Review Reply

ZN Ro :

Ini udah update. Arigatou udah mau review :)

Eleamaya :

Yap! Itu benar sekali. Aku emang bikin fict ini karena terinspirasi dari fict-fict author senior yang ada di FOPI. Jadi sedikit-sedikit aku nyomot beberapa adegan yang pernah ada di fict author-author senior di sini.. Aku benar-benar senang dapat review dari Elea-san, Elea-san itu author favorite aku #KYAAA, ditabok.

Kenapa aku bikin fict ini sebagai fict pertama yang aku publish di FFN? Karena ini fict pertama yang aku buat setelah tau keberadaan FOPI di FFN. Ahh, aku benar-benar senang :'D

Tentang adegan itu aku comot dari sebuah adegan di drama Korea itu benar. Aku ga bermaksud memplagiat, awalnya adegan itu ga ada. Aku bermaksud adegan itu biar pembaca aja yang nentuin lewat review, aku tinggal bikin. Tapi, setelah nonton Secret Garden, aku jadi kepikiran buat adegan itu sama dengan yang ada di film itu.

Tentang lift yang meledak, aku udh tnyain ke paman aku yang kerja di PLN, dia bilang lift bisa meledak karena arus listrik yang tadinya mengalir ke atas karena lift akan naik, tertekan oleh lift yang jatuh itu. Jadi arus listrik yang sangat besar itu tertekan dan meledak. Ga peduli lift jatuh dari ketinggian berapa, lift akan tetap meledak.

Arigatou udah mau review fict aku! Senang bisa kenalan sama Elea-san :D

aRaRanCha :

Salam kenal juga Cha-san :D

Cha-san juga salah satu author fave aku loh!

EYD udah aku perbaiki di chapter satu maupun di chapter dua sesuai kata Cha-san.

Arigatou udah review di fict aku. Aku benar-benar senang!

Moist Fla :

Salam kenal Fla-san, gomen, aku ga bisa menuhi permintaan Fla-san yang minta ga ada death chara lagi :D. Cuma untuk informasi ajah, fict ini sebenarnya one-shoot, tapi karena kepanjangan aku jadiin 4 chapter deh, jadi sebenernya fict ini udh jadi, tinggal dipublish ajah.

Arigatou atas review dan semangatnya Fla-san!

I hope you leave me review for this chapter too :)

Fany2 wa fany2 desu :

Hai juga Fany-san! Senang berkenalan dengan Fany-san.

Adegan ibunya robin meninggal itu emang aku ambil dari DramKor Secret Garden. Film itu menginspirasi aku banget! Tapi cuma adegan itu aja yang aku ambil, yang lain ga ada koq. Arigatou udah mau review fict aku. ;D

A/N :

Aku puas banget sama fict ini, walaupun reviewnya bisa di itung jari, tapi tetap aja ada yang review. Aku udah berulang-ulang ngecek fict ini, tapi kalo masih ada typo atau kesalahan lainnya, tolong kasih tahu lewat review ya?

Anyway, aku mau kasih tahu kalo fict ini terdiri dari lima chapter, chapter empat udah ending dan chapter limanya akan aku isi dengan sekuel. Itu ajah, enjoy this chapter… :D

Chapter 2 : perpisahan

"Jadi begitulah ceritanya." Chopper mengakhiri ceritanya. Sekarang ia, Sanji, Zoro, dan Luffy sedang berada di kamar rawat inap Zoro. Walau ini kamar rawat inap Zoro, tapi sang pemilik kamar tidak sedang berbaring di atas kasur di kamar rawat inapnya. Ia memilih tidur sambil duduk di atas sofa.

"Jadi maksudmu Robin itu buta karena kecelakaan yang juga mengambil nyawa Ibunya, begitu?" Sanji bertanya dengan wajah menghadap ke lantai. Ia mencoba mencerna semua perkataan Chopper. Sementara itu, Zoro, terlihat sedang tidur dengan pulasnya di sofa. Ya, itu hanya apa yang terlihat di mata semua orang. Sesungguhnya ia tidak sedikitpun tidur. Telinganya terpasang dengan baik selama Chopper bercerita.

