OoooO
.
Perhaps Love
.
"Chanyeol and Baekhyun"
.
OoooO
.
Cast:
Chanyeol, Baekhyun beserta orang-orang disekitarnya
~Royal OTP~
.
Chanyeol milik Baekhyun. Baekhyun milik Chanyeol. Baekhyun dan Chanyeol milik orangtuanya. FF ini milik Cactus93
.
OoooO
.
Selamat membaca^^
.
OoooO
.
.
Seperti rencana kemarin, setelah pulang sekolah pukul tiga siang Baekhyun berjalan riang sepanjang koridor sekolahnya menuju gerbang dimana Jongwoon sudah menunggu. Jemari tangannya menggenggam erat kedua tali ranselnya yang tersampir di bahunya. Senyum manis ia sebar tanpa menyadari banyak yang terpesona melihatnya. Bibirnya mengerucut bersiul walau tak ada suara siulanpun terdengar. Suasana hatinya sangat bahagia, tidak sabar bertemu Prince Charming-nya lagi.
"Baekhyun-ah tunggu!"
Langkah Baekhyun berhenti, berbalik mendengar suara Luhan memanggilnya. Kepalanya menoleh kebelakang berhadapan dengan Luhan yang terengah-engah.
"Kau kenapa, Lu?" dahinya mengernyit.
"Kenapa kau meninggalkanku?" Luhan mengerucut tak terima Baekhyun keluar kelas duluan.
Baekhyun mengerjab. Matanya beralih menatap ke sosok tinggi yang berada di belakang Luhan. "Bukankah kau mau pulang bersama dengan Yifan?"
Sejak tahu Yifan berpacaran dengan sahabatnya sehari sebelum ia berulang tahun, Baekhyun sedikit menjauhi sahabatnya itu. Baekhyun tidak cemburu, hanya saja aura pacar pertama Luhan sangat tidak mengenakkan. Bahkan Baekhyun takut menatap wajah Yifan.
"Kau mau kemana, Baek? Aku ikut ya?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya bersamaan dengan telapak tangannya berayun kekanan dan kekiri berlawanan arah. "Tak boleh!"
"Eh, kenapa tidak boleh." Luhan berujar lesu merasa ditolak. Bibirnya mengerucut dan mata rusanya berkaca-kaca.
Melihat Luhan yang akan menangis, bukan menenangkan sahabatnya tapi Baekhyun malah menghentakkan kedua kakinya ke lantai dan memasang wajah cemberut. Luhan benar-benar tak tahu privasi dan seenaknya mendadak cengeng seperti itu. Rusa itu selalu sok manja jika Yifan berada disekitarnya. Lihatlah sekarang, pacarnya luhan yang berwajah sadis dengan alis seperti angry bird menatap tajam kearahnya seolah menyalahkan Baekhyun karena membuat Luhan bersedih.
Jika saja Baekhyun lebih besar dan kuat, mungkin ia akan dengan senang hati menendangnya. Sayang sekali, tinggi badan Baekhyun bahkan berada diperingkat paling bawah dijajaran laki-laki di kelasnya saat tes kesehatan. Baekhyun tidak berani, karena Yifan menempati peringkat teratas. Ia kalah besar dan kalah tinggi. Baekhyun takut kepada Yifan melebihi takut daripada ibunya. Padahal Yifan tidak pernah berbuat kasar padanya. Tapi perasaan Baekhyun selalu saja buruk saat melihat pemilik wajah jutek itu. Apasih yang disukai Luhan darinya.
Baekhyun melangkah mundur satu langkah,"Untuk kali ini, maafkan aku Luhannie!" Mengabaikan Luhan dan Yifan, Baekhyun langsung berbalik berlari secepat yang ia bisa. Awas saja Yifan, Baekhyun sumpahi cepat putus dari sahabatnya.
.
OoooO
.
Dari dalam mobil, Baekhyun menempelkan wajahnya pada kaca mobil melihat keadaan diluar. Matanya berkaca-kaca menyadari tempat dimana tenda putih kemarin berada kini hanyalah sebuah petak kosong.
"Ahjusshi, dimana tendanya?"
Jongwoon menatap kasihan Tuan mudanya dan menepuk lembut kepala Baekhyun. Ia tahu Tuan mudanya pasti merasa kecewa saat ini, "Tuan muda silakan tunggu disini dulu, saya akan bertanya pada orang-orang disana. Siapa tahu mereka tahu sesuatu."
