-Endless Tears-


Genre: Drama & Hurt/Comfort

Rate: T

Disclaimer: NARUTO - Masashi Kishimoto.

WARNING : OOC, TYPO BERTEBARAN, GAJE NGGAK KARUAN DAN PENULISAN HANCUR, DLL,DSB.

IF YOU DON'T LIKE MY STORY, DON'T READ!

(Note : tekan tombol back jika tidak suka)


.

..

...

...

...

Safir itu menatap bosan refleksi dirinya yang memantul lewat kaca jendela kelasanya. Jam pelajaran telah usai sekitar setengah jam yang lalu, namun itu tidak membuatnya ingin lekas pulang ke rumahnya, berpikir tentang apa yang akan dilakukannya saat telah sampai di rumahnya yang sepi. Rumah yang begitu luas itu terasa sempit saat dirinya berada di dalamnya, seakan tembok-tembok rumahnya menghimpitnya hingga tidak bisa bernapas dengan semestinya dan merasakan sesak yang menyakitkan. Dia tidak menyukai perasaan seperti itu, sangat tidak menyukainya. Karena itulah Naruto lebih memilih berada didalam kelas lebih lama dari biasanya dan menyelesaikan beberapa tugas rumahnya di sekolah daripada memilih untuk pulang dan kembali tenggelam dalam perasaan yang membuatnya sesak.

"Aku mau ke toilet."

"Mau aku temani?"

"Kau pikir aku anak kecil, hah?!"

"Lebih dari itu, aku hanya tidak mau kau pingsan di dalam toilet dan merepotkan kami."

"Sialan kau Juugo! Tutup mulutmu dan berhenti menakutiku!" Suigetsu mengakhiri percakapan yang menurutnya tak penting itu dan lantas beranjak berdiri dari tempat duduknya agar bisa cepat pergi ke toilet.

Juugo tertawa terbahak setelah puas menggoda Suigetsu yang wajahnya nampak pucat. Tentu saja pucat, Suigetsu memang pintar jika itu menyangkut urusan merayu perempuan, bahkan termasuk petarung yang handal saat berkelahi, namun semua itu tidaklah mampu membuatnya berani menghadapi sesuatu yang berbau mistis seperti hantu dan cerita horor. Pucatnya wajah suigetsu juga punya alasan, karena beberapa hari ini di sekolah mereka beredar rumor tentang hantu penghuni toilet yang sering muncul mengganggu murid di jam pulang sekolah.

Naruto sendiri tak mengindahkan tawa Juugo yang duduk di sampingnya. Lebih memilih fokus mengerjakan tugas sekolahnya yang banyak hingga safirnya beralih menatap Gaara yang sedaritadi hanya diam.

Gaara memang lebih pendiam bahkan sangat jarang berbicara jika itu tidaklah penting, hingga membuat orang lain yang belum mengenalnya menganggap dirinya dingin dan angkuh. Berbanding terbalik dengan Naruto yang lebih bersahabat dan pandai membawa diri hingga membuat orang disekitarnya ingin menjadi temannya, tapi sifat bersahabat itu tidak berlaku pada satu orang gadis di sekolahnya, apapun yang bersangkutan dan berkaitan dengan gadis itu selalu bisa memancing sisi gelap dari diri Naruto muncul ke permukaan, dan saat itu terjadi, tidak ada lagi Naruto yang bersahabat atau ramah, yang ada hanya Naruto yang kejam dan tak berperasaan. Yang sama dari keduanya hanyalah sifat keras kepala.

...

Suigetsu keluar dari toilet dengan muka masam. Batinnya tak henti menyumpah serapahi Juugo yang menakut-nakutinya sampai membuatnya merasa ngeri saat di dalam toilet dan membuatnya tak tenang.

Sekolah belum sepenuhnya sepi meski hari sudah kelewat sore. Masih banyak murid yang memilih untuk sekedar menghabiskan waktu di Sekolah ataupun untuk mengikuti kegiatan Club masing-masing. Kaki panjang Suigetsu membawa langkahnya menelusuri koridor Sekolah yang memisahkan gedung belajar dengan kolam renang iut dor yang berada di sayap kanan area Sekolah, sengaja memilih Toilet di lantai satu karena saat keadaan mulai tidak mengenakkan, ia bisa segera lari dan melompat melewati jendela. Mengedarkan pandangannya menatap sekitar, saat itulah kelereng ungunya menangkap sosok Hinata yang tengah berjongkok disamping pagar besi pembatas kolam renang, tampak sedang melakukan sesuatu dengan tanah dibawahnya.

