Tittle : Can You Be My Love, Oh Sehun?

Genre : Angst, sad, romance

Lengt : Chapter 2/?

.

.

Story Begins

.

.

Semenjak Jongdae memiliki kerja paruh waktu, Luhan terpaksa harus pulang ke rumah seorang diri. Ketika ia tengah menuruni tangga, tiba-tiba saja seseorang menarik tasnya dan membawanya menuju toilet wanita. Ternyata disana,sudah menunggu rombongan gadis-gadis yang memandangnya dengan tatapan sengit. Luhan mengenal siapa gadis yang membawanya kesini—Bae Irene—Ketua Team Cheerleaders, yang dielu-elukan sebagai primadona sekolah.

"Apa mau kalian?" pertanyaan dari Luhan yang terlontar begitu lembut sukses membuat yeoja-yeoja yang ada di sana menggulung telapak tangan mereka sendiri dengan begitu erat. Ekspresi dingin yang Luhan layangkan membuat Irene naik pitam. Wajah imut Luhan yang dingin benar-benar terkesan begitu meremehkan mereka.

"Ya, kau gay menjijikkan! Beraninya kau berbicara seperti itu?" ucap Irene seraya mendorong tubuh Luhan. "Percaya diri sekali kau mendekati uri Sehunie! Kau pikir siapa dirimu itu? Sadarlah Xi Luhan! Kau itu hanya hama di kehidupan Sehun . Kau yang sudah membuat imej-nya hancur!"

"Hama kalian, bilang?" Luhan tersenyum meremehkan. "Lalu bagaimana denganmu, Bae Irene? Jika aku hama, lalu kau apa? Sampah? Sehun bahkan sama sekali tidak mau menolehmu,"

Plak!

Satu tamparan melayang di permukaan pipi Luhan dengan begitu keras setelah namja mungil itu melempar argumentasinya. Seketika itu pula setetes darah segar merembes dari sudut bibirnya, membuat Luhan mulai meringis kesakitan. Tamparan itu begitu keras, menyisakan luka yang terasa perih dan panas di pipi dan sudut bibirnya.

"Kau ingin mati?" tanya yeoja itu dengan nada yang dibuat semenakutkan mungkin. "Sebaiknya buang jauh-jauh harapanmu itu, jika kau ingin ini menjadi terakhir kalinya kau melihat kami,"

"ARRASEO?!" Irene berteriak dengan keras tepat di hadapan Luhan. Salah satu tangannya mencengkeram kuat rahang Luhan, kemudian melepaskannya dengan kasar.

Gadis berambut pirang itu mengibaskan tangannya dengan pandangan jijik, sebelum berbalik meninggalkan Luhan dan kerumunan di belakangnya.

"Sisanya bisa kalian urus!" perintah itu terdengar begitu jelas, membuat segerombolan yeoja yang mengelilingi mereka mulai menyerbu sosok Luhan; menghujaninya dengan tamparan, cakaran, dan menjambak rambut Luhan dengan begitu brutal.

"Akh!"

"Ada yang menuju kesini!" suatu suara sukses membuat wanita yang menjadi pemimpin sekumpulan yeoja gila ini menolehkan kepala, kini ia membidik sosok seorang yang begitu ia kenal ada di tangan bawahannya. Ia tersenyum penuh arti, "Berhenti!"

Setelah perintah itu terdengar, sekumpulan yeoja yang semula menyiksa Luhan menghentikan kegiatan mereka, kemudian sibuk merapikan penampilan mereka, sebelum keluar dari toilet itu. Meninggalkan Luhan seorang diri dengan luka yang hampir menghiasi sekujur wajahnya.

.

.

Kyungsoo baru saja kembali setelah menghadap guru untuk mengurus beberapa masalah administrasi. Setelah berjalan sebentar, ia baru menyadari jika ia tersesat. Sekolah ini cukup besar, dan jujur, sejak menginjakkan kaki disini, Kyungsoo hanya mengetahui letak kelas, toilet dan ruang guru. Dengan langkah yang diseret, Kyungsoo kembali memutari koridor demi koridor sekolah yang seakan tak ada habisnya.

