah mulai ada romancenya. Tapi ngga terlalu mencolok, karena mereka best friend jadi saya harus buat romancenya bertahap-tahap.

Oke, udah cukup bicara saya yang ngga penting ini. Cekidot, please!

Disclaimer : Bleach ditakdirkan hanya menjadi milik Tite Kubo. Saya Cuma author amatiran yang pinjam tanpa izin chara di Bleach.

Genre : Romance/ Friendship/ Hurt, Comfort

Rated : T

Pairing : Ichiruki, Ichisenna

Warning : OOC, abal, kacau, gaje, dll dan... NO FLAME PLEASE!

Summary : Ichigo Kurosaki, Rukia Kuchiki, dan Sousuke Senna adalah tiga sahabat sedari kecil yang tak terpisahkan. Walau status mereka berbeda-beda, mereka tak pernah memikirkan itu. Tapi saat menginjak masa remaja, tumbuh cinta di antara mereka masing-masing. Akankah mereka membiarkan cinta mereka berlalu demi menjaga persahabatan atau berusaha mendapatkan cinta mereka?

Triangle Love

Chapter 1

This Felling?

Don't Like Don't Read!

Enjoy !

Minggu siang itu, panas matahari sangat terik. Orang-orang yang sedang melakukan aktifitas di luar rumah hanya bisa menggerutu tentang teriknya panas matahari. Berkali-kali mereka mengelap keringat mereka yang jatuh bercucuran. Padahal sudah bulan Juni.

Begitu juga dengan rumah kediaman keluarga Kurosaki. Seorang gadis bertubuh mungil tak henti-hentinya mengucapkan kebenciannya terhadap musim panas. Sedangkan lelaki berambut oranye hanya diam mendengarkan sambil membaca majalah di tempat tidurnya.

"Yang paling enak itu kan musim dingin! Walaupun dingin, kita kan bisa pakai sweater atau syal? Kalau musim panas, mau pakai baju setipis apapun tetap saja panas!" celoteh rukia dengan sebal. Lalu dia melanjutkan, "Musim panas itu juga menyebalkan! Rasanya, kita jadi malas bekerja. Hei, kau dengar tidak, Ichigo?"

"Dengar, kok." jawab Ichigo dengan singkat, jelas, dan padat tanpa mengalihkan perhatiannya pada majalah yang dibacanya. Rukia sampai cengo melihatnya. Bayangkan saja, Rukia bercerita panjang lebar tapi Ichigo hanya membaca majalah dan tak memperhatikannya.

Rukia lalu berdiri dan mengambil dengan kasar majalah yang dibaca Ichigo. "Kau ini! Perhatikan aku kalau berbicara, kenapa sih?" teriaknya di depan wajah Ichigo.

"..."

"Kau tuli ya, je...," belum selesai Rukia berbicara, Ichigo langsung menarik tangannya hingga sekarang bibir Ichigo berada tepat di depan telinga Rukia. Rukia bisa merasakan hangatnya nafas Ichigo dan itu sedikit membuatnya geli. "Jadi kau ingin diperhatikan?" bisik Ichigo di telinganya. Hal itu membuat wajah Rukia blushing tiba-tiba.

"I... Ichigo..." desah Rukia. Geli dengan hembusan nafas Ichigo di tengkuknya. Lalu Ichigo menarik wajahnya kembali dan menatap Rukia. Sedangkan yang ditatap malah menundukkan kepalanya. Takut Ichigo melihat semburat merah di pipi putihnya.

Saat adegan tersebut sedang berlangsung, tiba-tiba...

BRUAKK! "ICHI! RUKIA!"

~nanana~

Rukia POV

Belum selesai aku berbicara, Ichigo langsung menarik tanganku dan sekarang bibir Ichigo berada tepat di depan telingaku. Sekarang aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat. Itu benar-benar membuatku geli.

"Jadi kau ingin diperhatikan?" Ichigo berbisik di telingaku.

Deg... Deg... Deg...

Sial! Kenapa aku jadi berdebar begini? Lagipula, kenapa wajahku terasa panas? Padahal dia hanya berbisik di telingaku. Uh, padahal sebelumnya Ichigo juga pernah berbuat begini padaku. Dan aku tak merasakan apapun!

"I... Ichigo..." desahku. Oke, hembusan nafasnya ditengkukku benar-benar membuatku geli. Aku juga dapat merasakan wajahku yang semakin panas. Lalu, Ichigo menarik wajahnya kembali, bermaksud menatap wajahku. Aku hanya menundukkan kepalaku. Takut dia melihat semburat merah di wajahku.

BRUAK! "ICHI! RUKIA!"

Mendengar teriakan itu, refleks aku langsung mendorong tubuh Ichigo. Karena doronganku yang kuat dan tiba-tiba, akhirnya ia terjatuh dari tempat tidurnya.

