DIVINE
Main Casts : All BTS member
Other Casts :
Ok Taecyeon of 2PM as Jeon Taecyeon (Jungkook's father)
Lee Dong Hae of Super Junior as Park Dong Hae (Jimin's father)
Genre : Friendship
Rating : G
Length : Threeshoot
Author : gazehayu
Disclaimer :
Annyeong readers^^
Author kembali dengan ff lanjutan ff 'Divine' yang terinspirasi dari lagu nya SNSD noona yang berjudul sama. Dan, entah kenapa author ga bosen – bosen dengerin lagu itu dalem banget sih :') Dan si sini, author menghadirkan aktor favorit kalian semua sebagai support cast^^ Well, tanpa banyak bicara, check it out :D
All the casts are belong to God, their family, management and A.R.M.Y! I own the storyline so don't plagiat! Recommended song when you read this FF is SNSD – Divine.
Last but not least, Happy Reading :D
.
.
.
.
.
Summary:
Apa yang akan kita katakan adalah tentang apa yang telah kita capai
Didepan ombak yang kembali berteriak
Kita akan menghadapi semua kesulitan in
Menghadapi dengan senyuman
Karena aku percaya
We can be divine!
Perasaan kita adalah satu
We can be divine….
Jungkook berjalan di lorong sekolahnya dengan wajah tertunduk. Bukan, dia bukanlah murid pemalu lagi yang berjalan dengan langkah tertunduk seperti dulu. Menjadi anggota baru club dance yang terkenal di sekolahnya membuatnya menjadi sorotan di sekolah. Namun, menjadi sorotan bukan berarti dia lupa dengan teman – teman satu angkatannya. Jungkook telah berubah menjadi pribadi yang mudah berteman. Dan itu semua karena Divine, club dance dengan member yang dia sayangi.
Jungkook melanjutkan langkahnya dengan lesu. Matanya sembab dan sedikit membengkak. V berjalan di belakangnya dengan ekspresi yang seolah ingin menyampaikan kata – kata penghiburan. Dia ingin sekali menghibur Jungkook namun dia tahu sekedar kata – kata penghiburan tidak akan cukup. Dan pada akhirnya, dia hanya bisa merangkul bahu Jungkook dengan harapan dapat membuat Jungkook tenang sedikit.
"Hyung, aku harus masuk kelas.", ucap Jungkook pelan, dengan kepala masih tertunduk.
V hanya bisa memandangi Jungkook. Dia turut merasakan kesedihan dan kekecewaan yang Jungkook rasakan. Ingin dia mengucapkan sesuatu, namun tidak tahu apa yang harus dia ucapkan. Dan Jungkook membalas pandangan mata V, dan seolah mengerti apa yang ingin dikatakan V, Jungkook hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman kecil. Bagi Jungkook, itu semua tergambar jelas di mata V.
'Jungkook-ah, gwaenchana? Kami akan selalu bersamamu, Jungkook-ah. Jangan khawatir.'
'Ne, hyung. Gomawo sudah mau menemaniku untuk menghadapi ini.'
Dan V memperhatikan punggung Jungkook yang berjalan menjauh ke dalam kelasnya dan duduk di kursinya. V dapat melihat Jungkook mendapatkan pertanyaan "Jungkook-ah, kau kenapa? Gwaenchanayo" dari teman – temannya dan dibalas dengan anggukan kecil dan senyuman dari wajah Jungkook. Ketika itulah, V berjalan menjauh. Dia merasa dia bisa menangis kapanpun juga karena V sadar, menutupi rasa sakit bukanlah hal yang mudah.
Flashback
"Mwo? Lomba dance?!"
V dapat mendengar teriakkan Mr. Jeon dari ruang tengah rumah itu. V yang sedang membaca komik di kamarnya merasa terusik dengan teriakkan itu. 'Apa Jungkook tidak diizinkan untuk mengikuti lomba itu?' batin V. Dan jawaban atas pertanyaan itu langsung terjawab oleh teriakkan dari Mr. Jeon. "Sejak kapan kau mengikuti club dance?! Sudah appa bilang, kegiatan itu tidak berguna! Carilah kegiatan yang lebih berguna yang dapat menunjang masa depanmu, Jungkook-ah! Apa dengan menyekolahkanmu di sekolah itu tidak cukup?! Hah?!"
