Hahahahaa setelah sekian lama akhirnya bikin juga chapter 2 nyaaa XD

YUK ah mari langsung aja ke inti ceritanya :3

.

.

Sin

Naruto belong Masashi Kishimoto

Rated M

Genre : romance, drama, hurt/comfort, angst

Warning for OOC, AU, INCEST, LEMON

.

.

Semua yang terlihat begitu sempurna di mata Sakura, ternyata tidak sesuai dengan apa yang dia perkirakan. Suasana makan malam saat ini terasa begitu tegang dibanding malam-malam biasanya, beruntung karena Ino sedang ikut dalam acara makan malam sederhana ini makanya suasana lebih sedikit ringan karena suara canda dan tawa yang berasal dari Sakura dan Ino.

"Hahaha, tapi benar loh Ino, seragam panahanmu sangat cocok ditubuhmu, kalau aku sih tidak sabar untuk mencoba kostum drama-ku," ujar Sakura.

"Tidak boleh yang terbuka," ujar Sasuke

"Dan rambut harus tetap diikat," sambung Shikamaru.

Mendengar larangan yang berlebihan dari kedua kakaknya laki-laki yang berasal dari keluarga Uchiha itu membuat Ino gemas, "kalian ini, bagaimana Sakura bisa mandiri kalau kalian saja memanjakannya keterlaluan seperti-"

"Ino habiskan makananmu dulu," potong Itachi yang kini menyadari lirikan sinis yang berasal dari kedua adiknya itu.

"Aku diterima di klub drama, mulai besok aku akan pulang telat, jadi kalian pulang duluan saja," ujar sakura dengan cengiran polosnya.

Mendapati kabar yang kurang menyenangkan dari Sakura, kedua Uchiha itu saling melirik tanpa mereka sadari Ino telah memperhatikan gerak gerik mereka, saat Sasuke akan menanyakan sesuatu, Shikamaru memotongnya, "Aku ingin bertemu dengan ketua club itu."

"Eh? untuk apa?" tanya sakura dengan tubuh yang menegang.

"Aku hanya ingin tahu siapa yang akan bertanggung jawab untuk mengurus adik kita tersayang ini."

Shikamaru memang mengucapkan hal itu dengan senyuman namun itachi sangat paham apa arti senyuman itu, dan kakak sulung Uchiha itu sudah bisa merasakan bahwa Sakura akan menangis lagi. Tidak kalah dengan adik bungsu nya Sasuke juga menunjukkan seringai yang penuh mengandung arti.

.

.

Keesokan harinya Sakura berangkat lebih dahulu ke sekolah tanpa kedua kakaknya itu. Karena penentuan karakter dalam drama yang akan Sakura mainkan akan ditentukan sebelum pelajaran pertama dimulai, tentu saja hal ini membuat kedua kakaknya yang sangat over protektif itu menjadi kesal. Karena tidak biasanya Sakura pergi sekolah lebih dahulu dan meninggalkan mereka.

"Sasori-senpai, kemana anggota yang lainnya?" tanya sakura bingung.

Sasori tersenyum sambil menutup pelan pintu ruangan club drama tersebut, "Sebenarnya pemilihan karakter akan dilakukan setelah pulang sekolah , tapi pagi ini aku ingin berdua denganmu, apa itu salah?"

"Tidak, sama sekali tidak kalah aku justru senang," ungkap Sakura malu-malu.

Sasori perlahan merangkul pundak Sakura dan memeluknya sedikit erat, "Aku merindukanmu."

"Aku juga, maaf ya senpai, kita harus menjalani hubungan diam-diam, aku tidak mau kedua kakakku mengetahui bahwa aku menjalin hubungan denganmu karena mereka terlalu overprotektif padaku." jawab Sakura sambil merangkul lengan Sasori yang melingkar di lehernya.

Sasori membalas perlakuan Sakura dengan membalikkan tubuh gadis itu sehingga saat ini mereka saling berhadapan. Direngkuh wajah gadis yang memiliki rambut berwarna bunga musim semi itu kemudian diciumnya dengan lembut, perlahan sampai sang gadis tidak menyadari bahwa tangan kekasihnya itu sudah masuk ke dalam seragamnya.

"S-Sasori sen..."

"Ssshhh, kau akan menikmatinya," bisik Sasori yang kemudian menjilat daun telinga Sakura.