Baekhyun mendongak menatap pengawalnya yang duduk pas disandingnya tepat di kursi pengendali. Kepalanya mengangguk dan matanya menatap penuh harapan. Senyumnya terpulas saat melihat pengawalnya beranjak keluar dari mobil dan mencari informasi diluar sana.
Telapak tangan mungil Baekhyun bergerak menghapus air mata yang masih berada diujung sudut matanya. Ia tidak boleh berwajah jelek saat bertemu pangerannya nanti. Lalu ia menepuk pipinya tiga kali dan menangkup pipinya senidiri. Wajahnya masih tampankan?
Ia sandarkan tubuhnya pada sandaran kursi empuk mobilnya, sedangkan telapak kakinya berayun kekanan dan kekiri secara berlawananan. Baekhyun sabar. Matanya memandang jauh kearah pengawalnya di seberang jalan sana. Terlihat pengawalnya itu bertanya dari satu orang ke orang lain. Baekhyun menggigit bibir bawahnya saat pengawalnya berbicara serius dengan seseorang bertopi hitam.
Senyum lebarnya terpasang melihat pengawalnya mulai berjalan kembali ke arahnya. Baekhyun menegakkan posisi duduknya dengan jemarinya ia genggam begitu erat.
Cklek.
Brak.
Jongwoon sudah kembali duduk didalam mobil, "Ternyata donor darah kemarin hanya diadakan tiga bulan sekali dan saya sudah tahu dimana Chanyeol-sshi bersekolah."
Senyum Baekhyun bertambah lebar. Ia tak peduli tenda putih itu lagi. Untuk apa bertemu selama tiga bulan sekali jika mereka bisa bertemu berkali-kali jika ia mengunjungi sekolah pangerannya. "Bolehkah aku pergi kesana?"
"Jika Tuan muda ingin, saya akan dengan senang hati mengantarkan anda kesana." Jongwoon memberi senyuman lembut di akhir kalimatnya menyadari Tuan mudanya sangat antusia.
"Yey! Tentu saja aku ingin kesana, ahjusshi~ Aku sudah tak sabar~"
"Baik, Tuan muda." Jongwoon mengangguk dan mulai menyalakan mesin mobil. Mobil hitam itupun melaju meninggalkan parkiran taman sungai Han.
"Apakah sekolah Prince Charming jauh, ahjusshi?"
"Tidak Tuan muda, kebetulan sekolah itu hanya memerlukan waktu beberama menit lebih cepat jika dari sekolah anda."
"Wah… berati aku bisa mampir setiap hari~"
Jongwoon tak membalas perkataan Baekhyun. Ia hanya menghela napas pasrah karena keinginan Tuan muda itu, berarti Jongwoon juga harus menambah agenda jadwalnya.
.
OoooO
.
"Tuan muda, apakah saya boleh ikut ke dalam?" Jongwoon menatap cemas kearah Tuan mudanya yang hendak pergi ke dalam sekolah sendirian. Saat ini mobil yang berisi Baekhyun dan Jongwoon sudah sampai di depan gerbang tempat dimana Chanyeol bersekolah. Dilihat dari gerbang yang terbuka lebar dan banyak murid yang keluar dari sekolah, itu berarti jam belajar sekolah telah usai. Jongwoon tidak mengkhawatirkan Tuan mudanya, ia lebih mengkhawatirkan murid yang kemungkinan besar akan direpotkan oleh Tuan mudanya. Iya yakin Tuan mudanya pasti akan membuat suatu keributan.
Sayangnya si mungil Byun yang tak tahu akan kekhawatiran pengawalnya itu hanya memberi senyum ceria dan menggelengkan kepalanya imut.
"Tak perlu, ahjusshi." Jangan abaikan jari telunjuk kanannya bergoyang kekanan dan kekiri lalu mulai beranjak turun dari mobil.
Jongwoon menghela napas pasrah dan menyaksikkan Tuan mudanya berjalan riang dengan tas yang masih ia gendong dari balik kaca mobil yang terparkir di depan gerbang sekolah mengengah atas itu.
Semoga Tuan muda tak membuat kekacauan.
Atau mungkin Jongwoon bisa diam-diam mengikutinya dari belakang?
.
OoooO
.
Awalnya Baekhyun yang masih memasang senyum ceria ketika masuk kedalam sekolah, tapi kini ia membatu di koridor utama. Mata indahnya mengerjab beberapa kali memandang kesekeliling area koridor. Yang Baekhyun tahu saat ini adalah, mungkin sebagian besar murid sekolah ini sudah pulang kerumah. Karena yang ia lihat di sini hanya ada segelintir siswa yang bisa ia hitung dengan kedua jari tanganya yang berlalu lalang di koridor dan memandang Baekhyun dengan tatapan yang seolah mengagumi keimutannya. Bukannya Baekhyun yang terlalu percaya diri, tapi kenyataannya memang demikian dan yang bisa Baekhyun lakukan hanyalah pura-pura tidak tahu daripada wajahnya menjadi korban cubitan.
