Process

Main / HunHan

Rated / M / GS

Warning for sexual content, bromance, etc

.

.

.

Chapter 2

Good Start

.

.

hbkxx

.

.

.

.

.

"Kenapa sedikit sekali?" Sehun menyela keras, pemuda itu melemparkan ponsel Krystal ke meja club yang kini penuh dengan kulit kacang bekas kunyahan Krystal.

Serius, gadis itu mengunyah kulit kacang.

Krystal mengambil ponselnya, mengetik beberapa kata pada Direct Messages situs kelam tersebut. Sebelum, menyuruh Sehun kembali mulai berbincang bersama seorang pengguna yang mengajak pemuda itu mengobrol, meneruskan pesan yang sudah dikirimkannya pada seorang pengguna lain. Tidak banyak, mungkin hanya sepuluh atau dua belas atau entahlah. Memangnya ia mau menghitung berapa banyak orang yang mengajak Sehun mengobrol?

Sehun mendengus malas, namun, minatnya seolah kembali begitu melihat cara honeybee membalas pesannya, well… Krystal punya selera bagus memilih teman mengobrol.

"Kau tahu? Beruntung sekali honeybee mengajakmu bicara."

"Apa yang begitu istimewa dari wanita penggemar phone sex?"

Krystal hampir memukul kepala Sehun dengan botol vodka yang baru di pesannya, sebelum menjawab dengan nada sindiran yang dalam pada suaranya. "Istimewanya.. kau menyukainya," Krystal bersandar di pundak Sehun sambil menenggak vodka yang terasa pedas di tenggorokannya, "honeybee cukup terkenal. Ia punya reputasi bagus sebagai pengguna paling aktif yang hot,"

"Darimana kau tahu?" ujar Sehun, simpulan kalau pemuda itu ragu, begitu jelas terdengar.

"Semua pengguna Black Pearl tahu itu Sehun," Krystal mengecap lidahnya, merasa vodka saja tidak cukup untuk membuatnya mabuk pagi ini. "setiap bulan situs akan mengumumkan siapa pengguna paling aktif dan hot. Keuntungannya, itu bisa membuatmu terkenal dan punya banyak teman."

"Kau tidak perlu pusing-pusing mencari teman mengobrol seperti saat ini, tapi, sepertinya kalau itu akun pria, beda urusannya. Biasanya banyak wanita yang mengajakmu mengobrol," tambah Krystal gadis itu semakin menyamankan posisinya di pundak Sehun "seperti milikmu misalnya."

Sehun mengambil botol vodka Krystal, menghentikan gadis itu mabuk. "Untukmu juga, kurasa, Banyak yang mengajakmu mengobrol Krys," imbuh Sehun, sambil meminum sedikit vodka rampasannya.

"Kau tahu? honeybee dan redorchid yang paling terkenal di sana," Sahut Krystal, sambil menarik lebar seringainya, menunjukan ia benar-benar bangga.

Sehun terkekeh dan menarik gemas hidung mancung Krystal, "Itu kau? redorchid?"

"Tentu saja! Kau tahu aku hebat, sir." Krystal balik mencubit pinggang Sehun "Dekatilah honeybee ia mungkin bakal jadi partner yang lebih hebat daripada Seolhyun."

Mendapat anggukan Sehun sebagai jawaban, Krystal merebut ponselnya dari tangan Sehun. Ia nyaris tertawa keras saat sepintas melihat isi percakapan bodoh Sehun dan honeybee. Sebelum, menelpon jasa supir pengganti. "Aku menghubungi supir pengganti, pulanglah bersama Jongin dan tidur di mobil. Aku akan tidur di kamar club… tidak usah khawatir." Krystal lalu mengusap wajah Sehun, saat pemuda itu duduk tegak dan tampak akan menyangkal keputusannya.

"Club ini milik ayahku, oke?" Selanjutnya, Krystal terkekeh untuk kedua kalinya pagi ini.