"Tapi aku hanya ingin menyalurkan bakatku, Appa! Apa itu salah?!"
Dan berikutnya, V dapat mendengar teriakkan yang berasal dari Jungkook. 'Cukup sudah!' pikir V dan dia beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri ruang tengah. Namun langkahnya menuju ruang tengah terhenti di anak tangga paling atas ketika…
PLAK!
Mr. Jeon menampar Jungkook dengan kerasnya hingga dia jatuh ke sofa. Dan hal selanjutnya yang V lihat adalah pipi kiri Jungkook yang memerah karena ditampar dan mata Jungkook yang mulai sembab. "Bakatmu itu hanyalah sampah yang tidak berguna! Jangan berharap kamu bisa hidup layak dengan segala macam tetek – bengek seni itu! Keluar dari club dance itu, atau akan kupindahkan sekolahmu ke sekolah bisnis! Mengerti?!", bentak Mr. Jeon yang di jawab anggukan lemah oleh Jungkook. Lalu, Mr. Jeon berjalan keluar ruangan dengan langkah tergesa – gesa. Ketika Mr. Jeon sudah pergi, V langsung berjalan mendekati Jungkook.
"Jungkook-ah. Apa yang kau rasakan sekarang?", tanya V sambil merangkulkan tangan kanannya ke pundak Jungkook. V sadar, pertanyaan bodoh "Gwaenchana?" sama sekali tidak tepat karena Jungkook jelas tidak dalam kondisi baik – baik saja sekarang. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut Jungkook. Pita suaranya seolah sesak oleh rasa kecewa mendalam kepada orang tuanya yang telah dia pendam sepanjang hidupnya. Dan rasa kecewa itu tidak mau berkerja sama dengan pita suaranya untuk mengungkapkan segala hal. Justru dia bekerja sama dengan kelenjar air mata untuk menyampaikan sesuatu itu kepada V. Ya, Jungkook menangis. Kekecewaannya begitu mendalam sehingga dia tidak tahu kalimat apa yang bisa dia katakana untuk mewakili kekecewaannya. Dan V memeluknya sebagai sahabat. Dia membiarkan Jungkook menangis dalam dekapannya, untuk membuatnya merasa lebih lega dan kuat. V berpikir, sepertinya Jungkook membutuhkan pelukan ini semenjak dulu.
Flashback off
"Jadi, begitulah ceritanya.", kata V.
Sekarang, mereka berenam tengah berkumpul di ruang latihan. Tentu tanpa kehadiran seorang Jungkook. V baru saja selesai menceritakan apa yang dia lihat kepada sahabat – sahabatnya. Mereka semua mendengarkan dengan seksama dan mendapati satu kesimpulan. Appanya Jungkook terlalu mengekang anaknya. "Kita bisa mencoba untuk berbicara pada appanya Jungkook.", ucap Jimin sambil memandangi sahabatnya satu per satu, seolah meminta persetujuan. "Aku setuju. Kasihan Jungkook. Sudah tidak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya, lalu dia harus dikekang oleh orang tuanya. Kalau aku jadi anak itu, aku sudah merasa terbebani sekali.", ucap Hoseok yang sedang duduk bersandar pada tembok. "Lagipula, bakat Jungkook dalam hal menari sangat hebat. Sudah begitu, suaranya juga sangat bagus. Aku yakin bakatnya bukanlah 'sampah' seperti yang diceritakan V tadi.", ucap Suga.