Baekhyun terus melangkahkan kakinya masuk lebih dalam kearea sekolah. Kepalanya menoleh kesana kemari siapa tahu ia bisa tidak sengaja bertemu pangerannya. Itu adalah jodoh. Hingga sampai di pertigaan koridor, bibir Baekhyun melengkung ke bawah. Ia tahu hidup itu pilihan dan mengapa pilihan itu muncul disaat ia seperti ini. Sama saja saat dirinya memilih menonton Disney channel atau Cartoon Network dimana isinya penuh dengan siaran kesukaannya.
Baekhyun menghembuskan napas kesal. Ia harus bersabar dan tak boleh menyerah. Baekhyun berjalan mendekati salah satu kelas. Ia berjinjit menggapai jendela kaca mengintip kedalam sebuah ruang kelas yang jendelanya terbuka. Sayangnya didalamnya kosong dan Baekhyun kembali melengkungkan bibirnya ke bawah lalu menendang tembok ruangan yang ia intip tadi untuk melepaskan kekesalannya.
Alisnya terangkat, ketika telinganya mendengarkan suara seseorang menyanyi dengan sangat merdu, Baekhyun langsung tergerak mencari pusat suara itu berasal. Kakinya melangkah menuju ruang kelas sebelah. Bola matanya membulat menatap terpesona sosok itu.
"Pikachu!"
.
OoooO
.
"Chanyeol hyung, kau tidak tidak latihan basket?"
Chanyeol yang sedang memasukkan buku paketnya kedalam tas, mendongak kearah adik kelas yang menyempatkan diri mendatangi kelasnya untuk bertanya jadwal latihannya. Sebelah alisnya terangkat, "Aku kan sudah keluar, Sehun-ah."
"Apa?!" Adik kelas yang bernama Sehun itu terkejut membulatkan mata sipitnya.
"Kau sangat ketinggalan berita sekali, Sehunnie~" Seseorang tiba-tiba menepuk punggung Chanyeol dan menyenderkan sikunya pada bahu Chanyeol. Tak lupa orang itu memberi senyum sinis kearah orang yang diajaknya bicara.
"Jangan pernah memanggil namaku seperti itu! Itu sangat menjijikkan jika keluar dari mulutmu, Kim Jongin." Gertak Sehun.
"Ya. Namamu memang menjijikan."
"Hentikan Jongin! Sudah cukup! Aku bosan mendengar kalian yang selalu tak akur. Wajar Sehun tidak tahu, Jongin-ah. Minggu lalu ia tak masuk sekolah." Chanyeol menengahi kedua orang yang selalu mudah tersulut emosi. Ini sudah biasa. Chanyeol sudah terbiasan dengan keadaan ini.
Sehun yang tadinya menatap Jongin dengan sinis, mendengar ucapan Chanyeol ia kembali menaruh perhatiannya kepada Chanyeol dan tersenyum. "Mengapa sebelumnya kau tak memberi tahuku, hyung?"
Chanyeol terkekeh dengan sikap adik kelasnya yang menggemaskan. Chanyeol suka dengan orang menggemaskan. Jadi teringat sosok mungil yang ditemuinya kemarin. Prince Charming? Princess Baekkie? Chanyeol selalu tak bisa menahan senyum saat teringat panggilan aneh itu.
"Maaf Sehun-ah. Aku ingin fokus ujian kenaikan kelas bulan depan dan aku akan naik kelas tiga, ya sekalian saja. Lagi pula kau tahukan aku tak serius mengikuti klub itu."
"Memang kau yakin naik kelas?"
Chanyeol langsung menatap sinis orang yang menghinanya, "Sialan kau, kkamjong!"
Orang yang barusan menghina Chanyeol tak membalas hanya tertawa lepas.
Mengabaikan tawa Jongin, Sehun kembali bertanya. "Lalu aku bagaimana, hyung?"
Dahi Chanyeol berkerut, "Kau lanjut saja."
"Tapi kau tak disana lagi."
