Digital Zakura
Semangat! Hehe… mumpung idenya lagi meledak-ledak, sekalian aja ya dilanjutin. Jangan lupa buat baca dan review!
Rating: K+. Cuman buat jaga-jaga aja. No lemon, lime, atao apapun yang sejenis itu.
Disclaimer: Seluruh komponen Digimon & Dragon Zakura (karakter, jalan cerita, adegan, etc.) bukan punya saya, lho!
Peringatan! OOC. Ada beberapa adegan dari Dragon Zakura (Beberapa…?? Banyak maksudnya?)
R&R please!!
Sakura Drops
"Hei, Koushiro!"
Koushiro baru saja melangkah keluar apartemennya ketika sebuah suara menahan langkahnya. "Ya?" Koushiro menoleh, tersenyum geli melihat gadis yang tadi memanggilnya berlari tergopoh-gopoh ke arahnya.
"Tungguin dong…" gadis itu melirik ransel besar yang dibawa Koushiro dengan heran, "kamu mau kemana?"
Koushiro mengangkat bahu. "Entahlah."
"Kamu mau tinggal di rumahku dulu?" gadis itu, Mimi, tersenyum ramah, mengulurkan tangannya untuk membantu membawakan tas laptop yang dijinjing Koushiro, "sebetulnya sudah sejak lama kedua orang tuaku ingin kamu pindah, tapi kamu selalu menolak kan?"
"Sepertinya, sekarang pun aku akan menolaknya," Koushiro nyengir, menepuk-nepuk bahu sahabatnya yang kini tampak murung, "jangan sedih begitu. Aku merasa nggak enak udah terlalu ngerepotin kamu dan orang tuamu."
"Kamu kan tahu kamu sama sekali tidak merepotkan," rengek Mimi, melirik lagi bawaan Koushiro, "mau kubantu tidak nih?"
"Jangan deh, lebih baik tanganku patah daripada menitipkan tas laptop ini padamu."
Mimi meninju bahu Koushiro sambil tertawa. "Dasar, udah untung mau dibantuin. Eh, kamu mau pindah kemana, Kou?"
"Entahlah, aku baru mau mencari hari ini. Makanya mau bolos…" Koushiro mengerling sahabatnya sejak kecil itu sambil nyengir, "kamu mau menemaniku mencari kamar sewa yang murah hari ini?"
"Tentu saja!" Mimi bersorak senang. "Yes! Aku sebenarnya ingin bolos, tapi kalau bolos nggak tau mau ngapain!"
"Jadi kamu senang ya aku pindah rumah?" Koushiro melirik wajah Mimi yang tiba-tiba murung, "tuh kan, jangan sedih begitu, deh."
"Habisnya…" mata Mimi berlinangan air mata, sebelum akhirnya dia menangis sesenggukan dan memeluk Koushiro erat, "aku tidak ingin Koushiro pindah!"
Koushiro menelan ludah dengan gugup, kemudian membelai rambut sahabatnya itu dengan lembut. Bagaimana mungkin aku bisa terus tinggal di sana kalau setiap saat aku hanya berharap Ibu hidup lagi?
"Aduuh. Masa sih mahal banget? Apa nggak bisa murah lagi? Kasihan dong sama kami!"
"Mimi, sudahlah…"
"Tapi, kan…"
"Dasar anak-anak jaman sekarang banyak maunya. Kalau tidak punya uang ya jangan menikah dulu!"
"Heehh?" Koushiro dan Mimi berseru kaget, "menikah?"
"KALIAN SEMUA BERISIK!!" tiba-tiba seorang pria membuka pintu apartemennya, melirik kesal dua sejoli yang sedang ribut dengan pemilik apartemen itu, "kalian sadar nggak sih sekarang ini jam berapa?"
"Jam 10 pagi kan?" Mimi melirik jamnya, kemudian ganti menatap sang pria, "memangnya kau biasa bangun jam berapa?"
"Sakuragi!" pemilik apartemen itu melupakan dua anak yang tadi bertengkar dengannya, menghampiri pria yang kini diam-diam menutup kembali pintu apartemennya, "kau belum bayar sewa tiga bulan kan? Kapan kau akan melunasinya, hah?"
"Ngg…" Sakuragi tampak panik.
Tiba-tiba Mimi nyengir, mengambil uang yang dipegang Koushiro ("Heei"), kemudian menghampiri wanita pemilik apartemen itu, menyerahkan uang di genggamannya, "aku akan membayar untuk lelaki ini! Segini dulu cukup?"
