"Jika begitu, artinya ini cuma perangkap. Dasar bodoh" Batin Sasuke sambil sedikit tersenyum sinis menertawakan kebodohan dunia. Beberapa saat kemudian terdengar sebuah suara.
"Selamat datang, tamu yang terhormat"
Chapter 02
Island of Truth
You Lie, You DIe
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Sci-fi, Romance
Semua kepala yang baru saja bangun tersebut secara refleks langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba untuk mencari darimana asal suara menggelegar layakna guntur tersebut. Dengan mata yang masih setengah tertutup karena mereka baru bangun dari pingsannya, mereka mencoba mencari di seluruh penjuru pulau yang mereka huni.
Diantara ketiga belas orang bingung itu, nampak Sasuke yang sekarang sedang berdiri sambil memandang ke arah lautan biru yang membentang luas di depannya. Mata onyx tajam miliknya sudah benar-benar terbuka secara sempurna untuk bisa melihat lautan biru dengan ombak tenang yang bergulung-gulung ke arah pesisir dengan membawa buih putih. Tapi, ada yang aneh dengan semua itu.
Pria berambut raven itu pun mengangkat tangannya di atas matanya untuk menghalangi sinar matahari yang menyilaukan matanya. Dia memfokuskan onyx tajamnya itu untuk melihat apa yang berada nun jauh disana. Mungkinkah disana ada pulau lain?
"Ini aneh. Horizonnya benar-benar terlihat sempurna" Batin Sasuke sambil mengembalikan tangannya dan kemudian berbalik memandang ke arah pulau bagian dalam. Di pantai dengan pasir putih itu, terdapat hutan bakau yang menjulang untuk mencegah abrasi pantaidan setelah melewati hutan bakau tersebut, yang tampak hanya pepohonan raksasa dengan kegelapan yang tak tertembus oleh sinar matahari. Sasuke pun berlutut di pasir putih tersebut dan mengambil segenggam pasir yang berada di bawahnya dan mengamati pasir putih tersebut dengan seksama.
"Mungkinkah..." Batin Sasuke sembari memegang kepalanya dan kemudian menoleh ke arah kerumunan orang yang tampaknya masih berusaha untuk mencari suara yang keluar dari tempat yang gak tahu asalnya tersebut.
"Siapa yang bicara tadi?"
"Hoi...! Cepat keluar, tunjukkan wajah pengecutmu itu sekarang juga"
"Apa-apaan ini sebenernya? Cepat kemari dan jelaskan apa yang terjadi disini"
Teriakan-teriakan frustasi mulai terlontar dari mulut orang yang mencari suara tadi. Cowok berambut raven yang tadi mengamati sekitar pun nampaknya sekarang sudah selesai dengan penyelidikan sederhananya dan berjalan mendekati salah seorang dari kelompok tersebut. Dia pun berjalan menuju seorang dengan rambut indigo panjang sepunggung yang sedang berdiri di dekatnya dengan bahasa tubuh gugup. Rambut indigo itu sedikit berkibar ketika kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri seperti orang bingung mau berbuat apa dengan teriakan frustasi orang-orang di sekitarnya.
"Hoah...!" Gadis itu pun berbalik begitu menyadari ada sebuah tangan yang dengan lembut menyentuh pundaknya. Dan ternyata, Sasuke sudah berdiri di belakangnya dengan ekspresi datarnya. Mata onyx tajam miliknya menangkap lavender yang masih terlihat gugup itu. Terbukti dari berkai-kali lavender tersebut mencoba kabur dari jangkauan manik onyx Sasuke.
"Uhmm...! Ano, O... Oha..."
"Ga usah basa-basi" Potong Sasuke. Cewek itu pun langsung terdiam mendengar ucapan tegas Sasuke. Cowok itu pun hanya menghela nafas melihat ekspresi ketakutan dari cewek di depann
"Namaku Sasuke. Mengapa kau ada disini?" Tanya Sasuke langsung to the point pada cewek tersebut. Cewek itu pun memandang Sasuke dengan lavendernya yang beberapa kali berkedip tak mengerti dengan ekspresi menggemaskan. Sasuke pun menepuk dahinya pelan melihat cewek yang baru ditemuinya itu.