.

honeybee : Hello babe, wanna have a chitchat with me?:*

iridescence : Baby bee? It's my pleasure :*

honeybee : Well apa masih perlu berlaku polos? Kau anak baru eh?

iridescence : Temanku bilang seluruh pengguna situs mendapat pemberutahuan soal orang yang baru masuk. Kau tahu aku anak baru.

honeybee : Haha aku hanya tertarik dengan username mu, iridescence? Sweet boy.

iridescence : Permainan dan warna adalah soal wanita. I'm a player.

honeybee : And I love the game. By the way.

iridescence : Tunggulah permainanku, sayang. Aku yakin kau menyukainya.

honeybee : Aku sudah bermain dengan banyak pria, tunjukkan kemampuan terbaikmu kalau mau menjadikanku, slave? Mungkin haha.

iridescence : Benarkah? Kau berpengalaman kalau begitu. Percaya padaku sayang, aku master yang hebat.

honeybee : Kutunggu nanti malam. Kau tahu? lubangku sudah gatal dan megharapkan sodokkan virtualmu membuatnya berhenti berkedut dan tidur pulas dengan puas.

.

.

.

.

.

Dahulu, ibunya adalah wanita terhebat yang pernah Sehun kenal.

Namun, saat mendapati jet pribadi ayahnya menabrak tebing, jatuh, dan terbakar lima tahun lalu– menabrak dan jatuh karena cuaca buruk, tenang, tidak ada yang membajak, menembak atau terserahlah, oke? – yang bahkan, sampai detik ini jasad ayahnya beserta kru pesawat belum bisa ditemukan. Karena, Pesawat itu benar-benar hancur. Bangkainya sulit diangkut karena pecah sehabis menabrak kerasnya tebing gunung, serta jasad mereka tidak bisa dievakuasi untuk dimakamkan dengan layak karena jatuh ke jurang yang dalamnya bahkan sulit untuk dihitung.

Ibunya menjadi depresi dan hancur untuk kemudian menggila.

Wanita itu benar-benar merasa kehilangan. Semangat hidupnya habis dan beliau nyaris kehilangan akal. Nyonya Oh menjalani masa terapi jiwa sekitar setengah tahun, karena dengan dukungan moral yang diberikan kedua anaknya, ia bisa tersadar dan pulih lebih cepat dari perkiraan dokter.

Entah apa yang ada dalam pikiran Nyonya Oh setelah ia tersadar kembali. Beliau berubah. Tidak memahami kedua anaknya seperti bagaimana seharusnya seorang ibu. Ia memberikan tanggung jawab penuh pada Sehun untuk mengelola perusahaan utama dan membuatnya nyaris segila ibunya. Tentu bukan hal mudah mengelola perusahaan besar diusiamu yang masih belasan tahun.

Setidaknya Sehun masih lebih baik, ia sudah cukup bisa menerima pekerjaan yang begitu berat diusianya saat itu. Ia pemuda pintar yang bisa memanfaatkan kekuasaannya, punya teman yang bisa diandalkan dan sekretaris kepercayaan ayahnya–yang kebetulan tidak ikut perjalanan dinas maut bersama ayahnya, karena anaknya menikah hari itu–juga membantunya, menangani masalah, mengambil keputusan untuk kelangsungan perusahaan warisan keluarganya.

Sedangkan adiknya, Oh Shella. Dikeluarkan dari sekolah karena terlalu jenius. Dewan sekolah menyatakan ia seharusnya tidak bersekolah di tingkat junior school saat otaknya setara mereka yang ada di universitas. Shella mempunyai ingatan fotografis yang memungkinkannya mengingat detail dari semua yang dilihatnya, didengarnya, dibacanya. Beruntungnya, gadis itu lebih menyukai membaca buku berat koleksi ayahnya daripada buku-buku ringan untuk remaja seusianya.

