Tiga bulan berlalu setelah Mikasa menikah dengan Rivaille. Walau ia tidak ingin mengakuinnya secara lisan, tetapi Mikasa cukup bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.

Karena selama satu minggu dalam sebulan, Rivaille selalu bertugas di luar kota dan tidak pulang ke rumah. Kesempatan ini Mikasa gunakan untuk melakukan sesuatu selain tugasnya sebagai seorang istri dan, ia juga dapat berlatih pedang diam-diam di dalam hutan tanpa diketahui suaminya. Ia tentu tidak ingin kehilangan keahlian berpedangnya. Setidaknya kalau Rivaille tidak ada di saat keadaan genting, ia dapat melindungi dirinya sendiri ataupun orang-orang di sekitarnya, dan Mikasa sangat tidak mengijinkan kejadian buruk yang menimpa keluarganya terulang kembali―untuk alasan apapun.

.

.


Disclaimer
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
Langit Putih translated by Kueii from White Sky © darkestlight33

Warn
AU. Lack of dialogue. Hazy timing points. Standard warning applied.

[I don't gain any profit by doing this.]

For god sake, this fic isn't mine. I just try to translate it with all of my lack english ability orz.

Hanya sebuah hadiah kecil untuk mengingat betapa indahnya fanfiction White Sky yang telah tiada.

Bagi yang ingin melihat fic ini tamat, kalau bisa sempatkan diri untuk membaca author note di akhir. Trims! ( ;w;)/

.

*1000 Hugs from me for people i mentioned below*

Ritard. S. Quint, Rivaille Fangirl: nope, sepertinya tidak :P. Yamazaki Koharu, Lightmaycry, AzuraLunatique, nanachan: saya senang kalau fic ini mirip dengan aslinya.Apa kamu sudah baca fic aslinya? Kalo iya, mungkin bakal banyak deskripsi yg beda dari aslinya lol. HatsuneeCherry726, Plovercrest, Nyanmaru desu, Hikari Jeanne: ada, btw aslinya fic ini tuh one-shot xD, Kumada Chiyu, He-chanrlyna, Cliff: okies! Ini sudah ada update-nya btw.

Dan anda yang sempat membaca chapter ini. Terima kasih atas kesetiannya & kesabarannya untuk menunggu updetan fic ini!

.

.


Saat Rivaille pertama kalinya bertugas keluar kota dan meninggalkannya di rumah selama seminggu penuh, Mikasa tidak sengaja menemukan bermacam-macam jenis pedang milik Rivaille di rumah pondoknya. Ia pun berinisiatif untuk mencoba pedang-pedang tersebut dan setelahnya, ia selalu membersihkan pedang-pedang yang telah ia pakai.

Tetapi ketika Rivaille pulang, pria itu memicingkan maniknya―memeriksa setiap inch pedang-pedangnya secara seksama. Ia benar-benar mengamati setiap pedang-pedang itu selama lima menit penuh keheranan. Pria itu kemudian berbalik ke arah Mikasa dan menatap manik keabuannya; meminta penjelasan atas semua yang telah istrinya lakukan terhadap pedang-pedangnya. Sayangnya kala itu Rivaille tidak cukup waspada. Sehingga Mikasa dapat dengan mudah mendorong kaki pria itu menggunakan kaki bagian dalam miliknya, hingga tubuh kekar pria itu oleng. Seketika itu juga, tubuh mungil Rivaille tertarik gaya gravitasi secara paksa. Tubuhnya jatuh membentur lantai kayu, sehingga membuat suara debaman nyaring yang kasar.

Rivaille sama sekali mengabaikan rasa sakit yang menggerayangi tubuh bagian kirinya. Otaknya malah mencoba memutar ulang kejadian tadi. Istrinya yang baru berumur lima belas tahun dapat menjatuhkan ksatria terbaik seperti dirinya dengan mudah. Pria itu membuang napas pelan―ia tak habis pikir. Setelah kejadian tersebut, Rivaille tidak pernah lagi mempertanyakan keahlian membersihkan pedang yang Mikasa miliki. Oh ayolah, pria ini tidak mau memperumit keadaan dan kembali membentur lantai.

