Yo, It's me again Lucifer and my eternal friend, LJoker
Disclaimer: Yeah, sampai dengan hari ini Kishimoto-san belum menyerahkan kepemillikan Naruto ke saya, dan saya masih menunggu dengan sabar *Waves at both Masashi and Seishi*
Sebelumnya izinkan saya untuk minta maaf jika ada kesalahan dalam cerita yang sebelumnya, maklum beginner, hahahaha ^^;
Warning:
-Some weird family-relations
-Shoai or more hahahaha
- ALERT! SWEARING! (demi mendalami karakter ==a maaf ya, ampun!)
asik, thanks ya yg udah ngereview, saya jd semangat :D
Prologue 2 : The Pair
Uchiha Company, sebuah perusahaan yang cukup sukses dalam usahanya. Pemilik sekaligus Direktur Utamanya, Uchiha Fugaku adalah seorang pemimpin baik yang sangat jarang berbicara kecuali dengan satu temannya yang sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Saingannya dalam berusaha, seorang partner terbaik dan teman yang setia, Namikaze Minato. Dan sekarang, ketika keluarga ini sudah menerima kepergian salah satu orang yang cukup berjasa bagi mereka, masalah lain muncul dalam keluarga mereka yaitu krisis garis keturunan.
Uchiha Sasuke, seorang pemuda berparas menarik ini adalah orang yang paling dipercaya keluarganya untuk meneruskan perusahaan Uchiha sejak kakak kandungnya, Uchiha Itachi sudah memilih jalan yang berbeda untuk menopang hidupnya. Sasuke tidak kalah berbakat dari Itachi, kekurangannya adalah emosinya yang tidak se-terkontrol Itachi. Pemuda ini terkenal cukup pintar pada saat ia masih sekolah, namun ia juga beberapa kali tertangkap sedang berkelahi dengan teman-temannya yang menurut kesaksian seseorang, sudah memulai pertengkaran terlebih dahulu. Dan salah satu teman bertengkarnya yang paling setia adalah Uzumaki Naruto. Terkadang mereka teman, terkadang mereka musuh. Mereka tidak begitu dekat, juga tidak begitu saling membenci. Sasuke mengklaim bahwa Naruto berbeda dengan orang-orang lainnya yang hanya bisa mengeroyoknya. Naruto lebih memilih satu-lawan-satu dan mereka bertengkar dengan alasan atau hanya karena saling mengejek. Namun ia tidak pernah merasa dicurangi oleh Naruto. Mungkin itu yang disebut rival yang sepadan.
Untuk saat ini Sasuke bekerja sebagai seorang bartender di sebuah lounge yang merangkap klub dan bar. Tempatnya cukup mewah untuk ukuran sebuah klub, karena banyak orang penting yang sering berkunjung. Bukan hanya pejabat, pengusaha atau orang kaya saja yang menghabiskan waktu mereka di situ. Ia bahkan pernah mendengar rumor tentang mafia yang sering mengadakan rapat di ruang VVVIP. Namun Sasuke tidak pernah perduli dengan semua itu.
Sasuke memutuskan untuk hidup mandiri dengan bekerja. Secara pribadi, ia tidak merasa kesulitan untuk bekerja dalam bidang apapun, koneksinya pun cukup luas. Deidara lah yang sudah memberitahukan tentang pekerjaan di bar ini. Sasuke memang mengenal teman-teman kakaknya dengan sangat baik. Kadang ia bahkan menginap di rumah mereka. Bukan berarti dia sangat akur dengan Itachi. Sejak mereka kakak-adik dan sudah sewajarnya jika ada selisih pendapat di antara mereka. Tapi setidaknya Sasuke tidak membenci Itachi.
Bar tempatnya bekerja adalah milik Danzo, seorang pria tua yang tidak bisa ditebak. Ia pernah diberitahu bahwa Danzo adalah salah satu petinggi mafia yang disegani. Banyak para pengusaha yang tunduk padanya, dan juga banyak pengusaha yang melawannya. Namun ia orang yang berpengaruh di daerah ini. Cukup sulit untuk menentangnya kecuali anda adalah orang yang di hormati Danzo seperti Hyuuga Hiashi atau berasal dari keluarga yang diseganinya seperti Uchiha, Namikaze, Sabaku, dan keluarga petinggi lainnya. Ya, Sasuke adalah seorang Uchiha dan Danzo memang menghormati ayahnya. Tapi, sejak Danzo bukanlah tipe orang yang mudah dipercaya, Sasuke tidak pernah termakan permintaan Danzo untuk bergabung dalam kelompoknya, karena dunia tempat Danzo hidup adalah dunia yang memiliki peraturan yang selalu berubah, penuh kelicikan dan pertaruhan nyawa.