Namun, bukannya menikmati... Sakura merasa ketakutan, tubuhnya sedikit gemetar dan perasaan ingin menolak yang begitu besar.

"Tidak... jangan, Sasori-senpai... berhenti.."

Namun Sasori makin mendekap Sakura sehingga gadis itu menggigit bibir kekasihnya.

" Aarrgghh!" geram Sasori.

"Ma-maaf... maafkan aku," begitu Sakura membungkuk meminta maaf, dia langsung berlari menuju pintu dan keluar dari ruangan itu.

Sasori yang masih terdiam sambil menyeka darah di bibirnya menatap sinis pintu tempat Sakura tadi keluar dari ruangsn klub drama.

.

.

Jam istirahat tiba, seperti biasa saat ini Sakura sedang berada bersama kedua kakaknya, Itachi tidak masuk karena sedang menghadiri ujian khusus masuk universitas yang merekrutnya. Sasuke dan Shikamaru melirik Sakura yang duduk di samping Ino, melihat ekspresi Sakura yang melamun dan sesekali merengutkan alisnya membuat kedua kakaknya itu penasaran.

"Ada apa?" tanya Sasuke dengan lembut sambil memberikan jus tomat pada Sakura.

"Ng, tidak ada apa-apa kok," jawab Sakura lesu.

"Kami tidak bisa kaubohongi," ucap Shikamaru.

Selagi Sasuke dan Shikamaru meng-interogasi adiknya, kedua bola mata Ino melirik dari kanan ke kiri, dari tempat Sasuke ke tempat Shikamaru. Memperhatikan kedua kakak Sakura yang terlalu berlebihan memberikan perhatian, "Sudahlah, Sakura kan juga punya urusan pribadi yang tidak harus selalu kalian tahu," ujar Ino.

"Ini urusan keluarga, kau orang luar jangan ikut campur," ucap Shikamaru sinis.

"Shika-nii, jangan begitu pada Ino, niatnya baik kok," bela Sakura, "Ino, aku ingin tanya, pernah tidak Itachi-nii menciummu secara paksa?"

"Tidak pernah sih," jawab Ino ysng kini perhatiannya kembali pada Sakura, "kalaupun pernah aku tidak keberatan karena aku mencintainya, memangnya kenapa?"

"Tidak, bukan apa-apa."

Saat yang bersamaan, mata emerald Sakura dikejutkan oleh sosok Sasori yang datang ke kantin bersama teman-temannya. Reflek Sakura langsung memejamkan kedua matanya, seolah berharap kakak kelas yang sekaligus menjadi kekasihnya itu tidak melihatnya. Namun sepertinya harapan Sakura tidak didengar Tuhan, Sasori menyadari sosok Sakura. Dengan sengaja, Sasori memilih bangku tepat di belakang tempat dimana Sakura duduk.

Kehadiran Sasori membuat kedua kakak yang dari tadi memperhatikan Sakura kini menjadi ke arah laki-laki berambut merah tersebut. Beda dengan Shikamaru yang langsung menatap tajam Sasori seolah menantang secara langsung, Sasuke lebih memilih untuk menganalisa apa yang terjadi pada reaksi Sakura saat Sasori datang. Mata Sasuke berganti antara Sakura dan laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi korban berikutnya dari sang kakak ini.

"Sasori, ada apa dengan bibir bawahmu? Seperti bekas luka masih baru kelihatannya," tanya teman perempuan yang duduk disamping laki-laki berwajah baby face itu.

Begitu mendengar pertanyaan yang terlontar, Sakura semakin merendahkan kepalanya dan hal ini disadari oleh Sasuke, Shikamaru, khususnya Ino.

"Ah ini, digigit kucing kesayanganku tadi pagi, padahal aku hanya bermaksud menciumnya karena aku menyayanginya, tapi malah digigit," jawab Sasori yang sedikit mengencangkan suaranya.

Mereka tidak bodoh, mendengar jawaban Sasori membuat Shikamaru dan Sasuke yakin bahwa penyebab Sakura murung adalah dia. Entah apa masalahnya, yang jelas mereka yakin bahwa ada hubungannya dengan ciuman yang Sakura tanyakan tadi pada Ino. Shikamaru akan bergerak akan menghajar Sasori namun Sasuke menahan tangan adiknya itu dari bawah meja. Namun apa yang Sasuke lakukan lebih buruk dari Shikamaru.