.

.

Mikasa bersyukur bahwa suaminya memiliki berbagai macam pedang―tepatnya sepuluh macam―yang selalu ia gunakan untuk berlatih kini.

Pedang-pedang itu semuannya berbeda, baik dari bentuk, ukuran, dan beratnya. Setiap selesai menggunakan pedang-pedang tersebut, ia selalu menggosok seluruh bagiannya selama dua puluh menit. Dengan harapan suaminya tidak mencurigainya karena ia memakai pedang-pedang tersebut untuk berlatih di tengah hutan. Tapi asumsinya meleset dan beberapa hari yang lalu, suaminya sudah mencurigainya. Pria itu mungkin hanya mencurigai Mikasa sebagai maniak senjata, yang pintar bela diri; semoga tidak lebih. Mikasa berharap Rivaille tidak tahu bahwa, ia mantan kadet dari pelatihan tentara di Trost.

Ia takut Rivaille melarangnya melakukan hal-hal macam ini―berlatih pedang, lalu membersihkan dan merawat pedang-pedang tersebut―mengingat hal-hal di atas tidak umum dikerjakan oleh seorang perempuan. Perlu diketahui Mikasa benar-benar menikmati kegiatan ini. Mungkin saja Rivaille tidak akan melarangnya karena, pria itu memang sulit ditebak.

Contohnya sikap Rivaille yang terlihat dingin di luar, ternyata berbeda jauh dengan sifat aslinya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya memang tidak sehangat bujukan Eren atau Carla, malah bisa dibilang kasar dan tajam. Tapi bentuk perhatiannya pada Mikasa, itu lebih dari cukup. Pria itu sepertinya menyayangi Mikasa―dengan caranya sendiri. Bahkan, Mikasa ragu kalau-kalau Rivaille marah, ia akan mengacungkan ujung pedangnya tepat di depan muka khas oriental milik Mikasa. Sepertinya Rivaille tidak akan pernah bisa melakukan hal itu terhadapnya. Pria itu selalu memperlakukannya dengan baik.

Sedikit rahasia kecil, Mikasa dan Rivaille mulai merajut perlahan sebuah ikatan di antara mereka. Bisa dibilang, ikatan yang membelit mereka kali ini adalah ikatan pertemanan; untuk membangun kepercayaan dalam rumah tangga. Tetapi logika Mikasa menganggap ini hanya sebuah gencatan senjata, sebelum sesuatu bernama intrik rumah tangga mengguncang benteng kokoh yang mereka buat.

.

.

Mikasa tentu mengobrol teratur dengan Rivaille sebagaimana suami-istri sewajarnya. Misalnya saat Rivaille ada di rumah, mereka selalu menyempatkan diri untuk sekedar duduk-duduk di kursi kayu tua depan rumah. Menikmati cahaya mentari senja yang menyusup dari balik pepohonan pinus, sambil menyesap secangkir teh camomille hangat.

Tidak disangka-sangka, Rivaille sering menceritakan tentang kejadian yang dialami pasukannya saat bertugas pada Mikasa. Atau ia juga sering menceritakan kejadian konyol yang dialami kadet didikannya ketika mereka sedang berlatih. Tentu saja Rivaille bercerita dengan ekspresinya yang minim―datar dan kilauan maniknya terlihat tidak bersemangat.

Hanya saja, Mikasa cukup jeli untuk menangkap gestur tubuh suaminya yang menikmati setiap obrolan senja mereka. Padahal Mikasa kira, Rivaille itu tidak terlalu suka menarik perhatian seseorang dengan sebuah obrolan. Ia seperti menutup diri dan memiliki dunianya sendiri. Tetapi kenyataan berkata lain.

Setelah menikah, Mikasa baru mengerti bagaimana sifat Rivaille. Pria itu berkepribadian rumit, tapi menyukai hal-hal yang sederhana seperti rumah pondoknya ini dan tentu saja, sesi obrolan senjanya bersama Mikasa.

.

.

