Chapter 2 : Orenji no sora,
.
.
Betapa senangnya hati, ketika melihat langit mulai menjingga…
.
.
Kereta kuda yang baru keluar dari hutan belantara itu, terdengar ramai karena teriakan-teriakan seorang pemuda yang mengangumi keindahan alam diluar kastil. Suaranya bagaikan burung-burung yang berkicau ria dipagi hari, hendak menyambut hangatnya sinar mentari. Senyumannya terpampang jelas diwajah. Mengesankan hatinya yang berbunga-bunga. Tak henti-hentinya ia melafalkan kalimat-kalimat syukur serta kekagumannya akan pemandangan yang baru ia lihat pertama kali dalam seumur hidupnya.
Di samping kanan kereta itu adalah pantai. Hamparan biru laut nampak bercakap-cakap dengan suara burung camar yang terbang bebas diangkasa. Desiran ombak pun terlihat seperti bercanda dengan perahu-perahu nelayan yang perkasa. Buih-buih pada hamparan laut biru seperti renda baju seorang puteri. Sementara disamping kirinya, terdapat pemandangan alam berupa sawah yang menghijau, embun yang menempel pada dedaunan dikebun, dan burung-burung yang berakrobat di langit yang cerah.
Pemuda itu menelitikkan setiap pemandangan yang ia lihat sekarang. Kadang tertawa, kadang tersenyum, dan ada pula kadang ia mencoba menggapai daun-daun pohon yang kebetulan setara tingginya dengan kusir kuda. Iris keemasanya begitu berkilau terkena pantulan sinar matahari yang semakin mendaki. Kedua gadis berpakaian suster itu hanya bisa melempar senyum mendapati Si Manis yang riang menyapa paginya yang indah.
Seketika pemuda beriris keemasan itu merengek untuk turun dan berniat berjalan kaki saja. Karena tidak tahan akan tatapan memelas dari Si Manis, akhirnya kedua gadis itu pun setuju dan membiarkannya untuk berjalan kaki. Tentu tidak jauh dari pengawasan mereka. Dengan wajah sumringah, ia pun melompat dari kusir dan segera berhamburan mendekati taman bunga yang dikerubungi banyak sekali kupu-kupu. Pemuda itu tertawa lepas mengejar setiap kupu-kupu dalam pandagannya. Kadang ia terjatuh karena melompat hendak menangkap kupu-kupu. Tentu kedua gadis itu khawatir, tetapi ketika melihat wajah Si Manis yang tetap ceria, ia memutuskan untuk membiarkannya bermain sebentar di taman bunga itu.
"Huaahh! Lihat pesawat itu! Pasti mengasyikkan jika bermain diantar awan-awan yang mengumpal…" pikir pemuda itu terus berjalan perlahan di pinggir tebing yang sedikit curam. Tangannya ia rentangkan demi menjaga keseimbangannya. Namun tatapannya terus terpaku pada langit luas. "Gempachii! Hati-hati! Itu tebing lho!" Seru Ying mulai khawatir. Gempa menunjukkan senyumannya.
"Ah ayolah… ini kan pertama kalinya…" Ucap Gempa mengenyel. Yaya yang sedang duduk di kusir sambil menuangkan teh hangat di cangkirnya juga menghentikan kegiatannya sebentar. "Nanti kalau kamu jatuh, kamu gak bisa ketemu orang-orang banyak lho…"
Mendengar kata-kata 'orang banyak' telinga Gempa menaik. Ia menghentikan langkahnya dan menatap polos kedua gadis vampir itu, "O-orang banyak? Ap-apakah mereka jahat seperti orang-orang di kastil Gopal Ouji-sama?" Gempa bergidik ngeri. Rasanya dia ingin kabur saja dari sini sekarang. Setelah mengetahui jika ia akan kembali berkeremun dengan 'orang banyak'.
Ying dan Yaya tahu jika Gempa sempat ketakutan karena tidak terbiasa bertemu orang banyak. Tapi, pemuda itu pasti akan merasa nyaman jika dia sudah bertemu dengan teman-teman sebayanya. Kedua gadis vampir itu juga mengerti bila Gempa akan selalu tersenyum dan membuat teman-temannya selalu merasa kehangatannya. Maka dari itu, lebih baik jika Gempa meninggalkan kastil itu untuk sementara. Demi mengejar ilmunya, dan mengganti suasana yang selalu mencekam dirinya.
