"Here we go, Tempat paling misterius di daerah ini."
Baekhyun melipat kedua tangannya didada dengan gaya angkuh, mata sipitnya memandangi Mansion bergaya Victorian didepannya dengan bangga—karna dialah yang menemukan tempat ini terlebih dahulu daripada teman-temannya, suatu keberhasilan yang memuaskan untuknya. Tiga orang jangkung disampingnya mengikuti arah pandanganya dengan takjub, seolah-olah baru menemukan harta karun disebuah pulau terpencil.
Yah, ini memang harta karun mereka.
Mansion bergaya Eropa Renaissance yang begitu megah, pongah dan memiliki aura misterius yang begitu kental. Gerbangnya begitu besar, kokoh, dan tinggi, cat-nya sedikit terkelupas dimakan usia. Bangunan itu memiliki halaman yang begitu luas dengan pohon-pohon dan semak liar yang tumbuh disekitarnya, tak jarang ranting-ranting pohon itu mengotori jalan, menandakan jika Mansion ini memang sudah begitu tua dan kosong penghuni. Setiap sisi jendelanya berwarna emas yang terlihat masih begitu murni. Begitupula pintu utamanya yang tak kalah angkuh dengan ukiran seekor Basilisk dengan mulut menganga menunjukan taring runcingnya. Tempat ini benar-benar menakjubkan—bisik Sehun dalam hatinya, dia begitu mengagumi arsitektur bangunan tua ini. Baekhyun akan menang taruhan jika begini caranya.
"Rumah ini mengingatkanku pada Malfoy Manor." Suara berat Chanyeol mengisi keheningan yang sempat tercipta karna kekaguman mereka. Mata bulatnya masih memandangi bangunan didepannya dengan decak-decak kagum. Dia penggila serial Harry Potter, asal kalian mau tahu.
"Aku tidak percaya kita masih berada di Korea sekarang." kali ini pemuda berkulit tan yang membuka suaranya, namanya Kim Jongin. Memiliki postur tubuh seperti model dan pandangan mata yang tajam alami. "Aku seperti berada di Eropa jaman 80-an."
"Baby, you rock!" Chanyeol mencium sekilas pipi kekasihnya yang tak lain adalah Baekhyun sebagai bentuk apresiasi. Baekhyun, si mungil yang entah kenapa bisa, menemukan tempat ini ditengah-tengah hutan daerah Gyeongju hanya terkikih kecil mendapat ciuman gemas dari kekasihnya.
"Aku yakin kali ini aku yang menang taruhan."
Jongin melirik Baekhyun dengan dengusan tipis, "Itu bisa dibuktikan jika isi Mansion ini lebih fantastis dari tampilan luarnya."
Sehun mulai mengangkat kamera DSLR yang menggantung dilehernya, "Baiklah, bisa kita masuk saja sekarang?" dengan nada antusias.
"Oke, mari menjelajah!" Seru Baekhyun. Chanyeol mengambil inisiatif untuk membuka gerbang raksaksa didepannya, tangannya meraih handle gerbang tersebut. Tetapi pemuda tinggi itu malah menemukan sebuah kunci gembok besar disana yang menghalangi pergerakannya untuk membuka gerbang itu. Chanyeol berdecak kesal, dan menendang gerbang itu.
"Sial!" Dia mengumpat kasar. "Kenapa harus dikunci sih?"
Tepat setelah tendangan Chanyeol itu, kelelawar beramai-ramai terbang diatas mereka dengan suara pekikan yang nyaring. Seolah-olah meneriakan kemarahan mereka karna ketenangannya yang sudah diganggu. Entah darimana kelelawar itu berasal, mereka tidak tahu pasti.
"Sebaiknya kita lanjutkan penjelajahan ini kapan-kapan saja," Sehun mengambil sebuah keputusan. Bukan karna kelelawar yang mulai mengganggu pandangan mereka, tetapi dia memang merasakan ada sesuatu yang mendesaknya untuk segera pergi dari sini secepatnya. Anehnya, teman-teman keras kepalanya mendadak mengikuti keputusannya dengan mudah. Tidak biasanya.
Keempat pemuda itu segera pergi dari sana tanpa menoleh kebelakang lagi, dimana sosok seorang lelaki memandangi mereka lewat kaca jendela dalam Mansion.
.
.
Schepsel Hel
Oh Sehun, Lu Han.
Warn! Gay Content, Disturbing, Mature Area, Fantasi ketinggian, Typo(s), DLDR.
Original Story belong to ©Anggara Dobby
.
.
Sehun yang kala itu tengah berkutat pada laptopnya sedikit tergiur dengan aroma manis yang datang dari arah dapurnya, dimana Irene tengah sibuk memanggang adonan cupcake-nya disana. Wanita itu terdengar bernyanyi random, suaranya yang awalnya merdu menjadi terdengar aneh ditelinga Sehun, membuat pemuda itu harus mengeluarkan dengusannya. Telinganya terganggu sekarang.