Rivaille mempunyai sebuah peti kayu penuh dengan koin perak, di dalam kamar mereka. Tanpa disangka-sangka kunci peti itu ia berikan pada Mikasa, "Gunakan sesukamu jika kau ingin menggunakannya."

Mikasa tahu, koin-koin perak di dalam peti tersebut adalah tabungan Rivaille dari gaji yang ia dapat, selama bertugas menjadi seorang ksatria di bawah naungan Irvin.

"Aku tidak terlalu suka berbelanja, apalagi aku juga jarang berada di rumah."

Ia menarik nafas perlahan, "Tapi sekarang semua berbeda," kemudian manik obsidian itu menatap manik keabuaan Mikasa dalam-dalam, "karena ada kau di rumah ini. Kau mungkin lebih membutuhkan koin-koin itu."

.

.

Mikasa tidak benar-benar memperhatikan sikap Rivaille. Tetapi ia dapat mengira-mengira, dalam rentan waktu yang cukup lama suaminya itu ternyata kesepian. Hidup sendirian memang sepi, dan menjadi seorang ksatria tidaklah selalu menyenangkan. Karena kesetiaan dan pengabdiannya pada tugas yang diemban, menyebabkan Rivaille sering tidak berada di lingkungan rumahnya.

Mikasa dapat menerka hal itu dikarenakan setiap suaminya pulang, pria itu selalu terdiam di lawang pintu masuk rumah―sejenak, ia mengamati isi rumahnya dengan kedua manik yang menyiratkan rasa heran. Ia terlihat seperti pria kikuk yang salah masuk rumah orang. Mungkin karena terlalu lama hidup sendiri, Rivaille tidak terbiasa bila ada seseorang yang selalu menyiapkan makan malam dan bak mandi berisi air hangat untuknya. Perkataan Rivaille kembali terlintas di dalam pikiran Mikasa, "...mungkin aku memang menginginkan seorang pendamping hidup."

.

.

Menjelang satu tahun pernikahan mereka, Rivaille dan Mikasa mengunjungi keluarga angkatnya di Shiganshina sekaligus mendatangi pesta pernikahan Eren dengan Annie Leonhardt. Ia sudah kenal Annie dari dulu. Oh iya, mereka bertiga―Eren, Mikasa, Annie―adalah teman semasa kecil. Sayangnya Mikasa kurang menyukai gadis berambut pirang tersebut. Tetapi bila gadis itu dapat membuat Eren nyaman dan aman, ia tidak memusingkan rasa tidak sukanya pada gadis itu. Mikasa cukup bersyukur calon istri saudara angkat laki-lakinya itu, dapat membujuk Eren untuk berhenti menjadi tentara, dan memintanya untuk meneruskan profesi ayahnya sebagai seorang dokter.

Mereka cukup menikmati pesta perayaannya, hingga Carla datang menarik lengan Mikasa dengan girang dari kerumunan, dan wanita paruh baya itu menghujaninya dengan bermacam-macam pertanyaan. Seperti; Mana cucuku? Ah, apakah kau mempunyai masalah dalam 'proses'-nya? Apakah kalian sudah memeriksakannya ke dokter? Ja-jangan-jangan kau kurang sehat atau bisa dibilang ... kurang subur?

Mikasa cukup kebingungan untuk memikirkan jawaban yang tepat. Untungnya Rivaille menjawab pertanyaan mertua angkatnya menggantikan Mikasa, "Kami belum menginginkan seorang anak, Nyonya Jäger."

Kemudian ibu angkatnya tersebut bernafas lega―bersyukur bahwa anak angkat perempuannya tidak memiliki kelainan. Tetapi sampai dua hari kemudian, perkataan dari ibu angkatnya tetap terngiang di kepala Mikasa. Apakah dia memang kurang subur?

(Ah setidaknya ia harus memeriksakan dirinya ke dokter sebelum ia melakukan malam pertamanya dengan Rivaille.)

.

.

Mikasa sebentar lagi akan menginjak umur tujuh belas tahun. Tetapi Rivaille tidak pernah menyentuhnya secara intim. Bahkan, suaminya sama sekali tidak pernah bertanya ataupun membahas hal-hal yang berhubungan dengan malam pertama padanya.

