Title: ANGEL
Cast: Sehun & Luhan
Author: Cloudy
Summary: "Lalu jika aku membuat permintaan, apa kau akan pergi?"
Disclaimer: They belong to God and their family
Warning: Yaoi, OOC, many typo(s), EY(T)D
A/N: Aloha~ saya tahu ini sangat lama, maaf! Jadi semoga ini nggak terlalu memaksa.
Happy Reading ^.~
.
.
.
.
Do not Plagiarism and Copycat
.
.
.
.
Dia bagaikan setitik warna yang menetes pada kebisuan danau
Bagaikan tinta yang menggores kertas
Walau dirinya bagaikan warna putih,
Namun kehadirannya membawa begitu banyak warna
Dan sang pembawa warna itu hadir dalam hidupku
Suasana apartemen Sehun nampak damai, mungkin karena ketegangan yang sempat terjadi kemarin membuat dua orang penghuni apartemen itu tertidur karena kelelahan. Jam masih menunjukkan pukul empat pagi dan salah satu dari mereka tiba-tiba saja terbangun.
Sehun tampak mengerjab-ngerjabkan kedua matanya yang sesungguhnya masih diselimuti rasa kantuk itu, namun tenggorokannya yang kering memaksanya untuk bangun dan membasahi tenggorokannya. Segera saja dia keluar kamar dan menuju dapur, mengambil segelas air dan meneguknya hingga habis. Tak sengaja pandangannya berhenti pada pintu kamarnya yang kini dipakai Luhan.
Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul di benak Sehun seperti 'sedang apa dia?' atau 'apa dia tidur nyenyak?'. Ugh, apa kau merindukannya Sehun? Itu terdengar konyol namun Sehun sendiri tak tahu apa yang dirasakannya pada pria manis dengan mata bagai seekor rusa itu.
Tiba-tiba saja didengarnya suara tirai yang mengetuk-ngetuk pintu kaca balkon akibat terpaan angin. Hei, seingatnya dia sudah mengunci pintu balkon tadi. Dilangkahkannya kedua kakinya ke arah balkon dan dia pun mendapati sosok Luhan yang tengah duduk memeluk lutut sembari memandangi langit.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Luhan terlonjak kaget begitu mendengar ucapan Sehun yang ternyata kini duduk di sampingnya.
"Maaf, Sehun. Apa aku membuatmu terbangun?" Sehun menggelengkan kepalanya, matanya masih memandangi langit yang nampak penuh bintang dan bulan yang bersinar penuh.
"Aku merasa haus makanya terbangun, bagaimana denganmu?" Sehun kini memandangi sosok Luhan yang kembali menerawang langit, bibi cherrynya tersenyum kecut.
"Aku. . . merindukan rumah." Sehun sekarang mengerti akan maksud senyum Luhan.
"Sudah berapa lama kau meninggalkan rumah?"
"Sudah. . . mungkin sekitar satu bulan." Luhan mengeratkan pelukannya pada lutut kemudian menumpukan dagunya pada lutut. "Aku meninggalkan rumah untuk menjalankan misi, misiku mengabulkan keinginan seorang wanita paruh baya yang tengah menjalani masa kritis selama berhari-hari. Padahal sudah bberhari-hari aku mengawasnya di lorong Rumah Sakit, tapi hari dimana akhirnya dia akan mengucapkan keinginannya, beliau justru wafat." Sehun dapat mendengar dengan jelas suara Luhan yang bergetar di akhir ceritanya.
Entah inisiatif dari mana, Sehun membawa Luhan dalam pelukannya. Luhan sendiri kaget namun lama kelamaan tubuhnya bergetar, ia menangis dalam pelukan Sehun.
Dua hari Luhan ada di sini dan dengan cepat dirinya akrab dengan Tao, seperti hari ini ia membantu Tao yang tengah memasak makan malam. Dalam hati Sehun merasa lega, setidaknya Luhan tak merasa sedih tinggal di tempatnya. Bukankah menyenangkan hati tamunya adalah adab baik yang harus dilakukan sang tuan rumah?
"Dia bisa berlubang jika kau memandanginya terus seperti itu." Sedikit tersentak namun Sehun cukup pintar mengendalikan air mukanya ketika Kris memergokinya memandangi Luhan.
