BURONAN

Naruto by Masashi Kishimoto

Warning OOC, OC, AU

Pair : NaruHina

.


.

Di depan terlihat cahaya merah remang-remang, yang berasal dari sebuah perapian. Seorang pemuda yang bernama Uzumaki Naruto, sangat berharap kalau itu sebuah perapian. Karena jika benar maka di sana ada seseorang yang bisa menolongnya. Sudah dua hari ini, dia tidak bisa menemukan seorangpun untuk menolongnya. Dua hari ini dia tersesat, tak tahu jalan yang benar untuk sampai kota terdekat. Meski sudah berjalan berjam-jam lamanya, usahanya tetap sia-sia belaka.

Hal buruk ini bermula dari saat dia memilih perjalanan menggunakan kereta kuda. Karena dia terlalu nekat dia jadi tersiksa, kelaparan dan kelelahan. Harusnya dia sudah menyadarinya saat kota-kota yang dilewati populsinya semakin sedikit.

Tapi dia merasa baik-baik saja selama perjalanannya menggunakan kereta api. Dan saat tiba Sunalah perjalanannya memburuk. Pertama, jalur rel kereta api menuju kota berikutnya rusak karena insiden perampokan kereta, menyebabkan semua penumpang tujuan berikutnya tertahan di Suna termasuk dirinya. Jika dia tetap bertahan menggunakan kereta api maka dia akan tertahan di kota ini selama sebulan, karena kereta baru beroprasi saat itu.

Dan Naruto pun mengambil jalan pintas yang seharusnya tidak dia lakukan, yaitu menyewa sebuah kereta kuda, tanpa memperdulikan kereta kudanya yang sudah lama tak digunakan itu. Sebagian penumpang yang tujuannya sama seperti Naruto lebih memilih menunggu kereta api beroprasi kembali, tapi Naruto sudah tak sabar untuk menunggu itu. Jadi dia mengambil keputusan yang buruk.

Seharusnya dia menyadari kalau dia satu-satunya penumpang yang memilih manaiki kereta kuda. Pasti ada sebuah alasan membuat penumpang lain lebih memilih menunggu kereta api beroperasi. Tapi sayang Naruto baru menyadarinya saat ditengah perjalannya, kereta kuda yang ditumpanginya ditembaki perampok!

Tanpa memperdulikan keadaan kondisi kereta yang buruk dan jalan yang rusak, sang kusir melajukan kudanya dengan cepat menghindari tembakan perampok yang mengejarnya dibelakang. Naruto yang melihat dua perampok dibelakangnya, terus memerintahkan sang kusir untuk lebih cepat melajukan kereta kudanya. Sampai pada saat sang kusir keluar dari jalur yang ada dan memasuki hutan.

Karena kereta kuda melaju dengan sangat cepat, membuat pandangan mata Naruto menjadi buram dan tak dapat melihat arah depan dengan jelas. Sampai pada saat kereta kuda berhenti dengan sangat tiba-tiba membuat Naruto terhempas keluar kereta kuda, kepalanya terbentur batu besar di depannya. Membuatnya kehilangan kesadaran dan terakhir yang dia ingat saat itu adalah kereta kudanya yang terbalik dan para perampok berjalan mendekatinya.

Tetesan air hujan yang menerpa wajahnya lah yang menyadarkannya. Saat dia tersadar hari sudah malam. Setelah rasa pusing yang menerpa kepalanya menghilang, dia berhasil bangkit dan melihat kondisi sekelilingnya, dia baru menyadari dirinya sendirian di sini, di tengah hutan yang tak dikenalnya.

Kuda-kuda yang menarik kereta kuda tadi menghilang, mungkin dicuri atau dilepaskan oleh perampok, Naruto tak tahu. Kusirnya pun tak ada, entah dia kabur atau kena tembak dan jatuh entah dimana. Naruto tak memperdulikannya, yang menjadi pemikirannya sekarang adalah dirinya sendirian.

.

.