Sehun adalah pemuda yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di Seoul High School setahun lalu, usianya 20 tahun tepat 12 April mendatang dan itu bulan depan. Dia seorang piatu sejak setahun yang lalu, Ibunya meninggal karna sebuah kecelakaan pesawat yang menewaskan puluhan orang. Kesedihan tidak membuat Sehun terpuruk lebih dalam dan berjalan ditempat saja. Dia sadar betul jika apa saja yang didunia ini memang hakikatnya kembali pada Tuhan. Kini, Sehun memilih hidup mandiri bersama Kakak perempuannya di salah satu Apartemen distrik Gangnam. Sementara Ayahnya tinggal bersama pelayan-pelayannya di rumah, pria itu tidak mempermasalahkan perihal anak-anaknya yang ingin hidup mandiri, pria itu selalu menyempatkan diri untuk mampir ke Apartmen mereka dan makan malam bersama. Sehun dan Irene sudah terbiasa bersama sejak kecil, walau kadang terjadi perbedaan pemikiran diantara mereka yang menyebabkan percekcokan kecil. Walau sikapnya yang kadang membuat Irene naik pitam, sebenarnya Sehun menganggap kakak perempuannya sebagai Ibu keduanya. Wanita itu mendengarkan sebagai seorang Kakak dan memberi solusi seperti seorang Ibu. Itulah mengapa Sehun begitu menyayangi Irene walau dia tidak ekspresikan rasa sayang itu secara gamblang.
"Viewers-mu bertambah?"
Sehun mengalihkan sejenak pandangannya dari layar laptop, untuk melihat Irene yang sempatnya sudah berdiri disampingnya. "Ya, setiap menit."
Irene mendengus ditempatnya, "Sombongnya artis youtube ini." Tangannya mengacak surai hitam legam Sehun, yang langsung mendapat tangkisan oleh yang lebih muda.
"Jangan sentuh rambutku. Tanganmu itu pasti kotor." Melirik enggan pada tangan Kakaknya yang penuh tepung. Irene hanya mengendikan bahunya tak peduli dan kembali berkutat pada tugasnya didapur.
Sedikit informasi, Sehun adalah seorang Vlogger, yang dimana channelnya yang bernama The Hunters dikelola bersama oleh teman-temannya yang terdiri dari Chanyeol, Jongin dan Baekhyun. Mereka sering membuat video bersama tentang penjelajahan mereka ke suatu daerah atau tempat-tempat yang dimana menurut orang-orang menyimpan sebuah misteri. Tidak, kalian tidak boleh mempunyai pikiran jika mereka adalah pemburu hantu. Karna Sehun dan teman-temannya hanya senang melakukan perjalanan yang berbeda. Tanpa ada maksud untuk memburu hantu—Ck, Sehun tidak mempercayai hal-hal metafisika seperti itu. Bermula dari Jongin hanya iseng mengupload video perjalanan mereka ke Rumah Yeongdeok ke situs Youtube setahun yang lalu, dan ternyata banyak yang menyukainya dan meminta mereka untuk mengunggah video-video penjelajahan mereka lagi. Hal itu membuat ide pemuda tan itu berkembang, agar mereka membuat Vlog saja. Lumayan, mengisi waktu luang mereka yang membosankan. Biasanya, setiap hari sabtu mereka melakukan taruhan untuk menemukan tempat yang paling menyimpan kemisteriusan, yang menang akan mendapat traktiran selama perjalanan mereka. Dan sampai sekarang yang selalu unggul menemukan tempat-tempat seperti itu adalah Sehun. Vlog mereka terkenal dan subscribe-nya bahkan mencapai ratusan. Bahkan, yang lebih lucunya lagi, ada sekelompok orang yang mengklaim diri mereka sebagai fans The Hunters yang dinamakan HuntersFams. Chanyeol hanya tertawa saat membaca beberapa komentar di channel mereka tentang hal itu, pemuda bertelinga peri itu bahkan berkata; 'Haruskah kita membuat Boygrup agar lebih terkenal?' . Mereka membagi tugas dalam hal ini. Sehun sebagai perekam perjalanan mereka sekaligus bagian editing video, Chanyeol sebagai uploader—terkadang Baekhyun, dan Kai sebagai perekam kedua.
"Cupcake-nya sudah siap." Irene kembali berseru dengan membawa sebuah piring flat yang diatasnya sudah tertata cantik cupcake buatannya. Wanita itu memutar tubuhnya sengaja agar terlihat seperti seorang pelayan di Restoran-restoran Italia.
Sehun yang memang sudah sangat menderita karna rasa laparnya hendak mencomot satu kue diatas sana, tetapi Irene segera menepis tangannya.
"Noona!"
"Untuk tetangga baru kita." Irene memasang wajah angkernya. "Cepat kau antar ini kesana—ingat, kau yang memintanya tadi. Aku akan membuatkanmu makan malam jika kau tidak menyentuh kue itu sama-sekali. Dan, Oh Sehun, bersikap manislah pada tetangga baru kita. Pasang senyum lima jarimu dan katakan 'Hallo' dengan sangat lembut. Oke?"