"Tidak Gempachii… mereka semua seumuran denganmu. Mereka adalah temanmu. Pasti mereka bisa berteman dan bermain denganmu. Yang penting, tetaplah tersenyum, dan selalu berkata baik. Pasti mereka akan menyayangimu.." Tuturan lembut dari Yaya membuat Gempa termenung. Gempa merasa dirinya sudah memiliki kembali semangat untuk segera sampai di Hanaveo Academy. Ia menjadi penasaran, seperti apa rupa teman- teman sebayanya. Selama dia dikurung di kastil itu kan, ia hanya melihat orang-orang yang umurnya bukan umur muda. Yang termuda itupun vampir yang menggenakan kacamata hitam dengan gaya khasnya, yaitu menaikkan kacamata menggunakan jari tengahnya.
Gempa tersenyum penuh misteri. Tatapannya menghadap langit. Angin berhembus menyapu wajah dan jubah akademinya. Ying dan Yaya terus menatap Si Manis yang terdiam ditepi tebing. Gempa pun berjalan kembali mendekati kusir kereta kudanya, dan menikmati teh hangat buatan Yaya. "Baiklah.. aku turuti." Ucap Gempa sebelum menyesap tehnya. Mereka pun bersenda gurau disana. Mengalahkan kehangatan sinar matahari yang semakin meninggi.
Kereta kuda yang mereka tumpangi sepertinya sudah mendekati akademi yang dimaksud Sang Pangeran. Bersamaan langit yang mulai berwarna jingga. Iris emas Gempa bertemu dengan warna jingga terang dari langit. Membuatnya terpaku cukup lama. Matahari sudah mulai menenggelamkan dirinya dari balik bukit. Namun, langit tetap menjaga warna jingganya yang mulai menghilang ditelan kegelapan.
"Orenji no sora…" Gumam Gempa sambil terus menatap langit. Ying pun ikut mengadahkan pandangannya pada langit. Sejenak, ia juga memikirkan hal yang sama dengan Si Manis disampingnya. Namun Yaya segera menghancurkan momen terindah dalam hidup Gempa dengan teriakan yang menandakan mereka sudah sampai.
"Hanaveo Academy! Cepat kemasi barang-barangmu Gempachii! Sebentar lagi kita akan sampai!"
"Ha'i!" Gempa berseru sambil melompat dari kusir dan berlari menuju belakang kereta kuda. Memasuki gubuk kecil yang menjadi rumah kecil yang berjalan. Disitu, Gempa membawakan tas tenteng hitamnya, sementara kopernya dibawa oleh Yaya. Kereta kuda sudah sampai di gerbang akademi terluas di dunia. Pagarnya saja terbuat dari marmer yang harganya tak dapat dihitung. Kereta kuda yang Gempa tumpangi akhirnya berhenti didepan gerbang. Mereka semua segera turun dan mulai memasuki wilayah akademi yang luas. Disana, sudah terlihat 5 orang yang nampak menunggu kedatangan mereka. Orang yang paling tertinggi dan mengenakan jas rapih panjang itu pun tersenyum ketika melihat kedua gadis vampir berpakaian suster itu mendekat. Gempa yang sedari tadi mengadahkan pandangannya keseluruh penjuru akademi, hanya bisa berdecak kagum dengan wajah polosnya.
Orang berjas panjang itu mendekati mereka diikuti orang-orang dibelakangnya. Mereka saling menunduk dan bersalaman. Gempa yang tidak tau hanya dapat mengikuti setiap gerak-gerik Ying dan Yaya dari belakang.
"Dengan, Nona Ying dan Nona Yaya?" Tanya pria itu yang diketahui adalah seorang kepala sekolah akademi itu. Ying dan Yaya mengganguk sopan,
"Dengan Pak Kepala Sekolah, Jovien Van Evlio?" Tanya Yaya sopan yang dijawab sebuah anggukan membenarkan dari kepala sekolah bernama Jovien. Mereka pun berbincang sebentar, sementara Gempa tetap memerhatikan setiap sudut akademi barunya itu.
