Missing Hou © ddideubeogeo17
.
.
.
Hana
Dul
Set
Enjoy it~
.
.
.
Sosok lelaki tinggi berkulit putih dengan wajah sangat tampan terlihat tengah berlari membelah koridor sekolah yang sudah sepi itu. Matanya beberapa kali teralih pada jam di pergelangan tangannya, dan saat tersadar jika waktu sudah hampir menunjukan pukul enam petang ia pun menambah kecepatan laju larinya.
BRAK
Pintu kelas itu terbuka dengan brutal, sedangkan sang pelaku terlihat tidak merasa bersalah sama sekali. Ia membungkukan tubuh, berusaha menetralkan deru napasnya yang tidak beraturan setelah berlari.
Dan saat menegakan tubuh, sontak ia berdecak melihat hal yang ditangkap sepasang netranya. Sepasang tungkai jenjangnya melangkah dengan perlahan, berhati-hati tidak menimbulkan suara agar sosok manis yang tengah tertidur lelap itu tidak terbangun.
Lelaki tinggi itu melepaskan jaketnya dan meletakannya di punggung si manis, namun akibat pergerakannya membuat sosok yang tertidur itu jadi terbangun.
"Hoam~ Eung? Minu hyung?"
"Hm."
"Hyung sudah selesai?"
Bukannya menjawab, Minwoo justru mengusak surai lelaki yang baru saja terbangun, "Kenapa masih di sini?"
"Eoh? Aku menunggu hyung."
"Ck. Aku tidak perlu ditunggui, Hou-ya." ujarnya acuh. Howoo justru menyunggingkan senyum polos yang benar-benar mampu melelehkan hati siapapun, bahkan sosok sedingin Kim Minwoo.
"Tapi aku mau menunggui Minu hyung agar bisa pulang bersama." Jika Howoo sudah jawab begitu, tentu saja Minwoo tidak bisa berkata apapun lagi. Ia hanya mengangguk, "Ya sudah, ayo pulang."
Tanpa berniat untuk menunggu Howoo, Minwoo pun berlalu pergi.
"Hyung tunggu Hou!" dengan terburu-buru Howoo mengenakan tasnya dan segera menyusul Minwoo. Baru berdiri ia tersadar ada sesuatu yang berbeda, dan ternyata memang di bahunya sudah tersampir jaket hangat milik sosok yang dikaguminya itu. 'Hangat, gomawo Minu hyung!' batinnya senang.
"Hou-ya cepatlah, langit sudah mulai gelap!" seru Minwoo menoleh ke belakang.
"Ne hyung!" jawab Howoo semangat dan memakai jaket itu dengan benar.
Sepasang anak adam dengan kepribadian yang sangat berbeda itu terlihat berjalan berdampingan.
"Minu hyung kenapa ke kelas ku?"
"Kebetulan lewat saja."
"Oh, begitu." lirih Howoo. Entah kenapa ia merasa ada kekecewaan di sudut hatinya, namun sedetik kemudian ia menggeleng keras, 'Eh? Untuk apa juga kecewa? Justru masih untung Minu hyung menghampiriku, jika tidak mungkin saja petugas keamanan yang akan mengusirku dari sekolah.' lirihnya.
Minwoo melirik dari ekor matanya, ia melihat lelaki manis bermarga Kwon yang setahun lebih muda darinya itu tengah menggeleng-gelengkan kepala dan terlihat bibir kissablenya seperti tengah menggumam.
"Kenapa?"
"N–ne?!"
"Kau ingin bicara sesuatu, Hou-ya?"
"Tidak hyung, tidak." ujar Howoo sambil menggelengkan kepalanya panik.
Minwoo hanya mengedikan bahu dan berjalan mendahului Howoo, tanpa bisa ditahan seulas senyuman manis terukir di wajah tampannya. Minwoo menahan tawa saat melihat tingkah polos Howoo yang tidak menyadari jika lirihannya itu sebenarnya terdengar oleh Minwoo.
"Ish Minu hyung jangan tinggalkan aku!"
Dan kedua insan yang sudah bersahabat sejak kecil itu pun melanjutkan jalannya untuk pulang ke rumah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kim Minwoo, anak tunggal dari pasangan Kim Mingyu dan Jeon Wonwoo yang sekarang sudah berada di tingkat tiga sekolah menengah atas itu terlihat lebih mirip sang ayah namun dengan warna kulit dan sifat yang cenderung seperti ibunya. Entah kemana sosok Minwoo kecil yang begitu ceria dan clingy.
