Bloody Red Habanero, Yellow Flash, Oni Kaichou and Perverted Alien
Discaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Kaichou wa Maid sama by Fujiwara Hiro
Pair : Habanero x Yellow flash
Oni Kaichou x Perverted Alien (you know what I mean huh...?)
genre : idk :v
warning, alur cepet, typo berterbangan :v
enjoy guys!
.
.
.
.
"Misaki….! Go…!" Hanazono Sakura berteriak menyemangati Misaki yang sedang lari estafet. Dia pelari terakhir dan rivalnya adalah Uzumaki Kushina.
"Yang kalah traktir ramen!" kata Misaki.
"Oke-ttebane…" Kushina memberi kode 'ok' dengan jemarinya.
Pelari dibelakang mereka datang bersamaan, Kushina dan Misaki berlari hampir bersamaan, dan kecepatan mereka pun setara.
Dan…
Finish bersamaan!
Guy-sensei yang sedang menilai praktik jadi bingung.
"Seri nggak papa kok sensei…" Misaki tersenyum.
"Dari dulu kami memang selalu seri kalau masalah lomba lari…" Kushina tersenyum lebar.
"Loh? Tamaki-sensei kemana?" ujar Misaki
"Dia sakit perut, jadi kugantikan…" jawab Guy-sensei santai.
"Selanjutnya! Usui-san dan si anak baru,Namikaze-san!"
Di sisi lain lapangan, Usui dan Minato sedang bersiap untuk penilaian lari 100 meter.
"Bersedia…Siap….Yak!"
Mereka terlihat imbang di seperempat jalan, kecepatan mereka membuat Guy-sensei kagum.
Mendekati garis finish, Usui mulai tertinggal, dan Minato yang finish terlebih dahulu.
"Tidak berubah, lari selalu kau yang menang…" Usui tersenyum tipis. Minato hanya tertawa kecil.
"KAAALLLLIIIIAAANNNN HHHEEEBBBAAAAAAATTTT….!" Guy-sensei berteriak histeris dari samping lapangan.
"JIWA MUDA KALIAN BERKOBAR! BENAR KAN LEE?!" Teriaknya lagi.
"BENAR SEKALI! GUY-SENSEI…!" Balas Rock Lee a.k.a. Alis tebal tak kalah histerisnya.
Minato hanya cengo ditempat. "Kau harus mulai terbiasa dengan beberapa guru aneh disini…" Kata Usui.
Guy-sensei melanjutkan penilaian kepada siswa lain.
Minato menatap kearah Kushina yang menarik perhatiannya. Terutama rambut merahnya.
"Tertarik pada Habanero?" Kata Usui sambil menyodorkan air mineral. Minato hanya tersenyum.
"Tidak seperti kau biasanya…" kata Usui lagi.
"Kau juga, pada Ayuzawa-san kan?" balas Minato. Usui hanya terkekeh.
Minato memandang Kushina, dan merasa tidak bisa melepaskan perhatian pada gadis itu.
"Takumi…"
"Apa?"
"Ini sebuah kebetulan atau apa?"
"Hah? Apanya?"
"Uzumaki dan rambut merahnya…"
Usui langsung mengerti kemana arah pembicaraan mereka.
Usui terdiam sambil ikut memandang Kushina yang bercanda dengan Misaki. Ia tersenyum kecil melihat Misaki yang tertawa bersama Kushina, lalu pandangannya beralih pada Kushina.
"Tidak, dia memang Uzumaki yang itu. Uzumaki yang berambut merah, Uzumaki Kushina. Adik dari Uzumaki Taka, yang meninggal 3 tahun lalu." Usui merasakan angin sepoi yang membelai rambutnya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku langsung?" tanya Minato.
"Menemukannya dengan mata kepalamu sendiri lebih menarik bukan?" balas Usui.
"Hah, kau ini…" Minato melempar Usui dengan kerikil.
"Jadi, bagaimana cara kita meminta maaf padanya? Karena tidak secara langsung, kita membunuh Uzumaki Taka…" lanjut Minato. Usui pun terdiam.
Pelajaran olahraga berakhir, murid segera ganti baju lagi, dan datanglah berkah atau malapetaka, guru mata pelajaran selanjutnya absen dan hanya memberi tugas.
"Ini berkah-ttebane!" Kushina berseru didepan Misaki.
"Dasar kau ini Kushina. Lagipula ada tugas kan? Yah, tidak terlalu sulit sih…" kata Misaki.