Tentu saja, seharusnya orang tua bangga melihat anaknya memiliki hal langka yang belum tentu dimiliki anak lain. Namun, ibunya tidak seperti ibu-ibu lain. Wanita itu justru merasa malu. Dan jalan keluar yang bisa dipikirkan otak sempurna wanita itu adalah, menjadikan Shella direktur di salah satu cabang perusahaan mereka. Dengan itu, Nyonya Oh dapat sedikit membanggakan Shella di depan teman-temannya yang justru memberi tatapan prihatin saat melontarkan pujian palsu mereka.

Sehun mungkin bisa dibilang lebih menyayangi adiknya ketimbang ibu hebatnya. Jadi, mendapati wanita itu di apartemennya jam delapan pagi lewat sepuluh menit, bukanlah sesuatu yang diinginkannya.

"Untuk apa kesini? Ku pikir Shella sudah mengatakannya kalau aku akan menemuimu hari ini,"

"Ya. Gadis bodoh itu mengatakannya, tapi memang siapa yang mau percaya pada omongannya? Bicaranya persis seseorang yang tidak lulus sekolah. Makan sup mu Sehun."

Jangan salahkan Sehun kalau ia memang bermuka dua. Ia membenci kehadiran ibunya, namun, menerima sup buatan ibunya dengan senang hati. Sehun pemuda yang pulang larut dan kelaparan, mendapat sup hangat di pagi hari merupakan suatu kehormatan. Ia tidak akan menolak masakan ibunya.

Sehun hanya memerlukan waktu kurang dari sepuluh menit untuk menghabiskan sup dan nasi hangat yang dibawa ibunya, ia benar-benar mengantuk dan kenyang saat ini. Sehun berharap bisa kembali melanjutkan tidurnya, kalau saja yang ada di apartemennya saat ini bukan lah Nyonya Oh sinting dan sayangnya, wanita yang memberinya kehidupan. "Apa maumu?"

Nyonya Oh menghela napas dan tersenyum miring, beliau membereskan peralatan makan Sehun sebelum menjawab dengan suara lirih, "Aku lintah darat sekarang."

Sehun melebarkan matanya, tidak benar-benar lebar sampai matanya nyaris keluar, tentu saja. Tapi cukup membuktikan seberapa kagetnya ia, "Kau bercanda! Apa maksudmu?"

"Uhm… Sehun aku meminjamkan uang kita karena aku takut mungkin aku membakarnya, aku meminjamkan tanpa bunga, namun, mereka kurang berpendidikan Sehun. Mereka justru meminjam lebih banyak lagi padahal tahu kalau membayar setengah nya saja mereka tidak akan bisa."

Nyonya Oh tersentak begitu Sehun bangkit dan memeluknya seerat mungkin, dadanya sesak, namun, hatinya menghangat tanpa wanita itu sadari. Sehun sendiri memeluk ibunya dengan susah payah menahan air matanya, ia tidak sebajingan itu untuk menghiraukan ibunya yang sepertinya sedikit terkena gangguan mental. Harapannya bertambah, bukan hanya sekedar keajaiban kalau dirinya bisa menemukan jasad sang ayah, tapi juga mengembalikan ibu yang disayanginya.

"Untuk semua yang akan kau lakukan, bicarakanlah lebih awal denganku," kata Sehun tanpa sedikitpun mengurangi rasa hormatnya, tidaklah berlebihan kalau ia menyuruh ibunya membicarakan terlebih dulu apa yang akan wanita itu lakukan, setidaknya Sehun dapat diam-diam mengontrol keinginan mutlak ibunya. Ia lalu menjauhkan diri, mencium lembut kening ibunya. Memberi rasa aman pada wanita rapuh dihadapannya.

"Dan juga… kumohon perlakukan Shella lebih baik,"

"Tidak." Nyonya Oh menjauhkan dirinya menatap Sehun tajam, diiringi geraman rendah dan hembusan napas cepat. "Ia membunuh ayah mu Sehun! Ia membunuh suamiku!"

.

.

.

.

.

Datang ke kantornya dalam keadaan lusuh dan menyedihkan, Sehun tahu kalau seharusnya ia menunda meeting hari ini. Mereka tidak akan membahas hal-hal yang begitu penting, hanya saja, meneruskan diskusi tentang produk baru yang pembicaraannya ditunda kemarin.

