Copyright © 2015 by Happyeolyoo
All rights reserved
.
.
Warning! FF ini punya alur yang sangat panjang dan lambat, author sengaja membaginya dalam beberapa chapter. FF ini akan berakhir pada chap 4. Namun chapter yang dipublish bisa jadi merupakan alur lanjutan dari chapter sebelumnya (read: Chapter 1A or etc). Pastikan untuk siap membaca dengan sabar.
Are you ready for it?
Here we go ..
.
.
Sick Beat of Mr. Collector
Genre : Drama, Romance
Rate : T+
Pairing : HunHan as Maincast. With other Exo Members as well.
Chapter : 1B
Warning : Genderswitch. Miss typo(s). Alur Lambat
Disclaimers : Saya hanya meminjam nama dari mereka untuk menemukan inspirasi dan membaginya dalam bentuk karya sastra. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang sedikit melebihi ambang batas wajar. Hargai kerja keras author dengan mengklik tombol review dan tulis beberapa tanggapan. Muak dengan cast atau plot cerita? Just click a close button on your web browser, guys. Wanna chitchat? Click on PM button. Don't bash any cast or other, please.
Summary : Luhan tidak pernah membayangkan jika dirinya akan mendapat pernyataan cinta dari hoobaenya di kelas menari, Oh Sehun. Ingin menolak, tetapi nyatanya dia tidak sanggup. Oh Sehun ada di depannya, siap untuk menciumnya. Tetapi Luhan tidak bisa menerima hal itu begitu saja. Berhubungan dengan Oh Sehun membuatnya menjadi lebih ahli dalam membuat rahasia; Luhan terpaksa menyembunyikan hubungannya dengan Oh Sehun dari dua sahabat baiknya: Baekhyun dan Kyungsoo. Dua minggu setelahnya, Luhan dikejutkan oleh fakta baru yang dibawa oleh Kyungsoo. Suatu fakta yang luput dari perhatiannya, yang menyeret Luhan menuju lubang sakit hati hingga memaksanya untuk melakukan hal di luar batas—hanya untuk Oh Sehun.
BGM : EXODUS by EXO
Ketika Luhan baru keluar dari kamarnya setelah mandi dan berganti baju, dia mendapati berbagai piring makanan dengan sajian lezat tertata begitu apik di atas meja. Dua tangannya terangkat dan membenarkan cepol ketat di kepalanya, membiarkan anak rambutnya jatuh di sekitar tengkuk dan dahinya. Lalu telapaknya menepuk pipinya yang teroles astringent beraroma mawar yang menyegarkan. Luhan tampak cantik dengan kaus kebesaran yang kelimannya menyentuh pangkal paha, ujung hotpantnya mengintip malu-malu di ujung kausnya. Pendengarannya menangkap suara gemericik air di kamar mandi, menandakan bahwa Kyungsoo sedang mandi si sana.
Luhan melirik jam dinding dari sudut matanya, menemukan jarum jam yang masih akan menunjuk angka tujuh. Kyungsoo mengatakan jika Baekhyun, Kai, dan Chanyeol akan datang tepat pukul 7 nanti. Jadi dia masih punya 30 menit untuk bersantai barang sejenak. Luhan sudah memastikan jika kamar tamu yang dimiliki apartemen Kyungsoo—yang juga ditempatinya dengan membayar sewa yang sangat murah pada Kyungsoo—sudah rapi dengan seprai baru beraroma lavendel. Chanyeol dan Baekhyun pasti akan menginap, menempati kamar kosong itu seperti sebelum-sebelumnya. Dan Kai juga pasti akan menginap. Dua orang itu beruntung sekali, bisa tidur ditemani pacar masing-masing.
Sedangkan dia sendiri.
Luhan dan Sehun memang pacaran. Tetapi Sehun melarangnya untuk memberitahu siapa pun mengenai hal itu. Luhan belum berhasil menuntut alasannya, tetapi Sehun bersikeras untuk menjalani backstreet di awal hubungan mereka. Sejujurnya, dia kecewa karena keputusan itu. Tidak selamanya backstreet itu menyenangkan, bukan? Dia ingin sekali memberitahu Baekhyun serta Kyungsoo, tetapi Sehun tidak mengizinkannya. Entah karena apa.
