Semilir angin musim semi, bertiup pelan, menarik lengkungan dahan untuk diajaknya menari bersama. Sebagian kuncup-kuncup bunga mulai nampak. Pamerkan asri segar cerah warnanya. Dedaunan hijau, titik-titik embun, dan suara burung-burung pelikan berpadu serasi untuk permanis Kamis pagi.
Disana, disebuah rumah besar dan megah, ada satu ruangan yang tidak berkegiatan seperti biasa. Pagi ini cukup sibuk, setidaknya untuk tiga gadis dengan masing-masing alat pembersih ditangannya. Satu-satu tirai besar dikamar itu tersingkap. Tunjukkan sinar mentari yang tembus kaca-kaca bening pada jendela. Sebab itulah bias kuning memantul dari bayangannya.
Tangan-tangan terampil dari para pelayan rumah itu bekerja secepat angin. Membersihkan apa-apa saja yang menggangu penglihatan. Setelah dikiranya cukup, dua gadis lain segera meninggalkan ruangan. Menyisakan satu gadis mungil dengan seragam pink dan vas mini berisi mawar merah ditangannya. Mata gadis itu mengedar sebentar, lalu bergerak meletakkan vas bunga pada sebuah nakas disamping ranjang. Dia tersenyum tipis, melihat hasil kerjanya sudah selesai sebelum sang 'nona' muda bangun dari tidurnya.
Ah… Eunha hampir lupa. Mengingat tentang 'nona' muda, matanya yang bulat beralih kembali. Menatap pada sosok yang masih lelap diatas ranjang dibalut selimut tebal. Eunha coba dekati pelan-pelan, lalu mulai membangunkannya.
"Nona Jeon?"
Sapa sang gadis lembut-lembut. Mengatur volume suara sekecil mungkin, takut kalau-kalau sang pemilik nama terganggu olehnya.
Pelan-pelan, yang berada dibalik selimut bergerak. Merintih sebentar sebab tubuhnya yang terasa remuk redam.
Wonwoo menaikkan selimutnya hingga batas dada begitu dirinya sadar ada seseorang didekatnya. Tubuhnya masih polos tanpa busana. Meringsut takut-takut, lalu mengeram pelan. Pikirannya melayang, mengingat -ingat apa yang terjadi semalam. Lalu bayangan seorang lelaki brengsek menggantung dikepalanya. Mengingat bagaimana kegadisannya direnggut begitu saja. Membobolnya kasar dan penuh nafsu. Mengoyak, menjilat, melumat, menyesap apa-apa saja yang dapat diraih bibirnya. Membuat Wonwoo merasa jika dirinya benar-benar menjadi seorang wanita menjijikkan.
"Selamat pagi, nona Jeon. Apa tidurmu nyenyak?"
Wonwoo terhenyak, mengaburkan lamunan ketika suara itu mengudara. Wonwoo tidak langsung menanggapi, sebab suara itu masih begitu asing baginya. Wonwoo hanya mengantisipasi kalau-kalau yang ada didekatnya adalah orang jahat yang ingin melukainya.
"Nona?"
Eunha coba memanggil kembali, karena Wonwoo justru memasang ekspresi ketakutan.
"Nona, aku Eunha. Tuan Mingyu memberiku tugas untuk menjaga dan melayani anda pagi ini."
Gadis mungil itu menerangkan. Tersenyum lebar, suguhkan wajah cerah meski ia tahu nona'nya' tiada mungkin dapat melihat senyum itu. Eunha sudah diberi tahu oleh Tuan'nya'. Tentang Wonwoo dan tentang keadaan penglihatannya. Untuk itu Eunha tidak heran ketika melihat ada sebuah kasa menempel pada mata sang nona.
Wonwoo sama sekali tidak merubah posisi, lalu Eunha berinisiatif untuk mendekati. Ia sentuh lengan nona'nya' pelan-pelan, mencoba menyadarkan Wonwoo dari lamunan.
"Aaaa! Pergii! Pergiii!"
Eunha panik ketika Wonwoo justru berteriak. Meringsut takut, menarik selimut hingga menutupi kepala. Eunha tidak tahu harus berbuat apa, jadi yang ia lakukan adalah memanggil bala bantuan.
