Chapter 2 - Efek Ciuman!
"Taiga-kun.." Aku membuat Taiga-kun kaget dengan duduk di atas pangkuannya.
"Cchou.. Apa yang kau lakukan?!"
"Aku tidak selugu yang kau kira." Kataku lalu menempelkan bibir kami.
Ini yang namanya ciuman..
Rasanya sangat enak?
Aku mendapat terlalu banyak sensasi sekaligus yang membuat seluruh tubuhku terasa bergetar. Dan semua ini hanya karena bibir kami menempel saja?
Benar-benar menakjubkan..
Ring Ding Dong! Bel tanda masuk berbunyi.
Taiga-kun memundurkan kepalanya, mengakhiri ciuman kami sepihak. Ia menatap wajahku seolah mengatakan bahwa kami harus kembali ke kelas. Aku tidak memberinya reaksi apapun, tubuhku mematung, aku tidak bisa bergerak bahkan untuk sekedar berkedip. Dan kepalaku benar-benar kosong, Aku tidak bisa berpikir tentang apa pun selain orang yang sedang kududuki.
Aku tidak ingin momen ini berakhir dulu..
Taiga-kun menarik daguku dan mencium bibirku lagi. Ciuman ini sepenuhnya berbeda dari sebelumnya, bibir kami tidak hanya menempel, tapi mulut kami menyatu..
Aku bisa merasakan napas hangatnya yang menderu.
Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak sangat kencang.
Dan aku yakin dia bisa merasakan milikku juga.
"Apa kau baik-baik saja, putriku?" Ayah memukul kepalaku saat ia berjalan melewatiku. Ia membuka kulkas dan mengambil sekaleng bir.
"Hhe..he..he..he.." Bahkan sejak pulang sekolah kemarin, aku tidak berhenti senyum-senyum sendiri.
Ayah bersandar santai pada kulas dan memberiku tatapan curiga. "Anak rambut merah itu sudah melakukan sesuatu padamu, kan? Hhm.. Baiklah kalau begitu, saatnya bagiku untuk membuat dia membayarnya. Aku akan menendang buah zakarnya dan menghancurkan hubungan kalian."
Kalimat horror itu seketika membuatku tersadar. "Ayah, ah! Jangan lakukan itu, aku benar-benar menyukai Taiga-kun. Dan dia adalah laki-laki yang baik, aku jamin itu."
"Ya.. Kalau kau berkata seperti itu," ayah berhenti untuk menegak birnya. "Tapi aku masih akan menendang buah zakar pacarmu."
"Eh- kenapa, ayah?!"
"Karena itu yang dilakukan oleh seorang ayah keren."
Aku memasang wajah malasku. "Dari mana ayah mendapatkan pemikiran aneh itu?"
Setelah menempatkan ayah mabukku di tempat tidur aku kembali ke bawah untuk memasak di dapur.
"Terigu, Butter milk, telur, krim cheese..." Gumamku, membaca resep Southern Red Velvet Cake yang baru dikirim oleh ibu melalui email.
Ibuku adalah kepala koki di salah satu restoran bintang 7 di Tokyo. Resep ibu adalah rahasia dari kelezatan semua masakanku.
Ini sedikit lucu karena sebelum mengenal Taiga-kun aku sangat malas memasak. Aku dan ayah selalu membeli makanan di luar.
Aku memasukan adonan cake ke dalam oven lalu duduk di meja makan dan menyalakan layar handphoneku.
"Lihat? Kau harusnya tahu aku akan melakukan apapun untukmu." Kataku, bicara sendiri pada foto Taiga-kun.
Dia begitu seksi. Otot-otot perutnya membuat gila.
"Taiga-kun!" Kataku penuh cinta sambil meletakkan kotak cake yang kubawa di atas mejanya.
"Baunya benar-benar enak, apa ini?" Reaksi Taiga-kun pada makanan selalu seperti anak kecil gendut yang terobsesi coklat. Lucuuuuuu sekali.
"Southern Red Velvet Cake spesial buatan pacarnya Kagami Taiga." Sayangkuuu kapan aku akan berhenti gemas padamu?!
"Chou, bagaimana bisa kau mengatakan hal memalukan seperti itu."
Aku nyengir dan menarik kursi untuk duduk.
Taiga-kun mengambil garpu besar yang kusediakan di dalam kota dan mulai memakan cake nya.
"Bagaimana?" Aku penasaran.
"Terbaik seperti biasanya. Bisakah kau juga membuatkan ini di hari ulang tahunku?"
"Tentu." Kenapa harus menunggu sampai ulang tahun, aku bisa membuatkannya untukmu setiap hari kalau kau mau.
Sepotong, dua potong, tiga potong.. Taiga-kun memakan semuanya dengan lahap.
Aku tertawa geli. "Kau benar-benar adalah bayi raksasa."
"Apa?" Taiga-kun menaikkan setengah alisnya.
Aku tidak menjawab dan hanya membersihkan sisa krim cheese di pinggiran bibirnya dengan ibu jariku.
"Taiga-kun!"
Kupeluk dari belakang Taiga-kun yang sedang duduk kelelahan di bangku bench.
"Chou, kau belum pulang?"
"Aku pulang denganmu."
Taiga-kun menoleh ke belakang dan menatapku heran.
"Bagaimana kalau ayahmu mencarimu?" Taiga-kun bertanya saat kami memasuki apartemen nya.
"Jangan khawatir tentang itu. Aku sudah mengelabuinya mengatakan padanya aku menginap di rumah Aiko-chan." Kataku sambil melempar tubuhku ke atas sofa.
"Licik." Gumamnya. Aku nyengir tak besalah.
Ini benar-benar suatu keuntungan Taiga-kun tinggal sendiri. Seandainya saja aku bisa menginap di sini setiap akhir pekan begini. Itu akan sangat menyenangkan.
Perlahan tapi pasti aku menutup mataku yang sejak di kereta terasa sangat berat.
Ketika aku bangun jam sudah menunjukkan pukul 1 malam. Astaga aku tertidur selama hampir 6 jam. Dan aku tidak berada di ruang tamu lagi, tapi di dalam kamar.
Manis, Taiga-kun pasti mengangkat tubuhku dengan gaya bridal-style untuk memindahkanku ke sini.
Aku turun dari dari tempat tidur dan mengambil handuk serta pakaian tidur dari dalam tas. Tubuhku terasa lengket sekali, aku akan mandi.
Ku langkahkan kakiku keluar dari kamar. Sebelum ke kamar mandi aku menyempatkan diri mengintip Taiga-kun yang sedang tertidur lelap di kamarnya.
Wajah damainya saat tidur sungguh menenangkan jiwa.
"Tunggu aku."
Aku mandi air dingin kilat lalu kembali ke kamar Taiga-kun. Aku ingin tidur di sampingnya.
Tanpa membuat suara sekecil apapun aku menyelinap masuk ke dalam selimut Taiga-ku dan memeluk tubuhnya.
Sangat hangat. Ku tempatkan kepalaku di atas dada bidangnya. Aku berharap waktu bisa berhenti, aku ingin berada di sini selamanya.
See you next update!