Jongin yang terhenti dari tawanya kini langsung memasang wajah mual mendengar ucapan Sehun. Chanyeol yang tahu itu, langsung menyiku perut Jongin yang tepat disampingnya. Ia tersenyum, menyembunyikan raut yang sebenarnya khawatir. Tangan kanannya bergerak menepuk bahu kanan adik kelasnya itu. "Tetaplah bergabung di dalam klub, Sehun-ah. Belum ada setahun kau bergabung dan bahkan bakatmu sungguh luar biasa. Aku akan sangat bangga jika kelas dua besok kau merebut posisi Ketua klub dari tangan Minho."
Mendengar nasihat itu, senyum Sehun merekah. Ia menganggukkan kepala menyanggupi permintaan Chanyeol. "Baik, hyung! Kalau begitu aku pamit."
"Semangat Sehun-ah!" Chanyeol menggenggamkan tangan keudara memberi semangat dan Sehun mengangguk berlalu meninggalkan kelas kakak kelasnya.
Jongin hanya memandang datar. "Kau tahu Chanyeol-ah. Dia sangat aneh."
"Dan itu alasanmu tak suka dengannya?" Chanyeol menoleh kearah Jongin. Tangannya menyampirkan tas ranselnya di bahu dan kakinya melangkah bergerak keluar kelas.
Jongin mengendikkan bahunya dan mengikuti langkah Chanyeol. "Mungkin. Tapi, sebagian besar bukan itu."
Mata bulat Chanyeol menyipit, "Lalu?"
"Belum saatnya kau tahu, Chanyeol-ah." Goda Jongin.
"Dasar sok keren." tangan Chanyeol menggenggam dan memukul bahu Jongin main-main.
Tanpa membalas pukulan Chanyeol, Jongin malah tertawa sedangkan Chanyeol hanya mengendus kembali menaruh perhatian pada tangga lantai dua.
"Kau akan langsung pulang?"
"Tidak aku akan mampir ke ruang kesehatan menaruh laporan donor darah kemarin kepada Dokter Cho. Ruang kesehatan kosong, karena semua anggota sedang diliburkan karena acara kemarin."
Jongin menganggukkan kepala, "Oh, begitu. Ngomong-ngomong apakah kau juga akan keluar dari klub PMR?"
"Tidak. Tidak untuk waktu dekat ini. Karena PMR selalu membuatku menambah ilmu kedokteran secara tidak langsung. Aku tak mau melewatkannya." Chanyeol tersenyum membayangkan mimpinya yang kelak akan menjadi nyata jika ia berusaha lebih keras. "Lagi pula aku gabung dengan klub basket hanya untuk menjaga staminaku, tak lebih dari itu."
"Dasar kau, licik. Penyalahgunaan keanggotaan klub."
"Hei~ mereka tak keberatan memasukkan orang berbakat sepertiku. Mereka yang untung." Sudut bibir kanan keatas, menyeringai.
Kini giliran Jongin memukul pelan bahu Chanyeol. "Kita berpisah dikoridor?"
"Terserah kau saja."
.
OoooO
.
"Waah~ jika aku sudah besar, aku akan bergabung dengan kalian! Pikachu hyung harus mengajariku~" Baekhyun bertepuk tangan heboh setelah menyaksikkan pertunjukan klub paduan suara. Anak itu duduk diatas meja dengan kaki berayun tak sampai lantai melihat para anggota bernyanyi di depan.
"Sayang sekali tidak bisa." Salah satu anggotanya mendekat kearah Baekhyun dan menepuk pelan ujung kepalanya.
Bibir Baekhyun mengerucut, "Kenapaaa~ Suara ku bagus lho hyung~ aku janji tak menganggil Jongdae hyung dengan sebutan Pikachu hyung lagi~?" ia menangkupkan kedua tangannya dibaha dagu.
Anggota yang bernama Jongdae itu malah tertawa dan mengacak rambut Baekhyun. "Karena saat kau sekolah disini, aku pasti sudah tak berada di sekolah ini lagi, Baekhyun-ah dan terserah kau memanggil hyung dengan panggilan apa."
"Jongdae hyung kemana? Hyung menghindariku?" raut Baekhyun semakin mendung.
Jongdae memutar bola matanya, seharusnya ia tak menggunakan kalimat tersirat jika berbicara dengan anak sekolah dasar. "Hyung sekarang kelas dua dan saat kau sekolah disni, hyung pasti sudah lulus. Tapi anggota klub musik yang lain pada tahun ajaranmu, pasti akan dengan senang hati mengajarimu."
Bibir Baekhyun membentuk huruf o sedangkan kepalanya mengangguk pelan mencerna kata demi kata yang Jongdae ucapkan. "Hyung dan Noona yang lain juga nanti akan lulus?"
