Didasarkan pada pair yang biasa sudah terlalu mainstream, dan hubungan brother-incest juga kelewat banyak.
FATHER
Rating: T
Cast:
Akashi Seijuurou
Hayama Kotarou
Warning [!]: BL, OOC, typo[s], no edit, confusing, ambiguous
KnB is T. Fujimaki's
.
Seijuurou muda mutar-mutar pena yang ada di sela jemarinya. Iris merah delima yang dibingkai kacamata itu menatap kosong buku sastra di depannya. Seijuurou di sini tapi tidak dengan pikirannya. Dan hal itu membuat Kotarou cukup jengah karena Seijuurou tidak menjawab satupun panggilannya. Kotarou bangun dari tempat duduk dan sedikit mencondongkan dirinya ke depan. Tangan kanannya melambai-lambai tepat di depan wajah Seijuurou hingga mampu membuat Seijuurou terbelalak.
"Kau ini sedang apa Akashi? Bahkan seluruh maid dan butler di bawah sana bisa mendengarku memanggil namamu berkali-kali seperti orang bodoh."
Seijuurou meletakkan pena yang tadi dipegangnya sambil memejamkan mata. Ia tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan. Seijuurou memijit pelan dahi dan pelipisnya.
"Oi, Akashi. Kau tidak apa-apakan? Sakit?"
"Diam, Kotarou. Suaramu yang berisik membuatku makin pusing."
Kalimat yang baru saja meluncur dari mulut sang Tuan Muda Akashi itu membuat Kotarou tidak berani mengeluarkan suaranya lagi. Mungkin sahabatnya yang satu ini tengah gusar terhadap sesuatu. Meskipun ingin tahu, Kotarou tidak akan berani bertanya. Ia masih sayang nyawa. Kotarou melirik Seijuurou yang baru saja menanggalkan kacamatanya.
"Kotarou, aku ingin meminta pendapatmu."
'Tidak perlu meminta jika aku memang harus memberikan jawaban, Akashi.'
"Ah, tentu saja."
Jawaban yang berbeda dengan kata hati, keluar dari mulut pemuda yang berada di depan Seijuurou itu. Sekali lagi, Kotarou tidak bodoh untuk mau mati ditangan sang pewaris tunggal klan Akashi karena menyinggung perasaan teman baiknya di saat-saat seperti ini.
"Pernyataan cintamu di tolak mentah-mentah."
Kotarou merasa saat ini mulutnya tengah menganga lebar dan matanya membesar sampai rasanya ingin keluar dari tengkoraknya begitu saja. Apa yang baru saja dikatakan Seijuurou?
"Ha?"
"Aku sedang meminta pendapatmu, Hayama Kotarou."
Kotarou benar-benar bingung. Otaknya berpikir keras. Sungguh ia tidak mengerti bagian mana dari pernyataan Seijuurou yang harus ia berikan pendapat. Kotarou bersumpah, jawaban dari pernyataan Seijuurou jauh lebih sulit daripada ujian matematika dari guru killer di Rakuzan. Jika ujian bisa ia jawab sekenanya, tidak untuk saat ini.
Jawab sekenanya dan nama Hayama Kotarou akan segera dihapus dari muka bumi ini. Tidak, terima kasih.
"Aku tidak pernah menyatakan cinta, Akashi. Dan bagian mana yang harus kuberikan pendapat?"
"Asumsikan saja begitu. Pendapatmu ketika pernyataan cintamu ditolak seseorang."
"Oh, aku mengerti maksudmu, Akashi."
Kotarou menopang dagu dengan tangan kanannya. Matanya menerawang jauh karena sedang berpikir.
"Dan tambahkan satu faktor lagi. Hal itu terjadi di masa lalu, saat kau bahkan belum belum genap berusia 7 tahun."
"Baiklah- APA?"
Kotarou lagi-lagi terkejut oleh pernyataan-pernyataan Seijuurou. Sebenarnya apa yang sedang ia bicarakan dengan pemuda berambut merah itu?
'Akashi ditolak cinta pertamanya waktu kecil?'
Kotarou bergidik ngeri. Saat membayangkan hal itu terjadi, dalam otaknya terbersit sebuah pertanyaan.
'Apakah cinta pertama Akashi masih bisa hidup bahkan setelah ia menolak manusia yandere ini?'
"Siapa yang menyuruhmu melamun Kotarou? Aku sedang menunggu pendapatmu."
"Ah, ya. Aku sedang berpikir Akashi. Kau tahu kan, aku tidak pernah mengalami hal semacam itu, dan-"
Kotarou meringis setelah ia menarik nafas panjang. Tak lupa ia berdoa pada Tuhan agar ia tetap diberi keselamatan setelah mengutarakan sebuah pertanyaan yang mungkin akan membuatnya dibinasakan Seijuurou setelah ia selesai bicara nanti.
"Apa ini menyangkut dirimu? Ah maksudku, kau ditolak cinta pertamamu waktu kecil, begitu?"
"Memang. Dan sayangnya aku tidak bisa lupa, bahkan aku tetap mengejarnya. Dari dulu, sampai sekarang dan mungkin nanti."
