Chapter 2 Terbiasa
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Mak Comblang Amatir by nawanawachan
Pairing : Sai x Ino
Rate : M (bahasa, situasi, dan setting)
Warning : AU, OOC, Typo (s), EYD kurang tepat, dll
Keesokan malamnya setelah pertemuan pertama mereka, di malam yang dijanjikan Sai, Ino sudah datang ke Akatsuki Club. Ino langsung menuju meja bar. Dan seperti biasa meja bar penuh dengan tante-tante berpakaian seksi yang menggoda Sai. Sampai ada yang duduk di meja bar agar dapat menggapai sang bartender itu dan kemudian mengelus-elus pipi Sai dengan tangannya yang lentik. Sai masih saja tetap tersenyum polos. Sampai kemudian Ino datang dan kembali mengusir mereka.
Tetapi sayangnya hari itu sang target tidak datang. Akhirnya Ino yang kesal malah mabuk dan tertidur di meja bar. Klub yang kemudian akan tutup, membuat Sai terpaksa harus membawa Ino pulang ke apartemen wanita itu. Untungnya Sai pernah membaca di salah satu majalah koleksinya yang mencantumkan alamat apartemen Ino. Sehingga tidak perlu membawa Ino ke apartemennya yang kecil dan kumuh.
Dan di malam minggu berikutnya Ino kembali datang. Kali ini dia tidak perlu mengusir tante-tante seksi yang berkerumun di bar karena hal tersebut sudah ia lakukan selama satu minggu penuh kemarin. Dia melakukan itu selain karena merasa terganggu dengan keberadaan mereka di bar, juga karena dia tidak rela kalau Sai yang usianya bahkan belum mencapai 20 tahun itu ternoda oleh tangan-tangan nakal mereka. Karena beberapa hari yang lalu bahkan ada yang berani meraba-raba dada bidang Sai sambil mengajaknya berciuman panas. Untung saja Ino keburu datang dan mengusir tante-tante itu. Ino jadi merasa punya adik.
Ino langsung menghampiri Sai. Tadi sebelum ke sini, dia sudah memastikan terlebih dahulu pada Sai melalui SMS, apakah pria mapan nan elit itu ada di klub atau tidak. Dan ternyata Sai menjawab kalau ada salah satu pria elit yang datang, namanya Hidan. Kali ini Ino ingin berhasil dan segera mendapat kekasih baru. Dia sudah kesal dikatai media kalo dia tidak bisa move on. Akhirnya Ino pun langsung mengajak bicara Sai.
"Sai, yang mana target kita?" tanya Ino semangat.
Sai yang tadi sibuk melayani pelanggan langsung menghampiri Ino.
"Kau semangat sekali," kata Sai sambil tersenyum.
"Tentu saja aku semangat, aku kan ingin segera melepas gelar jombloku ini," jawab Ino kesal. "Jadi yang mana?" tanya Ino lagi.
Sai menunjuk pria berambut abu-abu klimis dengan setelan jas abu-abu pula. Gayanya sangat perlente dengan kemeja di balik jasnya yang kancingnya dibuka tiga. Di lehernya tersemat kalung berlambang aneh. Ino yang melihat pria dewasa yang kelihatan mapan itu jadi semakin bersemangat.
"Waaahhh! Dia tampan sekali Sai. Ayo segera kenalkan aku dengannya," kata Ino sambil menarik tangan Sai mengajaknya menemui pria itu.
"Tunggu!" kata Sai.
"Apa lagi sih Sai?" tanya Ino tidak sabar.
"Ada beberapa hal yang harus kau tahu tentangnya. Dengarkan aku!" kata Sai lagi.
"Baiklah, apa? Cepat!"
"Namanya Hidan. Dia adalah teman pemilik klub Akatsuki ini. Dia seorang pengusaha kafe di daerah Oto,"
"Waaahhh! Berarti dia pengusaha?" tanya Ino memotong penjelasan Sai.
"Iya, dia pengusaha. Tapi…"
"Waaahhh!" lagi-lagi penjelasan sai terpotong oleh pekikan Ino. "Lihat! Dia menatapku. Dan dia melambai padaku. Aku akan menghampirinya,"
"Hei Ino, tunggu! Aku belum selesai," Sai hanya bisa menatap Ino yang berlari menghampiri Hidan. "Ahh Sudahlah, nanti juga dia tahu sendiri," pikir Sai dan dia kembali bekerja.
