FIRST WARNING :

Ini adalah chapter penjelasan. Vhy harap bacanya jangan terburu –buru. Santai saja. Karena, chap ini adalah permulaan dari semuanya. Okay?

.

Summary :

"... Mata hitamku akan berubah menjadi merah terang setiap kali aku marah. Kau senang sekarang? Makin menikmati santapanmu?"/ "...kau membunuh mereka hanya dengan bermodal sebilah belati dan belahan dadamu?..."

.

SECOND WARNING :

CHAPTER INI ADALAH FULL CONVERSATION. Alurnya akan SANGAT LAMBAT. Jadi, sabar ya...

.

HALFWAY to the GRAVE

by : Vhy*mirror

.

Cast : Jung Yunho + Kim Jaejoong, and another cast

Disclaimer : ALL OF THE PLOT IS MINE + REAL WRITER (JEANIENE FROST)!

.

THIRTH WARNING : GS, Typos, general LIFE –not as DBSK member- ^_^

.

.

NOTE :

ALL POV is KIM JAE JOONG!

.

NOTE ++ :

Bagian PERCAAPAN NAMJA MATA MUSANG = BOLD

.

^!HAPPY READING!^

.

.


Ada sesuatu yang tak beres dengan diriku. Aku yakin itu.

Karenanya aku membuka mataku perlahan untuk memastikan.

Ada cahaya yang sedikit menyilaukanku. Lampu redup tak jauh dari tempat aku berbaring.

Tanganku berada di atasku. Tak bisa digerakkan. Ada yang menahannya, borgol mungkin?

Yang kutau benda itu membuat pergelangan tanganku sakit.

Dan kepalaku langsung kutolehkan ke samping ketika mualku tiba- tiba datang.

"aku lihat...aku lihat Boo~~" Terdengar suara layaknya anak kecil yang mengejekku. Cih!

"aku menangkap...aku menangkap Boo~~~" Ucapnya kini terdengar mendekat. Tapi aku belum melihat sosoknya. Masih bisa kupastikan dia berada di sekitar kananku.

Setelah menirukan gaya tweety itu, dia menyeringai.

Menampakkan dirinya yang asli. Seorang namja tegap dengan kulit pucat, dagu tegas dan mata musang berwarna coklat, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke training hitam yang sangat mencolok di tubuhnya.

Aku mencoba untuk bangun, tapi aku menyadari tanganku terikat. Aku mengedarkan pandanganku. Lembab, remang. Tempat apa ini?

Aku mengalihkan pandanganku lagi. OH! Ternyata aku terikat dengan sebuah rantai yang tertanam di dinding. Bahkan kakiku juga bernasip sama.

Tanktop dan hotpansku telah tanggal.

Sarung tangan yang menjadi ciri khasku juga tak berada di tempatnya. Menyisakan bra dan celana dalam berwana merah agak gelap yang kebetulan kupakai.

"KITA LIHAT APA YANG KAU PUNYA" Ucapnya membuka perbincangan, sambil menjilat bibirnya saat pandangannya berada di belahan dadaku.

"Sekarang, kembali ke urusan bisnis, Boo~~" suara huskynya berubah serius dan dalam. Ia menyorot langsung ke mataku. Tak ada keraguan sedikitpun di dalam tatapannya. Oh..Tuhan...haruskah aku marah padamu karena dia terlalu tampan ? aku ingin membunuhnya!

"Untuk siapa kau bekerja." Dia bicara lagi. Nada yang kudengar datar. Ia telah duduk di samping ranjangku dan mengalihkan pandangannya pada dinding yang tersambung dengan rantai di tanganku.

"Aku tak bekerja untuk siapapun." Bahkan aku tak tau apa yang kau bicarakan.

"Omong kosong." Tatapan namja itu menajam. Sangat berkesan bahwa ia tak mempercayaiku.

"Untuk siapa kau bekerja." Dia mengulang pertanyaannya. Kali ini dia menatap belahan dadaku (lagi). Apa dia mulai tergoda?