"Hai Sehun, sepertinya pagimu cukup hancur."

"Diamlah Jongin dan cepat mulai."

"Kau yakin? Ayolah Sehun kau tidak akan fokus," ujar Jongin, megetuk-ngetuk pensil mekaniknya diatas meja Sehun. "kalau mau aku akan membiarkanmu tidur, eh , dua puluh menit."

"Mari bicarakan lebih dulu, wakili aku di meeting kali ini. Aku akan tidur dua puluh menit lalu membaca dan menandatangani berkas lainnya Jongin,"

Jongin mengangguk-angguk, ia tidak mau lembur untuk menemani Sehun menangani berkas-berkasnya, dan ide untuk mewakili pemuda itu sepertinya cukup bagus. "Yah… baiklah,"

"Seperti yang kita tahu, musim semi akan datang sebentar lagi. Dan Sehun kau mendengarku? Tidurlah. Aku akan mewakilimu dan setelahnya mari membeli bubble tea,"

Dengan gerakan cepat Sehun bangun dari lipatan tangannya di meja kerja, matanya mengedip-ngedip menjijikan, "Jalankan intinya saja di rapat nanti. Aku akan menyelesaikan berkasnya dengan cepat,"

"Bagaikan sebuah kerikil di mesin yang sensitif, atau retakan di salah satu lensa berteknologi tinggi, semua itu tidak akan lebih mengganggu dibandingkan perasaan yang begitu kuat di dalam dirimu pagi ini, ada apa gerangan Sehun?"

Mendengar perkataan puitis Jongin, Sehun terdiam. Entah merasa geli, atau, seperti biasa, ketika pemuda itu enggan memberi tahu sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia lebih memilih menarik beberapa dokumen, dan mengambil penanya.

"Sehun, sahabatku," kata Jongin lagi, "kurasa vodka dan amukan Kyungsoo tadi pagi mengubah cara bicaraku, namun, inti dari perkataan cerdasku adalah, kau sepertinya mengalami masalah morning sick kau hamil, eh?"

Sehun tertawa kecil, menggosok-gosok kedua tangannya yang tiba-tiba terasa kebas, "Tidak Mr. Kim. Aku menghamili bukan dihamili pekerjaanmu banyak hari ini karena kutugaskan kau untuk mewakiliku seharian ini, dan aku, disini, bersama tumpukan berkas kesayanganmu."

Jongin mengangkat selembar kertas ditangannya, kertas itu bergoyang seiring dengan gerakan tangannya. "Kertas ini berisi daftar tugasmu, meeting, tinjauan cabang dan blablabla… kau bilang aku harus mewakilimu?"

"Memang," Sehun cepat-cepat meneruskan perkataannya saat mendapati Jongin seolah siap mengebirinya. "Jangan khawatir Jongin. Aku akan menggantinya dengan pizza, starbuck, dan semua yang kau mau, gratis."

"Oke, Kau bos yang hebat Sehun. Sampai jumpa jam empat sore atau lebih mungkin," Jongin melonjak dari kursinya, dengan langkah cepat ia membuka pintu dan cepat-cepat keluar. Siluetnya terlihat dari jendela besar ruangan sehun yang ditutup tirai tipis buatan jepang, suaranyanya bersenandung kecil mengecil seiring dengan langkahnya yang semakin jauh.

Meninggalkan Sehun yang kini sibuk berkutat dengan dokumennya. Dengan pekerjaannya, pemuda itu seolah melupakan perilaku ibunya yang mungkin membahayakan nyawa adik kecil yang disayanginya.

.

.

.

.

.

Matahari hampir saja terbenam.

Saat itu Luhan sedang menguap beberapa kali, ia biasanya tidak online sampai nyaris pukul setengah empat pagi dan menahan kantuk di tempat kerjanya. Ini semua gara-gara teman mengobrolnya tadi malam, pemain baru berakun unik. Semua pemuda ingin terlihat jantan dihadapan seorang perempuan, dan sekarang, kutanya kau memang ada pemuda yang ingin terlihat jantan justru menamai akunnya permainan warna?

