©Sparkyu Amaure©

Touche Alchemist

.

Main Pair : Kyuhyun, Sungmin, Dennisr Park (Leeteuk)

Disclaimer :Typos, Ooc, BL, Sci-fi, Crime, Remake!
Ini FF sengaja Amoree remake dari novel Mba Whindy dengan judul yang Leeteuka dengan pair yang memang dah amoree ganti. Dengan gaya bahasa yang ringan tentunya...
Sembari menunggu ilham buat ff yang lain

Happy Reading^^

"HALO?"

"Kyuhyun! Ini aku," jawab suara diseberang telepon.

"Aku tahu, Leeteuk-ah," jawab Kyuhyun dengan suara serak sambil melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul delapan.

"Ada namamu di layar ponselku."

"Detektif Park," ralat Detektif Park.

"Dennis Park... dan Leeteuk itu nama Koreamu kan... Apa bedanya?" desah Kyuhyun malas.

"Ah sudahlah, kita berdebat tentang hal ini lain kali saja," gerutu Leeteuk.

"Sekarang kau ada dimana?"

"Di tempat tidur," jawab Kyuhyun sambil mengusap-usap mata.

"Dan aku tidak bisa diganggu, Leeteuk-ah. Ini hari Minggu, hari seharusnya aku bisa tidur hingga jam satu siang nanti."

"Ini penting, Kyu!" Nada suara Leeteuk meninggi.

"Kau pasti sudah mendengar tentang penculikan Mary Hamilton, cucu miliuner, dan pengasuhnya kemarin, kan?"

"Aku membaca beritanya di internet," jawab Kyuhyun dengan nada malas.

"Dia cucu tunggal pengusaha kapal Leonard Hamilton, kan? Putri tunggal Leonard alias ibu kandung Mary meninggal tahun lalu, jadi pewaris Hamilton Group tinggal cucunya itu."

"Tadinya kami mengira penculiknya adalah pengasuhnya sendiri karna Mary benar-benar dijaga ketat kakeknya. Tak mungkin orang luar yang melakukannya," jelas Leeteuk.

"Tapi hari ini mayat pengasuhnya ditemukan di tepi Sungai Park. Sepertinya dia dibunuh sejak awal penculikan."

"Dia mati tenggelam?" tanya Kyuhyun.

"Sepertinya begitu," jawab Leeteuk.

"Tidak ditemukan bekas tusukan, atau bekas perlawanan, atau ikatan. Lengan dan kakinya bersih. Untuk lebih jelasnya memang harus menunggu hasil autopsi, tapi kita tidak punya waktu. Toleransi penculikan anak adalah 2 x 24 jam, jika lebih dari itu kemungkinan si anak yang diculik sudah mati. Waktu kita tinggal beberapa jam saja."

"Penculiknya meminta tebusan?"

"Mereka menelepon dua jam setelah penculikan dengan menggunaka ponsel sekali pakai," jawab Leeteuk.

"Mereka meminta tebusan satu setengah miliar dolar yang harus dibayar malam ini atau si cucu akan dibunuh."

"Kakeknya tidak mau menebus?" tanya Kyuhyun.

"Tidak. Kakeknya malah marah kepada kami sambil berteriak, 'Itu jumlah pajak yang kubayarkan setiap tahun untuk menggaji kalian! Jadi kalian harus menemukan cucuku hidup-hidup!'" keluh Leeteuk. Kyuhyun menghela napas.

"Baiklah, aku akan ke sana. Dimana tadi tempatnya?"

"Jangan khawatir, aku sudah meminta Sungmin menjemputmu." Ada nada senang dalam suara Leeteuk.

"Dia sudah pulang dari sekolah." Mata Kyuhyun langsung terbuka lebar.

"Kapan kau meminta Sungmin menjemputku?"

"Setengah jam lalu," jawab Leeteuk enteng.

"Saat ini dia pasti sudah ada di depan kamarmu." Tiba-tiba Kyuhyun mendengar pintu apartemennya diketuk. Ah! Sial! Kyuhyun langsung bergegas bangkit dari tempat tidur.

.

Kyuhyun turun dari mobil Leeteukbil menguap. "Nih," Sungmin menyodorkan kopi yang tadi dia beli sebelum menjemput Kyuhyun.

"Sepertinya kau memerlukannya."

Kyuhyun langsung mengambil dan meminumnya. "Terima kasih kembali," sindir Sungmin.

"Kenapa aku harus berterima kasih?" tanya Kyuhyun.

"Karna tadi kau tampak seperti zombie dan aku menyelamatkanmu dengan memberimu kopi."

"Apa kau tidak tahu zombie sedang ngetren?" jawab Kyuhyun santai.