"Terlihat seperti kastil vampir yang ada didongeng, semoga saja tidak ada vampir sungguhan disini…" Oh Gempa, sadarkah kamu? Kepala Sekolah dihadapanmu itu sendiri adalah vampir! Bahkan orang-orang yang menemaninya adalah keturunan ras vampir murni. Yang berarti bisa mencium darah manis dari tubuhmu, akankah kau selamat selama kau tinggal di akademi ini? selama 4 tahun?
Gempa memang sudah dari dulu membenci vampir. Alasannya masih tidak diketahui karena dia belum pernah mengatakan, jika dia benar-benar benci dengan mahkluk peminum darah tersebut. Hatinya terlalu lembut untuk mengatakan hal-hal menyakitkan seperti itu. Demi membuat Gempa betah tinggal di kastil, Gopal pun merahasiakan statusnya. Begitu juga dengan kaumnya. Mereka mati-matian menjaga seluruh hasrat vampirnya untuk meminum darah. Entah itu berburu diluar ataupun meminum darah dari kemasan.
"Kata Gopal Ouji-sama, ada adiknya yang ingin tinggal di asrama Hanaveo Academy. Apakah anak itu yang akan tinggal?" Tanya kepala sekolah lembut. Ying dan Yaya pun menyingkir yang sedari tadi menyembunyikan Gempa dibalik punggung mereka. Gempa yang sadar akhirnya menatap depannya.
Iris emasnya bertemu dengan iris merah menyala dari Sang Kepala Sekolah. Pemuda yag berdiri disebelah pak kepala dengan pakaian sama seperti Gempa, namun hanya mengancingkan jubah akademinya dibagian atas dengan lambang ombak putih yang sedikit berwarna biru dilambang itu. Sabuk yang seharusnya menyatukan jubah itu, ia lepas. Wajahnya tak begitu terihat karena tertutupi oleh topi birunya yang dipakai terlalu menunduk. Tapi nampak pemuda itu menyenggol sedikit lengan Pak Kepala. Yang membuat pria itu mengganguk kecil.
Ying mengisyaratkan Gempa untuk memperkenalkan diri, "Ah.. iya. Watashiwa Gempa desu." Ucap Gempa sambil menunduk. Pak Kepala Jovi tersenyum dan ikut menunduk, diikuti keempat orang dibelakangnya.
"Baiklah kalau begitu, Gempa-kun.. anda bisa mulai tinggal di asrama sekarang. Biar Ais dan Fang yang mengantarmu kekamar. Nah, Nona Ying, Nona Yaya, mau berbicara sebentar lagi dengan Gempa-kun? Sebelum jadal makan malam dimulai."
Ying dan Yaya segera menghadap Gempa yang tingginya tak melebihi telinga mereka. Gempa mendangak, menatap dalam pasang mata merah kekuningan mereka. Seketika mata Gempa berair, langsung saja Gempa menghamburkan pelukannya dan terisak kecil dalam dekapan mereka. Ying dan Yaya hanya tersenyum masam sambil mengusap lembut punggung pemuda itu.
"Jaa nee, Gempachii… belajarlah yang rajin. Jangan nakal di akademi ya! Jadilah anak baik." Ucap Ying mengusap surai hitam Gempa. Gempa mendangakkan kepalanya menatap wajah gadis vampir itu bergantian. Air mata masih membasahi pipinya yang sedikit chubby. Membuat siapapun yang melihatnya pasti merasa gemas.
"A-arigatou atas semua bantuan serta kasih sayang Ying-san dan Yaya-san… tanpa kalian, Gempa pasti tak bisa tumbuh besar sampai sekarang… hiks, Arigatou gozaimas…" Ucap Gempa sedikit tersendat-sendat oleh isak tangisnya. Membuat semua orang disana ikut-ikutan murung mendengar suara pilu dari Si Manis.
Ying dan Yaya melepas pelukan mereka. Yaya nampak meraih sesuatu dari tas kecil yang selalu ia bawa kemana-mana berwarna putih dengan motif polkadot merah muda. Yaya menarik sebuah benda yang berperan sebagai aksesoris kepala.
"Ini untuk Gempachii… maaf tidak jika tidak sesuai selera.. tapi Ying-san dan aku sudah membuatkan ini untuk kenang-kenangan dari kami… semoga suka…" Yaya mengulurkan benda itu. Gempa menerimanya sambil menatap intens benda itu.