"Melamun memikirkan apa?" Kyungsoo baru muncul dengan baju handuknya, handuk kuning cerahnya tergelung di atas kepalanya untuk membungkus rambut panjangnya yang basah. Harum stroberi menguar dari tubuhnya, menggelitik indra penciuman Luhan.
Luhan menggeleng. "Lebih baik kau cepat mengganti bajumu, Kyung," maniknya melirik jam untuk yang kedua kali. "20 menit lagi mereka akan sampai."
Kyungsoo berbalik lantas berjalan menghampiri kamarnya sendiri. "Aku baru dapat telepon dari Kai," katanya sebelum menutup pintu. "Dia akan membawa Sehun kemari."
Itu baru berita yang fenomenal. Luhan sampai tersedak oleh alur nafasnya sendiri sedetik setelah Kyungsoo selesai mengucapkannya. "Apa?" serunya tidak bisa ditahan. Kyungsoo sudah menghilang di balik pintu, namun Luhan tidak gentar untuk mencari penjelasan. Bangkit dan segera berlari, tangannya menyentak pintu kamar Kyungsoo dan mendapati sahabatnya yang merentangkan sebuah kaus oblong bertulis 'I Love L.A' dengan tangannya yang mungil. "Kau serius?"
Kyungsoo memutar bola mata manakala mendapati sahabatnya menerobos masuk ke kamar tanpa tahu adab. Kendati Luhan sedang memerhatikannya, dia tidak sungkan menjatuhkan baju handuknya lalu memakai kaus. "Kata Kai, Sehun masih lajang," ujarnya tidak nyambung. Tangannya menarik sebuah rok katun yang pendek dari lemari dan mengenakannya. "Kukira dia sedang mencoba menjodohkan cowok keparat itu denganmu," bahunya bergidik ketika mengucapkan persepsinya sendiri.
"Maaf?" Luhan menyipitkan mata, menuai ekspresi yang sama dari Kyungsoo. Itu tindakan yang sia-sia. Tetapi jika hal itu benar-benar terjadi, maka Luhan akan berterimakasih kepada Kai secara langsung. "Siapa yang kausebut sebagai .., cowok keparat?"
"Apa kau tidak tahu juga tentang ini?" Kyungsoo berusaha tidak mengeram saat mengatakan hal itu. Dalam kalimatnya tersirat suatu maksud yang seolah-olah hal itu sudah menjadi rahasia umum. Kakinya bergerak menuju meja rias, meraih mesin pengering rambutnya yang berwarna pink. Suara berdengung terdengar, dia mengarahkan moncongnya ke helai rambutnya yang basah. "Sehun itu playboy," katanya sambil memandang wajah Luhan dari pantulan cermin. Rautnya tampak serius, dia tidak main-main. "Dia sama sekali bukan cowok yang akan cocok untuk gadis baik-baik sepertimu," imbuhnya.
Ekspresi tenang Luhan tercoreng oleh gurat keterkejutan kentara yang tidak bisa dikendalikan. Seketika itu juga bayang-bayang wajah Sehun melayang dalam benak, diikuti kata playboy seperti yang dikatakan Kyungsoo. Bagus. Berita baru yang sangat buruk, menyangkut kekasih hatinya, dan dia tidak tahu.
Demi Tuhan. "Kyungsoo," ujarnya terbata. "Kau serius?"
"Sehun sudah tidur dengan selusin cewek perawan di kampus, dan kau tidak tahu?" Kyungsoo memutar bola matanya selagi tangannya yang lain mengibas-ngibaskan helai lembut rambutnya. "Dia itu playboy musang gila! Merayu setiap cewek cantik dan sialnya, rayuannya selalu berhasil!"
Luhan memucat. Kerut-kerut aneh muncul di dahi, pasti ekspresi wajahnya tampak jelek sekali. Rasa perih datang silih berganti menghujam celah kecil di antara tulang rusuknya. Kesedihan mulai merayap menangkup perasaannya, seluruh sendinya terasa kaku karena dikungkung ketidakpercayaan. Mendadak kepalanya diserang migrain hebat hingga nyaris membuatnya hilang kesadaran. Oh, itu berlebihan. Tetapi apa yang dirasakannya memang seberlebihan itu. "I-itu gila," ringisnya.