Kotarou akan mencatat hari ini, berikut tanggal, bulan dan tahunnya. Seorang Akashi Seijuurou terlihat frustrasi akan perasaannya. Bahkan ia berbagi cerita cinta masa kecilnya pada Kotarou. Namun, sebagai sahabat yang baik, Kotarou berniat akan membantu Seijuurou, setidaknya ia memberikan pendapatnya mengenai masalah Seijuurou.
"Oi, Akashi. Kau selalu benar, aku tahu itu. Tapi untuk hal yang baru saja kau katakan, aku benar-benar setuju."
Seijuurou mendesah pelan sambil meyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduk. Matanya terpejam lagi. Sebuah pertanda yang Kotarou tahu. Tanda bahwa masalah Seijuurou tidak sesederhana yang ia pikirkan. Pemuda bersurai jingga itu benar-benar ingin tahu masalah yang sedang diresahkan Seijuurou. Rasa ingin tahunya bahkan sudah sampai pada taraf 'siapa-orang-yang-bisa-membuat-Akashi-Seijuurou-seperti-ini?'.
"Aku tidak tahu bahwa saat itu pikiran seorang anak berusia 7 tahun bisa berakhir pada sebuah kalimat lugas berupa lamaran pada orang tua cinta pertamanya."
Kotarou lagi-lagi dibuat tak berkutik dengan pernyataan Seijuurou.
"Hei Akashi, kau tahu aku bukan siswa yang masuk 10 besar di kelas dan mengapa kau tetap memberiku pernyataan yang bahkan lebih sulit dari 3 buah premis yang harus disimpulkan, hah?"
Seijuurou tertawa hambar.
"Aku pernah bilang ingin menikahi bocah itu, Kotarou"
"Lalu?"
"Aku bicara pada ayahnya."
"Kau melamarnya langsung pada calon mertuamu? Dan kau lakukan hal itu ketika usiamu bahkan terlalu muda untuk sekedar memasuki bioskop dan menonton film horor? Kau benar-benar gila Akashi."
"Istilah-istilahmu cukup membuat telingaku tidak nyaman, Kotarou."
"Jadi apa tanggapan mertua –ah maksudku ayah bocah itu?"
"Apa yang bisa kau harapkan dari lamaran seorang bocah berusia 7 tahun, Kotarou?"
Keduanya terdiam cukup lama setelahnya. Mereka larut dengan pikiran masing-masing. Seijuurou tentu memikirkan cinta pertama yang menolaknya, dan Kotarou dengan segala keheranannya atas tindakan Seijuurou. Beberapa menit berlalu membuat Kotarou membuka suara.
"Ayahnya menolakmu? Kukira dia akan membesarkan hati seorang anak dengan berkata 'ya' atau semacamnya."
Lagi-lagi Seijuurou tertawa kecil.
"Tidak juga. Dia hanya tertawa."
"Berati kau tidak ditolak."
"Bahkan lebih buruk dari itu, Kotarou."
"Kau di usir?"
Suara Kotarou semakin meninggi. Ia benar-benar sudah tidak sanggup mengendalikan rasa penasarannya. Terima kasih pada sahabatnya ini, yang membuat Kotarou tidak ingin pulang ke rumah sebelum ia mendengar seluruh kronologi masalah percintaan seorang Seijuurou.
"Tidak, Kotarou."
"Ah begitukah? Kurasa ayah bocah itu akan berpikir seribu kali untuk menolak dirimu jika ia tahu siapa kau sekarang, Akashi."
Tangan Seijuurou berpindah ke meja, meraih pena dan memutar-mutarnya di atas meja.
"Bocah itu sendiri yang menolakku."
Kotarou tetap kaget meskipun ia sudah menduga sebelumnya. Seijuurou bisa mendapatkan siapapun untuk dijadikan pendamping, kecuali untuk yang satu ini tentu saja. Dan hal itu membuat Kotarou benar-benar ingin tahu siapa bocah yang dimaksud Seijuurou. Bahkan jika mungkin, ia ingin bertemu saat itu juga.
"Satu hal yang membuatku terkejut saat ia menolakku."
Kotarou mengerutkan dahi. Ia menunggu apa yang akan Seijuurou katakan setelahnya.
"Bocah itu berkata bahwa-"
Seijuurou memberikan jeda nafas yang cukup panjang sebelum melanjutkannya. Dan Kotarou bersumpah, jawaban Seijuurou selanjutnya benar-benar membuatnya berubah pikiran dan merasa harus mengentikan niat Seijuurou untuk mengejar bocah itu.
.
.
.
"Ia ingin menikah dengan ayahnya."
.
.
.
TBC
A/N: Maa~ maa~ finally I can't let this fic just end like that. Thanks for reader(s) who suggest me to not end this fic (poke Myadorabletetsuya-san). So lets see what will happen between Sei, Chihiro and Tetsuya.
Cieee Hayama Kotarou sayang! Akhirnya kamu masuk jd cast, jadi jgn iri sama mbak Reo lagi ya.
Thanks for readers and reviewers.
