CHAPTER 2 UPDATE!

Maaf ya lama~

Ini balasan reviewnya^^ :

- Haruka Ana Kiryu : makasih ya reviewnya Haruka-san^^ hehe, memang sih Zero kerenan jadi vampire tapi di fict ini Zero akan punya kekuatan istimewa lain.

Jadi dibaca saja ya. Ririn tidak punya stok darah banyak, jadi Haruka-san ke PMI saja ya.. =) Ini update^^

- Farore Rayzes : makasih udah dibilang bagus ya Farore^^. Aduh, kenapa bisa menggebu-gebu?0.o

Ini udah update XD silahkan membaca =)

- Yuki : maaf ya yuki, tidak bisa update cepat. Tetapi ini sudah update sekarang^^

Hehe, belum romantis ya? Nanti diusahakan lebih romantis^^

- runavi higesa : salam kenal juga runavi higesa, tetapi saya ririn^^a

Makasih banyak juga untuk favenya *hug runa*

Wah, ririn tidak menyangka bisa berpengaruh seperti itu. Tetapi ini suatu hal yang bagus!

Iya, di chapter ini ada slight Yuki X Aidou. Selamat membaca, ini updatenya ^^

OK.. HAPPY READING!


Disclaimer :

Vampire Knight © Hino Matsuri

Genre :

Romance

Pairing :

ZeroYuki slight AidouYuki

Author :

Ririn Kiseki

Warning :

OOC, Zero bukan Vampire

Chapter 2 :

::Fucking Day::


Cross Academy

Cross Academy adalah sekolah yang penuh misteri. Sekolah ini membagi kelasnya jadi 2 bagian, yaitu Day Class dan Night Class. Day Class memulai pelajarannya pada pagi hari. Setelah itu terjadilah pergantian kelas dengan Night Class pada sore hari menjelang petang. Dan anehnya pada saat Night Class sudah mulai turun, para siswa dan siswi Day Class harus selalu berada di asramanya dan tidak diijinkan keluar.

Sekolah elit yang unik ini, didirikan dan dikepalai oleh Kaien Cross. Kaien Cross sebenarnya Vampire Hunter legendaris, tetapi entah karena alasan apa dia kemudian memilih berhenti dan menjabat sebagai Kepala Sekolah di Cross Academy. Dia punya impian untuk menyatukan vampire dengan manusia karena itu dia membangun sekolah ini.

Day Class terdiri atas murid-murid kelas biasa. Sedangkan Night Class terdiri dari siswa yang mempunyai sisi istimewa. Night Class berisi siswa dan siswi yang tampan dan cantik mempesona. Sesungguhnya bukan itu saja yang membedakan antara Day Class dan Night Class. Ada satu jurang besar dan sangat berbahaya diantara keduanya. Karena sesungguhnya Night Class itu adalah kelas yang berisi makhluk penghisap darah. Mereka sejatinya adalah vampire. Dengan ketuanya Kaname Kuran, pureblood vampire. Kemudian wakil ketuanya adalah Ichijou Takuma, vampire golongan bangsawan. Serta vampire yang lain seperti Aidou Hanabusa, Shiki Senri, Rima Touya, Ruka Souen, Akatsuki Kain, Seiren, dan Maria Kurenai.

Identitas Night Class sebagai vampire harus dirahasiakan dari umum. Ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Maka dari itu dibentuklah guardian sekolah Cross Academy untuk menjaga kerahasiaan identitas para vampire itu. Mereka adalah Yuki Cross dan Zero Kiryuu, anak angkat Kaien Cross sekaligus orang yang paling dipercaya oleh Kaien.

~XXX~

Dengan santainya Ichiru berjalan menuju sekolah. Dia tidak mengerti, tapi rasanya hari ini dia begitu malas untuk ke sekolah.

"Apa sebaiknya aku bolos saja ya?" gumam Ichiru pada dirinya sendiri. Setelah beberapa saat berpikir akhirnya adik kembar Zero itupun tidak jadi melakukan aksi membolosnya, dia langsung melangkahkan kakinya menuju ke sekolah.

