inspired by :
Cinta dan Luka (Club Eighties)
Cinta & Luka
A 2008-2009 Naruto fanfiction by Yvne F.S. Devolnueht
romance/friendship
pairing :
(main) NaruHinaKiba
and other STRAIGHT pairing;
SS, NT, SI
WARNING
some of the scene was inspired by Bokura Ga Ita,
fluffiness,
OOC,
AU,
apapun poin jelek dari sebuah fic.
:p
STANDARD DISCLAIMER APPLIED
Bokura Ga Ita owned by Obata Yuuki
full summary :
"Se-selamat ya, Kiba-kun...", Hinata memberikan bungkusan chiffon tadi.
"Waah, makasih yaa! Jadi enak nih...", Kiba membuka bungkusan itu dalam mabuknya.
Isinya sebuah gantungan ponsel rajutan.
"Ahahahaa! Bagus...!", Kiba mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Hmph. Jelek gitu dibilang bagus. Penjilat.", Naruto berkata datar.
Sakura bersiap memukul Naruto-
-sampai Kiba menghampirinya duluan.
"Kenapa...? Sirik ya...????", Kiba mengayun-ayunkan gantungan itu di depan muka Naruto.
Dalam satu gerakan, Naruto mengambil gantungan itu.
Dan menghancurkannya dengan satu kepalan tangan.
"Ngga akan."
CHAPTER 02 ; dan
Semua yang kurasakan tak mungkin dapat kuhapuskan...
Walau kau bersamanya, menjalin kisah cinta nyata...
Semua yang kurasakan tak mungkin dapat kuhapuskan...
Walau kau bersamanya, menjalin kisah cinta nyata...
...dan terluka
-girls' room-
"Jadi... Kapan mau dikasihnya??", seorang gadis pirang bertanya sambil memainkan ujung rambutnya.
"Mu-mungkin nanti, ma-makan malem...", gadis berambut hitam menjawab. Tangannya membungkus sebuah kado dengan kain chiffon berwarna putih.
Di kamar itu, terisi 4 orang wanita muda yang kini duduk di tengah ruangan dengan bantal-bantal besar. Satu Haruno, satu Yamanaka, dan dua Hyuuga.
"Ngomong-ngomong... Taun ini Tenten-nee sama Neji-senpai anniversary-an, kan??", Haruno Sakura bangkit dari posisi setengah berbaringnya.
"Haha... Iya.", yang ditanya menjawab senang.
"Keren deh... Aku juga pengen bisa kaya gitu sama Sasuke-kun..."
"Lo sih, masih ada kemungkinan. Gue?? Kalo sampe kejadian, lo semua harus pesta!", Yamanaka menyela lamunan sahabatnya.
"Yee. Derita lo punya hubungan putus-nyambung gitu...!", Sakura berseru.
"Huu! Asem lo, Sak!", Ino melempar sebuah bantal ke arah Haruno muda—yang hanya tertawa seraya menghindar dari bantal tadi.
Tanpa ada komando, semua mata gadis-gadis itu tertuju pada Hinata yang berdiri dan berjalan ke arah meja riasnya, ia menyimpan kado tadi di lacinya.
"Ta, kenapa lo ga nembak si Kiba aja sih??"
Celetukkan Ino itu berhasil membuat wajah Hinata memerah.
"Ne-nembak??"
"Iyee. Nembak... Udah biasa kan, hari gini cewe nembak cowo...!", Ino berpindah posisi, memangku bantal.
"Heh. Ngomong sembarangan! Bisa-bisa Neji jantungan kalo tau Hinata nembak cowo! Kaga kaga!", Tenten berujar.
"Lagian lo tuh suka gila aja deh, Miss Piggy. Mau ngeliat Naruto ngamuk apa??", Sakura ikut membela argumen Tenten.
"Iiiih. Pada ga asik lo semua!", Ino membalas sedikit kesal. "Hari gini nunggu cowo... Keburu kering!"
Hinata—yang dari tadi menjadi objek—hanya tersenyum kecil. "Be-belum tentu Kiba-kun su-suka aku, kan..."
Kamar tiba-tiba hening.
"WHAT??", Ino membelalakkan mata. "Ya ampun, Hinataaaa. Butuh clue apa lagi, sih loooo?? Jelas banget gitu ya, Kiba is sooooo into you!"
"And so does Naruto, yaa. Tolong dicatet...", Sakura menyela.