"Benar," Kyungsoo menyisir rambutnya dan kembali melirik Luhan yang terduduk di tepi ranjang. Alisnya melengkung saat menemukan ekspresi aneh di wajah sahabatnya. Dia menebak jika Luhan sedang dilanda keterkejutan hebat hingga air mukanya berubah sedemikian ganjil. Apa yang dikatakannya memang sudah menjadi embacang busuk di kampus. Tetapi dia bisa memaklumi ketidak tahuan Luhan atas hal ini. Sahabatnya yang satu itu terlalu cuek dengan desas-desus tidak penting. Dan dia bersyukur karena Luhan tidak tahu hal itu—dia berharap jika Luhan akan langsung illfeel begitu Sehun datang ke meja makan nanti.
"Kuharap, kau bisa menjaga jarak darinya untuk malam ini," dia meninggalkan kursi riasnya dan tangannya terulur untuk menyentuh pundak Luhan, memberi remasan pelan menenangkan agar raut aneh itu segera hilang dari wajah sahabatnya. "Sekali pun kau terpedaya oleh Sehun, kau harus segera mengenyahkan ketertarikanmu itu. Sehun benar-benar tidak akan cocok untukmu, dia keparat. Sekali kau terjatuh di pelukannya, kau akan sakit hati karena Sehun akan segera meninggalkan korbannya begitu dia merasa bosan."
Gawat, dewi batin Luhan mencicit seperti tikus yang terkepung oleh seekor kucing. Sangat tidak berdaya. Tatapan Kyungsoo yang menyerupai gertakan seorang ibu membuat Luhan tidak bisa mengatakan tidak. Dia tahu jika Kyungsoo punya alasan baik dengan mengatakan peringatannya. Tetapi masalahnya, Luhan sudah selangkah lebih dulu sebelum kalimat intimidasi itu terlontar. Kata terlambat membayang dalam isi kepalanya.
Lalu suara bel yang ditekan sekali menyentak Kyungsoo, begitu pula Luhan. Keduanya berpandangan selama beberapa saat tetapi Kyungsoo segera pergi keluar kamar demi membuka pintu, meninggalkan Luhan dengan segala keterkejutannya yang gila.
Oke, berpikir. Luhan harus berpikir untuk keluar dari hal gila ini. Ketertarikannya kepada Oh Sehun ternyata mampu mendorongnya untuk melangkah sedemikian jauh, bermain api dalam sebuah hubungan backstreet dan tidak ada orang yang tahu. Peringatan mutlak itu bukan semacam gertakan main-main, dia tahu jika Kyungsoo serius.
Ya. Kyungsoo amat serius.
Bodohnya. Luhan merasa amat tolol dan udik. Sehun, pemuda yang selalu ada dalam pikirannya selama 2 minggu belakangan, merupakan playboy berengsek. Itu berarti, penjahat itu sudah berhasil mendapatkan satu korban; dia sudah menjadi korban dari Oh Sehun. Untuk yang pertama kali dalam seumur hidup, Luhan benar-benar berharap jika dirinya bisa menyusut menjadi partikel terkecil agar terhindar dari masalahnya. Ingin lari seperti pengecut, tetapi akal sehatnya melarang untuk melakukan hal itu. Itu sangat rendahan.
Dia ingin mendapatkan jalan keluar; bukan hanya dari dirinya sendiri. Berharap ada seseorang yang mampu mendengarkan cerita rahasianya lalu memberi pemecahan. Tetapi nyatanya tidak ada. Hubungannya dengan Oh Sehun benar-benar tertutupi dengan baik. Baik Kyungsoo atau pun Baekhyun, dua gadis yang menurutnya paling setia dan murah hati, pasti bukan pihak yang tepat. Keduanya akan melontarkan kata 'Cepat putuskan Sehun atau kau akan sakit hati' dengan kompak. Dan dia tidak ingin hal itu.
Setidaknya, untuk saat ini Luhan ingin mencari tahu perasaan Sehun yang sebenarnya. Dia tidak sanggup berpisah secara tiba-tiba. Perasaannya harus dipersiapkan, dia butuh waktu untuk hal itu.
