"— Ke egoisanku, juga kepatuhanku terhadap peraturan membuatku tak menyadari tentang rasa ini pada engkau. Namun disaat nasi telah berubah menjadi bubur, aku baru sadar akan perasaan khususku ini padamu. Apakah ada kesempatan bagiku untuk mengubah kembali bubur ke bentuknya semula?"
REALIZE
Written by Me
Hunter x Hunter is belongs to Yoshihiro Togashi
But the Original Character is belongs to author.
WARNING! : Tidak disarankan bagi haters pairing ini untuk membaca ff ini
Typo yang tersembunyi
NSFW content maybe.
Jika ada penggunaan bahasa yang kurang jelaskan silahkan hubungi author.
Jangan lupa untuk review. Review anda sangat berharga bagi kelangsungan ff ini.
Fix gue bingung mau nulis warning apa lagi.
Selamat membaca ^_^
CHAPTER II : Ajakan
Kurapika melebarkan iris matanya tak percaya, bagaimana bisa Navarro bertanya hal seperti itu padanya? Apa sebenarnya Maksud Navarro bertanya seperti itu padanya? Ia adalah seorang bodyguard dan Navarro tahu itu. Apa ia belum tahu bawahan tak boleh mempunyai perasaan khusus pada majikannya.
"…Bawahan dilarang untuk mempunyai perasaan khusus pada majikan jadi saya tak mempunyai perasaan apa-apa pada bos Neon, bahkan…sampai menyukai nya." Jawab Kurapika, ia menarik nafas dan menghembuskannya kemudian kembali berbicara "Karena bawahan dan majikan sudah ditakdirkan untuk tak bersama meskipun sang majikan mempunyai perasaan khusus pada bawahannya, begitupun sebaliknya."
Navarro mengusap dagunya. Jawaban yang sangat detail dan sempurna sampai ia tak bisa membuat acara perdebatan dengan bodyguard barunya itu.
"..Begitu" Ujar Navarro sembari mengambil koper miliknya dari Kurapika "Kau boleh pergi, beritahu pada ayah biar aku yang membereskan barang-barang bawaanku sendiri. Aku tak butuh bantuan para dayang." Perintahnya. Ketika ia menarik gagang kopernya ia baru ingat ada satu hal lagi yang belum ia sampaikan pada Kurapika.
"Satu lagi, bilang pada ayah kalau teman-temanku akan datang kemari untuk menemuiku esok hari. Mereka akan menginap disini selama seminggu."
Neon menelan ludahnya dan meremas rok dress nya. Telapak tangannya terasa basah karena gugup. Entah kenapa suasana menjadi mencekam melebihi film horror yang sering ia lihat di TV pada tengah malam. Tiba-tiba saja orangtua nya ingin membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat penting karena wajah mereka berdua kini benar-benar sangat serius sampai Neon takut untuk menatap langsung kedua orangtua nya itu.
"Ano…apa yang ingin ayah dan ibu bicarakan?" Tanya Neon takut-takut. Ingin rasanya ia mempercepat waktu agar ia bisa segera menonton film drama percintaan kesukaannya dan menangis sampai puas hingga persediaan tissue dirumahnya habis.
"Neon, sampai kapan kau akan tetap sendiri?" Tanya ayahnya yang langsung To The Point pada inti pembicaraan membuat gadis surai biru itu terkesiap sekaligus sedikit terkejut. Tanpa ia bertanya pada ayahnya ia tahu apa yang di maksud pertanyaan ayahnya barusan. Ia ingin dirinya cepat menikah.
"Ng..anu..itu.." Neon meremas-remas rok dress selututnya itu. Ia bingung harus menjawab apa. Lidahnya terasa kelu, tiba-tiba ditanya seperti itu siapa yang tidak gugup. Sedangkan ia masih berusaha untuk mendapatkan hati seseorang yang sangat ia cintai tapi ayahnya sudah bertanya seperti itu. Neon pun memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan ayahnya.
"Aku..aku masih berusaha.."
"Berusaha?" Light mengangkat sebelah alisnya, bingung dengan jawaban dari putri semata wayangnya itu. "Apa maksudmu dengan masih berusaha Neon?"
"I..itu.."