"Apa?!" Koushiro dan Sakuragi berteriak bersamaan.
"Sebagai gantinya," Mimi melirik Sakuragi yang tampak kaget, "Koushiro boleh tinggal di apartemenmu. Kalian akan bersama membayar sewanya supaya murah, bagaimana?"
"Yang benar saja? Anak kecil ini?" Sakuragi mengerang, memandang Koushiro dengan gusar, "ini sih sama aja aku yang bayar sendiri!"
"Jangan bilang begitu!" Mimi menatap Sakuragi dengan marah, "Koushiro ini programmer yang hebat!"
"Mimi, sudahlah… lagian software yang baru kubuat itu masih sederhana dan sepertinya kurang laku di pasaran," Koushiro melirik Sakuragi, menatapnya dengan pandangan maafkan-temanku-ini.
"Dan kamu jangan merendah begitu, Koushiro!" Mimi ganti menatap Koushiro dengan marah, "justru mestinya kakek tua ini yang mencari kerja!"
"Umurku baru 39 tahun!" gumam Sakuragi kesal, "nah, nah. Sekarang wanita pemilik apartemen itu sudah pergi, uangmu sudah dibawanya."
Mimi melirik sekelilingnya dengan putus asa, kemudian menatap balik Sakuragi, "kalau begitu Koushiro tinggal bersamamu!"
"Kalau aku tidak mau?" Sakuragi nyengir.
"Ya sudah, ayo Mimi, kita cari tempat lain" dengan putus asa Koushiro menarik tangan Mimi, kemudian dia tersenyum sopan dan mengangguk kepada Sakuragi, "anggap saja yang tadi itu aku pinjamkan untukmu. Kau bisa mengembalikannya kapan pun"
"Tapi Koushiro…"
"Sudahlah, Mimi…" Koushiro berjalan duluan, membuat Mimi tergopoh-gopoh mengejarnya ("Kou! Tunggu!").
"Ya.. ya.. terima kasih sudah mengganggu tidurku. Dasar anak muda…" Sakuragi menggerutu kesal dan baru saja akan masuk kembali ke dalam apartemennya sebelum akhirnya berbalik dan berseru, "baiklah! Baiklah! Kau boleh tinggal di apartemenku! Tapi, aku punya syarat!"
Yes, berhasil. Koushiro nyengir. "Apa?"
"Kalian bisa mengantarkanku ke SMU Odaiba? Aku ditugasi di sana soalnya."
Mimi dan Koushiro saling melirik dengan heran kemudian tertawa terbahak-bahak.
Ino Mamako, seorang wanita muda yang musim semi ini berumur 29 tahun dan sudah empat tahun tidak punya pacar (Ino: "Heei"), berlari terburu-buru sambil memperbaiki letak kacamatanya, usaha yang sia-sia karena kacamata itu merosot terus. Dia terpeleset ketika sedang berbelok di koridor, dan kini berjalan sambil memegangi pinggangnya yang sakit. Tertatih-tatih, dia menyeret langkahnya menuju ruang kepala sekolah tempat dia dipanggil untuk menghadiri pertemuan.
"Bangkrut?" tiba-tiba sebuah suara terdengar dari dalam ruangan itu.
Ino mengangkat alis, membuka pintu ruangan itu dan melihat rekan-rekan sesama guru yang lain sedang berdiri mengelilingi meja kepala sekolah.
"Mengapa Anda membicarakan soal bangkrut, Kepala Sekolah?" salah seorang yang paling tua di antara mereka, sang wakil kepala sekolah, Kondo, berseru lantang sambil menatap kepala sekolah itu dengan tajam.
"Tidak bisa tertolong lagi," wanita berusia 50-an itu menjawab dengan tenang, "jika terus begini, Odaiba akan benar-benar bangkrut."
"Kepala sekolah!" pria yang sama tuanya dengan kepala sekolah itu menjawab dengan lantang, suaranya agak serak, "sebagai wakil kepala sekolah, saya tidak dapat membiarkannya. Seharusnya Anda membicarakan dulu dengan saya!"
"Ini bukan saatnya berbicara seperti itu," pria lain, Masanao, menyela rekannya dengan penuh amarah.
"Jelaskan pada kami situasinya!" tambah seorang wanita, tak kalah emosinya.