"Cakep-cakep kok lemot sih" Batin Sasuke. Tentu saja dia tidak ingin mengucapkan hal itu di depan cewek secantik dia, tapi hal ini juga membuat Sasuke semakin penasaran dengan cewek ini. Muka putih dengan ekspresi polosnya tampak sangat menggemaskan. Apalagi ditambah dengan pipinya yang terkadang merona karena malu sambil memainkan jari tangannya di depan dadanya. Kelihatan lucu seperti boneka.
"Um, etto...! Aku tidak tahu kenapa aku disini. Um, kupikir aku masih tertidur lelap malam itu, lalu ketika aku bangun, aku sudah berada disini" Kata cewek tersebut sambil berkali-kali mengalihkan pandangannya dari onyx tajam milik Sasuke. Cowok itu pun meletakkan tangannya di depan dagunya sembari berpikir tentang kejadian Hinata yang mirip dengan kejadiannya.
"Uhm...! Ano, kupikir ini hanya mimpiku. Etto, jadi... apakah Sa... Sasuke...-san ini nyata?" Tanya cewek itu dengan ekspresi takut-takut. Sasuke pun memandang cewek tersebut dengan wajah seriusnya. Dan beberapa saat kemudian...
"Ahhh...! Ittai" Cewek itu pun mengusap-usap pipi chubby-nya yang memerah sementara Sasuke hanya menatapnya dengan tatapan datar.
"Jadi, apakah ini masih mimpi?" Tanya Sasuke. Cewek itu hanya menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sasuke pun kembali menghela nafasnya sejenak menghadapi tipe seperti ini.
"Gomen, mungkin..."
Namaku adalah Shiro, jiwa dari pulau ini. Kalian telah di kutuk sehingga kalian tidak akan bisa keluar dari pulau ini
Ucapan Sasuke dipotong oleh suara yang kembali menggelegar bagai guntur yang tidak tahu berasal dari mana. Sasuke pun menggeram pelan mendengar ucapan kutukan itu. Mungkin dia menyesali kenapa dia sebegitu bodohnya mengutuk Ino agar menghilang dari dunia ini sehingga dia sendiri yang terkena impasnya.
Kecuali... seseorang yang berhasil bertahan hidup sampai sebuah gerbang di pusat pulau ini terbuka saat titik balik matahari
Sasuke tertegun mendengar suara tersebut. Kalo tidak salah dia melakukan penembakan adalah waktu liburan semester, 20 Juni. Kurang 3 hari lagi untuk menuju titik balik matahari.
Saat titik balik matahari terjadi saat tengah hari, gerbang tersebut akan terbuka dan akan mengeluarkan berbagai bencana yang akan merusak setiap manusia yang tinggal di pulau ini. Tentu saja yang bisa memasukinya hanya satu orang saja
Nah...! Apakah yang akan kalian putuskan? Apakah kalian akan menunggu bencana tersebut datang dan menghancurkan kalian semua? Ataukah kalian akan mencarinya? Itu adalah keputusan kalian semua
Tapi, ingatlah. Aku adalah roh dari pulau ini. Aku berhak untuk memutuskan siapa yang boleh tinggal disini dan siapa yang harus musnah
Sekarang...! Dengarkanlah peraturan yang berlaku secara universal di pulau ini. Atau kalian akan musnah
~o0o~
Island of Truth
~o0o~
Meanwhile….
Disebuah ruangan yang didominasi oleh dinding besi, nampak seorang dengan rambut panjang sampai sepinggul duduk sambil mengatupkan tangannya depan mulutnya. Tatapan matanya begitu dingin, seolah-olah tatapan itu bisa benar-benar membunuh siapapun yang menatapnya. Duduk di atas sebuah kursi yang mengelilingi sebuah meja bundar yang terletak di pusat ruangan tersebut, beberapa orang dengan rambut coklat dan style yang bermacam-macam.
"Mungkin, permainan kali ini akan sedikit lebih seru" Kata seseorang sambil membaca sebuah artikel di tablet yang dibawanya. Seseorang yang nampaknya adalah pemimpin perkumpulan tadi tampak memasang wajah datar sementara orang yang membaca sebuah artikel tadi nampak sedikit lebih gugup karena merasa pemimpin bermata dingin mereka tidak begitu senang dengan hasil pekerjaan mereka.