Oh, Irene dengan segala kecerewetannya yang sudah stadium akhir. "Kau bisa percayakan itu padaku." Ujar Sehun malas-malasan. Mendadak mood-nya untuk bertemu si tetangga baru meluap entah kemana akibat rasa lapar diperutnya yang semakin menggebu-gebu. Irene memang kejam sekali jika sudah menyangkut perihal makanan.
Saat Sehun memegang gagang pintunya, hendak keluar. Irene kembali memanggil, membuat Sehun harus mengerang sebal.
"Apa lagi?" tanyanya dengan ketus.
Irene tersenyum lebar, "Ingat, senyumanmu. Lima jari, oke?"
Hah, Astaga.
.
.
.
.
"Mau selebar apa bibirku terus tersenyum seperti ini?" gumam Sehun dengan jengkel. Bibirnya memang tertarik, niatnya ingin membentuk sebuah senyuman tetapi kenyataannya malah terlihat seperti seorang psikopat sinting.
Jari Sehun menekan bel untuk yang ketiga kalinya, kali ini penuh penekanan, agar orang didalam sana segera keluar dan Sehun bisa langsung menikmati makan malamnya. Permintaannya terkabul, karna si tetangga baru membukakan pintunya—walau hanya beberapa centimeter, menampilkan kepalanya saja.
Senyuman terpaksa Sehun seketika meredup, digantikan sebuah ekspresi yang sukar dibaca. Wajah itu menyapanya. Wajah mungil dengan ukiran yang begitu sempurna. Mata bulat dengan kelereng biru samudera itu memandangnya dalam diam. Lagi, Sehun seperti terhipnotis kala berpandangan dengan mata yang begitu cantik itu. Seperti ada sesuatu disana yang menyedot kesadarannya, begitu mempesona. Bulu matanya yang lentik, hidungnya bangir dan kecil, lalu bibirnya berwarna semerah darah, bentuknya kecil dan ranum seperti buah delima masak. Dia benar-benar menawan dan sempurna, bisik Sehun dalam pikirannya. Kali ini Sehun ingin percaya pada mitologi Yunani tentang kecantikan seorang Dewi, khusunya Afrodit. Mungkin saat ini dia memang dihadapkan oleh seorang Dewi. Rasanya enggan berkedip walau satu kalipun untuk melihat seseorang didepannya. Mereka berhadapan dengan dekat, dan untuk Sehun ini pertama kalinya Ia terpesona pada seseorang dengan pandangan sevulgar ini. Biasanya, Sehun tidak pernah berani berlama-lama memandangi orang yang dikaguminya.
"Mencari siapa?"
Suaranya halus dan lembut, seperti sebuah simfoni yang mengalun indah dalam permainan sang Maestro. Menakjubkan sekali rasanya. Dan Sehun kini tahu dia berhadapan dengan seorang anak lelaki. Selembut apapun suaranya, masih ada khas kelelakian disana.
Sehun berkedip, merasakan matanya mulai perih. Sial, malu sekali rasanya. "Ha-hallo." Sapaan gagap yang bagus sekali, Sehun. "Aku ingin bertemu denganmu—ahm, maksudnya, tetangga baruku."
Orang didepannya membuat pose yang semakin membuat Sehun tidak bisa bernafas dengan benar; dia memiringkan kepalanya sedikit hingga helaian rambut hitamnya yang begitu halus terjuntai ke sisi kanan keningnya; pandangannya tidak berubah sama sekali. Masih datar, tetapi tidak mengurangi sedikitpun kemanisan dalam dirinya. "Tetangga?" dia bergumam kecil.
Sehun mengangguk dan menyodorkan sepiring cupcake ditangannya. "Anggaplah ini sambutan dariku dan Kakakku."
Orang itu tidak buru-buru mengambil pemberiannya, melainkan memandangi kue-kuenya dengan heran. "Apa ini?"
"Apa ini?" ulang Sehun, ikut heran. "Ini Cupcake, kue manis yang sangat digemari orang-orang."
"Kau yang membuatnya?" tanya orang itu, membuat Sehun semakin mengerutkan dahinya dalam-dalam. Seseorang itu menunjuk kearah rambutnya, dan Sehun langsung menyentuh bagian sana. Ada sebuah tepung disana dan itu hasil perbuatan Irene. Sial.
Sehun tersenyum kikuk, "Ya—ehm, maksudnya, Kakakku yang membuatnya." Lagi-lagi salah berbicara.
"Aku tidak bisa menerimanya." Orang itu sudah siap-siap menutup pintunya.
Sehun merasa tersinggung saat itu juga, "Aku tidak menaruh racun disini. Tenang saja, ini hanya kue penyambutan saja. Lagipula, tidak baik menolak pemberian dari seseorang." —itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Sehun ucapkan pada orang asing.
Akhirnya tangan lelaki cantik itu terjulur, mengambil cupcake pemberiannya. Sehun merasakan hembusan udara dingin ketika kulit mereka nyaris bersentuhan.