Sebuah topi hitam dengan corak tanah keemasan dibagian samping, dan lambang tebing tanah yang bersatu dibagian belakang. Gempa mencoba memakai topi itu. Pertama kali, ia memakainya lurus kedepan. Merasa tidak nyaman, ia pun segera membalikkan topi itu. ia suka gaya topi terbalik seperti ini! Gempa segera tersenyum lebar seraya menghapuskan air matanya.
"Arigatou Gozaimassu Onee-chan!" Ying dan Yaya tersenyum mendengar Gempa memanggil mereka dengan sebutan 'kakak'.
Ying dan Yaya pun berjalan keluar akademi. Tentu sambil dengan tangan terlambai. Membalasi lambaian pemuda manis itu. Akhirnya mereka pun hilang ditelan kabut sore. Kepala sekolah sudah pamit duluan meninggalkan mereka dan meminta para 'Pengurus Akademi' untuk mengantar murid baru itu ke kamarnya. Sepanjang perjalan, Gempa diajak berputar-putar mengelilingi sekolah sebelum jadwal makan malam dimulai. Kedua kakak kelas -dari keempat kakak kelas- itu nampak ceria menyambut kedatangan Gempa. Mereka terus saja menunjukkan kelebihan-kelebihan akademi ini dan beberapa akrobat-akrobat kecil yang membuat Gempa tertawa sekaligus berdecak kagum. Sementara kedua kakak kelas yang sedikit 'dewasa' itu hanya tersenyum simpul melihat tingkah mereka yang kekanak-kanakkan.
"Nee, nee Gempa-kun.. lihat ini! Ini disebut, bola api~!" Seru kakak kelas bertopi merah menghadap keatas. Tudung akademinya ia kenakan. Sama seperti kakak kelasnya yang menggunakan topi berwarna biru laut. Ditangannya ia memunculkan sebuah bola api besar, dan menendangnya ke udara. Kedua mata emas Gempa berkilau melihat bola api yang sedang dijugling dengan lihai oleh kakak kelas itu. "Ais~! tangkap!" Bola itu ia oper ke pemuda bertopi menunduk. Sementara yang dipanggil hanya menatap bola api yang mengarah padanya dengan kecepatan super.
"A-awas!" Seru Gempa panik. Ia sudah menutup matanya duluan takut. Tubuhnya gemetar, ia tidak tega melihat apa yang telah terjadi.
"Hanya segini kekuatanmu? Blaze?" Gempa mendangak, kali ini Gempa dikejutkan oleh kakak kelasnya yang bernama Ais itu membekukan bola itu dalam bongkahan es.
"Wh-whoa! Su-sugoi!"
Ais mencairkan esnya yang membekukan bola berapi itu. Sebelum bola itu terjatuh ke tanah, Ais sudah menendangnya kearah lapangan bola disebelah kiri koridor yang mereka lewati. "Main bola di koridor, memiliki pelanggaran. Namun pelanggaran ini harus berurusan diatas kasur jika kau yang bermain. Kau akan merasakannya nanti malam…" ucap Ais menyeringai licik. Blaze hanya bisa pundung di sudut koridor. "Aku kenaaa…." Gerutunya pelan.
Gempa hanya memadangi kedua kakak kelas bertopi itu dengan tatapan bingung. Sampai pemuda –yang diyakini kakak kelas- bertopi miring dengan wajahnya yang selalu ceria menepuk bahu Gempa hingga Gempa tersadar dari lamunan. "Ayo kita kekamarmu! Sebentar lagi makan malam bersama di NightCafe. Nanti kau akan diantarkan oleh teman sekamarmu. Pokoknya abaikan saja mereka…" Pemuda bertopi miring itu merangkul santai Gempa yang umumnya lebih kecil. Gempa hanya mengganguk polos tanpa tau apa-apa sama sekali.
Setelah lama berjalan, mereka sampai disebuah ruangan yang memiliki pintu tidak begitu lebar, apalagi besar. Terbuat dari kayu pinus, dan gagangnya yang dicat keemasan. Pemuda bersurai ungu gelap, membuka pintunya bersamaan dengan wajah Gempa yang menunjukkan kepuasan sekali lagi.