"Hmm, Trigonometri… " Kushina menggumam.
"Kalian semua kerjakan tugas ini, saat jam pelajaran berakhir, kumpulkan didepan, dan akan kukumpulkan pada ruang guru…" kata Misaki didepan kelas.
"Baik…"
Kushina sudah menyelesaikan tugasnya 5 menit yang lalu, saat ini ia mendengarkan lagu dari music playernya, lagu kesukaannya dan Uzumaki Taka, Mr. Gendai Speaker milik One OK Rock.
'Aku benar-benar kesepian Nii… aku akhirnya mengerti makna lagu ini, hanya orang yang sering merasa kesepian yang mengerti lagu ini…' Kushina melamun memandang awan yang bergerak pelan di langit.
Lalu tiba-tiba seseorang mengambil headset kanan nya yang tidak digunakan, lelaki itu duduk di bangku depan Kushina, Kushina kaget dan hendak protes.
"Ini band rock kan? Kenapa kau suka lagu dari band ini?" Namikaze Minato tidak menghiraukan tatapan apa-apaan-kau dari Kushina.
"Bukannya perempuan lebih suka lagu yang mellow dan tidak keras?" Tanya Minato lagi.
"Tidak semua perempuan seperti yang kau pikirkan, Namikaze…" balas Kushina dengan sedikit ketus.
"Minato. Panggil Minato saja…" Minato tersenyum yang bisa membuat perempuan manapun meleleh, tetapi tidak untuk Kushina.
Kushina tidak menanggapi perkataan Minato.
"Lalu menurutmu lagu seperti apa yang disukai banyak perempuan?" tanya Minato.
"Untuk apa bertanya padaku?"
"Apa ada yang salah kalau aku bertanya padamu?"
Kushina hanya mendengus. "Mana aku tahu? Aku tidak seperti mereka…"
"Bukan tidak seperti mereka, tetapi berusaha untuk tidak seperti mereka, berusaha membedakan diri dari mereka bukan?" ujar Minato.
Kushina mengerutkan kening, "Apa-apaan kau Namikaze?! Kenapa kau berkata seolah-olah kau tahu semuanya tentangku?" Ujar Kushina sedikit keras.
Misaki yang sedang mengerjakan hal lain, jadi sedikit terusik karena Kushina dan Minato berada di seberang kirinya. "Ada apa dengan mereka berdua?" gumam Misaki.
Sementara Usui hanya menatap Kushina dan Minato dari tempat duduknya.
"Tidak tau apa-apa?" lanjut Minato.
"Sok kenal…" Kushina mencibir.
"Uzumaki Kushina, lahir 10 Juli, bergolongan darah B. berasal dari keluarga kaya raya, Uzumaki Group, anak kedua dari Uzumaki Yusuke dan Uzumaki Asuka dan adik dari Uzumaki Taka. Semua keluargamu meninggal, ayah dan ibu, meninggal saat kau berumur 5 tahun, dan sang kakak… meninggal 3 tahun yang lalu…" Ujar Minato.
Kushina terkejut, begitu juga Misaki yang memperhatikan mereka dari tadi.
Kushina langsung menarik headset ditelinga Minato dengan kasar lalu berdiri disamping minato, tak disangka Kushina langsung menarik kerah Minato dan mendorongnya membentur tembok, Kushina menekan leher Minato dengan siku tangannya.
Semua mata tertegun melihat kejadian dikelas mereka, Red Habanero mencengkram dan membenturkan murid baru.
"Kushina! Apa yang kau lakukan?" Misaki kaget, dan mencoba menenangkan Kushina.
"Diamlah, Misaki…" Nada Kushina berubah. Dingin.
"Aku tidak tau darimana kau mendapat semua informasi itu…" ujar Kushina dengan nada yang dingin. Minato meringis kesakitan.
"Aku bisa saja mencurigaimu sebagai pembunuh kakakku, kau bisa mengerti resikonya bukan? Dan sebaikanya berhenti membicarakanku, apapun tentangku, mengerti Namikaze?" Kushina menatap tajam safir Minato dengan mata violetnya.
"Kau yang tidak mengerti keadaanya Uzumaki… kau yang belum tau kebenarannya, Uzumaki…" lanjut Minato.
Kushina sudah mengangkat tangannya, dan hendak memukul wajah Minato, tetapi pukulannya meleset saat Misaki menarik mundur tubuh Kushina.
"Misaki ! lepaskan aku!" Kushina meronta.