"Akan jadi apa kita nanti? Apakah nanti kita akan dipecat?" guru lain yang mengenakan pakaian olah raga ikut menimpali dengan berapi-api.
"Eeeh? Dipecat?" seru rekan-rekan guru yang lain.
"Apa-apaan ini?"
Kepala sekolah itu hanya diam, menunduk dengan tenang.
"Kami menolak!" salah seorang tiba-tiba berteriak. "Kami menolak! Kami menolak!" teriakannya disambung oleh rekan-rekannya yang lain.
"Tunggu! Tunggu sebentar!" Ino yang baru saja sampai di ruangan itu bergegas menghampiri kepala sekolah, "Tunggu! Tunggu! Tunggu sebentar!"
Para guru itu pun mulai tenang, melirik Ino dengan gusar.
"Yang paling penting sekarang ini adalah memikirkan bagaimana nasib murid-murid nantinya," lanjut Ino dengan semangat, "kalau sekolah ini tutup apa yang terjadi dengan murid-murid?"
Kepala sekolah itu hanya diam dan menunduk lebih dalam.
"Hah, lagi-lagi Anda hanya bicara hal yang tidak penting," kata Masanao dengan mencemooh.
"Hah?"
"Apa maksudmu dengan 'Hah'? Makanya Anda itu bukan guru yang baik, coba pikirkan kepentingan kami semua sebagai guru. Saya tidak peduli dengan murid-murid sialan itu!"
Tiba-tiba sang kepala sekolah menggebrak meja, membuat para guru itu berhenti berdebat.
"Semuanya," lanjut kepala sekolah dengan tenang, bibirnya menyunggingkan senyum, "Harap tenang. Pengacara akan datang memberikan penjelasan tentang semua ini"
"PENGACARA?"
Tiba-tiba kepala sekolah itu mulai menangis, dan melanjutkan dengan suara melengking, "Aku tidak bisa berbuat apa-apa… (Tanaka mengulurkan sapu tangan) Aku hanya amatir soal manajemen dan administrasi seperti ini."
"SMU Odaiba ini…" lanjutnya sambil sesenggukan, tangannya meraih bingkai foto di atas mejanya, "Didirikan oleh suamiku yang meninggal lima tahun yang lalu. Dan siapa yang tahu kalau dia akan meninggal di saat yang kritis seperti ini?"
"Sayangku.. sayangku…" kepala sekolah itu kini berlari menghampiri foto suaminya yang dipajang di dinding sambil terus menangis, "Bantulah kami, sayang…."
"Permisi, maaf saya datang terlambat, kepala sekolah," seorang pria tanpa permisi memasuki ruangan kepala sekolah (karena dia masuk dahulu baru dia mengucap permisi). Dia memandangi sekelilingnya dengan heran.
"Aaah… Sakurada-sensei!" Kepala sekolah yang sebelumnya menangis langsung berhenti dan menghampiri seorang pria yang baru tiba itu dengan semangat '45.
"Saudara sekalian tampaknya sudah berkumpul di sini," pria itu menatap sekelilingnya, lalu melanjutkan, "selamat pagi. Saya dikirim oleh pengadilan Tokyo untuk mengurusi masalah manajemen sekolah ini. Dan saya adalah pengacara untuk sekolah ini, Sakuragi Kenji." (melirik tajam ke arah kepala sekolah) "Baiklah, untuk mempersingkat waktu, langsung saja saya jelaskan kondisi sekolah ini," Sakuragi merogoh saku jasnya, mengeluarkan selembar kertas bertuliskan angka-angka, "SMU Odaiba memiliki hutang sebesar 2,4 miliar yen, belum termasuk bunga selama 3 tahun, dan memiliki nilai rata-rata 36/100. Saat ini terdiri dari 360 siswa dan hanya 160 orang yang berencana melanjutkan ke universitas. Reputasinya sebagai 'sekolah bodoh' semakin terkenal. Karena alasan tersebut, sekolah akan ditutup tahun ini. Properti sekolah akan dijual untuk menutupi hutang. Dan sekolah ini akan ditutup!"
"Ti-ti-tidak! Ini tidak ada bedanya dengan yang dikatakan kepala sekolah!" Masanao menunding Sakuragi dengan panik.
"Kepala sekolah," wakil kepala sekolah menghampiri wanita itu dengan kesal, "di rapat guru kemarin Anda bilang bahwa Anda akan memperoleh guru baru dan kita tidak perlu khawatir dengan masalah ini!"
"Oh, aku bilang begitu?"