"Boleh aku tahu, apa kau orang Eropa?" tanya Sehun. Mata biru dengan kulit putih pucat bak selimut salju itu biasanya dimiliki oleh orang-orang Eropa. Lelaki itu tidak menjawab, dan Sehun tidak bertanya apa-apa lagi. Sepertinya dia akan memiliki tetangga yang dingin. Ternyata, rasanya berhadapan dengan orang berkepribadian dingin itu memang tidak menyenangkan. Sehun memang seringkali dijuluki si dingin, tetapi dia tidak merasa sedingin lelaki ini.
"Aku Oh Sehun." Sehun kembali menyodorkan tangannya.
Lelaki bermata biru itu tidak membalas jabatan tangannya, melainkan hanya memandangnya tanpa ekspresi. "Kau tidak perlu tahu namaku karna kita tidak akan menjadi teman." perkataan dingin itu segera diakhiri dengan pintu yang tertutup pelan-pelan.
Sehun mengepalkan tangannya yang masih tergantung bebas diudara, lalu mendengus jengkel. Rasanya kesal sekali diabaikan seperti itu. Apa selama ini orang-orang juga merasakan hal yang sama ketika dirinya bersikap dingin pada orang-orang itu? Jika iya, berarti Sehun mendapatkan karmanya malam ini.
"Cepat atau lambat aku pasti akan tahu namamu." Sehun bergumam pada pintu tertutup didepannya, yang dimana, dibalik pintu itu masih ada seseorang yang bisa mendengarnya.
.
.
.
.
"Berhasil? Apa dia menyukainya?" Irene mengekor dibelakangnya bagai seekor anak ayam dengan mata membulat penuh harap. Sehun tak mempedulikannya, terus berjalan menuju ruangan dimana laptopnya berada. "Bagaimana reaksinya? Apakah gadis itu senang?"
Sehun langsung menghentikan langkahnya. Dia menatap kakaknya dengan kernyitan dahi aneh. Apakah gadis itu senang? — 'gadis?'
"Pertama, kumohon jangan terus mengikutiku seperti seekor paparazzi. Kedua, apakah bibirmu tidak bisa diam? Dan ketiga, Noona, tetangga kita bukan seorang gadis!" ujar Sehun, dengan panjang lebar. bahkan Irene saja menganggap tetangga baru mereka seorang gadis karna wajahnya yang memang bisa dikategorikan seperti seorang wanita—yang sangat cantik.
Irene mengerjabkan matanya, "Bukan seorang gadis?" lalu wanita itu tertawa jengkel, "Lalu apa? Seorang ahjusshi berwajah feminim?"
"Dia lelaki, Demi Tuhan." Sehun juga awalnya tidak percaya pada kenyataan konyol ini. "Dan dia sepertinya tidak bisa diajak bersosialisasi." Ucapan terakhir diakhiri dengan helaan nafas kecil.
Irene tertegun. "Jadi dia benar seorang lelaki, ya? Tapi wajahnya cantik. Kau tadi lihat sendiri, bukan?"
"Sudah kubilang dia lelaki." Dengus Sehun.
"Lelaki dengan wajah seperti itu, apa dia tidak sedih? Aku saja yang melihatnya sedih."
Sehun merotasikan bola-matanya, "Ya karna kau kalah saing dengannya." Pemuda itu segera melarikan diri saat Irene bersiap-siap akan memukul kepalanya.
.
.
.
.
Sehun menenggak softdrink yang baru saja diambilnya dari lemari es kedalam mulutnya. Pria dengan postur tubuh tinggi itu berjalan kearah jendela kamarnya yang terhubung langsung dengan balkon Apartmennya. Laptop-nya dibiarkan menyala diatas ranjangnya, menampilkan sederet pendaftaran sebuah Universitas lewat jalur online. Jika boleh jujur, Sehun benar-benar tidak berminat melanjutkan pendidikannya. Apalagi di fakultas kedokteran. Bukannya bodoh dan malas, Sehun memang tidak punya rencana untuk kuliah, yang dia inginkan adalah menjadi pekerja biasa atau membuka sebuah distro yang nantinya akan digemari oleh kaum muda-mudi. Mungkin saja dia akan kuliah, tetapi dengan syarat harus memakai uangnya sendiri. Sehun tidak mau membebani Irene atau Ayahnya, walau kenyataannya mereka berasal dari keluarga yang berada. Dia sudah cukup dimanjakan selama ini dengan fasilitas yang serba ada. Sehun tidak mau hidupnya selalu serba mudah dan bergantung pada orang lain. Sehun ingin berusaha sendiri. Karna apapun yang didapatkan dari hasil keringat sendiri itu terasa nikmat. Akan ada rasa kebanggaan nantinya.