Tak perlu waktu lama bagi Suigetsu untuk memperoses apa yang dilihatnya hingga sebuah seringai muncul di sudut bibirnya. Langkah kakinya tidak lagi membawa Suigetsu ke tujuan awal, namun kini membawanya menuju tepat kearah sang gadis indigo yang terlihat sibuk bermain tanah.

"Apa yang kau lakukan?" Suigetsu berujar seraya ikut berjongkok disamping Hinata yang kini terlihat kaget dan sontak terjatuh.

"Hei, Hyuuga. Aku bukan hantu, kenapa kau ketakutan seperti itu?!"

Hinata tidak menjawab pertanyaan tersebut dan lebih memilih untuk membetulkan posisi duduknya agak jauh dari jangkauan pemuda bersurai putih kebiruan di sampingnya. Suigetsu adalah teman Naruto, dan itu sudah cukup menjadi alasan bagi Hinata untuk menjaga jarak dengan teman-teman Naruto agar dirinya tidak harus terluka.

Mendengus, Suigetsu sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Hinata yang membisu. "Kau tahu? Naruto masih ada di kelas. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan jika sampai dia tahu kalau kau masih ada disini. Sekolah sudah mulai sepi, dan aku tentu tidak akan menolongmu kalau sampai itu terjadi." Ucap Suigetsu amat pelan.

"Tidak perlu repot-repot karena aku akan segera pulang." Balas Hinata seraya mengeratkan genggamannya pada kantong kecil yang dibawanya.

Merasa dirinya tidak di perdulikan, Suigetsu memilih untuk pergi meninggalkan Hinata, bahkan ucapannya seperti tak berarti apapun bagi gadis indigo tersebut. Sembari melangkah pergi, di pamdanginya tubuh Hinata dari jauh lalu segera mempercepat langkahnya kembali menuju kelas yang tadi sempat tertunda.

...

...

...

..

.


**Chiharu**


.

..

...

...

...

Suigetsu muncul di ambang pintu kelas saat Naruto dan Gaara sudah menyelesaikan tugas mereka. Begitupun Juugo yang hampir menyelesaikan tugasnya dengan cara mencontek jawaban dari soal yang tidak dimengertinya. Tak mengindahkan beberapa murid lain yang terlihat masih betah berlama-lama berada di dalam kelas dengan kesibukannya masing-masing, Suigetsu melangkah santai menuju tempat ketiga temannya berada.

"Oi, Naruto. Aku melihat mainanmu di dekat pagar pembatas kolam renang samping Sekolah."

"Maksudmu si Hyuuga?" Tanya Juugo ingin memastikan.

"Memang mainan Naruto ada lagi selain dia disini?" Suigetsu menyahut malas.

Tak mengindahakan dua temannya yang sibuk mengobrol. Naruto mengambil tas miliknya dan berjalan perlahan menuju pintu kelas dengan wajah dinginnya.

"Kau mau kemana, Naruto?" Tanya Gaara yang sedaritadi hanya diam.

"Apa penting bagimu untuk tahu?" Balas Naruto dingin, seraya tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan Gaara dan dua temannya.

"Cobalah untuk menutup mulut besarmu itu sekali saja, Suigetsu." Ucap dingin Gaara sembari mengikuti Naruto di belakang.

"Apa-apan kau!"

"Sudahlah! Gaara benar, mulut besarmu itu bisa saja membuat gadis itu terluka lagi."

"Sepertinya kau mulai kasihan pada Hyuuga itu."

"Aku memang brengsek. Tapi untuk hal seperti ini, aku tau batasanku."

Suigetsu hanya mendecih dan membuang muka. "Seperti aku yang paling jahat disini." Ucapnya mencemooh dan segera meninggalkan kelas diikuti Juugo disampingnya.

...

Naruto kini sudah melangkahkan kakinya menuju pintu belakang gedung Sekolah, menelusuri jalan setapak yang akan membawanya ke kolam. Memang agak sedikit lama hanya untuk sampai di lantai dasar gedung Sekolah karena dalam perjalanan tadi ia dan teman-temannya bertemu dengan Asuma-sensei yang meminta mereka membawa beberapa barang ke Ruang Guru.

"Dia mungkin sudah pulang, Naruto." Suara Juugo memecah keheningan di antara mereka. Mencoba mengalihkan pikiran licik Naruto yang pasti sudah teracuni ide gila untuk mengerjai mainannya.