"Tidak untuk siapapun." Aku menjawab lebih santai. Sepertinya namja ini terlalu sayang untuk tidak melepaskanku dari rantai –rantai ini dan menjamahku dengan puas.

PLAAK!

Aku merasakan tamparan keras. Dia menampar pipi kiriku, membuat sedikit rasa anyir di sudut bibirku. Sial! Aku salah lagi menebaknya. Kukira dia tergoda dengan tubuhku.

"Sekali lagi. Untuk siapa kau bekerja." Nadanya merendah, seraya mengclose up wajahku.

CUIH!

"Sekali lagi. Aku tak bekerja untuk siapapun, BAJINGAN!" Kuludahi wajahnya. Bisa –bisanya dia menampar yeoja. Apa eommanya tak mengajarkan sopan santun sama sekali, eoh?

Namja tegap itu terdiam. Terkejut mungkin? Tapi dia tertawa keras setelahnya.

Setelah puas tertawa ia mendekatkan wajahnya lagi padaku. Taring namja itu muncul, dan sedkit berkilau karena diterpa lampu ruangan pengap ini.

"Aku tau kau bohong." Namja itu berdesis. Mencoba memberiku peringatan untuk menjawab seperti yang ia inginkan.

Slrruup~~~

Dia menjilat leherku. Aku merasakan taringnya bergesekan dengan kulit leherku. Tubuhku berubah kaku. Kumohon...Selamatkan aku Tuhan...

"Aku tau kau berbohong" Ucapnya lagi, sedikit mendesah di daun telingaku. Nafasnya terasa sangat dingin, membuatku bergidik.

"Kemarin malam aku sedang mencari seorang namja di Club..." Jangan bilang dia akan mendongeng tentang NAMJACHINGU-nya! Pikiran itu terlontar begitu saja.

"Aku menemukannya. Tapi dia keluar club dengan menggandeng seorang yeoja." TUH! kan! apa kubilang?

"Aku mengikutinya yang masuk ke dalam mobil bersama yeoja berambut merah itu." Oh! Ayolah~~ Apa inti dari kisah cintamu? Kau menamparnya karena berselingkuh? Atau kau berlari seperi bayi kecil dan menangis seharian, eoh?

"Aku pikir, aku bisa menghabisinya saat perhatiannya teralihkan olehmu. Tapi..."

Aku?

*LOADING PLEASEEEEEEE!*

OMO! Ternyata pria yang dimaksud adalah KRIS! Dan apa dia bilang tadi? Menghabisinya?

"Aku justru melihatmu menghujam jantungnya dengan sebilang salib kayu dengan brutal. Dan ini memanglah salib yang mengagumkan." Ia mengakhiri ceritanya, seraya mengambil salib kayu milikku dari saku trainingnya.

Apa? Jadi yang kubunuh adalah kekasihnya?

"Bagian luar terbuat dari kayu. Bagian dalam terbuat dari perak. Dibuat di JERMAN. Lebih tepatnya di Koblenz." Dia mengayunkan salib itu tepat di depan wajahku.

"Kau tak berhenti setelah menghancurkan jantungnya...

...Kau melemparnya ke jok belakang, setelah kau memotongnya menjadi beberapa bagian...

...Kau pulang, dan menguburkan tiap bagian secara terpisah di halaman belakang rumahmu yang sangat luas itu."

'Jadi ini bukan soal cinta, ya? Tapi tentang aku?' Hampir saja aku bertanya seperti itu padanya.

"Bagaimana mungkin kau bisa melakukannya, heum~?" Ia mendekat. Dan aku baru menyadari jika matanya juga berubah seiring dengan tumbuhnya taring itu. Matanya merah terang. Seperti bulan bersinar, hanya saja warnanya merah.

"Kau tidak bekerja untuk siapapun? Kalau begitu kenapa aku mencium aroma yang berbeda di sini." Dia menggesekkan hidungnya pada perpotongan leher dan bahuku lalu menyesapnya dalam.