Minwoo yang sekarang akan terlihat seperti sosok dingin tak tersentuh karena ia jarang tersenyum. Beda dengan sang ibu yang sekalinya tersenyum akan terlihat manis, Minwoo justru akan terlihat sangat tampan. Tapi sayangnya karena ekspresinya yang cenderung datar itu lah yang membuat orang-orang terkadang membuat jarak dengannya. Enggan untuk mengenal lebih dekat, pengecualian untuk tiga sahabatnya sejak kecil.
Ada David Vernon Chwe atau yang lebih dikenal Choi David yang sekarang masih berada di tingkat satu, Kwon Howoo yang sudah di tingkat dua, dan terakhir ada Choi Seunghyun yang menduduki bangku kuliah di tahun kedua.
Meskipun begitu, dengan parasnya yang sangat tampan tentu bukan hal sulit untuk mendapat atensi dari para gadis dan laki-laki manis. Bahkan di sekolahnya ia punya fanclub sendiri meskipun sebenarnya Minwoo tidak ada maksud untuk menjadi populer sama sekali, jadi ia hanya menanggapinya dengan biasa.
"Minu-ya?" tanya Mingyu yang sedari tadi berdiri di ambang pintu kamar anaknya.
"Uh huh? Ne, appa?" Minwoo tersentak saat mendengar namanya dipanggil.
"Appa kira sedang apa, kenapa tidak menjawab? Sedang melamunkan apa?"
"Tidak melamunkan apapun appa."
Mingyu hanya tersenyum mendapati jawaban yang sudah pasti tidak benar itu, menjalani hidup bersama dengan Wonwoo membuatnya dengan otomatis sedikit banyak bisa memahami sikap Minwoo yang identik dengan sang ibu.
Siapapun juga pasti tahu jika lelaki tampan yang tengah duduk di lantai kamar dengan punggung bersandar pada ranjang itu tengah melamun, meskipun raganya ada di situ tapi entah kemana pikirannya melalang buana. Terbukti dari suara ketukan di pintu bahkan pergerakan Mingyu yang tetap tidak disadari oleh sang anak.
"Jangan berbohong pada appa, jadi katakan apa yang mengganggu pikiran jagoan appa ini?" Mingyu mendudukan dirinya di samping Minwoo.
"Minu bukan anak kecil lagi appa."
"Tapi kau masih tetap memanggil dirimu sendiri 'Minu' di depan appa dan eomma." Mingyu berkata sambil tersenyum jahil, ia senang menggoda putra semata wayangnya itu. Kebetulan sekarang hari minggu dan ia sedang berada di rumah, jadi menurutnya ini waktu yang tepat untuk mendapat quality time bersama Minwoo.
"Hanya kebiasaan." jawab Minwoo sambil merotasikan bola matanya dan dibalas kekehan sang ayah.
"Baiklah, ayo kita serius. Jadi ada apa?"
". . ."
Mingyu hanya tersenyum tipis melihat gelagat Minwoo yang seperti ragu untuk mengungkapkan isi hatinya. 'Ya Tuhan, tingkahnya Wonwoo hyung sekali!' batin Mingyu gemas.
Jadi daripada memaksa, Mingyu justru ikut menyenderkan tubuhnya dan menghadap ke depan.
"Appa." lirih Minwoo.
"Hm?" Mingyu hanya menjawab dengan deheman, tanpa menoleh.
Minwoo tidak berkata apapun, ia justru menyenderkan kepalanya pada sebelah bahu bidang sang ayah. Tak peduli jika ada orang yang menganggapnya sebagai laki-laki delapan belas tahun yang manja, karena ia memang sedang membutuhkan sandaran atas kekalutannya.
"Minu rindu."
Mingyu tersenyum tipis saat mengetahui maksud perkataan Minwoo, ia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan ini.
"Pada siapa?" tanyanya mengetes.
"Hou."
Mingyu sontak tersenyum lebar, "Jadi yang dari tadi dilamunkan oleh putra appa itu si manis Hou hm?" godanya jahil.
"Ish!"
Mingyu terkekeh, "Memang apa isi lamunan Minu?"
"Hmm hanya beberapa kilas balik dari masa kecil hingga sekarang." jawab Minwoo dengan mata menerawang.
"Aigoo sebegitu rindunya ya?"
