Naruto menatap kulitnya yang berubah warna menjadi merah, "Apakah ini salah satu fungsi obat itu? Apa obat itu juga meningkatkan sensitivitas terhadap hormon erythropoietin? Kalau benar, berarti ototku mendapat oksigen yang cukup." Naruto pernah membaca suatu artikel, dalam sebuah blog. Di blog itu dijelaskan fungsi EPO atau hormon erythropoietin. Singkatnya, fungsi EPO adalah meningkatkan produksi sel darah merah ketika tenaga sedang dikonsentrasikan untuk dikerahkan. Hal ini membuat otot mendapat oksigen yang cukup ketika berolahraga atau beraktivitas berat lainnya.

Zabuza memberi kode, kepada pria yang membawa senapan kecil. Pria itu mengangguk singkat, dan mulai berjalan mendekati kontainer tempat Naruto bersembunyi. Pria itu berjalan pelan, penuh kewaspadaan. Senapan kecilnya selalu siap memuntahkan timah panas, kapanpun dia mau.

Naruto menyeringai, "Mari kita coba fungsi obat itu." Pemuda berambut kuning itu berkonsentrasi, mencoba mengangkat kontainer seberat sepuluh ton itu. Wajahnya dipenuhi peluh, bahkan otaknya hampir overload, akibat terlalu keras berkonsentrasi.

"Sialan, Orochimaru pasti bohong, soal kegunaan obat itu yang mampu meningkatkan potensi penuh otak!" Kata Naruto kesal. Pasalnya dari tadi, dia berkonsentrasi mencoba menggerakan kontainer menggunakan telekinesis. Tapi benda itu tidak bergerak sedikit pun.

Memijit kepalanya yang terasa berdenyut-denyut, "Apa obat seperti itu benar-benar ada?" Tanyanya pada diri sendiri.

Kemudian Naruto menyadari sesuatu, "Apa obat itu merangsang potensi otak ketika beraktivitas? Hehehehe, kalau benar, aku hanya perlu mencoba mengangkat kontainer dengan konsentrasi penuh. Barulah otak bekerja, saat adrenalin terpacu." Entah dari mana Naruto dapat berpikir seperti itu, seperti bukan dirinya saja.

Kedua tangannya meraih bagian bawah kontainer, dan mulai mengangkatnya dengan sekuat tenaga. Perlahan kontainer seberat sepuluh ton itu terangkat. Wajah Naruto menegang, dan otot-otot dalam tangannya bereaksi. Terlihat tonjolan-tonjolan kecil, dalam kulit tangannya.

"Oi kau, cepat menyingkir dari sana!" Teriak Zabuza pada temannya yang mengintip Naruto, dari sisi lain kontainer. Baru saja pria itu mau berlari menjauh, kakinya tersandung tubuh temannya yang tergeletak di atas tanah. Membuatnya jatuh terjerembab. Belum sempat berdiri dari jatuhnya, tubuh pria itu sudah tertindih kontainer yang diangkat Naruto.

"Kyaaaa...!" Teriak anak-anak yang melihat kejadian itu. Mereka berteriak ketakutan.

Dari bawah kontainer, darah mengalir menggenangi sekitarnya.

Zabuza diam mematung, sedetik kemudian. Kakinya tiba-tiba lemas tak bertenaga, dan tubuhnya limbung hampir terjatuh. Dia syok, setelah melihat kejadian mengerikan yang terjadi di depannya.

"Haku turunlah." Kata Zabuza lemah. Pria berambut panjang yang berdiri di atas kapal itu mengangguk patuh. Dia melompat turun dari kapal, dan berjalan menuju ke arah Zabuza.

"Kita menyerah...!" Teriak Haku dan Zabuza bersamaan.

Naruto terkejut, sebelum tersenyum. Pemuda itu menyuruh Haku dan Zabuza menjatuhkan senjata yang mereka bawa.

"Well, kemana teman cebol kalian tadi?" Tanya Naruto. Pemuda itu tidak melihat Gatou dari tadi. Padahal sebelumnya, pria pendek bertubuh gemuk itu berdiri di atas kapal, bersama Haku.

Haku dan Zabuza saling pandang. Mereka berdua juga bingung, pasalnya, sebelumnya Gatou terlihat berdiri di pinggir kapal. Tapi sekarang yang mereka lihat hanya anak-anak yang menangis tertahan.

"Sial dia kabur!"