Akhirnya pemuda berambut keperakan yang panjangnya sebahu itu kini telah memasuki area sekolahnya dengan langkah mantap. Tiba-tiba…

BRUKKK

Ada yang menabraknya dari arah samping.

"Aduh!" lalu terdengar suara rintihan seorang gadis. Ichiru yang juga agak limbung karena tabrakan tadi langsung segera sadar dan menengok ke arah gadis itu. Dilihatnya seorang gadis dengan rambut panjang keunguan sedang merintih kesakitan dan terduduk di tanah. Refleks Ichiru mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Si gadis langsung menerima uluran tangan itu. Dan pada saat itu juga Ichiru baru sadar kalau gadis itu mengenakan seragam Night Class. Dia Vampire! Setelah menyadari itu Ichiru cepat-cepat melepaskan uluran tangannya. Gadis itu menatap Ichiru dengan heran. Tadi pemuda itu terlihat begitu ramah, tetapi sekarang ada ekspresi lain yang terlihat dari pancaran mata Ichiru, semacam sorot kebencian.

"Maria!" Tiba-tiba ada sebuah suara memanggil. Gadis berambut ungu itu langsung menengok ke asal suara.

"Kau jangan lari-lari, apalagi ini masih pagi. Seharusnya kita ada di asrama," tegur Ichijou. Maria hanya tersenyum dan kembali menatap Ichiru.

"Terima kasih," ujar gadis yang bernama Maria itu sambil tersenyum dan segera pergi. Ichijou menatap aneh kejadian tadi. Maria Kurenai mengucapkan terima kasih kepada Ichiru Kiryuu? Setahunya gadis angkuh itu tidak pernah melontarkan kata-kata itu.

"Eh, Kiryuu-kun. Maaf ya telah membuat keributan pagi-pagi begini," ujar Ichijou seraya membungkuk dan berlalu pergi mengikuti arah Maria menghilang.

Tangan Ichiru terkepal, dia masih belum bisa melupakan kebenciannya terhadap vampire. Karena vampire hidupnya jadi begini. Hancur, rasa sakit yang dia rasakan. Ichiru memegangi lehernya dan di balik lehernya itu tercetak sebuah tanda.

~XXX~

"Zero lepas! Sakit tahu!" tegur Yuki. Dia merintih karena Zero menyeretnya begitu saja dari tempat Kaname. Tidak masalah soal ketidaksopanan Zero ketika berhadapan dengan Kaname, tetapi yang jadi masalah sekarang adalah tangan Yuki jadi sakit karena cengkraman erat Zero. Zero yang baru menyadarinya langsung melepaskan cengkramannya. Yuki langsung meraih tangannya yang sakit tadi, dan menggosoknya pelan.

"Kamu kenapa sih?" Tanya Yuki masih sambil memegangi pergelangan tangannya.

"Aku tidak apa-apa," jawab Zero dingin sambil memalingkan mukanya. Ini membuat Yuki semakin penasaran dan gadis itu langsung meraih kepala Zero agar menghadapnya.

"Jawab aku, Kau kenapa?" Tanya Yuki sekali lagi sambil menatap Zero. Dia agak berjinjit karena tinggi Zero yang melampauinya, meskipun kini Zero juga dalam posisi membungkuk karena sedang ditarik paksa.

"Tidak apa-apa," jawab Zero lagi. Dia tidak tahan dengan posisi seperti ini dan berniat memalingkan mukanya lagi tapi ditahan Yuki. Tatapan dari bola mata Yuki seakan menyedotnya menuju alam bawah sadar jika dia memandang bola mata gadis itu. Makanya pemuda itu lebih memilih tidak menatap langsung Yuki pada matanya yang coklat kemerahan indah itu. Entah sejak kapan hal itu terjadi, Zero tidak mengetahuinya dengan pasti.

"Oke. Lalu kenapa kau bersikap tidak sopan seperti itu pada Kaname-senpai?" Tanya Yuki lagi menuntut jawaban sambil masih memegang kedua pipi Zero dengan tangan mungilnya.