"Shishishi, ternyata si Robin itu punya Ibu yang baik. Oh, seandainya aku punya Ibu." Komentar Luffy yang juga ikut mendengar cerita Chopper sedari tadi. Luffy memang tidak tahu siapa Ibunya semenjak kecil. Selama ini ia hanya hidup dengan Ayah, Kakek dan Kakaknya Ace. Luffy melipat kedua tangannya dan meletakan tangannya di belakang kepala. Topi jerami dengan setia bertengger di tengkuknya. Laki-laki yang mempunyai julukan Topi jerami itupun lalu menengadahkan kepalanya ke atas. Seperti ada yang menarik di atas sana. "Benarkan Zoro?" Luffy bertanya dan memalingkan kan kepalanya ke arah Zoro yang ada di sampingnya sambil menyengir lebar. Terdengar aneh bukan? Seolah-olah Luffy mengetahui bahwa Zoro hanya menutup matanya namun tak tertidur sama sekali. Bukan hal yang aneh kalau itu Luffy. Karna Luffy sudah mengenal Zoro sangat lama, jadi dia sudah hapal hampir semua sifat Zoro di luar kepala. Sanji ikut menoleh ke arah Zoro.

"Hn." Zoro menjawab singkat.

Eyes

One piece © Eichiro Oda

Eyes © green-purple shevie

Secret Garden © SBS

Warning : OoC-mungkin-, fict abal, author baru, Typo(s), alur cepat, death chara, de el el

Genre : angst, Tragedy, Friendship, Romance

Pairing : Zoro x Robin

Rated : T

Zoro berjalan menuju tempat yang selama hampir sebulan ini ia kunjungi. Meskipun sudah hampir sebulan mengunjungi tempat yang sama, Ia tetap tak bisa sampai ke tempat yang di tuju. Akhirnya ia menyerah dan mengambil jalan terakhir, yaitu, bertanya.

Setelah diantarkan seorang Suster ke taman belakang Rumah Sakit, Zoro mengedarkan matanya, sedang mencari sesuatu. Setelah akhirnya menemukan apa yang dicarinya ada di bangku belakang sebuah pohon cemara yang rimbun dan hanya diterangi sebuah lampu temaram, ia berjalan ke arah tempat itu.

"Kau sudah datang rupanya." Robin tersenyum menyadari langkah berat seseorang mendekatinya. Akhirnya setelah menunggu cukup-sangat-lama, orang yang ditunggu Robin datang.

"Kau menunggu lama?" Zoro berkata sambil berdiri.

"Duduklah." Robin menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya.

"Tidak, aku takkan lama. Kau tau? Aku sudah terlalu banyak menghabiskan waktu." Zoro menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan satu tangannya. Sedangkan tangannya yang lain ia masukan ke saku jaket.

"Kenapa? Kau akan balapan liar lagi?" tebak Robin. Ia bertanya dengan datar. Ia sudah tahu bahwa Zoro adalah pembalap liar sejak 2 minggu yang lalu saat Zoro keluar dari Rumah Sakit. Ia mengetahuinya dari Sanji yang selalu mengunjunginya setiap malam sejak pertemuannya dengan Zoro pertama kali. Sanji selalu membawakan makanan enak untuknya. Chopper tidak melarang Sanji, karna Chopper tahu Sanji koki yang handal dan tahu makanan apa saja yang pantang di makan Robin. Robin menghela nafas berat.

"Hn." Zoro menjawab singkat.

Zoro mendengar Robin menghela nafas untuk kedua kalinya. Ia berjongkok di depan Robin. Ia tatap bola sapphire yang kini sudah tidak dapat lagi melihat itu. Tangannya terulur dan mengangkat dagu Robin lembut tanpa disadarinya. Tanpa aba-aba Zoro menempelkan bibirnya di bibir Robin. Jelas Robin tersentak dengan kelakuan Zoro. Tapi tubuhnya tak berbuat apapun untuk melepaskannya. Setelah beberapa detik Zoro menempelkan bibirnya di bibir lembut Robin, ia melepaskannya.

"Aku pergi." Zoro pamit tanpa menjelaskan apapun. Suaranya terdengar kecewa. Langkahnya terdengar semakin menjauh.

Robin masih belum bergeming dari tempatnya. Ia masih terlalu terkejut. Bukan terkejut dengan kelakuan Zoro tadi, tapi terkejut dengan perasaan yang tercurah di ciuman tadi. Perasaan yang sama dengan yang ia rasakan. Tapi, ia tahu tak bisa membalas perasaan Zoro. Akan terlalu rumit jadinya nanti. Setidaknya ia harus menunggu seseorang mendonorkan mata padanya, baru bisa berpikir apa ia akan membalas perasaan Zoro atau tidak. Wanita itu menghela nafas untuk ketiga kalinya malam ini.

Tak lama kemudian terdengar langkah ringan mendekati Robin. Robin bisa menduga langkah siapa itu sebenarnya. Sepertinya sudah jam 11 malam, Robin bergumam dalam hati.