"Appa!" Minwoo sebal juga lama-lama digoda oleh sang ayah.
"Ya sudah, tinggal hubungi saja. Memang apa susahnya? Zaman sudah canggih Kim Minwoo, jangan seperti manusia purba."
"Iya memang mudah menghubunginya, hanya saja…"
"Hanya apa?"
"Aku takut mengganggunya."
"Ck, tidak mungkin. Hou justru pasti akan senang dihubungi olehmu."
"Belum tentu appa, dia sepertinya sedang sibuk."
"Sibuk? Appa rasa tidak, dia kan sedang liburan."
"Maksud Minu, dia sedang sibuk berlibur dengan temannya yang lain."
"Eh? Benarkah?"
Minwoo pun beranjak, mengambil ponselnya yang tengah diisi daya dan duduk kembali ke tempat semula. Mengotak-atik sebentar dan mengarahkan ke Mingyu, menunjukan pada sang ayah salah satu foto Howoo bersama orang lain di sosial medianya.
Bukan Howoo yang memposting foto itu, tapi itu salah satu foto yang di tag oleh orang lain pada Howoo dengan akun yang usernamenya seperti nama orang Jepang.
Liburan semester ini memang dihabiskan Howoo bersama kedua orangtuanya di Jepang, sekaligus menghadiri acara pernikahan saudara dari pihak sang ayah yang kebetulan menikahi orang Jepang.
Mingyu hanya memutar bola matanya malas, "Jadi apa hubungannya foto itu dengan Minu yang tidak mau menghubungi Hou?"
". . ."
Diamnya Minwoo justru membuat alis Mingyu terangkat sebelah, ia paling pusing jika sudah dihadapkan pada situasi ini. Karena otaknya harus bekerja dua kali lipat lebih keras untuk bisa menebak isi pikiran sang putra, sama hal nya seperti saat ia menghadapi sang istri.
'Kenapa mereka berdua suka sekali membuatku menebak-nebak sih?' batin Mingyu heran.
"Hmm Minu cemburu? Iya kan? Jika memang begitu, harusnya jangan menghindar. Justru Minu hubungi saja terus jadi waktu mereka berdua akan terganggu karena appa yakin bagaimanapun juga Hou tidak mungkin mengacuhkan Minu. Nah setelah mendapat respon dari Hou, kau terus tarik perhatiannya jadi Hou tidak akan sempat melirik lelaki manapun. Daripada diam dan galau seperti ini lebih baik coba usul appa." Ujar Mingyu.
Minwoo terdiam, memikirkan tindakan apa yang harus ia lakukan. Pada akhirnya ia menarik napas, "Baiklah, Minu akan coba." Jawabnya sambil menegakan tubuh dan fokus pada ponselnya.
"Nah itu baru sosok gentleman keturunan Kim, semoga berhasil ya. Semangat!" seru Mingyu sambil berdiri dan mengusap halus surai sang putra.
"Hm." dehem Minwoo acuh.
"Ck yak! Tidak ada kah ucapan terima kasih untuk appamu ini?" jengkel Mingyu. Minwoo pun mengangkat wajahnya dan tersenyum tulus, "Terima kasih banyak appa."
Setelahnya Mingyu keluar dari kamar tersebut dan meninggalkan Minwoo sendiri di kamarnya. Minwoo tengah mencoba menelepon Howoo, entah kenapa ia tiba-tiba begitu gugup dan refleks menggigit bibir bawahnya.
'Halo?'
Minwoo tersentak saat mendengar suara yang begitu dirindukannya.
'Minu hyung?'
"Ne, Hou-ya."
'Hyung! Ada apa?'
Mendengar suara ceria dari seberang telepon membuat Minwoo sontak tersenyum tipis, "Tidak ada apa-apa. Hanya mengetes apa sinyal disana bagus atau tidak." ujar Minwoo mengontrol suaranya agar tidak terdengar terlalu antusias.
'Minu hyung~'
"Hm?"
'Hou rindu hyung tahu.' lirihnya, namun mampu menciptakan debaran keras di hati Minwoo.
Ingin sekali rasanya Minwoo menjawab, "Nado." Namun apa daya, lidahnya justru kelu.
'Minu hyung harus ke Jepang, banyak miniatur dengan tokoh-tokoh super hero favorit Minu hyung di sini!'
Minwoo terkekeh kecil, "Aku sudah remaja, bukan anak kecil lagi Hou-ya."