.

.

Setelah Rivaille menyelesaikan misi dan pulang ke rumah, keesokan harinya ia harus kembali pergi menyelesaikan misi lainnya yang diberikan Sir Irvin. Ketika suaminya pergi, Mikasa pada hari itu hanya berbaring seharian. Banyak pikiran yang memberatkan otaknya sehingga, ia merasa tidak nyaman. Petuah lama ibu angkatnya tergiang-giang kembali dalam kepalanya, Ini sudah menjadi kewajiban setiap istri untuk memenuhi hasrat suaminya. Jangan sampai wanita-wanita jalang di luar sana menggantikanmu untuk melakukannya.

Mikasa mulai curiga, apakah Rivaille menemukan seseorang yang dapat memberikannya kebahagian, lebih dari yang Mikasa beri? Apakah suaminya ini menemukan seseorang yang lain, yang dapat memenuhi hasrat dan kebutuhan bathin suaminya? Pikiran-pikiran itu seperti panah berapi yang dapat menikam, sekaligus membakar hatinya; jika benar-benar terjadi.

Mikasa membenci pengkhianatan.

Lagipula Mikasa sendiri juga tidak mengerti betul, mengapa hanya ada dua orang manusia saja yang tinggal di sini. Apakah mungkin Rivaille memang keberatan dengan kehadiran seorang anak? Ah, Mikasa akan menanyakan hal ini pada pria itu, ketika ia sudah pulang.

Baru saja Mikasa bangkit dari tempat tidur, ia segera mendengar suara derap kaki kuda mendekat ke arah rumah pondoknya. Ini pasti suaminya. Jadi, ia pun bergegas berjalan ke arah ruang tamu, tidak biasanya suaminya pulang cepat. Tetapi, semua pikiran dan rencananya tadi buyar, ketika ia melihat Rivaille datang membopong seorang pria dalam kondisi sekarat di pundaknya.

Manik keabuan Mikasa tentu membulat sempurna. Obsidian itu menatap manik keabuaan Mikasa dengan padangan serius, "Tolonglah dia."

Sebelum ia dapat memproses benar-benar perintah Rivaille, tubuhnya secara otomatis sudah berlari ke sana-ke mari di dalam rumah untuk mengumpulkan jarum, benang jahit dan perban. Mikasa menyuruh suaminya untuk membaringkan tubuh pria tersebut di kasur mereka, sementara dirinya mengambil seember penuh air bersih. Setelahnya, ia memberikan ember itu pada Rivaille dan kembali menyuruh suaminya untuk merebus air yang ada di ember tersebut. Lalu Mikasa berlari keluar pondok, menuju sebuah toko roti yang letaknya beberapa rumah dari pondoknya. Sasha―teman Mikasa satu-satunya di Trost―adalah pemilik toko roti tersebut. Mikasa menghambur ke dalam toko rotinya begitu ia datang. Sebelum Sasha sempat tahu apa yang terjadi, ia segera diseret Mikasa sampai-sampai kakinya kehilangan keseimbangan sehingga wanita itu hampir terjatuh. Samuel yang tidak lain dan tidak bukan adalah suami Sasha membatu saat melihat istrinya yang tadi di sampinya, kini diseret paksa oleh Mikasa. Pria itu menaikan kedua alisnya heran karena tidak mengerti situasi apa yang sedang terjadi. Tetapi ia tidak berniat untuk menahan Sasha, Samuel pikir pasti ada suatu alasan kenapa Mikasa menyeret istrinya begitu saja. Setidaknya ia tahu bahwa Mikasa itu orang baik.

.

.

Sembari menyeret Sasha ke pondoknya, Mikasa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di kediamannya pada perempuan penggila roti ini, untung Sasha mau mengerti. Ia juga akan berusaha membantu Mikasa sebisanya. Inilah salah satu alasan mengapa Mikasa bisa tahan berteman dengan Sasha yang berisik dan liar―err...koreksi, maksudnya tak bisa diam karena, Sasha sungguh pengertian dan dapat diandalkan pada situasi geting seperti ini.