Beberapa saat kemudian Naruto baru menyadari, bahwa dirinya sudah belumuran darah dari luka di keningnya. Dan air hujanlah yang membersihkan darah itu dari wajahnya, sementara itu dia mengumpulkan barang-barang miliknya yang berserakan. Dia menghabiskan sisa malam yang menyedihkan itu di dalam kereta kuda, tempat yang setidaknya cukup kering untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Sayangnya saat dia tersadar kembali, hari sudah siang dan matahari sama sekali tidak membantunya untuk memutuskan harus kemana dia hari itu. Bahkan jejak kereta kuda kemarinpun sudah terhapus berkat hujan semalam. Jam tangannya sudah dicuri, begitu juga dengan uang yang disimpan di kantong baju dan tasnya. Tapi uang yang dia selipkan di dalam sepatu masih aman. Saat memeriksa kereta kuda semalam dia menemukan termos kecil yang berisi sedikit air dan dia pun mengambilnya, dan juga sebuah selimut yang disembunyikan di bawah jok kusir.

Setelah merapihkan barang bawaanya dia memutuskan untuk berjalan ke arah selatan, yaitu ke arah kota yang memang menjadi tujuannya. Setidaknya itu yang diketahuinya untuk sekarang, karena jalan yang dilewatinya kemarin berkelok-kelok sudah tak terlihat lagi. Jadi dia tak tahu apa dia berjalan ke arah yang benar.

Dan untuk sisa hari itu, dia merasa sangat khawatir apa bisa makan lagi atau tidak. Dia tidak memiliki senjata untuk menangkap makanan. Karena selama ini dia hidup di kota dan tak memerlukan senjata untuk menangkap makanannya, jadi dia tak sempat untuk membawa senjata dalam perjalanannya.

Saat ditengah perjalanannya dia menemukan sebuah danau kecil dan disitulah dia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya kembali. Di sana Naruto membersihkan diri dengan membasuh tubuh, wajah dan lukanya dengan air danau. Setelah bersih dia mengganti pakaiannya dengan yang bersih. Dan malamnya dia tertidur dengan perut yang penuh air, untuk meredakan rasa laparnya.

Rasa sakit dikepalanya mulai mereda saat terbangun keesokan paginya. Tapi rasa sakit dikakinya, akibat jalan seharian dicuaca panas seperti ini membuat kakinya melepuh dan dia tak bisa mengabaikannya. Hari kedua perjalanannya terasa semakin menyiksa. Karena dia kehabisan air dan juga tak punya makanan.

Dan saat malam inilah keberuntungan menghampirinya, di depan sana dia melihat sebuah perapian. Tapi titik api itu terlihat begitu jauh, begitu jauh sampai dia berpikir kalau dia sedang berhalusinasi, karena dia harus berjalan jauh sekali untuk mendekatinya. Lalu titik merah itu mulai membesar, dari setitik api menjadi terlihat lebih jelas bahwa itu memang sebuah perapian, dan dari jaraknya yang tak jauh lagi Naruto bisa mencium bau daging yang dibakar, yang langsung membuat perutnya bergemuruh.

Dia hampir mencapai perapian sekitar tiga meteran lagi, ketika dia merasakan dinginnya sebuah metal menempel di lehernya diiringi dengan suara kokangan senjata. Dia tidak bisa melihat atau pun mendengar gerakan lain, tapi suara dari senjata itu sudah cukup membuatnya berhenti melangkah.

"Apa kau tidak tahu untuk tidak masuk ke kamp seseorang tanpa izin terlebih dahulu?"

"Aku tersesat selama dua hari," jawab Naruto dengan lesu. "Dan tidak, aku tidak tahu bahwa meminta izin untuk mencari pertolongan itu penting."

Keheningan yang menenganggakan tiba-tiba saja terjadi. Dan dengan kakunya Naruto menambahkan, "Aku tidak bersenjata."

Setelahnya terdengar suara kokangan senjata yang dilepas, lalu metal dingin itu diangkat dari lehernya. "Maaf, tuan, tapi kau harus sangat berhati-hati di luar sini."

Naruto memutar tubuhnya untuk melihat wajah penyelamatnya. Saat melihat orang itu, Naruto terpana. Pemuda yang Naruto sebut penyelamatnya itu adalah seorang pemuda belia yang memiliki tubuh tinggi dan agak kurus, dengan pipi semulus bayi. Pemuda itu pun membalas tatapan Naruto dengan sama terpananya.

Orang itu adalah seorang, pemuda yang Naruto perkirakan umurnya sekitar enam belas tahun. Pemuda itu memakai celana jins longgar dengan sepatu boats setinggi lutut, dan sebuah ponco berbahan wol di atas kemeja ungunya. Senjata yang tadi digunakannya mungkin diletakkan di balik ponco besar itu. Dan dia juga memakai topi dengan pinggiran lebar, khas koboi. Yang menutupi rambut pendek keunguannya. Matanya yang sewarna lavender begitu lembut, mata yang cantik bila dimiliki seorang gadis. Naruto jika terus memperhatikan mata itu, mata itu-terlihat tidak biasa.

