Changwon, malam hari….

Mingyu tengah termenung sendirian. Setelah melewati makan malam yang kaku dan hening di antara keluarganya dan keluarga wonwoo akhirnya mingyu memutuskan untuk mengakhiri makan malamnya lebih cepat. Wonwoo pun demikian. Dia memilih untuk tak menghabiskan makanan penutupnya dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Mengurung dirinya sendiri dengan sengaja.

Sudah lebih dari 60 menit dia tak bersuara. Hanya dengusan nafas kasarnya yang sesekali terdengar. Sunyi. Sepi. Sendirian.

Wonwoo… tentu saja, namja manis itulah yang tengah membuat liburan Mingyu yang semula akan menjadi hal yang indah seketika porak poranda.

Mingyu menutup matanya, merapatkan sweeter coklatnya untuk membungkus tubuhnya sendiri. Hingga kemudian…

"tak ingin di temani?"

Suara itu.. mengusik ketenangan yang tengah mingyu ciptakan untuknya sendiri.

"eomma?". Mingyu membuka matanya, sedikit bergeser setelah menyadari pergerakan sungyeol yang terlihat ingin duduk di sampingnya.

"apa yang sedang kau pikirkan?". Masih dengan senyum manis penuh ketenangannya, sungyeol duduk di samping putranya. Menatapnya penuh sayang, meraih tangan anak semata wayangnya dengan erat. Mengusap punggung tangan mingyu beberapa kali.

'tangan mungil malaikatku sekarang sudah berubah sedemikian besar dan kokoh'. Batin sungyeol.

"tidak ada eomma…". Balasnya. Terdiam dalam genggaman ibunya. Sungyeol hanya menimpalinya dengan senyum hangatnya.

"kau pikir kau bisa membohongi ibumu?"

"tidak, aku tidak sedang berbohong…"

"Mingyu… aku ini ibumu, bukan temanmu, aku tahu kapan kau sedang berbohong dan kapan kau sedang berkata jujur sayang….". mingyu menunduk. Masih enggan untuk membalas tatapan teduh sang ibu yang masih menghakiminya. "jika eomma tidak salah…. Ini tentang wonwoo?"

Tersentak. Mingyu terkejut. Terlihat dari matanya yang sedikit melebar. Namun masih membeku dan terlalu malu untuk menatap namja manis paruh baya yang masih setia menggenggam tangannya.

"Mingyu…."

"T-tidak… ini tak ada hubungannya dengan wonwoo, tak masalah jika dia menolakku, aku tahu memang sejak awal dia tak pernah menyukaiku eomma"

"dan kau menyukainya sejak dulu?"

"apa?!". kali ini rasa terkejut itu kali ini benar-benar tak mampu dia sembunyikan lebih lama. Mingyu menoleh. Menatap ibunya, sedikit malu.

"eomma bahkan tak pernah bertanya apakah wonwoo menyukaimu atau tidak, tapi secara tak langsung kau seperti member isyarat bahwa hal yang menjadi bebanmu sekarang adalah tentang wonwoo, kau berubah sikap setelah wonwoo berteriak bahwa dia tak pernah menyukaimu, putraku yang sejak awal begitu bersemangat untuk pergi ke changwon tiba-tiba menjadi pendiam dan tak tertarik lagi dengan apapun yang ada di changwon…"

Kalah telak.

Tak ada gunanya menyembunyikan apapun dari ibunya. Dari separuh nafasnya untuk saat ini. Orang yang selama ini menjadi teman untuk berbagi segala hal tentang hidupnya. mingyu menyerah. Perlahan menarik tangannya dari genggaman ibunya. Merebahkan tubuh tingginya demi meletakkan kepalanya pada pangkuan sang ibu.

"Kau menyukai wonwoo?"

Ada sedikit jeda dan tarikan nafas dalam yang terdengar dari mingyu sebelum akhirnya menutup mata dan berdehem pelan. "Ya…". Terdiam sesaat, kemudian melanjutkannya. "Tapi dia tak menyukaiku, benar kan?"

"dank au ingin menyerah?". Sungyeol masih bertanya dengan suara pelannya. Mengusap rambut anak kesayangannya penuh kasih.

"lalu apalagi? Wonwoo tak pernah menyukaiku eomma. Bahkan sejak awal. Jujur saja…. Saat kalian memintaku untuk pindah ke seoul, satu-satunya hal yang begitu sulit untuk kulupakan adalah wonwoo, itu juga yang menjadi alasanku begitu bersemangat untuk kembali ke sini, ke kota ini. Aku bahkan sudah menyusun segala rencana untuk mencarinya, menemukannya dan menyelesaikan kalimatku untuknya, tapi pencarianku untuknya terlalu mudah. Aku menemukannya begitu saja tanpa sebuah usaha yang berarti, berbanding terbalik dengan usahaku untuk menyampaikan perasaanku…"

Mingyu menelan ludahnya kasar. Tiba-tiba saja lidahnya kelu. Seiring tenggorokannya yang terasa sangat sakit.

"4 tahun eomma…. Aku menunggunya selama itu… bahkan aku masih menyimpan perasaanku untuknya setelah 4 tahun aku tak bertemu atau sekedar menerima kabarnya…. Dia bahkan tak pernah tak tahu seperti apa tersiksanya aku dengan segala hal yang kusimpan sendirian bukan? dan hari ini…. Hari dimana aku menemuinya setelah 4 tahun aku tak melihatnya… dia justru memberiku pilihan… antara maju atau mundur terhadap pilihannya…."

Sungyeol tersenyum. Masih menatap mingyu kecilnya yang terlihat begitu putus asa dengan perasaannya.