"Jadi, bagaimana kalau nanti sepulang latihan kita semua ke sana?", tanya Jin. Namjoon tampak berpikir sebentar, sebelum dia berkata, "Tidak, begini saja. V, apa appanya Jungkook ada di rumah?", tanya Namjoon. V mengangguk. "Dia mengambil cuti hari ini.", katanya. "Baiklah. Latihan intensif kita undur besok. Aku, Suga hyung, dan Jin hyung yang akan ke rumah Jungkook untuk membicarakan hal itu dengan appa nya Jungkook. Sementara yang sisanya,", dia menatap Jimin, V, dan Hoseok "akan tinggal di sini untuk memikirkan koreografi baru. V, kau harus tinggal di sini supaya kau tidak terlihat mendukung Jungkook. Biar bagaimanapun kau tengah menumpang bersama mereka. Kalau kau terlihat mendukung Jungkook, aku khawatir kau akan diusir dari rumah itu. Arra?", ucap Namjoon yang dijawab anggukan oleh V. "Baik, jadi semua sudah mengerti?", tanya Namjoon yang dijawab anggukan oleh yang lain. Dan pertemuan pun bubar, karena mereka semua setuju kalau mereka lapar. Tapi tidak dengan V, dia harus menemui Jungkook.
"Jungkook-ah!"
V menemukan Jungkook yang duduk di kursinya dengan menyandarkan kepalanya ke mejanya. Bahkan anak itu terlihat lebih menyedihkan daripada yang sebelumnya. Bahunya berguncang menahan tangis, sementara teman – temannya mengerubunginya. V segera menghampiri Jungkook dan kerumunan itu dan berkata "Permisi, boleh aku bicara sebentar dengan Jungkook? Berdua saja?", tanya V pada teman – teman Jungkook. "N..ne sunbae.", ucap salah satu teman yeoja Jungkook. "Jungkook-ah, kajja ikut aku!", ajak V sambil menarik tangan Jungkook untuk bangkit dari kursinya dan berjalan menuju atap sekolah.
"Apa yang ingin hyung bicarakan? Kenapa harus di sini?", tanya Jungkook. V berdehem sebelum berbicara, "Semua hyungmu sudah mengetahui apa yang telah terjadi padamu, Jungkook-ah.", ucap V. "Jinjja? Lalu?", tanya Jungkook. "Namjoon, Suga hyung, dan Jin hyung ingin ikut pulang bersamamu. Mereka ingin berbicara dengan paman Jeon.", ucap V. Mata Jungkook terbelalak kaget. "J..ja..jangan hyung. Nan..nanti appa ma..marah..", ucap Jungkook takut. "Tak perlu takut begitu, Jungkook-ah. Dari dulu Namjoon, Suga hyung dan Jin hyung ahli dalam hal memperdebatkan sesuatu. Mereka pasti dapat membujuk appamu.", ucap V disertai dengan tepukan pelan pada bahu Jungkook. "Go…gomawo hyung. Lalu, hyung sendiri akan kemana?", tanya Jungkook. "Aku akan bersama Jimin dan Hoseok untuk membuat koreografi baru, untuk persiapan. Tadinya aku ingin ikut mereka bertiga, tapi Namjoon melarangku.", ucap V. "Ahh, begitu. Eum, hyung sepertinya kita harus masuk. Bel sudah berbunyi dan hyung ada pengambilan nilai dari Jung seosaengnim kan?", tanya Jungkook. Dan karena sepotong kalimat tanya itulah V mendadak panic dan berlari meninggalkan Jungkook begitu saja. Jungkook hanya tertawa memandangi kepergian V yang 'ajaib' itu.
'Gomawo hyungdeul, kalian memang sahabat yang sangat baik….'
Kini, Jungkook sedang berada di rumah. Dirinya diliputi perasaan khawatir sejak bel pulang sekolah karena Namjoon, Suga, dan Jin akan menemui appanya untuk berbicara dengannya. Jungkook takut kalau kehadiran mereka bertiga justru akan membuat appanya semakin menjauhkan dirinya dan impiannya menjadi seorang dancer. Di sisi lain, dia justru sangat berharap pada 3 hyungnya itu agar appanya mau menarik lagi kata – katanya.
Dan di sinilah dia sekarang, di lantai 2 menguping pembicaraan mereka. Dia bersembunyi di balik tembok, memastikan dirinya tidak terlihat oleh mereka. Karena sebelumnya appanya sudah menyuruhnya untuk berada di kamar dan tidak boleh keluar. Namun, dia tidak bisa mencegah dirinya dari rasa penasaran. Dia sangat ingin tahu jawaban yang keluar dari appanya sesegera mungkin.
