Ketika suara jam wakernya berbunyi begitu bisingnya, Yoongi terbangun dengan mata yang membuka sempurna –tanpa sisa kantuk sama sekali. Matanya melirik pada jendela kamar yang tirainya terbuka setengah.

Gelap gulita. Mungkin ini masih belum mendekati pukul lima sama sekali.

Namun kaki Yoongi turun dari kasur, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Pagi itu, entah mengapa, berangkat bekerja merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggunya, bahkan sepanjang malam.

"Fuh," Yoongi meniup anak-anak rambut yang jatuh pada permukaan dahi. Ditubuhnya, sudah lengkap bersama celana panjang hitam, kemeja biru, dan dasi bergaris.

Ia bergumam pada diri sendiri tentang seseorang yang ia pikirkan semalaman, sembari tubuhnya masuk ke dalam mobil dan memacukannya begitu cepat –ini ngebut yang sangat ngebut.

Saat matanya jatuh pada jalanan beraspal, mulutnya merapal sebuah kata. "Aku kembali."

.

.

Metallic Memories

[Kembali]

YoonMin

©Im Soojung

.

.

"Wow," Taehyung, seseorang yang baru saja masuk ke dalam kantor, hampir melepaskan bola mata begitu matanya bersitatap dengan Yoongi yang telah terduduk rapi di meja kerja, menghirup kopi vanilanya. "Suatu keajaiban melihatmu datang begitu pagi, Hyung."

"Yah," tidak peduli sebenarnya Yoongi pada ucapan bawahannya itu, namun ia tersenyum sedikit hanya untuk menampilkan kesan seorang atasan yang baik. "Aku ada perlu."

"Oh," sembari menaruh tumpukan map di tangannya di atas meja Namjoon –setoran, ia menatap Yoongi dengan sebelah alis terangkat. "Ngomong-ngomong, Hyung, sudah dengar siapa yang akan menjabat sebagai direktur baru?"

"Hm?" Yoongi mengangkat sebelah alis, duduknya ia majukan sedikit demi mendengarkan informasi –atau gosip– yang tersampaikan itu. "Bukannya setelah Direktur lama meninggal, yang memegang kendali perusahaan istrinya?"

"Benar sekali," Taehyung mengacungkan jempolnya ke hadapan Yoongi, tersenyum. "Tapi kudengar, Ny. Kim memberikan jabatan itu pada anaknya."

"Anak?" sebuah kerutan muncul pada dahi Yoongi, walaupun sebenarnya informasi ini tidak terlalu berguna untuknya –alih-alih, siapa tahu ia bisa mendengar gosip tentang Jimin. "Anaknya yang kudengar kabur dari rumah itu?"

"Yap, anaknya yang itu," Taehyung berbisik kali itu, seolah tak ingin seorang pun mendengarnya selain Yoongi –walaupun di sana hanya ada mereka berdua. "Kim Seokjin. Lulusan Universitas tinggi Korea Selatan, dan huah, dia terkenal sekali semenjak kedatangannya ke kantor Ibunya kemarin siang."

Yoongi tidak lagi terlalu tertarik dengan pembahasan dan topik yang Taehyung berikan, ia tidak terlalu peduli dengan pergantian jabatan dan tetek bengeknya, bikin pusing saja.

"Oh, kudengar dari bisik-bisik karyawan perempuan, ada laki-laki pendek yang selalu mengikutinya ke mana-mana, aduh, siapa ya namanya," berjengit dari tempat duduknya, Taehyung menyandarkan diri dan mengepal tangannya kuat untuk mengingat-ingat. "Park Jim? Jinim? Park –"

"Jimin!" Yoongi berteriak dan Taehyung hampir terkena serangan asma mendadak karena hal itu.

.

.

Informasi yang diberikan Taehyung benar-benar akurat. Hari itu, setelah tiga jam Yoongi sampai ke kantor, ada pengunguman dari Manager Yu, besok, akan ada peresmian direktur baru. Dan semua karyawan wajib hadir.

Taehyung dan Yoongi saling bersitatap, yang matanya bereyeliner mengedipkan sebelah alis dengan tatapan 'apa kubilang'. Tapi Yoongi hanya mengangkat bahu tidak peduli.