Kaname? Pikiran Zero langsung menjadi geram. Vampire itu membuatnya jengkel.

"Zero! Jawab aku!" Yuki menegaskan dengan agak membentak. Pemuda bermata violet itu tak segera merespon. Dan akhirnya lepaslah sentuhan lembut dari tangan Yuki. Yuki sudah tidak tahan dan berniat pergi. Tetapi pergelangan tangannya yang lain ditangkap oleh Zero. Gadis itu segera menghentikan langkahnya dan menatap pemuda violet itu dengan tatapan heran sekaligus penuh amarah.

"Kau lihat tadi. Matanya berkilat-kilat merah. Seperti akan memakanmu," jawab Zero. Yuki sedikit berjengit. Tapi tak lama setelahnya seulas senyum terbentuk di wajah cantiknya.

"Tidak usah khawatir Zero," balas gadis itu. Ternyata Zero mengkhawatirkannya! Yuki kemudian segera mengenggam tangan Zero dan membimbingnya masuk ke dalam kelas. Zero menurut saja.

~XXX~

Sore Hari…

Waktunya pergantian kelas antara Day Class dengan Night Class. Gerbang telah dibuka dan keluarlah para siswa Night Class yang melangkah dengan anggun dan elegan. Mereka kelihatan bersinar dengan seragam warna putihnya itu, dan juga karena aura mereka memang memancarkan sesuatu yang lain yang dapat menarik hati manusia. Tetapi diantara siswa Night Class yang sedang turun itu tidak tampak adanya sang leader, Kaname Kuran.

"Ugh! Kembalilah kalian ke asrama!" teriak Yuki masih mencoba menghalangi para siswi yang memaksa masuk untuk melihat para siswa Night Class.

Yuki kewalahan menghadapi ini. Aksi dorong-mendorong tak terhindarkan, teriakan histeris dari para siswi terdengar memekakkan telinganya. Tetapi Yuki harus bertahan. Setidaknya sampai Zero datang dia harus dapat menangani situasi ini.

'Kemana sih si bodoh itu!' rutuk Yuki dalam hati. Lalu tiba-tiba ada sebuah dorongan keras yang menghantam tubuh mungil Yuki itu. Kakinya yang terluka terhantam sebuah benda tumpul yang keras, seperti kena pukulan seribu palu rasanya. Yuki pikir dia akan terjatuh ke tanah, akan tetapi tidak karena tiba-tiba ada sepasang tangan yang menangkap tubuhnya.

Setelah membuka matanya, didapatinya sesosok pemuda tampan sedang menyunggingkan senyum padanya. Pemuda berambut pirang itu kini tengah menopang tubuh Yuki yang hampir jatuh.

"Aidou-senpai!" seru Yuki panik. Dia buru-buru berdiri. Tetapi kakinya masih terasa nyeri akibat luka jatuh tadi pagi dan kelihatannya semakin parah. Bahkan bagian pergelangan kakinya kelihatannya malah terkilir. Yuki hanya meringis menahan sakit. Aidou yang melihatnya hanya bisa mengernyit.

"Yuki-chan, kau kenapa?" tanyanya ingin tahu.

"Eh, tidak apa-apa kok Aidou-senpai. Terima kasih," jawab Yuki seraya membungkukkan badannya.

"Kelihatannya tidak begitu, apa kau terluka?" Tanya pemuda kuning itu lagi kepada Yuki. Matanya kemudian mengawasi bagian lutut Yuki yang dibalut kain kasa.

"Tidak kok," jawab Yuki.

"Itu luka tadi pagi Aidou-senpai, sekarang sudah baikan," dusta Yuki ketika melihat arah pandangan mata Aidou tertuju pada lukanya.

"Benarkah?" tanyanya masih ragu.

"I..iya," jawab Yuki agak tergagap. Dia berbohong lagi! Aidou kemudian tersenyum dan mengusap pelan kepala Yuki. Pipi Yuki agak sedikit memerah karena diperlakukan seperti itu.