"Ingatkan aku lagi agar lain kali tidak perlu membelikanmu kopi," dengus Sungmin.

Saat sampai di TKP yang tadi disebutkan Detektif Park, ketika hendak melewati garis kuning, mereka diadang polisi yang berjaga. "Ini bukan tempat bermain anak-anak," kata si petugas.

Kyuhyun mengeluarkan dompet, membuka cepat, lalu menunjukkan kartu konsultan Departemen Kepolisian New York. Polisi itu membaca kartu yang diserahkan Kyuhyun sambil mengernyit. "Ini serius?"

"Tidak apa-apa, mereka bersamaku," teriak Leeteuk sambil berjalan cepat menghampiri mereka. Walau masih tampak tak percaya, polisi itu mengizinkan Kyuhyun dan Sungmin masuk. Kyuhyun menengadah pada polisi itu untuk meminta kartunya kembali. "Ini serius."

"Sudah setahun aku membantu kepolisian New York, tapi masih saja mereka tidak memercayaiku," dengus Kyuhyun.

"Wajahmu kurang meyakinkan," jawab Sungmin.

"Apakah agar meyakinkan aku harus menumbuhkan kumis lalu menggemukkan badan hingga peruku buncit seperti Leeteuk?"

"Hei!" sembur Leeteuk. Sungmin terkikik.

"Kyuhyun!" Tiba-tiba Matt datang.

"Bukannya kalau Minggu kau tidak mau diganggu?" Kyuhyun menyipit, memandang sinis pada Leeteuk.

"Ternyata Matt lebih pengertian."

"Itu dia," Leeteuk berpura-pura tidak mendengar, menunjuk mayat di depan mereka, tertelungkup dibibir sungai dan sedang dikerumuni tim forensik.

"Itu pengasuhnya?" tanya Kyuhyun. Leeteuk mengangguk. Kyuhyun mengambil lolipop dari saku baju dan langsung membuka bungkusnya.

"Kau kan sudah bukan anak kecil lagi," komentar Sungmin melihat Kyuhyun mengulum lolipop.

"Aku tidak bisa berpikir tanpa ini." Kyuhyun mendekati mayat dan mengamatinya. Tidak ada bekas perlawanan di tangan maupun dikaki mayat. Dilihat dari seluruh tubuhnya yang basah dan tanpa bekas luka pukulan, tikaman, atau tembakan, sepertinya dia memang mati tenggelam. Di bagian belakang baju ada bekas noda cokelat dan di alas sepatunya terdapat serpihan kuning. Ketika Kyuhyun hendak mengambil serpihan itu, salah seorang anggota tim forensik membentaknya.

"Hei, Nak! Apa yang kaulakukan?" Petugas itu menarik tangan Kyuhyun. "Kenapa ada anak kecil dibiarkan masuk ke sini?"

"Biarkan dia," sergah Leeteuk.

"Dia konsultan kepolisian New York. Dia tahu apa yang dia lakukan."

"Kau serius, Detektif?" tanya anggota tim forensik itu, menatap Leeteuk tak percaya sambil melemparkan tangan Kyuhyun.

"Dia bahkan tidak memakai sarung tangan! Dia bisa merurak TKP!"

"Dia tahu apa yang dia lakukan," ulang Leeteuk, tapi kali ini dengan nada tinggi. Anggota tim forensik yang lebih senior mendekat untuk melerai.

"Maafkan dia, Den, dia anak baru."

"Tak apa, Ted, terima kasih," jawab Leeteuk ringan.

"Apa yang terjadi?" tanya anggota tim forensik yang masih baru itu tak mengerti. "Kenapa kau membiarkannya begitu saja?"

"Kaupikir dia jadi konsultan kepolisian New York karna menang poker?" jawab Ted sambil menarik tangan rekannya agar menjauhi Leeteuk dan Kyuhyun. Leeteuk menoleh ke arah Kyuhyun.

"Lanjutkan." Kyuhyun mengangguk, lalu mengambil serpihan kuning itu.

"Ini kayu dan cat," katanya. Perhatiannya beralih pada noda cokelat dibaju korban. Dia mengambil cotton bud di sakunya, mengoleskannya pada noda cokelat itu, lalu menyentuhnya dan tampak berpikir.

"Besi yang teroksidasi, artinya karat dan...," gumamnya,

"garam?" Kyuhyun bangkit berdiri, lalu menghitung jarak antara korban dengan sungai. Jaraknya sekitar 4,5 meter. Dia mengamati sungai itu, lalu mencelupkan tangannya selama beberapa saat. Sungmin mengamati dibelakang Kyuhyun. Kyuhyun berpikir sejenak, kemudian berjalan kembali menuju korban.