"Yoongi~"

Sebuah suara memelas dari seseorang membuat Yoongi bergidik dari tempatnya. Di belakangnya, seseorang bereyeliner –tidak, bukan Taehyung– dan mulut yang dimanyunkan, memberikan Yoongi dua rangkap kliping di mejanya. "Yoongi, bisa tolong antar ini ke kantor direktur? Atau kau bisa memberikannya pada asisten direktur. Aku lupa harus mengadakan pertemuan dari perusahaan Jeongsang, kupikir tidak apa-apa kan jika kau yang memberikannya? Jika Pak Direk –ah, maksudku, Tn. Kim bertanya tentang gambaran sementara produknya, bilang aku akan menjelaskannya siang nanti."

Yoongi akan protes pada laki-laki di depannya, sebelum ia sadar bahwa ia bisa mencari keuntungan dari hal ini. Jadi ia mengangguk dengan sangat kuat, hingga ia yakin bahwa pertulangan lehernya baru saja bergemeretak.

"Ngomong-ngomong Baekhyun Hyung," Yoongi memanggil sebelum ia berdiri dari duduknya, kemudian menatap ruam merah pada perpotongan leher Baekhyun yang sangat jelas. "Jangan berbuat yang tidak-tidak di kantor."

.

.

"Kau bisa keluar."

Orang bernama Kim Seokjin itu adalah orang yang sama dengan orang yang menyeret Jimin kemarin. Berbahu lebar dengan badan tinggi dan wajah ramah. Ia tidak bertanya-tanya tentang produk atau hal lainnya, ia hanya menatap kliping di tangannya sebentar, sebelum ia tersenyum dan mengizinkan Yoongi keluar.

"Baiklah," Yoongi mengangguk patuh, walaupun tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Ia masih terpaku pada seseorang yang berdiri di belakang Seokjin. Yang juga sedang menatapnya dengan senyum yang ditahan-tahan untuk tidak terlihat terlalu bahagia. Itu Jimin, jika kalian bertanya.

"Seokjin-ssi," Jimin berujar, ia terlihat tidak bisa menahan dirinya, kemudian ia berbisik di telinga Seokjin.

Mengerutkan alisnya, Seokjin terlihat hampir menggelengkan kepalanya, namun saat matanya menatap pada mata memelas Jimin, ia akhirnya mengangkat bahu dan menatap pada Yoongi yang masih belum beranjak. "Kau –siapa namamu?"

"Min Yoongi."

"Ya, Yoongi-ssi, bisa tolong antarkan asistenku berkeliling kantor? Maksudku, mungkin dia sudah berkeliling kemarin, tapi ia gampang sekali lupa beberapa tempat. Tolong, jika kau tidak ada kerjaan, atau tidak keberatan, bisa tolong bantu dia?"

Yoongi bisa mendengar sorakan di dalam hatinya. Sesungguhnya, jika harus ada yang mengatakan, Yoongi punya banyak sekali pekerjaan. Tapi, peduli setan, Jimin berada di depannya dan ia bisa seharian itu bersama dengannya. Hal apa lagi yang bisa menggeser seluruh tumpukan laporan dan tugas itu selain ini?

"Tentu saja."

.

.

Mereka berjalan beriringan, menelusuk tiap-tiap lorong. Dan Yoongi pikir, ia harus memulai percakapan dengan Jimin, setelah semuanya jadi canggung. Terutama tentang hal-hal mengenai usia Jimin dan perpisahannya dengan Jimin malam itu.

Yoongi punya terlalu banyak pertanyaan.

"Senang bertemu lagi denganmu Yoongi," Jimin berujar, kemudian tersenyum. Bola matanya mengilat oleh matahari. Kilatan itu begitu beningnya, seperti sebuah kaca porselen.

"Jimin, kau ... tidak bertambah tua?" Yoongi bukanlah seseorang yang pintar berbasa-basi, bahkan jika kau membayarnya, dan Jimin tertawa oleh karena itu.

"Kau semakin tampan Yoongi," tangan Jimin bergerak untuk menepuk kepala Yoongi –persis seperti yang dilakukannya di masa lalu– namun Yoongi menahan tangan itu dengan ulasan senyum di wajahnya.