Tidak ada sahutan dari Naruto, pemuda blonde itu hanya diam dan menatap sekitar taman samping Sekolah. Benar saja, disana ada sosok Hinata yang tengah berjongkok di samping pagar pembatas kolam.

"Kalian pulang saja." Ujar Naruto, senyum miring tercetak di bibir tipisnya. Safirnya tak berkedip menatap sosok mungil Hinata, seakan takut jika berkedip sekali saja sosok itu akan lenyap dari pandangannya.

"Apalagi yang mau kau lakukan sekarang?"

Naruto hanya tergelak mendengar ucapan dari sepupunya yang menurutnya sudah mulai cerewet. "Kau ingin tahu?" Balas Naruto asal.

Menatap tajam Naruto. "Jangan berbuat amoral disini." Peringat Gaara dengan ekpresi dinginnya.

"Apa cuma perasaanku atau kau mulai cerewet jika menyangkut gadis pembawa sial itu, Gaara?" Balas Naruto datar.

"Aku hanya ingin memastikan kalau otakmu masih waras." Ucap dingin Gaara.

"Kau terlalu berlebihan padaku, Sepupu. Dengan hanya melihatnya sudah membuatku jijik. Jadi singkirkan pemikiran bodoh itu dari otak pintarmu."

"Terserah, aku tidak perduli." Gaara memilih pergi dari tempat itu, meninggalkan Naruto dan yang lain dalam diam.

"Heh, anak itu berubah jadi aneh akhir-akhir ini." Celetuk Suigetsu seraya menggelengkan kepalanya.

"Kalian pergilah."

"Apa maksudmu?" Tanya Suigetsu menatap Naruto dengan kerutan di dahinya.

"Kali ini aku ingin berdua dengannya." Jawab Naruto pelan.

Suigetsu mengangkat bahu acuh dan langsung pergi menyusul Gaara yang mungkin sedang menunggu mereka di parkiran.

"Naruto, jangan berbuat sesuatu diluar batas." Kali ini peringatan meluncur dari mulut Juugo. Tak memperdulikan Suigetsu yang sudah tidak terlihat batang hidungnya.

"Kau juga pergi saja, Juugo." Ucap Naruto sembari melangkahkan kakinya menuju tempat Hinata berada.

"Aku ikut." Putus Juugo yang tidak ingin pergi meninggalkan Naruto hanya berdua dengan gadis malang yang masih belum menyadari kalau dirinya dalam bahaya.

Naruto hanya diam tak menyahut, baginya tidak penting Juugo ada atau tidak karena itu tidak akan mengubah kegilaan yang kini menari-nari dalam otaknya saat melihat tubuh ringkih itu masih berjongkok mengorek tanah dibawahnya.

"Yo."

—Deg—

Amethyst Hinata membulat sempurna, suara itu, aura itu, semua sangat Hinata kenali bahkan tanpa perlu menoleh kebelakang. Bukan hanya seorang, tapi dua orang yang menerbitkan ketakutan dalam diri Hinata muncul hanya dengan melihat bayangan keduanya. Hinata mengutuk keteledorannya akan peringatan Suigetsu. Harusnya ia langsung pulang saja tadi, dengan begitu ia tidak perlu melihat Naruto yang tak ubahnya seperti malaikat maut yang siap mengambil nyawanya kapan saja dia mau.

Hinata menunduk, bahunya bergetar tanpa bisa ia kendalikan. Rasa takutnya semakin menjadi saat ia merasakan Naruto bergeser semakin dekat dengannya.

"Apa yang kau pegang?"

Tidak ada jawaban atas pertanyaan Naruto padanya. Hinata tidak bisa melakukan apapun, tubuhnya seperti bukan miliknya saat perintah otaknya yang meneriakkan kata lari tak mampu direspon oleh tubuhnya. Mulutnya bahkan terasa kelu, tenggorokannya serasa tersumbat gumpalan benang kusut yang membuatnya tak bisa bersuara.

"Bibit bunga matahari, eh?"

Diam, Hinata hanya diam tak menjawab bahkan saat Naruto kini sudah berdiri pongah dihadapannya yang tetap menunduk.

"Bibit-bibit ini tidak akan pernah tumbuh dari tangan pembawa sial sepertimu!"

Amethyst Hinata melebar sempurna dengan apa yang dilihatnya. Naruto dengan membabi buta menendang gundukan tanah yang sudah ditanaminya bibit bunga matahari tanpa ada sedikitpun rasa belas kasih. Jantungnya serasa di remas Naruto sampai remuk hingga alarm otaknya bergemuruh menarik kesadarannya kembali.

"H—hentikan! Apa yang kau lakukan?!"