"Kau tak melaporkannya pada polisi?" Sehun beralih memandang Kris seolah bertanya alasan Kris. "Siapa tahu keluarganya mencari?"
"Tidak perlu, ku rasa. Jika memang orang tua Luhan mencarinya, polisi pasti akan datang sendiri kemari." Sehun tak menceritakan asal-usul Luhan pada Tao maupun Kris. Dia mengkhawatirkan dua hal. Pertama akal sehatnya masih sedikit belum menerima keanehan tentang Luhan. Dan kedua, ia takut orang-orang tak mempercayai ucapannya. Oh, jangan lupakan kemungkinan tentang kau yang dianggap gila dan tentang keselamatan Luhan, Sehun.
"Terserah kau saja, dasar tak mau repot!"
"Sehun, Kris-ge, makan malam sudah siap!" Segera saja Kris dan Sehun menuju ruang makan dengan Tao dan Luhan yang sudah mengatur meja makan.
"Wah, kalian masak banyak sekali. Ayo makan!" Kris mendudukkan dirinya di samping kekasihnya, Tao. Acara makan malam hari itu terasa ramai walau sesekali Sehun akan mencuru pandang pada Luhan. Melihatnya yang tengah lahap memakan makanannya, senyumnya ketika tengah mendengarkan cerita Tao dan Kris, juga tawanya ketika Tao bertindak terlalu polos atau menceritakan lelucon. Andai saja Sehun dapat bergerak cepat memahami apa yang dirasakannya.
Ketika malam semakin larut, Tao dan Krismemuttuskan pulang. Selepas Tao dan Kris pergi, Luhan dan Sehun sibuk membersihkan ruang makan dan dapur.
"Mau teh?" Luhan menyerahkan secangkir teh pada Sehun kemudian memilih duduk di samping pria tampan itu.
"Terima kasih." Sehun mencium aroma teh yang mengepul lewat uap panasnya.. Pikirannya masih berkecamuk, dan itu membuatnya melupakan Luhan yang ada di sampingnya. Luha yang merasa sedikit kesal karena diacuhkan memutuskan untuk menegur Sehun."
"Sehun, kau tak apa?" Luhan menepuk bahu Sehun sembari menghadapkan wajahnya pada Sehun. Okay, Sehun semakkin bimbang sekarang, haruskah ia bertanya atau tidak.
"Eum. . . Luhan, apa kau sangat ingin pulang?" Luhan yang tengah menyesap tehnya pun terdiam. Pegangan pada cangkirnya sesaat mengerat kemudian kembali seperti semula dan ia meletakkan cangkirnya.
"Aku. . . tentu ingin pulang." Ucapnya lirih dan entah menngapa terselip keraguan pada ucapannya sendiri. Beruntung Sehun bukan orang yang sepeka itu.
"Bukankah kau hanya perlu mmengabulkan permintaan dan kau bisa pulang?" Lagi, dapat ditangkapnya raut lelah dan sedih Luhan.
"Sayangnya tak semudah itu. Kami Pixie of Hope hanya dapat mengabulkann keinginan sesuai dengan misi yang diberikan pada kami. Jika permintaan yang disampaikan berbeda maka sia-sia saja, kami tak akan bisa pulang sebelum mengabulkan permintaan sesuai misi kami." Luhan menghela napasnya, bibir cherrrynya menyunggingkan senyum kecut seolah mengasihani dirinya sendiri. "Hari itu aku mencoba pulang karena orang yang menjadi target misiku sudah wafat sebelum aku sempat melakukan misiku, dan seperti yang sudah ku ceritakan sebelumnya. Aku berakhir di balkon apartemenmu, Sehun."
Sehun baru mengenal Luhan selama dua hari, tapi dalam waktu yang singkat itu, Sehun menumbuhkan tekad. Ia akan membantu Luhan untuk pulang, ia ingin Luhan bahagia.
Dan seandainya saja Sehun tahu apa yang Luhan rasakan setiap kali Sehun mempertanyakan cara agar Luhan dapat pulang. Ia merasa ia tak diinginkan, Luhan merasa Sehun tak ingin berlama-lama bersamanya. Luhan merasa Sehun ingin ia cepat pergi dari kehidupannya.