Sekarang Uchiha Mikoto, ibu Sasuke sedang hamil dan generasi Uchiha yang berikutnya ini akan lahir sekitar 4 bulan lagi. Bayi, bukan, dua orang bayi ini diharapkan akan menjadi penerus garis keturunan Uchiha dan mereka adalah satu-satunya harapan Fugaku. Bukan berarti kepala keluarga Uchiha ini tidak menyayangi Itachi ataupun Sasuke, namun memang para calon Uchiha yang baru ini adalah harapan terakhir Fugaku untuk meneruskan garis keluarga Uchiha.
Mengenai pekerjaan Sasuke, ia bekerja dengan baik dan kebetulan banyak teman lamanya yang juga bekerja di situ. Suigetsu dan Juugo, teman satu kampusnya juga bekerja di bar itu. Karin, perempuan yang senang mengklaim dirinya sebagai pacar Sasuke dan hobi mengganggu sasuke ini juga bekerja di tempat yang sama. Dan juga beberapa teman sekolahnya. General Manager bar ini, Sabaku Gaara adalah orang yang baik, walaupun kadang ia menakutkan. Dan salah satu anak investor besar di bar, seorang gadis dari keluarga Haruno, Sakura juga sering berkeliaran di bar karena pekerjaannya di bagian event management. Dia adalah gadis pintar yang ahli mengatur jadwal-jadwal dan event. Sakura gadis yang sopan namun emosinya mudah meluap, karena itu ia terkesan agak galak. Namun ia perempuan pintar dan baik secara keseluruhan.
"Uchiha-san, tolong sediakan satu gelas Bailey's Irish Cream, Laird's Applejack, DeKuyper Kirshwasser, dan Arrow Kirsch 90",
Sasuke sedang sibuk dengan tugas membersihkan gelas-gelas di kabinet sebelum seorang waiter datang padanya membawakan daftar pesanan. Sejak ini adalah sebuah bar kelas satu, semua pesanan harus disuguhkan dalam kesempurnaan dan Sasuke cocok dengan pekerjaan ini, sejak ia adalah orang yang cukup perfeksionis. Ia belajar dengan cepat dan mengadaptasikan dirinya sesuai situasi dengan mudah. Tipe pekerja yang didambakan semua jenis pekerjaan. Tanpa basa-basi lagi Sasuke langsung menuang masing-masing jenis minuman ke gelas yang sesuai dengan tipenya sebelum ia serahkan kepada waiter yang sudah menunggunya.
Seorang pria dengan rambut merah mengistirahatkan dagunya di salah satu tangan yang betumpu di meja bar. Gerak matanya mengikuti waiter yang sedang membawa nampan penuh dengan minuman mahal. Setelan jas beludru berwarna merah marun dan kacamata tanpa frame sudah menjadi ciri khas orang ini. Gaara, menghela nafas sebelum memfokuskan pandangannya ke jendela, berusaha menghibur dirinya sendiri dengan pemandangan yang dihalangi rintik-rintik hujan.
"Kerja yang melelahkan ya, Gaara?", Suigetsu muncul dari melakang counter dengan botol air mineral favoritnya. Suigetsu memang tidak bisa lepas dari air mineral dan keluhannya yang seabrek ketika ia kehabisan air memang menganggu. Karena itu Gaara meminta Sasuke untuk menyiapkan beberapa botol air di kabinet bawah.
"...", Gaara tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya setelah menunjukkan ekspresi lelah dan kesalnya ke Suigetsu dan Sasuke.
"Hn, rapat membosankan dengan orang-orang itu lagi rupanya..", Sasuke menyeringai ketika tangannya sibuk dengan shakernya, mempersiakan minuman favorit sang manager.