"kau mau dengar sesuatu?"

"hm?"

"Appamu bahkan bisa menikahi eommamu ini setelah eomma menolaknya 14 kali"

"Apa?!"

Mingyu terkejut. Sedikit memutar kepalanya demi melirik sang ibu.

"itu benar.. aku menolaknya 14 kali. Tapi appamu itu sangat percaya diri. Dia terus menedekatiku dan selalu menyampaikan perasaannya setiap memiliki kesempatan. Dengan berbagai cara dia berusaha memenangkan hati eomma, coklat, bunga, puisi bahkan hal-hal menggelikan lainnyapun dia lakukan semata-mata untuk mendapatkan persetujuanku atas perasaannya". Sungyeol sedikit menunduk. Berusaha mempertemukan tatapannya dengan pandangan mingyu. "dan… pada saat dia menyatakan cintanya yang ke-15 kali… dia tak lagi memintaku menjadi kekasihnya, dia datang ke rumah eomma dengan kedua orang tuanya, dia melamarku, dia mengatakan 'Lee Sungyeol… aku memaksamu untuk menikah denganku', dia berani mengatakannya di hadapan kakek dan nenekmu.. dan ketika aku memberinya syarat untuk mendapatkan nilai kelulusan di atas nilaiku sebagai syarat, diapun melakukannya, jadi…..". sungyeol terkikik. Sengaja menggantung ucapannya agar sang putra menjadi lebih penasaran dengan ucapannya.

"Jadi?"

"jadi jika kau benar-benar menyukainya dan menyakini perasaanmu untuknya, kenapa kau harus memiliki pilihan lain untuk mundur jika kau masih memiliki pilihan untuk maju Mingyu?"

"Tapi…."

"Rasa cinta itu akan datang karena sebuah kebiasaan, jika kau tak bisa membuatnya jatuh cinta pada kebiasaanmu, bukankah kau masih bisa membuatnya menyukaimu dengan kesan-kesan manis untuknya?"

"dia adalah orang yang sangat keras kepala eomma, aku mengenalnya'

"dan faktanya kau masih sangat menyukai manusia keras kepala itu bukan?"

"eomma…"

"hei… jangan membuatku ragu Mingyu, kau ini benar putraku dan Myungsoo atau bukan? bagaimana mungkin kau tak mewarisi sikap gigih myungsoo?"

"situasinya berbeda dengan apa yang kalian jalani"

"benar… bahkan situasi ayah dan ibumu ini lebih rumit bukan? lalu jika kau menyerah apa kau ingin kami membatalkan perjodohanmu? Aku bisa saja mengatakannya kepada Dongwoo Ahjussi sekarang juga, dan kau harus berjanji bahwa kau tidak akan menyesal saat melihat wonwoo menikah dengan pilihannya kelak, kau bisa?"

Mingyu mendengus. Sedikit kesal dengan pertanyaan ibunya. "entahlah"

"Hey nak…. Ditolak sekali saja seharusnya tak akan berimbas apapun jika kau ini benar-benar seorang laki-laki yang menyukainya. Seseorang yang keras kepala sepertinya itu patut di perjuangkan, karena pada suatu saat ketika dia sudah jatuh ke tanganmu maka dia akan menyerahkan seluruh hidupnya untukmu"

"menurut eomma wonwoo akan seperti itu?"

"Eomma rasa memang seperti itu… di balik sikap dan sifat keras kepalanya, eomma rasa dia anak yang sangat baik, lakukan hal yang di lakukan oleh ayahmu, bukankah kami mendukungmu?"

.

.

.

Ini adalah malam kedua keluarga Kim menginap di rumah keluarga Jeon. Masih tak ada interaksi antara Wonwoo dan Mingyu. Kedua anak SMA yang masih di selimuti emosi dan harga diri itu masih saling bersikukuh dan beradu untuk terdiam lebih lama, seakan sedang berlomba.

Sangat kontras dengan keempat orang tua mereka yang berinteraksi layaknya saudara.

Malam ini, di kamar tamu yang di huni myungsoo dan sungyeol, keduanya masih belum terlelap sekalipun hari sudah semakin larut dan mengantarkan seisi rumah itu ke dalam tidur nyenyaknya.

Duduk berdua di atas ranjang mereka. Dengan sungyeol yang tengah mengusap lengan suaminya.

"Yeobo…"

"Hm?"

"ini…. Tentang mingyu"

"Mingyu?"

"kau tahu putra kita mendapatkan penolakan dari wonwoo atas perjodohan yang kita lakukan bukan?"

Myungsoo tercenung. Diam-diam rupanya myungsoo dua hari ini juga tengah memikirkan hal itu. "Ya… aku tahu"

"Mingyu…. Rupanya dia menyukai wonwoo jauh sebelum dia mengetahui bahwa dia dan wonwoo sudah berjodoh bahkan sebelum mereka bisa berbicara". Sungyeol tertunduk. Mengatur nafasnya agar menjadi lebih teratur. "bukankah kau tahu bagaimana rasa sakitnya? Mencintai seseorang namun mendapatkan penolakan bahkan sebelum seseorang itu mampu menyelesaikan kalimatnya?"

Myungsoo tersentak. Jujur saja ini mengejutkannya. Ini di luar nalarnya. Bagaimana mungkin mingyu bisa menyukai wonwoo bahkan sebelum ini?