"Coba lihat ini, tuanku. Bisa dilihat bahwa grafik orang yang bernama Sasuke ini benar-benar tenang tanpa terganggu oleh stress yang berlebihan. Mungkin seperti inilah jiwa psikopat sejati" Seseorang dari kumpulan tersebut tampak masih mencoba untuk membuat pemimpin mereka tertarik, tapi hasilnya nihil. Orang tersebut tetap saja berwajah datar.
"Ini pastinya akan menarik. Coba lihat apa yang berhasil disimpulkannya" Timpal seorang lagi sambil berdiri dan kemudian memperlihatkan tab yang di bawanya menuju ke arah pemimpin mereka. Pria tersebut tampak membaca grafik dalam tab tersebut dengan seksama sebelum akhirnya menunjukkan senyuman bengis di wajah datarnya.
"Akhirnya, seseorang yang melampaui penyihir kelaparan itu sudah tiba"
~o0o~
Island of Truth
~o0o~
Sasuke sedikit tercekat dengan suara tersebut. Dia pun menatap tajam ke arah langit dimana ke arah yang dia yakini sebagai asal dari suara tersebut. Apa-apaan ini? Kenapa harus ada peraturan segala? Mungkinkah hal ini seperti sebuah permainan? Jika tidak ada aturan dalam permainan, permainan tersebut akan menjadi membosankan, sama seperti tawuran.
"Brengsek...! Apakah ada orang yang menikmati penculikan ini disana" Batin Sasuke. Tangannya terkepal erat menahan amarah yang sudah berada di ubun-ubunnya. Dia pernah melihat sebuah permainan kematian di sebuah film dan dia merasa benci, bahkan jijik dengan kelakuan para pejabat yang mempermainkan nyawa manusia seenak udelnya.
Pertama, kalian tidak boleh membunuh
Sasuke tampak terkejut dengan peraturan pertama yang dikatakan oleh suara tersebut.
"Bukankah hanya ada satu yang selamat? Jika kita tidak membunuh satu sama lain, apakah ini berarti bersaing secara sehat?" Batin Sasuke memikirkan kata-kata dari suara tersebut. Sedetik kemudian dia terkesiap ketika sesuatu terlintas di benaknya.
"Jika kita tidak boleh membunuh, bukankah membiarkan dia mati itu boleh?" Batin Sasuke.
Jika saja ada seorang dari kalian yang mati karena dibiarkan mati oleh orang lain, maka itu bisa juga disebut membunuh.
Sasuke pun terkejut dengan suara yang seolah membaca pikirannya tersebut. Dia pun mengelus-elus dagunya sambil memikirkan sesuatu dan melihat ke arah sekeliling yang nampaknya juga serius mendengarkan peraturan permainan maut ini.
Kedua, kalian tidak boleh berjauhan. Jika ada seseorang dari kalian yang menjauh dari kelompok mayoritas lebih dari satu kilometer, dia akan mati.
"Bagaimana jika kita membagi dua kelompok dengan jumlah sama dan berpencar. Mungkin jumlah kita sekarang ganjil, tapi tidak ada yang bisa menjamin jika tidak ada yang mati setelah ini" Pikir Sasuke ssambil terus menatap tajam ke arah langit.
Jika jumlah yang terpisah sama, maka yang akan mati adalah orang yang duluan melewati batas satu kilometer itu.
"Fix, orang ini benar-benar sakti. Sepertinya dia bisa membaca pikiran semua orang yang ada disini, termasuk strategi milikku. Jika begitu..." Batin Sasuke sambil menutup matanya. Wajah tampannya itu tampak berelaksasi sejenak, menikmati semilir angin yang membelai helaian raven miliknya. Untuk beberapa saat dia memasang wajah damai seperti itu sebelum dia membuka matanya, tapi kali ini ada yang berbeda dengan onyx kelamnya tersebut. Mata hitam kelam itu tampak sekarang lebih lembut, bukan datar dan tajam seperti tadi. Bibirnya menyunggingkan seulas senyuman hangat entah kepada siapa.
Dan, yang terakhir kalian harus menemukannya sendiri.
Hening...! Tidak ada yang berbicara, ketiga belas orang itu mungkin sedang menunggu informasi selanjutnya tentang peraturan permainan ini. Hanya suara gulungan ombak rendah yang terdengar di tepi pantai pasir putih tersebut, tanpa ada yang berani berbicara. Tapi, suara yang keluar entah darimana itu sudah hilang entah kemana.