Ia mendongakkan kepala dan melihat tanda Club Rooms Level 3.

"Sebenarnya ada dimana aku ini?" Umpat Kyungsoo, kesal. Sepanjang koridor yang ia lihat hanya ada pintu, dan pintu. Dengan perasaan cemas, ia mencoba untuk mencari tanda penunjuk jalan, namun tidak ada satu pun yang Kyungsoo temui.

"Sekolah macam apa yang tidak punya penunjuk jalan? Apa mereka tidak tahu jika ada murid yang buta arah sepertiku," Ia bergumam pada diri sendiri.

Kyungsoo pun berjalan melewati sebuah ruangan dengan lampu yang masih hidup, ia berpikir mungkin masih ada murid yang berada disana. Ia pun melangkah semakin mendekat, suara dentuman musik terdengar dari dalam sana. Kyungsoo pun mengetuk pintu itu dua kali, sebelum memutuskan untuk masuk.

"Hei, maaf sebelumnya. Aku baru pindah hari ini, dan aku tidak tahu dimana letak gerbang sekolah. Bisakah kau—" Kyungsoo terdiam ketika ia melihat siapa yang berada di hadapanya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Kai dengan nada dingin. Kedua matanya menatap tajam Kyungsoo. Pria berkulit tan itu berjalan ke sudut ruangan kemudian mematikan alat pemutar musik.

"Kau, apa yang kau lakukan disini?" Kyungsoo justru bertanya balik. Rasa gugup menyelimuti dirinya saat ini.

"Itu yang aku tanyakan padamu. This is a dance room, I'm in the dance club, tentu saja sudah semestinya aku berada disini. Apa kau bodoh?" Kai memutar bola matanya, malas. Ia berjalan dengan perlahan menuju Kyungsoo dan menyudutkan pria mungil itu ke pintu.

"Apa kau merindukanku, hyung?" Kai menyeringai seraya mencondongkan tubuhnya lebih dekat kea rah Kyungsoo, membuat pria mungil itu sulit berkata-kata.

"A-aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," Kyungsoo menoleh kea rah lain, berusaha untuk menghindari eye-contact dengan pria yang ia sukai.

"Oh, apa kau sedang bermain pura-pura sekarang? Baiklah jika itu yang kau mau, aku juga akan berpura-pura tidak mengenalmu. Dan well, sepertinya ini akan menjadi awal baru yang bagus," Mata Kyungsoo membesar ketika jemari Kai menyusuri permukaan bibirnya.

"Mundur kau, Jongin!" Kyungsoo mendorong pria itu menjauh. Airmata mengalir di pipinya yang mulus. "Menjauhlah dariku." Ia terisak kemudian keluar dari ruangan.

Kyungsoo mengusap bibirnya dengan punggung tangan sembari berlari secepat yang ia bisa untuk menjauhi ruangan itu.

Aku menghabiskan banyak waktu untuk melarikan diri darimu dan sampai sekarang, setelah semua waktu yang terlewati, hati ini masih berdetak untukmu.

Ketika Kyungsoo mencoba untuk mencari jalan keluar dari sekolah, ia melihat kerumunan gadis-gadis yang keluar dari toilet.

"Xi Luhan itu harus tahu dengan siapa ia berhadapan, he better learn his lesson after today." Salah satu gadis berucap.

Kyungsoo menunggu gadis-gadis itu pergi sebelum masuk ke dalam toilet dan mendengar suara seseorang menangis. Ia menatap ke sekeliling, memastikan jika tidak ada seorang pun dari rombongan gadis-gadis itu yang masih berada disana, kemudian masuk ke dalam. Ketika ia memasuki toilet, Kyungsoo melihat seseorang terduduk di lantai sembari memeluk lutut.