Ingin rasanya Luhan tertawa keras sampai air matanya mengalir. Ia seorang perempuan dewasa yang benar-benar mengerti apa arti dewasa. Luhan mengira, seseorang dibalik akun yang diajaknya mengobrol , hanyalah bocah Senior School kurang kerjaan dan seorang pecandu hal-hal berbau porno.

Remaja jaman sekarang memang begitu, kan?

Hormon jahilnya seolah bangkit kembali, Luhan berpikir kalau ia bisa mengerjai seorang bocah. Akunnya cukup terkenal disitus itu, Luhan membayangkan kalau bocah itu pasti kegirangan mendapatkannya sebagai teman mengobrol.

Dugaannya seolah makin kuat, saat pesannya mengakhiri obrolan tadi malam. Luhan yakin bocah itu tertidur dalam selimut besar dikamarnya yang hangat. Luhan seolah tidak sabar menunggu malam, ia ingin kembali mengerjai bocah malang itu. Karena sayangnya, Luhan hanya bisa online saat malam–dan terkadang sampai pagi, seperti kemarin–ia sedikit berharap bisa kembali mengerjai bocah itu.

Menggodanya dengan rangkaian kata penuh gairah dan meninggalkannya dalam kondisi horny berat. Good idea baby Lu.

"Halo noona?"

Luhan mengerjap, ia lalu berdehem sambil memasang senyum manisnya. Ketahuan sedang mengantuk dengan pikiran-pikiran jorok diotaknya, merupakan pelanggaran etika bekerja. Luhan lalu membungkuk hormat meminta permintaan maaf dari dua orang pemuda didepannya. Salah satu pemuda tertawa geli saat ia membungkuk, pemuda yang sama yang menyadarkannya kalau ia melamun dan mengantuk di tempat kerja. Namun, tentu saja Luhan punya alasan untuk mengantuk disini, ia kurang tidur dan bangun sangat pagi untuk membersihkan rumah, mengantar susu, kembali ke rumah kecilnya, lalu bersiap kembali pergi dengan kereta ke café tempatnya bekerja dari siang hingga pukul sembilan malam.

Walau ada alasan dibaliknya, Luhan tetap saja merasa ia baru menghancurkan pikiran indahnya kalau dirinyalah gadis paling jenius se antero asia timur, well… sebelum tanpa sengaja mempermalukan dirinya sendiri.

"Tolong dua choco bubble tea,"

"Tentu saja, bagaimana dengan teman anda tuan?"

"Kau pikir aku akan minum dua gelas? Kau butuh istirahat nona." Pemuda itu kembali menertawakannnya, kalau tidak ingat pemuda ini menertawakannya karna ia betulan bodoh, sudah pasti Luhan akan menampar keras-keras pipi pemuda, yang, omong-omong kulitnya agak gelap dari orang Korea kebanyakan.

Apa ia boleh menertawakan balik pelanggannya?

.

.

.

.

.

"Gadis itu menarik dan bodoh, sepertinya pegawai baru."

Jongin meminum choco bubble tea nya, pandangannya tidak lepas darsi pelayan sekaligus kasir yang sepertinya kurang tidur, ini serius, apa sih yang dilakukannya tadi malam? Jujur saja, Jongin seorang yang tergila-gila soal kesempurnaan. Kalau ia jadi pemilik toko roti, café atau apalah tempat ini, ia sudah pasti memecat gadis itu.

Seseorang tidak boleh melamun, mengkhayal, apalagi terledor saat bekerja. Kau pikir kau seorang novelis yang kerjaannya memang mengkhayal, huh?