"Oi...! Jangan bercanda kau ya. Cepat katakan pada kami apa peraturan terakhirnya" Kata seorang cowok berambut pirang sambil mengepalkan tangannya ke arah langit, seolah mengancam suara tadi. Tapi, suara balasan tidak terdengar oleh telinga yang tertutupi oleh rambut panjangnya tersebut.
"Cih...! Bangsat. Apa-apaan dia?" Umpat seorang dengan rambut cepak berwarna putih yang dengan kesalnya menendang pasir yang ada di bawahnya sehingga pasir tersebut berhamburan.
"Mah...! Mah...! Tenanglah, jangan emosi terlebih dahulu. Kayaknya dia tidak berniat memberitahukannya kepada kita deh. Harusnya kita fokus pada apa yang bisa kita lakukan sekarang" Kata seorang pria dengan penampilan preman dan rambut lancip yang mencuat ke atas. Deretan gigi lancip miliknya tanpak terbaris rapi ketika dia menyunggingkan seulas senyuman lebar kepada kedua belas orang lainya.
"Jadi, mungkin... ugh...!" Orang tersebut tidak bisa melanjutkan ucapannya seperti tersedak oleh ludahnya sendiri. Tangan putih pucat milik preman itu pun langsung memegang kepalanya erat-erat, sampai-sampai tangannya bergetar saking eratnya dia memegangi kepalanya.
"Uarrrggghhhhh...!" Erangan memilukan terdengar dari mulutnya yang terbuka sangat lebar sehingga memaksa dua orang yang berada di sekitarnya mundur dan bergabung dengan kelompok Sasuke.
Cpruttt...! Dengan sound effect yang mengerikan, kepala yang di pegang itu pecah berhamburan. Kedua belas orang lainnya menatap ngeri ke arah pemandangan tadi. Apa yang sebenernya terjadi?
Kisame Hoshigaki-san telah gugur karena melanggar aturan ketiga.
Suara itu pun datang lagi. Sasuke tampak terkesiap sejenak, meskipun wajahnya tetap memiliki ekspresi lembut seperti tadi. Sementara kesebelas orang lainnya nampak terkejut dengan adegan berdarah tadi hanya bisa membuka mulutnya tidak percaya dengan adegan tadi. Tetes air mata tampak menetes di pelupuk mata gadis yang berada di samping Sasuke tadi.
"Bedebah...! Apa sih maunya suara tadi? Mempermainkan kita? Awas saja nanti dia pasti akan kubunuh" Teriak cowok berambut putih cepak tadi sambil menggeram marah ke arah langit. Sasuke masih terdiam sambil meletakkan tangannya di dagunya, mencoba untuk berpikir.
"Seringaian itu, tidak salah lagi. Pasti itu kesimpulannya" Pikir Sasuke.
"Kisame-san berbohong. Pasti itu aturan ketiga, dimana kita tidak boleh berbohong. Jadi, harusnya kalian diam saja" Celetuk Sasuke. Sontak semua mata memandang ke arah bocah berambut raven itu dengan tatapan intens nya. Gadis yang tadinya menangis itu pun mengusap air matanya dan kemudian menatap Sasuke dengan tatapan heran juga. Cowok yang tadinya marah-marah memandang Sasuke dengan mata melotot dan kemudian menghampiri Sasuke.
"Kau memang benar. Dia berbohong, aku adalah temannya sebelum aku di transfer ke sini. Kisame adalah cowok yang licik, untung sja dia temanku" Kata cowok tersebut. Sasuke hanya diam sebentar mendengar ucapan dari cowok tersebut dan kemudian mengangguk pelan.
"Dia benar. Seharusnya kita memang diam" Kata Hidan sambil berbalik dan kemudian duduk diatas pasir sambil melipat kedua lengannya.
"Arrrgggg...! Tidak, tidak" Tiba-tiba saja cowok berambut putih itu mengerang sambil megumpat dengan keras. Dengan ekspresi yang sama seperti Kisame, dia berusaha untuk menahan rasa sakit yang kini telah menguasai kepalanya.