Yuki tak menyadari bahwa ada hawa membunuh yang sedang mengintainya. Tepat sekali! Para fans Aidou tentu saja tidak akan membiarkan ini terjadi. 'Tidak ada yang boleh mendekati Idol-senpai selain kami' itu slogan dari fansclub Aidou. Berarti Yuki harus bersiap untuk suatu kemungkinan terburuk nantinya karena berada dekat-dekat dengan Aidou.

Tiba-tiba kerumunan siswa dan siswi Day Class yang berisik itu segera terdiam setelah melihat siapa yang datang. Seorang pemuda berambut pendek keperakan melangkah dengan tatapan sedingin es dan aura membunuh yang lebih besar dari para fansclub Aidou. Para siswa dan siswi yang ada di sana hanya bisa diam, ada pula yang merasa takut.

Segera dia raih Yuki dan dia jauhkan dari hadapan Aidou. Yuki agak terkejut karena perlakuan yang tiba-tiba itu. Kini tubuhnya sudah berada dibalik tubuh pemuda berambut keperakan itu yang tentunya adalah Zero.

Zero melemparkan tatapan sinis kepada Aidou. Aidou hanya tersenyum menanggapi perlakuan itu. Senyum itu langsung saja membuat gadis-gadis pingsan karena terpesona.

"Apa maumu?" Tanya Zero dingin pada Aidou.

"Aku? Apa maksudmu Kiryuu-kun?" Aidou bertanya balik kepada Zero.

"Zero! Sudahlah!" bentak Yuki. Kemudian Zero segera mengalihkan perhatiannya pada Yuki.

"Kau juga, hati-hati donk!" Zero gantian membentak Yuki.

"A..apa?" Mata Yuki mengerjap, pikirannya masih loading.

"Aku tidak ingin melihatmu terluka, ok!" tambah Zero.

"Ini salahmu bodoh, harusnya kau membantuku. Kenapa terlambat!" balas Yuki lagi setelah tersadar. Kelihatannya pertengkaran antar guardian akan segera dimulai. Para siswa dan siswi Day Class yang melihat itu hanya bisa sweatdrop. Sedangkan para siswa Night Class tetap stay cool di tempat mereka berdiri karena mereka belum dapat masuk ke kelas melihat situasi yang tidak memungkinkan untuk saat ini.

Sebelum pertengkaran berlanjut tiba-tiba sebuah suara membuyarkan mereka.

"Sudah cukup Yuki-chan, Kiryuu-kun. Kelihatannya kami harus segera bergegas," ujar sebuah suara yang terdengar lembut itu. Yuki dan Zero langsung mengalihkan pandangan padanya. Mereka mendapati Kaname Kuran yang telah berdiri tepat di depan mereka.

"Kaname-senpai!" Yuki terbelalak karena Kaname datang tiba-tiba. Kaname hanya tersenyum melihat ekspresi Yuki.

"Benar juga," gumam Zero pada dirinya sendiri. Kemudian segera saja Zero menarik tangan Yuki ke arah kerumunan siswa Day Class yang menghalangi jalan. Tugas mereka sebagai guardian harus segera diselesaikan dengan segera.

"Sudah kubilang jangan dekati Yuki," ujar Kaname setengah berbisik tepat di samping Aidou. Meski itu sebuah bisikan, tetapi Aidou dapat mendengarnya dengan jelas.

"Maafkan saya Kaname-sama," jawab Aidou singkat. Kaname kemudian melewati pemuda itu dengan langkah tegap yang anggun tanpa memberikan respon atas jawaban pemuda kuning itu.

'Tetapi tidak bisa. Karena dia gadis yang menarik,' batin Aidou kemudian melangkah pergi mengikuti siswa Night Class yang lain.

~XXX~

"Aduh!" Yuki mengeluh. Dia meringis menahan sakit sepanjang perjalanan pulang. Tadi setelah menyelesaikan tugasnya sebagai guardian tak sengaja dia terjatuh lagi dan lututnya terbentur sisi lancip dan keras sebuah batu.

'Hari yang sial', gerutu Yuki dalam hati. Lukanya semakin parah kini. Untung saja hari ini tidak ada tugas patroli karena Night Class hanya sebentar untuk pembelajarannya malam ini.