Beberapa pelayan perempuan datang, dengan ekspresi yang tak kalah terkejut seperti Eunha. Mereka berusaha menenangkan Wonwoo, memegang lengan gadis itu lembut, namun Wonwoo semakin histeris karenanya. Ia ketakutan. Masih trauma dengan perlakuan laki-laki brengsek itu tadi malam. Dirinya tidak mau dipaksa melakukannya lagi. Untuk itu Wonwoo berusaha lari. Meraba apa-apa saja yang dapat diraih tangannya. Sembari berteriak dan menangis, kaki kurus itu menuntun langkahnya yang sempoyongan.
"Panggil Tuan Mingyu sekarang, cepat!"
Eunha memberi perintah pada salah satu rekannya. Karena semua yang ada disana sedang gugup, Eunha hanya mendapat anggukan singkat sebagai jawaban.
"Nona, jangan seperti ini. Aku tidak akan menyakitimu. Tenanglah."
Eunha mencoba menangkan. Kembali menyentuh lengan Wonwoo pelan-pelan. Namun gadis itu justru mendapat pukulan keras dari Wonwoo. Eunha memaklumi, mungkin Wonwoo sedang dalam psikis yang buruk untuk dapat tenang kembali.
Wonwoo masih menangis. Berteriak-teriak, sambil berjalan tak tentu arah. Tiada ada yang berani menenangkan gadis itu kembali. Sebab mereka takut akan mendapat pukulan seperti Eunha.
Prang!
Tanpa sengaja tangan Wonwoo menyenggol vas bunga yang Eunha letakkan diatas nakas. Wonwoo tetap meraung, tiada ia rasa pecahan kaca yang melukai kakinya. Yang Wonwoo inginkan hanya satu. Bertemu siapapun yang mau membantunya pergi dari sana.
"Apa yang terjadi?!"
Suara laki-laki, yang Wonwoo yakini adalah si brengsek yang memperkosanya tadi malam. Gadis itu langsung berjongkok, meringsut takut-takut. Selimut yang menutupi tubuhnya ia gigit, menahan tangis yang berontak ingin keluar.
"Saya tidak tahu, Tuan. Nona Jeon terus berteriak sejak saya bangunkan."
Mingyu lalu menatap tajam pada Wonwoo. Ia sudah tebak, masalah seperti ini pasti terjadi. Lelaki bertubuh tegap itu mendengus kasar, lalu berjalan mendekati gadis yang tengah meringsut disudut ruangan.
"Won-"
"Pergii!"
Mingyu terhenyak. Ia tiada pernah sekalipun mendengar bentakan seperti itu. Bentakan yang membuatnya berada pada dunia yang berbeda. Suara Wonwoo serak, dengan intonasi penuh dendam. Mingyu mencoba menghela napas, menenangkan dirinya sendiri supaya tidak terpancing amarah.
"Berdiri." perintah Mingyu dengan nada datar andalannya.
Wonwoo diam. Menyembunyikan kepalanya pada selimut yang masih menempel pada tubuhnya.
"Berdiri kubilang."
Wonwoo semakin meringsut. Tiada anggap ucapan itu sama sekali.
Mingyu bukan tipe laki-laki yang sabar dengan situasi seperti ini. Ia sudah mencoba, tapi gagal. Untuk itu ia gerakkan tangannya, menarik kasar lengan Wonwoo hingga gadis itu tergopoh berdiri.
Wonwoo mengeram, merasakan perih pada bagian bawahnya. Menggigit bibir sambil terus berontak. Tangannya yang kurus memukul lengan Mingyu berkali-kali. Isakan terdengar, dan Mingyu tak tahan akan sikap Wonwoo yang membangkang.
"DIAM!"
Wonwoo mematung. Teriakkan itu membuat tubuhnya kaku tiba-tiba. Ingin marah namun takut lebih mendominasi. Dadanya kembang kempis menahan tangis. Menarik selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya sambil terisak.
Mingyu kembali menghela napas. Lengan Wonwoo yang ia pegang terasa bergetar. Manik hitamnya menatap wajah sayu itu lamat-lamat. Ada takut yang kentara dirautnya.
"Aku bukan tipe orang yang akan kasihan pada seorang pembangkang sepertimu." Ucap Mingyu memecah keheningan, "Jadi lebih baik kau menurut, atau aku bisa lebih kasar dari pada tadi malam."