Sehun merasakan udara dingin menyapanya saat dirinya sudah berada di balkon. Pemandangan daerah Gangnam benar-benar menyejukan matanya dari lantai 12 ini. Bangunan pencakar langit disana-sini, jalanan yang selalu ramai, dan lampu-lampu yang beraneka ragam warnanya menghiasi jalan. Sehun memandangi sebuah layar proyektor disalah satu bangunan pencakar langit yang mengiklankan parfum merk ternama dengan gambar wanita cantik setengah telanjang yang berbaring diselimuti kain satin yang lembut. Sehun mengulas senyum miring tipisnya. Entah sejak kapan dia mulai tidak tertarik dengan wanita. Secantik apapun wanita itu, rasanya Sehun sudah tidak bisa lagi tertarik pada mereka. Mungkin dia seorang gay. Sehun tidak terlalu mempermasalahkan orientasi seksualnya. Semua tergantung pilihan hatinya. Jika hatinya tertuju pada lelaki, kenapa tidak? Asal itu membuatnya bahagia. Walaupun Sehun belum pernah merasakan jatuh cinta pada lelaki sampai saat ini.
Merasa tidak sendirian, Sehun mencoba untuk menoleh ke sisi kiri. Dan saat itu juga udara dingin disini menjadi menyenangkan ketika melihat si tetangga baru juga tengah berdiri dibalkon dengan pandangan lurus kedepan.
Kini, Sehun bisa melihat lelaki cantik itu dari atas hingga bawah. Dia mengenakan sebuah baju lengan panjang berwarna putih polos yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya yang mungil, dan sebuah celana panjang. Dia tidak memakai alas kaki—setidaknya kaus kaki, di cuaca yang cukup dingin seperti ini. Rambut hitam legamnya bergerak-gerak kecil tertiup angin, dan sesekali lelaki itu akan membenarkan poni rambutnya yang menghalangi pandangannya.
Sehun merasa gila.
Dia benar-benar begitu menawan.
Memang, tidak ada hal spesial yang lelaki itu lakukan selain mengangkat tangannya diudara—sepertinya merasakan angin-angin dingin yang membelai kulitnya— dan sesekali senyuman transparannya terukir. Namun, hal itulah yang membuat Sehun tertarik melihatnya.
"Menikmati udara malam, juga?" tanya Sehun. Jaraknya dan si lelaki itu dibatasi oleh pagar besi yang memang dibuat khusus untuk privasi para penghuni Apartmen.
Lelaki itu agaknya terkejut, tetapi pandai menyembunyikan rasa keterkejutannya. Tangannya yang terentang diudara perlahan turun. Dia seperti enggan untuk menjawab, tetapi akhirnya mengeluarkan suaranya juga, "Ya." —sangat singkat, dan nyaris seperti bisikan.
Hening beberapa saat. Sehun tidak tahu harus memulai darimana. Dia memang tidak pandai bergaul pada orang-orang tetapi rasanya tidak seburuk ini. Dia selalu kehilangan kata-katanya saat berhadapan dengan lelaki ini. Lelaki ini begitu pendiam.
"Sepertinya kau bukan orang Korea?"
Lelaki itu menatapnya sesaat, "Aku tinggal dimana-mana." Jawabnya sulit dimengerti. Sehun tidak terlalu menanggapinya dengan pusing.
"Kau tahu, awalnya aku kira kau seorang gadis. Kakakku pun begitu. Jangan tersinggung, wajahmu benar-benar membuatku salah perkiraan." Sehun mencoba mencairkan suasana seraya mengeluarkan kekehan kecil. Tampaknya, hal itu berhasil, terbukti dari lelaki bermata biru safir itu mengulas sebuah senyum tipis.
"Ya, itu sudah sering terjadi." Ucapnya.
Sehun terpana dengan senyum tipis itu. Manis. "Sepertinya aku lebih tua darimu." Sehun menebak umur lelaki didepannya ini berkisar 16 atau 17-tahunan. Wajahnya memang terkesan dingin, tetapi sama-sekali tidak mengurangi kemudaannya.
"Aku jauh lebih tua darimu."
"Yang benar saja," Sehun mendengus geli. "Aku dua puluh. Kau pasti dibawahku."
"Aku dua puluh tiga."
Sehun mengangkat satu alisnya, tidak percaya. Wajah seperti itu berumur duapuluh tiga? Sehun seperti ditampar kenyataan. Dia terlihat jauh lebih muda darinya. Untung saja Sehun belum sempat mengatakan, 'Ini sudah larut malam. Kenapa kau belum tidur, adik kecil?' itu akan memalukan sekali.
"Tapi aku tidak yakin akan hal itu," Si mata biru bergumam.
Sehun bertanya, "Apa maksudnya?"
"Bukan apa-apa."
Sehun memandangi laki-laki itu dengan lama, mengamati wajahnya yang menawan dibawah sinar bulan. Tidak ada kata bosan memandanginya. "Kau tidak berniat memberitahu namamu, memangnya?" Sehun merasa dirinya tidak beda dengan Jongin sekarang. Suka mencari kesempatan dalam kesempitan.
Lelaki mungil itu mengulum senyumnya. "Kau tidak akan ingin mengenalku."