"mingyu mengatakannya kepadaku kemarin malam". Seakan tahu pertanyaan yang ingin di lontarkan oleh suaminya, maka dari itu sungyeol memutuskan untuk menjawabnya terlebih dulu. "Aku juga sama terkejutnya denganmu ketika mingyu mengatakannya, aku tak tahu jika selama ini wonwoo adalah orang yang telah membuat Mingyu menangis keras dan memohon agar kita tak pergi ke seoul dan meninggalkan Changwon… saat itu, saat mingyu mengatakan bahwa dia harus menyelesaikan kalimatnya untuk seseorang… kupikir itu hanyalah permainan anak-anak yang akan selesai dengan segera, namun… mingyu menyimppannya dengan rapi selama bertahun-tahun… itu sedikit menyakitkan saat tahu putraku tersiksa tanpa mau membaginya dengan siapapun"

"sungyeol…"

"aku bahkan terkejut dengan perubahan sikapnya myungsoo, aku merasa kehilangan Mingyu kecilku yang selalu bersemangat dengan sekolahnya, aku merasa terpukul dengan sikap diamnya"

"aku tahu…"

"dia sakit selama bertahun-tahun tanpa kita berusaha untuk menyembuhkannya, ternyata dia lebih hebat darimu untuk menyembunyikan perasaanya bukan"

Myungsoo membuang wajahnya ke sisi lain. Dia terpukul dengan penjelasan istrinya. Dia tak tahu apapun dengan apa yang mingyu rasakan. Merasa sangat bersalah karena selama ini tak pernah mendekati putranya hanya sekedar menenyakan apa yang dia rasakan.

Tidak, myungsoo merasa gagal. Dia bukan lagi seorang ayah yang sempurna untuk mingyunya.

"Myungsoo…. Apakah kita harus diam sekarang?"

Laki-laki paruh baya itu menelan ludahnya. Menunduk, menghela nafasnya dengan sangat berat. "tapi kau tahu benar sungyeol… Wonwoo menolaknya"

"dan akan tetap menolaknya jika kita tak membantunya"

"kita tak bisa memaksanya, wonwoo juga memiliki hak yang sama dengan mingyu, jika mingyu memiliki hak untuk menerima perjodohan ini, maka wonwoo juga memiliki hak untuk menolaknya bukan?"

"apa kau pikir wonwoo juga tak memiliki kesempatan untuk menerima mingyu jika kita juga memberika hak yang sama kepada mingyu untuk menunjukkan perasaannya?"

"Sungyeol…"

"Kau bahkan dulu juga memaksaku bukan? aku menerimamu karena aku merasa kau memiliki kesempatan untuk membuktikan perasaanmu, dan seharusnya hal itu juga berlaku untuk mingyu"

"Tapi kau juga lihat, wonwoo itu keras kepala, bahkan di hadapan kitapun, dia berani mengungkapkan pendapatnya bukan?"

"memang akan sedikit sulit jika kita hanya membujuknya dari satu sisi, tapi jika Dongwoo hyung juga Howon hyung membantu kita untuk membujuknya, bukankah peluang kita akan menjadi lebih besar? Kau dan aku sangat mengenal mingyu, kurasa mingyu mulai mengerti rasa tanggung jawab, dia orang yang tepat untuk menjaga wonwoo kelak, benar mingyu kekanakan, sedangkan wonwoo dewasa, wonwoo keras kepala tapi mingyu memiliki kesabaran di atas rata-rata, mingyu ceroboh dan wonwoo bisa sangat tegas pada pendiriannya, lalu apalagi yang kurang? Aku menyukainya, wonwoo sangat ideal untuk putra kita. Dia memang sedikit angkuh tapi dia baik. Dia sopan dan pintar, tidak ada yang lebih pantas untuk menjadi menantu kita bukan?"

"Chankaman… aku setuju denganmu bahwa wonwoo memang sangat tepat untuk mingyu, tapi pernikahan? Oh ayolah sayang.. itu adalah hal yang masih sangat jauh untuk di bicarakan, sekalipun wonwoo menerimanya, pernikahan mereka akan di lakukan 6 atau 7 tahun lagi bukan?"

"tidak, kurasa akan lebih baik jika pernikahan mereka di lakukan segera myungsoo"

"apa?!"

"jika hanya mengikatnya dengan sebuah kata-kata itu tak akan menjadi jaminan bahwa mereka pada akhirnya akan saling mengingkari, terlebih wonwoo memang menolaknya sejak awal"

"Hei… mereka masih harus bersekolah, bahkan mereka masih kelas 2 SMA, bagaimana mungkin mereka di nikahkan dengan usia yang masih bisa di bilang anak-anak?"

"mereka sudah dewasa myungsoo. Berhentilah menutup mata!"

"aku tak bermaksud untuk menutup mata, kau yang justru sudah buta, bagaimana mungkin kita menikahkan mereka disaat mereka masih harus focus dengan sekolahnya?"

"mereka masih bisa melanjutkan sekolahnya setelah menjadi suami istri, tak ada larangan untuk melakukan pernikahan setelah seorang anak masuk ke dalam lingkup sekolah menengah atas, kau tahu itu bukan?"

"iya itu benar, tapi wonwoo…"

"wonwoo akan menerima mingyu perlahan jika mereka terbiasa bersama. Kuakaui ini memang sedikit memaksa, tapi hal ini tak merugikan pihak manapun"

"Ya tuhan sungyeol… kita…"

"kita apa hah?!'. Sungyeol seketika melepaskan lengan suaminya. Kali ini menatap kedua mata myungsoo dengan tajam. Mengintimidasinya. Menusuk penglihatannya seolah ingin membuatnya patuh. "kau pikir pernikahan itu akan benar-benar terjadi jika hal itu di lakukan 6 atau 7 tahun mendatang? Kau pikir wonwoo tak akan mencari jalan lain untuk membatalkan perjodohan ini? Ingatlah, dia itu cerdas. Dia tak akan diam saja jika kita tak memaksanya sekarang. Selain itu, jika benar kita menyatukan mereka 7 tahun mendatang, lalu kau pikir kau bisa pergi ke Changwon setahun 12 kali hanya sekedar membuat mingyu menjadi lebih dekat dengan wonwoo? Bukankah akan lebih mudah jika mingyu juga wonwoo menikah segera lalu membawa wonwoo ke rumah kita?!"