"Kurasa Neon menyukai seorang pria, dan dia sedang berusaha untuk mendapatkan hati pria tersebut." Sela ibu nya Neon diikuti anggukan kepala semangat dari Neon.
"Iya! Itu dia maksudku. Ibu terima kasih." Ucap Neon. Ia menghela nafasnya lega.
"Kalau boleh tahu orang yang seperti apa lelaki itu Neon?" Tanya ibunya. Neon baru akan membuka mulutnya namun ayahnya menyela pembicaraan duluan.
"Hal yang lebih penting dari itu" Sela Light "Siapa nama lelaki pilihanmu itu Neon?"
"A..ah? Nama?" Neon mulai berfikir bagaimana reaksi ayahnya ketika ia memberitahu nama lelaki tersebut. Mungkin saja jika ia memberi tahu ayahnya, bisa saja ayahnya menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh pria tersebut dan menunangkan dirinya dengan anak dari teman ayahnya yang juga punya perusahaan besar. Namun ia tak bisa mengelak, ia harus memberi tahu ayahnya. Mungkin saja ayahnya akan merestui mereka berdua. Iya, mungkin saja.
"N-namanya..Ku—"
Dan disaat yang bersamaan Ibuki datang membawa segelas teh untuk Navarro yang sudah meninggalkan ruang tamu sejam yang lalu.
"Woah rumahmu besar sekali Navarro!"
Itulah kalimat yang terlontar dari mulut teman-teman Navarro ketika mereka memasuki Mansion Nostrade. Hari ini teman-teman satu kampus Navarro dulu berkunjung ke rumahnya setelah sekian lama. Mereka tak pernah saling bertemu lagi setelah lulus dari salah satu Universitas ternama di Osaka karena sibuk dengan perusahaan yang sedang mereka pimpin sekarang. Teman Navarro yang berkunjung ke rumahnya berjumlah 2 orang dan semuanya Laki-laki. Masing-masing dari mereka berbeda kewarganegaraan. Melihat teman-teman Navarro yang semuanya tampan dan keren itu kembali membuat para maid bertarung untuk menentukan siapa yang pantas menyajikan teh untuk para tamu tuannya yang seperti pangeran itu.
"Sudah lama sekali Navarro, terakhir kali aku bemain kerumah mu itu masih berupa apartemen dan sekarang berubah menjadi istana. Apa kau menyiramkan minyak tanah ke seluruh ruangan apartemen mu hingga menjadi besar seperti ini?". Ejek Park Soo Ha, teman Navarro yang berkewarganegaraan Korea sambil tertawa lepas. Namun lawakan yang ia lontarkan malah mendapat tatapan datar dari orang yang ia ejek. Ia kembali bungkam "Maaf." Ucapnya.
Hiroki Seiji, teman Navarro yang berasal dari Jepang itu menimpali lawakan teman Korea nya itu dengan matanya yang masih terfokus pada layar ponselnya. "Sudah tahu Navarro orangnya sedingin batu es tapi kau masih mengejeknya". Orang yang sedang di bicarakan hanya menghela nafasnya berat.
"Kalian bicara apa sih" ujar Navarro datar. Tak lama kemudian Neon yang habis berbelanja beserta Kurapika yang menemaninya masuk ke ruang tamu dengan keadaan baju mereka yang basah kuyup. Pandangan Navarro dan Park Soo Ha tertuju kearah mereka, aneh. Pasalnya di luar tidak hujan sama sekali dan matahari bersinar sangat terik, bagaimana bisa mereka menjadi basah kuyup seperti itu.
"Kalian, kenapa kalian bisa basah kuyup seperti itu?" tanya Navarro heran, sebelah alisnya terangkat. Tubuh Neon menegak ketika kakak tirinya itu bertanya. Ia melirik kearah Kurapika yang berdiri di sampingnya, namun pandangan lelaki itu lurus kearah kakaknya.
"Itu.." Neon masih memikirkan jawab apa yang akan ia berikan pada Navarro yang sudah menyilangkan tangannya menunggu untuk jawaban dari Neon. Saat Neon hendak kembali berbicara, Park Soo Ha menyela.