"Nyonya kepala sekolah!" Masanao menghampiri wanita itu juga dengan gusar, "tolong jelaskan apa yang Anda pikirkan!"
Wanita itu terdiam sejenak, kemudian mulai menangis lagi, "saya tidak tahu… Sekolah ini ditemukan oleh suami saya…" (dan cerita tentang dia dan suaminya kembali diulang)
"Tuan pengacara," Kondo menghampiri Sakuragi, mengabaikan isakan wanita di sampingnya, "tidakkah Anda pikir ini terlalu cepat diputuskan?"
"Ini sudah keputusan. Sekolah ditutup," lanjut Sakuragi dengan tenang.
"Rasanya aku pernah mengenal orang itu…" Ino membetulkan kacamatanya (lagi) dan berpikir sejenak.
"Eh, tuan pengacara, bagaimana dengan nasib kami?" tanya seorang guru lain.
"Dipecat. Tentu saja"
"EEEH?!"
"Tunggu sebentar… saya… saya…" Tanaka menghampiri Sakuragi dengan terburu-buru.
"Ah! Aku ingat!" Semua orang menoleh ke arah Ino yang kini sedang berjalan menghampiri Sakuragi, "kau hampir dikirim ke penjara pada saat muda karena melakukan kekerasan. Pengacara yang dulunya ketua bandit , yaa, begitu yang ditulis di majalah."
"Haaah?" para guru langsung mundur dengan ketakutan.
"Terus emangnya kenapa?" Sakuragi menatap Ino dengan kesal.
"Kepala sekolah," Ino menghampiri kepala sekolah sambil memandang Sakuragi dengan curiga, "apa tidak apa-apa membiarkan bandit, pengacara yang kejam ini mengurusi sekolah kita? Dia…"
"Bukan bandit. Saya hanya seorang geng pembalap!" Sakuragi memotong perkataan Ino, "dan saya tidak pernah melakukan sesuatu pun yang ilegal selama 20 tahun ini."
"Kami tidak peduli! Cepat tinggalkan Odaiba!" seru Masanao berapi-api, disambung oleh rekan-rekannya yang lain.
"Ya! Cepat tinggalkan sekolah ini sekarang juga!"
Sakuragi mengangkat alis, "Tenang, saudara-saudara, saya…"
"Pergi! Pergi! Pergi!"
Sakuragi menghela nafasnya pasrah dan berbalik keluar ruangan.
"Nah, bagaimana dengan SMU Odaiba?"
Sakuragi mengangkat bahunya, "Yah… para staf kurang menerima hal ini, tapi hal ini akan saya atasi. Saya akan pastikan para kreditur puas."
"Hmm…" Ogawa mengangguk-angguk, "baguslah."
"Sekali lagi, terima kasih Ogawa-sensei. Kalau sensei tidak memberikan pekerjaan ini pada saya, mungkin bulan depan saya tidak bisa membayar sewa apartemen ini."
"Wah… tidak usah seperti itu. Kita kan partner..." (nada suara Ogawa agak berubah ketika mengucapkan kata "partner")
"Cih," Sakuragi melempar sebuah majalah (berisi artikel tentang "pengacara bandit") yang baru saja dibuka-bukanya dengan asal, "majalah sialan, menghancurkan bisnis orang saja."
"Sudahlah… jangan khawatir," Ogawa tersenyum, "justru dengan begitu mungkin kasus ini akan mendapat perhatian nasional."
"Hm?"
"Ya, sepertinya tahun ini pun akan banyak sekolah yang bangkrut. Siapa tahu SMU Odaiba ini menjadi kasus yang diminati" Ogawa beranjak dari sofa tempat ia duduk. "Nah. Saya harus pergi. Ngomong-ngomong…"
"Ya, sensei?"
"Itu tas siapa ya? Saya tidak tahu kau punya ransel seperti itu," Ogawa menunding sebuah ransel yang tergeletak di pojok ruangan.
Sakuragi mengambil tas itu, menjawab dengan panik. Anak bodoh… "Ng, peralatan kemping."
"Oh," Ogawa mengangguk-angguk, meskipun wajahnya menunjukkan keheranan, "baiklah. Saya pergi dulu."
"Ya, sensei! Terima kasih banyak untuk semuanya!" Sakuragi menunduk, mengantarkan Ogawa keluar pintu. Mungkin kasus ini akan jadi sorotan nasional. Kalau aku berhasil, aku akan mendapatkan reputasi yang sangat baik… Aku akan tinggal di tempat lain… Sakuragi memandang sekelilingnya dan nyengir pasrah. Tempat lain… ya…
"Hei! Aku sudah boleh keluar?"