Sementara itu Ino berbincang-bincang dengan Hidan dengan sangat seru. Sesekali Hidan memuji Ino yang membuat pipi Ino bersemu merah. Senyuman Ino tidak pernah hilang sedikitpun dari wajahnya. Dan hal tersebut tidak lepas dari pandangan Sai. Sai yang melihat hal itu ikut tersenyum. Namun baru beberapa jam berbicara, Hidan langsung pamit pulang. Dan itu membuat Ino sedikit kecewa. Namun, kekecewaan itu hilang ketika Hidan memberikan kartu namanya pada Ino dan mengundang Ino ke kafenya besok. Kemudian sebelum pergi Hidan mengecup pipi Ino. Sai yang melihat itu hanya dapat menatap Ino dengan pandangan yang aneh.
Keesokan harinya Ino berjalan di daerah pertokoan Oto. Sesekali mengedarkan pandangannya ke sekeliling sambil memegang kartu nama Hidan. Ino sedang mencari letak kafe milik Hidan. Dan beberapa kali dia bertanya kepada orang yang lewat. Namun anehnya ketika dia menyebutkan nama kafe itu, mereka langsung tertawa dan melenggang pergi tanpa menjawab. Semua orang yang ditanyainya menunjukkan ekspresi yang sama dan hal itu membuat Ino heran.
Sampai Ino berbelok di persimpangan Oto, dia menemukan sebuah kafe yang sangat besar. Ino menatap tulisan di atas kafe itu yang bertuliskan Jasin Café. Ternyata itulah kafe yang Ino cari. Ino berdiri agak lama di depan kafe sampai ada seorang pria tampan yang datang menghampirinya. Dia adalah Hidan. Gayanya lebih keren daripada semalam. Dia mengenakan celana jeans dan kemeja berwarna putih. Seperti biasa, tiga kancing teratas dia buka dan lengannya digulung sampai siku. Rambutnya yang klimis menambah kesan maco padanya.
"Kau sudah lama menunggu Ino? Maaf ya, tadi aku mengurus beberapa dokumen kafe," kata Hidan dengan wajah menyesal.
"Tidak juga kok, aku baru saja datang. Jadi ini kafe milikmu? Besar sekali," kata Ino kagum.
"Iya, ini kafe yang aku rintis. Dan aku juga mengurus semua kegiatan kafe ini mulai dari manajemen hingga memasak makanan. Ayo, kita masuk," ajak Hidan sambil menggiring Ino masuk.
Ino sangat kagum dengan kemandirian Hidan. Mereka pun berjalan masuk ke dalam kafe. Namun sebelum sampai di pintu masuk, Ino kembali teingat nama kafe yang aneh itu.
"Oya, aku mau tanya. Kenapa nama kafemu Jasin? Bukankah itu nama yang aneh?" tanya Ino.
"Lho, nama kafe ini adalah berkat dari Dewa," jawab Hidan.
"Berkat dari Dewa? Maksudnya?" tanya Ino lagi. Dia merasa tidak paham dengan maksud Hidan.
"Iya, berkat Dewa," kata Hidan sambil membukakan pintu masuk menuju kafe. Ino melangkah masuk ke dalam kafe dan ….
"Selamat datang di kafe yang diberkati Dewa Jasin,"
betapa terkejutnya Ino melihat suasana kafe yang tidak biasa. Tidak. Mungkin tempat itu tidak bisa disebut kafe. Tempat itu lebih cocok menjadi tempat perkumpulan peramal. Suasananya yang remang-remang dengan lampu-lampu yang berwarna merah kekuningan menambah kesan mistik. Belum lagi tirai-tirai yang terbuat dari manik-manik besar yang menggantung. Dan hal yang paling aneh adalah di tengah ruangan terdapat gambar simbol yang sama dengan yang tersemat di kalung Hidan. Simbol tersebut sangat besar dan digambar dengan cat warna merah. Oh! Bukan. Itu bukan cat melainkan darah. Dan ditengah simbol berdiri sebuah sabit besar yang terlihat sangat tajam.
" Hidan, apa ini sebenarnya?" tanya Ino bingung.
"Ini adalah tempat pemberkatan pada Dewa Jasin," jawab Hidan mantap.