"Hee! Su-Sugoi… i-ini kamarku?" Ucap Gempa takjub sembari memasuki kamarnya, dengan tangan kanan menarik koper. Gempa berputar-putar melihat-lihat setiap sudut kamarnya. kamarnya tak begitu luas, namun terasa hangat. Perapian terletak didekat jendela, jendela berukuran sedang tertutupi oleh gorden merah yang menujukkan kemewahaan, dua kasur single berdiri disetiap sisi ruangan. Berselimut sederhana tapi lembut. Kamar mandi berada dibagian utara. Sementara kamarnya menghadap timur. Satu lemari kayu besar terdapat di sebelah kasur yang masih tertata rapih. Tandanya, kasur itu ditempati oleh Gempa sekarang.
Sederhana tapi hangat. Ini yang selalu diharapkannya saat dikastil. Sementara dikastil para vampir itu sendiri memang terkesan sangat mewah, tapi dingin dan menyeramkan. Gempa benci itu. Sangat benci.
Pemuda bertopi miring yang dipanggil 'Taufan' itu menggaruk-garuk belakang kepalanya, "Duuh.. mana sih anak itu? masa teman baru tidak disambut.. memang dasar dingin.."
Pemuda bersurai landak ungu yang dipanggil 'Fang' menatap Taufan santai, "Memang dasarnya begitu… sudahlah, palingan dia lagi latihan diluar. Nanti juga datang sendiri… oh ya, Gempa-kun bisa kami tinggal dulu? Nanti ada teman sekamarmu," Fang melirik jam digital yang melingkar dipergelangannya, "Jam 8 nanti akan ada makan malam. Tolong datang ke NightCafe ya? Maaf tak bisa mengantarmu karena kami masih ada urusan untuk keperluan akademi ini. Maaf ya?" Gempa menggaguk sembari tersenyum manis,
"Ha'i, Simpaisenatte kudasai, senpai!" Gempa melebarkan senyumannya hingga membuat mereka ikut tersenyum. Taufan dan Blaze mendekati Gempa lalu memeluknya akrab. Gempa awalnya kaget, tapi merasa mereka sudah seperti kakaknya sendiri, Gempa membalasnya.
"Duuhh~ Gempa-kun aku panggil Gempachii saja ya? Kamu manis banget soalnya~" Ucap Taufan mencubiti pipi chubby milik Gempa gemas. Gempa tertawa cekikikan karena merasa geli, "Itu panggilan Gempa waktu di kastil… panggil saja Gempa sesuka senpai.."
Blaze teringat mereka semua belum berkenalan, Blaze pun memulai duluan, "Oh iya, kita belum kenalan, Watashiwa Blaze desu." Yang lain pun ikut menyahut,
"Ais desu."
"Fang desu."
"Taufan desu!"
Gempa tersenyum cerah sambil megulurkan tangannya mencoba menggapai satu persatu tangan mereka.
"Yoroshiku!"
"Hajimemashite!"
.
KLEK. Pintu kamar Gempa tertutup setelah keempat kakak kelasnya itu pergi. Masih dengan tatapan kagum, Gempa mencoba mendekati jendelanya yang masih rapih tertutup oleh gorden kemerahaan. Jari-jari mungilnya menarik salah satu sisi gorden, membuat ia bisa jelas melihat hutan gelap disana. Tapi, irisnya malah terpaku pada bayangan seorang pemuda dengan gaya toplessnya. Otot-otot perut maupun dadanya begitu kencang. Bahkan peluh yang membasahi tubuh maupun rambutnya, membuat semburat merah tipis pada pipi chubby Gempa.
Pemuda itu nampak sehabis berlatih perang. Pemuda itu menghapus keringat yang membasahi dahinya. Semakin membuat Gempa tak tahan menahan rona merah pada wajahnya. "Ah.. ke-kenapa dia…"
Pemuda itu seketika menoleh kearah kanan. Dimana Gempa sedang mengintipnya dibalik jendela. Gempa tentu kaget, tapi dia tidak mempunyai rasa takut dan terus memandangi irir merah delima pemuda itu yang menatap tajam sekaligus bingung padanya. Pemuda itu meraih seragamnya yang ia letakkan di rerumputan. Sambil berlari, pemuda itu memakai topi hitam-garis merahnya. Gempa yang kecewa hanya menatap arah lari pemuda itu yang semakin menjauh dengan tatapan sayunya. Masih dengan semburat tipis di pipi, ia kembali menutup gordennya. Melirik jam dinding yang berada diatas pintu kamar. Dan melangkahkan kakinya berniat keluar kamar. Karna memang jarum jam menujukkan pukul setengah delapan. Jadi ia berniat akan pergi ke NightCafe duluan saja. Siapa tahu, ada yang bisa mengantarnya kesana.