"Siapa gadis itu Navarro? Apa dia kekasihmu"
"Kekasihnya Navarro?" Teman Navarro dari Jepang itu langsung mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya itu kearah gadis yang di maksud. Setelah atensi nya berhasil menangkap figur seorang gadis yang dimaksud, ia langsung terdiam. Tatapannya lurus kearah mata Azure gadis itu begitupun sebaliknya.
Navarro berdehem, membuat lamunan mereka buyar dan membuat mereka salah tingkah. "Maaf mengganggu dunia 'Roman' kalian berdua" ucap Navarro dengan penekanan di kalimat "Roman" untuk menyinggung temannya juga adik tirinya tersebut lalu kembali melanjutkan kalimatnya "Perkenalkan. Gadis itu adalah Neon, adik tiriku dan yang di sebelahnya adalah Kurapika, bodyguard pribadinya." Ujar Navarro sambil menunjuk kedua sejoli yang basah kuyup itu. Setelah itu ia kembali menyilangkan tangannya "Neon, Kurapika kalian tak ingin masuk angin bukan? Kalau begitu cepat ganti baju" Perintahnya. Dengan tergesa-gesa Kurapika dan Neon pun pergi untuk mengganti baju mereka yang basah kuyup.
—FLASHBACK—
Neon merentangkan tangannya dan menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya dengan hawa sejuk pepohonan rindang yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumahnya. "Hyaaa, sudah lama sekali aku tak menikmati suasana segar seperti inii." Ujar Neon ceria lalu ia melihat kearah lelaki yang berjalan dibelakangnya yang tengah membawakan barang belanjaan miliknya. Nampaknya lelaki itu sangat kesulitan membawa barang-barang belanjaan Bosnya yang sangat banyak dan berat itu. "Beruntung sekali mobil pribadi Nostrade mogok tiba-tiba"
"Memang menyenangkan tapi ini cukup melelahkan, mengapa anda masih saja berbelanja barang sangat banyak?" keluh Kurapika. Neon tertawa ketika mendengar keluhan bodyguardnya itu.
"Heee kurapika yang malang, biar ku bantu sini." Neon memutarkan badannya dan berlari kecil ke arah Kurapika. Tinggal beberapa meter lagi ia sampai pada bodyguardnya itu, tiba-tiba kakinya tergelincir dan ia tejatuh ke dalam sungai di samping jalan setapak. Beruntung Kurapika sigap menangkap tubuh Neon sebelum bosnya itu jatuh ke dalam sungai. Namun dirinya juga ikut terjatuh karena tertarik tubuh Neon. Lelaki itu mendekap Neon dengan erat sampai akhirnya mereka berdua terjatuh ke dalam sungai dan basah kuyup.
Kurapika meringis kesakitan pada kepalanya lalu ia melihat gadis yang tersungkur di sebelahnya. Gadis itu masih tak sadarkan diri. Panik pun melanda dirinya.
"Bos, anda tak apa?" tanya Kurapika khawatir. Ia pun memastikan bahwa tak ada luka di kepala bosnya itu. Ia menyingkirkan poni biru Neon dan memeriksa bahwa tak ada luka di kening Neon. Tanpa ia sadari kekhawatirannya itu membuat jarak wajahnya dengan wajah Neon semakin dekat. Setelah Ia menyadarinya,wajahnya memerah. Jantung lelaki itu berdebar-debar bagaikan drum yang tengah dipukul dengan tempo yang sangat cepat.
'Cantik sekali, bagaikan bidadari yang tengah tertidur di atas air..' Batinnya. Entah setan jenis apa yang merasuki dirinya, ia tak menjauhkan jarak diantara wajah mereka sedikitpun. Ia malah makin mendekatkan wajahnya dengan wajah Neon. Sampai sedikit lagi bibir mereka hampir bersentuhan, Neon membuka matanya. Iris Azure gadis itu berbinar-binar ketika melihat wajah Kurapika yang sudah begitu sangat dekat dengan wajahnya.
"Ah, anda sudah sadar?" tanya Kurapika terbata-bata. Neon tak menjawabnya, ia hanya menatap lurus kearah Kurapika, membuat Kurapika semakin gelagapan.
"..Maaf atas kelancangan saya." Ucap Kurapika menjauhkan wajahnya dari wajah Neon. Tetapi sepertinya Neon tak menyukai jika Kurapika menjauhkan jarak wajahnya dengan wajah dirinya sehingga ia pun menarik kerah baju kemeja lelaki itu dan kembali mendekatkan wajah lelaki itu dengannya.