"La..lu.. i..itu a..a..apa?" tanya Ino ragu sambil menunjuk lingkaran simbol tersebut.
"Itu adalah tempat persembahan,"
"Per..persem..bahan?"
"Tenang saja Ino-chan, di jaman yang modern ini Dewa Jasin tidak lagi meminta nyawa seseorang. Dia hanya meminta sedikit saja roh manusia. Jadi, sistem kafe ini adalah para pelanggan harus menyerahkan sedikit roh mereka pada Dewa Jasin dengan berbaring di atas tanda itu. Setelah itu dijamin mereka akan mendapatkan makanan yang lezat," jelas Hidan mantap.
Ino yang mendengar penjelasan tersebut berubah jadi pucat. Dengan takut-takut dia bertanya lagi.
"A..apakah sudah ada orang yang datang ke kafe ini?"
"Belum ada satupun pengunjung sejak kafe ini buka beberapa bulan lalu. Dan kau adalah orang pertama yang datang ke sini," jawab Hidan.
Dalam batinnya Ino berkata, 'Tentu saja tidak ada yang mau datang ke kafe ini. Hanya orang aneh yang mau datang ke sini. Dan aku jadi mengerti kenapa dia harus mengelola kafe sendirian. Pasti karena tidak ada karyawan yang mau bekerja di sini.' Lalu Ino tiba-tiba teringat orang-orang yang menertawakannya saat bertanya tentang kafe itu. Ino merutuki nasibnya. Pasti orang-orang itu menganggap Ino aneh. Ino terus sibuk dengan pikirannya sendiri sampai Hidan berbicara.
"Nah Ino-chan, karena kau adalah pengunjung pertama kafeku, kau tidak perlu menyerahkan sedikit rohmu. Aku yakin Dewa Jasin mengerti. Kau hanya perlu memberikan penghormatan dengan melepas pakaianmu dan menari di tengah-tengah simbol," kata Hidan sambil menarik tangan Ino dan akan membawanya berdiri di tengah simbol.
Ino yang mendengar itu langsung terpekik kaget dan langsung menarik tangannya dari genggaman Hidan seraya berteriak,
"TUNGGU!"
Hidan yang mendengar teriakan Ino langsung menoleh.
"Ada apa?" tanya Hidan sambil mengerutkan dahi.
Ino menarik napas untuk menenangkan dirinya yang syok. "Hidan, sebaiknya…kau…" kata Ino ragu-ragu sebelum berkata dengan cepat. "Anggap saja tidak pernah mengenalku,"
"Lho? Ino.. Tunggu.." Hidan mencoba mengejar Ino yang berlari keluar dari kafenya. Tapi sayangnya Ino langsung menyetop taksi dan taksi tersebut langsung meluncur pergi.
Di dalam taksi Ino terus-terusan mengumpat. Dia tidak habis pikir, mana mungkin ada penghormatan kepada Dewa dengan menari tanpa pakaian. Ino memang model majalah dewasa, tapi Ino melakukan pemotretan seperti itu karena dia benar-benar butuh uang. Mana rela dirinya melakukan hal konyol seperti itu. 'Kami-sama' mugkin Ino memang sudah berdosa dengan memperlihatkan tubuh Indahnya pada orang banyak. Tapi haruskah dia dihukum menjadi badut untuk Dewa Jasin atau apalah itu namanya. Ino benar-benar kesal. Sekarang tujuannya adalah Akatsuki Club. Dia akan protes pada Sai.
"SAAAIII!" teriak Ino sambil berjalan menuju bar.
Sai yang sedang mencampur beberapa minuman ke dalam gelas langsung melihat ke arah sang pemanggil dan kemudian tersenyum manis padanya.
"Hai Ino, bagaimana kencanmu? Lan.. Aduuuuhhh,, Aduuuuhhhh.." pertanyaan Sai terpotong karena Ino terlebih dahulu memukul-mukul kepala Sai dengan tas tangannya yang bermerk.
"Ino, apa-apaan sih kau ini? Sudah cukup. Itaiii…" kata Sai lagi sambil mencoba melindungi kepalanya dengan tangan.