Semua anggota manatap gemas dengan Baekhyun yang memasang ekspresi bingung yang menggemaskan. Anggota yang tersisa kini hanya lima orang, mereka duduk dikursi mengelilingi Baekhyun yang terduduk dimeja. Seakan Baekhyun adalah sebuah tontonan yang sayang untuk dilewatkan.
"Baekhyunnie~" Salah satu anggota perempuan mendekati Baekhyun, "Bolehkan noona berfoto denganmu?"
Melihat wajah memohon itu, kepala Bakehyun reflek mengangguk. Ia sudah diajarkan ibunya jika tak baik menolak permintaan seseorang. Asal pipinya tidak menjadi korban, Baekhyun ok ok saja. Tapi siapa sangka anggota yang lain juga bergantian mengajak makhluk imut itu berfoto. Setelah anggota terkahir berfoto dengannya, Baekhyun menghembuskan napas lega. Lalu matanya beralih kearah hyung yang berwajah mirip Pikachu. "Jongdae hyung tidak mau berfoto denganku?" mata mungilnya mengerjab polos.
"Baekhyunnie ingin berfoto dengan hyung?" Buakannya menjawab, Jongdae malah berbalik bertanya.
Baekhyun menangguk dengan semangat, "Pakai ponselku ya hyung~ Aku ingin berfoto dengan Pikachu hyung~"
Semua anggota terkikik mendengar panggilan itu lagi. Interaksi diantara keduanya sangat menggemaskan. Sebenarnya mereka ingin pulang, tapi sayang mengabaikan makhluk mungil ini walau mereka hanya menjadi penonton.
Mata Jongdae membulat saat melihat Baekhyun lompat turun dari meja dan sekarang anak itu malah mendudukan diri dipangkuannya.
"Ayo hyung, lihatlah kameranya." Tanpa merasa bersalah, si pemilik tangan mungil yang menggenggam ponsel itu sudah siap bergaya.
Saat Baekhyun hendak menekan layarnya, perhatiannya teralih pada sosok familiar yang melewati pintu kelas yang saat ini ia tempati. Matanya langsung membulat dengan bibir tersenyum merekah.
"Prince Charmiiiing!" Baekhyun langsung lompat dari pangkuan Jongdae dan berlari menuju pangerannya. Tak lupa ia mengantongi kembali ponselnya. Jongdae yang sudah siap dengan pose kerennya hanya bisa mati gaya tak jadi berfoto, malah menjadi bahan ledekan para anggota klub paduan suara yang lain.
Mendengar panggilan itu Chanyeol langsung berhenti, kepalanya menoleh kearah suara yang memanggilnya panggilan yang sudah ia hafal berasal dari siapa. Dengan reflek cepat Chanyeol membuka lebar tangannya dan merengkuh Baekhyun yang berlari menuju pelukannya. Walaupun terkejut, tapi Chanyeol membalas tawa ceria Baekhyun dengan senyum lebar.
Mengabaikan keadaan sekitar, beberapa murid anggota paduan suara beserta Jongin terpaku melihat adegan layaknya film romansa anak muda, tak lupa beberapa murid yang masih disekitar koridorpun tak luput mengabaikan kesempatan melihat Park Chanyeol si murid teladan sedang main drama dengan anak sekolah dasar. Kemungkinan besar esoknya Baekhyun akan terkenal di sekolah ini. Jangan abaikan Jongwoon yang nekat bersembunyi dibalik tembok, ia hanya memukul pelan pelipisnya. Mengasihani nasibnya yang menjadi pengawal Tuan muda yang hiperaktif –dan memalukan. Jongwoon berbalik badan, karena Tuan mudanya sudah menemukan Chanyeol lebih baik kembali ke mobil saja.
Kembali pada Baekhyun yang masih memeluk erat leher Chanyeol. "Aku rindu Prince Charming~" ia mengusak-usakkan wajahnya pada tengkuk Chanyeol.
Chanyeol hanya terkekeh dan tangannya bergerak menepuk punggung si mungil.
"Ey~ Chanyeol-ah. Siapa dia?" Jongin meyipitkan mata kearah Chanyeol. "Jangan beralasan jika dia adik mu atau sepupumu. Aku sudah hafal silsilah keluargamu."
Mata bulat Chanyeol berotasi. Ia saja belum menjawab pertanyaan itu, dengan seenaknya Jongin menuduhnya macam-macam.
"Dia ad–"
"Aku pacarnya. Benarkan Prince Charming?" Baekhyun tersenyum polos menatap mata pangerannya yang begitu dekat dengannya. Ia mengabaikan Chanyeol yang membatu begitu pula orang yang disekitarnya.