"Tenanglah, aku masih bisa melihatnya di tengah laut." Kata Naruto. Pemuda itu samar-samar melihat titik kecil di tengah laut, dia berasumsi titik itu adalah Gatou yang sedang menaiki perahu cadangan.

"Boleh pinjam pedangnya?"

Zabuza segera memungut pedangnya dari atas tanah. Kemudian menyerahkan pedang itu pada Naruto. Pemuda itu segera meraih pedang besar milik Zabuza, dan mulai memutar-mutarkan pedang besar itu, seolah pedang besar itu terasa ringan di tangannya.

"Terima hadiahku ini paman" Naruto melemparkan pedang itu sekuat tenaga, ke arah laut. Seperti misil yang ditembakkan, pedang itu meluncur dengan begitu cepat.

"Hei kenapa kamu membuang pedang berhargaku? Pedang itu merupakan salah satu dari tujuh pedang legenda, dan ditetapkan sebagai salah satu harta nasional." Naruto menggaruk belakang kepalanya, canggung.

"Hehehe, nanti setelah kalian keluar dari penjara. Bisa kalian cari di perahu paman tadi, pedang itu sudah menancap di perahunya." Kata Naruto dengan wajah tanpa dosa. Zabuza menepuk dahinya, frustasi. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Waktu terus berlalu, dan tidak dapat diputar kembali. Dia hanya bisa merelakan pedang kesayangannya tenggelam di dasar laut.

Haku menatap Naruto dalam diam, pria cantik itu tidak percaya, atas pernyataan Naruto. Yang benar saja, jaraknya dengan perahu Gatou terlalu jauh. Dia bepikir, pemuda di depannya mengarang, soal pedang Zabuza yang menenggelamkan Gatou. Menurutnya itu semua hanya alasan, supaya Zabuza tidak bisa menyerangnya secara tiba-tiba, saat dia lengah.

Naruto terus meminta maaf pada Zabuza, sedangkan pria penuh perban itu terus menangis, meratapi nasib pedang kesayangannya. Frustasi karena Zabuza tidak berhenti bersedih, Naruto memilih melihat kondisi anak-anak.

"Anak-anak cepat naik ke kontainer truk, Onii-san akan mengantar kalian ke rumah sakit." Kata Naruto saat melihat kondisi mereka yang terlihat berantakan.

Mereka mengangguk dan mulai berlari menaiki kontainer truk. Seorang gadis kecil menarik ujung jaket Naruto, membuat pemuda berambut kuning itu menolehkan pandangan kepadanya.

Naruto berjongkok mensejajarkan tingginya, dan mulai mengusap ujung kepala gadis itu. Senyumannya mengembang, saat melihat ekspresi gembira dari wajah anak itu.

"Terima kasih." Kata gadis itu. Naruto semakin melebarkan senyumannya, dia menyuruh gadis itu naik ke atas kontainer. Pemuda itu berjanji, akan menelpon polisi. Supaya polisi bisa mengembalikannya pada orang tuanya.

.

.

.

Klakson mobil berbunyi nyaring, bukan hanya sekali. Tapi berkali-kali. Di halaman rumah sakit yang luas, mobil truk kontainer berhenti di situ. Mobil itu berkali-kali membunyikan klaksonnya, membuat semua orang yang menghuni di dalam keluar, berhamburan.

Seorang dokter terlihat membuka kontainer, mencoba melihat isi di dalamnya. Betapa terkejutnya dokter itu, saat melihat puluhan anak di bawah umur duduk diam di dalam.

Segera dokter itu memanggil perawat yang berjaga, dan memanggil dokter lain yang belum pulang. Satu persatu anak-anak di turunkan dari dalam kontainer, dan tinggal menyisakan dua pria dewasa yang terikat di dalam kontainer.

Seperti janji Naruto, polisi segera datang ke tkp. Polisi mengecek kondisi mereka, sebelum mendata satu-persatu.

"Mereka semua adalah korban penculikan!" Kata salah satu dokter terkejut, saat mendengar perkataan polisi yang mengatakan bahwa mereka merupakan korban penculikan.

"Kepala polisi Konoha akan segera kemari, untuk mengkonfirmasi pada wartawan. Supaya menyiarkan berita ini secepatnya, supaya orang tua korban dapat melihat kondisi anak-anaknya." Kata polisi yang bertugas.

Dokter itu mengangguk mengerti, dia mulai memeriksa kondisi anak-anak dibantu dokter lain dan beberapa perawat.