"JUNGKOOK!" DEG!
Appanya memanggil Jungkook dengan suara yang keras. Jungkook segera keluar dari tempat persembunyiannya dan melangkah dengan takut – takut. 'Apa appa tidak akan mengizinkanku? Apa dia akan memindahkanku dari SOPA? Atau, apa dia melihat aku menguping pembicaraan mereka? Andwae!' pikiran – pikiran aneh terus berkecamuk dalam benak Jungkook. Setiap langkah kakinya membuat dirinya semakin pasrah akan kenyataan yang akan dia terima hanya dalam beberapa hitungan langkah lagi.
"Duduk!", perintah appanya yang dituruti oleh Jungkook dengan takut – takut. Appanya mendesah nafas dan menatap Jungkook tajam, sebelum berkata, "3 orang ini berusaha membujuk appa untuk mengizinkanmu mengikuti perlombaan itu. Ini kemauan mereka atau kemauan kamu?", tanya appanya dengan nada menyelidik. 'Pertanyaan macam apa ini?' batin Jungkook. Dia tidak berani memandang Namjoon, Suga, maupun Jin sekarang ini. Mereka juga pasti terkejut dengan pertanyaan yang tak diharapkan kehadirannya itu, diungkapkan oleh appanya Jungkook. 'Aah eoteokkhae?' batin Jungkook panik. Dan setelah menghela nafas cukup panjang, Jungkook berkata, "Ini kemauanku sendiri, appa. Aku yang meminta mereka untuk membujuk appa.". Kalimat itu sukses membuat Namjoon, Suga, dan Jin menolehkan kepala mereka ke Jungkook. Karena Jungkook berbohong. Bahkan dia tidak tahu sama sekali kalau mereka akan menemui appanya sampai V memberitahunya.
'Mian hyung. Aku tidak ingin membuat kalian semakin terlibat masalah.' Batin Jungkook.
"Dan apakah menurutmu, dengan kau meminta mereka untuk membujukku, maka aku akan berubah pikiran?", tanya Appa. Jungkook tidak menjawab pertanyaan yang satu ini. Dia sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk. Dia siap bahkan jika appa ingin memindahkan dia dari SOPA. Sementara appa menatap anaknya dengan tatapan tajam yang sulit diartikan oleh siapapun. Jungkook tak berani menatap siapapun. Namjoon, Suga, dan Jin hanya berani menatap Jungkook dengan cemas. Tak ada yang bersuara di ruangan itu sampai….
"Baiklah kalau begitu, appa akan mengizinkanmu.", ucap appa. Kalimat itu sontak membuat Jungkook terperangah kaget, sementara Namjoon, Jin, dan Suga tersenyum senang. "A..appa serius?", tanya Jungkook. Perasaannya tidak karuan saat ini. Dia tahu appanya adalah orang yang sulit. Perasaan bercampur antara senang, lega, dan sedikit takut. "Ne, tapi ada satu syarat.", ucap Appanya. Rasa senang dan lega yang perlahan menyelimuti Jungkook sedikit berkurang. "Apa syarat itu, Appa?", tanya Jungkook. Appa berbicara kepada mereka berempat, "Kalian harus memenangkan perlombaan itu. Harus juara satu. Kalau tidak, Jungkook akan aku pindahkan dari SOPA.", ucap appa tegas. Mereka berempat mengangguk mantap. Sejujurnya, Jungkook agak sedikit ragu pada syarat yang diajukan appa. Namun, ini kesempatan emas yang tidak boleh dia sia – siakan. Dia ingin membuktikan pada appanya kalau dia bisa melakukan sesuatu. Tidak ada waktu baginya untuk menghiraukan keraguannya.
Perlahan, mata Jungkook memancarkan cahaya semangat setelah sekian lama terlihat kekosongan. Kesempatan untuk membuktikan dirinya pada dunia terbuka lebar.