"Hey, apa kau baik-baik saja?" Kyungsoo bertanya sambil menyentuh bahu Luhan. Ia bisa melihat bahu pria malang itu berguncang seiring dengan isakannya yang mengeras. Luhan hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"It's okay, aku tidak akan menyakitimu. Apa kau bisa berdiri?" Kyungsoo melingkarkan lengan Luhan ke bahunya, kemudian memapahnya keluar dari toilet. Kyungsoo pun membawa Luhan menuju ruang kesehatan sesuai dengan petunjuk yang diberikan Luhan. Ia pun mengambil perban serta obat merah untuk mengobati luka Luhan. Kyungsoo mencoba menenangkan Luhan ketika pria itu meringis saat ia mengusap darah di sudut bibirnya.

"Apa gadis-gadis itu yang melakukannya padamu?" Tanya Kyungsoo dengan wajah prihatin.

Luhan merasa jika Kyungsoo adalah orang yang baik meskipun mereka baru saja bertemu, ia bisa merasakan ketulusan darinya. Luhan pun menganggukkan kepalanya dengan pelan.

"Kenapa?" Kyungsoo bertanya lagi.

"Apa kau sudah mendengar rumor itu?" Tanya Luhan dengan lembut.

"Well, aku baru saja pindah hari ini, jadi tidak, aku tidak tahu apapun mengenai rumor yang kau maksud," Kyungsoo berucap sambil membersihkan luka Luhan.

"Oh, begini..a..aku.." Luhan tidak tahu harus mengatakan apa. Haruskah ia memberitahu Kyungsoo? Ini benar-benar memalukan.

"Tidak apa jika kau tidak mau memberitahu," Kyungsoo mendongak dan memberinya sebuah senyum manis.

Setelah membalut luka Luhan dengan perban, Kyungsoo dan Luhan pun meninggalkan lingkungan sekolah. Keduanya berbicara tentang banyak hal. Luhan sangat senang ektika mengetahui jika rumahnya dan Kyungsoo searah. Ia pun menawarkan pada Kyungsoo untuk pulang bersama.

"Tentang rumor itu..sebenarnya aku gay dan aku mengungkapkan perasaanku pada seseorang," Luhan tiba-tiba berucap. Suaranya diliputi kesedihan.

"Jadi kenapa?" Balas Kyungsoo. Namja bermata bulat itu berhenti sebentar kemudian menatap Luhan.

"Mak-maksudmu?" Luhan berbalik dan menatap pria di hadapannya dengan mata yang membesar.

"Jadi kenapa jika kau gay? Tidak salah jika kau menyukai seseorang. Semua orang berhak untuk menyatakan perasaan mereka," Kata Kyungsoo dengan nada serius.

Sepasang mata Luhan nampak berseri, "Jadi, kau tidak berpikir aku menjijikkan?"

"Tidak. Tidak sama sekali," Kyungsoo tersenyum.

"Aku Xi Luhan dari kelas 3! Senang bertemu denganmu!"

"Oh, jadi kau senior-ku,ya? Aku Do Kyungsoo, dari kelas 1. Senang bertemu denganmu, Sunbaenim."Ucapnya.

"Ya! Panggil saja aku Luhan! Kau membuatku kelihatan tua kalau begitu," Ujar Luhan sambil mengerucutkan bibirnya. Namun sedetik kemudian, ia menyipitkan kedua matanya. "Oh iya, kau anak baru kan? Apa kau sudah mengikuti klub?" Tanya Luhan ketika mereka mulai berjalan berdampingan.

"Aku belum menentukan akan masuk klub vokal atau memasak," Jawab Kyungsoo.

"Woah! Aku dari Klub Vokal! Kau sebaiknya ikut bergabung bersama kami!" Luhan melompat dengan girang, melupakan kondisi tubuhnya yang terluka.

"Yah, kalau begitu aku akan bergabung. Sepertinya akan menyenangkan jika ada seseorang yang aku kenal di klub," Kyungsoo tersenyum sembari menganggukkan kepala. Akhirnya ia memiliki teman juga.

Luhan tersenyum senang mendengarnya. Sepanjang perjalanan ia terus bercerita mengenai hal mengasyikkan dalam klub vokal sementara Kyungsoo hanya menanggapinya sesekali sambil tertawa melihat ekspresi menggemaskan Luhan ketika bersemangat.