" aroma yang bukan berasal dari manusia...

...Samar –samar tapi pasti. Vampir. Aku yakin kau punya bos, dan dia memberimu makan dengan darahnya. Iya, kan?...

...Membuatmu lebih cepat dan kuat, tapi tetap menjadi manusia. Vampir yang malang pasti tak pernah menyangkanya...

...Yang mereka lihat hanyalah...(namja itu melirik tajam leherku) Makanan."

Sekejap taring namja itu berpindah menekan nadi leherku. Siap untuk menyantap makanan. Aku!

"Nah..untuk terakhir kalinya, Boo~. Sebelum aku kehabisan kesabaran. Untuk siapa kau bekerja."

Aku hanya menatapnya yang berada di samping tubuhku dan taringnya siap mencabikku.

Sepertinya...Wajah ini yang bisa kulihat sebelum aku mati. tidak ada keluhan. Mungkin dunia akan lebih baik setelah aku membunuh beberapa dari mereka.

"Aku tak punya bos." Aku membuka penjelasanku. Tak ada salahnya aku membuka semuanya sebelum dia habis menghisap darahku. Toh...tak akan berbeda jauh.

"Kau ingin tau mengapa aku beraroma seperti manusia dan vampir? Karena itulah aku...

...Bertahun- tahun yang lalu eommaku berkencan dengan seseorang yang ia pikir baik. Ternyata pria itu adalah vampir, dan memperkosa eommaku...

...Lima bulan kemudian, aku lahir premature tapi pertumbuhan organku sempurna. Aku tumbuh tak seperti anak lain...

...Dan akhirnya eomma menjelaskan semuanya. Dan dia memintaku satu hal. Membunuh semua vampir yang kutemui, untuk mencegah hal yang sama terjadi orang lain...

...Sejak saat itu eomma tak pernah keluar rumah. Aku yang berburu vampir...

...Dan satu –satunya hal yang membuatku menyesal jika aku mati sekarang adalah...

...aku tidak membawamu mati bersamamku." Suaraku meninggi. Rasa sakit karena tekanan rantai di tangan dan kakiku kuabaikan. Bahkan posisiku yang terlentang dan hanya memakai bra dan celana dalampun aku tak peduli.

" sekarang apa? Bunuh saja aku." Ada suara keputusasaan di dalamnya. Aku akan benar –benar berakhir di sini.

Sebelum aku bisa mengedipkan mata, mulut namja itu telah menekan nadi di leherku. Segala sesuatu di tubuhku membeku merasakan taringnya yang tajam.

Tolong..Jangan membuatku memohon. Tolong...Jangan membuatku memohon...

Tiba –Tiba namja itu kembali menegakkan tubuhnya. Kedua tangannya ia masukkan ke saku berikut salibku.

" kau sangat ingin mati, ya? Tapi itu tak akan pernah terjadi sebelum kau menjawab beberapa pertanyaanku."

Jangan mulai lagi!

Tanganku mulai pegal, begitu pula dengan pantat dan kakiku yang dipaksa melebar di kedua ujung bed oleh rantai.

"Apa yang ingin kau ketahui? Mungkin aku bisa mengatakannya padamu." Aku menyeringai. Sedikit curiga padanya.

Mungkin saja dia sedang bernegoisasi dengan nafsunya untuk membunuh atau nafsunya untuk menikmati tubuhku.

Buktinya dari tadi dia hanya menggertak untuk membunuhku. Hehe~~

" Baiklah kalau begitu...

... Anggaplah aku percaya kau adalah anak dari manusia dan vampir. Meski aku belum pernah mendengar kasus ini, kita akan coba membahasnya...

...Anggaplah aku percaya kau menjelajah club untuk memburu vampir demi eommamu. Pertanyaannya adalah. Bagaimana kau bisa tau siapa yang harus kau bunuh. Dan benda apa yang harus kau gunakan...