"Lulu?" Baekhyun muncul di ambang pintu dengan tubuh bersandar pada sisinya. Seperti hari-hari sebelumnya, Baekhyun tampak luar biasa dengan jeans model tunik serta kaus ketat lengan pendek. Rambutnya yang sehitam bulu gagak dikepang cantik meninggalkan sulur-sulur di sisi rahangnya. Sebelah alisnya naik ketika disambut oleh ekspresi kacau di wajah sahabatnya. "Kau oke?"
Kendati Luhan sempat merasa dikejutkan oleh kehadiran Baekhyun yang tiba-tiba, seulas senyuman berhasil ditampilkan bibirnya. "Tentu," jawabnya lantas menghampiri Baekhyun. "Semua sudah datang?"
"Ya," Baekhyun meraih telapak tangan Luhan dan menggenggam jemarinya erat-erat untuk menggiringnya menuju ruang makan mungil. "Kau seharusnya menyambut pacar baru Kyungsoo, bukan malah bersembunyi di kamar," gerutunya.
Ketika Luhan keluar dari kamar, pandangannya langsung disambut oleh beberapa pasang mata yang ada di meja makan. Cowok berkulit tan yang sedang melempar senyuman ke arahnya itu adalah Kai, pacar baru Kyungsoo. Seseorang mencoba melempar salam dengan suara bass penuh nada kesopanan padanya; itu Chanyeol, kekasih Baekhyun. Di sebelahnya duduk seorang cowok berambut cokelat madu yang sempat merundukkan kepala demi memberi salam. Luhan meringis kecil sebagai tanggapannya dan berharap jika pemuda itu akan meliriknya lebih lama. Tetapi yang didapatkannya hanya anggukan kepala, tanpa pandangan ramah atau yang lain.
Oh itu dia. Cowok musang yang menjadi pacarnya. Cuek sekali.
"Duduk di sini, Lu."
Luhan mengerjap sekali, menoleh ke arah Baekhyun yang sedang menarik kursi untuknya. Wow. Tempat duduk yang berhadapan langsung dengan cowok musangnya.
"Aku ingin membantu Kyungsoo?" Luhan melirik Kyungsoo, mencoba berkilah agar dia tidak terburu-buru untuk duduk di sana. Oh Sehun yang sekarang tampak sangat tidak bersahabat dan dia benci pada kenyataan itu.
"Membantu apa, huh?" Kyungsoo tiba-tiba datang dengan panci panas dan meletakkannya di tengah meja, membuka tutupnya sehingga uap mengepulnya menyebar di udara. "Semua sudah selesai. Kau cukup duduk di kursimu," senyuman manis melayang ke arah Luhan. Dia menegakkan tubuhnya lalu mengedarkan binar ramah pada semua orang, "Biarkan aku mengisi mangkuk sup kalian."
Luhan menggigit bibir saat menjatuhkan bokongnya pada kursi; debar jantungnya langsung meningkat tajam ketika sudut pandangnya menemukan raut Sehun di seberangnya. Pendengarannya sempat menangkap kata terimakasih dari Sehun ketika Kyungsoo selesai mengisi mangkuk supnya; jenis suara berat yang diam-diam begitu dirindukan oleh Luhan. Sehun ada di depannya, dan bukankah pemuda itu perlu memberinya kilatan mata walau sebentar saja?
Sehun tidak melakukannya. Luhan sebal karena merasa diacuhkan.
"Sepertinya dua orang lajang ini dilingkupi kecanggungan karena tidak saling mengenal," Chanyeol angkat suara sambil bertelekan pada meja, mengial geli ke arah Sehun lalu Luhan. Luhan lebih dulu mendongak demi menatap Chanyeol, tetapi buru-buru merunduk lagi agar rona merah di pipinya tidak kelihatan.
"Kau benar, Chanyeol," Kai menanggapi dengan canda. Candaan yang menyangkut nama Oh Sehun benar-benar tidak dibutuhkan Luhan untuk malam ini. Gadis itu berdebar dalam keterdiamannya. Sayangnya, Kai masih berniat untuk melanjutkan kalimatnya. "Mereka harus berkenalan terlebih dahulu. Bukankah ide itu bagus, Kyung?"