.

.

.

"Apa yang terjadi padamu, Lu?" Itu hal pertama yang Jongdae tanyakan ketika ia melihat Luhan di gerbang sekolah keesokan harinya.

"Tidak apa-apa." Luhan mencoba untuk tertawa dan berjalan menuju gedung sekolah. Namun, Jongdae tak bisa membiarkan hal itu begitu saja.

"Beritahu aku apa yang terjadi,"

"It's really nothing Jongdae. Percaya padaku," Luhan mencoba untuk berjalan lagi namun Jongdae segera menarik tangan Luhan dan membuat pria itu berbalik menghadapnya.

Jongdae menatap wajah Luhan yang penuh luka, kemudian menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia lantas melepas jaket yang dikenakannya kemudian memakaikannya pada Luhan. Ditariknya zipper jaket itu sampai menutupi leher Luhan yang penuh dengan bekas cakaran.

"Sebaiknya kau memberitahuku apa yang terjadi kemarin sebelum aku mencari tahu sendiri siapa yang melakukan ini padamu, dan mematahkan lehernya Xi Luhan," Jongdae menggertakkan giginya. Luhan tahu jika Jongdae memanggil nama lengkapnya, itu artinya ia tengah marah besar.

Karena itu, akhirnya Luhan tidak punya pilihan lain selain menceritakan apa yang terjadi ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju kelas. Jongdae nampak geram ketika mendengar cerita Luhan.

"Those bitches, I swear I will—"

"Jongdae! Lupakan saja, okay?"

"Sialan! Mereka menindasmu Lu! Bagaimana bisa aku membiarkannya begitu saja?"

"Aku tidak ingin ada masalah lagi Jongdae. Kumohon?"

"Huft, baiklah. Dasar keras kepala!" Umpat Jongdae.

Ia tak bisa melakukan apa-apa selain mengiyakan permintaan Luhan ketika melihat namja itu menatapnya dengan tatapan memohon.

"Hehehee..gomawo Chennie.." Luhan memberinya senyuman manis.

Ketika mereka melewati deretan loker, Luhan berhenti di depan loker Sehun untuk menempelkan sebuah note di dalam sana.

"Mengapa kau masih memikirkannya, Lu?" Jongdae mendesah tak percaya.

"Aku hanya tak ingin dia membenciku," Luhan menundukkan kepalanya dengan pandangan sedih.

"Apa kau pikir dia peduli? He's a fucking dumbass, you know?"

"Jangan bilang begitu, Jongdae.." Ucap Luhan sambil menggoyang bahu Chen.

"Oh God! Luhan..kau..apa yang kau pikirkan sebenarnya?" Jongdae menolak untuk menatap Luhan. "Aku membencimu, Lu. Kau terlalu murah hati.." Ucapnya sambil memukul loker yang berada didekatnya.

"I love you too, Jongdae." Luhan tertawa.

"Wow, sepertinya kau sudah punya target baru ya, Senior Xi?" Sebuah suara terdengar dari belakang mereka. Senyum Luhan luntur ketika ia melihat Sehun tengah menatapnya dengan dingin. Seisi koridor mendadak diam ketika melihat keduanya tengah berdiri berhadapan.

"Kau bilang kau sangat menyukaiku tapi kau mengungkapkan perasaanmu pada pria lain juga," Sehun menyeringai sambil menatap rendah Luhan.

"A-aku tidak.." Luhan baru saja hendak bicara, namun Sehun lebih dulu menyelanya.

"Untuk apa membela diri? Apa kau pikir aku peduli jika kau menyukai pria lain, huh?" Sehun berkacang pinggang di hadapan Luhan. "Dan lagi, untuk apa note ini? Mencoba untuk mendapatkan maaf dariku? Huh, jangan harap. Setelah berhasil menghancurkan imej-ku, apa kau pikir aku masih mau memaafkanmu? Menjauhlah dariku Senior Xi atau aku tidak akan segan melakukan sesuatu untuk melenyapkanmu.." Ujar Sehun kemudian membuang note yang ada di genggamannya tepat di wajah Luhan. Namja itu menubruk bahu Luhan sebelum berlalu begitu saja dengan wajah angkuh.