"Apa kau dan Sasori berciuman pagi ini?" tanya Sasuke yang langsung membuat tubuh Sakura menegang. Melihat reaksi Sakura, Sasuke langsung bangkit dari tempat duduknya dan menarik lengan Sakura p, memaksa ikut dengannya.

"Sasuke! Tunggu!" cegah Ino, "kalian tidak boleh seperti ini!"

Shikamaru menghentikan tubuh Ino, "Sudah kubilang 'kan? Orang luar diam saja."

Begitu kedua Uchiha pergi membawa Sakura, Ino hanya bisa berdiri terdiam memandang ngeri oleh tatapan Shikamaru yang barusan ia lihat, kemudian Ino menoleh kebelakang, tempat dimana Sasori duduk. Dan Ino melihat laki-laki itu tersenyum... seolah senyum kepuasan yang mengerikan.

.

.

"Sasuke-nii! Sakiiittt~ jangan tarik aku, lagipula kita masih jam sekolah, kenapa kau membawaku pulang? Aaawww!"

BRUK

Sasuke menorong tubuh Sakura dikasur miliknya, tentu ini bukan pertama kalinya Sakura mendapatkan perlakuan seperti ini.

"Katakan yang sebenarnya, apa kau berciuman dengan Sasori?" tanya Sasuke seolah mengabaikan Sakura yang kini sedang memegang pergelangan tangannya yang sakit.

"Sasuke-nii dan Shika-nii kenapa tidak cari pacar saja sih, jadi tidah usah selalu mengurusi urusanku," ucap Sakura ketus. Dan ini pertama kalinya Sakura berbicara ketus padanya, tentu saja hal ini membuat Sasuke shock.

"Bisa kauulangi bagaimana nada yang kaulontarkan barusan padaku?" tanya Sasuke dengan nada yang berat, seolah menahan amarahnya.

Menyadari sang kakak begitu marah, Sakura menunduk... "Maafkan aku, Sasuke-nii... "

"Jadi benar?"

Sakura mengangguk, masih sambil menunduk.

"Kau menjalin hubungan dengannya?"

Sakura mengangguk lagi.

Tiba-tiba Sasuke melangkahkan kakinya keluar dari kamar, Sakura sempat bingung kenapa kakaknya itu pergi tiba-tiba, namun begitu Sasuke datang dengan gelas di tangannya, kepala Sakura sedikit memiring seolah berpikir apa yang Sasuke bawa.

"Ini, cuci mulutmu dengan cairan ini," perintah Sasuke.

"Apa ini?" tahya Sakura yang menuruti perintah sang kakak.

"Cairan cherry, kumur lalu buang sampai tiga kali."

"Untuk apa?" tanya Sakura lagi.

"Agar air liur laki-laki itu hilang dari mulutmu," jawab Sasuke sambil membukan blezer seragamnya.

"Nii-san... jangan terlalu berlebihan begini~" pinta Sakura.

"Berlebihan? Apa kau lebih memilih mulutku yang membersihkan mulutmu dari laki-laki itu?" gram Sasuke sambil melempar blezerna ke sembarang arah.

"Bukankah wajar kalau sepasang kekasih saling berciu-"

"Tapi dia memaksamu, 'kan?" potong Sasuke.

Sakura hanya diam, kemudian berkumur lalu membuangnya kembali ke gelas. Setelah selesai, Sasuke mengambilnya kembali.

"Kenapa selalu begini?" tanya Sakura tiba-tiba, "selalu saja begini setiap aku punya pacar, apa selamanya aku tidak boleh punya pacar?"

Sasuke mencengkram keras gelas yang ia pegang, entah kenapa mendengar Sakura mengucapkan hal itu membuat Sasuke emosi.

"Aku tidak mau begini terus, aku ingin kalian sedikit membebaskanku, aku-"

PRANG!

"-kyaaaaaa!" Sakura menutup telinga dan matanya ketika Sasuke membanting gelas ke tembok.

Sasuke tidak pernah semarah ini pada Sakura sebelumnya.

"Maafkan aku Sasuke-nii, maafkan aku, maafkan aku~"

Melihat sepertinya Sakura sangat menyesal membuat Sasuke luluh, akhirnya Sasuke perlahan jalan dan duduk di samping Sakura kemudian memeluk adiknya dengan lembut, "ini semua karena kami menyayangimu, Sakura."

