Sepatah kata membebaskan kita dari segenap beban dan kesedihan hidup.
Kata itu adalah cinta
-Sophocles-
A Beautiful Life
--
A Confusing Fanfiction by Dheeantzz
--
Disclaimer :
Kishimoto Masashi
(The owner of these amazing characters)
Konoha International Airport
01.45 AM
Suasana Bandar udara malam ini terasa lapang. Yah, bisa dibilang sekarang bukan waktu yang produktif, jelas saja tempat ini terasa lenggang. Hanya terlihat beberapa security dengan wajah mengantuk, berjalan menyisir tempat-tempat tertentu, serta beberapa porter berseragam biru, yang membawa trolley, mengangkut bagasi para penumpang yang baru sampai.
Pria itu menyusuri koridor dengan menyeret koper hitam pribadi di belakangnya. Dari caranya berjalan, terlihat bahwa dia sama sekali tidak kelelahan dengan perjalanannnya yang memakan waktu lebih dari satu jam. Postur tubuhnya tegap dan semakin terlihat kokoh dengan kemeja putih bergaris yang ditutup satu stel jas hitam, lengkap dengan dasi merah. Keutuhan wajahnya pun tak dapat ditangkap karena kacamata hitam yang bertengger diatas tulang hidungnya. Hmm.. sepertinya, pria ini termasuk dalam jajaran orang penting.
Dering telpon genggam menghentikan langkahnya. Ia merogoh jasnya, dan mendapati sebuah smartphone dari kantong-nya. Kacamata hitam itu dilepas, hingga terlihat sepasang lensa mata berwarna biru langit yang jernih, nampak seperti cermin yang berbayang.
Pria itu mengernyit sesaat sambil mengulum bibirnya, nomor tersebut belum ia kenal. Namun ia tetap mengangkatnya, dan kembali melangkah, keluar dari tempat kedatangan dan menuju ke tempat kumpulan taksi bandara berada.
"Halo? Aaah Anda.. saya pikir nomor siapa, Es tut mir leid… iya ini baru sampai, agak pegal nih… oh ya? Hahaha!! Oh bagaimana?? Ooooh.. oke oke… nanti kita bicarakan lagi.. eengg… dimana tempatnya…?? Oke.. ya?? Oh, Oke sampai ketemu besok…"
Klik. Sambungan diputus.
"Mau diantar kemana tuan..?" seorang supir tergopoh-gopoh datang menghampirinya.
"Oh, Tolong Green Meadow Hotel ya, pak…." Jawabnya singkat dengan seulas senyum.
"Oh, Baik, mari tuan…." Ajak si supir yang sudah menenteng koper yang ia bawa. Pria itu tersenyum, dan mengikuti langkah si supir.
LoF (Lots of Fun)
3rd Floor
01.45 AM
Dentuman musik ber-beat kencang belum bisa berhenti mengguncang jiwa-jiwa di sekitarnya untuk terus bergoyang di atas dance floor yang diterpa berbagai warna cahaya lampu yang kelap-kelip secara bergantian.
Sang DJ berkaos oblong putih dengan sebuah headphone melingkar di lehernya, tengah asyik dengan piringannya yang berkali-kali ia putar dengan gayanya yang khas. Menghasilkan suara yang memacu seluruh organ tubuh untuk bergerak, bergoyang. Sesekali ia mengacungkan tiga jarinya ke atas dengan kepalanya yang ikut bergoyang sesuai irama. Tak jarang aksinya itu dibalas dengan teriakan panjang yang menambah 'segar' suasana.
Kaum adam dan hawa bersatu dalam ruangan yang cukup luas ini. Meluapkan segala emosi dan nafsu yang tertahan diluar sana, melupakan berbagai larangan dan norma yang mereka anggap piece of shit!