Dengan agak bimbang setelah melihat penampilan pemuda itu, Naruto bertanya dengan hati-hati, "Apa di sini tempat penampungan Indian?"

"Tidak ada tempat penampungan dibagian Utara daerah ini. Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"

"Aku hanya bertanya-tanya apa kau seorang Indian?"

Pemuda itu berseringai sejenak sebelum menjawab pertanyaan Naruto, "Apa aku terlihat seperti seorang dari Indian?"

"Aku tidak tahu. Aku belum pernah melihat Indian sebelumnya," aku Naruto.

"Ya sepertinya begitu. Tuan kaki lemah."

"Apa kakiku yang kesakitan ini terlihat begitu jelas?"

Untuk sesaat pemuda itu memperhatikan Naruto sejenak, kemudian tawanya meledak. Suara tawanya terdengar sensual dan agak sedikit serak, bagi Naruto suara pemuda itu aneh untuk ukuran seorang laki-laki.

Setelah tawa pemuda itu mereda, Naruto mengulurkan tangannya tanda sebagai sopan santun dan perkenalan untuknya. "Aku Uzumaki Naruto. Senang bisa bertemu denganmu."

Pemuda itu melihat tangan Naruto sesaat kemudian mengabaikannya, tanpa menyambut uluran tangan Naruto itu. Lalu kembali menyibukkan dirinya dengan masakannya. "Makanannya sudah matang dan kau juga bisa tidur di sini untuk malam ini," ucap pemuda itu berseringai.

Wajah Naruto memerah karena dari tadi perutnya terus mengeluarkan suara gemuruh keras, sejak dia mencium aroma daging bakar. Tapi dia tidak berniat untuk malu-malu saat disodorkan makanan dihadapannya. Dan walaupun saat ini masih banyak yang ingin dia tanyakan pada pemuda itu, rasa lapar yang sudah menguasainya tak dapat ditahannya lagi. Sehingga tanpa perintah dia sudah duduk dihadapan pemuda itu.

"Daging apa itu?" tanya Naruto saat sebuah piring disodorkan kepadanya.

"Ayam liar."

Ayam liar bukanlah jenis unggas yang besar, tapi di atas panggangan itu terdapat dua ekor ayam yang sedang dimasak. Salah satunya ditaruh di atas piring dan kemudian diberikan kepada Naruto. Dan Naruto sendiri langsung melahapnya dengan begitu cepat, tanpa memperhatikan kalau piringnya cuma ada satu dan pemuda itu sendiri memakan ayamnya langsung dari pemanggang.

"Maaf," ucap Naruto kemudian, tapi langsung dipotong pemuda itu saat mengetahui maksud dari Naruto.

"Jangan konyol. Memang kau pikir di sini piring penting digunakan untuk makan? Lagi pula kalau untuk mencuci tangan ada sungai yang letaknya tak jauh dari sini."

'Sungai?' pikir Naruto. 'Mungkin enak kalau aku mandi di sana.'

"Apa kau punya sabun?" tanya Naruto dengan semangat.

"Gunakan lumpur saja yang mengendap di dasar sungai. Lumpur itu akan membersihkan kotoran yang menempel di tubuhmu."

'Primitif sekali,' pikir Naruto bersungut-sungut tak senang jika harus menggunakan lumpur untuk membersihkan tubuhnya.

"Terima kasih sudah mau membagi makananmu. Rasanya aku tak bisa bertahan lagi jika aku tidak makan tadi."

Bibir pemuda itu lagi-lagi menyeringai kecil, sangat samar sampai Naruto tak yakin kalau pemuda itu benar-benar menyeringai atau tidak. "Apa kau pikir aku mau memakan itu semua sekarang? Yang kau makan tadi itu sarapanku besok. Dan kau tak perlu meminta maaf untuk itu. Besok aku bisa berburu mencari yang lain."

Dengan perasaan sedikit bersalah pada pemuda itu Naruto hanya menundukkan tubuh dan memberikan senyumnya sebagai ucapan maaf. Dan sama sekali tak ditanggapi lagi oleh pemuda itu.