Nada Sasuke sudah terdengar normal bahkan kelewat lembut, membuat ketakutan Sakura hilang, "Sasori... laki-laki itu bahaya untukmu."

"Darimana kau tahu?" tanya Sakura yang sudah berani menyenderkan kepalanya di dada Sasuke.

"Aku dengar gossipnya, dia mengoleksi boneka manusia, kami tidak ingin kau terluka, itu saja," jelas Sasuke dengan alasan yang setengah bohong, karena sudah jelas alasan utamanya karena dia tidak ingin Sakura dimiliki oleh siapapun.

"Boneka manusia? Kenapa itu bahaya?"

"Bagaimana kalau ternyatandia mengincarmj menjadi model nyata boneka itu?" ujar Sasuke menakut-nakuti.

"A-aku tidak mau!" jawab Sakura.

"Maka dari itu, kau harus memutuskannya, Sakura... jauhi orang itu, jauhi klub drama."

"Iya, aku akan menjauhi Sasori-senpai dan keluar dari klub drama, aku mau ikut Ino saja di klub panahan," ucap Sakura yang mengeratkan pelukannya di tubuh Sasuke.

Sasuke tersenyum puas, "Itu jauh lebih baik, lagipula di sana ada Itachi."

.

.

Shikamaru yang masih berada di sekolahan menunggu Sasori di depan gerbang sekolah, sambil menenteng tas Sakura dan Sasuke. Mobil sedan mewah pun datang untuk Menjemput dirinya, "Tuan Shikamaru, saya datang menjemput anda."

"Ini, bawa saja tas kami, kau pulang duluan saja, aku masih ada urusan."

Tentu saja sang supir pun tidak berani bertanya lebih lanjut, "Baik tuan."

Begitu sang supir sudah pergi, Shikamaru melepas kuncirannya dan mengikat kembali rambutnya, kali ini rambutnya dia ikat semua ke atas. Begitu menunggu lebih dari lima belas menit, akhirnya Sasori keluar dari gedung sekolah. Shikamaru menyeringai kecil melihat sosok laki-laki berambut merah tersebut. Begitu jarak mendekatkan mereka, Shikamaru sengaja menghalangi jalan Sasori.

"Ada yang bisa saya bantu, tuan Uchiha?" tanya Sasori sarkastik.

"Jauhi Sakura," ujar Shikamaru singkat.

"Kalau tidak?" tantang Sasori.

"Kau akan menanggung semua perbuatan nekatmu ini, sen-pai," kata Shikamaru seolah meremehkan tubuh Sasori yang lebih pendek darinya.

"Kau hanya kakaknya, tidak berhak untuk mengatur kehidupan adikmu sampai segininya," ucap Sasori sambil melewati tubuh Shikamaru.

Begitu Sasori sudah sedikit menjauh, Shikamaru tersenyum dan mengencangkan suaranya, "Apa aku boleh melihat koleksi boneka manusia-mu, senpai?"

Tubuh Sasori terpaku. Kemudian dengan tatapan yang sangat tajam dan sinis ia menoleh ke arah Shikamaru, "Aku penasaran terbuat dari apa bonekamu itu... ah salah! Terbuat dari siapa bonekamu itu."

Dengan cepat Sasori menghampiri Shikamaru dan mendekatkan wajahnya, "Jangan kaupikir ancamanmu berhasil padaku, jangan main-main denganku."

Shikamaru menyeringai, "kalimat itu kukembalikan padamu."

Dengan tatapan meremehkan, Shikamaru meninggalkan Sasori yang kini mengepalkan tangannya sampai berdarah.

.

.

"Kau terlalu berlebihan Ino, tidak mungkin Shikamaru seperti itu."

"Itachi, kau harus lihat sendiri tatapannya padaku siang ini, benar-benar mengerikan. Aku sangat heran, kenapa hanya pada Sakura mereka bisa melembut?"

"Itu karena Sakura dirawat oleh mereka dari kecil, sudah cepat habiskan makananmu, jangan biarkan mereka merusak makan malam kita ini," ujar Itachi sambil menyeka pelan bibir Ino memakai jari-jarinya.

"Ini ada yang aneh, aku merasa ada keanehan pada diri Sasuke dan Shikamaru... mereka seperti ter-obsesi pada Sakura, kautahu itu?" lanjut Ino.