"Dunia akan lebih baik jika mereka tidak ada", Pria berambut merah ini menghela napas panjang. Ia menyibukkan dirinya dengan sebuah kertas yang ia bawa. Tampaknya itu catatan tentang pengamatannya atas kinerja para karyawan. Gaara memang mudah menaruh curiga pada orang yang tidak ia kenal dan jika para pekerja melakukan kesalahan, ia tidak segan-segan untuk menghadiahi mereka sebuah senyuman yang tentu lebih menyeramkan daripada ia berteriak memarahi mereka-dimana itu tidak mungkin karena Gaara tidak pernah berteriak ketika memarahi karyawannya-.
"Hn.. hati-hati jika berbicara Sabaku..", ucap Sasuke sambil menahan senyumannya. Setelah selesai, ia langsung menyajikan minuman yang sudah ditunggu Gaara
Memang, bicara sembarangan disini bisa berarti membahayakan jiwa sendiri. Setiap mata saling mengawasi satu sama lain, mencari titik kelemahan seseorang yang diincar. Salah langkah bisa berakibat fatal dan mungkin mereka akan berakhir di tempat ini.
"Hmph..", Gaara bereaksi pada komentar Sasuke sebelum mencicipi koktail yang dibuat pemuda bermata tajam itu. "Lihat, siapa yang sedang memberi nasehat. Seharusnya kau juga pehatikan kata-kata yang kau ucapkan disini, Uchiha". Sasuke memang terkenal suka mengkritik tanpa memandang bulu secara langsung maupun tak langsung. Terlihat jelas rasa tidak hormatnya pada seseorang dengan cara dia memanggil orang itu. Contohnya, ia memanggil salah satu anggota keluarga Shirogane tanpa menggunakan aksen '–san', jelaslah anggapan Sasuke pada keluarga itu.
"Haaaaah...", Suigetsu menghabiskan air di botolnya dan sekarang ia merasa haus lagi. Setelah mengambil botol baru, Suigetsu mencuri pandang ke kertas yang dipegang Gaara. "Apa Itu? Daftar pekerja yang akan dapat bonus bulan ini? Daftar pekerja yang akan dipecat? Daftar pekerja yang akan kau ceramahi sampai mati bulan ini? Hahahaha.. ", Suigetsu tertawa kecil. Gaara yang bisa menghela napas melihat salah satu karyawan anehnya.
"Kau masuk daftar yang akan ku ceramahi bulan ini, Suigetsu"
"APA? Eh, tunggu tunggu! Jangan yang itu, kumohon Manajer! Aku hanya bercanda Gaara! Lagipula, sejak kapan ada hukuman macam itu di daftarmu?"
"Sejak kamu menyarankannya beberapa detik yang lalu", jawab Gaara datar
"ARGH!", Suigetsu menarik-narik rambutnya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan seberapa membosankannya, seberapa menakutkannya, dan seberapa memfrustasikannya ceramah Gaara. Mungkin mereka hanya akan diam saja di ruangan sang manager, dengan Gaara yang memandang Suigetsu dengan pandangan dingin dan menyeramkan, dan Suigetsu akan mati membeku di situ.
"Idiot..", Sasuke hanya bisa tertawa kecil melihat reaksi Suigetsu. Gaara pun sepertinya sedang menahan tawa.
Sasuke cukup menikmati kehidupannya sekarang. Kerjaan yang baik, gaji yang memadai dan tempat tinggal yang nyaman serta teman—atau partner kerja yang tidak biasa. Sasuke mudah bosan jika orang-orang di sekelilingnya hanya ada orang biasa. Setidaknya ia bisa merasa terhibur disini.
"Sebotol Chateau Du Lacazes Armagnac sudah tersia-siakan oleh lidah yang tidak dapat mengapresiasikan rasanya dengan baik", tampak sedikit ekspresi sebal di wajah Gaara. Memang pria ini sangat menghargai botol-botol berisi minuman yang disimpan di gudang bawah tanah dan ia merasa kesal jika orang awam meminumnya.
"Oh? Mereka memesan minuman yang bagus, itu berarti setidaknya mereka tahu tentang kualitas suatu minuman". opini Suigetsu benar adanya. Mereka pasti tidak akan memesan minuman itu jika tidak tahu menahu tentang kualitasnya.