Cup!
Tanpa merasa bersalah, Baekhyun mencium ujung bibir Chanyeol yang sedikit terbuka. "Hihihi… itu ciuman pertamaku~." Baekhyun langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya malu-malu.
"Cha-chanyeol kau–"
Chanyeol yang tersadar dari terkejutannya langsung berlari membopong Baekhyun pergi, meninggalkan semuanya yang perlu kejelasan dengan adegan yang telah mereka lihat.
.
OoooO
.
Brak.
Tujuan Chanyeol adalah di ruang kesehatan dan disinilah mereka sekarang. Ia menutup pintu ruang kesehatan dengan napas terngah-engah. Ia berjalan mendekati ranjang putih dan mendudukan si pembuat onar diatasnya.
"Kenapa Prince Charming membawaku lari~ aku kan belum sempat berfoto dengan pikachu~" bibir Baekhyun mengerucut. Ia lupa mengabadikan momennya dengan seseorang yang mirip dengan anime kesayangannya. "Ah! Dahi Prince Charming berkeringat~"
Chanyeol yang sibuk mengatur napas langsung menyeka dahinya dengan lengannya. Matanya menyipit menatap Baekhyun.
Sontak Baekhyun terkejut dengan tatapan itu. Wajah pangerannya kini terlihat menakutkan. Kening Baekhyun berkerut dengan bibir mengerucut. Mata mungilnya mulai berkaca-kaca, "Hiks… Prince Charming marah padaku? Huwee"
Melihat Baekhyun yang menangis histeris, Chanyeol kelabakan. Kepalanya menoleh kekanan kiri bingung. Gawat jika orang mendadak masuk dan mengiranya bertindak yang tidak-tidak pada anak sekolah dasar ini.
"Baek- umm Princess Baekkie?" Chanyeol mengelus pelan bahu Baekhyun. "Aku tak marah padamu." Selembut mungkin Chanyeol berucap.
Baekhyun yang masih terisak, kini mendongah menatap wajah pangerannya. "Tapi tadi wajah Prince Charming menakutkaaaan. Mirip seperti pacar Luhannie."
Dahi Chanyeol berkerut mendengar nama asing itu, "Sungguh. Prince Charming tak marah kepada Princess Baekkie."
Setelah mendengar penjelasan yang melegakan itu, senyum Baekhyun kembali merekah. "Bernarkah?"
"Iya. Prince Charming hanya kelelahan berlari tadi tadi."
"Kenapa Prince Charming berlari?"
"Kenapa Princess Baekkie mencium Prince Charming?" Chanyeol menyeringai main-main kearah Baekhyun. Ia meletakkan kedua tangannya disisi tempat tidur.
Entah kenapa mengapa melihat seringai pangerannya dan posisinya kini yang duduk diantara kedua tangan pangerannya yang menekan ranjang, membuat Baekhyun menutupi wajahnya malu-malu.
"Hei~ Princess Baekkie kenapa?" Chanyeol malah terkekeh melihat tingkah laku Baekhyun. Tadi saja ia berani menciumnya di depan umum dan sekarang dengan posisi seperti ini saja malu-malu. Ia mendekatkan bibirnya pada dahi Baekhyun dan mengecupnya dengan lembut. "Tak usah malu, karena kau yang sedang malu-malu seperti sekarang membuatku gila."
Baekhyun langsung menurunkan telapak tangannya, memberi ekspresi polos kepada Chanyeol, "Prince Charming gila? Benarkan? Ey~ itu tidak mungkin. Karena Prince Charming sangat romantis!"
Sungguh Chanyeol kini merasa berdosa telah menggoda anak sekolah dasar yang berada dihadapannya inil. Ia menarik tangan dari ranjang dan memijit pelipisnya. Ia berjalan menuju meja berkas lalu membuka tas ranselnya. Ia perlu menghindari Baekhyun sebentar daripada nanti ia keterusan. Chanyeol meletakkan laporan yang ia buat diatas meja sesuai yang diperintahkan Dokter Cho yang sekarang absent.
Chanyeol mendudukan dirinya di kursi beroda, ia mendongnya mendekat kearah ranjang lagi. Kedua alis Chanyeol terangkat menyadari bahwa Baekhyun masih mengenakan seragam sekolahnya. Baju putih berbentuk sailor lengan pendek dengan pita biru muda mengelilingi kerahnya dan celana pendek biru polos. "Kau dari sekolah? Mengapa tak pulang dulu?"