'Iya memang, tapi memang apa salahnya mengoleksi? Banyak juga Hou lihat orang dewasa yang membelinya.'
"Ya ya, terserah. Hou?"
'Ne?'
"Di sana banyak yang menjual mantel kan?"
'Ne hyung, kenapa?'
"Harganya mahal tidak?"
'Hmm tidak tahu, Hao tidak memerhatikan. Memang kenapa?'
"Tidak, hanya bertanya saja. Ohiya omong-omong soal mantel, jangan lupa dipakai."
'. . .'
"Ma–maksudnya ya agar orangtuamu tidak perlu kerepotan jika tiba-tiba anaknya sakit."
'Ah, arraseo.' Lirih Howoo. Minwoo refleks menggigit bibirnya, ia sebal karena tidak bisa mengatakan dengan gamblang jika sebenarnya ia khawatir pada Howoo.
"Bagaimana acara pernikahan kerabatmu? Lancar?"
'Lancar hyung.'
"Oh, begitu."
'Hu'um.'
"Apa di sana kau pergi ke tempat wisata?" tanya Minwoo.
'Ne hyung. Di sini tempatnya sangat indah tapi bagaimanapun juga aku tetap mencintai Korea!'
"Apa harga tiket masuknya mahal?"
'Hmm aku tidak tahu karena bukan aku yang membayar, kenapa hyung bertanya harga terus sih? Nanti akan ku tanyakan pada Yuta hyung saja ya.'
Minwoo mengerutkan dahi saat mendengar nama yang terasa tidak asing itu, dan ia baru teringat jika username akun yang mengetag foto bersama Howoo bernama 'Yuta77nakamoto'
Mood Minwoo entah kenapa mendadak rusak, ia jadi sebal sendiri.
'Hyung?'
"Iya?"
'Hyung keberatan tidak jika Hou mintai tolong?"
"Eh? Tolong apa?"
'Keluarlah dari kamar.'
"Untuk apa?"
TUT TUT TUT
Minwoo bingung, akhirnya ia hanya mengendikan bahunya. Dengan malas ia turuti permintaan aneh yang begitu tiba-tiba itu, Minwoo hanya berpikir pasti setelah ini ia melihat ibunya terkekeh. Sebab ibunya itu suka memanfaatkan kepolosan Howoo untuk mengerjainya.
Cklek
GREP
"Bogoshipeo Minu hyuuuung~"
". . ."
Minwoo membeku, tidak bisa bergerak.
"Hou?"
"Ne?"
Minwoo melepas pelukan keduanya dengan pelan, "Bukankah kau masih di Jepang? Kenapa tiba-tiba ada di sini?" Minwoo masih clueless, bahkan ia ragu jika sosok yang dilihatnya ini sungguhan atau hanya ilusi semata.
Dengan senyum yang begitu manis hingga matanya menyipit lucu, wajah yang sangat mirip dengan Jihoon itu menjawab, "Hehe Hou ikut pulang duluan dengan kakak sepupu yang kebetulan pulang lebih cepat karena dia ada urusan pekerjaan disini." Howoo pun menarik tangan Minwoo untuk masuk kamar, dan mendudukan tubuh keduanya di pinggir ranjang.
'Siapa sih tuan rumah yang sebenarnya?!' batin Minwoo gemas.
"Jadi orangtua Hou belum pulang? Hao akan sendirian di rumah?"
Howoo mengangguk lalu menggeleng, membuat Minwoo mengernyit bingung.
"Orangtua Hou memang belum pulang, tapi Hou tidak akan sendirian di rumah."
"Lalu? Jangan bilang jika Yuta-Yuta itu ikut denganmu?!" entah sadar atau tidak, wajah Minwoo kali ini sangat ekspresif. Howoo hanya terkekeh dan tersenyum jahil, "Jika iya, memang kenapa?"
"Tak apa." jawab Minwoo ketus sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Howoo makin melebarkan senyumnya, ia justru menubrukan tubuhnya dan memeluk Minwoo erat.
"Jangan cemburu, Yuta hyung itu masih kerabat Hou tahu. Hmm ohiya, Hou akan menumpang sementara di sini sampai appa dan eomma kembali."
"Si–siapa yang cemburu?!" tanya Minwoo mengelak, padahal pipinya sudah memerah. Namun tangannya ikut memeluk tubuh yang lebih mungil. "Oh, menginap di sini?" lanjut Minwoo, entah kenapa ia merasakan letupan menyenangkan di hatinya.