Selagi pemuda itu memasak air, Naruto mengingat lagi soal pertanyaan-pertanyaan yang tadi ingin dilontarkannya. "Aku belum tahu namamu."

Mata lavender yang mengagumkan itu sekilas melirik Naruto sebelum kembali memperhatikan air yang sedang dimasaknya. "Tidak punya," ucap pemuda itu singkat. "Setidaknya itulah yang kutahu."

"Tapi, kau pasti punya nama panggilan, kan?"

Pemuda itu hanya mengendikkan bahunya, "Orang-orang sering memanggilku, Bocah."

"Ahh," Naruto tersenyum. "Kau dipanggil seperti itu karena umurmu?"

Pemuda itu mendengus. "Lebih tepatnya, karena aku melakukan hal yang tak sesuai dengan umurku."

"Apa itu?"

Air panas yang sudah matang digunakan untuk menyeduh dua gelas teh oleh pemuda itu, setelah itu dia memberikan salah satu gelas ke Naruto. "Aku memburu buronan," jawab pemuda itu santai. Membuat Naruto tersedak oleh teh yang sedang diminumnya.

"Haiss ... sungguh, kau seorang penegak hukum? Kau sama sekali tak berpenampilan seperti seorang ..."

"Seorang apa?" tanya pemuda itu penasaran.

"Polisi."

"Aku memang bukan seorang polisi. Siapa juga yang mau memilihku kalau aku menyalonkan diri."

"Kalau begitu kenapa kau memburu penjahat?" tanya Naruto dengan sopan.

"Untuk hadiahnya."

"Apakah hadiahnya besar?"

"Sangat."

"Berapa yang sudah berhasil kau tangkap sejak kau memulai karirmu?" tanya Naruto dengan penasarannya.

"Lima, ya lima bajingan."

Naruto hanya menganggukkan kepalanya mengerti. "Aku pernah melihat beberapa poster buronan," ucap Naruto kemudian. "Bukankah sebagian poster menawarkan hadiah untuk buronan yang hidup atau mati?"

"Kalau maksudmu berapa yang sudah kubunuh, jawabannya tidak ada, setidaknya belum untuk saat ini. Tapi aku membuat beberapa diantara mereka terluka."

"Apa mereka menganggapmu serius, maksudku para penjahat-penjahat yang kau tangkap itu?" tanya Naruto lebih jauh.

Seringai samar itu terlihat lagi, "Jarang," aku pemuda itu. "Tapi mereka akan menganggap ini seirus."

Senjata itu tiba-tiba saja sudah berada ditangan pemuda itu. Tampaknya dia sudah menggenggam itu dibalik ponconya. Dan Naruto tak menyadarinya sampai saat pemuda itu menunjukkannya kehadapan Naruto sendiri.

"Ya, senjata memang mempunyai cara sendiri untuk menarik perhatian seseorang," ucap Naruto.

Cuma itu yang dapat Naruto katakan. Pemuda itu terlalu muda untuk melakukan hal yang diceritakannya. Bahkan jika pemuda itu lebih tua beberapa tahunpun, Naruto tetap meragukannya. Tapi, remaja memang lebih suka bersikap seperti itu, untuk membuat kagum lawan bicaranya. Mudah memang bercerita seperti itu, tanpa sebuah bukti lagi.

"Apa kau tinggal disekitar sini?" tanya Naruto lagi.

"Tidak."

"Apa ada yang tinggal di sekitar sini?"

Penekanan kata yang ditanyakan Naruto membuat pemuda itu tertawa, dan tawanya sama seperti tawa sebelumnya. Tawa itu terdengar aneh, tawa itu terdengar sensual, agak mengejutkan tawa itu berasal dari seorang laki-laki. Kalau Naruto tidak melihat pemuda itu secara langsung, dia akan berpikir bahwa kamp ini ditempati seorang wanita. Tapi pemuda ini memang cocok memiliki sebutan 'Laki-laki manis'. Bentuk wajah dan tubuhnya cocok untuk menjadi seorang wanita.

"Sepertinya kau datang dari jauh Uzumaki-san," ujar pemuda itu menyela Naruto dari pemikirannya.

"Begitulah," jawab Naruto datar, "Aku berharap kau tau sekarang kita berada di mana."

Pemuda itu mengangguk sekali, menandakan dia tahu sekarang ini dimana, "Menurutku, sekitar sehari atau dua hari jauhnya dari Kuragakure."