Kyungsoo memutar bola mata ketika mendengar kalimat itu dari kekasihnya. Kelihatannya, dia terjebak dalam kata tidak dan ya. Namun pada akhirnya dia mengatakan sesuatu yang tidak diharapkan oleh batinnya sendiri. "Perkenalkan secara resmi kalau begitu."
Dan perkenalan antara Sehun dan Luhan terlewati dengan amat canggung, baik Sehun mau pun Luhan tidak mengatakan apa-apa selain mengucapkan halo disusul dengan nama lengkap. Luhan sempat dibuat merona ketika tangannya dijabat erat oleh jemari panjang Sehun, tetapi Sehun tidak memberi tanggapan apa-apa. Jabat tangan itu hanya berlangsung selama tiga detik, lalu Sehun kembali duduk tenang di kursinya. Sepertinya dia tidak pandai mengekspresikan apa yang dirasakannya dengan baik. Ekspresinya sedatar musang sialan sehingga tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Sehun saat keduanya berkenalan di meja makan ini.
Luhan tidak mau peduli. Terlanjur sebal karena sangat merasa diacuhkan.
Makan malam itu dimulai begitu Sehun dan Luhan kembali duduk di kursinya. Kai menuang wine ke gelas kristal yang dimiliki masing-masing orang, lalu Baekhyun berseru mengenai sesuatu. Kyungsoo menanggapinya dengan gelak tawa sekaligus tersipu, manis sekali. Luhan menoleh dan menemukan wajah Kai yang terselipi gurat bahagia ketika mendapati wajah tersipu milik Kyungsoo. Sebelum Luhan menyantap nasi, sup, ikan, dan lauk lainnya, dia juga sempat mendapati Chanyeol yang menggerutu main-main karena Baekhyun menceramahinya tentang tugas-tugas kuliah, keduanya benar-benar seperti sepasang kekasih yang masih duduk di bangku sekolah dasar; begitu kekanakan tetapi kehangatan terang bisa dirasakan dari mereka.
Jenis hubungan yang begitu didambakan oleh Luhan. Menilik seperti apa kekasihnya, sepertinya kehangatan sebuah hubungan akan sulit didecap olehnya. Mengumbar kemesraan memang bukan ide bagus, tetapi dia ingin melakukan hal itu; setidaknya untuk sekali-kali saja. Itu akan menjadi hal yang menyenangkan. Jika dihadapkan pada kenyataan, Luhan harus merasa puas dengan jenis pacaran backstreet yang sedang dijalaninya.
Backstreet yang keparat, Luhan lebih suka menyebutnya begitu.
Saat Kyungsoo menyajikan puding sebagai makanan penutup; sebenarnya itu cemilan agar pembicaraan di meja makan bisa diperpanjang, mereka kembali berbicara tentang suatu hal. Baekhyun bertanya tentang apa yang dilakukan Kai saat menyatakan perasaannya pada Kyungsoo. Lalu pasangan baru itu setuju untuk menceritakan tiap detailnya; kombinasi antara Kai yang bersemangat dengan sudut pandangnya serta Kyungsoo yang lagi-lagi tersipu malu. Baekhyun serta Chanyeol merespon dengan berlebihan, dan Luhan ikut merespon walau tidak sebanyak yang dilakukan oleh Baekhyun atau Chanyeol. Beberapa kali dia mencuri pandang ke arah Sehun, tetapi pemuda itu tetap diam dan hanya akan berbicara ketika diperlukan, sepertinya Sehun adalah tipe cowok tidak asyik; begitu berbanding terbalik jika Luhan dan Sehun sedang berdua.
Oh. Mungkin Sehun adalah cowok berkepribadian ganda? Jika memang benar seperti itu, fakta baru yang hebat. Luhan tidak tahu tentang hal itu, membuatnya secara suka rela akan menyebut dirinya sendiri sebagai cewek bebal. Setelah fakta baru tentang Sehun yang playboy, sekarang fakta baru tentang Sehun yang berkepribadian ganda. Rangkaian fakta yang benar-benar .., jahanam.