Howoo terkekeh, "Wonu eomma ternyata benar ya. . ."
"Hah?"
"Benar jika Minu hyung lucu. Kata Wonu eomma, Minu hyung itu sangat tsundere. Awalnya Hou tidak tahu apa maksud dari kata itu, tapi setelah bertanya pada Yuta hyung yang notabene orang Jepang, Hou jadi mengerti hehe."
Minwoo menelan ludah kasar, 'Eomma!' rutuk batinnya.
"Tidak, Wonu eomma hanya sok tahu."
Sontak jawaban itu membuahkan gelengan kepala Howoo, "Tidak, sudah banyak kok buktinya."
"Bukti?"
"Iya, Wonu eomma suka mengirimkan foto-foto di saat Minu hyung melihat-lihat foto Hou, bahkan pernah mengirimkan rekaman suara Minu hyung yang tengah membicarakan Hou dengan Wonu eomma." ujar Howoo dengan entengnya.
Entah Howoo yang memang terlalu lugu atau polos, seolah-olah perkataan itu biasa saja padahal sanggup membuat wajah Minwoo yang sudah memerah menjadi makin pekat. Rasanya Minwoo ingin menenggelamkan diri ke dasar bumi saat itu juga.
Minwoo terdiam, membuat Howoo jadi bingung. "Hyung? Hou salah bicara ya? Maafkan Hou ya, Hou tidak bermak–"
CHUUU~
Howoo membelalakan mata saat merasakan sepasang tangan menangkup wajahnya disertai benda kenyal yang tiba-tiba menubruk lembut bibirnya. Itu adalah ciuman pertama bagi keduanya, dan fakta itu diam-diam membuat perut Minwoo serasa dipenuhi kupu-kupu. Begitu menggelitik dan membuatnya bahagia.
Keduanya membeku, dua pasang netra itu bertubrukan dengan jarak yang begitu minim. Bukan ciuman panas, hanya sekadar menempelkan bibir namun mampu membuat wajah keduanya semerah kepiting rebus.
Setelah beberapa menit, Minwoo memberi jarak di wajah keduanya.
"Hou, jadi pacar hyung ya?"
Howoo mengangguk pelan dengan wajah memerah, membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Minwoo segera memeluk erat tubuh Howoo.
"Minu hyung?"
"Hm?"
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Untuk segala perhatian dan kasih sayang yang Minu hyung berikan. Maaf karena Hou tidak menyadarinya. Hou bahkan baru mengerti maksud dari semua sikap Minu hyung setelah dijelaskan oleh Wonu eomma."
"Eh? Eomma?"
"Hu'um. Selama Hou di Jepang, Wonu eomma dan Hou selalu saling berkirim pesan bahkan menelepon, dan banyak sekali yang Wonu eomma ceritakan. Katanya pergerakan hyung terlalu lambat makanya Wonu eomma yang mencuri start. Sebenarnya sih untuk perkataan Wonu eomma yang satu itu, Hou masih belum menangkap maksudnya." Jelas Howoo dengan wajah polosnya.
"Tidak! Tidak usah dipikirkan, lupakan saja kalimat eomma yang itu, oke? Sekarang Hou hanya perlu mendengar dan percaya pada hyung. Mengerti?"
Minwoo bisa merasakan kepala Howoo yang mengangguk di lehernya, ia pun mengeratkan pelukannya. Sementara saat matanya mengarah ke pintu, ia bisa melihat kedua orangtuanya tengah tersenyum lebar dan mengangkat jempol tangannya.
Minwoo mendengus melihat tingkah kekanakan orangtuanya, namun di hati kecilnya ia sangat berterima kasih pada mereka.
.
.
.
.
.
Sementara itu. . .
"Sayang, sudah yuk. Kita kembali ke kamar, apa juga faedahnya mengintip kegiatan anak kita yang sedang bermesraan?" tanya lelaki tan itu bosan.
"Ish, diamlah! Aku mengawasi agar anak kita tidak bertingkah 'iya-iya' pada Hou."
"Ck tenanglah, Minu itu mewarisi darahku. Kau tahu aku saja kuat tidak 'membobol'mu sampai kita resmi menikah, jadi pasti Minu pun begitu." selesai dengan kalimatnya Mingyu harus merasakan cubitan maut di bibir akibat ulah sang istri.