Mata Baekhyun mengerjap, "Iya~ aku pulang sekolah jam tiga. Tadi aku ketaman dulu mencari tenda Prince Charming, tapi tak adaaa. Jadinya aku langsung ke sekolah Prince Charming~ dan Prince Charming lupa panggilanku yaaaa." Bibirnya mengerucut kesal karena pangerannya tidak memanggilnya Princess Baekkie lagi. Tapi saat merasakan elusan lembut dikepalanya, kekesalannya sirna. Ia sangat suka dimanja apalagi oleh pangerannya.
Sebenarnya Chanyeol bukan berniat memanjakan Baekhyun, tapi ia malah mengasihaninya. Kasian Baekhyun yang masih sekolah dasar saja pulang jam tiga. Untung saja dulu ia masuk kesekolah negeri biasa. "Baekhyunnie seharusnya bersikap baik."
"Eehhh? Aku sudah bersikap baik~" elak Baekhyun.
"Mencium di depan umum itu perbuatan dilarang-"
"Tapi-"
"Memotong ucapan orang lain itu perbuatan yang tidak baik."
Baekhyun langsung menutup bibirnya dengan telapak tangannya dan mengangguk patuh dan mendengarkan nasihat pangerannya lagi.
Chanyeol tersenyum melihat Baekhyun yang patuh. "Panggilah seseoang dengan nama yang seharusnya dan bersikap baiklah, nanti hyung akan memberikan hadiah. Mengerti?"
Kepala Baekhyun terangguk, "Padahal nama Prince Charming itu sangat keren. Tak ada nama panggilan Prince Charming lagi?"
"Hmm mungkin tidak"
"Kalau Prince Chanming?"
Dahi Chanyeol berkerut, "Ngomong-ngomong, teman hyung ada yang bernama Chanming."
Baekhyun mengerucutkan bibirnya, tapi ia tak menyerah. "Bagaimana dengan Prince Chanyeol?"
Chanyeol menghela napas, ia berdiri dari kursi dan duduk kembali di ranjang tepat disaning Baekhyun. Ia menangkup pipi Baekhyun dengan tangan besarnya, "Tak usah menggunakan panggilan barat itu, karena hanya memanggil namamu saja itu sudah sangat menggemaskan."
"Tapi di film Disney Princess yang aku tonton panggilan itu sangat romantis."
Dasar maniak film Disney. Chanyeol hanya senyum singkat "Tak usah mengikuti cerita film agar terlihat lebih romantis. Hyung akan memanggilmu dengan Baekhyunnie saja. Buka filmm Prince dan Princess, yang ada hanya Chanyeol dan Baekhyun. Kita akan membuat kisah romantis sendiri. Apakah kau keberatan?"
Walau pipinya masih ditangkup Chanyeol, tapi kepalanya masih bisa menggeleng. "Anak baik." Chanyeol kembali mencium dahi Baekhyun dan itu membuat Baekhyun tersenyum bahagia
Kini perhatian Chanyeol mengarah lutut Baekhyun yang masih terbalut perban. Ia ingat benar bentuk balutan itu. "Baekhyunnie tidak mengganti perban lukamu?"
Baekhyun menggeleng. "Aku tak ingin hasil karya hyung dicopot. Bahkan tadi aku tidak mandi" jawabnya polos.
"Ya ampun, Baek." Chanyeol gemas sendiri dengan Baekhyun, "Ini bukan sebuah karya," Chanyeol menujuk lutut Baekhyun. "Jika hari sudah berganti, luka itu harus dibuka agar cepat mengering. Baekhyun ingin lututnya terus dipasang perban?"
Baekhyun menggeleng lebih cepat.
"Boleh hyung menggantinya?"
Kini si mungil menganggukkan kepala dengan semangat.
Chanyeol segera mancari perlengkapan almari dan membawanya mendekat kearah Baekhyun. Sembari mengalihkan perhatian dari lukanya, Chanyeol bertanya kepada Baekhyun sedangkan tangannya bergerak aktif mencopot perban dan membubuhi luka di lutut Baekhyun dengan obat baru. "Baekhyunnie kemari bersama siapa?"
"Bersama dengan Chanyeol hyung, kan?"
Rahang Chanyeol terkatup lalu mengendus, "Maksud hyung, Baekhyun bisa sampai disekolah ini diantar siapa?"
"Ooo~ bersama Jongwoon ahjusshi! Yang bersamaku kemarin, hyung. Jongwoong ahjusshi selalu mengantarkanku kemana-mana. Walaupun wajahnya sering datar, tapi ahjushi sangat baik!" Baekhyun menjelaskannya dengan ceria, membanggakan pengawal pribadinya.