Luhan sedikit terhuyung, namun untung saja Jongdae dengan sigap menangkapnya sebelum ia terjatuh.

"Lu, apa kau baik-baik saja?" Jongdae bertanya. Luhan tidak menjawab. Ia memungut kertas yang remuk itu kemudian membukanya.

Aku minta maaf.

-Xi Luhan

"Lu, bicaralah padaku," Jongdae mencoba lagi.

"A..aku baik-baik saja Jongdae. Oh iya, aku ingin ke toilet sebentar," Ia mendorong Jongdae kemudian berlari dengan cepat menembus kerumunan yang mengelilingi mereka, menuju toilet. Sampai disana, ia segera mengunci dirinya di balik bilik paling ujung kemudian membiarkan airmatanya jatuh.

"Lu bukalah!" Jongdae mengetuk pintu itu dengan keras. Ia bisa mendengar suara isakan Luhan dari dalam.

"Kumohon Jongdae, tinggalkan aku sendiri. Aku janji aku akan bicara nanti," Luhan menangis.

Jongdae hanya bisa menghela napas mengalah. "I'll see you during lunch." Ucapnya kemudian memutuskan untuk kembali menuju kelas.

.

.

Ketika bel yang menandakan jam pertama berakhir, Luhan dengan terburu-buru menghapus airmatanya dan melangkah keluar dari dalam bilik. Ia membasuh wajahnya dengan cepat, namun matanya masih bengkak karena terlalu banyak menangis.

"Senyum Luhan. It's okay. Kau pasti bisa menghadapinya.," Luhan memaksakan diri untuk tersenyum dan memasuki kelas. Meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja.

Ketika makan Siang, berita mengenai Luhan yang masih mendekati Sehun dengan tak tahu dirinya menyebar di kalangan murid-murid sekolah. Luhan berjalan dengan kepala menunduk menuju kantin, mengabaikan semua tanggapan buruk yang ditujukan untuknya.

"Hey Luhan-hyung!" Seseorang tiba-tiba saja melingkarkan lengannya di bahu Luhan. Luhan menoleh dan mendapati wajah tersenyum Kyungsoo. "Mau makan Siang bersama?" Tanya Kyungsoo dengan senyum cerah.

"Ten-tentu saja!" Luhan kembali tersenyum.

Sehun mengernyit ketika melihat Kyungsoo berjalan bersama Luhan menuju kantin. "Sepertinya gay sialan itu ingin menyebarkan penyakit menjijikkannya pada teman sebangkuku,"

"Sehun, aku ingin jujur padamu tentang sesuatu," Ucapan Kris membuat Tao yang berada disampingnya berhenti mengunyah makanan.

Sehun menoleh kea rah Kris, "What, hyung?"

"Tao dan aku..kami sebenarnya sudah berpacaran sejak masuk SMA. Aku hanya ingin kau tahu jika sahabatmu adalah gay—hal yang selama ini kau benci," Kris berucap terang-terangan.

Sehun tak bisa menahan keterkejutannya sementara Chanyeol nyaris tersedak minumannya.

Sedangkan Baekhyun, namja itu nampak mengunyah makanannya seolah tidak ada hal apapun yang terjadi.

Melihat Sehun yang terdiam, Kris berbicara lagi. "Aku pikir kita tidak bisa menjadi teman lagi. Iyakan?" Pria berambut pirang itu bangkit dari duduknya kemudian meraih tangan Tao.

"Tidak, hyung. Aku tidak bermaksud begitu. A-aku hanya membenci Xi Luhan okay? Aku minta maaf." Sehun menunduk. "Aku tidak ingin kehilangan sahabat lagi."

"Apa kau tengah berbicara tentang Kai?" Kris mengangkat alisnya. Sehun mendongak. Ia hendak berbicara sesuatu, namun pada akhirnya Sehun hanya menggeleng.