Luhan tak ingin menjadi orang yang tak tahu diri, menumpang pada orang yang tak nyaman menampungnya. Maka murunglah ia. Sebisa mungkin ia menekan segala egonya dan berusaha untuk tak merepotkan Sehun. Luhan memasak untuk mereka, berkat Tao yang mau mengajarkannya macam-macam masakan yang tergolong mudah dimasak. Ia membersihkan rumah Sehun. Ia berusaha melayani Sehun dengan baik, menyiapkan air hangat untuk Sehun mandi, menyiapkan keperluan kuliah Sehun, menunggui Sehun yang pulang malam dan segala yang sekiranya dapat membantu Sehun.
Ia tak ingin merepotkan Sehun. Sungguh, jika saja sayap-sayapnya dapat mengantarkannya pulang kini.
Namun Luhan tak seberuntung itu. Satu hal pada dirinya yang tak dapat ditekannya. Kenyataan bahwa ia sesungguhnya menaruh hati pada pemuda tampan dengan poker facenya itu.
Sehun tak merasakan hal yang sama denganmu, sadarlah Xi Luhan! Aku tak boleh banyak berharap.
"Kita mau pergi kemana, Sehun?" Luhan memperhatikan Sehun yang hari itu mengenakan celana jeansnya dan polo shirt tengah membenarkan letak topi yang ia kenakan di depan kaca.
"Kita akan jalan-jalan ke pantai. Kau pasti bosan berada di rumah terus. Nah!" Sehun berbalik lalu memakaikan topi pada Luhan. "Ayo, kita berangkat!"
Diperlukan waktu kurang lebih dua jam berkendara untuk sampai di pantai terdekat. Hari ini masih musim panas, angin dan matahari yang bersinar cerah mendukung segalanya, maka senyum Luhan hari itu terus terkembang. Sehun yang diam-diam melirik pada Luhan, ikut tersenyum.
Hari itu pantai nampak sepi, hanya sedikit pengunjung yang datang. Ketika matahari meninggi, Sehun menghampiri Luhan dengan dua cone es krim di tangan. Luhan yang sudah berganti pakaian dengan celana pendek dan t-shirt v-neck tipis yang membalut tubuhnya mengamati Sehun yang telah berganti pakaian dengan hanya mengenakan celana selutut saja.
"Coklat atau vanila?"
"Vanila saja." Sehun menyerahkan es krim vanila pada Luhan kemudian duduk di samping pria manis itu, memandang gulungan ombak dan terpaan angin laut yang membelai rambut. Tak ayal beberapa kali poni Luhan menghalangi pandangannya dan masuk ke mata.
Luhan berjengit kaget ketika jari panjang Sehun menyibak helaian poninya. "Ponimu masuk ke mata, ya? Bagaimana kalau diikat saja?" Luhan menggenggam poninya dengan sebelah tangan, memang mulai panjang.
"Kau punya ikat rambut, Sehun?" Sehun merogoh saku celananya kemudian mengangguk.
"Kau pegang ini, akan ku ikatkan!"
"Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri!" Sehun dengan keras kepala menyuruh Luhan membawa es krimnya agar ia dapat mengikatkan rambut Luhan.
"Tidak ada penolakan!" Tandasnya dan Luhan hanya dapat menurut. Luhan memegang es krim Sehun sedang Sehun kini bersimpuh di hadapannya, menyatukan helai poni Luhan di genggamannya lalu mengikatnya dengan ikat rambut. Oh, dan Luhan berharap Sehun tak melihat rona merah di kedua pipinya yang mulai merambat hingga telinganya.
"Selesai!" Luhan menyentuh ikatan poninya yang berbentuk seperti pohon kelapa dan wajahnya lagi-lagi memanas.
"Sehun, aku jadi terlihat seperti apel!" Rajuknya sembari menyerahkan es krim coklat Sehun.
"Benar juga, Lu. Kau terlihat manis seperti pale!" Oh Tuhan! Sebenarnya terik matahari di pantai atau ucapan Sehun yang sudah membuat Luhan memerah seperti ini?