Kali ini dia seperti menghitung langkah dari tempat korban ke jalan raya. Setiap berjalan satu langkah, dia berhenti untuk menyentuh pasir di bawah kakinya. Setelah beberapa saat, Tiba-tiba seperti teringat sesuatu, Kyuhyun mengambil ponsel dari saku bajunya. "Ada apa?" tanya Sungmin menghampiri Kyuhyun.

"Aku ingin memastikan apa yang pernah kubaca," jawab Kyuhyun. Dia mencari artikel di internet dan tak lama kemudian tersenyum. Senyum khas Kyuhyun yang sudah berkali-kali dilihat Sungmin setiap pemuda itu berhasil menyelesaikan kasus.

"Kau sudah menemukan lokasi anak itu disekap?" tanya Sungmin ikut senang.

"Bahkan lebih daripada itu," jawab Kyuhyun sombong.

"Aku sudah tahu pelakunya." Kyuhyun dan Sungmin berjalan bersebelahan, menghampiri Leeteuk yang tampak sudah tidak sabar mendengarkan hasil analisis Kyuhyun.

"Korban tidak dibunuh di sini," kata Kyuhyun sambil memegang lolipop.

"Dia dibunuh di Pelabuhan New York. Mary Hamilton kemungkinan besar ada di gudang bongkar-muat Hamilton Group di pelabuhan itu, yang belum selesai direnovasi."

"Bagaimana kau tahu?"

"Penjelasannya nanti saja," jawab Kyuhyun tenang.

"Selamatkan dulu cucu miliuner itu sebelum kalian dianggap makan gaji buta." Leeteuk mengangguk, seketika berteriak memanggil Matt dan semua polisi yang ada di tempat ini. "Ikuti aku! Kita ke pelabuhan sekarang!"

Setelah ayahnya pergi, Sungmin menatap Kyuhyun. "Bagaimana kau tahu anak itu disekap di pelabuhan?" tanya Sungmin ingin tahu.

"Ditambah lagi, di gudang Hamilton Group sendiri."

"Kita tunggu saja kabar dari ayahmu. Dia pasti akan menanyakan hal yang samaa dan aku malas menjelaskan dua kali," jawab Kyuhyun sambil menguap.

"Kopimu murahan, ya?" Sungmin mendengus.

"Aku lapar," kata Kyuhyun seraya berjalan menuju mobil.

"Kita cari tempat makan, lalu beritahu ayahmu untuk pergi ke sana setelah menyelamatkan cucu miliuner itu."

"Siapa yang bayar?" tanya Sungmin sambil mengaktifkan kunci mobil. "Tentu saja kau," jawab Kyuhyun enteng. "Kaupikir tenagaku gratis?"

"Tapi yang minta bantuanmu kan bukan aku!" protes Sungmin.

"Kalau begitu minta ganti saja sama ayahmu."

.

Kyuhyun menghabiskan kopi sambil membaca koran dan Sungmin sibuk dengan ponsel saat Leeteuk datang. "Kupikir kau baru akan datang saat kami selesai makan malam, Leeteuk-ah," komentar Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangan dari koran.

"Hahaha... lucu sekali." Leeteuk mendengus, duduk disebelah anaknya, dan memesan kopi.

"Dan sekali lagi, namaku Dennis Park."

"Kau sudah menemukan anak itu, Leeteuk-ah?" tanya Kyuhyun tanpa memedulikan protes Leeteuk.

"Tepat seperti yang kau bilang," dengus Leeteuk.

"Di gudang bongkar-muat milik Hamilton Group yang belum selesai direnovasi, bersama tiga penculiknya. Hanya saja, mereka belum mau bicara tentang dalang penculikan ini karna aku yakin mereka bertiga terlalu bodoh untuk bisa merencanakan penculikan serapi ini. Menurutmu apakah ayahnya terlibat? Oh ya, bagaimana kau tahu dia disekap di sana?" Kyuhyun meletakkan cangkir kopi.

"Pengasuhnya terlibat," dia mulai menjelaskan.

"Dari tubuhnya tidak tampak bekas perlawanan ataupun ikatan. Tidak mengikat anak yang diculik masih masuk akal, tapi orang dewasa? Tidak mungkin. Lagi pula, seperti yang sudah diduga kepolisian, cucu Hamilton dijaga ketat sehingga penculiknya pasti orang yang sangat mengenal situasi disana dan dipercaya si anak sehingga tidak menimbulkan keributan."

"Tapi dia dibunuh sejak awal penculikan," potong Leeteuk.

"Benarkah?" tanya Kyuhyun.

"Jika sudah kena air, kita sulit menentukan waktu kematian. Pengasuhnya dibunuh dengan cara ditenggelamkan untuk mengaburkan waktu kematiannya. Dia sebenarnya dibunuh tadi pagi."