Ketika Mikasa menarik Sasha ke dalam pondoknya, air yang dari tadi direbus hampir mendidih; gelembung-gelembung udara mulai berlarian dari dasar panci ke permukaan. Sambil menunggu sebentar, Mikasa mengingat kembali apa-apa saja yang dilakukan Dokter Jäger untuk merawat luka akibat sayatan benda tajam.

Ia segera bersiap, dan mengusir Rivaille keluar dari kamar, "Kau hanya akan mengganggu jika tidak tahu apa-apa tentang cara merawat luka," Mikasa mengatakannya ketika Rivaille bersikeras untuk membantu dan tak ingin keluar.

Luka sayatan kecil terlihat di sekujur badannya, apalagi luka di lengan kiri atas pria tersebut cukup dalam. Mikasa ingat perkataan ayah angkatnya bahwa, baiknya terlebih dahulu membersihkan luka kemudian menjahit dan menyatukan bagian luka dalam yang tersobek.

Jemari-jemari lentik milik keturunan oriental ini dengan cekatan menjahit luka pria tersebut, setelah membersihkannya terlebih dahulu dengan peralatan seadanya. Hampir satu jam lebih ia berada di dalam kamar bersama Sasha.

Orang-orang biasa kebanyakan tidak tahu akan teknik menutup luka lebar dan dalam dengan cara menjahitnya. Karena pada zaman ini buku-buku pengobatan sulit di dapat, dan dokter-dokter handal tidaklah banyak jumlahnya. Mereka biasanya sudah pasrah, karena luka sayatan dalam itu sulit menutup sehingga terjadi pendarahan besar-besaran. Mikasa mengetahui teknik ini karena ia pernah membantu ayah angkatnya mengurusi pasien dengan kasus yang sama seperti ini.

.

.

Malam harinya saat Sasha sudah pulang, pria yang ia selamatkan tadi mendadak menggigil terserang demam. Mikasa cepat-cepat mengambil kain basah untuk mengkompres dahinya. Saat itu Rivaille sudah berada di dalam kamar untuk melihat keadaan pria tersebut. Rivaille kemudian mendekat perlahan ke tempat istrinya duduk yaitu, di sebuah kursi kayu bulat di sebelah ranjang.

Perlahan bibir tipisnya berpisah, ia berbicara, "Dia adalah tangan kananku yang waktu itu kuceritakan, namanya Erd Gin."

Kedua alis suaminya bertaut, "Dia tidak memiliki sanak-saudara di Trost, maka ia kubawa ke sini," pria itu menarik napas dan kembali melanjutkan, "aku tidak dapat membawanya ke Irvin sekarang, karena bisa timbul kekacauan yang sia-sia."

Dalam beberapa menit Rivaille membungkam mulutnya. Mikasa sadar akan ada sesuatu yang salah di sini. Ia yakin Rivaille menanggung suatu masalah berat dan tidak dapat menceritakannya begitu saja.

Mikasa kemudian memperbaharui kain lap di dahi pria bernama Erd Gin dengan cara mencelupkan kain tersebut ke dalam wadah berisi air hangat, memerasnya, lalu menyimpannya kembali di dahi pria itu. Ia kemudian mengatur posisi duduk menghadap Rivaille. Manik keabuaannya kini menatap obsidian Rivaille, seakan mempertanyakan keadaan yang sebenarnya terjadi dalam diam.

"Tch, ada seorang mata-mata sekaligus pemberontak di antara kami yang menyebabkan ini semua," suara bariton miliknya membelah sunyi. Rahangnya mengeras menahan amarah, begitu juga buku-buku jarinya yang memutih karena kepalan tangannya terlalu kuat.

Pernyataan itu menggantung di udara hingga akhirnya Mikasa bertanya, "Lalu apa rencanamu setelah mengetahuinya?"

Rahangnya mengendur dan jari-jarinya sedikit melemas ketika Mikasa menanyakan hal tersebut, "A—aku tidak tahu," alisnya bertaut dan kini air mukanya sedikit menujukan ekspresi gelisah. Hanya sedikit.