"Mulutmu ini, Kim!"
"Ya habis, pada anak sendiri saja tidak percaya."
"Bukan begitu maksudku."
"Sudahlah, ayo tinggalkan mereka. Kau lihat? Bahkan di usianya yang ke delapan belas, ciuman Minu masih begitu amatir. Beda sekali denganku dulu."
"Kim. Min. Gyu."
"Ehehehe ya maksudku, ia sangat kaku. Berbeda dengan ku, saat seusianya dulu hyung bahkan terbuai dengan ciuman ku, kan?"
". . ."
"Eh–haha a–apa aku salah bicara?"
". . ."
"Sayang?"
". . ."
"Wonu-ya~?"
"Mesum! Tidur diluar!"
"Mwo?! Yak! Sayangku? Wonu-ya~? Jeon-san ku tercinta? Hei!"
Mingyu kalang kabut mengejar Wonwoo yang berjalan cepat menuju kamar.
Yah ucapkan selamat tinggal pada kasur dan tubuh hangat Wonwoo, lalu ucapkan selamat datang pada sofa yang dingin.
Selamat, Kim Mingyu!
Sedangkan Minwoo bukannya tidak mendengar obrolan absurd orangtuanya, ia hanya terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya heran.
Minwoo pada akhirnya harus membopong tubuh mungil Howoo karena lelaki manis itu tertidur di pelukannya, setelah beberapa menit kepalanya diusap tangan hangat Minwoo. Sepertinya Howoo benar-benar lelah. Tentu saja, setibanya dari Jepang ia langsung bertolak ke kediaman keluarga Kim.
Minwoo ikut membaringkan tubuh dan menyelimuti tubuh keduanya, "Selamat malam, hyung sangat mencintai Hou~" Minwoo mengecup dahi Howoo dan memeluk tubuh itu.
Tanpa disadarinya, terlihat seulas senyum tipis di bibir Howoo. Tak berapa lama Minwoo dan Howoo masuk ke alam bawah sadar masing-masing, mendapatkan mimpi yang indah karena keduanya sama-sama tertidur dengan hati yang membuncah bahagia.
.
.
.
Sudah ku katakan sedari awal.
Ini kisah roman picisan yang klasik, kan?
Berawal dari persahabatan hingga akhirnya saling menautkan hati.
Merubah status dan siap dengan segala konsekuensinya.
Tentu hal yang lumrah jika jatuh hati pada sahabat sendiri.
Karena apa?
Waktu yang dilewati bersama,
menciptakan kedekatan yang menimbulkan kenyamanan.
Mampu membuat satu sama lain lebih saling memahami dibanding orang lain.
Jadi,
coba lebih peka dengan sekelilingmu.
Ada kalanya cerita klasik itu akan menjadi kisah luar biasa untukmu.
.
.
.
.
.
THE END
*Makasih banyak semuanya. Baik yang ngefav, ngefollow, ngereview, atau bahkan cuma baca aja. Tbh esvi sama sekali ga nyangka bakal ada yang review, karena disini main pair nya OC X OC hehe semoga ini ngga ngecewain yaaa T.T
** Buat yang masih bingung nyebut nama Howoo, dibacanya "Hou". Karena woo di korea kadang dibaca "u". Contoh lagu pristin wee woo dibaca wiu hehe
***Mind to RnR –again? Gomawo^^
BIG THANKS TO [REVIEWERS A-Z for M&W] :
MeanieSeries1706 | Kim Joungwook | aylopyu | suki-chan07 | hvyesung | csupernova | Albus Convallaria majalis | Ahnyona | Jjangmyeon | anomin | pizzagyu | Rei Rena | tunanganwonupacarmingyu | Nikeisha Farras | chayeoji | Kyunie | LittleOoh | seira minkyu | Guest sprinkles | Jeonna | Guest wonugyu | rizka0419 | Guest saymyname | Guest siapapun boleh | kianaevellyn | JeonCarmy | utsukushii02 | JaeminNanana | xiluhan | Chwe S. Kaa | Guest Wonu | Guest Jeon06 | bekyunkiyut | jeononu | KimAnita | ddllddll1996 | daejae9394 | Para Guest
BIG THANKS TO [REVIEWERS Missing Hou ch1] :
Snowzy . Meanie | Jeonna | adellares | reminie | Nikeisha Farras | MeanieSeries1706 | Park RinHyun-Uchiha | JaeminNanana | daejae9394