"Lalu siapa dua orang pria yang masih terikat di dalam?" Polisi itu bertanya pada dokter, sedangkan yang ditanya cuma berkata tidak tau.

Seorang gadis kecil yang sebelumnya berbicara pada Naruto berjalan mendekati polisi. Gadis kecil itu mulai menceritakan semua kejadiannya, pada polisi yang bertugas. Dia bercerita mulai dari bagaimana dia diculik, sampai pada penyelamatan tidak masuk akal yang dilakukan Naruto.

Polisi itu segera berlari ke arah mobilnya, dan menghubungi temannya yang berpatroli disekitar pelabuhan.

"Lalu kemana perginya sang pahlawan?" Polisi itu bertanya pada dirinya sendiri. Dia heran dengan pahlawan yang diceritakan anak-anak korban penculikan, tentang aksinya yang tidak masuk akal. Seperti mengangkat kontainer seberat sepuluh ton, atau melompat melewati kontainer seolah pria itu bisa terbang. Kepala polisi itu tidak pernah berhenti berdenyut, setelah mendengar kisah pahlawan berambut kuning dari anak-anak.

Polisi itu tau, bahwa yang mereka ceritakan adalah kenyataanya. Bukan sebuah dongeng karangan, dari buku novel.

Mobil sedan berwarna silver berhenti tepat di samping mobil polisi. Pintu terbuka, memperlihatkan sosok pria muda berusia dua puluh tahunan. Rambut hitam panjang, dengan pupil onix matanya terlihat tajam. Dia terlihat memakai kemeja putih, yang dibalut jas hitam.

Polisi yang melihat segera memberi hormat ke arahnya, "Aku minta berkas laporannya." Pria muda itu berkata pada polisi yang bertugas.

"Baik, Itachi-sama!" Kata polisi itu pada pria muda di depannya yang ternyata adalah atasannya. Sang polisi dengan cepat menyerahkan data yang sudah ia peroleh, ke atasannya itu. Mata Itachi bergerak liar, membaca kata demi kata dalam catatan tersebut.

"Ini seperti film aksi saja! Jangan bercanda, mana mungkin ada manusia yang mampu mengangkat Kontainer, seorang diri." Itachi menolak percaya, menurutnya itu semua tidak bisa diterima akal sehat.

Glup! Polisi itu meneguk air liurnya dengan susah payah, sebenarnya dia sendiri juga menolak untuk mempercayainya tapi apa mau dikata itulah fakta yang sebenarnya terjadi.

"Sebenarnya saya juga ragu, tapi laporan itu menurut beberapa saksi, Itachi-sama." Kata polisi itu.

"Siapa saja saksinya?" Itachi bertanya dengan nada suara tegas, terkesan seolah mengintimidasi lawan bicaranya.

Polisi yang ditanyai langsung berkeringat dingin, dia menjadi gugup dan gemetar untuk sesaat. Tapi setelah itu, dia kembali mampu mengendalikan dirinya, "Anak-anak korban dan..."

Polisi itu mengambil jeda sejenak, Itachi pun ikut terdiam. Pemuda Jenius dari keluarga Uchiha itu masih setia menunggu jawaban bawahannya.

"... Zabuza kriminal kelas A dan Haku." Sambung polisi tadi. Sebenarnya Itachi cukup terkejut, mengetahui fakta bahwa kriminal sekelas Zabuza bisa tertangkap oleh seorang bocah kemarin sore. Seluruh informasi yang diserap Itachi malam ini membuat otaknya oveload sesaat, pemuda itu sedang dilanda pusing. Dipijatnya pelan pelipis dan kepalanya, untuk mengurangi rasa pusing yang tengah melanda.

"Sepertinya ucapan almarhum paman Obito benar! Bahwa kelak, dunia ini akan diisi oleh mutan dan manusia berkekuatan super. Apakah kelak manusia normal mampu bertahan hidup? Atau ikut terseret menjadi seperti mereka?"

.

.

.

Seminggu berlalu, namun berita mengenai kasus penculikan belum surut disiarkan di televisi. Malah beritanya menjadi semakin heboh, sampai tersebar ke luar negeri. Anime dan Sinetron tentang Naruto marak tayang di televisi. Poster dan sepanduk tentangnya juga tersebar di sepanjang jalan kota Konoha. Film dokumenter tentang masa kecilnya yang kelam tidak luput ikut dipublikasikan, padahal kenangan itu begitu menyakitkan untuk diingat. Warga desa tempat tinggal Naruto yang dulu membencinya, karena sering mencuri makanan dan membuat onar. Kini berbalik memuja dan menghormatinya.