"Apa yang membuatmu berpikir dia tidak dibunuh pada awal?" tanya Leeteuk heran.

"Bagaimana kau tahu dia dibunuh di pelabuhan? Dan kenapa kau bisa tahu anak itu disekap di gudang itu? Apakah ayahnya terlibat?" Kyuhyun menghela napas.

"Hei, kalau diberondong pertanyaan seperti itu, aku jadi malas menjelaskan." Leeteuk mengangkat kedua tangan.

"Oke... oke... maafkan aku."

"Jarak korban dari bibir sungai terlalu jauh," jelas Kyuhyun kepada Leeteuk, "empat setengah meter."

"Apa?! Empat setengah meter?" Leeteuk mengernyit.

"Tepatnya lima belas kaki," jelas Kyuhyun meralat satuan ukurnya, lupa orang Amerika tidak terbiasa dengan sistem metrik.

"Korban diletakkan disana untuk menimbulkan kesan bahwa dia hanyut, tapi sayangnya diletakkan terlalu jauh," lanjut Kyuhyun.

"Sungai tidak punya ombak yang bisa mengempaskan benda sejauh itu. Lagi pula tadi malam tidak ada bulan purnama, jadi air pasang tidak bisa jadi alasan. Itu sebabnya aku yakin dia tidak dibunuh di sana."

"Tak ada jejak kaki disana," potong Leeteuk. "Petunjuk paling utama terletak di air dan pasir," kata Kyuhyun.

"Air dan pasir?" tanya Leeteuk dan Sungmin hampir berbarengan. "Tubuh korban basah kuyup, tapi air yang membuatnya basah kuyup itu mengandung garam berkonsentrasi tinggi," jelas Kyuhyun.

"Sedangkan saat aku cek, air Sungai Park tidak mengandung garam setinggi itu." Sungmin dan Leeteuk menyimak.

"Lalu ada dua macam pasir di sana," lanjut pemuda itu tenang. "Yang satu pasir yang memang ada di tepi sungai itu dan yang satunya lagi pasir yang mengandung garam untuk menutupi jejak kaki si pembunuh. Aku tebak, setelah meletakkan korban di tepi sungai, si pembunuh berjalan mundur sambil menaburkan pasir untuk menutupinya."

"Kenapa dia tidak menggunakan pasir dari tepi sungai itu sendiri?" tanya Sungmin tak mengerti.

"Karna kalau mengambil dari tempat itu juga, akan ada cekungan bekas mengambilnya."

Kyuhyun memutar bola mata. "Bisa menimbulkan kecurigaan. Mereka tidak menyangka akan ada yang menyadari bahwa di tempat itu terdapat dua jenis pasir berbeda."

"Ah!" seru Leeteuk, seakan baru saja mendapatkan ilham.

"Karna itu kau langsung menyimpulkan bahwa dia dibunuh di laut? Kau juga jadi yakin cucu Hamilton disekap di pelabuhan?"

"Bravo, Detektif," kata Kyuhyun datar. "Berarti aku tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi."

"Tunggu! Siapa pelakunya?"

"Berapa kali harus kubilang, Leeteuk-ah...," desah Kyuhyun, "itu tugasmu, dan sepertinya kau harus cepat-cepat menemukannya atau dia akan menghilang ke luar negeri."

"Sial!" gerutu Leeteuk. Selalu seperti ini.

"Hei, kau belum mengatakan padaku, bagaimana kau tahu dengan pasti gudang tempat anak itu disekap?"

"Keberuntungan," jawab Kyuhyun singkat.

"Kyuhyun!" Leeteuk mulai kehilangan kesabaran.

"Kita tidak punya banyak waktu lagi! Kau sendiri yang bilang bahwa si pelaku akan menghilang ke luar negeri."

"Aku mengatakan yang sebenarnya." Kyuhyun menghela napas.

"Beberapa minggu lalu aku membaca artikel di majalah ekonomi bahwa Hamilton Group baru saja membeli gudang bongkar-muat rusak dan berkarat, seperti yang membekas di pakaian si pengasuh, di pelabuhan yang entah mengapa sejak seminggu sebelum penculikan renovasinya dihentikan. Dari artikel yang kubaca sambil lalu itu aku tahu logo Hamilton Group ternyata kuning, seperti serpihan kayu disepatu pengasuh itu. Beberapa bulan sebelumnya di majalah gosip yang kubaca, dikabarkan menantu Leonard Hamilton alias ayah korban penculikan, Henry Davidron, sepeninggal istrinya terlibat percintaan dengan beberapa wanita, termasuk selebriti dan pengasuh anaknya. Kemudian dua bulan lalu di majalah hukum, Tuan Davidson dituntut mantan rekan bisnisnya senilai satu setengah miliar dolar. Sekarang kau mengerti, Dennis Park? Aku beruntung karna kebetulan membaca semua artikel itu." Leeteuk terpaku.