"Berhenti merintih seperti itu Yuki," celetuk Zero tiba-tiba. Sudah sejak tadi dia mendengar Yuki mengeluh kesakitan. Pemuda itu kini tengah merawat luka Yuki setelah sampai di rumah. Lututnya yang tadi terluka dan sedikit mengeluarkan darah kini terbuka lagi. Kelihatannya luka itu melebar, darahnya semakin banyak. Dan begitu menyentuhnya tiba-tiba tangan Zero menegang. Hangat dan berbau anyir, itulah darah. Zero tidak melanjutkan aktivitasnya, dia terduduk lemas dan agak menggigil.

"Zero," paggil Yuki begitu melihat perubahan sikap Zero itu. Dan Yuki tahu apa penyebabnya setelah melihat darah menetes dari kakinya.

Zero tentunya telah menyentuh darahnya dari luka yang terbuka itu. Setidaknya tidak akan begini seandainya Zero hanya mengobatinya seperti biasa tanpa menyentuhnya langsung. Kalau hanya melihat darah saja Zero tak akan seperti ini. Tetapi begitu menyentuh darah, pemuda itu akan langsung berubah. Ini mungkin karena trauma masa lalu.

Dengan segera Yuki langsung membebat lukanya sendiri asal-asalan. Dia khawatir dengan keadaan Zero. Rasa sakit dan nyeri yang dia rasakan tadi telah sirna entah kemana. Lalu didudukkannya Zero di sofa menggantikan posisinya yang tadi ada di sana. Dihapusnya bekas darah yang ada di tangan Zero dengan sapu tangan miliknya yang dia ambil dari saku seragamnya yang masih dia kenakan. Yuki memeluk Zero sebentar untuk menenangkan pemuda itu.

"Zero, tidak apa-apa," ujar Yuki lembut sambil mengelus rambut Zero. Zero tak memberikan jawaban apapun. Kemudian setelah agak tenang, Yuki segera menuju ke kamarnya untuk mengambil sesuatu meskipun dia harus berjalan dengan kaki diseret.

Diambilnya sebuah kotak kecil yang dihiasi ukir-ukiran aneh dari laci meja belajarnya itu. Dibukanya dan terlihatlah sebuah botol kecil transparan dengan cairan warna ungu di dalamnya. Yuki segera membawa botol itu turun ke bawah, menuju ke tempat Zero.

Zero masih terlihat menggingil, tetapi tidak separah tadi. Tubuh pemuda yang kekar itu terlihat bergetar, Yuki miris melihat Zero yang seperti itu. Jarang sekali Zero menunjukkan kelemahannya kepada orang lain. Tetapi entah mengapa kalau dihadapannya, sepertinya mudah sekali bagi Zero untuk mengeluarkan apa yang ada dipikirannya sehingga menyebabkan mereka sering bertengkar. Meski begitu, masa lalu Zero masih tetap saja menjadi misteri bagi Yuki karena pemuda itu tidak pernah menceritakannya. Begitupula dengan saudara kembarnya, Ichiru Kiryuu.

Lalu bagaimana Zero bisa bertahan jika takut dengan darah? Dia kan seorang vampire hunter? Aneh sekali memang, Zero akan takut jika menyentuh darah hangat seorang manusia. Tetapi tidak akan takut dan trauma jika menyentuh darah dingin seorang vampire. Jadi Zero masih tetap dapat menjalankan pekerjaan sampingannya sebagai vampire hunter dengan professional. Tetapi tugas Zero hanya membasmi para vampire level E yang seperti monster itu, apabila vampire yang dimaksud tersebut mengacau kota.

"Zero, cobalah hirup ini," pinta Yuki. Yuki menyodorkan botol kecil yang telah terbuka itu kepada Zero. Zero mengalihkan pandangan dari botol itu kemudian pada Yuki. Yuki membalas Zero dengan senyumannya dan kemudian ikut duduk di samping Zero tetapi masih sambil dengan tangan terulur memegang botol itu.