"Harusnya lelaki itu tak pernah ragu untuk menghunuskan pedangnya, bodoh!" Bentak Neon. Raut wajah Kurapika kini menunjukkan raut wajah kebingungan. Ia tak mengerti dengan apa yang dikatakan Neon barusan.
"Saya tidak mengerti dengan apa yang—" Lelaki itu terhenyak, manik gelapnya itu berbinar-binar. Ia benar-benar tak percaya dengan perlakuan bosnya pada dirinya sekarang ini. Ya, mereka berciuman—benar-benar berciuman, bibir mereka benar-benar saling bersentuhan dan Kurapika masih tak percaya dengan kejadian sekarang ini. Namun perlahan ia mulai menerima perlakuan yang sangat terlarang baginya itu dari Neon.
—END OF FLASHBACK—
Setelah berganti pakaian Neon memutuskan untuk pergi ke halaman belakang rumahnya sejenak untuk menghilangkan beban fikiranya. Bagaimana bisa ia mencium Kurapika seperti itu? terlebih lagi ia mencium orang yang merupakan bawahannya. Ia tahu, seorang wanita mencium seorang lelaki itu sah sah saja. Tapi orang yang ia cium itu adalah KURAPIKA, orang bawahannya, orang kepercayaan ayahnya!
Juga orang yang berhasil membuat dirinya jatuh cinta pada Lelaki itu.
Apa yang akan terjadi jika ayahnya megetahui ini? Ia pasti akan memecat Kurapika.
Neon mengambil sebuah batu krikil dan menatapnya. Kejadian ciuman itu kembali terbesit di fikirannya membuatnya gemas dan melempar batu krikil itu ke sembarang tempat tanpa melihat adanya orang yang akan menjadi korban lemparan batunya.
"Aduh..sakiitt"
Gadis itu tersentak ketika mendengar suara ringisan seseorang. Lelaki Asia itu adalah korban lemparan Neon karena terlihat sekarang Lelaki berwajah oriental asia itu sedang mengusap-usap kepalanya yang sakit karena terkena lemparan batu. Neon menjadi sangat panik ketika lelaki berwajah oriental asia itu marah-marah dengan bahasa yang sama sekali ia tak mengerti.
"Hei, siapa yang melempar batu kearahku!?" Seru lelaki itu dengan bahasa Negaranya. Matanya melihat ke arah sekeliling sampai maniknya mendapati Neon yang tengah gemetaran karena takut melihat pria itu marah-marah dengan bahasa asing. Atensi Neon mendapati lelaki Asia itu berjalan kearah dirinya dengan batu kerikil yang tadi ia lempar di genggamannya.
"Apa kau yang melempar batu ini?" tanya pria Asia itu seraya menunjukkan batu krikil tersebut. Kali ini Neon bisa memahami perkataan lelaki Asia itu karena kini ia berbicara dengan bahasa negaranya lagi.
"I—iya" jawab Neon. Ia menutup matanya. Ia tak berani menatap lelaki itu. "Aku sedang kesal jadi kulempar saja batu itu ke sembarang tempat." Lanjutnya, suaranya terdengar sedikit bergetar sekarang "Tolong jangan lakukan harakiri padaku."
Mendengar perkataan Neon, sebelah alis lelaki itu naik. Kemudian ia terkekeh "Tenang saja, aku tak akan melakukan hal seperti itu padamu." Ujarnya. Perlahan Neon membuka kedua matanya dan menatap lelaki asia itu dengan takut. Lelaki itu tersenyum lembut kearah gadis dihadapannya.
"Tak usah takut seperti itu, aku tak akan marah padamu." Ujarnya meyakinkan. Neon menghela nafasnya lega. "Terima kasih." Ucap Neon, ia tersenyum hangat ke arah lelaki itu. Sekilas lelaki Asia itu terlihat melamun ketika gadis itu tersenyum kearahnya namun ia segera tersadar dari lamunannya.
"Kau teman kakak bukan? Ngomong-ngomong aku belum tahu namamu" Kata Neon membuka pembicaraan "Kalau boleh tahu siapa namamu?"