Keesokan harinya, latihan mulai dilaksanakan secara intensif yaitu setiap hari, karena waktu yang mereka miliki tinggal tiga bulan lagi. Tidak ada waktu untuk bersantai, terutama bagi Jungkook karena dia perlu mengimbangi hyung – hyung nya yang sudah terlihat sangat ahli bagi Jungkook. Sementara bagi yang lain, Jungkook adalah anak yang hebat karena mampu mempelajari gerakan dance dengan sangat cepat.
Keseriusan mereka mulai terlihat. Ambisi mereka untuk memenangkan pertandingan itu sangat besar. Setiap hari, mereka selalu pulang jam 10 malam. Namun, mereka tidak melupakan bahwa mereka adalah team yang harus menjaga kekompakkan satu sama lain. Lelah yang mereka rasakan hilang ketika tawa hadir di antara mereka. Dan V, Jimin, dan Hoseok memegang peranan penting untuk menghadirkan kebahagiaan itu.
Di antara mereka semua, tampak 2 orang yang menjadi sangat serius ketika berlatih. 2 orang itu adalah Jimin dan Jungkook. Jimin bertindak sebagai pelatih sekaligus pemain andalan mereka. Dia bisa menjadi sangat serius ketika berlatih dan memberi arahan. Dia tidak segan – segan untuk menegur mereka, bahkan pada dua orang yang paling tua dan juga leader mereka. Tidak ada yang sakit hati di sini, karena mereka memiliki kesadaran pada diri masing – masing. Dan tanpa sepengetahuan yang lain, Jimin sering tidur jam 2 atau 3 dini hari, hanya untuk membuat gerakan baru untuk mereka semua.
Pernah suatu hari, appa Jimin menemukan anaknya tertidur pulas di ruangan yang biasa beliau gunakan untuk melatih taekwondo. Dia paham betul sifat Jimin yang pekerja keras karena dia juga memiliki sifat yang sama. Dia tidak melarang Jimin sama sekali untuk bekerja sekeras yang dia bisa, karena itulah satu – satunya cara untuk membentuk karakternya. Dia merasa bangga akan anaknya itu. Lalu, dia menghampiri tubuh Jimin dan mengangkatnya menuju kamar Jimin, dan menaruh tubuh Jimin di tempat tidurnya. Tak lupa, dia menyelimuti tubuh Jimin. 'Bekerjalah sekeras yang kamu bisa, Nak. Appa dan eomma akan mendukungmu dan turut menjagamu.'
Dan Jungkook, dia sangat bekerja keras untuk mengimbangi hyungdeul nya. Dia masih merasa banyak kekurangan yang harus dia perbaiki. Dia menyadari itu karena dirinya lah yang paling banyak mendapat teguran dari Jimin. Dan Jungkook berusaha keras untuk memperbaiki itu semua. Terkadang V menemaninya berlatih dan membantunya untuk menguasai beberapa gerakan. Dan karena hal itu, appa Jungkook sering memergoki anaknya berlatih di taman belakang rumahnya sampai larut. 'Aku belum pernah melihatnya memiliki semangat seperti itu.' batin appa. Dalam hatinya, dia bangga karena anaknya telah berhasil merubah dirinya, dan sepertinya, mengerti tujuan hidupnya.
"Jungkook-ah! Taehyung-ah! Beristirahatlah sebentar."
Jungkook dan V berhenti dan mendapati appa Jungkook sedang tersenyum ke arah mereka dengan membawa nampan yang terdapat tiga gelas cangkir yang dapat Jungkook dan V lihat isinya mengepul. "Duduk dan beristirahatlah sebentar.", ucap Appa. Dan Jungkook danV menuruti apa yang appanya katakan. Rasanya dia tidak akan dimarahi karena melakukan apa yang menurut appanya 'tidak berguna' itu. Appa menghampiri Jungkook dan V dan duduk di antara mereka. "Ini, appa siapkan cokelat panas untuk kalian. Minumlah.", ujar appa. Jungkook dan V menerima cangkir itu. V mengatakan, "Kamsahamnida, ahjussi. Kenapa ahjussi belum tidur? Ini sudah larut malam.", tanya V. "Kenapa kalian belum tidur? Ini sudah larut malam.", tanya Jeon ahjussi balik. Jungkook melihat appanya sekilas. Tidak ada wajah yang menyiratkan amarah. Justru, otot bibir appanya tertarik sehingga membuatnya tersenyum. Seumur – umur, Jungkook belum pernah melihat ekspresi itu pada wajah appanya.