"Aduh, plis deh. Jelas si Naruto tuh udah ga ada komitmen apa-apa sama Hinata. Ngapain juga dipikirin??"
"Ya seengganya hargain dong, perasaan tu bocah...", Tenten membela pemuda pirang yang sedang dibicarakan.
"Eh, jadi inget nih. Kenapa sih, kamu mutusin Naruto, Ta??", Sakura berpaling.
Hinata terkesiap pelan. "Emm...", Hinata menatap teman-temannya satu persatu. "Ka-karena aku g-ga pantes buat di-dia..."
Kembali hening.
"HAAAA?????", tiga gadis selain Hinata berkoor.
"Apanya yang ga pantes?? You look so cute together...!", Sakura beropini.
"Eh, ya ga matching aja kali. Yang satu hiperaktif, yang satu sunyi senyap.", Ino menjawab asal.
Tanpa disangka sedikitpun, Hinata mengangguk mengiyakan.
"Tapi kamu masih sayang dia, ga...??", Sakura berharap.
Hinata terdiam.
"Tenten? Makan malem siap tuh.", Neji muncul dari balik pintu.
Dan pertanyaan tadi belum terjawab...
-living room ; kitchen-
Makanan yang disajikan tidak begitu rumit. Hanya makanan rebusan seperti mac & cheese atau spaghetti instan. Kelompok kecil itu duduk di ruangan keluarga dengan televisi yang dibiarkan menyala. Di meja tersimapan beberapa botol minuman dan makanan ringan seperti keripik dan biskuit. Hanya dalam 20-menit makanan itu habis. Dan saat itu Tenten—yang membereskan meja—menyadari sesuatu.
"Buset! Lo pada minum apaan??!", Tenten mengeluarkan botol Carlo Rossi dari bawah meja.
"Cuma dikit kok, Tenten-nee~", Kiba menjawab.
"Ni anak dua, mabok.", Sasuke menunjuk Kiba dan Naruto yang berbaring dengan posisi aneh di sofa yang bersebrangan.
"Oh GREAT. Dari lima cowo di sini, kenapa juga harus yang autis yang mabok??", Tenten setengah histeris.
"Udah... Kalo mereka ngamuk, pukul aja pake raket listrik, terus buang ke laut...", Shikamaru berkata santai.
"Eh, Kib, lo jangan mabok... Si Hinata mau ngasih sesuatu nih...!", Ino berkata cukup keras untuk membuat semua orang menaruh perhatian mereka.
Kiba dan Naruto segera duduk.
"Kado...? Kado apa?? Buat apa??", Kiba bertanya kacau.
"Buat terpilihnya lo jadi ketua tim renang...", Ino menjelaskan.
"Oh... Ya ya ya...", Kiba mengangguk.
"Se-selamat ya, Kiba-kun...", Hinata memberikan bungkusan chiffon tadi.
"Waah, makasih yaa! Jadi enak nih...", Kiba membuka bungkusan itu dalam mabuknya.
Isinya sebuah gantungan ponsel rajutan.
"Ahahahaa! Bagus...!", Kiba mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Hmph. Jelek gitu dibilang bagus. Penjilat.", Naruto berkata datar.
Sakura bersiap memukul Naruto-
-sampai Kiba menghampirinya duluan.
"Kenapa...? Sirik ya...????", Kiba mengayun-ayunkan gantungan itu di depan muka Naruto.
Dalam satu gerakan, Naruto mengambil gantungan itu.
Dan menghancurkannya dengan satu kepalan tangan.
"Ngga akan."
Semua terkesiap.
Bukan karena perbuatan Naruto tadi, melainkan karena tindakan Hinata—
"Jahat!"
—yang menyiram minuman tepat ke muka Naruto.
-
-
"Ketemu??", Tenten bertanya khawatir pada Neji yang baru masuk dari luar rumah.
"Ada di dermaga. Tapi ga mau diajak pulang."
"Ahh, lo juga sih, Nar!! Kekanak-kanakan banget, tau ga?!", Ino membentak Naruto. Shikamaru menahannya.
Naruto—yang biasanya akan 'tersulut' dengan perkataan seperti itu—kini hanya terdiam di sofa. Mungkin ada benarnya perkataan Yamanaka tadi.