"T-tapi…tunggu… kita harus.."

"Kita harus membicarakannya dengan dongwoo dan hoya hyung. Segera!"

.

.

.

Lagi-lagi acara makan malam kali ini menjadi ajang untuk saling berlomba "siapa yang lebih pendiam di antara mingyu dan wonwoo". Kemudian berakhir dengan mingyu juga wonwoo meninggalkan meja makan terlebih dahulu. Mereka masih tak saling bicara.

Dari sikapnya jelas wonwoo tengah menghindari mingyu. Sedangkan mingyu? Dia tak memiliki hak untuk menghindar bukan? dia hanya menjadi terlalu canggung dengan wonwoo setelah penolakan yang wonwoo lakukan terhadapanya. Dia malu, malu pada dirinya sendiri yang justru belum bisa mendekatkan diri pada si manis yang setiap hari tinggal dan bernafas di bawah atap yang sama dengannya.

Meja makan menjadi lebih sunyi setelah kedua anak berusia tanggung itu meninggalkan meja makan mereka. Menyisakan Myungsoo, Sungyeol, Dongwoo, Howon dan Jungkook, adik wonwoo yang berada di kelas 3 SMP, menghabiskan makan malam mereka dengan tenang.

Sesekali mereka masih saling melemparkan pembicaraan ringan satu sama lain, kemudian alur pembicaraanpun berubah menjadi topic yang serius setelah deheman myungsoo terdengar ringan di meja makan mereka.

"Dongwoo Hyung…"

"Hm?"

"Begini… aku mohon maaf sebelumnya, mungkin ini sedikit menyita waktumu, tapi aku juga istriku sudah berunding semalam". Ujarnya di awal kalimat pentingnya. "Mungkin sedikit tak masuk akal.. tapi kami berpikir bahwa sepertinya pernikahan Mingyu dan wonwoo kita ajukan saja"

"Diajukan? Maksudmu setelah mereka lulus sekolah maka kita akan langsung menikahkan mereka, begitu?"

"tidak, mungkin lebih baik pernikahan mereka dilakukan bulan ini, sebelum liburan mereka berakhir"

Baik Dongwoo maupun Howon segera menghentikan pergerakan mulut mereka untuk mengunyah makanan mereka. Ini sebagai bentuk rasa terkejut yang tak ingin mereka suarakan.

"Tapi Myungsoo… bahkan kau sendiri yang mengatakan bahwa mereka masih harus melanjutkan sekolah mereka bukan? tapi kenapa…"

"aku berubah pikiran setelah melihat wonwoo, aku akui dia anak yang sangat baik, aku dan istriku benar-benar sangat menyukainya saat kami melihatnya, dan itu wajar saja jika wonwoo menjadi alasan bagi mingyu untuk menunggunya selama ini. Putraku benar-benar menyukai wonwoo Hyung… selain itu, jika harus menunggu selama 6 atau 7 tahun, akupun tak yakin jika kau berhasil membuat wonwoo 'diam' dan tak mencari cara untuk melepaskan diri dari perjodohan ini"

Dongwoo mulai gusar. Bahkan howon meletakkan sendok serta garpunya. Dia tak lagi berminat untuk melanjutkan acara makan malamnya.

"Jujur saja aku tak yakin bisa memaksanya Myungsoo…. Kau lihat bukan? memaksanya akan membuatnya semakin berontak"

"aku tak ingin kau memaksanya, aku ingin kalian memberikan pengertian kepadanya. Aku bisa menjamin bahwa mingyu adalah sosok yang baik. Kami mengenalnya. Kurasa dia sekarang sudah cukup mampu untuk menjaga wonwoo…."

"Mingyu….. benar-benar sangat menyukai wonwoo… aku bisa menjamin itu". Sungyeol menyela. Kali ini dia berbicara dengan penuh penekanan dalam kalimat halusnya yang tersusun rapi. "Apakah kalian masih meragukan anak kami?"

"tidak… bukan seperti itu Sungyeol…."

"dengan menikahkan mereka segera dan membawa wonwoo ke seoul, itu akan membuat mingyu memiliki lebih banyak kesempatan untuk menunjukkan keseriusannya kepada wonwoo bukan?"

"Jadi wonwoo hyung akan pergi bersama kalian?". Jungkook menyela. Namja itu meletakkan sendoknya. Ada gurat kesedihan yang seketika terpancar dari wajah manisnya. Dia menyayangi kakaknya. Sangat. Membuatnya tak ingin sang kakak pergi kemanapun sampai kapanpun.

"Sayangnya iya sayang….". sungyeol mengulas senyumnya sekilas. "kau bisa mengunjunginya setiap liburan sekolahmu, dia juga akan sesering mungkin mengunjungi kalian jika ada waktu bukan?"

Jungkook menunduk. Merasa sekarang bukanlah porsinya untuk berbicara dan meraih sendoknya dan melumat makannnya dalam diam.

"Jadi bagaimana hyung?". Sekali lagi myungsoo bertanya. Menanti sebuah kejelasan pada sahabatnya. Namun baik Dongwoo maupun Howon sama-sama terdiam. Hingga akhirnya Howon mengangkat wajahnya. Menyampaikan pendapatnya untuk kali pertama.