"Tenanglah Kushina, aku tau kau kaget darimana ia mendapatkan informasi sebanyak itu tentangmu, tapi tahan emosimu, aku tidak mau membawamu ke ruang BP karena masalah ini…" bisik Misaki.
"Aku juga kaget saat ia menyebut nama Taka-kun, aku tidak tau siapa dia, lebih baik tenangkan dirimu, ayo, aku antar ke toilet…" Misaki langsung menarik Kushina ke toilet.
Minato masih memegang lehernya yang sakit.
Gadis-gadis dikelas langsung mengerumuni Minato, dan langsung memberi perhatian padanya.
"Minato-kun! Kau pasti kesakitan…"
"Ayo kita antar ke UKS…"
"Dasar Habanero sialan, kenapa dia tiba-tiba dia mencekikmu Minato-kun?"
"Benar, apa sih masalah dia? Tiba-tiba mencekik Minato-kun…"
"Ayo kita lapor pada sensei…"
"Tidak…" Suara Minato serak.
"Tapi Minato-kun…"
"Aku bilang tidak. Aku sudah tidak apa-apa… tidak ada yang sakit…dan tidak akan ada yang bilang pada sensei…" kata Minato.
Gadis-gadis itu langsung terdiam, seakan paham dengan maksud Minato.
"Permisi…" Minato berlalu keluar kelas, Usui mengikutiya dari belakang. Mereka ke toilet.
"Jadi… ini rencana awalnya? Rencana awal meminta maaf pada Kushina…" ujar Usui santai.
"Tidak, maaf… aku kelepasan…" Minato membasuh mukanya. Lalu menatap cermin didepannya.
Matanya sejernih safir, rambutnya pirang jabrik dan ada jambang panjang di kedua sisi wajahnya. Tadi ia mentap mata Kushina, manik violet, persis seperti milik Taka.
"Dia memang sangat mirip dengan Taka…" kata Usui.
"Pertama kali bertemu dengannya, dia menatap tajam padaku, karena awal bertemu saja aku sudah sering menggoda Misaki yang notabene adalah sahabatnya. Aku sempat terkejut dengan marga-nya yang Uzumaki, kukira penulisan kanji-nya berbeda, ternyata sama. Dari sana aku menyelidikinya dan ternyata benar, dia adik Uzumaki Taka." Jelas Usui.
"Sial, seharusnya tidak seperti tadi…" Minato kembali membasuh wajahnya.
"Kau memang bodoh, terlalu gegabah…" Usui memandang pantulan Minato dari cermin.
"Jadi bagaimana selanjutnya? Kau memperkeruh suasana, sepertinya akan semakin rumit…" lanjut Usui.
"Aku sudah minta maaf padamu kan? Bisakah kau tidak menyalahkanku terus, aku kelepasan tadi…" kata Minato.
Usui tersenyum tipis. "Sudahlah… pasti ada jalan keluarnya…" Usui menepuk pundak Minato.
-Toilet Wanita-
Kushina menutupi wajahnya, ia duduk dilantai toilet yang dingin.
"Aku tau lukamu lamamu terbuka kembali Kushina…" Misaki menghibur Kushina.
"Bodoh, aku tau juga kembali teringat dengan Aniki…" suara Kushina serak.
Misaki tertawa pelan, "Aku akui, aku juga teringat, dan sakit ini kembali lagi... hal itu lebih menyakitkan daripada ayahku yang hilang entah kemana… tapi apa yang kau rasakan saat… kekasihmu…meninggalkanmu? Meninggakanmu ke tempat yang kau bahkan tidak bisa meraihnya, aku…" suara Misaki mulai tersendat.
Kushina mengangkat wajahnya, ia mendapati air mata Misaki mulai menggenang. Kushina segera memeluk Misaki.
"Bodoh, katanya mau menghiburku?" canda Kushina.
"Maaf… bisakah kau diam seperti ini untuk sementara waktu?" tanya Misaki.
"Sampai bel pulang pun oke…" balas Kushina sambil membelai rambut Misaki.
Luka ini tidak hanya dimiliki Kushina seorang, ada perempuan lain yang menyayangi Uzumaki Taka, yaitu Ayuzawa Misaki, mantan pacar Taka yang ia tinggalkan karena meninggal.
Saat Taka kelas 3 SMP, Kushina dan Misaki masih duduk di kelas 1 SMP. Taka mengakui jatuh cinta pada Misaki saat Misaki dan Kushina mengerjakan tugas dirumah Kushina. Jatuh cinta pada pandangan pertama, kata Taka dulu.