Coba pikirkan sekali lagi, Luhan. Dia mencoba menenangkan diri. Pandangannya terarah pada sosok cowok pendiam di hadapannya, bawah sadarnya meneriakkan statusnya dengan Oh Sehun. Tetapi status mereka sekarang terkesan tidak penting untuk saat ini. Lihat. Sehun mengacuhkan pandangannya sepanjang waktu dan ekspresinya tampak netral—seolah-olah mereka adalah orang asing yang baru bertemu hari ini. Tidak disangka jika Sehun punya kemampuan akting yang menakjubkan. Sangat mencengangkan hingga Luhan tidak bisa percaya dengah mudah akan hal itu.
Semua yang ada di meja makan ini tampak bercanda sambil tertawa-tawa, tetapi hanya Sehun yang diam dengan kontrol diri tidak pentingnya. Luhan beberapa kali ikut tertawa saat mereka membicarakan hal yang benar-benar lucu, sempat melirik Sehun dan berharap jika pemuda itu akan ikut tertawa. Namun nyatanya, Sehun tidak bisa tertawa jika sedang terjebak dengan orang-orang lain.
Sebenarnya, tidak apa-apa jika Sehun tidak ikut tertawa demi menanggapi lelucon-lelucon itu. Tetapi setidaknya, Sehun membalas lirikan mata Luhan. Bukankah mereka pacaran?
"Oh, ya," Kai menyendok pudingnya dan melahapnya dengan nikmat, kepalanya meneleng mencoba menatap pihak yang duduk di samping kanannya. "Kemarin Wendy mencarimu."
Sehun langsung mendongak dan menatap Kai. Ekspresinya berubah menjadi antusias, menuai seringai geli di bibir Kai serta Chanyeol. "Aku sudah bertemu dengannya," jawabnya dengan nada stabil, seolah pertemuannya dengan Wendy adalah hal biasa.
Bagi Oh Sehun memang biasa, tetapi bagi Luhan, itu beda lagi.
Dan untuk yang pertama kali, Sehun baru melirik Luhan yang sedang menatap ke arahnya. Mendapat hujaman tatapan penuh pertanyaan bercampur curiga dari manik rusa di sana, Sehun mulai merasa sedikit aneh.
"Siapa Wendy?" Kyungsoo mengutarakan pertanyaan, membantu Luhan sebab secara tidak langsung Kyungsoo telah mewakilinya untuk bertanya. Suara denting terdengar saat sendok pudingnya tergeletak di lepek mangkuknya. Pandangannya jelas terarah pada raut musang Sehun. "Mantan kekasih Sehun?"
Sehun hanya tersenyum kecil menanggapi tebakan Kyungsoo, sedang Chanyeol angkat bicara. "Kau putus dengannya sekitar tiga minggu lalu, 'kan?"
Lalu Luhan tersedak mendengarnya. Semua orang yang ada di meja makan itu menatap Luhan yang sedang meneguk winenya tanpa perhitungan, menghiraukan air putih untuk mengobati rasa tersedaknya.
Sialan. Luhan baru tersedak oleh fakta baru lagi. Hari ini, total tiga fakta sialan yang membangkitkan rasa muaknya. Semua itu berhubungan dengan Oh Sehunnya. Adakah hal lain yang lebih sialan dari hal itu? Luhan benar-benar menantikannya agar dia bisa muntah sekalian.
"Pelan-pelan, Lulu. Puding yang super lembut itu bisa saja mencekik lehermu," Baekhyun menepuk punggung Luhan dengan sayang dan menyodorkan air mineral, tetapi Luhan menolak dan memilih meneguk wine. "Mau tambah puding lagi?"
Luhan menggeleng dan melempar senyuman ke arah Baekhyun. Pertahanan yang bagus. "Tidak," tolaknya halus lalu menatap semua wajah yang menghadapnya. Sekali lagi dia meringis, kali ini penuh permintaan maaf. "Kurasa aku tidak bisa terus di sini. Kepalaku agak pusing karena wine," keluhnya.
"Kau memang lemah dengan alkohol tetapi kenapa kau ngotot ingin minum sih?" Kyungsoo cemberut sedangkan Luhan masih tetap meringis. "Mau kuhangatkan susu?"
Luhan segera beranjak, "Tidak perlu repot, Kyung," katanya. "Nikmati waktu kalian di sini. Maaf karena aku terlalu lemah dengan alkohol tetapi tetap ngotot untuk ikut minum," kekehnya dan akan segera pergi.