"Selamat, sekarang kamu sudah terkenal." Kata Orochimaru menyindir. Pria itu harusnya ikut masuk berita karena ikut membantu bersama Kabuto. Tunggu, dia lupa kalau ternyata dia bersama Kabuto pingsan di dalam mobil setelah kejadian menegangkan minggu lalu.

"Tsh, sekarang di mata orang-orang aku adalah pahlawan. Tapi kenyataannya aku hanyalah budak seorang kriminal yang mencoba bersikap seperti pahlawan." Kata Naruto. Menanggapi omongan Orochimaru.

"Budak? Uh sakit. Padahal aku menganggapmu rekan kerjaku nak." Kata Orochimaru dengan nada sedih yang dibuat-buat.

"Rekan dari mana? Menurut penglihatanku, kau cuma menganggapku seorang mitra." Orochimaru nyengir kuda, mendengar balasan Naruro yang membuatnya bungkam. Ia tidak menyangka, pemuda kuning yang sebelumnya bodoh dengan IQ dibawah rata-rata. Sekarang telah berubah menjadi super jenius setelah meminum pilnya. Bahkan, kejeniusannya sudah melebihi dirinya.

Mereka kemudian terdiam untuk beberapa saat, "Aku ada misi untukmu nak." Kata Orochimaru serius.

Naruto mendengus kasar, " Mengantar barang?" Setelah itu bertanya dengan nada sinis. Sebenarnya ia ingin menikmati liburannya lebih lama, tapi apa mau dikata. Tugas tetaplah tugas, dan dia sudah berjanji untuk melakukan semua tugas yang diberikan Orochimaru.

Orochimaru paham, pemuda di depannya ingin menikmati libur musim panasnya lebih lama. Tapi dia juga tidak mau, mengalami kerugian. Dengan menolak, pesanan barang pelanggannya.

"Kali ini kamu akan kembali ke Konoha..." Ekspresi wajah murung Naruto langsung berubah drastis. Setelah mendengar kata 'Kembali ke Konoha'. Orochimaru memang berniat memberi jeda pada ucapannya, supaya dia dapat melihat reaksi Naruto.

"Ada seorang Atlet beladiri yang memesan obat doping padaku."

"Doping? Bukannya dia bisa di diskualifikasi?" Naruto tidak menyangka, ada orang yang begitu bernafsu ingin menang sampai menghalalkan semua cara. Padahal peraturan kompetisi, melarang setiap pesertanya menggunakan doping. Dan bila ketahuan bukan cuma di diskualifikasi, tapi resiko terburuknya adalah pencabutan atau larangan menjadi Atlet.

Orichimaru menyeringai, "Asal kau tau, ini masih tahap awal kompetisi. Jadi mereka tidak akan melakukan sesuatu seperti tes doping. Lagi pula, obat itu hanya sample. Aku ingin mencobanya saja." Kata Orochimaru santai, padahal niatnya adalah menjadikan sang atlet sebagai kelinci percobaannya.

"Apa?"

"Suatu saat orang-orang akan mengantri lama untuk membelinya,"

"Obat itu berguna untuk meningkatkan rangsangan pada jantung, dan meningkatkan kekuatan pada otot sampai batasnya. Jadi atlet dapat bertanding dengan lebih baik,"

Orochimaru terus berbicara, dan Naruto hanya diam mendengarkan, "Obat ini terbuat dari elemen uap yang sangat mudah diserap oleh tubuh, setelah kamu menggunakannya. Hebatnya, obat itu tidak terdeteksi dalam tes darah atau pun tes urin. Bukankah itu sempurna? Seperti sihir, kalau aku menyebutnya." Mata Naruto membulat sempurna, setelah mendengar penjelasan Orochimaru.

"Kemana aku harus mengantarnya?"

"Bukit Konoha."

"Bukit Konoha? Bukannya itu letaknya jauh di dalam hutan kematian? Apa dia gila, melakukan transaksi di tempat berbahaya seperti itu."

"Entahlah, tapi berhati-hatilah."

"Tsh, baiklah setengah jam aku selesai."

"Oke, ku tunggu di bawah." Setelah itu Orochimaru berjalan menjauh, dan pergi keluar dari kamar Naruto.

"Apa tidak ada tempat yang lebih berbahaya untuk melakukan transaksi?" Naruto berkata pada dirinya sendiri.

.

.

.

Tbc...