Wonwoo terhenyak. Bayangan buruk yang ia alami semalam langsung terngiang. Jadi yang Wonwoo lakukan hanya diam. Tidak ingin membalas ucapan Mingyu meski ia rasa hatinya sakit. Wonwoo benar-benar ingin marah. Tapi apa daya, tubuhnya masih begitu lemah. Ia belum makan sejak kemarin. Dan perlakuan lelaki brengsek ini tadi malam semakin membuat tubuhnya lemas.
Mingyu memberi gesture pada Eunha. Membuat pelayan itu melangkah mendekati Wonwoo. Mengambil alih Wonwoo dari Mingyu, dan membiarkan sang Tuan melenggang pergi tanpa berucap apapun.
.
OoO
.
ChocolateNut
.
OoO
.
"Kau kelihatan semakin cantik setelah mandi nona." Eunha tersenyum lebar. Menatap pantulan wajah Wonwoo dari kaca meja rias sambil menyisir rambut sang nona.
Gadis buta itu hanya diam. Sejak kejadian tadi pagi Wonwoo sama sekali tak mau membuka mulutnya. Eunha jadi serba salah ketika dirinya bertanya haruskah ia memandikan Wonwoo atau tidak. Dan setelah hanya ada hening dan keterdiaman, Eunha memutuskan untuk memandikan nona mudanya meski tanpa persetujuan. Saat selimut yang menutupi tubuh Wonwoo dibuka, Eunha sempat terperanjat. Menemukan tubuh kurus yang pucat ternodai banyak bercak merah. Payudara Wonwoo membengkak dan biru lebam, juga ada noda darah mengering dipangkal pahanya. Eunha yakin, semalam 'Tuan'nya membobol kegadisan Wonwoo dengan sangat brutal.
"Biar kuganti perbanmu, nona."
Eunha berkata lembut-lembut. Perlahan tangannya membuka perban kasa yang menempel pada mata nona-nya. Ada bekas luka membiru diujung mata. Dan ketika mata itu terbuka Eunha terpesona.
"N-nona-" ucapan Eunha terhenti. Mengagumi kecantikan mata bening Wonwoo. Maniknya berwarna cokelat gelap, dengan bulu mata yang lentik dan panjang. Kelopaknya tidak memiliki lipatan, sehingga mata itu terlihat tajam ketika memandang. "Matamu tak kalah cantik."
Eunha kembali tersenyum. Memandang wajah Wonwoo sekilas lalu senyum itu pudar. Ia merasa kasihan pada nona-nya. Yang memiliki nasib lebih buruk dari nasibnya selama ini. Wonwoo buta, dan Tuan Mingyu membelinya layaknya pelacur. Memperkosanya lalu mengurung gadis itu dirumah besar yang asing baginya. Eunha harus bersyukur pada hidupnya, setidaknya tidak ada laki-laki brengsek yang memperlakukan dirinya seperti Tuan Mingyu memperlakukan nona Wonwoo.
.
OoO
.
Kim Jong Soo 1214
.
oOo
.
Banyak yang bilang, Mingyu itu seperti kacang. Tertutup, arogan, dan tiada peduli pada orang-orang sekitar. Pemilik perusahan maskapai terbesar di Seoul. Pewaris utama dari Kim Corp. Dan mendapatkan kesuksesan dari hasil usahanya sendiri. Mungkin memang sedikit keterlaluan, tapi begitulah Mingyu. Dingin dan kejam. Ia bahkan tak segan melenyapkan siapapun yang berusaha menjatuhkannya. Menangani kasusnya dengan caranya sendiri.
Setidaknya itu anggapan orang-orang, tapi tidak dengan Seungcheol. Lelaki paruh baya yang berperan sebagai orang tua, kakak, teman, dan paman bagi Mingyu. Seungcheol yang menjaga dan mengawasi pertumbuhan Mingyu sejak anak itu masih berusia lima tahun. Menjaganya seperti adiknya sendiri. Menyayangi Mingyu seperti dirinya menyayangi Chan-putranya.
Dulu Mingyu adalah anak baik dan penurut. Memiliki banyak teman sebab sifatnya yang periang dan pandai bergaul. Namun sejak dia beranjak dewasa, Mingyu mulai tahu siapa teman dan siapa musuhnya. Diperusahaan, dilingkungan, teman sekolah, bahkan saudara tiri yang dianggapnya orang baik ternyata adalah salah satu penyebab Mingyu menjadi berubah. Ya, berubah dalam hal apapun. Pola pikir, sikap, dan sifat.