Belum pernah Mikasa melihat sisi lain Rivaille yang satu ini.

"Jika aku memberi tahu hal ini pada Irvin sekarang juga, masalah ini malah akan mengundang rasa saling tidak percaya di antara kami, dan kekacauan akibat saling tuduh siapa pengkhianatnya akan menyusul. Intinya, pelaku yang sebenarnya akan memanfaatkan keadaan darurat seperti saat ini."

Ini mungkin sisi lemah dari seorang Ksatria Terbaik Trost yang namanya selalu di elu-elukan. Tanpa berpikir apapun lagi, Mikasa segera berdiri dan menggengam tangan Rivaille, menariknya, lalu mendekap kepalanya. Jemarinya kini berlarian di surai hitam Rivaille―membelainya dengan lembut seperti seorang ibu.

Mikasa tidak berkata apapun. Ia bahkan tidak ada niatan untuk menghibur Rivaille. Ia cuma mendekap kepala Rivaille di dadanya. Mikasa hanya menginginkan―walau cuma sekali saja―Rivaille untuk melupakan sejenak profesinya sebagai pengemban tugas kerajaan, dan melepaskan beban yang dipikul di punggung kecilnya sebagai Ksatria Terbaik di Trost. Mikasa hanya ingin suaminya menjadi seorang manusia biasa sekarang; yang rapuh dan membutuhkan seseorang..

.

.

Keadaan Erd―pria bersurai pirang yang telah Mikasa selamatkan―sudah membaik dan luka-lukanya telah pulih dalam dua bulan terakhir. Nafsu makan pria itu diibaratkan bagai seorang ahli pedang yang tak tanggung-tanggung menebaskan pedangnya jikalau ada kesempatan; bisa disimpulkan kalau nafsu makannya cukup besar.

Saat Rivaille hendak pergi untuk mengemban sebuah misi penting yang selalu Irvin ingatkan dalam beberapa bulan terakhir. Ia masih tidak bisa membawa Erd dalam misinya. Karena ia tahu bahwa Erd baru saja pulih, sehingga ia terpaksa meninggalkan rekannya itu di pondoknya bersama Mikasa.

Di lain pihak, Erd terus menerus mengucapkan terima kasih kepada Mikasa karena telah menyelamatkan nyawanya. Erd menganggap dirinya berhutang nyawa pada Mikasa, yang mana memang benar adanya. Tapi Mikasa tidak berpikir itu sesuatu yang patut pria itu bayar. Mikasa hanya ingin menyelamatkannya, ia tidak ingin Erd menganggap pertolongan yang ia lakukan adalah sebuah hutang nyawa.

Erd bilang ia akan melakukan apa saja untuk Mikasa―berulang-ulang kali. Mikasa lalu berpikir, ini mungkin akan menjadi sebuah kesempatan yang bagus untuk ia pergunakan. Kali ini ia tidak menolak tawaran Erd. Mungkin permintaanya tidak dapat Erd penuhi, hanya saja...Erd telah menawarkan diri untuk melakukan apa saja permintaannya bukan?

Dengan suara yang lantang tanpa ragu-ragu, keturunan oriental itu berkata, "Bertarunglah denganku."

Manik Erd membulat sempurna dan pria itu siap melontarkan kalimat penolakan. Tentu Mikasa sudah menduganya.

"Aku tidak mungkin melakukannya nyonya! Kau telah menyelamatkan nyawaku dan kau adalah istri dari rekan sekaligus atasanku. Mana mungkin aku dapat mengacungkan mata pedangku padamu!" Erd sedikit berteriak kala itu pada Mikasa―tanpa berpikir panjang tentunya. Sehingga ia melupakan beberapa aturan kesopanan seorang ksatria.

.

.