Zero mencoba mengambil botol yang Yuki berikan dengan tangan masih gemetar. Diraihnya botol kecil itu dan dia arahkan mendekat menuju hidungnya. Aroma lavender langsung menguar dan dihirupnya. Aroma yang sangat menenangkan dan membuat pikirannya berubah tenang. Bayang-bayang hitam yang tadi berkelebat di dalam pikirannya telah menghilang.

Yuki yang melihat Zero sudah tenang kembali segera tersenyum lebih lebar.

"Terima kasih Yuki," ujar Zero lembut sambil mengembalikan botol itu kepada Yuki. Yuki segera menutupnya dan menyimpannya kembali dengan rapi dalam kotak itu.

"Iya," balas Yuki sambil tersenyum lagi. Membuat Zero yang sudah tenang menjadi semakin nyaman. Yuki melirik jam dinding di ruang tamu itu dan langsung terlonjak karena sebentar lagi makan malam akan segera tiba.

"Dan sebaiknya aku harus segera menyiapkan makan malam," ujar Yuki cepat dan berjalan tertatih ke dapur. Zero mengikutinya di belakang dan menahan Yuki.

"Eh, ada apa Zero?" tanyanya heran.

"Biar aku saja yang menyiapkan makan malam. Kau duduk saja dan jangan banyak bergerak," ujar Zero sambil melirik ke arah lutut Yuki.

Kain kasa yang membalutnya terlihat merah, kelihatannya darah sedang mencoba merembes keluar karena balutan yang asal-asalan itu tidak menghentikan jalan darah. Yuki hanya nyengir mendengarnya dan menuruti perintah Zero.

Yuki duduk di sofa sambil membaca sebuah majalah. Dirinya segera mengalihkan pandangan begitu mendengar pintu depan sedang dibuka. Mungkin ayahnya atau Ichiru yang pulang. Yuki hendak menyambut kedatangan orang itu akan tetapi rasa sakit menjalari kakinya dan membuatnya tidak bisa bergerak. Apakah separah ini ya luka Yuki?

Kemudian dari balik pintu muncullah seorang dengan perawakan mirip Zero. Tentu saja dia Ichiru yang baru pulang. Wajahnya kelihatan lelah. Dia meletakkan tasnya di meja kemudian menghempaskan dirinya di sofa yang lain sambil menutup matanya dengan sebelah tangannya.

"Ichiru, baru pulang?" sapa Yuki.

"Iya Yuki-chan. Tadi ada tugas tambahan dari guru Biologi," ujarnya masih dengan mata tertutup.

"Begitu ya. Kelihatannya kau belum makan juga. Kakakmu sedang memasak, jadi tunggulah sebentar," balas Yuki ramah.

"Baiklah. Aku haus," ujar pemuda itu sambil membuka matanya kemudian hendak beranjak pergi mengambil minum. Tetapi matanya kemudian melihat lutut Yuki yang terluka. Dadanya langsung sesak secara tiba-tiba. Samar-samar terciumlah sedikit bau anyir yang menggelitik hidungnya. Sensasi aneh terasa benar bergejolak dalam diri Ichiru. Seperti menginginkan itu.

Dia urungkan niatnya untuk mengambil air minum. Dan malah mendekati Yuki sekarang. Yuki masih sibuk membaca majalahnya dan segera sadar kalau Ichiru kini telah berdiri dihadapannya. Yuki mendongakkan kepalanya.

"Ada apa Ichiru?" Tanya Yuki. Kemudian melihat pandangan mata Ichiru tertuju kepada lukanya.

"Yuki-chan, kau terluka?" Tanya Ichiru tetapi dengan nada suara agak rendah dan sedikit serak tidak seperti biasanya.

"Owh itu, tidak apa-apa kok. Hanya jatuh tadi," jawab Yuki enteng. Padahal aslinya terasa sakit.

"Benar tidak apa-apa?" Tanyanya lagi. Yuki mulai merasa aneh, kenapa sejak tadi pagi semua orang mempermasalahkan luka di kakinya itu sih?