Seungcheol memaklumi. Sebab anak yang tidak mendapat kasih sayang dari orang tua memang seperti itu. Ayah Mingyu seorang Pengusaha kaya di Cina. Ibunya sudah meninggal ketika Mingyu berusia empat tahun. Satu tahun berikutnya Ayahnya menikah lagi dengan seorang janda asal negeri tirai bambu itu. Jun, adalah saudara tirinya. Tapi Mingyu tidak pernah menyukai apapun yang ada pada keluarga barunya. Untuk itulah ia memutuskan tinggal di Seoul, meninggalkan hingar bingar kekayaannya di Cina dan membangun kesuksesannya sendiri di Korea.
Jika Mingyu adalah kacang, maka sebut Wonwoo sebagai cokelat. Gadis manis yang hangat, ramah, dan penurut. Memiliki senyum yang seribu kali lebih manis dari madu. Mata indah dengan binar cantik dari maniknya.
Dulunya Wonwoo seorang gadis yang begitu menginginkan sebuah keluarga harmonis. Mengikuti apapun yang orang tua tirinya katakan. Wonwoo tidak pernah sekolah dari uang hasil meminta. Dia bekerja sendiri. Disebuah café, menjadi salah satu pekerja paruh waktu. Wonwoo memiliki saudara tiri bernama Nayoung. Cantik, dengan senyum tak kalah manis dari Wonwoo. Tapi sayang, gadis itu tak lebih baik dari kedua orang tuanya. Memecah kepercayaan Ayahnya, hingga menjatuhkan Wonwoo pada brengsek macam Mingyu.
Cokelat Kacang. Perpaduan yang berbeda tapi manis. Itu jika diibaratkan pada selai. Tapi jika dikehidupan nyata, mungkin kata 'manis' akan sulit terucap mengingat dua sifat mereka yang berkebalikan.
.
OoO
.
ChocolateNut
.
OoO
.
Sepasang kaki jenjang melangkah angkuh setelah turun dari sebuah mobil mewah. Berjalan tenang sambil melonggarkan kancing kemeja paling atas. Pintu kokoh nan tinggi dibuka pelan-pelan. Tiada ada decitan dari gaungnya, sebab rumah megah itu dirawat sangat baik oleh lebih dari lima puluh pekerja.
Jas hitam dan tas kantor disambut oleh pelayan perempuan, membungkukkan badan lalu pergi dengan rasa cemas dalam diri. Begitulah yang dirasakan seluruh pelayan. Takut kalau-kalau Tuan besar'nya' mengkritik hasil kerja yang kurang baik.
"Sudah pulang?" sebuah suara berat mengaung, hantarkan kelegaan begitu manik hitam kelam menatap sang pemilik nada.
"Paman, sejak kapan kau disitu?" Mingyu berjalan mendekati Seungcheol. Menyunggingkan senyum sebelum duduk didepan yang lebih tua.
"Sejak kau melepaskan jas kantormu." Jawabnya tenang. Mingyu mengangguk. Lalu mengangkat alis begitu Seungcheol menyerahkan beberapa lembar kertas kehadapannya.
"Sesuai permintaanmu, aku sudah mencari tahu siapa yang megambil tender illegal dari Giant Corp di Busan." Seungcheol berucap langsung pada inti. Mingyu mengambil lembar-lembar kertas diatas meja, lalu meneliti setiap barisan kata disana.
"Texcite Company? Perusahaan asing itu?" Seungcheol mengangguk.
"Ada beberapa bawahannya yang sudah tertangkap basah merubah sistem dari perusahaan kita. Tapi tenang saja, aku sudah mengurus semuanya." Mingyu menatap Seungcheol lamat-lamat. Ia memang tidak pernah salah memilih orang. Paman Seungcheol benar-benar orang yang dapat diandalkan. "Oiya, bagaimana dengan gadis itu?"
Mingyu berdehem, kemudian mengalihkan tatapan. Menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi lalu melipat kedua tangannya didepan dada. Kebiasaannya.
"Kenapa tiba-tiba jadi mengalihkan pembicaraan?"
"Eish! Kau ini." Seungcheol memberi gesture seperti akan memukul, meski tidak ia lakukan dengan sungguh-sungguh. "Aku hanya khawatir padanya. Kau kan tidak pernah lembut pada perempuan."
Mingyu berdehem lagi. Tidak berkeinginan menjawab perkataan Pamannya itu.
"Yha!" Seungcheol geram juga.
"Aku tidak sejahat yang kau pikirkan, Paman." Jawab Mingyu akhirnya.