Mereka bisa berbusana sepuasnya (tak ada yang melarang anda berjoget tanpa busana disini.. xp), berteriak sepuasnya, berpelukan sepuasnya, bercumbu sepuasnya. Semua terluapkan dengan bebas, tanpa adanya batas yang mengurung nafsu buas mereka. Yang sangat menyiksa. Keindahan fana yang luar biasa menyenangkan. Segalanya terpenuhi.
Hinata menyeruput Milkshake vanilla-nya sambil menyimak mereka yang tengah asyik berjoget tiada lelah. Warna-warni lampu disko bergerak-gerak di atas kepala mereka yang tenggelam dalam beat musik yang terus menghentak. Tubuh mereka saling berpacu dengan irama, mengikuti keinginan masing-masing, sehingga yang terlihat hanya gerakan yang berhamburan.
"Move your body, babe!" sang DJ yang menjadi pemegang kendali, berseru. Disambut dengan sorakan histeris para pengunjung. Suasana bertambah meriah.
Hinata hanya mengangkat dua alisnya sambil terus menyeruput minumannya. Saat ini ia sedang duduk di sofa pojok ruangan, lumayan jauh dari dance floor. Sudah satu jam lebih ia berada di tempat ini. Hanya berdua, bersama dengan seorang klien 'terhormat' tentunya.
Ia menghela nafas, karena sang klien tengah menggeliat di bahunya dengan hembusan nafas beraroma alkohol yang berlebihan. Tangannya mulai bermain-main di tubuh kecilnya dengan tujuan yang sangat ia hafal. Perlahan merambat, dari perut hingga ke bagian atas. Meraba-raba dadanya.
"Ssst…. Asuma…." Bisik Hinata sambil sedikit menghindar, bukan maksud tidak suka, melainkan kurang setuju dengan situasi dan kondisi saat ini. Ia menepuk pelan pipinya, mencoba menganalisa.
"Mmm…mmmhh…..", Pria gagah itu mulai menggumam tidak jelas dengan kedua matanya yang menyipit. Hawa nafasnya terasa panas. Tentu, gadis ini tau apa yang harus ia lakukan.
"Pelayan…!" Hinata buru-buru memanggil waiter yang kebetulan melewatinya.
Sang waiter berbalik mendatangi Hinata, "Maaf, ada yang bisa saya Bantu??"
"Ya, tolong satu kamar VIP" jawab Hinata yang mulai berdiri, mencoba menopang tubuh Asuma dengan bantuan waiter.
Sebuah Rumah sederhana
01.55 AM
Detak jam dinding mengisi sunyinya ruangan sederhana itu. Seorang gadis kecil duduk tenang di atas tempat tidurnya. Pandangannya tertumpu pada jam dinding yang terletak di hadapannya. Bentuknya bundar dengan frame tebal berwarna hijau gelap. Jarum detiknya bergerak teratur, tiada henti. Dan jarum merah itu bergerak maju, bukan mundur. Tak sama dengan pikirannya saat ini yang berputar ke belakang. Dimana pikirannya terlempar jauh ke masa sebelumnya. Masa di saat semuanya terasa mudah. Dan ketika semuanya berubah begitu cepat termakan waktu, hingga menjadi seperti sekarang.
Tidak ada Air Conditioner, melainkan kipas angin murahan (yang bahkan tidak bisa memutar kepalanya). Tidak ada tivi flat 36 inchi, melainkan tivi kotak 14 inchi. Tidak ada tempat tidur yang empuk, melainkan kumpulan kapuk yang ditopang sekelompok kayu rapuh . Semua Jauh berbeda dari yang sebelumnya.
Gadis itu mengibaskan tangannya dengan sekali helatan nafas, buru-buru menampik pikiran yang ia anggap pikiran bodoh, karena tak sepantasnya ia menimbang-nimbang perbandingan materi yang ada sebelum dan sesudahnya. Sangat tidak pantas, karena bukan hal itu yang berharga baginya. Bukan materi, sama sekali bukan. Toh, kalau karena materi, ia tidak akan sampai sejauh ini, duduk disini, makan disini, bahkan tinggal disini. Itu mustahil.