"Kalian bisa menjamin masa depan wonwoo hingga masa kuliahnya nanti?"

"tentu, menjadi menantuku bukankah artinya aku harus bertanggung jawab sepenuhnya terhadap dia bukan, bahkan jika kalian meminta minta hitam di atas putih sekalipun aku bersedia untuk memenuhinya"

Howon mengerjap beberapa .kali. menarik nafasnya berat. Sejujurnya dia menyukai Mingyu. Dimatanya Mingyu adalah sosok yang benar-benar baik. Sopan, ramah, cerdas dan tampan. Tak ada yang kurang. Namun menikahkan wonwoo dengannya di usia mereka yang bahkan masih 17 tahun membuat howon ,masih harus berpikir 2 kali. Namun kemudian…

"Kalau begitu aku akan membujuk Wonwoo,tapi dengan satu syarat…'

"Katakan Hyung…."

"Tak ada anak sampai mereka lulus dari universitas, aku ingin putraku focus pada sekolahnya. Setelah mendapatkan gelar sarjana mereka, dan mingyu sudah mampu menghidupi wonwoo sebagai seorang kepala keluarga, baru kita bisa membicarakan tentang kehadiran seorang cucu, apakah kalian bisa menjamin itu?"

Seketika, tanpa sadar baik myungsoo maupun sungyeol sama-sama menegak ludah mereka samar. Sedikit tak yakin akan hal itu. Namun akhirnya myungsoo mengambil alih jawaban sungyeol kemudian. "Baiklah… persyaratan di terima"

.

.

.

Wonwoo masih duduk dalam diam di hadapan meja belajarnya. Binar terang dari lampu bacanya membantunya untuk menerangi halaman demi halaman dari buku yang tengah di baca oleh wonwoo. Namja manis itu terlaruh dalam diam. Menyesapi satu persatu kata demi kata yang tertulis di halaman novel yang dia baca.

Sunyi.

Kamarnya terasa sangat senyap. Wonwoo sangat suka kesendiriannya. Dia sedikit tak tertarik untuk larut di dalam hiruk pikuk dunia di luar sana. Baginya, buku adalah teman hidupnya. kata-kata indah di dalam novel-novel kesayangannya adalah lullaby paling indah yang pernah ada, sampai akhirnya…

Tok-Tok…. Tok….

Sebuah ketukan halus di pintu kamarnya berhasil membuat si manis itu menghentikan bacannya. Memutar kepalanya demi menatap sosok yang kini tengah membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalamnya dengan sebuah coklat hangat dan semangkuk choco chips di atas nampan yang di bawanya.

Itu ibunya. Namja manis paruh baya itu masuk ke dalam kamarnya dengan tenang. Menyunggingkan senyum penuh ketenangan.

"Eomma?"

"Kesukaanmu….". ucapnya, seraya meletakkan nampan kecil itu di hadapan putra tertuanya.

"Ah… terima kasih"

"kau tak menghabiskan makan malammu lagi?". Tanyanya. Memilih untuk duduk di tepi ranjang putranya.

"aku tidak terlalu lapar hari ini". Wonwoo mengalihkan tatapannya dari sang ibu. Kembali menatap lembar-lembar cerita yang ada di tangannya.

"Kalau boleh eomma tahu, buku apa yang kau baca?"

Wonwoo menyadari, ini hanya sebuah basa basi. Ini bukanlah topic yang sebenarnya ingin di utarakan oleh ibunya. Namun wonwoo masih menahan dirinya untuk tak bertanya maksud dari sikapnya. Dia hanya mendengus pelan setelahnya. "Juvenilia, milik Jane Austen". Jawabnya singkat.

"apa itu buku yang baru kau beli kemarin"

"sebenarnya apa yang ingin eomma katakana". Seperti ini, ya… wonwoo memang seperti ini. Bahkan kedua orang tuanyapun terkadang taku untuk sekedar bertanya kepada putranya jika si manis itu sudah merasa kesal dengan sesuatu.

Howon berdiri, berinisiatif untuk menarik sebuah kursi tanpa sandaran yang ada di pojok ruangan. Duduk di samping wonwoo dengan tenang. Tiba-tiba saja howon mengangkat tangannya. Mengusap rambut hitam legam milik won woo seketika. "Wonwoo-ya…."

Wonwoo menoleh. Menatap sang ibu sembari menutup bukunya. "ini tentang perjodohanku dengan mingyu?". Tembaknya. Seketika membuat howon tak mampu berkutik dan hanya menghela nafasnya kemudian.

"Ya… kau benar"

"aku sudah mengatakannya dengan lantang bukan? aku tidak menyukainya… dan tentu saja aku tak akan pernah menikah dengannya, apalagi menikah hanya atas dasar sebuah persetujuan yang kalian buat bahkan di saat aku masih belum mengerti apapun!"

"aku tahu wonwoo…"

"jika eomma mengetahuinya, lalu untuk apa eomma memaksa? Ini tak akan berhasil. Bahkan sejak awal aku tak pernah menkyukai mingyu"

"Sayang…". Selanya. Mengangkat tangannya, mengusap surai hitam wonwoo sekali lagi. "apa kau pernah dengar? Cinta bisa datang kapan saja karena sebuah kebiasaan"

"Dan aku tak mau terbiasa dengan mingyu. Titik!"