Seungcheol menghela napas lega, "Syukurlah. Kau harus menjaganya baik-baik, Mingyu. Jangan lupakan misi awal kita."
Mingyu diam tak bergeming. Entah mengapa pikirannya menjadi melayang kemana-mana. Gadis itu…
"Aku ingat."
.
oOo
.
Meanie
.
OoO
.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam ketika Mingyu selesai membersihkan diri. Kaus polos berwarna putih, dan celana selutut berwarna hitam menjadi pilihannya. Mingyu berjalan keluar kamar, berniat menuju dapur untuk membuat secangkir kopi. Hal itu biasa ia lakukan jika sudah larut seperti ini. Ia tidak ingin meminta pelayan mengantarkan kopi kekamarnya sebab Mingyu lebih suka turun dan membuat kopinya sendiri.
Mingyu sudah hampir menuruni tangga ketika manik legamnya menatap sebuah pintu kayu berplitur cokelat disudut ruangan. Kamar Wonwoo. Seharian ini Mingyu belum menemui gadis itu. Ada rasa penasaran, lalu kakinya tiba-tiba melangkah mendekati pintu itu. Tangan besar tanpa diperintah memutar kenop yang tidak terkunci, membukanya pelan-pelan.
Kamarnya masih terang, namun sang penghuni sudah lelap dengan selimut menutupi tubuhnya hingga leher. Mingyu berjalan mendekat, berdiri tepat disamping sang gadis manis yang terbaring diatas ranjang. Manik kelam menatap lamat-lamat wajah gadisnya. Terlihat pucat dengan kain kasa yang masih menempel dikedua matanya. Mingyu menarik sebuah kursi kayu, lalu duduk menghadap sang gadis manis.
Wonwoo sedikit bergerak, membuat selimutnya turun. Lengan kebiruan terlihat, pun kakinya yang terbalut kasa mengintip dari bawah sana.
"Pasti sakit, kan?" Tangan besar bergerak mengusap rambut yang menutupi dahi gadis itu. Mengelusnya pelan, lalu bergumam "Maaf."
Mingyu menghela napas panjang. Elusan tidak berhenti selama mata kelam itu menatap sang wajah pucat. Beberapa menit berlalu dengan posisi seperti itu. Tanpa ada yang tahu, seorang Kim Mingyu sedang mengupas kulit kacangnya satu-satu.
.
OoO
.
ChocolateNut
.
OoO
.
"Selamat pagi, nona Jeon." Eunha tersenyum cerah. Ditangannya terdapat sebuah baki. Mangkuk besar berisi bubur daging, dan air perasan jeruk segar menjadi menu sarapan Wonwoo pagi ini. Gadis pelayan itu berjalan ceria mendekati Wonwoo yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang, lalu meletakkan sarapan nona'nya' diatas nakas.
"Bagaimana tidur anda semalam, nona? Apa nyenyak?" Eunha mengelus pelan tangan Wonwoo yang terpaut. Gadis itu sudah tidak berteriak lagi seperti kemarin, sebab telinganya sudah mulai terbiasa dengan celotehan Eunha. Wonwoo masih belum mau berbicara, dan belum ada sesendok makananpun yang masuk pada perutnya. Wonwoo hanya diam, mengarahkan kepalanya kesamping tanpa bergeming. Eunha jadi khawatir. Bagaimana kalau nona'nya' sakit nanti.
"Nona, kita sarapan, ya? Jihoon sudah memasakkanmu bubur daging asap yang sangat lezat." Wonwoo menggerakkan kepala. Asing dengan satu nama yang baru saja disebut Eunha.
Eunha melongo sebab Wonwoo memberinya respon begitu ia menyebut nama Jihoon.
"Jihoon itu juru masak dirumah ini, nona. Dia sangat pandai memasak. Kau harus mencobanya. Aku yakin kau akan suka." Eunha mengambil mangkok buburnya, lalu menyuapkan satu sendok kemulut Wonwoo.
"Aku tidak lapar." Eunha kembali berjingkat. Itu adalah suara pertama yang Wonwoo ucapkan sejak teriakannya kemarin. Dan suara Wonwoo terdengar lebih serak dan dalam dari pada suara teriakan itu.
"Tapi anda harus makan, nona. Nanti anda sakit. Makan ya, aaakkk…" Eunha membujuk. Membuka mulutnya sendiri lebar-lebar berharap Wonwoo mau menirukannya. Beberapa detik tidak ada respon, Eunha mengatupkan kembali mulutnya.