"Hmph, aku yang merekomendasikannya"
"Pantas-", pria berambut putih ini hanya bisa tertawa kecil melihat ekspresi Gaara. "—kau memasang muka seperti itu, Gaara"
"Scotch atau Wine yang standar cukup untuk memenuhi gengsi mereka"
"Tidak", Gaara sedikit memijat pelipisnya sebelum melanjutkan jawabannya. "Hyuuga-sama juga ada di meja meeting itu"
Tangan Sasuke yang sedang sibuk memanjakan gelas-gelas itu mendadak terhenti ketika mendengar satu nama keluarga yang terkenal dan dihormati keluar dari mulut manajernya ."Hyuuga? Hyuuga Hiashi?"
"Ya", Gaara sekilas menundukkan kepalanya, mengiyakan kebenaran kalimat Sasuke. "Dan kedua anaknya, Hyuuga Neji dan Hyuuga Hinata"
Kerutan tampak di dahi Sasuke. Sepertinya ada yang menganggunya ketika Gaara menyebutkan Hyuuga. Bukan karena ia tidak menghormati keluarga ini, namun ia teringat dengan kata-kata ayahnya yang sempat membuat mereka berdua bertengkar cukup lama.
Hyuuga Hinata..
Hyuuga Neji...
.. Hyuuga..
Keluarga Hyuuga adalah keluarga yang usahanya sebagian besar meliputi tentang arus perdagangan dari luar dan dalam negeri. Mereka mengontrol stabilitas ekspor dan impor dengan baik. Hampir semua minuman-minuman berkualitas yang disediakan disini adalah hasil kerja perusahaan mereka yang dapat menemukan sumber terpercaya untuk menyediakan stok berkualitas dan asli. Tidak diragukan lagi jika mereka, terutama kepala keluarga Hyuuga sudah familiar dengan minuman berkualitas tinggi. Ia adalah penikmat minuman yang baik berbeda dengan orang-orang yang hanya memesan karena minuman itu mahal atau langka.
Para penerus Hyuuga pun adalah orang-orang yang kompeten. Hinata, kakak perempuan Neji ini adalah seorang calon Dokter yang sudah bekerja sebagai asisten di rumah sakit besar dan Neji sudah membuka usaha pribadi di bidang otomitif. Tidak terlalu besar namun cukup sukses. Usahanya bisa sukses karena keberaniannya mengambil resiko serta kecerdasannya dalam bersaing.
"Kau sudah dengar?", tiba-tiba Gaara bertanya pada Sasuke yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Oh?", Sasuke yang sedikit terkejut langsung memfokuskan pikirannya ke pembicaraan lagi. "Tentang?", Sasuke mengangkat satu alisnya, tidak mengerti akan pertanyaan Gaara
"Kitsune"
"Naruto? Memangnya dia sudah sampai?", Suigetsu tiba-tiba saja memotong pembicaraan antara Sasuke dan Gaara—tidak memberikan Sasuke kesempatan untuk menunjukkan rasa terkejutnya-. Memang hobi buruk Suigetsu yang satu ini tidak bisa dihilangkan lagi.
"Suigetsu, diam sebentar", Sasuke mengeluh dengan intonasi yang sedikit kesal. "Naruto sudah sampai?"
"Ya, Deidara yang memberi tahuku waktu ia berkunjung kesini beberapa hari yang lalu"
"Tidak, aku tidak tahu kalau dia sudah sampai"
"Hm..", Gaara meletakkan gelas kosongnya di counter bar sebelum menyelesaikan kalimatnya. Di lain pihak, Sasuke nampak terkejut, namun juga sedikit kecewa karena Deidara tidak mengatakan apapun padanya. Memang mereka sudah jarang bertemu, tapi setidaknya dia bisa mengabarkan lewat telepon atau email atau apapun itu. Belum selesai Sasuke memikirkan apa yang akan ia lakukan pada Deidara, berita lain membuatnya lebih terkejut.
"Kau pasti juga tidak tahu kalau Naruto akan bekerja disini"
Seorang pemuda berdiri di samping ayahnya dengan penuh wibawa. Aura pemimpin yang dikeluarkannya sudah memastikan bahwa dialah orang yang akan menjadi pemimpin berikutnya. Kemampuan yang lebih dari cukup ditunjang dengan penampilan yang memukau. Tidak jarang para pengusaha lainnya berusaha untuk mendekatkan ataupun menjodohkan putrinya dengan pemuda satu ini. Sayangnya fakta mengerikan yang ada di balik wajahnya yang ramah tidak diketahui mereka.