"Lho? Kalian sedang apa? Dan kenapa Ichigo tidur di lantai seperti itu?" tanya Senna bertubi-tubi. Ternyata, orang yang tadi menerobos masuk kamar dengan brutal dan mengagetkanku serta Ichigo adalah Senna. Anak itu, memang suka membuat kaget orang lain.

Lalu dia berlari kecil ke tempat Ichigo terjungkal tadi dan membantunya berdiri. Pemandangan itu sedikit membuatku... cemburu. Lho? Cemburu? Apa yang barusan kukatakan? Untuk apa aku cemburu? Sebenarnya ada apa sih dengan kau, Rukia?

"Hei, Ruki!" panggil Senna. Aku langsung tersadar dari lamunanku. Ternyata dia sudah berada di depanku.

"Y-ya... Ada apa, Senna?" tanyaku gelagapan. Senna memandangku lalu berkata dengan nada khawatir, "Kau tidak apa-apa? Dari tadi kupanggil kau tidak menjawab."

Aku sedikit terperangah mendengar pertanyaannya. "Aku tidak apa-apa kok" jawabku sambil tersenyum lembut. Kulihat di belakang Senna, Ichigo duduk memandang kami sembari tersenyum kecil. Kuakui, aku sedikit terpesona dengan senyumnya itu.

Senna lalu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih dan rapi. "Kalau begitu kita jalan-jalan keluar, yuk!"

"APA? Aku tidak mau! Diluar kan panas!"

"Cahaya matahari itu kan bagus! Sehat lo!"

"Uuuh... Tapi kan panas..." aku masih bersikeras menolak ajakan Senna. Melihat dari luar jendela saja

"Aku setuju dengan Senna. Lagipula sudah lama kita tidak jalan sama-sama." ujar Ichigo yang sudah mulai berdiri dan melangkah mendekati aku dan Senna.

"Yap! Kalau begitu, ayo kita pergiiii!" Senna langsung menarik tanganku dan Ichigo agar mengikutinya. Aku hanya bisa pasrah ditarik seperti itu.

~nanana~

Normal POV

Bulan dan bintang bersinar terang di langit yang gelap. Berusaha menggantikan tugas matahari untuk menyinari dunia dari kegelapan. Begitu pun di kota Karakura. Masih saja ada yang berlalu-lalang, padahal jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Sama seperti gadis bertubuh mungil yang masih menatap langit dari jendela kamarnya. Menatap langit dengan tatapan sendu.

'Sebenarnya... Ada apa denganku?' pikirnya.

~nanana~

Cahaya matahari menembus masuk lewat celah-celah korden jendela kamar seorang gadis berambut ungu kehitaman dan berperawakan manis tersebut.

Tok... tok... tok... "Nona, ayo bangun! Nanti terlambat ke sekolah."

Gadis tersebut lalu membuka matanya perlahan dan mengerjapkannya berkali-kali, masih belum terbiasa dengan cahaya matahari.

"Iya, aku sudah bangun, Kaoru!" serunya kepada maid di depan pintu kamarnya.

"Kalau begitu, saya pergi dulu. Sebaiknya anda bergegas karena sebentar lagi sarapan dimulai."

"Tenang saja. Nanti aku akan datang, kok."

"Baiklah." lalu maid itu berjalan pergi. Senna segera berlari kecil menuju berandanya. Dia berdiri di sana sambil merentangkan tangannya dan tersenyum lebar, membiarkan rambutnya yang panjang sebahu tertiup angin.

"Selamat pagi, dunia!" teriaknya lantang. Karena teriakannya yang keras, orang-orang yang tinggal di sekitar sana langsung meneriakinya. Tapi dia tak mendengarnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya. *tuli ya?**dikubur*

20 menit kemudian...

Setelah siap, Senna segera turun ke lantai 1 untuk sarapan. Dia menuruni tangga dengan riang, tak sabar untuk bertemu dengan sahabatnya.

"Selamat pagi, sayang." sapa ibunya, Sousuke Retsu dengan senyuman lembut.

"Selamat Pagi, Senna." kali ini ayahnya yang menyapa, Sousuke Aizen.

"Selamat pagi, ayah ibu!"

Senna lalu duduk di kursi yang berada di depan ayah dan ibunya. Dia mulai melahap sarapannya. Mereka makan dengan tenang, karena aturan dalam keluarga mereka, hanya boleh berbicara sedikit saja kalau sedang makan. Itulah yang membuat Senna bosan. Dia lebih nyaman makan bersama sahabatnya. Tapi itu bukan berarti Senna tidak menyayangi orang tuanya sendiri. Dia malah sangat menyayangi orang tuanya.

"Sayang, berangkat nanti kau pergi dengan Ichigo-kun dan Rukia-chan, ya?" tanya ibunya lembut. Ibunya memang selalu bersikap lembut terhadap Senna yang merupakan anak semata wayangnya.