"Ayah anak itu membutuhkan uang satu setengah miliar, jumlah yang persis sama dengan yang diminta si penculik," kata Leeteuk, lebih kepada dirinya sendiri.

"Dia nekat merencanakan penculikan anaknya sendiri karna yakin sebagai cucu satu-satunya, mertuanya yang kaya raya itu pasti rela mengeluarkan uang berapa pun. Sebagai direktur Hamilton Group, Henry Davidson dapat menyuruh menghentikan renovasi gudang bongkar-muat di pelabuhan karna tahu tidak akan ada yang menyangka jika anaknya disekap di sana. Dia bekerja samaa dengan pengasuh anaknya yang terlibat affair dengannya sehingga terjadilah penculikan itu. Semua berjalan lancar sampai sang Kakek memutuskan tidak mengeluarkan sepeser pun demi cucunya. Si pengasuh yang panik dan mungkin ingin menyerahkan diri dibunuh dengan cara ditenggelamkan agar orang mengira dia meninggal saat penculikan, sehingga bisa menutupi hubungan antara si pengasuh dengan sang pelaku."

.

.

"Apa kau tidak bosan?" komentar Kyuhyun melihat Sungmin sibuk mengetik di laptop saat mereka makan siang di kafe dekat kampus Kyuhyun. Sejak kasus di Central Park musim gugur tahun lalu, Sungmin dan Kyuhyun menjadi dekat, atau lebih tepatnya Sungmin mendekati Kyuhyun. Selain karna mereka seumuran dan sama-sama memiliki ibu dari Seoul, ketertarikan Sungmin pada Kyuhyun tertuju pada kemampuan analisis pemuda itu yang mengagumkan sehingga merasa perlu mengabadikan semua kasus yang berhasil dipecahkan Kyuhyun dalam bentuk tulisan.

Jadi setiap Kyuhyun menyelesaikan kasus, Sungmin menemuinya sepulang sekolah untuk menanyakan hal2 penting yang menyangkut kasus itu lebih detail. "Aku tidak bosan, karna setiap Sherlock memerlukan Watson," jawab Sungmin sambil terus mengetik.

Dia sedang mendokumentasikan kasus penculikan yang berhasil Kyuhyun pecahkan dua hari lalu. Seperti perkiraannya, si pelaku adalah ayah korban sendiri dan semua alasan serta apa yang terjadi sesuai dengan analisis Kyuhyun. "Setelah itu mau kauapakan?" tanya Kyuhyun sambil memakan kentang goreng.

Sungmin menghentikan ketikannya, menatap Kyuhyun heran. "Setelah setahun, kau baru bertanya? Kenapa Tiba-tiba kau peduli?"

"Jawab saja."

"Mungkin mau kukirimkan ke penerbit." Sungmin mengangkat bahu. "Mau kubukukan. Kenapa?" Kyuhyun mengangguk.

"Bagus! Berarti aku akan dapat royalti."

"Aku tidak menyangka kau peduli royalti." Sungmin mengernyit.

"Kau pikir aku melakukan ini semua, menemuimu setiap hari, secara sukarela?" kata Kyuhyun kalem.

"Aku lupa. Yang baik dari dirimu hanya otakmu." Sungmin mendengus, lalu mulai mengetik lagi.

"Cho Kyuhyun!" Mendengar namanya dipanggil, Kyuhyun menoleh. Pria berumur tiga puluhan, berkacamata dengan gagang biru tua, mengenakan kemeja biru muda dan celana biru, terburu-buru menghampiri Kyuhyun sambil mengacung-ngacungkan kertas.

"Ada apa, Will?" tanya Kyuhyun.

"Aku ingin menanyakan sesuatu," jawab William terengah-engah, mencoba mengatur napas.

Sungmin berdeham. "Kyuhyun, kenapa kau tidak mempersilakannya duduk?"

"Karna kalau memang mau duduk, dia sudah melakukannya sendiri," jawab Kyuhyun santai, sejurus kemudian menepuk kursi di sebelahnya.

"Tapi okelah, duduk di sini, Will." William mengangguk, lalu mengeluarkan saputangan biru untuk membersihkan kursi itu sebelum duduk di sebelah Kyuhyun.

Dia menatap Sungmin dengan bingung. Hanya sesaat karna segera mengalihkan tatapannya pada Kyuhyun. Penuh tanda tanya. "Jangan pedulikan dia," kata Kyuhyun.