"Mau kuantar?" Sehun menawarkan diri dengan begitu tiba-tiba, dan kali ini ganti Kyungsoo yang tersedak. Kai buru-buru menyorong air putih sambil memijit pundak kekasihnya.
Chanyeol bertepuk tangan dengan amat tidak sopan namun penuh canda seperti biasanya. Hal baru yang sangat menarik baginya. "Oh Sehun, tahan sebentar, Bung!" katanya dengan nada keras. "Nona Xi terlalu polos untuk bajingan sepertimu!" suara tawanya terdengar lepas lalu tangannya terangkat, menyambut highfive dari Kai yang juga ikut tertawa.
Baekhyun memutar mata menanggapinya. "Aku tidak pernah mengerti kenapa Sehun tidak pernah marah jika dikatai jahat oleh dua sahabatnya yang tolol."
Sehun terkekeh, tetapi dia benar-benar bangkit untuk mengantar Luhan ke kamar. "Karena apa yang dikatakan Chanyeol atau Kai itu benar. Aku memang berengsek," katanya tanpa pikir panjang.
"Kalau kau memang berengsek, duduk kembali di kursimu dan biarkan Luhan ke kamarnya sendiri," Kyungsoo menyela dengan nada mengejek.
Luhan menatap wajah Kyungsoo dengan pandangan tidak mengerti.
"Kukira dia butuh lenganku," Sehun segera melingkarkan lengannya hingga telapaknya menyentuh pundak Luhan yang ada di seberangnya. Semua orang yang ada di meja makan tampak terkejut, begitu pula Luhan. Ujung jemari Sehun menyebarkan sengatan listrik seribu volt yang mampu membuat pikiran Luhan jadi sedikit lebih sinting. Tubuhnya menempel pada sisi tubuh Luhan, tidak ada jarak di antara mereka karena Sehun mengapitnya erat-erat. Untuk yang pertama kali di ruang makan ini, senyuman terbit di kedua belah bibir Sehun. Jenis senyuman tulus yang membuat dua matanya menyipit. "Lanjutkan makan malam kalian. Aku akan mengantarkan Luhan ke kamar dan segera kembali."
"Kuperingatkan agar tidak merayunya, Sehun," Kai meneguk winenya saat Sehun menuntun Luhan menjauhi meja makan, menuai cengiran bercampur seringai yang bisa dikategorikan sebagai tanda-tanda bahaya menurut Kai atau Chanyeol.
"Kai serius!" Kyungsoo menjerit di antara kemarahannya. Dia ingin bangkit tetapi Kai menahannya.
Chanyeol menggeleng-gelengkan kepala. "Mustahil bagi Sehun untuk tidak merayu cewek yang sudah didekap oleh lengannya," katanya ketika mendapati Sehun dan Luhan sudah hilang di balik pintu kamar. Kilat matanya tampak aneh dengan segala pertimbangan.
Baekhyun mengalihkan pandangan demi menatap wajah kekasihnya. "Memangnya, Sehun seburuk itu?"
"Parah," komentar Chanyeol. "Dia playboy akut yang mungkin tidak akan pernah menikah."
TBC
Author's note : Waktu kalian baca di chap pertama, mungkin kalian nggak akan menyadari kalo alurnya akan berjalan lambat. Tetapi setelah baca chap ini dan 1C (yang akan segera rilis), mungkin kalian akan mulai berpikir, "Wow, ternyata alurnya emang selambat ini." Mohon pengertiannya, yaa .. Seperti yang udah aku jelasin di Warning! yang paling awal, kalo ide ff ini awalnya adalah oneshoot. Dan karena itu, alurnya bisa berjalan sangat lambat. Tolong nikmati saja, yaa ..
Btw, special thanks for ohsehawnn, mumumuu {} Sukses buat SNMPTN dan UNAS kita yang tinggal *berapa hari lagi ya hahahaa* /ini gue merasa nemuin temen seperjuangan :")/
Dibaca lalu direview :3 jangan cuman klik follow story tanpa ketik review .. Diam-diam juga getun/? sih tapi well, itu terserah kalian. Mau menghargai lalu dihargai, atau memilih opsi sebaliknya. Just wanna be a good author for all readers. So I'll work harder to make a good story.
Be a smart reader, guys ;) see you in next story ..
Big hug, xoxo