"Jika aku tidak ingin mengenalmu, maka aku tidak akan mengajakmu mengobrol daritadi." Sepertinya Sehun mulai tertarik dengan lelaki ini.
Yang lebih pendek tidak menjawab, hanya menatap Sehun seperkian detik lalu kembali memandang lurus kedepannya. Sikap dingin dan tidak banyak bicaranya membuat Sehun semakin penasaran padanya. Bukannya merasa tersinggung, Sehun justru semakin ingin mengenalnya, mendekatinya. Ada sesuatu yang menarik dari lelaki bermata cantik ini yang membuat Sehun ingin terus masuk kedalam jeratan pesonanya. Dia memiliki sinar kemisteriusan yang sulit dijelaskan.
"Ru!"
Suara baritone seorang lelaki memanggil dari arah dalam. Lelaki mungil itu mengalihkan pandangannya dari lampu warna-warni dibawah sana, dan membalikan tubuhnya. Sehun tidak tahu itu suara siapa, mungkin seseorang yang tinggal bersama lelaki didepannya ini.
"Selamat malam." Lelaki mungil itu tersenyum tipis padanya, lalu berjalan meninggalkan balkon.
Selamat malam?
Kalimat tidak berarti itu berhasil membuat Sehun senang bukan main.
Sehun balas tersenyum dan mengangkat satu telapak tangannya diudara, gesture 'sampai jumpa'. Dia melihat si mungil itu masuk kedalam kamarnya, menutup jendela beserta gordennya rapat-rapat.
"Ru? apa itu namanya?" gumam Sehun.
Sehun rasa dia memang tertarik pada laki-laki. Dan yang bernama Ru.
.
.
.
.
.
Suasana rumah makan siang itu cukup ramai oleh anak-anak SMA dari berbagai sekolah yang bercengkerama dengan teman-teman sesamanya, cukup berisik dan heboh. Sehun melihat temannya yang bertubuh tinggi menjulang cukup kewalahan menangani pesanan disana-sini. Baekhyun bahkan harus membantunya, walau kenyataannya pemuda mungil itu tidak bekerja dikedai ini. Membantu kekasih sendiri tidak ada salahnya 'kan? Baekhyun mengatakan itu saat Sehun bertanya sempat bertanya tadi. Baekhyun yang benci bau keringat anak sekolah itu rela berada ditengah-tengah anak sekolahan dan menanyai mereka ingin memesan apa, demi membantu sang kekasih, Chanyeol.
"Kapan pesananku sampai? Perutku sudah mengadakan konser daritadi." Jongin mengeluh dengan tangan mengelus-elus perutnya yang berbunyi memalukan.
"Chanyeol masih sibuk, kenapa kau tidak sabaran sekali sih?" Sehun sudah cukup sabar mendengar keluhan tentang 'perutku lapar' dari Jongin sejak sepuluh menit yang lalu.
"Berapa lama lagi aku menunggu? Kau mau aku mati?"
"Ya, dengan senang hati aku akan menguburmu."
Jongin berdesis jengkel, "Keparat memang cocok jadi julukanmu, Sehun."
Tidak lama kemudian, Chanyeol dan Baekhyun bergabung bersama mereka membawa beberapa piring makanan yang akan menjadi menu makan siang mereka. Jongin berbinar-binar melihat makanan berjajar rapi dimeja mereka, apalagi saat matanya melihat ada ayam goreng disana, semakin laparlah Jongin. Dia freak ayam goreng asal kalian tau. Dia bahkan mendahului teman-temannya untuk makan.
"Sudah kukatakan untuk tidak berkumpul dikedai Ibuku. Ujung-ujungnya aku harus jadi pelayan dadakan disini." Chanyeol terlihat kesal sendiri, seraya menghapus jejak keringat didahinya. Pria itu melepas apron coklat yang bertuliskan Vivapolo—nama kedai Ibunya— yang melekat ditubuhnya, dan menaruhnya asal.
"Membantu Ibumu, apa salahnya sih?" ujar Sehun. "Lagipula jika kita berkumpul disini akan mendapatkan diskon untuk makan."
Chanyeol menyempatkan diri memukul kepala Sehun. "Sialan kau. Bisa bangkrut bisnis Ibuku nanti."
"Jadi, Baekhyun, mengapa kau mengajak kami berkumpul disini?" tanya Jongin dengan mulut penuh makanan. Pemuda tan itu akhirnya tersedak sendiri, tangannya heboh meraih-raih minumannya.
Baekhyun mengernyit jijik melihat cara makan Jongin yang bar-bar. "Begini, dua hari yang lalu kita gagal masuk ke bangunan tua di Gyeongju, dan aku ingin kita berhasil masuk kesana minggu depan. Chanyeol sudah kutugaskan untuk membuat kunci duplikat gerbang disana. Dan mungkin akan selesai berapa hari lagi, Chan?"
"Dua hari lagi." Jawab Chanyeol. "Bentuk lubang kuncinya cukup rumit, aku perlu beberapa hari untuk membuatnya."