"Anggap saja dia tidak ada. Jadi kau mencariku untuk apa?" Alis Sungmin langsung mengerut diperlakukan seperti itu oleh Kyuhyun walaupun paham betul sifat Kyuhyun yang suka seenaknya.

"Lee Sungmin." Sungmin menyodorkan tangan pada William. "Panggil saja Sungmin."

"William Sterling Kent." William yang beraksen Inggris kental menjabat tangan Sungmin dengan kikuk. "Kau bisa memanggilku William... atau Will seperti Kyuhyun." Setelah menjabat tangan Sungmin, William langsung mengelap tangannya dengan tisu. Sungmin menatapnya heran dan sedikit tersinggung.

"Maafkan aku, ini hanya masalah kebiasaan," kata William menjelaskan, seolah mengerti arti tatapan Sungmin. Sungmin hanya mengangguk.

"Apakah kau pacar Kyuhyun?" tanya William pada Sungmin tanpa basa-basi.

"Untungnya bukan," jawab Kyuhyun.

"Harusnya aku yang bilang begitu," dengus Sungmin.

"Aku babysitter-nya. Bayi ini tidak mau membantu ayahku dan kepolisian New York kalau bukan aku yang mengantar-jemputnya."

"Oh, jadi kau anak Detektif Dennis Park." William membetulkan letak kacamatanya.

"Kenapa aku baru melihatmu sekarang ya, padahal Kyuhyun sudah menjadi konsultan kepolisian New York hampir setahun?"

"Kau mencariku untuk apa?" potong Kyuhyun.

"Aku ingin bertanya padamu tentang perhitungan ini," kata William sambil menunjukkan kertas di tangannya.

"Profesor Martin bilang, perhitunganku salah dan aku harus bertanya padamu." "Sini kulihat." Kyuhyun membaca kertas itu dengan saksama.

"Kau punya pensil?" William mengangguk, lalu menyerahkan pensil biru. Kyuhyun membuat coretan-coretan dihasil perhitungan William dengan cepat dan menggantinya dengan perhitungannya.

"Seperti begini perhitungannya," kata Kyuhyun tidak lama kemudian. William membaca perhitungan Kyuhyun. Dahinya berkerut, pertanda dia berpikir keras.

"Kenapa aku tidak berpikir hingga ke sana?" kata William bergumam, lebih kepada dirinya sendiri. Ia mengamati coretan Kyuhyun beberapa saat. William bangkit dari kursi.

"Terima kasih, Cho. Pantas saja Profesor Marti lebih memilihmu menjadi asistennya daripada aku." Kyuhyun mengangkat bahu.

"Aku hanya beruntung." Sungmin yang sedang minum es limun hampir tersedak mendengar jawaban Kyuhyun. Tidak biasanya dia rendah hati seperti itu.

"Ini pensilmu," Kyuhyun mengembalikan pensil William. William menggeleng dengan tatapan jijik.

"Untukmu saja."

"Ah, kau tidak bisa memegang apa yang sudah dipegang orang lain." Kyuhyun mengangguk-angguk. "Aku lupa."

William pamit untuk kembali ke kampus, tetapi sebelumnya mengelap dan menata semua benda yang tadi tak sengaja disentuhnya, termasuk meletakkan kursi ke tempat semula dengan tepat. Kemudian dia berjalan cepat meninggalkan Kyuhyun dan Sungmin.

"Temanmu itu...," kata Sungmin. "Ya," jawab Kyuhyun.

Sungmin mengerutkan alis. "Aku belum selesai bicara."

"Aku tahu isi pikiranmu," jawab Kyuhyun dengan nada meremehkan seperti biasa.

"Kau kan mudah ditebak."

"Memangnya apa yang ada di pikiranku?" tantang Sungmin jengkel.

"Apakah William penderita Obsessive Compulsive Disorder?' dan sudah kujawab 'iya', kata Kyuhyun sambil memanggil pelayan untuk memesan kopi lagi.

"Seperti yang kaulihat, dia terobsesi biru, kesimetrisan, kerapian, dan kebersihan."

"Apa yang bikin dia OCD?" tanya Sungmin. "Tanyakan saja sendiri padanya."

"Kupikir kau genius," sindir Sungmin. "Aku memang genius, tapi bukan psikolog," jawab Kyuhyun.

Sekakmat. Sungmin tak berkutik. "Tadi William bilang, kau jadi asisten profesor, mengalahkannya," Sungmin mengalihkan topik.

"Bukannya kau baru masuk kuliah tahun lalu?"

"Aku tidak mengalahkannya. Profesor Martin yang memilihku," Kyuhyun menguap.