"Nah sudah selesai."
Baekhyun menatap lukanya yang kini terbuka. Ia terdiam sejenak memandangi lukanya "Apakah nanti luka itu akan membekas, hyung?"
Chanyeol mengelus ujung kepala Baekhyun, pakai krim ini secara beraturan setelah lukanya mengering. Hyung jamin lutut Baekhyunnie tadak meninggalkan bekas luka." Chanyeol memasukkan krim itu kedalam ransel Baekhyun.
Senyum Baekhyun kembali muncul.
"Nah, sebaiknya sekarang Baekhyunnie pulang ya? Pasti Eomma Baekhyun sudah menunggu. Hyung antar sampai bertemu dengan Jongwoon ahjushhi, ya?"
"Iya!" Baekhyun menganggukkan kepala, "Tapi gendooong~"
"Aigoo uri Baekhyunnie manja sekali." Chanyeol terkekeh, tangannya bergerak merengkuh tubuh Baekhyun dan menggendongnya.
Mereka berdua berjalan dengan tawa riang sepanjang jalan menuju gerbang, tanpa tahu ada seseorang yang menatap kedekatan mereka berdua dengan raut kesal.
.
OoooO
.
"Eomma aku pulaaaang~" begitu pulang kerumah Baekhyun langsung berlari menuju kearah ibunya yang sedang bersantai disofa.
"Aigoo~ anakku yang tampan sudah pulang~" Hyekyo sedikit membungkukkan tubuhnya menerima kecupan pipi dari anaknya. "Mengapa jam segini baru pulang?"
"Aku tadi berkunjung ke sekolah Prince ehh… maksudku Chanyeol hyung~"
Hyekyo menangkat alisnya mendengar nama asing itu, "Chanyeol?"
"Iyaaa~ itu nama asli Prince Charming. Chanyeol hyung melarangku memanggilnya dengan sebutan Prince Charming." Baekhyun mengakhiri kalimatnya dengan sebuah kerucutan bibir.
"Aigoo… mengapa bisa begitu?"
"Kata Chanyeol hyung, sekarang yang ada hanya Chanyeol dan Baekhyun! Aku dan Chanyeol hyung membuat cerita romantis kami sendiri tanpa harus mengikuti cerita Prince Charming yang ada di film."
Hyekyo takjub dengan jawaban anaknya. Sepertinya ia sudah mulai beranjak dewasa. Tatapannya melembut beserta ulasan senyum menghiasi wajah cantinya, sepertinya tak ada salahnya jika saat ini anaknya mempunyai kisah cinta sendiri. Ia hanya akan bertindak jika Baekhyun tersakiti. Tangannya terulur menuju surai lembut Baekhyun dan mengelusnya, mendengarkan cerita Baekhyun tentang Chanyeol dan lukanya tadi. Jika ada kesempatan mungkin Hyekyo bisa mengucapkan terima kasih secara langsung kepada Chanyeol.
.
OoooO
.
TBC
.
OoooO
.
Thanks to:
chanbyun0506 - chenma - baelight - sehunboo17 - yoogeurt - baekhyunee04 - peluke - chogiwa - moontae - dindinxoxo94 - yeolite - txetxeet - ChanBMine - keziaf - chika love baby baekhyun - mii-chan07 - Fujiwaracha - erry-shi - baekhyeol – Asmaul
.
a/n
Jangan khawatir kalau ada crack couple. Krek kopel hanya untuk membangkitkan(?) suasana. Cinta akan indah pada waktunya #wink
OTP ku jalur lurus aja kok :'D
Yang menanti POV Chanyeol yang lebih banyak, chapter depan ya~
Mengenai usia Baekhyun dan Chanyeol yang belum jelas chapter kemarin. Hayo… siapa yang kemarin g baca dengan teliti
Teman sekelasnya selama enam tahun berturut-turut –Xi Luhan- selalu mengejek Baekhyun bahwa dia penakut yang tak berani belajar naik sepeda beroda dua. Baekhyun kelas 6 SD usianya kira-kira 12 tahun.
Dan di chapter ini di tulis jelas jika Chanyeol kelas 2 SMA, usianya kira-kira 17 tahun. Termasuk pedo kah? Semoga tidak #plak
Btw, apa chapter 2 ini membosankan?
Aku tunggu reviewnya ya~ biar aku lebih semangat nambahin adegan emesin Baek :D
Sampai jumpa di Chapter berikutnya