"Begini, aku akan tanyakan pada mereka kenapa segitu protektifnya pada Sakura, sekarang kau habiskan makananmu, setuju?" tawar Itachi.

"Huuuhh, baiklah... aku hanya mencemaskan Sakura," gumam Ino.

"Aku tahu, terima kasih ya," ucap Itachi lembut

.

.

Tiga hari sejak kejadian itu, seberapa keras perjuangan Sakura menghindari Sasori pasti akan tertangkap juga, sampai Sakura menyerah dan menuruti permintaan Sasori untuk bicara di tama belakang.

"Aku minta maaf," ucap Sasori.

"..."

"Maaf telah memaksamu untuk berciuman, maafkan aku."

Sakura terdiam, ingin sekali dirinya memaafkan Sasori namun ucapan Sasuke terus terngiang di pikirannya tentang bahwa Sasori mengoleksi boneka manusia.

"Apa kau memaafkan aku?" tanya Sasori.

"Aku..."

Belum sempat menjawa, pembicaraan mereka terganggu oleh suara dering yang berasal dari ponsel Sasori, "Sebentar ya... ya? Kenapa? Oke, aku segera kesana."

Begitu Sasori menutup ponselnya, "Maaf Sakura, kita lanjutkan nanti pulang sekolah, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat untuk permintaan maaf, oke?"

Sakura menganghuk.

"Baiklah, sampai nanti."

Begitu Sasori pergi, Sakura pun meninggalkan tempat itu, tanpa mereka sadari bahwa Shikamaru tengah menyeringai licik mengawasi mereka memakai laptopnya di atap sekolah.

Sakura kembali ke kelasnya, lagi-lagi dia tidak melihat sosok Shikamaru yang sekelas dengannya, begitu matanya sedang mencari... bukan Shikamaru yang ia temukan melainkan sosok Sasuke yang kini berdiri di pintu kelas sambil tersenyum lembut pada adiknya. Sakura membalas senyum kakaknya dan berlari pelan menuju Sasuke, "Ada apa, Sasuke-nii?"

"Tidak ada apa-apa, hanya memastikan kau ada di kelas."

"Hahaha, seperti aku akan pergi jauh saja," gurau Sakura.

Tanpa Sakura sadari, seperti inilah pola yang selalu terjadi. Apabila ada laki-laki yang menjadi pacar Sakura atau mengincar Sakura, Shikamaru akan sering menghilang untuk mengumpulkan informasi diam-diam, dan Sasuke lah yang bertugas untuk mengalihkan perhatian Sakura, dan agar adiknya itu tidak merasa kesepian.

"Pulang sekolah nangi, kita pergi ke tengah kota, mau?" ajak Sasuke.

"Eehh? Eemmm... tidak bisa, aku... sudah ada rencana dengan Ino," jawab Sakura yang entah kenapa dirinya memilih untuk bohong.

"Baiklah, lain kali saja kalau begitu," ujar Sasuke.

"Ng, maaf ya Sasuke-"

Belum selesai berbicara, Sasuke menarik tubuh Sakura di depan teman-teman sekelasnya. Tentu saja hal ini menjadi pusat perhatian semua orang, ada yang menatap dengan tatapan bingung, aneh, ngeri dan iri. Namun Sakura sendiri tidak menyadari akan hal itu, yang Sakura rasakan sekarang hanyalah persaan aman dan nyaman apabila berada di dalam dekapan sang kakak.

Sasuke pergi meninggalkan kelas Sakura, di saat yang bersamaan Sasuke dsn Sakura membuka ponselnya masing-masing.

"Ino, aku membutuhkan pertolonganmu."

"Shikamaru, kita jalankan rencana selanjutnya."

To Be Continued


A/n : dikit ya? Emang dikit hahahahaha maaf cuma bisa dikit, rumah ku beberapa ada yang di renovasi dadakan jadi susah nyari tempat buat ngetik, ditambah sang pacar nelepon mulu jadi buat ngetik ribet, -_-

Masih ada yang inget fict ini kah? Mudah2an masih hahahahaa

Dan plis, jangan tagih dulu fict2 aku yang lain hahahahaa

Abis ini mau lanjut WTTSTT dulu, fict collab aku dengan suu foxie, tadi malem udah janji sama dia mau bikin setelah selesai bikin chapter ini hehehehee

Sampai jumpa XD

XoXo

V3 Yagami