"Kenapa aku bisa jadi asisten profesor padahal baru kuliah setahun? Aku bahkan dipastikan lulus tahun depan dengan predikat minimal magna cum laude. Aku juga ditawari beasiswa Phd. Apa aku harus mengatakan alasannya?" Sungmin memutar bola mata.

"Karna kau genius." Kyuhyun melihat jam tangannya.

"Sudah waktunya aku kembali ke kampus. Ada yang ingin kautanyakan lagi tentang kasus kemarin?"

"Ya," jawab Sungmin tenang. Ia mengambil kue di piring Kyuhyun yang masih tersisa dan memakannya. "Bagaimana kau melakukannya?"

"Melakukan apa?"

"Mengetahui berbagai hal hanya dengan menyentuhnya," jelas Sungmin.

"Kau seperti laboran forensik berjalan. Sudah setahun kau melakukannya, sudah waktunya kau menjelaskan padaku." Kyuhyun mengacak-acak rambut.

"Apa kau tidak pernah diberitahu ayahmu bahwa perjanjiannya adalah 'Jangan bertanya dan jangan mengatakan pada siapa pun'?"

"Itu perjanjianmu dengan ayahmu, bukan denganku," jawab Sungmin. Kyuhyun mengangkat alis.

"Wow, ternyata kau lebih pintar daripada dugaanku." Sungmin menyipit.

"Aku tak tahu apakah kalimatmu barusan pujian atau hinaan." Kyuhyun terdiam sejenak, lalu bangkit dari tempat duduk.

"Sebenarnya aku ingin menjelaskannya padamu tapi tidak bisa melakukannya," katanya.

"Kenapa?" protes Sungmin sambil menutup laptop. "Pertama, karna aku malas," jawab Kyuhyun asal.

"Kedua, karna penjelasanku tidak akan mampu dicerna otakmu." Sungmin mendengus.

"Bukannya kau baru saja bilang bahwa aku lebih pintar daripada dugaanmu?"

"Aku menduga kau sangat bodoh, tapi ternyata hanya bodoh," jawab Kyuhyun malas. Dia menaruh beberapa uang di meja, kemudian mengambil tas dan berjalan pergi. Ingin rasanya Sungmin melempar kepala Kyuhyun dengan laptop, tapi tidak rela laptopnya hancur.

"Pokoknya suatu saat kau harus menjelaskannya padaku!" teriak Sungmin hingga pengunjung kafe itu menoleh padanya. Kyuhyun melambai tanpa menoleh sedikit pun.

"Aku hanya melakukannya kalau akan mati."

Kyuhyun sebenarnya bukan tidak mau menjelaskan kelebihannya pada Sungmin, tapi bingung cara menjelaskannya. Dia menyadari kemampuannya itu sejak dia kecil. Setiap dia menyentuh benda, maka gugusan dan nama yang saat itu belum dia ketahui maknanya muncul di kepalanya seperti proyektor.

Suatu hari, saat masih SD, dia tak sengaja menemukan jawabannya di internet. Gugusan yang sering muncul itu adalah gugusan kimia. Ketika dia menyentuh garam, dimatanya tampak Na yang mengikat Cl. Ketika dia menyentuh karat, yang tampak adalah Fe, O, serta H yaitu besi (Fe) yang teroksidasi oksigen (O) dan hidrogen (H). Semakin lama dia menyentuhnya, berarti semakin dalam dan semakin kompleks dia melihat objek tersebut.

Dia bisa melihat susunan molekul, elektron, radius atom, titik didih, titik lebur, dan sebagainya dari benda yang dia sentuh. Kimia dan fisika. Jika memegang darah agak lama, dia sanggup mengetahui DNA-nya karna pada dasarnya DNA yang merupakan bagian biologi adalah molekul kimia. Sejak menyadari kemampuannya itu, Kyuhyun mulai memegang semua benda di sekitarnya dan merekam dalam ingatan satu per satu identitas kimia benda itu.

Sehingga jika suatu hari kembali memegang benda yang sama walau hanya berupa serpihan, dia bisa tahu jenis benda itu berdasarkan identitas kimianya karna database semua benda sudah tersimpan rapi di otaknya. Tentu saja kemampuan menakjubkan seperti itu tidak ada gunanya jika dimiliki orang dengan kepandaian rata-rat. Tidak heran Tuhan yang Mahaadil menurunkan kemampuan itu pada orang dengan otak genius seperti Kyuhyun

.

"Halo?"

"Kyu, bagaimana kabarmu di sana?"

"Aku baik-baik saja, Eomma," jawab Kyuhyun sambil menuang larutan ke tabung reaksi sehingga larutan itu mendesis dan berbuih.

"Kau ada di mana?" tanya ibunya khawatir karna mendengar desisan. "Sekarang jam berapa di sana?"