Ketika ia keluar dan kembali menutup pintu, ada segorombol para siswi akademi yang terlihat sexy menggunakan jubahnya yang berbagai ragam modif. Salah satu siswi itu melihat Gempa yang menatap mereka dengan tatapan polos. Membuat siswi itu memekik gemas. Ia mendekati Gempa pelan-pelan, takut Gempa akan merasa terancam. Siswi itu menundukkan tubuhnya, dengan kedua tangan bertumpu pada lutut, ia tersenyum manis didepan Gempa. "Waah~ murid baru ya? Ingin pergi ke NightCafe juga.. Kawaii outoutoyo?" Siswi lain pun ikut mengerubungi Gempa. Ada yang memekik, ada yang berteriak histeris dan ada yang senyum-senyum padanya.
Gempa sebenarnya ragu akan suara berisik yang mereka buat. Namun, melihat wajah cantik dan baik di siswi itu, Gempa teringat pesan dari Yaya,
"Tetap tersenyum, dan berkatalah dengan baik.. pasti mereka akan menyayangimu.."
"Iya nee-chan! Saya mencari café itu! Apa nee-chan tau tempat itu?" semua siswi yang mengerubunginya berteriak histeris. Mereka langsung mengambil gambar Gempa yang tersenyum imut layaknya anak kecil.
"Dia lucu banget! Cocok jadi pasangannya Kiriya-kun!"
"Eh.. enak aja~ dia tuh punya Mile-san!… gyaah~ cocok banget!"
"Dia kan bertopi! Cocoknya sama Hali-kun lah!"
Duh, lupa. Mereka adalah siswi Fujoshi akut di akademi ini…
"Hey kalian semua! Minggir dari kamarku! Apa yang kalian lakukan?" Semua siswi fujo itu dan Gempa menoleh ke asal sumber suara. Gempa melebarkan matanya terkejut melihat pemuda bertopi hitam garis merah itu mendekatinya. Semua siswi itu segera menyingkir dan mundur, mencoba melihat adegan-adengan pandangan pertama dari OTPbaru mereka.
Iris keemasan Gempa bertemu dengan iris merah delima pemuda itu cukup lama. Gempa tak bisa menahan rona merah pada pipinya melihat wajah pemuda itu yang basah karena keringat. Apalagi tatapan dinginya yang seolah-olah menembus otaknya.
"Kau murid baru? Sekamar denganku?" Tanya pemuda itu dingin. Gempa masih terus terpaku pada iris merah delima pemuda itu. Mata emasnya menyiratkan ia sedang menemukan sesuatu dalam lubuk hati paling dalam. Sekarang bibir ranumya nampak gemetar membaca suatu kalimat yang di yakini,
"Wa.. watashiwa… Su.. su.."
.
To Be Continued…
.
Halilintar : Kenapa kami ditinggal disini juga? Author satu ini males banget nyambut readersnya deh.. padahal fic sebelah juga ditinggal, masa disini kami ditinggal?
Gempa : Sudahlah Hali-kun.. kita saja yang menyambutnya..
Halilintar : Malas ah. Kamu saja!
Gempa : Terserah deh… baiklah.. Hai Para readers Lusted Apple,! Bagaimana dengan chapter dua ini? Sudah merasa puas? Maafkan karena bukan Vachii yang menyambut kalian karena beliau sibuk dan katanya tidak sempat kesini.. ^^|| karena tidak ada apa-apa yang ingin ia sampaikan, maka sekian dari Gempachii.. semoga terhibur dengan chapter 2 ini! ^^ Staytune yach!
Halinlitar : Kritik dan saran serta dukungan, membuat cerita ini akan terus berlanjut. So,
MIND TO REVIEW?