"Lupakan," Ucap Sehun dingin. Kris hanya bisa menghela napas.

"Jadi, kita masih berteman, kan?" Chanyeol menyahut tiba-tiba.

"Shut the fuck up Chanyeol!" Baekhyun menjitaknya cukup kuat membuat Chanyeol meringis kesakitan.

.

.

"Aku akan menemuimu setelah kelas usai hyung. Berhati-hatilah," Kyungsoo melambaikan tangannya pada Luhan.

"Kyungsoo adalah anak yang baik," Jongdae berucap ketika melihat Luhan berjalan menuju bangkunya.

"Ya, dia benar-benar baik," Luhan tersenyum.

"Hey Kyungsoo!"

Kyungsoo terkesiap ketika mendengar suara itu. Ia segera mempercepat laju jalannya, mengabaikan sosok itu yang terus memanggilnya dan menyuruhnya untuk berhenti.

"Kyungsoo!" Sosok itu menyambar lengan Kyungsoo kemudian memaksanya untuk berbalik.

"Biarkan aku pergi!" Kyungsoo mencoba untuk menyentak lengan Kai, namun sayangnya, Kai justru mencengkeram lengan Kyungsoo makin kuat.

"Mengapa kau berpura-pura tidak mengenalku? Dan lagi, mengapa kau bersekolah disini? Bukankah kau pindah ke Jepang 3 tahun yang lalu? Mengapa kau tiba-tiba kembali sekarang?" Genggaman tangan Kai di lengannya membuat Kyungsoo meringis.

"Pergilah Jongin! Menjauh dariku! Jangan berakting seolah-olah kau mengenalku! Mengerti?" Ucap Kyungsoo yang membuat Kai melepaskan genggamannya. Kyungsoo segera mengambil kesempatan untuk melarikan diri dan meninggalkan Kai yang membeku di tempatnya.

.

.

"Kyung—" Luhan berhenti ketika ia melihat siapa yang duduk di sebelah teman barunya. Sehun mengangkat alisnya dan menatap tajam kea rah pria bersurai honey brown yang kini tengah berada di ambang pintu kelas.

"Tunggu sebentar hyung, aku ingin membereskan barang-barangku," Ucap Kyungsoo sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

Luhan menganggukan kepalanya dan menunggu di ambang pintu. Ia lupa jika Sehun juga berada di kelas ini.

Sehun bangkit berdiri dan tanpa menunggu lama menghampiri Luhan. Ia meraih tangan Luhan, menyeretnya keluar, kemudian menghempaskan pria itu ke lantai. Luhan meringis ketika merasakan nyeri dari lukanya yang belum sembuh betul.

"Aku sudah mengatakan padamu untuk berhenti menggangguku, apa kau tuli?" Sehun berteriak marah.

"Aku tidak datang untuk melihatmu! Aku kesini untuk menjemput Kyungsoo." Luhan membela diri. Ia mencoba untuk bangkit, namun Sehun menendang bahunya dan membuat Luhan jatuh terduduk.

"Oh jadi ini trik barumu? Kau mendekatinya karena ia teman sebangkuku, iyakan?"

"Kau salah, Sehun,"

"Jangan panggil namaku !"

Luhan menunduk, ia bisa merasakan lukanya kembali berdarah. Ia yakin seragamnya pasti sudah kotor sekarang.

"Berhentilah berlagak lemah Senior Xi! Kau pikir aku akan kasihan?" Sehun mengangkat sebelah tangannya, Luhan lantas menutup matanya menunggu pukulan yang dilayangkan Sehun, namun tidak ada sakit yang ia rasakan. Dengan perlahan, Luhan membuka matanya dan melihat Sehun jatuh tersungkur di hadapannya.

"Apa yang kau lakukan, brengsek?!" Kai memaki Sehun setelah berhasil melayangkan satu pukulan pada pria itu.

"Apa kau mau membunuhnya, Oh Sehun?!"

.

.

TBC