Terkadang ia merasa, semua ini terjadi karenanya, karena kehadirannya yang sebenarnya tidak pernah diharapkan. Parasit. Ya, mungkin kata itu yang tepat untuk mendefinisikan siapa dirinya saat ini. Namun itu hanya anggapan yang ia buat sendiri yang pada akhirnya menjerumuskannya dalam pikiran yang serba negatif.
Tak jarang, ia menangis diam-diam saat sendiri. Hanya untuk meratapi keadaan dirinya yang tak berguna.
Mata jernihnya kosong menatap jam dinding yang masih terus berdetak. Ia mulai menguap karena kantuk yang hampir meredam kinerja otaknya. Sudah pukul 2 pagi. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Namun, kali ini ia berusaha agar dirinya tetap terjaga. Ia ingin bergadang hari ini. Ingin menunggu. Jarang sekali ia berhasil melakukannya, karena ia kerap kali tertidur, dan tiba-tiba terbangun dengan selimut hangat yang menutupi tubuhnya. Tak lupa dengan omelan di pagi hari, karena 'tertangkap basah' mencoba bergadang.
"Nanti kalo sakit lagi gimana?"
Gadis kecil itu menyunggingkan seulas senyum pahit pada jam dinding yang menemaninya sembari berbisik.
"Nee-san belum juga pulang…."
02.00 AM
Pria itu menikmati pemandangan gelap malam dari balik kaca taksi. Langit benar-benar terlihat gelap tanpa konspirasi bintang yang biasanya bertaburan menebarkan cahaya kelap-kelip disana-sini.
"Sepertinya mau hujan ya pak…" Pria itu buka suara.
"Iya tuan, disini sekarang lagi musim hujan…." Jawab supir taksi dengan ramah.
"Oooo…. Ya..ya..ya" Pria itu mengangguk, kembali menerawang keluar, kaca taksi kini dipenuhi dengan percikan air yang semakin lama, semakin bertambah jumlahnya.
"Waa… sudah hujan…." Sang pria berkomentar. Diluar, langit sesekali berkedip, menjadi terang benderang dalam hitungan detik. Disusul dengan gemuruh yang menjalar di atas langit, memekakkan telinga. Hujan turun, mengguyur kota asri konoha dengan derasnya. Semilir udara dingin mulai terasa di dalam, hingga terdapat uap yang menempel pada kaca taksi.
Si supir hanya tertawa kecil mendengarnya, "Emm… maaf tuan, emmm…. kalau boleh tau, asal tuan dari mana ya?" Tanyanya kemudian, sembari menyalakan wiper.
"Oh… Saya dari Jerman…" jawabnya dengan singkat, sambil memperhatikan keadaan jalan melalui kaca depan taksi. Dua wiper bergerak bersamaan menghapus percikan air dan uap yang menempel pada kaca.
"Oooh, Jerman… wah, pantas saja… saya sempat berpikir bahwa anda adalah orang Jepang… masalahnya Anda seperti orang Jepang, tapi logatnya benar-benar berbeda dengan orang jepang asli…" supir itu berkomentar dengan polosnya.
Pria itu tertawa kecil, "Ahahaha…. Saya memang keturunan jepang, tapi saya lahir dan besar di Jerman…. Yah, tapi.. kami sekeluarga tetap berbudaya Jepang… itu sudah pasti..," jawabnya sambil menggaruk rambut kuningnya. Ia memang menyadari kalau aksen jepangnya telah tenggelam dalam aksen Jermannya yang kental.
Terlihat si supir mengangguk seperti sepaham dengannya, "Anda ada urusan bisnis disini, Tuan?" tanyanya lagi.
"Yah, begitulah……", jawab sang pria sambil menyandarkan tubuhnya, kemudian beralih memainkan smartphone-nya. "Masih jauh ya, pak?," Tanyanya sambil menatap keluar.
"Setelah perempatan ini, Tuan.. sebentar lagi kita sampai…," jawab sang supir sembari memutar kemudinya.