Hyuuga Neji tidak pernah menerima keluhan dari ayahnya karena ia selalu memiliki alasan dalam tindakannya. Juga mengenai preferencenya yang memang sudah.. berubah. Hiashi menerimanya sejak Hinata sudah menikah dan ia tidak merasa terbebani dengan Neji. Aburame Shino, suami Hinata, adalah orang yang bisa dipercaya dan Hiashi tidak akan mengalami masalah tentang garis keturunan.
Neji sangat mendedikasikan dirinya pada pekerjaan yang dipercayakan padanya. Dari yang mudah sampai yang sulit, ia tidak pernah meremehkan pekerjaannya. Walaupun pekerjaan itu hanya sebuah janji makan malam dengan salah satu putri pemilik perusahaan. Sayangnya Neji adalah tipe orang yang sangat sangat terikat dengan peraturan. Ketika ia harus menjelaskan bahwa ia tidak bisa berhubungan dengan seseorang, misalkan putri pemilik suatu departemen, sesuai dengan pesan Hiashi bahwa ia harus merahasiakan preferencenya sampai Hinata positif berbadan dua, ia malah terkesan misterius, serius dan lembut. Bukannya menjauh, para perempuan itu malah salah paham dengan kata-kata Neji.
"Neji-san, bisakah kamu menemani putriku makan malam hari ini?"
Pertanyaan klise yang membuat Neji hampir bosan mendengarnya. Makan malam, jalan-jalan, belanja, wisata. Dia bukanlah baby sitter yang mempunyai waktu senggang sebanyak itu dan ia lebih memilih membaca atau mengerjakan perkerjaan lainnya dari pada mengurusi para putri raja yang hanya bisa menikmati hasil kerja ayah mereka.
'Kenapa kau tidak meminta orang lain saja untuk menemani anakmu yang manja itu?'
'Suruh saja ia pergi sendiri, toh dia sudah dewasa, bukan anak kecil yang harus ditemani sepanjang hari'
'Apa kau tau kalau anakmu itu sangat kekanak-kanakan diusianya sekarang?'
'Aku tidak bisa berhubungan dengan orang yang tingkat intelegensinya terlalu jauh di bawahku'
'Haruskah aku menemani putrimu? Kurasa tidak'
Di luar dugaan. Neji memang cukup ahli dalam menyembunyikan rasa jengkelnya pada para pengusaha ataupun anak-anaknya yang tidak bosan-bosan mengganggunya. Andai saja ia diizinkan untuk mengatakan satu kalimat paling ampuh untuk melenyapkan para serangga penganggu ini, pasti sekarang hidupnya terasa lebih ringan. Tapi mereka mengerti jika Neji menolak permintaan mereka dengan sopan dan Neji merasa sedikit bersyukur atas pengertian yang diberikan.
Diusianya yang masih belia, Neji tergolong orang yang sukses di masa mudanya. Ia dapat mengimbangkan antara prestasi dalam pelajaran dan prestasi dalam bekerja. Semasa SMP dan SMA, Uchiha adalah saingannya dalam soal kepintaran dan keahlian. Tidak sedikit dari teman-temannya semasa SMA yang masuk ke universitas yang sama dengannya. Kageyami Daigaku adalah salah satu universitas terbaik yang ada di Jepang setelah Tokyo Daigaku. Banyak para anak petinggi yang bersekolah disitu. Peraturan yang diterapkan cukup ketat, salah satunya adalah kewajiban untuk memakai seragam. Memang aneh karena wajarnya para mahasiswa diberi kebebasan dalam berpakaian. Namun rektor universitas, Tsunade, paling tidak suka jika ada orang yang membanding-bandingkan status dengan menggunakan pakaian yang berlebihan ke kampus dan ini adalah salah satu langkah yang ia terapkan untuk memperkecil kemungkinan akan adanya mayoritas dan minoritas.
"Neji"
Neji dikejutkan dengan suara lembut yang memanggilnya. Dia hampir lupa kalau mereka sedang ada di ruang rapat VVIP di salah satu bar paling terkenal. Bar Konoha, nama yang aneh, tapi setidaknya pelayanannya sangat memuaskan. Hinata yang duduk disebelahnya dengan manis tersenyum padanya. Hinata memang bukan kakak kandung Neji, sejak ia adalah anak Hiashi, sedangkan Neji adalah anak dari adik kandung Hiashi yang sudah meninggal, Hizashi.