"Kami… kami sedang berlatih. Kami ingin memenangkan pertandingan itu.", jawab Jungkook. "Kamu ingin memenangkan pertandingan itu karena takut pada ancaman appa? Atau karena percaya pada kekuatan yang kamu punya?", tanya appa. Dan V cukup tahu diri. Ini adalah pembicaraan antara appa dan anak. "Ahjussi, Jungkook-ah. Aku masuk ke dalam dulu ya. Aku belum membereskan buku untuk besok.", kata V yang dijawab anggukan oleh Jeon ahjusshi. V pun berlalu pergi meninggalkan mereka. Jungkook terdiam sesaat untuk pertanyaan dari appanya itu. 'Apa penyebab aku ingin memenangkan pertandingan itu?' Jungkook bimbang. "Sepertinya, aku ingin memenangkan pertandingan itu karena takut pada appa. Aku takut, appa akan memindahkanku dari SOPA dan tidak mengizinkanku bergabung di club dance lagi.", jawab Jungkook pelan. "Kalau begitu, apa yang kamu lakukan salah, Jungkook-ah. Kamu melakukan sesuatu yang tidak berasal dari hatimu.", ucap appa. Jungkook kaget dengan ucapan appa barusan, namun dia lebih memilih untuk diam. "Appa memberikan ancaman begitu padamu, hanya karena appa ingin melihat kesungguhanmu. Appa ingin melihat kau serius untuk menentang appa, dan mengikuti kata hatimu. Appa sudah melihat itu semua. Sekarang, appa akan membiarkanmu memilih jalan hidupmu. Appa yakin kamu sudah dewasa, mampu memilih yang baik dan buruk.", ucap Appa.
"A..appa…" Jungkook terbata – bata. Dia tidak percaya akan apa yang telah diucapkan appanya barusan. "Dulu, appa juga memiliki sepertimu. Memiliki perusahaan sendiri, hidup bahagia dan mapan bersama keluarga yang appa cintai. Pada saat itu, appa mengikuti kata hati appa untuk sekolah bisnis, meskipun mendapat tentangan dari kakek yang lebih suka appa sekolah kedokteran. Tapi, lihatlah appa sekarang.", ucap appa. "Ikuti kata hatimu, Jungkook-ah. Tapi, jangan jadi seperti appa. Appa adalah pemimpin keluarga yang buruk. Mianhae.", ucap appa. "Appa sadar, appa lebih mementingkan bisnis keluarga daripada keluarga appa sendiri. Appa tahu dari teman – temanmu yang kemarin datang ke sini kalau kamu kesepian. Itulah kenapa appa mengizinkanmu untuk mengejar mimpimu. Appa sudah menjadi orang tua yang buruk, dan tidak ingin menjadi lebih buruk lagi karena berusaha menahan mimpi – mimpimu.", ucap appa.
Inilah yang selalu Jungkook harapkan. Jungkook menaruh harap, setidaknya sedikit saja, appa atau eomma menunjukkan perhatian padanya. Hanya sedikit, Jungkook tidak meminta lebih. Dan sekarang, malam ini, di taman belakang ini, yang ditemani dengan 2 cangkir cokelat panas yang menghangatkan telapak tangan mereka, appa menunjukkan itu semua. Appa telah menunjukkan bahwa dia masih memiliki cinta dan kasih sayang untuk Jungkook, anaknya.
Dan tangan Jungkook tergerak untuk memeluk appanya. "Gomawo, appa.", bisik Jungkook dari ceruk leher appanya. Appa mendengar itu semua, dan menyunggingkan senyum di wajahnya.