Setelah menghabiskan es krim dan beristirahat sebentar, Sehun mengajak Luhan ke bibir pantai. Sensari rasa dingin di kakinya akibat sapuan air laut, aroma air laut yang khas mengisi paru-parunya dan satu tangannya yang digenggam Sehun membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak. Darahnya berdesir halus dan perutnya terasa digelitiki ribuan kupu-kupu. Luhan sangan menikmati suasana ini hingga tak menyadari satu kakinya menyandung karang.
"Hwaaaa!" Tubuhnya limbung ke depan, reflek Luhan menutup matanya. Tapi kenapa ia tak merasakan tubuhnya jatuh ke air? Perlahan di bukanya kedua mata rusa itu dan ia terkejut ketika mendapati lengan Sehun melingkar di pinggangnya, menahannya agar tak terjatuh.
Dan mata rusanya tak dapat lebih membulat lagi ketika Sehun menariknya agar berbalik dan menyebabkan tubuhnya berhimpit dengan Sehun.
Tuhan, aku berharap waktu berhenti untuk sesaat.
Semilir angin malam menyapu kulit yang bagai pualam itu. Kedua tangannya menyangga pada pagar balkon. Walau begitu pandangannya nampak kosong, sepertinya ia melamunkan sesuatu.
"Kau tak beristirahat, Sehun?" Sehun berbalik dan mendapati Luhan dengan selembar selimut di tangannya. "Malam ini begitu dingin, pakailah!" Luhan menyerahkan selimut itu lalu berdiri di sisi Sehun.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku kan punya ini." Dengan senyum yang mengembang, Luhan membentangkan sayapnya lalu membalut tubuhnya dengan sayapnya. "Semacam selimut praktis." Oy ya, Sehun lupa dengan sayap Luhan. Yah, ia belum terbiasa melihat Luhan dengan sayap. Walau harus ia akui, Luhan tampak berkali lipat lebih cantik. Dan sayapnya itu mengingatkannya tentang 'tak dapat meraih Luhan'.
GREB
Mata bulat Luhan membelalak begitu Sehun memeluknya dari belakang dan ikut membalut Luhan di dalam selimutnya. "Ya, tapi kau akan membuat sayapmu kedinginan."
Oh, lagi-lagi semburat merah muda itu menghiasi wajah Luhan. Terlebih ketika dirasakannya hidung Sehun yang menggesek sayapnya.
"Luhan," Luhan hanya berdengung kecil sebagai jawaban. "Apa wanita yang menjadi target misimu itu sudah bersuami?" Luhan mengerutkan alisnya bingung, tak mengerti maksud arah pembicaraan Sehun namun ia tetap menjawabnya.
"Tentu, beliau juga memiliki seorang putra. Namun keduanya wafat tiga minggu sebelum nyonya Kim meninggal."
"Kenapa bisa begitu?" Sehun yang mulai tertarik dengan perbincangan itu tanpa sadar menumpukan dagunya pada bahu Luhan. Luhan yang sudah larut dalam perbincangan itu pun tak menyadarinya.
"Mereka sekeluarga adalah korban kecelakaan besar. Tuan Kim dan putranya meninggal di tempat, sedang nyonya Kim yang satu-satunya korban selamat harus mendapatkan perawatan intensif karena luka dalam yang parah. Beliau bertahan selama tiga minggu hingga akhirnya meninggal."
"Beliau wanita yang kuat." Luhan mengangguk setuju.
"Saat itu pasti nyonya Kim sangat ingin bertemu suami dan putranya. Sayangnya beliau tak dapat melihat orang tersayangnya lagi." Sehun seketika saja tersentak.
Bingo!
Hari itu bulan bersinar terang, semilir angin malam masuk ke dalam apartemen Sehun melalui pintu balkon yang dibuka lebar. Luhan ampak berdiri di tengah ruang kosong antara balkon dan ruang TV. Ia nampak anggun dengan pakaian serba putihnya.
"Aku siap, Sehun." Sehun yang berdiri di samping saklar lampu mengangguk lalu memadamkan lampu terakhir di apartemennya.
Jika saja Sehun dapat melihat raut wajah Luhan, sayangnya keadaan terlalu remang untuk melihat raut sedih Luhan. Cepat-cepat ia menepis kesedihannya begitu sadar. Ayolah, Luhan. Kau harus konsentrasi!