"Ya, Hinata?"
Gadis cantik berambut panjang itu menghadiahkan Neji sebuah senyuman hangat. "Kau nampak bosan. Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?"
"Tidak, jangan khawatir Hinata"
"Hm... baiklah kalau begitu"
Tentu ada sesuatu yang mengganggunya. Rapat yang tidak jelas topiknya ini mengganggunya. Segerombolan pengusaha yang hanya mengumbar pujian-pujian ketinggalan jaman itu mengganggunya. Hiashi yang berusaha mengacuhkan orang-orang bodoh itu mengganggunya—karena semakin diacuhkan, mereka semakin bersikeras. Orang-orang yang menawarkan putri-putri mereka seperti sebuah dagangan mengganggunya, rencana PERTUNANGANNYA juga mengganggunya. Neji tidak bisa menolak permintaan Hiashi yang satu ini, benar-benar tidak bisa.
"Neji, bagaimana dengan sekolahmu? Sudah menemukan wanita yang cocok dengan tipe ideal mu?", salah satu pengusaha yang duduk di sampingnya tiba-tiba bertanya. Neji sudah tahu kemana pembicaraan ini akan berarah. Ingin sekali dia mengatakan 'Mungkin tidak akan pernah, karena memang tidak ada' sehingga mereka akan tutup mulut dan berhenti memojokkannya dengan permintaan atau pun permohonan yang sama berulang-ulang.
"Untuk saat ini saya lebih memfokuskan ke perkuliahan dan usaha yang sedang saya jalankan", ucap pria berambut panjang ini sebelum menampilkan senyuman sopan trademarknya
"Lagi pula-", Neji mencuri memandang ke arah Hiashi yang sedang memperhatikan pembicaraan antaranya dan pengusaha itu. "—aku sudah ditunangkan"
"APA?", tidak disangka, pembicaraan kecil antara Neji dan pengusaha itu mendapat reaksi dari hampir semua orang yang ada di meja meeting. Hiashi menyentuh dahi dengan telapak tangannya, menunjukkan seberapa terganggunya dia. Ia bisa menghela nafas saat Neji menyeringai dengan penuh kepuasan. Hinata hanya menggelengkan kepalanya.
"Itu tidak mungkin! Kami tidak pernah mendengar berita apapun tentang itu!"
"Maaf, sebetulnya hal ini masih di rahasiakan, namun karena kalian bukan lagi orang ASING bagi keluarga kami, saya berpikir jika kalian PERLU tahu perihal masalah pertunangan ini, karena kalian sudah saya anggap seperti orang tua sendiri"
Soo evil, Neji
Ya, hancurlah impian para pengusaha itu untuk menjodohkan Neji dengan salah satu anggota keluarga mereka dan harapan mereka untuk menyatukan perusahaan mereka dengan Hyuuga company.
"Kalau boleh tahu, siapa calonnya?"