Suasana menjadi hening. Kiba tertidur karena efek alkohol di minumannya. Itupun ada bagusnya, daripada ia terjaga dan memulai keributan. Hanya Tuhan yang tahu mengapa Naruto masih bisa bangun dan bahkan berpikir.
"Dewasa dong, Nar... Dunia tuh ga berputar buat lo aja...", Sakura memulai.
Naruto hanya tersenyum pada udara hampa di hadapannya. "Tapi dia tuh ada buat gue aja..."
Sakura menghela nafas. Berpaling menatap Sasuke—yang notebene sahabat si pemuda pirang—seakan meminta jawab balasan.
"Lo susul sana.", ujar Sasuke. "Minta maaf."
Naruto memandangnya sesaat.
Sebelum akhirnya berjalan keluar.
Hinata hanya duduk terdiam melihat ombak yang bergemuruh dari arah laut lepas.
Harusnya ia tidak melakukannya. Harusnya tidak ia berikan hadiah tadi. Kenapa ia lupa kalau saingan utama Kiba adalah Naruto?? Baik dalam klub renang yang mereka ikuti, atau dalam hal...
"Hinata?"
Gadis Hyuuga menoleh.
Melihat pemuda pirang yang berdiri di belakangnya, ia berpaling lagi.
Naruto duduk tanpa meminta atau dipersilahkan. Dan mereka hanya berdiam diri sampai si pirang memulai.
"Maaf...", katanya pelan.
Hinata tidak bergeming.
Setiap setiap tetes air mata, slalu kau menangis di pelukku...
Namun setiap saat kau bahagia, slalu kau memilih bersamanya...
"Emang itu salah banget...", Naruto melanjutkan. "Tapi kan, aku juga udah dibanjur...!"
Dengan satu tengokan, Hinata menatap Naruto. Seakan tidak percaya di saat seperti ini, pemuda itu masih bisa bercanda.
"Aku paling ga suka kalah...", Naruto berujar lagi—kali ini lebih serius. "Apalagi dari si Kiba...!"
Hening.
Tiba-tiba, Naruto menarik satu tangan Hinata yang tertutup. Membuat si pemilik refleks menarik lagi tangannya—yang jelas ditahan oleh Naruto.
Pemuda dengan mata biru itu meletakkan sesuatu di tangan kecil Hinata.
Sebuah gantungan ponsel rajutan yang ia kenal.
"E-eh???"
"Yang tadi aku ancurin itu biskuit...", Naruto menjelaskan. "Kan aku juga mau...", katanya dengan wajah setengah memerah.
Hinata memandang benda kecil di tangannya bergantian dengan wajah Naruto.
"Ta-tadi bilangnya je-jelek...", Hinata bicara pelan.
"Ya tapi tetep aja aku mau.", Naruto melihat Hinata dengan sedikit rengekan.
"Kasih ke Kiba-nya, di tempat yang aku ga bisa liat, ya...?", Naruto bertanya//meminta lembut.
Setelah itu, Hinata mendengar pamitnya.
Dan kembali duduk sendiri dengan perasaan yang kini sama dengan gemuruh ombak.
tbc—
Pernah terpikir 'tuk tinggalkanmu...
Chapter 03 ; Luka
"OH!!! Lo nantangin, hah?!!", Naruto mencengkram balik kerah baju Kiba.
"Mau berantem, lo?!!!", Kiba membalas marah.
"Udah. Berantem juga ga ada gunanya!", suara Ino mebuat dua pemuda tadi menoleh.
"'Aku lagi ga mau ngomong sama kalian. Jangan cari aku.' Itu pesennya Hinata.", Sakura menyampaikan.
"Kalian tolong dong, ngertiin perasaan Hinata!", Ino berseru.
Kiba melepas cengkramannya. "Itu artinya dia ga mau denger kita, nyet."
Naruto memandang tanah. "Ga ngerti..."
Sakura dan Ino mengangkat alis. "Apaan yang ga nger—"
Uzumaki berteriak keras—
"KALO MAU NOLAK, BILANG LANGSUNG!!!!"
—dan berlari melewati Sakura dan Ino.
ohyeas ohnoes
kalo aku jadi Hinata...
BINGUNG DEEEEH
xDDDD~
yes, buat yang udah nonton/baca Bokura Ga Ita, pasti tauu.
:3
so sorry...
I just HAVE to put it into NaruHinaKiba...!
xD
review...?
(:
xoxo,
Yvne F.S. Devolnueht