Perlahan ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Hari ini ia akan mengabulkan keinginan Sehun, kemarin Sehun bilang ia tahu permintaan apa yang diinginkan nyonya Kim. Jadi malam ini mereka melakukan upacara permintaan.
Luhan mulai memejamkan matanya kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada. Kedua sayapnya terbentang lalu tanpa mengepakkan sayapnya, Luhan melayang kecil. Angin terasa memutarinya bersama kilauan kecil cahaya.
'Tuhan, kabulkanlah permintaan hamba ini. Kabulkanlah permintaan terbesarnya. Kabulkanlah permintaannya dan sinarilah ia dengan cahaya rembulan."
Perlahan angin di sekitar Luhan semakin kencang, tubuhnya bersinar terang. Dan ketika ia nanti mengepakkan sayapnya, ia akan terbang dan permohonan Sehun akan terkabul. Maka dikepakkan sayapnya.
BLARRR
Sinar itu meledak, membutakan. Sehun mengerjabkan matanya mencoba mendapatkan kembali penglihatannya. Dan di sanalah ia mendapatkan permohonannya terkabul.
"Se. . . sehun, maafkan aku! Maafkan aku! Aku gagal!" Sehun mengulum senyum, segera saja dipeluknya sosok yang tengah terduduk diantara ribuan bulu yang berguguran. Ia memeluknya erat.
"Tidak, Luhan. Kau berhasil, harusnya aku yang minta maaf." Luhan yang tengah menangis mendongakkan wajahnya pada Sehun, tak paham dengan ucapan Sehun. "Maaf karena aku begitu egois dan ingin kau selalu di sisiku."
"Apa maksudmu, Sehun?"
"Permohonanku adalah menginginkanmu di sisiku, seperti nyonya Kim yang pasti menginginkan suami dan putranya ada di sisinya. Maaf aku begitu egois, maaf karena aku mencintaimu." Luhan reflek menjauh dari Sehun. Apa yang dikatakan Sehun barusan? Jangan bilang itu hanya tipuan pendengarannya saja.
"Kau sungguh-sungguh?" Sehun mengusap bahu Luhan kemudian membimbing Luhan untuk memandang kedua matanya, memandang keseriusannya.
"Aku mencintaimu, Luhan. Aku sungguh mencintaimu." Dan Luhan tak dapat menahan tangis harunya, segera saja ia memeluk Sehun.
"Aku. . . aku juga mencintaimu, Sehun. Sangat." Ucapnya disela tangisnya, dan Sehun membuncah dalam kebahagiaan.
"Terima kasih." Diangkatnya dagu Luhan, ia hapus air mata yang membasahi pipi malaikatnya. Kemudian dengan perlahan mereka mulai mengeleminasi jarak diantara keduanya.
CHU~
Kedua bibir itu bertemu, saling mngecup untuk menyalurkan kasih mereka. Semakin dalam dan semakin intens pegutan bibir itu hingga membimbing mereka pada aktivitas yang lebih. Dengan rembulan sebagai saksi mereka.
END
.
.
.
.
Omake
"Halo, Sehun?" Suara riang kyungsoo menyambut telefon adiknya di line seberang. Ia meletakkan cangkir tehnya di samping beberapa hard bread sarapannya dengan Jongin. "Apa kabarmu, sayng? Kau tak menghamili perempuan kan makanya menelfonku?" guraunya sembari kembali menyesap tehnya,
"tentu tidak, hyung! Tapi. . ."
"Tapi apa, eoh?"
"Aku menghamili pria. Sudah ya, hyung. Ku tutup, semoga harimu menyenangkan!" Mendengar jawaban adiknya yang secepat kilat, Kyungsoo berhasil dibuat shock. Lalu tiba-tiba saja ia kehilangan kesadarannya.
"Sayang, aku sudah selesai mandi! Kyungsoo! Kyung. . . Ya Tuhan! KYUNGSOO!"
Really END
A/n: Terima kasih banyak untuk yang sudah review di chapter 1, maaf tak dapat saya sebutkan tapi saya membacanya. Terima kasih juga untuk Han Hyena untuk idenya, lagipula ini ff requestnya -.-
So, riview juseyo?