Nama kota itu terdengar asing untuk Naruto. Karena kota itu memang bukan tujuannya, "Apakah itu kota terdekat?"

"Aku tidak tahu. Ini bukan daerahku."

"Kalau begitu apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku ada urusan di Kuragakure."

Setelahnya keheningan tercipta. Sepertinya pemuda ini kesal pada Naruto, karena dari tadi dirinya terus bertanya dan pemuda itu menjawabnya dengan sangat singkat yang membuat Naruto kesal.

.

.

Pada akhirnya karena tidak menyukai suasana hening Naruto kembali bertanya, "Apa kita berada dekat dengan jalan raya?"

Pemuda itu menggeleng pelan. "Sebisa mungkin aku menjauhi jalanan. Dengan begitu aku tidak akan bertemu dengan orang, karena aku lebih suka berpergian sendirian."

Jawaban blak-blakan pemuda itu membuat Naruto merona, "Maaf kalau aku merepotkanmu, tapi sungguh aku benar-benar tersesat."

"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Pemuda itu kemudian. "Apa kau dilempar dari kudamu?"

Pertanyaan pemuda itu membuat Naruto tersinggung, sehingga Naruto menjawab dengan sedikit kaku. "Tidak! Aku pergi menggunakan kereta kuda. Dan sebelum kau bertanya apakah aku terjatuh dari kereta kuda itu dan ..."

"Hei, tunggu dulu, Uzumaki-san," sela pemuda itu dengan nada sedikit marah. "Kau tidak berhak tersinggung dengan pertanyaanku itu, apalagi kalau kau sendiri sudah bertanya banyak padaku. Kau tahu? Kau sendiri yang berjalan kaki ke kampku, tanpa kuda ingat itu. Ya tidak salah, kan kalau aku berfikir seperti itu? Lagi pula kalau orang yang berpergian menggunakan kereta kuda biasanya tak berakhir sepertimu, Uzumaki-san."

Dengan lesu Naruto menghela napasnya. Ucapan pemuda itu memang benar.

"Kereta kuda yang kutaiki ditembaki perampok," ujar Naruto. "Kusirnya mencoba kabur dari kejaran perampok, tapi malah terjadi kecelakaan. Ketika malamnya aku terbangun, kusirnya sudah tidak ada, kudanya kabur, dan tasku sudah kosong semua."

Dengan seksama pemuda itu mendengarkan cerita Naruto. "Perampokan kereta kuda, di daerah sini? Kapan itu terjadinya?"

"Dua hari yang lalu."

Terdengar deruh napas kecewa. "Pasti sudah tak ada jejaknya."

"Kukira juga begitu. Apa kau lebih suka kalau jejaknya masih ada?"

"Pihak kepolisian akan membayarku lebih, jika aku menangkap perampok kereta kuda," ucap pemuda itu sedikit kecewa. "Sekarang giliranmu, Uzumaki-san. Apa yang membawamu ke daerah Barat?"

"Apa yang membuatmu mengira aku dari Timur?"

Sebuah seringai terbentuk ketika mata lavender itu menyapu Naruto dari atas ke bawah. "Aku hanya menebak."

Jawaban pemuda itu membaut Naruto berdiri dengan marah. Dan pemuda itupun melanjutkan pertanyaannya. "Apa kau mengikuti tur mengelilingi daerah Barat, yang biasanya sangat disukai oleh orang-orang Timur?"

Dengan jengkel Naruto menjawabnya, "Tidak! Aku ke sini untuk membunuh seseorang!"

.

.

.

TBC


.

Hahaha ... dengan gajenya aku kembali melanjutkan fic ini. Oh iya, banyak yang nannya "Kenapa sikap Hinata di fic ini beda banget dari yang aslinya?" jawabannya karena aku ingin buat semua heters Hinata itu, tau kalau Hinata itu gak lemah ... Hinata itu kuat. Hinata itu bisa berperan sebagai seseorang yang pokoknya bisa bertarung seperti laki-laki.

Sumpah ya, aku tuh benci ... benci ... banget sama orang yang ngebash Hinata. Huhh ...

Dan aku buat fic ini tuh terinspirasi dari film WaltDisney yang judulnya "MULAN" aku suka banget sama film itu#eehh,,malah curhat hehe,,

Yo silahkan tinggalkan lah Review kalian, biar aku semangat buat lanjutin fic nya ...