"Aku bukan anak kecil lagi, Jimin, dan kumohon jawab pertanyaanku."

"Ah, tentang tubuhku ini?" Jimin menaikkan sebelah alis, dan ia tersenyum lagi. "Tentu saja aku tidak bertambah tua, Yoongi."

"Jelaskan," hampir memberikan tatapan memohon, Yoongi hampir mengumpat karena Jimin tidak juga memberikan jawaban-jawaban yang jelas.

Jimin berpikir sesaat, kemudian ia berhenti berjalan, sembari matanya menatap Yoongi begitu dalam. Oleh tatapan itu, Yoongi merasa seolah terlempar pada masa lalu, di mana mata itu tetap sangat mengagumkan

"Tubuhku ini, terbuat dari besi."

.

.

"Tolong turunkan aku, Jimin-ssi," Yoongi kecil berkata, ia sudah berhenti menangis dan ia sudah ingin berbicara kembali setelah sekian menit yang lalu waktu hanya terisi oleh tangisannya.

Patuh pada perkataan anak itu, Jimin menurunkan Yoongi dan tangannya menggenggam tangan Yoongi begitu eratnya, menjaga jika mungkin anak itu akan terpisah. Yoongi berjengit ketika kulit Jimin menyentuh permukaan kulitnya, bergidik. "Tanganmu sangat dingin Jimin-ssi."

"Tentu saja," Jimin menepuk kepala Yoongi, kemudian mengambil sarung tangan di dalam mantelnya –takut jika Yoongi tidak nyaman dengan tangan dingin itu. "Tidak ada aliran darah di dalamnya."

"Apakah darah yang membuat seseorang terasa hangat?" mengerutkan alisnya, Yoongi bertanya tentang hal-hal dasar yang masih terlalu bodoh untuk ia ketahui.

"Hm," Jimin mengangguk, kemudian ia menunjuk penjual gulali di antara keramaian. "Ingin gulali?"

Yoongi cepat mengangguk. "Gulali!"

"Kau suka gulali Yoongi?" mereka sampai di depan penjual gulali, memesan satu dan memberikannya pada Yoongi.

"Aku suka," Yoongi menggigit gulali itu, merasakan hatinya sedikit tenang setelah mulutnya dipenuhi oleh rasa manis. "Aku suka hal-hal manis. Seperti Jimin-ssi."

"Haha," dan Jimin hanya tertawa, kemudian membawa Yoongi menjauh dari kerumunan orang-orang. "Baik sekali Yoongi-ssi."

Mereka mengeratkan tangan, sembari kemudian berjalan tenang. Sorakan manusia-manusia di sekitar mereka membuat mereka tersentak. Sampai akhirnya Yoongi mengangkat kepalanya untuk melihat petak-petak langit. "–api, kembang api!"

Yoongi menatap Jimin untuk memastikan apakah Jimin juga sedang memperhatikan langit. Dan di sana, di dalam mata Jimin, Yoongi melihat sebuah kilat kagum yang meloloskan diri dari mata Jimin. Mata itu begitu beningnya, hingga Yoongi dapat melihat pantulan kembang api lebih jelas.

Entah kenapa. Sesuatu seperti kembang api, tidak begitu menarik minat Yoongi kembali. Malam itu, Yoongi memutuskan, ia lebih mengagumi mata lelaki penyelamatnya itu, daripada hal-hal indah lainnya.

.

.

TBC

.

.

Siang, sore, malam, semuanya.

Oke, saya yakin, masih banyak hal yang belum dijelas, dan kalian pasti sudah tahu Jimin itu apa. Karena matanya terlalu bening untuk manusia. Yap.

Makasih banget yang kemaren udah review, hiks/nangis darah/

Dan banyak yang bilang Jimin itu vampire xD, tapi rasanya vampire terlalu keren untuk Jimin, mending Yoongi yang jadi vampirenya. Jimin cocoknya sama yang unyu-unyu, beruang(?), misalnya.

Tolong berikan reviewnya teman-temanku sayang(?). Terima kasih banyak yang udah baca, follow, favorite, dan tentu saja, review! Kalian semua super heroku.

That's all. Ripiu juseo~