Sekarang Ino telah masuk ke tempat bartender dan terus-terusan memukul kepala Sai. Sai yang akhirnya merasa kesal karena Ino tidak juga berhenti memukulnya langsung menangkap tangan mungil Ino dengan tangan kekarnya. Tentu saja tangan yang lebih besar itu dapat menghentikan pergerakan tangan mungil Ino. Ino yang terkejut karena tangan Sai menggenggam tangannya, langsung menatap mata Sai yang hitam kelam namun memancarkan kelembutan. Beberapa saat mereka bertatapan sampai akhirnya Sai tersadar dan melepaskan tangan Ino.
"Ada apa sih? Kenapa kau memukulku?" tanya Sai bingung.
Ino memberengut dan kemudian keluar dari tempat bartender dan duduk di kursi di meja bar. Sai yang melihat ino yang cemberut segera mencoba menggoda Ino.
"Ada apa nona cantik? Kalau kau hanya cemberut begitu dan tidak menjawab pertanyaanku, kau jadi tidak cantik lagi," kata Sai sambil tersenyum.
"Jangan menambahku kesal dengan menggodaku Sai," jawab Ino tajam.
"Kalau kau tidak mengatakan apa yang membuatmu kesal, aku takkan bisa membantumu, cantik," kata Sai lagi masih dengan nada menggoda.
Ino kembali menatap Sai. Dia bingung harus bercerita dari mana namun akhirnya dia ceritakan semuanya pada Sai. Setelah mendengar keseluruhan cerita Ino, tiba-tiba Sai tidak sanggup lagi menahan tawa. Dia pun tertawa terbahak-bahak. Membuat temannya yang sesama bartender yang bernama Yamato dan beberapa pengunjung menoleh ke arahnya. Ino yang ditertawakan merasa tambah kesal. Dia pun langsung memukul kepala Sai lagi dengan tasnya. Atas pukulan Ino akhirnya Sai berhenti tertawa.
"Hahaha.. Gomen, gomen, aku menertawakanmu. Habisnya kau itu terlalu bersemangat. Siapa suruh kau tidak mendengarkan penjelasanku sampai selesai. Saat aku baru mau bilang kalau dia itu maniak, kau malah sudah berlari menghampirinya. Ya sudah, aku biarkan saja sampai kau tahu sendiri,"
Ino yang mendengar penjelasan Sai jadi malu sendiri. Benar kata Sai seandainya dia mendengarkan penjelasan Sai hingga selesai pasti tidak akan begini jadinya. Tapi Ino gengsi mengaku salah.
"Pokonya aku tidak mau tahu, kau harus mencarikan aku pria mapan yang lain sesegera mungkin. Dan kali ini pastikan kalau dia itu bukan maniak," kata Ino tidak mau tahu.
"Lho, apa semua ini belum selesai? Bukannya aku sudah memperkenalkan kau dengan seseorang?" tanya Sai bingung
"Tapi kan tidak berhasil. Kau itu kan mak comblangku, jadi kau harus terus comblangkan aku hingga akhirnya aku berhasil mendapat kekasih," kata Ino lagi.
Sai semakin tidak mengerti dengan kata mak comblang itu. Bukannya seharusnya dia hanya mempertemukan Ino dengan laki-laki saja terus sudah. Lalu kenapa dia juga harus menjamin keberhasilan hubungan mereka. Sai hanya geleng-geleng kepala sampai Ino kembali membuka suara.
"Sudahlah, sekarang aku pesan minuman," kata Ino
"Baiklah, apa kau mau pesan martini lagi?" tanya Sai.
"Tidak, hari ini aku pesan Bourbon saja. Pikiranku benar-benar penat,"
Sai langsung mengambil botol bourbon dan gelas yang sudah diisi es batu dan meletakannya di depan Ino. Dia biarkan Ino sendiri yang menuangnya. Selama Ino minum di meja bar, Sai terus menatap ke arah Ino dengan senyuman di wajahnya. Entah kenapa Sai merasa senang melihat wanita itu duduk di sana. Mungkin karena dengan keberadaan wanita itu, tidak ada lagi tante-tante genit yang berkerumun menggodanya di sekeliling meja bar. Atau mungkin karena hal lainnya. Sai pun masih belum mengerti.
To be Continued
Thank you for whom gave review for the previous chapter.
Oh ya, rate nya aku ganti jadi M berkat saran seseorang.
Thanks for your suggestion.
Don't forget to R&R this chapter.