Neji menyeringai sebelum mengangkat telunjuknya dan menyentuhkan jarinya ke bibir yang berbentuk seperti bulan sabit. "Shh, itu masih rahasia keluarga Hyuuga", ucapnya yang diiringi tawa dengan suara rendah yang terdengar seperti sedikit mempermainkan para pengusaha. Hiashi tidak bisa menahan tawanya ketika melihat pemuda yang sedang bermain dengan pikiran para pengusaha aneh yang duduk di meja itu. Namun Neji memang memilih jalan yang benar untuk merahasiakan hal itu dari mereka. Dia boleh saja mengumumkannnya, hanya saja ini belum waktunya
Pada faktanya, Neji sangat tidak menyukai rencana pertunangan yang sudah disiapkan Hiashi. Memang ayah dari calon tunangannya adalah sahabat dekat Hiashi dan setahu Neji perusahaan mereka juga sukses. Dan untuk membantu temannya itu, Hiashi sengan senang hati menjodohkan Neji dengan salah satu anak dari keluarga itu. Untuk saat ini keluarga sahabat Hiashi memiliki dua anak dan sejak anak yang paling tua sudah membelot dari jalur bisnis, maka Neji dijodohkan secara paksa dengan anak kedua dari keluarga itu. Betapa terkejutnya Neji ketika mengetahui calon pendamping yang akan menemaninya untuk selanjutnya. Memang benar jika calonnya berbakat di dunia bisnis, mandiri, berwawasan luas, kepintarannya pun tidak kalah dari Neji. Benar-benar tipe pasangan yang diidamkan pemuda berambut coklat ini. Tapi kalimat bisa menipu, dan ketika ia dipertemukan dengan calon tunangannya, Neji terkejut bukan main. Tentu ia tidak menyadarinya sejak Hiashi tidak pernah memberitahukan nama keluarga dari tunangannya. Dia hanya menyebutkan 'Keluarga teman dekat' atau 'keluarga sahabatku'. Itu tidak cukup untuk menyadarkan Neji akan kenyataan yang akan ia jalani sejak Hyuuga banyak memiliki 'Keluarga teman dekat' dan 'Keluarga sahabat'. Penjelasan Hiashi terlalu datar dan tidak jelas. Neji tentu belum siap untuk menghadapi kenyataan paling buruk dikehidupannya, tapi dia tidak punya pilihan kedua. Untuk sesaat, ia berharap hidup itu seperti soal dengan pilihan ganda, dimana banyak jawaban yang bisa dipilih dan ia bisa menebak dengan mempertaruhkan peruntungan jika tidak mengetahui kebenaran dari pertanyaan tersebut. Namun roda kehidupan terus berputar ke depan, dan ia tidak bisa memutar waktu kembali. Neji sudah sah ditunangkan.
Meeting pun selesai dan Neji bergegas kembali ke mobilnya dengan harapan ia tidak akan bertemu muka dengan 'Tunangan' nya, karena ia tahu persis kalau sang tunangan sering berada di bar itu. Pemuda ini memutuskan untuk langsung pergi ke kampus dan menghabiskan waktunya di perpustakaan ataupun laboratorium komputer. Memang ia sedang memakai baju resmi, namun sejak hari ini adalah hari libur, mahasiswa diperkenankan mengenakan baju bebas jika ingin mengunjungi universitas. Secara tidak sengaja, ketika ia sedang berjalan di tempat parkir yang terletak di basement menuju lift yang akan naik ke lantai satu, ia bertubrukan dengan seseorang.
"Wow, maaf maaf—", Pemuda berambut pendek dengan tato merah berbentuk taring di wajahnya terkejut ketika melihat Neji' "-Neji! Ada apa? Buru-buru sekali.."
"Maaf Kiba, pikiranku sedang kacau", wajah lelah Neji dan kerutan di dahinya menunjukkan seberapa lelahnya ia. Kiba menekan tombol lift agar pintu mesin itu terbuka kembali sehingga mereka berdua bisa masuk.
"Hahahaha, tak apa Neji", Kiba membetulkan pegangannnya pada sejumlah buku tebal yang ada dalam rangkulannya. Buku-buku tebal yang membahas tentang fotografi itu memang bagus. Sepertinya buku itu telah dibaca berulang-ulang, terlihat dari kondisi kertas yang sedikit berkerut. Kiba memang bukan tipe orang yang memiliki rasa sabar yang tinggi. Tergambar dengan jelas dari kondisi buku yang dipegangnya.
"Lalu..", Kiba menekan tombol ke lantai satu dan melanjutkan pertanyaannya yang terputus. "Kau mau kemana?"
Neji bersandar pada dinding lift, mengistirahatkan pikiran dan punggungnya sejenak. "Perpustakaan"
"Ah! Hehehe, ayo kita pergi ke perpusatakaan sama-sama!". Neji sedikit mengangguk sebelum ia dan Kiba melangkah keluar lift.
Seperti biasa, Perpustakaan yang rapi ini tidak terlalu ramai, tempat yang paling sempurna bagi Neji untuk melepaskan penatnya. Kiba menyibukkan dirinya dengan penjaga perpustakaan yang mulai komplain atas keterlambatan pengembalian buku yang Kiba pinjam, dan pemuda itu mencoba kemampuan terbaiknya untuk membuat alasan. Neji memutuskan untuk tidak membantu Kiba, dia sudah dewasa dan bisa mengatasi masalah kecil seperti itu, jadi ia hanya memilih satu tempat duduk favoritnya, sebuah sofa dekat jendela kaca yang langsung menghadap ke taman belakang kampus. Namun kali ini ia tidak membawa satu buah buku pun digenggamannya. Hanya ia dan sepasang earphone ditelinganya.