... Apa kau pernah berhubungan dengan vampir sebelumnya kecuali untuk membunuh mereka?"

Ditengah kekacauan diriku dan kenyataan bahwa nyawaku bisa melayang begitu saja dalam hitungan detik, aku bertanya padanya..

" apa di sini ada sesuatu yang dapat diminum?..

...Maksudku bukan sesuatu yang kental atau yang bisa digolongkan menjadi B-positif atau O-negatif, heum?"

Dia menggerutu. Tapi tetap melangkah menuju bilik lain, dan langsung kembai dengan sebotol bir.

" haus, Boo~. Begitu pula denganku." Dia mengancam, sambil menempelkan bibir botol itu ke mulutku.

Aku tak bisa menggunakan tanganku. Karenanya aku menggigit botol itu dan menenggaknya, dia tak mau memegangkannya untukku.

Ternyata isinya wiski. Dan tenggorokanku terasa terbakar saat cairan itu mluncur turun.

Aku tetap menelannya samapi tetes terahir. Lalu menjatuhkan botol kosong itu begitu saja.

"Jika aku tau hau sehaus itu, aku akan mengambilkanmu minuman yang lebih murah." Dia mengejek. Sial. Bahkan tubuhnya yang atletis dan sempurna itu tertutupi seringai menyeramkannya.

"Apa masalahnya? Apa wiski akan merusak darahku? BAGUS kalau begitu! Aku harap kau tersedak darahku, BRENGSEK!" Suaraku meninggi lama –lama aku tak bisa mnegontrol diriku sendiri jika begini.

"Kata –kata yang bagus, Boo~. Tapi cukup ngelanturnya dan jawab pertanyaanku."

"Aku membaca banyak buku tentang kaumku..kaummu...

...Di dalamnya ada banyak cara untuk membunuh vampir. Mulai dari menggunakan sinar matahari, salib, pasak kayu, dan perak...

...Suatu hari ada seorang vampir menghampiriku di club. Dia bersikap baik, dan mengajakku pergi. Sampai saat dia akan membunuhku...

...Aku bertekad pada diriku aku akan membunuhnya. Jadi aku mengeluarkan salibku..(aku melirik mata musang namja itu. Kini warnanya kembali coklat terang.)...dia tertawa...

...Tapi aku mengambil sebuah belati perak untuk tangan sebelahnya, saat perhatiannya teralih oleh salibku. Aku mendorongnya dan menusukkannya tepat ke jantung berkali –kali...

...Dan itulah korban pertamaku. Hwang Zi Tao...

...Setelahnya aku berpikir, aku menemukan satu hal. Mereka tak takut salib ataupun kayu. Perak. Kalian bisa mati dengan perak...

...Lalu aku berpikir keras, bagaimana caranya agar aku bisa menyamarkan perak itu. Dan akhirnya aku meminta seorang temanku di Koblenz, Jerman. Dia pengrajin perak...

...Dan aku mengatakan bahwa aku ingin souvenir berupa belati perak yang berbentuk salib." Aku memberi jeda. Kulihat dia benar –benar memperhatikan meski pandangannya tertuju pada meja nakas di samping bed yang kutiduri.

"Tunggu! Jadi kau bilang buku yang memberitahu semua yang kau lakukan?" Dia bertanya padaku. Sepetinya dia mulai tak mempercayaiku lagi. Sudahlah, aku hanya mengangguk.

"Astaga~~. Untung saja generasi manusia sebelumnya hampir semua buta huruf. Jika tidak kami akan menghadapi masalah besar!...lanjutkan penjelasanmu." Dia menatapku serius.

"Aku tak begitu yakin bagaimana aku bisa membedakan kaummu dengan manusia. Tapi, kalian memiliki gesture tubuh yang berbeda...

...Tegap, memiliki gerakan tegas dan pasti. Kalian juga terlihat sangat mempesona. Kulit kalian terlalu pucat, Hampir transparan...