"kau belum mencobanya Wonwoo…"

"apakah sebuah pernikahan tak lebih dari bahan uji coba laboratorium. Apakah eomma menganggap pernikahan adalah hal semudah itu? "

"Tidak, kau tahu aku pasti akan menjawab tidak, tapi rumah tangga bukanlah sebuah hubungan yang harus di lalui seorang diri. Pernikahan adalah sesuatu yang harus di pikul bersama dengan berat yang sama rata. Jika kita seimbang dalam menjalaninya, maka semuanya akan baik-baik saja"

"Tapi kenapa harus dengan mingyu eomma?!". Wonwoo kesal. Menutup bukunya dengan keras kemudian melemparkan buku itu ke atas mejanya.

"apa yang salah dengan mingyu. Bukankah dia anak yang sangat baik?"

"terlalu baik hingga membuatku ingin mengutuknya ribuan kali"

"Wonwoo…."

"berikan aku alasan kenapa aku harus menerimanya?"

"kalau begitu berikan eomma alasan kenapa kau harus menolaknya"

"aku yang bertanya lebih dulu"

"aku eommamu, dank au tak memiliki alasan untuk memerintah eommamu"

"bukankah aku butuh sebuah alasan untuk menentukan hidupku?"

"eomma juga butuh sebuah alasan atas keinginanmu"

"eomma…"

"Karena aku ibumu!". Howon mengucapkannya dengan penuh penekanan. Membuat wonwoo semakin frustasi dan lelah jika harus berdebat dengan ibunya.

"Wonwoo… aku tahu kau tak pernah bertindak tanpa sebuah alasan, kau putraku, aku tahu seperti apa sifatmu, kau pandai tapi keras kepala". Howon mengulurkan tangannya. Menyentuh pundak wonwoo yang seketika mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk sejenak. "Tapi sekali ini saja, turuti kemauan ibumu, aku mohon.."

"aku butuh alasan eomma…"

"Orang tua Mingyu adalah sahabat Appa, aku dan ayahmu sangat mengenal orang tua mingyu, kami tahu seperti apa mereka mendidik dan membesarkan mingyu, aku bahkan tak habis pikir hal apa yang sanggup membuatmu sebenci ini pada mingyu, tapi…"

"Aku hanya tak suka sikapnya yang selalu ingin di puja dan mendapatkan nomer satu!"

"hanya itu?"

"entahlah"

"sayang…". Howon menaikkan posisi tangannya, beralih untuk mengusap surai hitam wonwoo perlahan. tersenyum lembut kemudian. "semua orang pasti ingin menjadi nomer 1. Itu wajar. Tak ada yang salah dengan itu"

"tapi dia terlihat sangat ingin mengalahkanku, aku muak"

"dan dengan rasa marah juga rasa muakmu, itu artinya kau juga ingin mengalahkannya bukan?"

Wonwoo terlihat semakin kesal. Ibunya terlalu sering membolak-balik ucapannya. Membuat wonwoo ingin enyah detik itu juga dari hadapan sang ibu.

"wonwoo… kurasa kau tak memiliki alasan kuat untuk membencinya sedemikian rupa, ibumu ini tidak bodoh, dengan melihatnya saja ibu tahu bahwa mingyu adalah anak yang baik, aku tak di bayar untuk menunjukkan segala hal baik tentangnya, ini adalah persepsiku sendiri…"

Wonwoo mendengus. Membuat wajahnya ke sisi lain. Ingi mengabaikan ibunya namun posisi mereka yang terlalu berdekatan, mau tak mau tetap memaksa telinga wonwoo untuk mendengarkannya.

"seperti apapun eomma memaksaku itu tak akan merubah apapun, aku tidak mencintainya"

"apa kau pikir aku menikah dengan ayahmu karena aku mencintainya? Jawabannya tidak wonwoo, cinta datang karena terbiasa, aku bukan orang yang tak berlogika, aku hanya melihat keseriusan ayahmu untuk memperjuangkanku, aku melihat ada kesungguhan di dalam ucapan dan sikapnya, maka dari itu aku memutuskan untuk menikah dengannya, dan aku mengatakan bahwa aku mencintainya… pertama kali setelah aku melahirkanmu, tepat 1 tahun setelah menikah dengannya…"

"dan mingyu tak memperjuangkanku sama sekali"

"dia memperjuangkanmu'

"tidak!"

"kau hanya tidak tahu, tidak semua hal yang ada di belakangmu kau ketahui secara pasti Jeon Wonwoo!'

"Eomma!"

"Orang tua mingyu bahkan bersedia menyekolahkanmu bahkan membiayai kuliahmu hingga kau lulus jika kau bersedia menjadi menantunya"

"Apa?!"

"Ya… mereka bersedia"

"eomma menjualku?". Wonwoo mengangkat wajahnya. Menatap wajah ibunya dengan tegas. Ada sebuah kemarahan yang terbersit di dalam tatapannya.

"tidak, bukan seperti itu"

"lalu apalagi? Menukar pernikahanku dengan biaya sekolahku, apakah itu masih belum pantas jika di katakana menjual putramu sendiri"

"Wonwoo!"

"Aku tidak akan pernah menikah dengan Mingyu!"

"Kau akan menikah dengannya! Dengan atau tanpa persetujuanmu!"

"Eomma!"

"DIA MENYIMPAN PERASAANNYA UNTUKMU SELAMA BERTAHUN-TAHUN JEON WONWOO! Tak bisakah kau memberinya kesempatan?!'

"Mworago?"

.

.

.

Mingyu hanya terus berguling tak nyaman. Matanya sedikitpun tak bisa terpejam. Bayangan wonwoo terus berkelebat di dalam ingatannya. Berpadu dengan ucapan sang ibu yang dia ketahui sebelum dia kembali ke kamarnya.

'ini sudah di tentukan'

'maksud eomma?'