"Sepertinya mood mu sedang jelek. Ada apa Neji?". Tiba-tiba saja Kiba sudah duduk di depannya. Pikiran Neji sedang berada di awang-awang, ia sampai tidak sempat untuk memfokuskan penglihatannya ke keadaan di sekelilingnya.
"Tch, Apa perlu kau menanyakan sesuatu yang sudah kau ketahui, Inuzuka?"
"Wow, hahahahaha! Jika aku mengambil foto wajahmu yang sekarang ini, para fansmu pasti akan berani membayar mahal untuk foto-foto itu"
"Try me, Inuzuka"
Kiba adalah teman Neji yang menyadari sisi lain dari pemuda berambut panjang ini karena pada faktanya , Kiba adalah tipe orang yang menyenangkan, namun juga menyebalkan disaat yang sama. Bahkan ia lebih menyebalkan dari para pengusaha itu. Sifat Kiba yang seperti itu 'memancing' Neji dan pada akhirnya, Neji tidak pernah menahan dirinya di depan Kiba. Tidak ada kata-kata yang harus selalu sopan. Tidak ada baju yang harus selalu rapi. Tidak ada Hyuuga Neji yang didamba-dambakan para pengusaha itu.
Selain itu Neji sangat mempercayai Kiba. Ia memberitahu pemuda yang menyukai anjing itu tetang preferencenya yang membuahkan satu teriakan panjang yang keluar dari mulut Kiba yang terkejut bukan main. Kiba tidak menyangka bahwa Neji yang sempat ia kagumi, dan Neji yang disukai teman-temannya itu sedikit menikung dari garis lurus. Tapi ia hanya tertawa sambil mengucapkan 'Terimakasih sudah menyisakan setengah dari populasi perempuan di kampus ini untukku'. Aneh memang. Kiba juga mengetahui tentang pertunangan Neji, namun neji tidak pernah memberitahukannya tentang sang calon. Kiba hanya diberitahu bahwa calon tunangan Neji adalah orang yang ia kenal.
"Bicara tentang sang tunangan-", Kiba berhenti sejenak. Memang ia sedang asyik dengan kamera Canon kesayangannya yang sudah full upgrade. Kiba kuliah di jurusan Seni dan mengambil Cinematography sebagai majornya. Kiba juga bekerja sebagai freelancer photographer, cukup mandiri untuk seorang pemuda diusianya."-kenapa kau tampak tidak menyukai tunanganmu?", Kiba melanjutkan.
"Yang tidak ku suka itu pertunangannya, bukan orang yang akan ditunangkan denganku..", Neji hanya memalingkan wajahnya dari Kiba.
"Kau memang tidak pandai berbohong, Neji. Kalau kau bisa menahan emosimu untuk orang-orang berjas itu, setidaknya cobalah untuk berbohong dengan lebih baik"
Di luar dugaan memang, tapi Kiba sudah memiliki insting yang tajam dari dulu. Kelakuannya memang sedikit berandal, ia ceroboh dan seenaknya sendiri, namun potensi yang ada di dalam dirinya inilah yang membuat Kiba spesial.
Kiba tertawa lepas melihat wajah Neji yang sedikit terkejut. "Wow? Dugaan ku tepat ya? Sudah kubilang, memelihara anjing akan meningkatkan kepekaan instingmu, hahahaha!"
"As we expected from the mighty Inu..", Neji menyeringai ketika Kiba tampak sebal dengan nama panggilan barunya
"Fuck off Hyuuga.."
Belum sempat Neji tertawa mendengar reaksi temannya, Kiba mengatakan sesuatu yang membuat kata-kata Neji langsung tersangkut di tenggorokannya.
"Lagipula, kenapa kau tidak mau bertunangan dengan orang itu? Dia tampan dan pintar, setara denganmu kan?", Kiba tertawa kecil ketika satu nama muncul dipikirannya
"Kamu mengekspresikan ketidaksukaanmu seakan tunanganmu itu adalah Uchiha.."
Dan Kiba memang tidak pernah menyadari seberapa tajam instingnya
Selesai lah prolog keduanya :) , cliff hanger, cliff hanger