Naruto berhenti dari kegiatannya, matanya begitu nyalang memandang Hinata. "Apa yang kau lihat itulah yang kulakukan." Geram Naruto dengan raut sadis yang tercetak di wajahnya.

"Bibit-bibit itu tidak bersalah! Kau tidak perlu melakukan ini semua!"

"Tidak akan ada apapun yang bisa hidup dari tangan pembunuh seperti kalia—"

"Cukup! Cukup! Cukup! Kami bukan pembunuh!" Hinata histeris seraya menutup kedua telinganya enggan mendengar tuduhan Naruto padanya dan saudarinya. "Nee-chan tidak meminta untuk di selamatkan! Ibumu meninggal karena kecelakaan!"

—Plak—

"TUTUP MULUTMU ITU SIALAN!"

"Apa yang kau lakukan, Naruto!" Juugo dengan sigap memegangi kedua tangan Naruto, ia merasa kasihan melihat pemandangan yang tersuguh di depan matanya. Naruto dengan entengnya menampar pipi kiri Hinata sampai sudut bibir gadis itu mengeluarkan darah.

"KATAKAN ITU KECELAKAAN KALAU KAKAKMU YANG DIKUBUR DALAM PETI MATI!"

Hinata meringis, bukan hanya karena sudut bibirnya yang berdenyut sakit, namun hatinya jauh terasa lebih sakit seakan tengah dihujam ribuan belati tak kasat mata. Rasa bersalah itu kembali muncul apalagi saat dirinya menyadari akan apa yang telah diucapkannya. Ibu Naruto rela mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan kakaknya. Dan apa yang barusan ia katakan? Kakaknya tidak meminta untuk di selamatkan? Bukankah itu sama saja ia mengingkari nyawa sang kakak yang sudah Ibu Naruto selamatkan dengan cara menukar nyawanya sendiri pada maut?

"S—semua karena takdir. K—kau pikir aku senang dengan semua ini?!" Dengan secuil keberanian, Hinata meberanikan diri untuk membalas ucapan Naruto seraya menatap tepat ke dalam sepasang safir yang menatapnya penuh kebencian.

"Takdir? Sekarang kau menyalahkan takdir?! Kau sangat memuakkan!"

"Naruto sudah cukup!"

Sekuat mungkin Hinata berusaha menahan airmatanya agar tidak tumpah. Apa yang dikatakan Naruto memang benar, ia memang sangat memuakkan, bahkan untuk semua yang sudah terjadi, ia masih saja menyalahkan takdir.

"Karena menolong Kakakmu Ibuku meninggal! Karena menolong Kakakmu aku dan Adikku menjadi yatim! Dan karena menolong Kakakmu Ayahku memilih pergi dari Jepang! KAU DAN KAKAKMU SUDAH MEMBUAT HIDUP KELUARGAKU MENDERITA!" Bagai kesetanan, Naruto berseru kencang dipenuhi kemarahan dan luapan emosi. Tak mengindahkan satupun perkataan Juugo yang masih menahan pergerakannya.

Menggigit bibir bawahnya keras, mengacuhkan rasa sakit yang menderanya. Hinata mengambil sesuatu dari balik blazer yang dikenakannya.

"I—ini milik—" Belum sempat Hinata menyelesaikan ucapannya, Naruto serta merta menendang tangan Hinata hingga benda kecil yang berada di tangan Hinata jatuh keatas tanah. Kaki berbalut sepatu hitam itu menginjak benda kecil yang tergeletak tak berdaya diatas tanah itu berkali-kali tanpa belas kasih.

"Hentikan! Apa yang kau lakukan?! Kumohon hentika—Akh!"

Sakit menyerang jemari tangan kanan Hinata yang memerah dan lecet karena injakan Naruto. Rintihan Hinata tak berarti apapun bagi Naruto, sepasang safir itu tertutup kabut kebencian yang membuatnya buta dan menutup mata akan apa yang dilakukannya. Seringai kepuasaan terbit diwajah Naruto yang sekarang tak ubahnya iblis. Melihat mainannya merintih sakit membuat seringai Naruto makin lebar.

"Naruto sudah cukup! Ayo pergi!" Juugo berseru agak kencang sembari berusaha menarik tubuh Naruto untuk menjauhi mainannya yang sudah sekarat.

"Aku akan membuat hidupmu memderita pembawa sial!"

"Hentikan itu, Naruto!"