'berdoalah, jika Howon hyung berhasil, maka tak lama lagi wonwoo akan menjadi istrimu'

'apa maksud eomma?!'

'kami para orang tua sepakat untuk memajukan acara pernikahan kalian'

'memajukannya? Kapan? Apa wonwoo menerimanya?'

'bulan ini'

'apa?'

'berdoalah'

Dan kalimat-kalimat itu benar-benar sukses membuatnya insomnia. Bahkan jam di dinding kamar yang di tempatinya sudah menunjukkan pukul setengah 2 dini hari. dan mingyu sekalipun tak bisa tertidur dengan nyaman.

Semakin lama, kegiatannya berguling di atas kasurnya membuatnya dehidrasi. Awalnya hanya rasa haus ringan yang masih bisa di tahannya. Kemudian cairan tubuhnya yang terus membasahi tubuhnya membuat dia tak sanggup lagi menahan rasa hausnya akibat kehilangan cairan tubuh secara berlebih.

Akhirnya memutuskan untuk beranjak dari ranjangnya. Kemudian keluar dari kamar itu. Demi beberapa teguk air yang harus di dapatkannya dengan segera.

Wonwoo masih belum bisa tidur. Ucapan terakhir dari ibunya sebelum meninggalkan kamarnya benar-benar mampu menghancurkan jam tidurnya.

Hanya terus berguling tanpa bisa memejamkan matanya, membuat wonwoo semakin meras haus, pada akhirnya dia hanya memaksakan kedua kakinya turun dari ranjangnya dan berjalan menuju dapur.

Dia butuh sesuatu untuk membasahi tenggorokannya yang terasa lengket.

.

.

.

Sendirian, lampu-lampu rumahnya sudah di matikan. Hanya da bebrapa neon yang menyala redup hanya untuk menerangi bebrapa bagian. Rumahnya sudah sunyi. Dengan jam dinding yang menunjuk angka di antara angka 1 dan 2 sudag di pastikan bahwa seluruh penghuni rumah itu sudah tertidur. Termasuk ketiga tamunya.

Wonwoo berjalan menuju lemari pendingin yang ada di dapur. Membukanya demi mengambil sebotol air dingin di dalamnya. Menegaknya langsung dari botol besar itu. sesaat, wonwoo memutuskan untuk menyandarkan tubuhnya pada meja makan yang terletak di tengah dapurnya.

Sendiri…

Senyap…

Dan gelap…

Tanpa sadar, jemarinya meremas pelan botol minum yang ada di tangannya, menundukkan wajahnya pelan. menghela nafasnya sedikit kasar.

Sungguh, ucapan howon sangat mengganggunya.

"dia mencintaimu selama bertahun-tahun jeon wonwoo!". Kalimat it uterus terngiang di dalam benaknya.

"Bagaimana mungkin?". Gumamnya, perlahan.

Hingg akhirnya, kesunyian itu di hancurkan oleh suara derap kaki pelan yang memasuki dapur. Wonwoo mengangkat wajahnya. Menatap sosok itu dengan tenang. Namun kemudian, pupil matanya sedikit melebar.

"Kau… belum tidur?'. Itu mingyu. Lelaki itu juga terlihat sama terkejutnya dengan wonwoo. Mendapati wonwoo di dalam dapur sendirian, itu benar-benar tak pernah di bayangkan olehnya.

"Tidak, aku haus". Wonwoo menjawabnya dengan suara rendahnya.

Diam-diam wonwoo menggigit bibir bawahnya bagian dalam. Memutus kontak matanya dengan mingyu yang kini tampak mengangkat tangannya dan menggaruk belakang kepalanya yang sejujurnya tak benar-benar terasa gatal.

"O-oh…". Mingyu mengangguk pelan. melemparkan tatapannya pada sisi lain. Merasa kikuk.

Si tampan bertubuh tinggi itu bergerak kea rah lemari pendingin, membukanya, mencari sesuatu. Ya, mingyu sama hausnya dengan wonwoo.

Mendapati mingyu yang tak hentinya membungkuk pada lemari pendingin, membuat wonwoo terpancing untuk bertanya. "Kau butuh sesuatu?"

"aku butuh air minum"

Seketika wonwoo menyodorkan botol yang ada di tangannya."sepertinya eomma lupa mengisinya, hanya tersisa ini".

Mingyu berbalik. Menatap botol yang ada di tangan wonwoo, kemudian menatap wonwoo secara bergantian. Sedikit tak percaya. Bukankah ini adalah wonwoo yang beberapa hari lalu berteriak kepadanya dia dan keluarganya untuk menolak pernikahan mereka? Bukankah ini seorang jeon wonwoo yang selama ini selalu menunjukkan sikap antipasti kepadanya? Dan kini? Ini benar-benar sebuah sikap yang sangat sulit untuk di percaya, wonwoo bahkan menawarkan minumannya.

Baiklah, mungkin ini terlalu berlebihan. Ini hanyalah suatu keadaan dimana mungkin wonwoo hanya terpaksa menawarkan minumannya karena tak ada satu botol minumanpun yang tersisa disana. Namun ini seperti ironi, ketika mingyu tahu wonwoo bukanlah orang selembut itu yang akan memberikan sesuatu yang menjadi miliknya sekalipun orang lain akan mati karenanya.

Tak ada pilihan lain. Mingyu menegakkan tubuhnya. Menutup pintu lemari pendingin dengan pelan. mengulurkan tangannya, meraih botol itu dari tangan wonwoo tanpa berusaha menyentuh jemari lentik wonwoo yang tengah menggenggam sisi lain botol yang di tawarkan untuknya.