Dan V melihat itu semua. Dia ikut merasakan kebahagiaan yang Jungkook rasakan. Dia ingat dia pernah merasakan itu semua sebelum kecelakaan merenggut nyawa kedua orang tuanya. Dan V kini merasakan kebahagiaan yang sama, walaupun hanya dengan melihatnya.
'Aku turut berbahagia untukmu, Jungkook-ah…'
Entah kenapa kepala Jimin terasa pening sekali. Mungkin ini disebabkan karena dirinya yang terlalu memaksa diri sehingga lupa untuk menjaga kesehatannya. Dia merutuki kebodohannya karena salah dia sendiri dia bisa sampai sakit seperti ini. "Jimin-ah, kamu kenapa? Gwaenchana?", tanya V yang duduk di sebelah Jimin. Sedari tadi dia melihat Jimin tidak fokus pada dan hanya memegangi kepalanya saja. "Gwaenchana, Taehyung-ah. Hanya sedikit pusing.", jawab Jimin. 'Jelas terlihat pusingnya sama sekali tidak sedikit.' batin V. "Ayo kita ke UKS.", dan tanpa banyak bicara, V menarik lengan Jimin dan meminta izin pada Lee seosaengnim untuk mengantar Jimin ke UKS.
"Kau tidak perlu khawatir seperti ini, V. Aku hanya pusing sedikit.", kata Jimin. "Tidak, jelas pusingmu tidaklah sedikit, Jimin-ah. Istirahatlah. Aku akan ada di sisi tempat tidurmu kalau kau membutuhkanku.", kata V. Itulah seorang Kim Taehyung, dibalik sifatnya yang terkadang abstrak, dia adalah orang yang sangat peduli kepada sahabat – sahabatnya. Jika terjadi sesuatu pada salah satu sahabatnya, dia lah orang yang pertama yang akan mengambil tindakan. Jimin bersyukur sekali memiliki sahabat seperti V.
"Kenapa matamu masih terbuka? Sudah kubilang tidurlah!", seru V. Jimin hanya tertawa. "Hahaha, arraseo. Aku akan tidur sekarang. Kau juga tidurlah. Kau tahu, lingkaran hitam di bawah matamu membuatmu terlihat jelek, Taehyung-ah.", ucap Jimin. "Ya! Kau pikir kau tidak memiliki lingkaran hitam di bawah matamu? Sudah tidur dan jangan banyak bicara. Aku akan tidur kalau kau tidur.", balas V. Kalau sudah begitu, Jimin tidak punya pilihan lain selain tidur. Dia tidak bisa membohongi dirinya kalau dia sendiri juga sangat mengantuk.
'Mungkin dengan tidur pusingnya akan hilang.'
Namun, dia salah. Dia terbangun ketika bel pulang berbunyi dan mendapati pusing semakin parah melanda kepalanya. 'Ah, aku tidak boleh sakit seperti ini!'. Jimin mendapati V yang tertidur di samping tempat tidurnya. "Taehyung-ah! Taehyung-ah!", panggil Jimin. Dan tidak seperti biasanya, V langsung terbangun dari tidurnya. "Waeyo, Jimin-ah? Apa pusingmu semakin parah?", tanya V khawatir. Jimin menggeleng. "Tidak, aku sudah membaik. Kajja! Kita latihan. Bel pulang sudah berbunyi dan yang lain pasti sudah menunggu.", ucap Jimin. 'Mianhae, Taehyung-ah. Aku terpaksa berbohong padamu.' batin Jimin. Namun V tidak langsung percaya. "Benar kau baik – baik saja?", tanya V dengan nada dan pandangan menyelidik. Jimin langsung memasang ekspresi "aku-baik-baik-saja" dan menganggukan kepalanya. "Kajja!", ajak Jimin. Lalu dia bangkit dan berusaha membuat langkahnya tidak sempoyongan meskipun ketika berdiri dia merasa ada beban sangat berat yang menimpa kepalanya.
'Tidak boleh sakit. Demi mereka.'