"Kau yakin ingin masuk kesana?" tanya Sehun.
Sudah banyak tempat misterius yang mereka kunjungi, dan selama itu pula mereka selalu mengalami banyak kejadian aneh yang tak lazim. Tetapi untuk pertama kalinya, Sehun cukup ragu untuk kembali mengunjungi bangunan tua yang ditemukan oleh Baekhyun. Tempat itu sangat berbeda dari destinasi-destinasi yang mereka pernah kunjungi. Bukan hanya bangunan megahnya yang terlihat kaya akan misteri, tetapi aura mencekam disana juga sangat berbeda. Tidak. Bukannya Sehun mulai mempercayai hantu, aura yang dia rasakan lebih dahsyat jika dideskripsikan dengan kata 'hantu'. Sehun sulit untuk menjabarkannya.
"Apa kau mulai takut, Sehun?" Baekhyun menaik-turunkan alisnya menyebalkan.
"Yang benar saja." Sehun mendengus.
"Hey, man. Apa yang kau takuti? Bukankah dalam teori hidupmu makhluk-makhluk metafisika itu tidak ada?" sahut Jongin. Anak itu kembali tersedak makanannya, Sehun mendengus puas melihatnya.
"Jongin, kau menjijikan." Baekhyun akhirnya mengutarakan pikirannya. "Jangan bicara selagi makan!"
"Yes, mom."
"Siapa yang kau panggil 'Mom'?" Baekhyun menggebrak meja mereka, membuat beberapa piring makanan nyaris jatuh kalau saja Chanyeol tidak buru-buru menangkapnya. Sehun mendesah melihat kelakuan teman-temannya yang menarik perhatian pelanggan lain.
"Kau 'kan Mom, dan Chanyeol Dad-nya. Aku dan Sehun adalah anak kalian berdua." Sepertinya Jongin memang makhluk paling keras-kepala didunia ini. Dia kembali berbicara disela-sela makanannya, padahal sudah dua kali tersedak. Selain keras kepala, dia juga begitu menyebalkan dimata Baekhyun.
Baekhyun nyaris melempar Jongin dengan sendok makannya, "Aku tidak sudi punya anak sepertimu." Desisnya, kejam.
"Biarkan saja, Baek. Anggaplah dia anak adopsi yang kita ambil dari tempat sampah." Chanyeol menyahuti enteng. Jongin sukses tersedak untuk yang ketiga kalinya mendengar kalimat sadis itu.
"Kenapa kau jadi ikut-ikutan sih, Chan?" Baekhyun berujar kesal.
Chanyeol hanya menampilan deretan giginya yang rapi, persis model iklan pasta gigi ternama.
"Jadi, inti dari pertemuan kita kali ini adalah minggu depan kita berangkat lagi ke Gyeongju?" tanya Sehun, mengambil potongan gurita dipiringnya dengan sumpit lalu memakannya. Masakan Mrs. Park memang yang terbaik dilidahnya.
Baekhyun mengangguk, kelewat antusias. "Ya. Aku sangat suka desain bangunannya yang klasik. Aku ingin foto-foto disana dan mengepost-nya di Instagram."
"Jadi tujuanmu hanya itu?" tanya Sehun, tak percaya. Baekhyun itu memang gila sosial media.
"Tentu saja tidak. Aku sangat penasaran dengan bangunan itu, sampai-sampai pernah aku bermimpi masuk kedalam bangunan tua itu."
"Lalu apa yang terjadi didalam mimpimu? Apa ada seorang gadis cantik yang menghuni mansion itu?" tanya Jongin, tidak berguna.
Baekhyun menggeleng, "Bukan. Yang terjadi aku dikejar-kejar oleh seorang pria yang wajahnya tertutup tudung hitam. Dia membawa sebilah pisau, tetapi untungnya saat aku nyaris ditangkap, Ibuku membangunkanku."
Hening.
"Hey, itu hanya mimpi! Jangan karna mimpiku rencana kita akan berakhir sia-sia." Sambung Baekhyun ketika melihat wajah teman-teman beserta kekasihnya yang sulit dibaca. Mereka bertiga hanya terdiam, membuat Baekhyun ingin terbahak. Apa tiga lelaki berbadan besar didepannya ini takut hanya karna mendengar ceritanya? Oh, lucu sekali. Walau tubuhnya mungil seperti ini, Baekhyun yakin jiwanya lebih berani dari tiga orang didepannya.
"Ya, it's just dream! Apa masalahnya?" Jongin tertawa untuk mencairkan suasana, dan itu berhasil. Mereka kembali makan bersama diselingi obrolan ringan.
.
.
.
.
.
.