"Kau kembali ke cara bicara normal dan kritikan tajammu, setelah beberapa jam lalu kita bertemu di ruanganku dan kau tidak seperti itu. Oh! Sepertinya kau harus menemuinya lagi, Jongin pesankan aku roti kosong." Sebaliknya, Sehun tidak ambil pusing. Dimata Jongin, ia mungkin sama mengantuknya seperti gadis itu. Karena, memang itu yang terjadi, ia butuh tidur setelah tidur paginya diusik dengan meeting –yang ternyata diwakili Jongin, sedangkan ia sibuk mengerjakan berkas-berkas menyebalkan–dan kehadiran tiba-tiba ibunya.

Jongin mengangkat bahu, ia memanggil pelayan lain. Detik ini juga, ia merasakan perasaan berbeda soal pelayan kacau itu. "Tolong satu roti kosong,"

Saat roti kosongnya tiba, Sehun mengangkat kepalanya. Terlihat segar setelah tidur untuk beberapa menit yang begitu singkat, "Kau selalu tahu cara menaikkan mood ku,"

"Terlihat dari wajahmu yang menyebalkan Sehun," Jongin mengambil sedikit roti ditangan Sehun, memakannya, sebelum melanjutkan perkatannya. "kau butuh bubble tea dan roti kosong, disini."

"Yah, kau tahu? roti dan bubble tea disini yang paling hebat,"

"Dan jaraknya dua mil dari kantor kita,"

"Kau berpikir untuk kupecat sekarang?"

"Siapa takut? Kau mau jadwalmu hancur kalau sekretaris barumu tidak kompeten sepertiku? Habis riwayatmu."

Sehun memutar bola mata jengah, mengacak rambut Jongin dan memilih untuk diam sambil menghabiskan roti kosongnya lalu mengecap dalam-dalam rasa bubble tea nya. "Aku berjanji tidak akan memecatmu, aku kasihan soal calon istrimu kalau kau seorang pengangguran. Lagipula kita sudah lama tidak kesini Jongin, akhir tahun kemarin mungkin? Itu terakhir kalinya sebelum ini."

Mendengus sebal, Jongin merapihkan rambutnya, pemuda itu tiba-tiba teringat sesuatu. "Lupakanlah. Kau beneran bergabung di Black Pearl, eh?"

Sehun mengangguk, kalau Jongin tidak mengangkat topik ini, ia mungkin saja lupa memberitahunya–tunggu dulu, lalu darimana Jongin tahu?

"Berhenti memasang tampang heranmu, itu menjijikan Sehun," kali ini, giliran Jongin yang memutar bola matanya, "krystal mengirimiku pesan saat meeting tadi."

"Ah ya," Sehun kembali mengangguk-angguk, ia mungkin akan melakukan itu sampai kepalanya nyaris lepas.

"Kau tidak takut kalau dibalik ketikan manja dan cerdas khas wanita, ternyata, di baliknya seorang pria berotot yang berniat menjebakmu menjadi seorang gay atau menjual organ tubuhmu?" tanya Jongin, yang lebih tepat disebut sebagai tuduhan sinting.

Sehun melebarkan matanya, ia tidak beniat untuk diam lebih lama lagi. "Itu diberitahukan kalau kau mengobrol dengan seorang pria atau wanita. Saat mendaftar mereka meminta nomor kartu identitas resmimu, kau tidak bisa terdaftar kalau itu tidak benar-benar resmi, mereka canggih, oke? yah, kau tahu, untuk menghindari human trafficking, penipuan identitas, dan hal sinting lain, walau identitas aslimu dilarang untuk disebar setidaknya mereka bakal menemukanmu kalau kau melakukan hal-hal menyimpang, namun, tentu saja menyimpang disini tidak termasuk mengubah orientasimu. "

"Padahal aku mengharap kau jadi seorang gay," imbuh Jongin, tertawa-tawa gila dengan suara keras seolah tidak punya urat malu.