Jimin menutupi rasa sakitnya dengan baik. Tidak ada yang menyadari bahwa Jimin sakit cukup parah. Pusing yang melanda Jimin tidak kunjung sembuh, justru semakin parah. Jimin berusaha menahan sakit itu karena dia tidak ingin membuat sahabat – sahabatnya khawatir dan latihan ini jadi berhenti. Dia harus menjadi pelatih dan pemain yang baik agar tidak mengecewakan sahabat – sahabatnya.
Dan sampailah pada gerakan yang Jimin takutkan, dimana dia harus melakukan salto (bayangin Jimin salto di akhir lagu N.O). Pada percobaan salto yang pertama, dia berhasil. Pada latihan salto yang kedua, dia juga berhasil walaupun langkah kakinya sedikit limbung. 'Aku pasti bisa! Aku pasti bisa!'. Padas alto yang ketiga, dia masih berhasil. Ketika akan melakukan salto yang keempat, pandangannya tiba – tiba kabur. Pusing yang menderanya semakin hebat. Cahaya yang ditangkap matanya hanyalah berupa bayang – bayang. 'Jangan pingsan!' batin Jimin. Lalu pada salto yang keempat….
BRUKK! KRAK! "AARRGHH!"
…. pendaratannya tidak mulus sehingga menyebabkan tulang pada pergelangan kaki kanannya patah. Semua member melihat itu. Hoseok langsung berlari keluar untuk mencari bantuan sementara Jungkook menelepon ambulan. Sementara keempat member yang lain duduk di sekeliling Jimin. Tampak Jimin yang sangat kesakitan. Mereka belum pernah melihat Jimin terlihat kesakitan sampai seperti itu.
"Jimin-ah!"
"Jimin, bertahanlah! Bantuan akan segera datang!"
"Kau bilang kau sudah tidak sakit, Jimin-ah! Kamu tidak usah memaksakan diri!"
Sementara itu, leader Namjoon hanya diam karena shock. Dia shock melihat kondisi sahabatnya yang, bisa dibilang, cukup mengenaskan. Tulang kaki kanan yang patah menandakan dia harus dirawat di rumah sakit untuk waktu yang lama. Itu berarti, waktu mereka untuk berkumpul bersama akan berkurang.
Sementara Jimin, dia tidak tahan pada sakit yang mendera kaki dan kepalanya. Dan hal terakhir yang dia lihat adalah Hoseok datang bersama beberapa orang sebelum dia merasa kepalanya pening sekali dan memejamkan matanya karena pingsan.
Mereka berlima menunggu dengan harap cemas di lorong rumah sakit itu. 15 menit yang lalu, Park Jimin diangkut oleh ambulan. Sekarang, dia sedang berada di ruang rontgen untuk mengetahui apa yang terjadi di kakinya. Sementara Namjoon dan orang tua Jimin menunggu di dalam ruangan rontgen.
Hasil rontgen itu langsung keluar. Terlihat sang dokter mengecek hasil rontgen itu dengan dahi berkerut. "Tuan, Nyonya. Tulang kaki kanan anak Anda mengalami patah. Untuk sementara, dia harus di opname untuk pemulihan kondisi tulangnya agar bersatu kembali.", ujar Dokter Kim. "Patah, dok? Kenapa bisa?", tanya Tuan Park kaget, sementara mata Nyonya Park mulai berkaca – kaca. Sementara Namjoon, dia hanya berdiri diam bersandar pada tembok belakang mereka dalam diam, entah apa yang ada di pikirannya. "Anak anda sepertinya mengalami cidera. Sepertinya dia melakukan gerakan berbahaya.", ujar dokter. Sepertinya Namjoon sangat terpukul. Sahabatnya telah berkorban banyak untuk mereka.
-TBC-
Annyeong! Author kembali hehehe^^
Bagaimana? Do you enjoy the story, chingu? I guess no Mian ne kalau nasib Jungkook dan Jimin tragis Karena sesuai dari arti lagu Divine itu sendiri, mereka telah melalui banyak cobaan bersama – sama dan akhirnya mereka menjadi hebat. Lalu, apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya, chingu-deul^^
Last, mind to RnR? :D