LoF (Lots of Fun)
3rd floor
VIP Room 45
02.54 AM
Ruangan tampak remang dengan pendaran cahaya oranye dari lampu kecil di sebelah tempat tidur King size itu. Dominasi warna peach seolah sepakat untuk menambah kehangatan ruang ini. Ditambah aroma lavender yang lembut menyapa. Aah, tentu saja ruangan ini didesain sedemikian rupa demi para tamu terhormat yang akan menempatinya kelak.
Dan kini, mereka berbaring disana. Dengan status tamu terhormat tentunya.
"Hmmmhh…."
Suara itu membuat sang gadis terus terjaga. Sedari tadi, tangan mungilnya hanya bergerak-gerak membelai rambut hitam pria yang tertidur di hadapannya, sementara ia tersenyum dan terus memandanginya. Wajahnya yang tampan, tubuhnya yang gagah dengan kemeja yang empat kancing di bagian atasnya terbuka, mengekspos dadanya yang bidang. Aroma alkohol yang menguar sama sekali tidak menganggunya. Ah, ia sudah terbiasa.
Ia menunggu sampai waktunya tiba. Ketika kewajiban itu datang untuk dipenuhi.
Kewajiban?
Ia tersenyum tipis mengingat hal itu. Yah, semuanya sudah terlanjur menjadi kewajibannya, semua sudah terlanjur menjadi bagiannya, semua sudah terlanjur ia alami, semua sudah terlanjur ia jalani, dan semuanya sudah terlanjur ia nikmati. Semuanya.. semuanya.. yang serba terlanjur… dan tak pernah terprediksi jauh sebelumnya. Tidak bisa… ia sudah tak bisa lepas.. dengan dirinya yang sudah terlanjur Hina.
Buyar lamunannya, ketika sosok dihadapannya menggeliat, sedikit membuka kedua matanya. Dan menyeringai nakal.
"Hmmmmh… Hinata…" bisiknya, membuat senyum gadis manis itu mengembang.
Nah, sudah saatnya.
To Be Continued
Created : Thursday, March 05, 2009
Modified & Published : Thursday, April 02, 2009
CUT!! (teriak gaje)
A/N :
Maaf, minna-san saya potong disini ya… T.T
saya sudah susah payah memikirkan cerita ini.. (dueh, sesusah apa sih? Lebay dasar..!!)
Terima kasih buat para reviewer yang pro dan kontra dengan fic ini… (parah fic gw ini.. ToT) karena anda lah saya berusaha mengurungkan niat untuk menghapus fic ini dan menyembuhkan diri dari WB.. (nangis ala penta champion.. LEBAY!!) (dibakar)
sekali lagi terima kasih…
maaf saya belum bisa memberi detail dari setting waktunya…Gomen kalau cerita ini mengganggu atau gimanaa gitu.. DX
Dan gomen lagi.. ini masih gantung gaje gitu… (pundung dibawah poon duren)
Saya nggak bisa ngomong banyak.. karena baru nyadar ni cerita bakal berat sepertinya.. T.T
Q&A :
Q : Mengapa Hinata jadi OOC? Jadi PSK pula… apa anda tau betapa bencinya saya pada Fic yang OOC!! Dan Mengapa Tenten 'juga' ditempatkan sebagai PSK? Lalu, mana Temari?
A : Semoga anda dapat menemukan semua jawabannya di chapter-chapter mendatang… Okay, guys? XD (digilas) eh, serius lho...
Maaf..
Fic ini (dan juga si Author tentunya) kembali HIATUS karena saya harus bersemedi cari wangsit saat ini (digotong buat ngaben).. sebenarnya saya tidak sabar untuk publish next chap.. XD
Hanya karena UN dan beberapa UM yang mendekat.. XD (oh nooo… T3T) setidaknya saya cicil sebelum saya UN.. DX
Terima Kasih sudah membaca, kawand… =D
Review? Harus dong.. wkwkwkwk (dilemparin duren)