Agar Erd mau melawan―atau tepatnya melakukan sparring dengan Mikasa, butuh beberapa hari untuk membujuknya. Mikasa berhasil membujuk Erd karena ia memaparkan argumen-argumen kuat dan ia mempraktikan beberapa jurus untuk meyakinkannya bahwa, Mikasa mampu melawannya. Pada akhirnya Erd mau menjadi lawannya, walau pria itu masih nampak enggan. Tetapi ini bukan masalah untuk Mikasa karena, sekalinya mereka berhadapan untuk bertarung, mau tidak mau Erd harus menahan bahkan menyerang Mikasa.

Ia tahu bahwa Erd mungkin meremehkannya tetapi Mikasa tidak gentar, malah ia akan mengeluarkan teknik apapun yang ia bisa. Mikasa sudah lama tidak merasakan sensasi bertarung setelah ia keluar dari pelatihan militer. Otot-ototnya menegang tidak sabar untuk kembali meregang dan mengencang di dalam sebuah pertarungan satu lawan satu.

.

.

Mikasa menyanggul rambut hitamnya, agar tidak mengganggunya saat ia sparring nanti. Ia mengambil sepasang celana panjang dan sebuah kaos polos milik suaminya. Salah satu keuntungan dari menikahi seorang pria yang tubuhnya tidak terlalu besar―ah tentu saja Mikasa tidak akan berkata apapun soal ini di depan wajah suaminya―adalah, pakaian suaminya selalu pas di badan Mikasa. Walaupun celana Rivaille terasa menggantung bila dipakai olehnya. Tidak pernah terbayang kalau sepatu boots suaminya dapat pas di kakinya, hanya saja sedikit longgar. Tidak lupa, Mikasa tentu mengambil sebuah pedang favoritnya dari koleksi pedang suaminya. Ia berjanji menemui Erd di area lapang di dalam hutan―tempat ia biasa berlatih diam-diam―sore ini.

Ketika Mikasa menemui Erd di tempat biasa ia berlatih, pria itu mengerjap, menatapnya dengan pandangan tidak percaya saat melihat penampilannya dan sebuah pedang yang ia bawa, "Apakah kau sering melatih kemampuan berpedangmu nyonya?"

Mikasa tidak menjawab. Sebuah senyuman hampir saja singgah di wajahnya, tapi raut mukanya kembali serius karena ia akan bertarung melawan Erd dengan sungguh-sungguh.

.

.

Mereka pun mulai bertarung. Hanya saja Erd cuma bertahan dan menghindar dari tadi. Ia sama sekali enggan menyerang Mikasa. Saat Mikasa tahu bahwa Erd tidak serius, dalam sebuah kesempatan tak lama dari itu, ia dapat menjatuhkan pria berambut pirang tersebut dengan memanfaatkan ketidak waspadaan Erd dilanjutkan serangan telak dari belakang. Sehingga membuat badan kekar pria tersebut limbung terbaring di tanah. Mikasa kemudian mengacungkan ujung mata pedangnya ke leher Erd, "Aku telah menolongmu, jadi aku tidak akan tanggung-tanggung menyakitimu. Maka jangan ragu-ragu untuk melawanku dengan serius."

Kalimat yang Mikasa ucapkan tak bisa ia bantah, karena memang benar adanya. Apalagi pasukan elit sepertinya dapat dijatuhkan dengan mudah oleh Mikasa. Sungguh seharusnya ia tidak boleh meremehkan istri rekannya ini.

Pertarungan dimulai kembali, hanya saja dengan kecepatan yang sungguh luar biasa. Erd mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bertarung melawan Mikasa. Ia tidak ragu-ragu untuk menyerang Mikasa dengan jurus-jurus andalannya.

Mikasa sudah lama tidak merasakan sensasi menyenangkan seperti ini. Ketika gagang pedang tergenggam kuat di telapak tangannya, ketika suara nyaring dari benturan antara sesama pedang terdengar, atau ketika hormon adrenalinnya berkerja begitu kuat sehingga jatung memompa darahnya lebih cepat―jika ia sedang melakukan sparring seperti ini. Tentu Lady Rivaile ini merasa begitu karena berpedang adalah kegiatan favoritnya, sehingga ia sangat menikmatinya.