"Ayo kita kembali ke kamar mu Robin." terdengar suara lembut di dekat telinga Robin. Seperti yang di duga Robin sebelumnya, yang mendekatinya itu adalah Nami. Ia berdiri dengan di tuntun Nami. Sebelum benar-benar melangkah ia melihat kearah suara langkah kaki Zoro menjauh tadi, "Hati-hatilah." bisiknya lalu melangkahkan kaki lagi.

~eyes~

Zoro berjalan sambil melamun. Ia merasa bodoh sekaligus kecewa. Bodoh karna melakukan hal seperti itu secara tiba-tiba kepada Robin dan kecewa karna Robin tidak membalas perasaannya. Mungkin karna mereka belum kenal terlalu lama. Ia pasti dianggap aneh oleh Robin. Atau paling tidak Robin pasti beranggapan kalau Zoro hanya merasa kasian padanya. Tidak, ia sungguh-sungguh menyukai Robin. Bukan karna kasian. Zoro berhenti lalu menengadah melihat langit. Tangannya ia masukan kedalam jaket. Lalu ia menghela nafas.

"Zoro!" terdengar suara cempreng Luffy memanggilnya. Ia melihat ke arah sumber suara dan menemukan Luffy dengan Sanji berjalan di sampingnnya. Luffy melambai-lambai ke arahnya. Zoro akhirnya memutuskan berjalan kearah Luffy.

"Ayo! Kita akan melawan geng motor dengan nama Blackbeard. Pasti seru! Mereka punya wajah yang aneh. Shishishishishi" Luffy tertawa sambil merangkul Zoro. Lalu mereka berjalan pergi.

~eyes~

Brrrm,

Brrrm..

Suara desing motor bersaut-sautan. Ini duel yang paling ditunggu-tunggu oleh para pembalap liar di kawasan Tokyo, Jepang. Duel dari dua geng motor terkuat yang ada. Geng motor Trio monsters dan geng motor Blackbeard. Seorang wanita memakai jaket cokelat dengan baju jaring-jaring di dalam nya, berjalan ke arah tengah motor-motor yang berjejer dan siap untuk melaju tersebut. Suara sautan motor semakin menjadi kala wanita itu mebuka jaket nya, mengangkatnya ke atas lalu menjatuhkannya, dengan itu semua motor-motor yang sudah dilengkapi dengan mesin-mesin canggih tersebut melaju dengan kecepatan kilat.

Mereka saling menyusul dan mecoba menjatuhkan lawan. Hanya akan ada satu pemenang. Motor merah Luffy memimpin dengan Teach-ketua Blackbeard-di belakangnya. Motor Zoro dan Sanji menyusul di belakang keduanya. Sementara itu kelompok Blackbeard lainnya berada tak jauh dari dari motor Sanji dan Zoro.

Zoro mencoba untuk konsentrasi mengendarai motornya. Dari tadi pikirannya hanya memikirkan apa yang dilakukan olehnya kepada Robin di Rumah Sakit tadi. Ia benar-benar merasa bodoh. Bisa ia bayangkan Robin akan menjauh darinya setelah kejadian itu, dan Zoro tidak menginginkan hal itu terjadi. Zoro menghela nafas panjang. Ia sangat frustasi sekarang. Tiba-tiba ia merasa motornya oleng, dengan sangat baik Zoro mengendalikan kembali motornya. Ternyata salah satu anggota Blackbeard mencoba untuk curang. Zoro memicingkan matanya, mencoba melihat siapa yang ada dibalik kaca hitam helm yang dipakai salah satu anggota Blackbeard itu. Sepertinya seorang pria dengan tampang yang sedang sakit. Benar kata luffy, anggota Blackbeard punya wajah yang aneh, Zoro bergumam dalam hati.

Zoro kembali focus ke jalanan. Sanji sudah melesat jauh di depan. Zoro mengendarai motor hijaunya melewati satu-persatu motor yang sudah mendahuluinya selama ia tidak focus tadi.

Namun tiba-tiba seorang dari anggota Blackbeard dengan sengaja membentur motornya dengan keras. Dengan kecepatan seperti itu dan benturan yang keras, Zoro masih bisa mengendalikan laju motornya dengan sangat baik.

Sanji mencoba menyusul Luffy yang sudah melaju jauh di depan nya. tapi, ia juga masih harus memperhatikan si marimo bodoh itu. Sebabnya, Si Bodoh itu buta arah dan alasan lainnya adalah-entah kenapa-malam ini Si Bodoh itu tidak mengendarai motornya dengan benar. Dan entah mengapa karena itu ia merasakan hal buruk akan terjadi.

BOOOOOM!