"Iya, bu!" jawab Senna dengan semangat 45' *?*.

"Kalau begitu ayah peringatkan hati-hati, ya." ujar ayahnya.

"Baik, bu. Senna sudah selesai makannya. Senna pergi dulu, ya!" kata Senna. Dia mencium pipi ayah dan ibunya. Lalu berlari pelan menuju pintu dan mengambil sepatunya di rak sepatu kemudian memasangnya. Setelah selesai, dia berlari sambil melambaikan tangan kepada ayah dan ibunya yang berdiri di depan pintu rumahnya.

"Senna pergi dulu ya, ayah! Ibu!"

~nanana~

Senna berjalan sambil bersenandung riang. Dia sedang dalam perjalanan menuju rumah Rukia, tempat mereka berkumpul. Dia begitu asyik bersenandung ria sampai tidak sadar bahwa ada seseorang di belakangnya.

"Hei!" sapa orang itu sembari menepuk pelan bahu Senna.

"KYAA!" teriak Senna kaget. Orang yang dibelakangnya sampai menutup telinga mendengarnya.

"Hei! Ada apa, nona? Laki-laki ini menggodamu ya?" kata seorang bapak-bapak bertubuh kekar siap dengan pose ingin menghajar lelaki di belakang Senna. Lalu, makin banyak orang yang berkumpul untuk menghajar lelaki itu.

"Eh? Tung...tunggu dulu, pak! Saya sahabat perempuan ini! Kalau tidak percaya, tanya saja dia!" sahut lelaki itu a.k.a Ichigo.

"Nona, benarkah itu?"

Senna lalu membuka matanya yang sedari tadi dia tutup dan menolehkan kepalanya ke belakang secara perlahan. Mata Senna melebar, "Ah! Ichigo!" katanya.

"Benarkan, Pak? Dia saja mengenal saya." ujar Ichigo.

"Ehm, sepertinya bapak-bapak di sini salah paham. Maaf ya." Senna menjelaskan.

Lalu bapak-bapak yang di situ akhirnya pergi sambil menggerutu kesal.

"Huft! Untung tidak menjadi masalah besar!" lega Ichigo. Dia berpikir, bisa saja dia pulang ke rumah tanpa bentuk.

"Gomen, Ichigo. Aku benar-benar kaget tadi. Kau juga sih yang mengagetkanku." cibir Senna.

"Aku kan hanya menyapamu! Kau saja yang mudah kaget." kali ini Ichigo melawan. Dia benar-benar kesal kalau harus dia yang disalahkan.

"Uuuh... Siapa yang tidak kaget kalau tidak di begitukan?" Senna cemberut. Ichigo yang melihatnya tertawa lepas dan itu membuat Senna bingung.

"He? Kenapa tertawa? Ada yang lucu, ya?" tanya Senna bertubi-tubi. Sedangkan yang ditanya, malah tertawa makin kencang.

"Ichi ja... Aduduh! Sa...khiit!" jerit Senna. Kedua pipinya dicubit oleh Ichigo.

"Hahaha... Kau lucu sekali, Senna!" kata Ichigo sambil tersenyum lebar. Dia benar-benar gemas dengan wajah Senna kalau sedang cemberut. Melihat wajah Ichigo yang makin tampan jika sedang tersenyum membuat Senna blushing.

"Senna, wajahmu kok merah? Kau demam, ya?" tanya Ichigo khawatir. Tangannya bergerak menuju dahi Senna. "Hm... Tidak panas, kok."

Senna buru-buru melepas tangan Ichigo, "A... Aku ti-dak apa-apa kok, Ichi." katanya buru-buru. Ia sangat gugup. 'Kenapa aku berdebar seperti ini' pikirnya.

"Eh, tapi..."

"Sudahlah, Ichigo. Aku tak apa-apa. Lebih baik kita segera ke rumah Rukia. Mungkin dia sudah lama menunggu." sela Senna.

"Huh, baiklah! Tapi mungkin saja saat kita datang ke rumahnya dia masih belum siap. Seperti kemarin."

"Itu kan kemarin! Mungkin sekarang Ruki sedang menunggu di rumahnya, ayo cepat!" perintah Senna.

"Iya, baiklah." jawab Ichigo malas. Mereka berdua lalu berjalan menuju rumah Rukia. Tak menyadari kehadiran seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan tatapan sendu.

~TBC~

Huft! Selesai juga!

Asli tangan saya pegel-pegel ngerjain ini! Mana otak saya buntu di tengah-tengah bikin cerita lagi.

Ngomong-ngomong, ceritanya lebih mengarah ke Ichisenna ya? Apa saya ganti aja pairingnya? *diinjek* Ngga kok, saya cuma bercanda! Saya kan penggemarnya pair Ichiruki.

Karena saya bingung mau ngomong apa lagi, saya tutup cerita ini dengan satu kalimat!

R

E

V

I

E

W