"Biar aku yang suapkan." Eunha hampir menjatuhkan mangkuknya jika saja kesadarannya tak segera kembali. Ia kaget luar biasa begitu melihat tubuh tegap sang Tuan berdiri didepan pintu kamar. Berjalan mendekat, lalu mengambil alih mangkuk yang ada ditangan Eunha.
Gadis pelayan itu membungkuk sebentar, kemudian mundur beberapa langkah dan membiarkan Tuan'nya' mengambil alih pekerjaannya. Ini adalah momen langka menurut Eunha. Sebab ketika Tuan'nya' sudah berpakaian rapi seperti ini, biasanya lelaki itu akan langsung berangkat kekantor. Bahkan biasanya pula Tuan Mingyu sering melupakan sarapannya. Tapi sekarang?
"Buka mulutmu." Mingyu berucap dingin. Membuat gadis yang diperintah membuang muka.
Mingyu mendengus, "Kau bisa dengar kan?" ulangnya lagi dengan nada yang sama, "Buka mulutmu."
Tangan besar itu mengarahkan sendok tepat didepan mulut Wonwoo.
"Aku mau pulang."
Mingyu kembali mendengus, menarik tangannya menjauhi bibir Wonwoo.
"Ini rumahmu." Tegasnya.
Wonwoo terdiam. Meremat selimut yang menutupi pahanya. "Bukan. Kau bohong."
Mingyu menghela napas berat, memerintahkan Eunha keluar kamar dengan gerakan matanya. Eunha menurut, berjalan keluar lalu menutup pintu kamar Wonwoo.
"Memangnya kau memiliki rumah? Kau mau pulang kemana? Apartemen sewaan yang kumuh dengan banyak tikus dan kecoa?"
"Setidaknya disana lebih baik dari pada disini." Mingyu tertawa kecut.
"Kau tidak mau makan dan memilih mengajakku berdebat?" Mingyu menekan intonasinya, membuat tangan kurus itu sedikit bergetar.
Wonwoo hanya diam. Ia benar-benar tidak mau membahas masalah ini ketika tubuhnya sedang lemas.
"Buka mulutmu. Kau bisa mengajakku berdebat jika perutmu sudah terisi makanan." Mingyu kembali menyodorkan satu sendok bubur kedepan mulut Wonwoo.
Beberapa detik berlalu, dan Wonwoo masih tiada bergeming ditempatnya.
"Wonwoo." Mingyu panggil, dan seketika kepala gadis itu menoleh. "Buka mulutmu."
Wonwoo tetap diam, hingga membuat Mingyu kesal. Ia lalu memasukkan suapan itu kedalam mulutnya, bergerak mendekat dan menarik tengkuk Wonwoo dengan cepat. Bibir tebal bertemu bibir tipis, menyebabkan tubuh sang gadis menegang tiba-tiba. Mingyu mencium Wonwoo lama, sedikit menggigit bibir gadis itu supaya mau terbuka. Lidah Mingyu menjelajah masuk kemudian mendorong bubur yang ada dimulutnya pada mulut Wonwoo. Ciuman terlepas, dan gadis itu masih saja terpaku.
"Ap-apa yang kau-"
"Haruskah aku melakukan itu supaya kau mau makan?" Mingyu menyela begitu Wonwoo selesai menelan buburnya. Gadis itu kembali terdiam. Wajahnya bersemu tanpa diperintah.
"Buka mulutmu." Perintah Mingyu. Kembali mendekatkan sendok bubur pada bibir Wonwoo. "Atau aku akan menciummu lagi."
Wonwoo lalu membuka mulutnya, menerima suapan dari tangan Mingyu dengan suka rela. Wonwoo benar-benar tidak mau dicium paksa oleh laki-laki itu hanya untuk membuatnya mau makan. Jadi yang Wonwoo lakukan hanya menurut. Tidak tahu saja, jika diam-diam Mingyu menyunggingkan senyum ketika pipi putih itu merona.
.
.
.
TBC
.
.
.
Hai… hai… Sengaja Update cepet, biar gereget :D
Chap 2 otte?
Masih mau dilanjut?
Review ya? :*
.
.
Oiya, JongSoo punya akun Wattpad loh, kalau berkenan silahkan mampir.
Wattpad : kimkaisoomeanie