...Lalu aku bisa merasakan aura aneh jika kalian berada di sekitarku. Aura yang berbeda dengan manusia. Kau sudah cukup mendengar apa yang ingin kau dengar?"

"Hampir. Berapa banyak vampir yang sudah kau bunuh?"

"Sembilanbelas. Termasuk temanmu kemarin malam." Aku menjawab enteng. Tentu aku jujur.

"Sembilanbelas vampir? Dan kau membunuh mereka hanya dengan bermodal sebilah belati dan belahan dadamu?...

...Itu membuatku malu terhadap kaumku." Dia terkejut? Entahlah. Dia terlihat menggeleng –gelengkan kepalanya.

"Dan aku bisa saja menghabisi lebih banyak jika dulu aku tak terlalu kecil untuk masuk club, karena biasanya mereka akan banyak berkeliaran di sana...

...Belum lagi aku harus berhenti berburu ketika harabeoji sakit keras." Aku memaparkannya jelas. Aku tak ingin menutupi apapun sekarang. Kecuali tubuhku yang kini sudah hampir telanjang.

Dalam sekejap namja itu pergi.

Saat aku ditinggal sendirian aku mencoba mengedarkan pandanganku untuk memastikan keberadaanku.

Aku melihat beberapa stalakmid dan stalaktit.

Aku juga mendengar percikan air yang sangat pelan.

Suasana lembab dan remang.

Gua.

Aku berada di dalam gua.

Kukencangkan peganganku pada rantai, aku berharap bisa membuatnya terlepas dari dinding. Oh...Ayolah..Lepas...

"Oh, maaf soal itu...

...Rantai itu tak akan lepas...

...Rantai itu tidak akan kemana –mana. Begitu pula dengan dirimu, Boo~" Tiba –tiba di sudah berada di samping kiriku lagi. Cepat sekali, bahkan aku tak menyadarinya.

"Aku membencimu!" Agar tak terisak, aku memejamkan mata dan memalingkan wajahku ke samping.

Tuhan...Aku percaya padaMU, dan kebesaranMU...

"Waktu habis, Boo~"

Hanya padaMU aku berdo'a...

Mataku masih terpejam.

Aku merasakan ada pergerakan di bed. Lalu sebuah tangan membelai rambutku.

Jadikanlah bumi seperti di surga...

Mulut namja itu menyentuh leherku, dan lidahnya keluar untuk merasakan denyut nadiku.

BRUK..

Dia mendorongku ke belakang.

Aku merasakan dinding yang tak rata, dingin. Kemudian aku merasakan sepasang taring tepat berada di denyut nadiku.

"Kesempatan terakhir, Boo~...

...Untuk siapa kau bekerja? Katakan yang sebenarnya padaku dan aku akan membiarkanmu hidup."

"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya PADAMU!" Suara melengking itu, tak yakin aku memilikinya.

Aku merasakan darahku berdesir, dan telingaku berdengung. Apakah mataku terpejam? Tidak. Aku bisa melihat kilauan merah di tengah kegelapan. Mata vampir.

"Aku tidak percaya..." Kata –kata itu di ucapkannya dengan lembut, tapi efeknya setajam kapak.

Amiin...

Aku begitu larut dengan doa khusyukku, sehingga tak menyadari namja itu sudah berdiri agak jauh dari bed-ku. Matanya yang coklat terang tadi, berubah menjadi merah menyala.

"Lihat matamu itu!" Setengah berteriak dia menunjuk mataku. Aku merasakan biasan cahaya merah di wajahku. Bukan berasal dari dirinya.

Dia mencengkeram kepalaku seperti ingin memelintirnya.

"Tidak perlu melihat, aku sudah tau. Mata hitamku akan berubah menjadi merah terang setiap kali aku marah. Kau senang sekarang? Makin menikmati santapanmu?"

Seperti memegang benda panas, dia melepaskan kedua tangannya. Aku tersentak di rantaiku. Kepalaku terasa berputar.