Sehun kembali ke flat-nya ketika jarum jam menunjukan pukul enam sore. Ditangan kanannya ada secarik kertas pemberitahuan tentang kelulusan test-nya di sebuah Universitas Kedokteran Forensik ternama di Seoul. Wajahnya terlalu datar untuk ukuran orang yang baru saja lulus dari test-nya. Sehun mendesah kasar, merasa kebahagiaannya akan terenggut mulai sekarang. Irene pasti bahagia sekali mendengar kabar buruk ini. Sehun bersumpah, dia tidak menggunakan otaknya ketika menorehkan tintanya diatas lembar jawaban, karna memang bukan keinginannya untuk masuk ke sebuah fakultas kedokteran. Tapi, ajaib sekali karna tulisan 'Lulus' dengan huruf kapital dan tebal tertulis dikertas hasil test-nya. Sehun bahkan tidak terlalu mengerti tentang metabolisme tubuh, anatomi, biosains, fisiologi—apalagi ilmu-ilmu kedokteran lainnya yang rumit. Dia harus bersiap-siap di drop out pada awal semester nanti.
Sehun memegang handle pintunya, bersiap membukanya. Tetapi seseorang yang baru saja keluar dari pintu sebelah cukup menarik perhatiannya. Pria tinggi dengan setelan casual-nya keluar dari sana. Bukan urusannya padahal, tetapi Sehun cukup penasaran dengan pria itu. apa dia seseorang yang tinggal bersama 'Ru'? Kelihatannya masih muda dan dia cukup oke.
Pria itu menoleh kearahnya, Sehun harus tersenyum tipis untuk menyapanya, hanya formalitas. Tetapi pria tinggi itu tidak merespon, berjalan melewatinya begitu saja. Mata kiri Sehun berkedut jengkel melihatnya. dia hanya mencoba bersikap ramah, tetapi balasannya mengesalkan seperti itu. Sehun berasumsi jika orang-orang yang tinggal disebelah flat-nya adalah orang-orang berwajah tanpa ekspresi—termasuk dirinya, mungkin.
Mengabaikan perasaan jengkelnya, Sehun masuk kedalam flatnya. Irene belum pulang dari kerjanya, mungkin wanita itu akan pulang larut malam lagi mengingat pesan teks yang dikiriminya beberapa jam lalu berisi informasi jika dia harus mengautopsi mayat pembunuhan bersama rekan-rekannya. Well, itu artinya Sehun harus memasak sendiri lagi untuk makan malamnya.
Sebelum masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh tubuhnya, Sehun menyempatkan diri untuk membuka jendela kamarnya terlebih dahulu. Penglihatannya langsung disuguhi panorama matahari yang tenggelam di ufuk barat, hari mulai gelap. Selain pagi hari, Sehun juga menyukai sore hari dimana matahari mulai terbenam dari perpaduannya. Dia menyukai terbit dan terbenamnya matahari. Menoleh tak sengaja kesamping kanan, Sehun mendapati tetangga barunya juga baru membuka jendela kamarnya. Bibirnya langsung tak terkendali, mengulas sebuah senyum simpul melihat si mungil itu yang tampaknya juga menyukai pemandangan matahari terbenam.
"Cantik sekali, bukan?"
Lelaki mungil itu menoleh kearanya dengan bingung, "Huh?" Wajahnya agak pucat. Sehun tidak mau memikirkan jika si mungil itu tengah sakit.
"Mataharinya." –dan juga dirimu.
"O—oh, ya. Tentu saja." Lelaki itu tersenyum samar. Sehun jadi berpikir, apa tersenyum tulus itu hal yang sangat sulit untuknya?
"Baiklah, aku harus mandi. Nikmati soremu," Sehun hendak meninggalkan jendelanya, tetapi suara halus lelaki itu membuatnya enggan untuk mengangkat kakinya.
"Hei,"
Sehun langsung menyahut cepat, "Ya?"
Lelaki itu mengulurkan tangannya yang dibeberapa jarinya dilingkari cincin perak yang cantik, "Aku Luhan."
Senyuman Sehun benar-benar terukir saat itu juga seiring tangannya yang meraih tangan lelaki itu, menjabatnya—atau menggenggamnya, dengan erat. Lembut dan dingin rasanya. Menakjubkan, seperti ada aliran listrik menyengat ketika kulit mereka bersentuhan. Dan Sehun merasa panas. Gairahnya mendadak naik hanya dengan sebuah sentuhan tak berarti. Dia terangsang.
"Aku tahu kau pasti akan memberitahu namamu. Senang mengenalmu, Luhan."
.
.
.
.
.
a/n :
Dutch/Belanda-Schepsel Hel
Bahasa-Makhluk Neraka
FF ini bakal banyak sex activity-nya, so yang masih underage, pls lah dek—woy inget umur lo gar!—closetab aja ya ;) tapi kalo masih keras kepala, yaudah sih gapapa. Untung-untung nambah pengetahuan tentang persilangan genetik(?)
Haha.
Btw, saya lagi kecewa nih, EXO di anak tiri-kan oleh pihak-pihak yang gak bertanggung jawab. Kalian pasti tau kan siapa 'mereka'? rasanya kesel, ugh. /backsound Unfair koplo vers/
Ketjup basah,
Anggara Dobby.