Terdengar suara sesuatu yang meledak. Tiba-tiba kepulan asap terlihat dari jauh. Kali ini sanji benar-benar merasakan sesuatu yang tidak enak. Dengan cepat ia mengalihkan motornya ke arah kepulan asap. Matanya membelalak besar melihat motor Zoro yang ternyata berkepulan asap. Tak jauh dari motor Zoro terlihat bekas ban seperti diseret. Ia yang panic, membanting motornya sembarangan, lalu turun dan mencari Zoro. Ia menemukan helm Zoro di dekat motor yang sudah berkepulan asap. Sanji membuka helm yang dari tadi menutupi kepalanya. Melihat sekelilingnya, dan akhirnya matanya menemukan di mana tubuh Zoro tergeletak penuh darah sangat jauh dari letak motornya. Bajunya sudah hancur dan hampir tidak menutupi badan Zoro lagi. Ia tercekat dan mendekati tubuh itu. Benar, ternyata itu benar tubuh Zoro. Sanji berlari menghampiri Zoro, diguncang-guncangnya tubuh penuh darah itu.

"Zoro! Bangun! Kau dengar aku? Aku mohon, kau tidak semudah itu mati!" Sanji berteriak frustasi sambil terus mengguncang-guncangkan tubuh Zoro.

"Ukh.. hh.. hh." Sanji tersenyum lega melihat rivalnya itu dengan perlahan membuka matanya.

"Kau tidak ap-" kata-kata Sanji terpotong dengan kalimat yang keluar dengan susah payah dari mulut Zoro.

"Alis.. keriting..*hh*,tolong… *hh..hh..*penuhi permintaan terakhirku.."

~eyes~

Luffy sampai di garis finish. Ia melepas helmnya. wajahnya terlihat khawatir. Sementara itu orang-orang mulai mengerumuninya. Mereka tidak begitu peduli dengan siapa yang mengalami kecelakaan yang penting adalah siapa yang menang. Tapi, berbeda dengan Luffy. Ini pertama kalinya ia merasakan perasaan buruk. Semoga saja yang kecelakaan bukanlah salah-satu nakamanya, Sanji atau Zoro.

Teach membanting keras helmnya. Pria yang memiliki julukan kurohige itu berteriak frustasi. Ia merasa terhina dikalahkan anak ingusan berusia 17 tahun itu. Tak lama kemudian anak buahnya datang. Mereka melepas helmnya dan memampang wajah tersenyum penuh kemenangan seolah mengejek kekalahan sang ketua genk mereka. Padahal ada hal lain yang membuat mereka seperti itu. Teach mendorong kerumunan di depannya dan menghampiri salah satu anak buah nya.

"Auger! Apa yang kau tertawakan ha!" Teach menarik kerah salah satu anak buahnya yang memakai kacamata di mata kanannya sementara mata kirinya tidak.

"Tenanglah, kami tidak sedang menertawakan mu," Lefitte menenangkan Teach. Ia berdiri dengan tongkat sebagai sanggahannya. Dengan perlahan Teach melepaskan kerah baju Auger. "Kau lihat, kami menghabisi salah satu anak buah si Topi jerami." Lefitte menunjuk ke arah kepulan asap dengan dagunya lalu tersenyum licik. Teach ikut tersenyum dan mulai tertawa sambil memegangi perutnya. Auger, Burgess dan Doc. Q-anak buah Teach-juga ikut tertawa dengan sang ketua. Sementara Lefitte masih dengan senyum licik yang terukir di bibirnya.

Tiba-tiba sebuah tangan melayang ke arah Teach dan dengan telak menjatuhkan pria dengan tubuh besar itu. Kerumunan yang tadi mengerumuni Luffy kini berdiri berkeliling dengan Blackbeard dan Luffy di tengahnya. Semuanya menahan nafas melihat wajah Luffy penuh kemarahan seakan asap bisa saja keluar dari wajahnya. Auger dan Burgess segera memasang badan sebagai tameng untuk sang ketua. Namun dengan mudah dijatuhkan Luffy. Lefitte hanya diam tak bergeming. Wajahnya mengeras. Dan Doc. Q hanya melihat sambil sesekali menyeka keringat yang mengalir ke bawah dagunya. Luffy meraih kerah baju Teach.

"Apa yang kau lakukan pada NAKAMAKU?" suara Luffy terdengar rendah berbahaya dengan penekanan pada kata-kata 'nakamaku'. Luffy mengeram marah. Ia menarik kerah baju Teach dan memukulnya sekali lagi. Teach hanya membuang ludah bercampur darah dari dalam mulutnya dan tersenyum licik.

"Dia takkan terselamatkan lagi"

TBC

Mind to leave me review?