Kushina tersenyum tetapi tidak bisa menahan air matanya saat mengingat masa-masa Misaki dan Taka. Mereka berdua benar-benar terlihat bahagia, sampai kejadian itu terjadi. Kejadian kelam yang membuat Taka meninggalkan Misaki.
Taka terlibat pada pencegahan penculikan, saat itu mereka adalah keluarga terpandang dan kaya, jadi ancaman peculikan pasti besar, tetapi saat itu bukanlah Taka yang diculik tapi orang lain, Kushina tidak tau siapa yang Taka coba selamatkan, dari keterangan pihak polisi dan saksi mata, Taka masuk mobil penculik sesaat sebelum mobil itu berangkat, mobil masih dalam keadaan melaju kencang, Taka terlihat mendorong sandera itu keluar mobil,sandera menderita luka lecet yang cukup parah di tangan dan dahi, sementara Taka masih terlibat perkelahian dalam mobil, sopir mobil kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan, mobil itu masuk jurang, meledak lalu terbakar. Dan Taka terjebak dalam mobil itu, dan tidak selamat.
Kushina memejamkan mata mengingat itu semua, matanya panas, ia tidak mau bersedih terlalu lama lagi, jadi ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Sudah nangisnya?" Kushina mengusuk rambut Misaki.
Misaki mengangguk lalu membasuh wajahnya.
"Hah… aku sudah lebih baik, arigato Kushina…"
Kushina hanya nyengir kuda.
"Ayo kembali…" ajak Kushina.
Situasi seperti ini sudah Kushina duga sebelumnya, teman-teman sekelasnya meliriknya sambil berbisik-bisik, Kushina sendiri sudah mengerti, mereka pasti membicarakannya yang mencekik Minato.
"Bah… apa peduliku…" kata Kushina dalam hati.
Kushina menoleh, mencari Misaki, ternyata ia sedang mengobrol dengan Shizuko, teman Misaki yang lain. Kushina lalu mendengarkan lagu lagi, lagu yang cukup membuatnya melupakan masalah tadi.
"Kushina… bantu aku bawa tugas ini ya…" pinta Misaki cukup keras dari depan kelas.
Tanpa bicara, Kushina langsung beranjak dari kursinya. Dan membantu Misaki.
"Menyendiri lagi Kushina?" ujar Misaki.
Kushina membuat langkahnya sejajar dengan Misaki, "Aku hanya menikmati hidup dengan caraku sendiri…"
"Haha, terserah apa katamu, tapi aku tetap ada disisimu, oke? Habanero?" kata Misaki.
"Sialan kau, Oni Kaichou…" balas Kushina, lalu mereka tertawa bersama, Kushina tidak marah kalau Misaki menyebutnya 'Habanero' tetapi kalau orang lain menyebutnya seperti itu, mungkin minimal hidung orang itu patah.
Bel sekolah berbunyi pada akhir pelajaran. Siswa-siswi berhamburan keluar kelas, Kushina dan Misaki berjalan santai menuju ruang OSIS, "Tunggu sebentar ya, Kushina…" Kushina hanya mengangkat jempolnya.
Kushina duduk didepan ruang OSIS yang kebetulan adalah taman sekolah, dan lagi-lagi Kushina menggunakan headset-nya dan mendengarkan lagu yang sama, Mr. Gendai Speaker. Memejamkan mata dan sedikit menengadah, merasakan angin sepoi sore hari.
Kushina tidak mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Laki-laki dengan rambut pirang dan bermata safir indah, Minato Namikaze.
Kushina tidak menoleh karena ia masih belum menyadari lelaki itu disebelahnya. Lelaki itu memandang wajah dan rambur Kushina yang terbelai lembut oleh angin, tanpa ia sadar tangan kanannya bergerak akan menyentuh rambut Kushina, tetapi seketika tangan itu membeku saat Si Rambut Merah menoleh dan menatapnya kaget…
.
.
.
TBC…
.
.
.
A/N :
Maafkan saya! Aduh, fict ini udah kutulis tapi belum sempat aku edit, lagian butuh beberapa waktu untuk edit, soalya Author udah PKL nih, rada sibuk deh #gananya #PLOK!
btw, Thanks buat Ryuuko Kiiro untuk reviewnya! um... dapat apa ya? aku juga bingung nih...
oke, enjoy ya minna, maaf untuk fict lain masih….umm…. WB kayaknya… :v
~Hanami