"Terima kasih". Wonwoo tak menyahut. Hanya melepaskan sisi lain botol yang ada di tangannya untuk mingyu, memutar badannya untuk meraih gelas-gelas yang tertata rapi di tengah meja yang menjadi tempat bersadarnya, bersamaan dengan mingyu yang meneguk air dari dalam botol itu begitu saja. Membuat wonwoo sedikit mengernyitkan dahinya.

'Hei! Aku meminum air itu dari lubang yang sama! Itu bekas bibirku, apa kau tak merasa jijik?!'

Inginj sekali dia melontarkan pemikirannya, namun urung ketika melihat mingyu hampir meneguk habis air yang ada di botol itu.

Dan kemudian?

Suasana kembali sunyi setelah mingyu menutup botol itu dan mengembalikannya ke dalam lemari pendingin.

Kaki panjangnya hendak beranjak dari lantai dapur yang di pijaknya. Sebelum akhirnya, ucapan wonwoo berhasil menghentikan langkahnya.

"Sepertinya kita perlu bicara"

Lmingyu berhenti. Memutar tubuhnya untuk kembali menatap wonwoo yang masih bersandar pada meja besar itu.

"kau pasti sudah tahu kemana arah pembicaraanku bukan?". lanjutnya.

"Ya….". Kali ini mingyu membuang nafasnya dengan kasar. "ini tentang perjodohan itu bukan?"

"benar…". Jawabnya pelan.

"tenang saja, aku tak akan memaksamu. Perjodohan ini juga ada dii luar angan-anganku. Aku tak pernah tahu bahwa kedua orang tuaku bersahabat karib dengan kedua orang tuamu. Disamping itu… aku benar-benar tak pernah tahu jika perjodohan semacam ini masih berlaku di dalam keluarga-keluarga modern seperti mereka"

"aku tahu kau pasti akan mengatakan hal konyol seperti itu. lebih dari yang kau tahu, posisimu yang tetap berada disini, membuat orang tuaku semakin berfikit bahwa kau adalah orang yang teap untukku"

'tidak, aku tah kau tak pernah merasa cocok denganku bukan? jika kau merasa terganggu dengan keberadaanku dan keluargaku di rumahmu aku bisa saja meminta mereka untuk menyewa hotel di sekitar Changwon, tujuanku ke Changwon memang untuk mengingat kembali seluruh memoriku di kota ini, bukan untuk perjodohan ini Jeon Wonwoo"

"Kau bahkan lebih pintar untuk beralasan Kim Mingyu". Wonwoo lagi-lagi melempar tatapannya pada sisi lain. Enggan untuk menatap namja tinggi yang tengah berdiri tegak di hadapannya.

"alasan?"

"Ya"

"Jika semua yang kukatakan kau sebut sebagai alasan, lalu kau menginginkan kalimat seperti apa yang harus aku keluarkan di hadapanmu?"

"Aku hanya membenci basa basi"

"kalau begitu mari kita pertegas sekali lagi Jeon Wonwoo"

Wonwoo mengangkat wajahnya. Menatap mingyu dengan tatapan tajamnya. "katakan"

"awalnya kupikir kau akan memohon kepadaku agar aku membujuk kedua orang tuaku untuk membatalkan perjodohan kita, namun aku salah. Kau seolah justru menantangku. Seperti ingin melihat sejauh mana aku mampu mengendalikanmu. Aku tak mengerti hal apa yang membuatmu sebenci ini kepadaku, tapi….". mingyu mengatupkan bibirnya sejenak. Meneguk ludahnya pelan. menghela nafasnya penuh keteraturan. "Tapi aku akan melakukannya sekalipun kau tak memintaku, aku tak ingin pada akhirnya aku justru menyakiti seseorang yang seharusnya tak pernah berada di sisiku..Wonwoo"

Mingyu mengulum senyumnya. Bukan, ini bukan senyum penuh ejekan dan hinaan. Ini hanya sebuah senyum tenang yang penuh penekanan akan sebuah kepercayaan. "Seharusnya aku sadar, Kim Mingyu tak akan pernah bisa bersanding dengan Jeon Wonwoo, benar bukan?"

Wonwoo masih tak bereaksi. Hanya terus menatap mingyu tanpa mengedipkan kedua mata indahnya.

"Tidurlah… selamat malam"

Mingyu mundur. Membalikkan tubuhnya. Meninggalkan wonwoo yang masih mematung di tempatnya.

"Kim Mingyu!".

Berhasil. Panggilan singkat itu mengakhiri langkah mingyu yang berniat meninggalkan wonwoo di tempatnya.

"Chankaman…". Ucapnya pelan.

"Ya?"

"Aku justru sedang memikirkan yang sebaliknya"

Mingyu mengerutkan keningnya. Menolehkan wajah tampannya pada sosok wonwoo yang berdiri beberapa meter di belakangnya.

"Maksudmu?"

"Aku ingin memberimu kesempatan"

Mingyu pada akhirnya memutar seluruh badan tegapnya. Berhadapan dengan wonwoo seketika.

"kesempatan?"

"Mari kita jalani ini pelan-pelan"

"K…Kau…"

"Mungkin perjodohan ini adalah sebuah jalan terang, namun jika kita tak menemukan penerang di ujung jalan atau jalan yang kita lalui adalah jalan buntu, aku ingin kita berbalik arah"

"kau….menerima perjodohan ini"

"Kita butuh sebuah kesepakatan"

"K-kesepakatan?"

"Ya, jika kau menyetujuinya, aku bersedia menikah denganmu, dengan beberapa kesepakatan"

BOOM!

Namja manis itu… Benar-benar penuh kejutan.

.

.

.

To Be Continue...