"Apa salahnya menjadi seeorang gay? Itu pilihan hidup. Pilihan menyimpang atau tetap lurus. Taat atau tidaknya seseorang, kita tidak perlu mencampuri urusan mereka, lesbian, gay, bisex, transgender, apa peduli kita? Kalau mau kita bisa jadi seperti mereka, kalau tidak cukup hargai mereka, sama seperti kita menghargai mereka yang normal,"

Jongin menghentikan tawanya, ia menghembuskan napas dalam-dalam. Menyadari kalau Sehun tidak menangkap omongannya sebagai candaan, "Kau terlalu serius bung, maksudku apa reaksi nyonya Oh nanti? Tapi sepertinya kita tidak perlu melanjutkan ini. Topik nya begitu serius Sehun,"

"Aku hanya mengungkapkan pendapatku," Sehun mengocok gelas bubble tea nya, berharap masih tersisa sedikit untuknya "bicara soal ibuku, ia mendatangi apartemen ku tadi pagi."

"Benarkah? Itu sebabnya kau datang lebih awal? Yah aku tidak mengalami dimensia dan melupakan omonganmu yang bilang akan datang jam sepuluh, jangan pasang muka idiotmu lagi!" jerit Jongin, karena, jujur saja, Sehun menyebalkan dengan caranya sendiri. Dan hanya Jongin yang memahami apa maksud dibalik cara Sehun sendiri, ia tidak pernah mau mengungkapkan alasannya yang sudah pasti sinting dan tidak bisa diterima otak sehat manusia.

Sehun mengangkat tangannya memanggil seorang pelayan, memesan satu gelas choco bubble tea lagi, sebelum berujar "Ibuku jadi agak sentimental saat aku memintanya menjaga Shella lebih baik, ia mulai menjerit, meraung, dan menangis."

Jongin bertepuk tangan pelan dengan mulut yang sedikit terbuka, dalam imajinasinya, Nyonya Oh mungkin menghancurkan apartemen Sehun yang bersih dan rapi terawat. Pemuda itu tidak menyangka, kalau Nyonya Oh justru akan dalam keadaan terharu yang pastinya menyedihkan, dan membuat siapapun yang melihatnya gatal untuk menyuntikan beberapa cc obat bius. "Ibumu luar biasa,"

"Aku belum memanggilnya ibu sampai sekarang,"

"Kenapa? Bukankah ia sudah sedikit lebih baik?

"Tidak Jongin," Sehun merendahkan dududuknya, pundaknya melorot dan dahinya mengkerut sedikit. "ia kurang lebih sama, dan aku masih enggan memanggilnya ibu."

Biarpun sudah menduga hal ini, sebelum Sehun menjawab pertanyaan terakhirnya, Jongin tetap saja merasa terkejut. Ia mengenal keluarga Sehun sama baiknya dengan Jongin mengenal keluarganya sendiri. "Kupikir… perkembangannya agak lebih baik Sehun, tapi sepertinya tidak sebaik perkembangan perlakuannya pada Shella."

Mereka saling menatap, berada dalam kondisi serius yang jarang terjadi agaknya sedikit membuat mereka canggung. Bunyi geseran kursi Sehun memecah keheningan, pemuda itu bangkit, mengedipkan sebelah matanya pada Jongin. "Mau tidak mau mari lembur dan dapatkan sabtu ringan tanpa pekerjaan besok, aku sudah berbekal bubble tea."

Jongin ikut berdiri, tersenyum geli dan melupakan untuk mengutarakan penolakan lembur bersama orang semesum Oh Sehun. "Asal benar-benar bekerja. Aku tidak menerima untuk menemanimu bermain phone sex bersama partner mu di Black Pearl atau siapapun itu."

.

.

.

.

.

.

TBC

Kayanya aku emang ga jago bikin tbc -_-

Oh! Sorry for late update, sebenernya aku punya jadwal sendiri kl ff ini upnya hari jum'at tapi gimana ya banyak kendala lol uh pokoknya aku minta maaf banget. Aku juga seneng banget liat respon yang kaliankasih, makasih banyak buat yg udh review, fav, foll atau sekedar baca haha. Aku ga terlalu masalahin silent reader sih, karena maksa2 kalian review itu takutnya reviewnya ga tulus/? Tapi lain lagi kl cerita ini bisa bikin kalian review sendirinya, kind of sweet uhh.

Enjoy Guys!