"Tidak, sialan. Aku tidak memikirkan hal itu" Umpatnya di sela-sela kesakitan yang terlihat jelas di wajahnya. Kesebelas orang yang melihat pemandangan itu tampak melangkah mundur dan takut-takut menghadapi cowok berambut putih tersebut.
"Sialaaaaannnnn...! Bangsaaatttt...!" Umpatan yang di penuhi amarah dan penyesalan melolong keluar dari mulut cowok berambut putih itu ketika kepalanya hancur berantakan oleh tekanan dari dalam otaknya. Cewek yang berada di sebelah Sasuke kembali menangis sambil menutup mulutnya. Sasuke yang melihat hal tersebut berinisiatif untuk merangkul cewek yang sedang shock tersebut untuk menenangkannya.
"Siapa namamu?" Tanya Sasuke sambil mengelus pundak cewek tersebut pelan.
"Hinata" Jawab cewek yang ternyata bernama Hinata tersebut. Sasuke hanya tersenyum lembut pada Hinata.
"Tenanglah Hinata. Asalkan kau tidak berbohong, tidak akan terjadi apa pun disini. Aku akan melindungimu" Kata Sasuke sambil tersenyum lembut. Hinata pun tampaknya sudah agak tenang sedikit mendengar ucapan Sasuke yang terdengar sangat tulus tersebut.
"Huh...! Tukang cari kesempatan" Gumam seseorang dengan rambut acak-acakan berwarna merah yang melihat adegan tersebut tanpa terdengar oleh Sasuke.
Aku harus merebut simpati mereka dan menjadi pemimpin kelompok ini. Lalu aku sendiri yang akan keluar dari pulau mengerikan ini.
Secara serentak kesebelas orang yang tersisa langsung menoleh ke arah suara yang mereka kenal beberapa saat yang lalu. Itu adalah suara Kisame, orang yang mati pertama kali. Kenapa suara itu tiba-tiba keluar entah dari mana?
Dasar bodoh, kenapa cowok pantat ayam itu mengatakan yang sebenernya. Aku bisa keluar dari sini jika dia tetap diam, dan aku akan menjebaknya ketika sudah sampai gerbang.
Kali ini suara cowok berambut putih cepak yang baru saja mati tadi. Kesebelas orang lainnya tampak tertegun mendengar ucapan jujur tersebut.
Sepertinya kalian semua sudah mengetahui kebenarannya kan, berkat pengorbanan dari Kisame dan Hidan
Semua orang tampak diam, tidak berani berkata apa-apa. Setelah mendengar suara Kisame dan Hidan yang jujur itu, mereka benar-benar takut apabila mereka berkata suatu hal yang berlawanan dengan apa yang mereka pikirkan.
"Apakah ini menarik bagimu? Kita tidak boleh membunuh, dan yang selamat hanya ada satu. Satu-satunya cara untuk membunuh disini adalah memaksa seseorang untuk berbohong. Kami hanya tinggal diam disini menunggu bencana yang kau janjikan sampai kau merasa bosan dengan kami tanpa mengatakan sepatah kata pun. Apakah ini menarik bagimu?" Suara Sasuke terdengar lantang sekali. Sembilan orang yang tersisa tampak menatap Sasuke dengan tatapan takut-takut dan agak sedikit menjauh, kecuali Hinata yang masih tetap berada di samping Sasuke. Sepertinya mereka semua berharap bahwa Sasuke akan mati kali ini.
Hahahahah...! Idemu bagus juga, bocah Uchiha. Tapi ada satu hal yang perlu kau tahu
Aku, adalah jiwa dari pulau ini. Perintah dan peraturanku adalah mutlak. Dan kalian, para lalat-lalat penghuni pulau hanya akan menjadi mainanku saja.
Nah...! Karena sekarang kalian sudah mengerti peraturannya, kita akan mulai permainannya.
TBC
Mungkin author akan update fic ini tiap minggu, tapi karena abis ini lebaran (masih lama kali -_-) dan author juga terjebak dengan padatnya jadwal pondok, maka kemungkinan besar chapter selanjutnya akan saya selesaikan dua minggu lagi.
Huft…! Seperti biasa, kalo ada kritik dan saran bisa dikirim di kotak review. Cerita ini pengembangannya juga luas sih sebenernya, jadi saya butuh beberapa saran.
Yah…! Meskipun endingnya sudah saya tentuin juga sih XD.
Happy Read.