"Aku di laboratorium," jawab Kyuhyun sambil melihat jam tangannya.

"Sekarang jam tujuh malam."

"Jam tujuh malam? Apa yang kaulakukan jam tujuh malam di laboratorium?"

"Sedikit pecobaan," jawab Kyuhyun santai.

"Profesor Martin memberiku kunci ruang laboratorium sehingga aku bisa memakainya kapan pun mau." Kyuhyun bisa mendengar ibunya menghela napas panjang.

"Baiklah kalau begitu," kata ibunya lembut. "Berhati-hatilah kau di sana."

"Eomma meneleponku hanya ingin mengatakan itu?" tanya Kyuhyun.

"Atau ada hal lain?" Ibunya menghela napas lagi.

"Eomma punya firasat akan ada hal buruk yang sebentar lagi terjadi."

"Itu hanya firasat, Eomma," jawab Kyuhyun tenang. "Bukankah Eomma tidak percaya hal seperti itu?"

"Eomma memiliki firasat yang samaa sehari sebelum ayahmu meninggal," kata ibunya.

"Saat itu Ibu tak memercayainya." Kyuhyun mendesah.

"Eomma, itu hanya kebetulan."

"Kyuhyun!"

"Aku tidak akan apa-apa," kata Kyuhyun menenangkan.

"Aku berjanji."

"Baiklah, Eomma sayang padamu, Kyuhyun-ah," kata ibunya lega.

"Aku juga," jawab Kyuhyun. Lalu telepon ditutup. Kyuhyun menggaruk-garuk rambut, menghela napas. Tidak biasanya ibunya menelepon hanya karna memiliki firasat. Kyuhyun paham sekali cara berpikir ibunya yang logis, yang kemudian menurun padanya. Tidak mungkin, Kyuhyun menggeleng. Tidak mungkin kali ini firasat ibunya benar seperti saat Ayah meninggal.

.

"Den, tentang pembunuhan Nyonya Stoner, apa kita tidak minta bantuan Kyuhyun saja?" tanya Matt sambil menawarkan donat pada Dennis Park.

"Atau kau pikir, kita tidak perlu melakukannya karna ini bukan kasus yang menuntut kecepatan?" Leeteuk mengambil donat itu, langsung memakannya.

"Semua kasus harus cepat diselesaikan. Bukan hanya kita ingin agar pekerjaan cepat selesai, juga karna keluarga korban membutuhkan jawaban. Tapi kita punya skala prioritar, Matt, mana yang bisa kita selesaikan sendiri dan mana yang membutuhkan bantuan Kyuhyun. Aku hanya meminta bantuannya jika ada nyawa yang dipertaruhkan. Lagi pula jika semua kasus dibebankan padanya, jangan-jangan nanti kita dipecat karna menganggur."

"Dan dia jadi bisa lebih sering mengejek kita 'makan gaji buta." Matt mengangguk-angguk.

"Tepat!" Leeteuk tertawa. Saat dia berhenti tertawa, paket diletakkan di mejanya oleh petugas yang bertugas membagi-bagi surat.

"Apa ini?" tanya Leeteuk pada petugas itu sambil mengangkat paket berbentuk kotak dari mejanya. Tidak ada nama pengirim.

Petugas itu mengangkat bahu. "Baru sampai hari ini dari kurir."

"Apa itu?" tanya Matt penasaran. "Apakah kau pikir itu bom?" Leeteuk mencoba mengukur berat paket itu dengan tangannya, lalu mendekatkannya ke telinga.

"Terlalu ringan untuk bom dan tidak ada bunyi apa pun." Leeteuk merobek kertas pembungkus paket itu dengan hati-hati.

Di dalamnya ada kotak berisi empat botol. Dua botol tampak tak berisi apa pun, satu botol berisi bongkahan kuning, dan botol terakhir berisi bongkahan warna perak.

"Apa maksudnya ini?" Matt mendekati meja Leeteuk, memperhatikan botol-botol itu. Leeteuk membuka botol berisi bongkahan kuning. Menciumnya. Begitu menghirup, dia langsung terbatuk keras.

"Belerang," katanya terbatuk-batuk. "Yang ini?" tanya Matt mengangkat botol berisi bongkahan berwarna perak.

"Entahlah, biar kubawa ke lab," kata Leeteuk masih terbatuk-batuk, walau sudah tidak begitu keras lagi.

"Kuharap mereka bisa menemukan sidik jari di botol ini sehingga bisa menangkap siapa pun yang membuat keisengan seperti ini." Matt tertawa.

"Mungkin kau pernah meminjam balon seorang anak dan lupa mengembalikannya." Leeteuk mendengus.

.

.

TBC