"Namaku Hiroki Seiji. Tapi kau bisa memanggilku Hiroki." Ujar lelaki itu memperkenalkan dirinya. Lalu ia baru ingat akan suatu hal. "Oh iya, mau berkencan denganku? Kau sedang kesal bukan? Kurasa Navarro juga tak akan keberatan kalau aku mengajak adiknya berkencan nanti malam."
Senyuman yang tadi terlukis di bibir Neon kini mulai mengurang kadarnya. Raut wajah Neon berubah menjadi terkejut. "E—eh? Kencan?" Secara samar, semburat merah terlihat di pipinya. Lelaki itu tertawa lepas. Ia tahu ia pasti terlalu To The Point akan ajakannya sehingga ia membuat gadis dihadapannya itu terkejut.
"Oh maaf, aku orangnya memang To The Point sih." Katanya. Setelah tertawa ia menghela nafasnya "Tenang saja, ini bukan ajakan kencan seperti sepasang kekasih. Melainkan ini kencan hanya untuk sekedar mengenal satu sama lain" jelas Hiroki. Neon menutupi wajahnya yang memerah dengan tangan kanannya karena malu.
'Astaga, kau ge-er sekali Neon.' Batinnya. Terlihat lelaki dihadapannya itu kebingungan dengan Neon yang salah tingkah.
"kau baik-baik saja Neon? Apa kau tak menerima ajakanku untuk berkencan nanti malam?"
Neon menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya, kemudian ia kembali menatap lelaki asia itu dengan tatapan biasa-biasa saja seolah kejadian memalukan baginya barusan benar-benar dianggap tidak ada.
"Baiklah. Dengan senang hati aku menerima ajakanmu, kak Hiroki"
—EPILOG—
Sambil menopang dagunya, manik biru Navarro yang tertutupi oleh kacamata itu terus menatap lelaki pirang dihadapannya yang tengah serius membaca buku tebalnya itu. Saking seriusnya lelaki pirang itu tak menyadari bahwa sedari tadi dirinya terus ditatap oleh Navarro. Selang beberapa menit, akhirnya lelaki itu menyadari bahwa ia sedang di tatap oleh pemuda dihadapannya itu. Ia pun membalas tatapan Navarro, sebelah alis nya terangkat.
"Tuan Navarro? Sudah berapa lama anda menatap saya?" Tanya Kurapika.
"Sudah cukup lama" Jawab pemuda itu. Kurapika terdiam sejenak sampai akhirnya ia memutuskan untuk tak bertanya lagi pada atasan barunya itu. Ia pun memilih untuk melanjutkan aktivitas membacanya yang sempat terhenti itu daripada kembali bertanya pada Navarro. Jujur saja, mendengar jawaban dari Navarro barusan sudah membuatnya bergidik ngeri. Suasana hening pun kembali menghampiri mereka.
"Katakan…" Suara Navarro memecahkan keheningan diantara mereka berdua "Bagaimana rasanya berciuman itu?"
Ditanya seperti itu, Kurapika kembali mengalihkan pandangannya dari buku tebalnya itu pada Navarro. Wajahnya memerah dan insiden tadi siang kembali menghantui fikirannya. Sebenarnya ia tak ingin menjawab pertanyaan retoris atasannya itu, namun rasanya tak sopan jika ia tak menjawabnya.
Kurapika pun membuka mulutnya "Rasanya..seperti menempelkan bibir pada marshmallow." Jawabnya "Benar-benar lembut."
"Oh. Berarti bibir Neon selembut Marshmallow, dong?"
Terlihat wajah Kurapika kini memerah seluruhnya dan ia menjadi salah tingkah ketika Navarro berkata demikian. Padahal Navarro berucap asal barusan. Melihat bawahannya yang salah tingkah itu membuat Navarro mempunyai ide jahil untuk mengerjai bawahannya tersebut. Kakak tiri Neon itu pun menyeringai kearah bawahannya tersebut.
"Kalau memang terasa lembut seperti marshmallow, aku jadi ingin mencobanya denganmu."
—To Be Continued—
A/N :
Anu…
Aku suka bagian epilognya doang masa. :""U
Udah
.
.
.
.
.
Haruskah kubuat banyak Hint NavaKura? /hus