Suara derapan langkah tak beraturan kudengar. Namja itu mondar –mandir seperti setrika, sambil menaruh satu jarinya di dagu. Aku tersenyum kecil.

"Astaga...kau memang mengatakan yang sebenarnya. Kau punya denyut nadi...

... Tapi hanya vampir yang memiliki mata merah terang seperti itu. Tidak bisa dipercaya!" Dia berhenti melangkah. Melihatku lagi, dengan tatapan 'wahh'.

Dia menutup mata merahnya sejenak. Lalu membukanya lagi, seiring dengan taringnya yang tumbuh.

"Senang melihatmu bersemangat!" aku melihatnya melalui mataku yang sedikit tertutupi oleh rambut sebahuku.

Dia menegang. Langkahnya sarat akan energi, warna matanya yang merah memudar, berganti coklat. Taringnya juga menyusut.

Dia duduk tenang, dan matanya lurus menatap mata merah terangku.

Dia menatap dalam.

Dalam sekali.

Dan akhirnya aku memutus pandangan itu sepihak, dan membuatnya tersenyum kecil.

"Bagaimana jika kita membuktikan perkataanmu?"

"Apa?" Aku lebih dari sekedar terkejut.

Sedetik yang lalu, aku berada di jurang kematian. Dan sekarang namja itu ingin bermain tebak –tebakan denganku.

"Aku bisa membunuhmu atau membiarkanmu tetap hidup...

...Tapi, jika kau ingin tetap hidup ada syarat yang harus kau penuhi...

...Pilihanmu, kau yang menentukan. Aku tak bisa melepaskanmu tanpa membuatmu berjanji terlebih dahulu, jika tidak...

...kau pasti akan mencoba menikamku."

"Cerdas sekali kau." Aku sedikit menggerutu. Sejujurnya aku tak begitu percaya jika dia akan melepaskanku.

"Kau lihat...

...kita berada di kapal yang sama, Boo~...

... Kau memburu vampir. Aku memburu vampir...

...Kita memiliki alasan sendiri, dan kita memiliki masalah masing –masing...

...Vampir yang lain akan merasakan kehadiranku jika aku berada di dekat mereka. Sehingga sulit bagiku untuk menikam mereka tanpa berharap mereka melawan atau lari. ..

...Sebaliknya. Kau bisa membuat mereka lengah dengan denyut nadimu yang menggiurkan. Tapi, kau tidak cukup kuat untuk menghadapi vampir kelas kakap...

...Oh..kau mungkin sudah menghabisi vampir yang masih 'hijau' yang sekitar usia 20 tahunan. Masih ingusan. Tapi vampir yang berpengalaman...seperti aku..." suaranya mulai berbisik. Tapi cukup jelas di telingaku.

"Kau tidak akan mampu menjatuhkan aku hanya dengan tikaman seperti itu. Aku bisa menghabisimu hanya dalam hitungan menit...

...bahkan saat kau menggunakan kedua senjatamu (belati perak dan pasak kayu)...

...Itu sebabnya aku menawarkan kesepakatan. Kau bisa melanjutkan kegiatan favoritmu...memburu vampir...

...Tapi kau hanya akan memburu vampir yang kupilih tanpa pengecualian...

...Kau akan menjadi umpan. Aku kailnya. Itu ide dasarnya."

Ini namanya kesepakatan Iblis!

Apakah aku harus membayar dengan jiwaku?

Namja ini menatapku penuh harap sekaligus mengancam.

Jika aku berkata tidak, aku tau apa yang terjadi : Silahkan menikmati leherku sepuas hati!.

Tapi jika aku berkata iya, maka aku sedang bekerjasama dengan iblis yang paling berbahaya.

Namja tegap itu mengetuk –ngetukkan kaiknya ke lantai gua.

" aku tidak punya waktu sepanjang malam...

...Semakin lama kau membuatku menunggu, semakin aku lapar. Sebentar lagi, mungkin aku akan berubah pikir—"

"Aku akan melakukannya." Kata itu terucap begitu saja. Seperti reflek setelah dia mengucapkan 'lapar'.

