SOULFUL
T
Kuroko Tetsuya. Akashi Seijuurou. Aomine Daiki.
yaoi, OOC, typo[s], no edit, confusing, ambiguous
KnB is 's.
.
Malam ini terlalu dingin bagi Kuroko Tetsuya. Bahkan selimut tebal tidak cukup melindunginya dari rasa beku. Tidak, ini bukan karena musim dingin yang sedang mendatangi kota Tokyo saat itu. Kuroko hanya merasa beku, tepat di hatinya. Perasaannya yang kacau adalah sumber utama dari segala rasa dingin dimalam itu.
'Bukan karena aku tidak mencintaimu, tapi aku tidak merasa benar ketika bersamamu.'
Bukankah hal yang wajar ketika kau menjadi bingung setelah mendengar ucapan seperti itu dari kekasih- tidak, mantan kekasihmu? Kuroko sedang mengalaminya. Dia dan mantan kekasihnya masih saling mencintai. Tapi mereka telah berpisah. Cinta keduanya cukup kuat sebenarnya. Hanya saja satu ganjalan di hati Kuroko menjadi alasannya. Orang lain dan perasaan Kuroko pada sosok itu. Ketidakjelasan yang rumit.
Chapter 1 - Confuse
.
Kuroko masih memikirkan kabut penghalang di hatinya ketika bel apartemennya berbunyi. Dia berpikir siapa yang bertamu selarut ini, setengah jam menjelang tengah malam. Tanpa berpikir lagi, Kuroko menyibak selimut lalu bangun dari tempat tidurnya dan keluar kamar. Saat membuka pintu, Kuroko terkejut melihat sosok yang ia lihat saat ini. Ia terkejut bukan karena siapa sosok itu, tapi karena keadaannya. Pemuda itu hanya memakai cardigan tipis yang basah kuyup dan tengah menggigil hebat. Sosok itu baru saja menerjang hujan salju rupanya.
"Akashi-kun?"
Akashi Seijuurou, tamu larut malam Kuroko, tersenyum.
"Boleh aku menginap, Tetsuya?"
Kuroko dengan cepat menarik Akashi masuk ke apartemennya. Ia mendudukkan pemuda berambut merah itu di sofa, kemudian meninggalkannya sebentar untuk mengambil handuk dan baju ganti serta selimut. Akashi masih menggigil. Wajah dan bibirnya pucat. Seluruh tubuhnya dingin.
"Aku akan mengeringkan Akashi-kun. Bolehkah?"
"Tentu, Tetsuya. Terima kasih."
Kuroko tersenyum kecil lalu mulai mengusapkan handuk ke rambut merah Akashi perlahan. Kuroko mengusuk halus rambut itu sampai sedikit mengering. Lalu perlahan berpindah menuju ke wajah Akashi. Mata keduanya bertemu saat Kuroko mencoba mengeringkan pipi Akashi. Tatapan dalam Akashi membuat Kuroko menghentikan kegiatannya. Keduanya saling melempar senyuman.
"Aku ingin kehangatan dari Tetsuya."
Mata Kuroko membulat mendengar ucapan Akashi. Ia tidak sempat bergerak sedikitpun ketika Akashi mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka perlahan. Kuroko menerima sapuan dingin dari bibir pemuda beriris merah itu. Tetapi Kuroko segera menarik dirinya. Bukan karena menolak, tapi ia teringat keadaan Akashi.
"Akashi-kun bisa sakit kalau tidak segera mengeringkan badan dan mengganti baju."
"Aku tahu. Jadi tolong keringkan aku dan gantikan bajuku Tetsuya."
Kuroko mengangguk dan meneruskan kegiatannya yang sempat tertunda. Setelah selesai mengeringkan Akashi dan mengganti bajunya, Kuroko memberikan selimut tebal agar Akashi merasa hangat.
"Aku akan membuat cokelat hangat untuk Akashi-kun. Tunggu sebentar."
"Tidak."
Tangan Akashi meraih sweater Kuroko dan membuat Kuroko bergeming.
"Aku hanya ingin kau disini Tetsuya."
"Baiklah."
Kuroko duduk disamping Akashi. Tangannya terulur mengambil bagian selimut yang tersisa dan memakainya bersama Akashi. Tangannya yang lebih hangat menggenggam tangan dingin milik Akashi.
"Sudah lebih hangat Akashi-kun?"
"Tentu."
Akashi menyandarkan kepalanya di bahu Kuroko. Matanya terpejam menikmati aroma vanilla yang manis dari pemuda yang duduk disampingnya dan berusaha memberikan kehangatan padanya. Akashi tersenyum lalu menghembuskan nafas panjang.
"Apa aku menyusahkan Tetsuya? Aku selalu datang disaat yang tidak tepat. Aku egois bukan?"
Kuroko mengangguk pelan. Meskipun tanpa melihat Akashi tahu, karena dagu Kuroko mengenai surai merahnya pelan. Akashi menarik tangannya dari genggaman Kuroko lalu melingkarkannya pada pinggang Kuroko dan mengeratkannya.
"Aku dan ayah bertengkar lagi. Hanya karena nilai seni musikku turun satu digit. Ayah tahu aku membolos pelajaran seni musik dan memilih bermain basket denganmu."
Mendengar cerita Akashi, Kuroko mempererat pelukannya pada Akashi. Ia tahu pemuda beriris merah itu adalah pribadi yang rapuh dan mudah tertekan. Dan satu-satunya orang yang tahu tentang Akashi sedalam itu hanya Kuroko. Tangan kanan Kuroko mengelus pelan surai merah Akashi yang masih sedikit basah.