Hinata menatap kalung yang teronggok diatas tanah itu dengan tatapan penuh luka. Lubang di hatinya semakin menganga membuatnya merasakan kekosongan yang menyakitkan. Darah yang kembali mengalir di sudut bibirnya tak dihiraukan, bahkan rasa nyeri yang berdenyut-denyut di tangannya tak ia rasakan samasekali. Sakit itu ada, namun bukan dari luka fisik yang didapatnya.

...

...

...

..

.


**Chiharu**


.

..

...

...

...

Gelap mulai menyelimuti sinar matahari yang menerangi langit kota Konoha. Angin berhembus kencang menghantarkan dingin yang menusuk sampai ketulang. Namun hal itu tak dihiraukan oleh Hinata yang masih betah berlama-lama duduk dipinggir sungai. Pikirannya kembali melayang mengingat setiap kata yang Naruto ucap padanya dan itu sukses membuat setitik air mata jatuh menuruni pipinya yang memar.

"Hinata? Kau belum pulang?"

Sebuah suara mengintrupsi. Namun Hinata tak merespon, jiwanya seakan tengah terbang entah kemana. Tak menyadari akan kehadiran gadis bersurai coklat panjang yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya. "Kau menangis?" Tambah gadis manis bersurai coklat tersebut seraya memegang kedua pipi Hinata dan menghapus jejak air mata di pipi teman indigonya. Mengambil kembali kesadaran Hinata yang tadi pergi entah kemana.

"Yakumo..."

Hinata tersenyum. Kehadiran gadis bernama Yakumo itu seolah mampu membuatnya menyingkirkan segala permasalahannya dan membuatnya berpikir dirinya tidaklah sendiri. Hinata tidak sendiri, ia memiliki teman yang selalu ada untuknya, ya, satu-satunya teman yang ia miliki.

"Apa yang terjadi? Kenapa pipimu lebam dan berdarah? Tanganmu juga memar, Hinata." Yakumo turut mendudukkan dirinya di depan Hinata, mengangsurkan sebelah tangannya memegang jemari teman indigonya yang memar dan lecet. Memandangi Hinata dengan tatapan kasihan dan tak terima. "Pasti ini ulah si gila itu kan?"

Hinata hanya tersenyum pahit merespon ucapan Yakumo sebelum balas bertanya. "Kita... Kita teman kan, Yakumo?"

"Tentu saja! Kau temanku, Hinata."

Dengan tubuh bergetar, Hinata mengulurkan sesuatu yang di genggam tangan kirinya. Matanya nanar seakan siap menumpahkan .

"Apa ini?" Yakumo tercenung sesaat sebelum menatap benda kecil bertali yang kini berada di genggeamannya.

"Ini kalung kan?" Tanya Yakumo yang hanya dibalas anggukan lemah dari Hinata.

"Liontin kalung ini sangat cantik, tapi kenapa bisa retak seperti ini?" Yakumo jujur mengatakannya. Liontin kecil berbentuk panjang itu sangat cantik dengan warna biru tosca yang bersinar.

"Tolong jaga kalung ini."

"Ini milikmu. Kenapa kau menitipkannya padaku, Hinata?"

Hinata berusaha menahan air matanya agar tidak kembali jatuh menuruni pipinya. Masa lalu yang selalu coba ia simpan hanya untuk dirinya sendiri dan sang kakak itu seolah mencekiknya hingga membuatnya susah bernafas. Liontin pemberian dari wanita baik hati yang selalu ia jaga itu seakan selalu mengingatkannya akan kenangan menyakitkan yang sampai saat ini menorehkan luka yang tak tersembuhkan.

Menarik nafas meski sesak yang dirasa. Hinata mengumpulkan keberaniannya yang bercecer di bawah kakinya untuk menguak masalalu terburuknya yang sebenarnya menyakitkan untuk di ceritakan. Namun Hinata sudah merasa tidak sanggup lagi menyimpannya sendiri, terlebih peristiwa yang hampir mengambil nyawa sang Kakak justru memberikan luka pada hati banyak orang hingga berbuntut kebencian. Yakumo hanya diam mendengarkan, namun iris coklatnya jelas memperlihatkan kesedihan saat melihat bagaimana tubuh ringkih teman indigonya bergetar menahan isak tangis saat menceritakan rasa sakit yang dipendamnya.

...

...

...

..

.


**TO BE CONTINUED**


.

..

...

...

...

Nggak ada cuap-cuap selain saya mau bilang chap ini mulai gaje melebihi chap sebelumnya, garing, gaje, alur nggak jelas, semua ada dalam fanfic saya..

Sekian, dan trima receh dalam bentuk Yen!

Chao~