"Tapi aku juga punya syarat." Aku menambahkan.

"Benarkah?" namja itu tertawa lagi. Sungguh namja yang riang!

"Kau tak berada dalam posisi yang bisa mengajukan syarat." Dia berucap sambil melipat tangannya di dada.

"Hanya menatangmu untuk membuktikan perkataanmu...

...Kau bilang aku tidak akan sanggup bertahan lebih dari beberapa menit saat melawanmu, bahkan saat menggunakan dua senjataku...

...Aku tidak setuju...

...Lepaskan rantaiku, kembalikan barang –barangku, dan kita bertarung...

...Pemenang akan mendapatkan segalanya." Ucapku pasti. Paling tidak aku meyakini satu hal. Aku yakin pada diriku sendiri. Itu tidak buruk, bukan?

"Dan yang kau inginkan jika kau menang adalah..." dia menggantungkan kalimatnya. Memberiku bagian untuk meneruskan bagian yang kosong.

"Kematianmu." Kataku blak –blakan. Matanya berkilat, meski tetap coklat. Aku melihat ada sebuah semangat di sana.

"Jika aku bisa mengalahkanmu, maka aku tidak membutuhkanmu...

... Seperti yang kau bilang tadi, jika aku membiarkanmu bebas, kau akan mngejarku. Kalau kau menang, aku akan mengikuti permainanmu." Aku menjelaskan maksudku.

"Kau tahu, Kitten~ (sepertinya itu panggilan lain untukku). Dengan kondisimu yang terantai di sana, aku bisa menikmati lehermu sepuas hati dan menjalankan aktivitasku seperti biasa di kemudian harinya...

...Kau terlalu mengandalkan keberuntunganmu dengan mengajukan syarat padaku."

"Kau tak terlihat seperti pria yang suka meminum darah dari mangsa yang dirantai tak berdaya..." Aku sengaja memberi jeda. Aku melihatnya. Memastikan dia sedang memperhatikanku dengan baik.

"Kau terlihat seperti...namja yang suka menantang bahaya. Memangnya apa yang mendorong seorang vampir untuk membunuh sesama vampir ? Bagaimana? Kau mau mengikuti syaratku?" aku menahan nafas. Inilah momentum yang akan menentukan nasibku nanti.

Dengan langkah perlahan, namja itu menjauh dariku. Matanya menjelajahi sekujur tubuhku. Jika boleh jujur aku tak malu, hanya saja risih! Ia mendekati meja nakas. Mengambil sebuah kunci yang bergantung di atas meja itu.

Klik...

Rantai tanganku terbuka, menyusul rantai kakiku. Dia menatapku dalam...

"Kita lihat apa yang kau punya." Ujarnya kemudian. Untuk kedua kalinya malam ini.

TBC -:_

.


HUUUAAAAHHhhhhhhhh...

Selesai...PART DUA UDAH JADI !

PADET BANGET nggak ISInya?

Adakah yang bingung tentang penjelasan diatas?

Kalo ada yang nggak dimengerti, kirimin aja Vhy PM, oke?,,

Danke~ udah baca FF, Vhy~. Danke~ juga udah RIVIEW CHAP kemaren..

Vhy bales revienya lewat PM, ya?,,,

*moga tak ada banyak typo lagi ^_^*


Thanks to :

joongwookie - Himawari Ezuki - L Hyemi - jae sekundes - KimsLovey - Nanaki Kaizaki - Guest (1) - Guest (2) - dianaes - Juuuchan - Guest (3) - kkyong - Jung Hyun Ri - Dini Kusuma - demikyu - park yooki - viekrungysweetpumkin

(maap yang tidak login, pertanyaannya Vhy jawab di PAGE selanjutnya, ne~?,, mian. Vhy terburu- buru soalnya)


P.S :

GOOD REVIEW? = GOOD MOOD!

Sign,

Vhy*mirror