"Benar," jawab Yuki.

Dengan cepat dan tanpa komando tangan Ichiru telah memegang kaki Yuki. Matanya agak berkilat merah. Yuki tidak melihatnya tetapi dia mulai merasa takut.

"I..Ichiru, apa yang mau kau lakukan?" Tanya Yuki tergagap.

"Makan malamnya telah siap Yu—" Zero tak jadi menyelesaikan kalimatnya dan langsung terkejut melihat pemandangan itu. Dihampirinya Ichiru dan langsung dia tarik keluar ruangan itu dengan kasar. Yuki hanya terbengong-bengong menatap kedua pemuda itu. Dia mau mengejar tapi sialnya kakinya benar-benar tak bisa bergerak. Apa ada saraf nya yang putus ya? Batin Yuki seraya bergidik ngeri membayangkan dia tidak dapat berjalan lagi.

~XXX~

"Apa yang kau lakukan bodoh!" bentak Zero kepada Ichiru sambil memegang erat ujung kerah baju seragam adik kembarnya itu. Ichiru hanya menunduk. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

"Jangan pernah lakukan itu lagi!" Zero membentak lebih keras.

"Ma… maafkan aku Nii-san," jawabnya penuh dengan penyesalan. Zero kemudian melepaskan cengkramannya itu.

"Kau harus bisa mengendalikannya," nasehat Zero.

"Ba.. Baik," jawab Ichiru agak tergagap. Dia sangat takut terhadap kakaknya. Satu-satunya yang membuat dia takut adalah kakaknya. Dan satu-satunya orang yang paling disayanginya di dunia ini adalah kakaknya, kemudian juga keluarganya yang lain seperti Yuki dan Kaien.

"Baguslah," ujar Zero sambil mengelus kepala adiknya itu. Ichiru merasa tenang jika dibegitukan oleh kakaknya. Zero tentu saja juga sangat menyayangi adiknya itu, akan tetapi dia akan sangat benci kalau adiknya tersebut tidak dapat mengendalikan dirinya.

"Aku pulang~!" teriak sebuah suara agak centil.

"Eh Zero, Ichiru!" pekik suara itu.

"Otou-san, sudah pulang?" Tanya Ichiru seperti sudah kembali pada keadaanya semula. Sementara Zero tetap stay cool di tempat.

"Iya, sudah nak. Otou-san capek~," jawab Kaien lebay.

"Eh Zero, kau tidak mau memberi salam kepada Otou-sanmu ini seperti adik kembarmu?" tambah Kaien dengan memasang muka innoncent. Zero yang melihatnya serasa mau muntah.

"Konyol," balas Zero yang membuat Kaien lemas. Anak angkatnya itu benar-benar tidak menganggapnya sebagai ayah, batin Kaien dalam hati seraya nangis Bombay. Zero cuek saja menanggapinya.

"Otou-san, kau bisa merawat luka Yuki?" pinta Ichiru kepada Kaien. Dia tentu tidak tahan kalau harus masuk dengan kondisi seperti ini. Kaien yang mendengar Yuki terluka langsung memasang ekspresi serius dan bergegas masuk ke dalam.

"Kalian tetaplah disini!" perintahnya kepada Ichiru dan Zero. Mereka berdua mengiyakan.

"Eh, Otou-san sudah pulang. Sebaiknya kita se—" belum selesai Yuki bicara. Ayahnya itu telah menggendongnya ke kamar Yuki.

"Tenanglah Yuki. Biar Otou-san yang obati," ujar pria itu pada Yuki. Yuki hanya diam. Sejak dulu Otou-sannya memang sangat protektif kepada Yuki. Sakit sedikit saja pasti langsung dibawa ke dokter. Ayah yang sangat melindungi anaknya. Tetapi ada satu hal yang dia takutkan, jika mungkin saja kedua kembar itu menyerang Yuki yang sedang terluka. Karena Kaien sejatinya belum benar-benar tahu makhluk apa yang bersemayam dalam diri dua pemuda itu. Semuanya masih menjadi misteri baginya.

-TO BE CONTINUED-