"Aku rela menukar semuanya asal aku bisa bersama Tetsuya."
"Tidak perlu. Aku akan selalu bersama Akashi-kun."
"Terima kasih. Aku mencintaimu Tetsuya."
"Aku juga."
.
.
.
Benarkah itu cinta?
.
Kuroko melihat jam dinding. Jarum pendeknya menunjukkan angka 1. Setengah jam semenjak Akashi duduk tertidur sambil memeluk Kuroko dan menyandarkan kepalanya di dada Kuroko. Perlahan ia mengubah posisi Akashi agar membuatnya lebih nyaman. Ia menidurkan Akashi di sofa lalu meletakkan kepala merah itu di bantal kecil dan menaikkan selimut sampai ke leher. Ia mengecup dahi Akashi.
"Oyasuminasai, Akashi-kun."
Tiba-tiba saja ponsel di saku Kuroko bergetar. Ia merogoh saku untuk mengambil ponselnya. Layar itu berkedip dan menampilkan sebuah nama di sana.
Aomine-kun
Kuroko sedikit ragu untuk mengangkatnya. Namun pada akhirnya ia memang ingin mendengar suara dari orang itu, mantan kekasihnya.
"Halo, Aomine-kun."
"Tetsu."
"Ada apa Aomine-kun? Ini sudah larut malam."
"Tidak. Aku- hanya ingin mendengarkan suaramu."
"…"
"Tetsu."
"Ya?"
"Kau sedang apa? Mengapa kau belum tidur?"
"Aku menemani Akashi-kun. Ia baru saja tidur." Tidak perlu berbohong, pikir Kuroko.
"Kau- tidur dengan Akashi?"
"Tidak seperti yang kau pikirkan."
"Tapi Akashi pasti berpikir begitu."
"Tidak. Dia benar-benar tertidur. Apa Aomine-kun menelepon hanya untuk itu? Jika iya, lebih baik kita tutup saja."
"…"
"Aomine-kun?"
"Inilah alasanku mengapa aku selalu merasa tidak benar jika bersamamu. Saat aku menjadi kekasihmu, hampir seluruh perhatianmu ada pada Akashi."
"Tapi aku lebih mencintaimu, Aomine-kun."
"Tapi aku tahu kau terikat dengan Akashi. Bahkan saat kita masih bersama."
"…"
"Apa kau lebih bahagia jika bersama Akashi?"
"Aku juga bahagia bersamamu, Aomine-kun."
"Kata 'juga' sama saja kau meng-iya-kan kebahagianmu bersama Akashi. Dan aku tahu, saat bersamaku kau tetap memikirkan Akashi."
"Dia-"
"Dan Tetsu, satu hal lagi yang aku tahu. Kau, tidak pernah memikirkanku saat bersama Akashi."
"…"
"Selamat malam Tetsu."
Sambungan telepon itu terputus. Satu kenyataan yang menampar Kuroko lagi. Ia bingung akan perasaannya. Kuroko memandang Akashi yang tertidur. Ia berjongkok tepat di depan wajah Akashi. Tangannya mengelus pelan rambut kemerahan itu. Lalu Kuroko mendekat dan mengecup bibir Akashi lembut.
Di depan orang lain, Akashi kuat, tapi hanya di depan Kuroko, ia bisa menunjukkan kelemahannya. Karena itulah, Kuroko tidak bisa meninggalkan Akashi. Kuroko akan selalu memikirkan Akashi. Bahkan ketika ia bersama kekasihnya.
"Aku tahu. Perasaanku padamu dan perasaanku pada Aomine tidak sama, meskipun aku tidak tahu letak perbedaan itu. Aku mencintai Aomine. Lalu perasaanku padamu, aku- harus bagaimana menyebutnya? Bahkan, meskipun datang terlambat, perasaan itu sangat besar. Sampai-sampai aku tidak tahu harus berbuat apa. Akashi-kun, perasaan apa ini?"
.
Akashi membuka matanya perlahan. Ia merasakan sedikit beban di pelipisnya. Ternyata Kuroko tertidur disampingnya dengan posisi terduduk di lantai. Dahi Kuroko menyentuh pelipis Akashi. Melihatnya, pemuda itu menggeser perlahan posisinya sehingga ia bisa melihat wajah Kuroko tertidur dengan jelas. Kelopak mata Kuroko yang terpejam menggoda Akashi untuk mengecupnya. Tapi niat itu tertunda ketika Kuroko membuat pergerakan kecil. Sepertinya ia merasa terusik dan terbangun perlahan.
"Ohayou, Tetsuya."
"A-ah. Akashi-kun. Maaf aku tertidur disini."
"Aku yang harusnya meminta maaf Tetsuya. Kau jadi tertidur di lantai semalaman."
"Tidak apa-apa. Jadi Akashi-kun ingin sarapan apa pagi ini biar aku buatkan?"
Akashi mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap. Lalu setelah berpikir sebentar, tangannya terulur meraih tengkuk Kuroko dan menariknya mendekat.
"Aku ingin ciuman selamat pagi dari Tetsuya."
Lalu penyatuan kecil yang manis itu terjadi. Kuroko tidak tahu, mengapa ia bisa menerima tiap sentuhan Akashi padanya. Ia juga tidak tahu mengapa ia tidak pernah menolak apapun tindakan Akashi padanya. Semua pertanyaan-pertanyaan itu selalu bermuara pada satu tanda tanya besar di pikirannya.
'Bagaimana aku menyebut perasaanku pada Akashi?'
.
.
.
TBC
Finally could post..chapter 2 - Past is coming soon...kyahahaha...ganbarimasu yo!
wish this will have readers
Lets Love!