Sakuragi menoleh ke arah anak yang baru saja memotong lamunannya, "hm?"
Koushiro merangkak keluar dari balik sofa, "hwaaah… pengapnyaaa…"
Kalau aku berhasil membuat SMU Odaiba lebih baik... Seluruh negara akan mengetahui namaku, reputasiku juga akan semakin baik… Urusan makan pun…
"Hei, Pak! Kau tidak punya makanan sama sekali?"
Sakuragi mendelik dengan kesal, "jangan lihat-lihat kulkas orang sembarangan!"
Koushiro menggerutu, kemudian mengenyakkan tubuhnya di atas sofa. "Haaaah… Tahu begini aku ikut aja diajakin makan malam di rumah Mimi."
"Oh, cewekmu itu?"
"Dia bukan pacarku," Koushiro menyadari wajahnya bersemu merah, jadi dia buru-buru membenamkan wajahnya ke dalam sofa, "kau sendiri… tidak punya pacar ya?"
"…"
"Aku tahu, urusan percintaan agak menimbulkan sensitifitas yang tinggi pada jejaka yang berusia… ehm… tidak muda lagi," Koushiro nyengir, menghindar dari lemparan Sakuragi, yang masih sibuk berpikir, "hei…"
Sehelai kelopak sakura melayang masuk lewat jendela apartemen, layaknya seorang putri kerajaan yang mampir ke rumah rakyat jelata, kelopak sakura itu mampu membuat seisi ruangan terdiam. Koushiro yang sejak tadi berceloteh pun kini merasa kerongkongannya tercekat. Dengan satu gerakan sigap, Sakuragi menangkap kelopak itu dalam genggaman tangannya. Perlahan dia membuka telapak tangannya, memandangi kelopak sakura itu tanpa berkedip, kemudian menarik nafas panjang. Ya…
Sakuragi pun sibuk dengan pikirannya (atau khayalan?) sendiri dan mengabaikan Koushiro yang kini semakin membenamkan wajahnya ke dalam sofa, mengatasi air matanya yang terus mengalir. Setiap kali melihat sakura berguguran, Koushiro selalu teringat ibunya… Dan Koushiro mengutuk dirinya sendiri karena tidak pernah bisa tidak menangis…
"Koushiro"
"Ya ibu?" Koushiro tidak merasa perlu menahan air matanya lagi, dia meraih tangan wanita yang paling dicintainya itu ke dalam genggamannya. Pasti sekarang saatnya…
"Ibu… minta maaf" wanita itu tersenyum, membalas genggaman tangan Koushiro, "Ibu tidak bisa bersamamu lagi…"
"Tapi, bu…"
Saat itu, sehelai kelopak sakura melayang masuk lewat jendela rumah sakit yang setengah terbuka, mendarat dengan indahnya di atas tangan Koushiro dan ibunya sedang bergenggaman erat. "Lihat…" wanita yang tampak lemah itu kini tersenyum, "Lihat, Koushiro"
Koushiro menangis semakin keras.
"Kita… seperti sakura ini," wanita itu mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata putranya, "akan ada saatnya untuk…. gugur"
Koushiro menelan ludahnya. Pahit.
"Jangan menangis… kau… laki-laki" tangan wanita itu perlahan mendarat di samping Koushiro, melayang jatuh seperti kelopak sakura.
"Ibuu…."
Look at my chiisai kono te de
Hold on tight tsukamaeta my precious
nakushisou na visions in me
miushinaitakunai jibun no way
. . . . . . .
Look at my small hands--
With them, I held on tight & grasped my precious
The visions in me seem to be lost
I don't want to lose my own way
Arrggh. Pasti aneh ya? Beneran deh, susah banget mindahin adegan dari film Dragon Zakuranya ke dalam bentuk cerita! Terutama bagian kelopak sakura tea… padahal di film-nya bagus, kok susah banget ya nuangin dalam bentuk kata-kata? Udah gitu, nggak nyangka kalau bakal sepanjang ini, padahal rencananya udah sampai Sakuragi-nya ngumumin tentang Todai itu… ya sudahlah, tolong ya! Hontou ni arigatou gozaimasu.
/edited some EYD error + add some words... yeah. whatever... xD