Tiba-tiba bunyi benturan pedang mereka mendadak melemah―tidak senyaring sebelumnya dan tubuh mereka berdua otomatis berhenti bergerak, saat Mikasa mendengar suara getir penuh peringatan yang keluar dari bibir suaminya, "Apa maksud dari semua ini?" oh tuhan.

Kini darah yang menggolak di dalam tubuh Mikasa mendadak mendingin. Jantungnya serasa berhenti berdetak beberapa detik. Seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan dari majikannya. Pedang yang ia genggam dengan erat pun perlahan lepas dari genggamannya yang melonggar, kemudian benda itu jatuh bebas ke atas permukaan tanah. Salah satu kejadian yang jarang terjadi pada Mikasa; ia menjatuhkan pedangnya. Tubuh Mikasa menegang kala itu. Darah mengalir begitu cepat ke indera pendengarnya, sehingga ia hanya fokus pada suara milik suaminya yang ia dengar barusan―perkataan Rivaille bergema di dalam kepalanya. Lalu Mikasa memberanikan diri untuk berbalik menghadap Ksatria Terbaik kota ini, yang tidak lain dan tidak bukan adalah suaminya sendiri.

Ia melihat alis suminya bertaut tidak suka, dan maniknya memancarkan sesuatu yang membuat nyali Mikasa ciut seketika. Mikasa menahan napas selama beberapa detik, tidak siap dengan tindakan dan apa yang akan Rivaille katakan selanjutnya. Dunianya seakan berhenti berputar ketika Rivaille tiba-tiba berbalik enggan menatapnya―tanpa mengatakan apa-apa, dan menjauh pergi menuju arah pondok mereka. Sebelum sempat ia berpamitan atau berkata apapun pada Erd, tubuhnya secara otomatis berlari untuk mengejar Rivaille.

Mikasa berusaha menghentikan suaminya, "Tu―tunggu," tetapi suaranya terdengar seperti bisikan dan tenggelam dalam gemerisik suara dedaunan sehingga, Rivaille tidak mungkin mendengar suara Mikasa di tengah hutan.

Ketika Mikasa telah keluar dari daerah hutan dan hampir sampai di pondoknya. Ia melihat Rivaille memanggil kudanya―dengan siulan khas―dan segera pergi meninggalkan Mikasa sendirian di sana.

.

.

Sampai tengah malam, Rivaille belum juga pulang. Ini membuatnya tidak tenang dan terjaga semalaman. Erd yang juga terlibat dalam kekacauan ini, dengan terpaksa ia harus pergi sore itu―sesaat telah Rivaille pergi, karena ada misi darurat untuknya yang harus dikerjakan sesuai permintaan dari Irvin. Sesaat sebelum pergi, Erd memandangnya dengan padangan kasihan; yang tentu saja Mikasa balas dengan pukulan telak menuju perutnya.

Dalam beberapa tahun ini, Mikasa selalu menghadapi suatu masalah mendesak dengan tenang. Bahkan, ia kadang kala sama sekali tidak memikirkannya...

tapi kali ini berbeda.

.

.


Output dari Kei:
Cih maafkan saya yang apdet-nya lama bangeet. Sesuatu terjadi dan boom! Kacau. Saya kehilangan data aslinya (fic raw-nya) akibat ponsel saya yang lama rusak. Jadi, chapter 3 baru ditulis setengahnya. Jika di antara readers sekalian yang pernah baca fic aslinya (dan inget keseluruhan cerita) atau punya kopian fic aslinya, tolong PM saya. Saya benar-benar ingin menamatkan fic ini.

Saya sudah coba menghubungi kembali author aslinya tapi...fitur PM miliknya di-disable orz. Saya juga sudah coba googling tapi hasilnya nihil. Cuma yang belum saya coba sih yahoo answer dan lurking di tumblr. /maaf malah curcol

Maafkan atas keteledoran saya. *bows*

Btw semoga feel-nya dapet. asdfghjkl. Lemah banget saya dalam hal begitu ;u; /gak peka orz

Again, selamat tahun baru! Semoga tahun depan menjadi tahun yang lebih baik! See you next year!

1 January 2014 ~ 30 December 2014